• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sekar Arruum S E0021421 Resume Hukum Pajak

N/A
N/A
Sekar Arruum S

Academic year: 2024

Membagikan "Sekar Arruum S E0021421 Resume Hukum Pajak"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

RESUME HUKUM PAJAK

Pajak adalah salah satu bentuk pendapatan negara yang menyumbang persentase terbesar dibandingkan dengan sektor-sektor pendapatan lain, seperti minyak dan gas (migas) serta non-migas. Adanya pemungutan pajak merupakan hak bagi suatu negara dan pembayarannya merupakan kewajiban masyarakatnya. Menurut Undang-Undang No. 16 Tahun 2009, pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Menurut Rochmat Soemitro dalam bukunya yang berjudul “Dasar-Dasar Hukum Pajak dan Pajak Pendapatan” mengartikan Hukum Pajak adalah suatu Kumpulan peraturan- peraturan yang mengatur hubungan antara pemerintah sebagai pemungut pajak dan rakyat sebagai pembayar pajak.

Perkembangan Hukum Pajak di Indonesia:

• Pada zaman kerajaan, pemungutan pajak biasanya identic dengan membayar upeti, yaitu pemberian secara cuma-cuma oleh rakyat kepada seorang Raja selaku penguasa wilayah. Bentuk upeti yang diserahkan pada saat itu ialah hasil pertanian dan peternakan, seperti padi, pisang, kelapa, Binatang ternak, dan lain sebagainya.

Pada awalnya, pemungutan pajak (upeti) ini bersifat sukarela, namun semakin lama bersifat memaksa.

• Pada masa sebelum kemerdekaan, Indonesia mengalami masa penjajahan yang dilakukan oleh Belanda dan Jepang. Pada masa itu, bentuk pajak dipengaruhi oleh kebijakan penguasa yang sedang memerintah. Misalnya, pada masa Daendels bentuk dan jenis pajak disebut dengan Contingenten, yaitu pajak atas hasil bumi.

Pada masa Raffles (Inggris), dibentuklah jenis pajak baru yang disebut dengan landrent dengan alasan pembenaran bahwa tanah yang digarap oleh para petani merupakan tanah milik raja dan untuk itulah petani membayar sewa kepada raja dalam bentuk pajak tanah. Seiring dengan adanya pergantian Gubernur Jenderal maka berganti pula bentuk dan jenis pemungutan pajaknya.

• Pada masa pasca kemerdekaan, berlaku Pasal II Aturan Peralihan yang mengatur bahwa segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku selama belum diadakan yang baru menurut UUD saat itu. Dengan demikiran, ordonansi

(2)

perpajakan yang ada sebelum kemerdekaan masih tetap berlaku sebagai undang- undang perpajakan di Indonesia yang baru Merdeka. Oleh karenanya, pemungutan pajak pada masa awal kemerdekaan dilakukan berdasarkan peraturan pajak yang ada zaman colonial, yaitu peraturan perpajakan Pemerintah Hindia Belanda yang menganut system official assessment dan ketentuan pajak formil dan materiil diatur dalam satu undang-undang, kecuali mengenai penagihan pajak dan peradilan pajak.

• Pada tahun 1980-1990an, Indonesia melakukan reformasi undang-undang perpajakan. Reformasi perpajakan di Indonesia ditandai dengan terbitnya 3 undang-undang perpajakan, yaitu:

1) Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP 1983) sekaligus untuk mencabut ketentuan perundang- undangan sebelumnya.

2) Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (UU PPh 1983).

3) Undang-Undang No. 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (UU PPN dan PPn BM 1983) dan mencabut UU No. 35 Tahun 1953 tentang Pajak Penjualan 1951 dan segala perubahannya.

4) Undang-Undang No. 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (UU PBB 1985).

5) Undang-Undang No. 13 Tahun 1985 tentang Bea Materai dan mencabut Aturan Bea Meterai 1921 dan segala perubahannya.

6) Undang-Undang No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (UU Kepabeanan 1985).

7) Undang-Undang No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai (UU Cukai 1995).

8) Undang-Undang No. 17 Tahun 1997 tentang Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (UU BPSP).

9) Undang-Undang No. 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (UU PDRD 1997).

10) Undang-Undang No. 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa (UU PPSP 1997).

11) Undang-Undang No. 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bnagunan (UU BPHTB 1997)

Referensi

Dokumen terkait

Kebijakan yang dilakukan Daendels pada masa pemerintahan- nya di Hindia Belanda dengan melakukan reforestasi dan me- netapkan peraturan hukum yang membatasi eksploitasi sumber

Pembayaran dari pemotong atau pemungut tentang pemotongan atau pemungutan pajak orang pribadi atau badan lain dalam 1 (satu) masa pajak sesuai dengan ketentuan peraturan

Media masa mempunyai pengaruh positif dan signifikan dalam mensosialisasikan peraturan perpajakan terhadap pemahaman wajib pajak, ini terlihat dari berbagai upaya yang telah

Pembayaran dari pemotong atau pemungutan pajak orang pribadi atau badan lain dalam 1 (satu) Masa Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

Berdasarkan uraian diatas, maka ketentuan perpajakan yang mengatur tentang Pemeriksaan wajib pajak badan tidak bertentangan dengan peraturan diatasnya, karena apa yang diamanatkan

Menurut Erly 2008:6 “Perencanaan pajak adalah langkah awal dalam manajemen pajak dimana dalam tahap ini dilakukan pengumpulan dan penelitian terhadap peraturan perpajakan, dengan

Misalnya rugi fiskal yang masih dapat dikompensasi berdasarkan peraturan perpajakan atau kemungkinan adanya manfaat ekonomi pada masa yang akan datang yang akan mengurangi beban pajak,

25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal menyatakan sebagai berikut: “Tindak pidana perpajakan” adalah informasi yang tidak benar mengenai laporan yang terkait dengan pemungutan pajak