PAUD
PENDAHULUAN
Fikriyah Iftinan Fauzi, S.Psi, M.Psi
PENDAHULUAN
– Salah satu bagian terpenting dalam komponen masyarakat Indonesia adalah anak.
– Karena anak adalah pemilik masa kini dan masa depan bangsa sekaligus pemilik bangsa, karena di tangan merekalah diteruskan sejarah kehidupan manusia Indonesia selanjutnya.
– Masa-masa ini merupakan masa yang tepat untuk meletakkan dasar-dasar pengembangan fisik, bahasa, sosial emosional, konsep diri, seni, moral dan nilai-nilai agama.
– Pengembangan anak usia dini secara menyeluruh mencakup kesehatan dasar, gizi, dan pengembangan emosi serta intelektual anak perlu diperhatikan agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
– Seiring waktu secara berangsur-angsur perhatian pemerintah mulai tertuju kepada pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar, yaitu pendidikan anak usia dini (PAUD).
– Pendidikan untuk anak usia dini di Indonesia dinyatakan secara tegas dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 butir 14 bahwa PAUD adalah pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enak tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
– Anak-anak Indonesia harus disiapkan, dibina, dan dikembangkan sejak dini, baik fisik, mental, maupun moralnya agar menjadi manusia dewasa yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, tanggung jawab, dan pada gilirannya menjadi insan pembangunan dan penerus cita-cita perjuangan bangsa dan negara.
– PAUD sebagai pendidikan yang diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, memiliki kelompok sasaran anak usia 0-6 tahun yang sering disebut sebagai masa emas perkembangan.
– Pada usia ini anak-anak masih sangat rentan yang apabila penanganannya tidak tepat justru dapat merugikan anak itu sendiri.
– Oleh karena itu, penyelenggaraan PAUD harus memperhatikan dan sesuai dengan tahap-tahap perkembangan anak.
– Program PAUD tidak dimaksudkan untuk mencuri start apa-apa yang seharusnya diperoleh pada jenjang pendidikan dasar, tetapi untuk memberikan fasilitas pendidikan yang sesuai bagi anak, agar anak pada saatnya memiliki kesiapan baik secara fisik, mental, maupun sosio/
emosionalnya dalam rangka memasuki pendidikan lebih lanjut.
– Peletakan landasan utama dalam pendidikan anak usia dini akan menentukan arah masa depan anak dengan tepat, jika salah orangtua menentukan dan meletakkan pendidikan saat anak usia dini maka akan sulit untuk mengembalikan ke arah yang diinginkan setelah anak menjadi dewasa.
– Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa penyelenggaraan PAUD masih belum mengacu betul dengan tahap-tahap perkembangan anak.
– Pada umumnya, penyelenggaraannya difokuskan pada peningkatan kemampuan akademik, baik dalam hal hafalan-hafalan maupun kemampuan baca-tulis hitung, yang prosesnya sering kali mengabaikan tahapan perkembangan anak.
– Guru diharapkan dapat membaca tahap-tahap pekembangan anak yang sesuai dengan kemampuannya.
– Penilaian terhadap perkembangan anak dinilai secara individu, hal ini mengacu pada keunikan anak yang berbeda-beda.
– Setiap anak mempunyai perkembangan yang berbeda satu dengan yang lainnya baik secara kronologis maupun biologis.
– Untuk itu, dibutuhkan tenaga pendidik yang mempunyai kompetensi baik secara akademisi dalam mengalirkan knowledge pada anak maupun secara administratif.
– Sejak awal guru harus mampu berperan sebagai pelaku pendidikan, yaitu sebagai observator, motivator, fasilitator sekaligus sebagai evaluator dalam proses pembelajaran.
– Pemberian rangsangan pendidikan untuk anak usia dini yang kondusif dapat dilaksanakan secara efektif dengan bantuan lembaga-lembaga pendidikan yang menyediakan layanan wahana bermain untuk anak-anak sebagai taman pendidikan prasekolah dasar.
– Beberapa konsep yang disandingkan untuk masa anak usia dini adalah:
Masa eksplorasi
Masa identifikasi/ imitasi
Masa peka
Masa bermain
Masa trozt alter 1 (masa pembangkang tahap 1).
Pada masa ini anak usia dini membutuhkan pendampingan yang tepat dan cukup dari orang-orang dewasa di sekitar mereka, sehingga mereka dapat menumbuhkan dan mengembangkan semua aspek perkembangan mereka seoptimal mungkin.
– Pendidikan anak usia dini yang dikenal dengan pendidikan
prasekolah adalah pendidikan melalui pemberian kesempatan bagi anak untuk dapat menikmati dunianya, yaitu dunia main.
– Dengan bermain, anak-anak akan bertambah pengalaman dan pengetahuannya.
– Melalui bermain anak memperoleh pelajaran yang mengandung aspek perkembangan kognitif, sosial, emosi, dan fisik.
– Komunikasi pembelajaran AUD dibahas mengenai:
Proses penyampaian pesan (pertukaran kata-kata/ gagasan dan perasaan diantara dua orang atau lebih komunikasi antara pendidik dan anak.
Mengenai keinginan dan minat anak.
Pendidik dapat menjelaskan suatu pengetahuan, nilai agama, nilai moral, nilai sosial pada anak dengan cara yang lebih mudah.
Beberapa bahasan mengenai pengembangan kecerdasan bahasa menjadikan pendidik dan anak dapat saling berbagi gagasan, pikiran, cita-cita, penemuan-penemuan baru atau pengetahuan lainnya.
Belajar tentang pengetahuan sekitarnya.
– Contoh: anak bisa tahu bahwa bagian tubuh yang dapat melihat adalah mata, sebelum makan harus cuci tangan, supaya sehat gigi harus digosok, dan banyak lagi pengetahuan lainnya.
– Membangun kecerdasan intrapersonal dan sosial emosional.
– Dengan berkomunikasi dapat saling mengenal, saling bertukar pikiran, saling menyampaikan perasaan, sehingga tumbuh rasa saling percaya, saling menghargai, menyayangi, dan saling memahami.
– Contoh: anak bisa mengungkapkan perasaan, sedih, senang, gembira pada orang lain.
– Menjalin hubungan kekeluargaan, mengembangkan kepercayaan diri dan harga diri anak.
– Meningkatkan kecerdasan berpikir anak.
– Anak usia dini kemampuan berpikirnya masih terkait dengan benda nyata. Ia belum mampu berpikir yang tidak nyata atau abstrak.
– Juga berkomunikasi yang mengembangkan keseimbangan otak kanan dan otak
kiri dengan cara berkomunikasi pada anak dengan: senyum, sapa, salam, sentuh, sayang, menciptakan kondisi yang membuat anak siap berkomunikasi.
– Menempatkan posisi tubuh kita dan anak sejajar, menggunakan penekanan
suara (intonasi), volume suara dan (artikulasi pengucapan yang jelas) yang menyenangkan, memberikan perhatian pada bahasa tubuh, menjadi pendengar yang aktif, menggunakan kalimat yang positif, memberikan model keterampilan komunikasi yang baik.
– Menggunakan komunikasi dengan penuh penghargaan kepada anak, serta menggunakan berbagai kata dan gerakan untuk menyampaikan sesuatu/
berbicara.
– Pendidik perlu menerapkan ide-ide yang dimilikinya untuk mengembangkan
kemampuan berbahasa anak, memberikan contoh penggunaan bahasa dengan benar, menstimulasi perkembangan bahasa anak dengan berkomunikasi secara aktif.
– Anak terus perlu dilatih untuk berpikir dan menyelesaikan masalah melalui bahasa yang dimilikinya.
– Anak belajar bahasa perlu menggunakan berbagai strategi misalnya dengan permainan-permainan yang bertujuan mengembangkan bahasa anak dan penggunaan media- media yang beragam yang mendukung pembelajaran bahasa.