ISSN 2086-9762 (Print) ISSN 2655-0539 (Online)
Seni Mural Sebagai Bentuk Ekspresi Nilai-Nilai Keislaman di Kota Salatiga, Indonesia
( Mural Art as a Form of Expression of Islamic Values in Salatiga City, Indonesia )
Malik Ibrahim1, Anis Mubarok2, Melinda Sandra Aeni 3, Indah Siti Ramadhonah 4, Adawiyah 5
1 Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Madiun, Indonesia
2 Komunikasi dan Penyiaran Islam, Universitas Islam Negeri Salatiga, Indonesia
3 Pendidikan Bahasa Arab, Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta, Indonesia
4 Manjeman Pendidikan Islam, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia
5 Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Salatiga, Indonesia
email: [email protected]
Submitted:
Sep 19, 2023 Accepted:
Dec 19, 2023 Published:
Dec 20, 2023
ABSTRACT
Mural art is not just wall graffiti, which some people only consider a form of creativity without meaning. The mural paintings on public walls around Salatiga City have their own meaning and message, depending on the angle from which the art is assessed. This research aims to analyze mural art as a form of expression of Islamic values in Salatiga City.
This research uses a type of qualitative research with a semiotic analysis approach. Using Roland Barthes' theory and data collection techniques using observation and documentation, this research will analyze how mural art in Salatiga City is seen from an Islamic perspective. This study found that Islamic values such as aqidah, sharia, and morals dominate mural art in three locations, namely Selarar, Munginsidi, and Taman Tingkir. Mural art functions well to convey Islamic values because people can easily understand what is being conveyed.
Keywords: Mural Art, Expression, Islamic Values, Salatiga City
ABSTRAK
Seni mural tidak hanya sekedar coretan dinding yang oleh sebagian orang hanya dianggap sebagai bentuk kreatifitas semata tanpa memiliki makna. Dibalik lukisan mural yang ada tembok-tembok umum sekitat Kota Salatiga memiliki makna dan pesan tersendiri, tergantung dari sudut mana seni mural dinilai. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis seni mural sebagai bentuk ekspresi nilai- nilai keislaman di Kota Salatiga. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis semiotic, dengan menggunakan teori Roland Barthes dan teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan dokumentasi, penelitian ini akan menganalisis bagaimana seni mural yang ada di Kota Salatiga dilihat dari sudut pandang Islam. Studi ini menemukan bahwa nilai-nilai keislaman seperti aqidah, syariah, dan akhlak mendominasi seni mural di tiga lokasi yakni Selarar, Munginsidi, dan Taman Tingkir. Seni mural berfungsi dengan baik untuk menyampaikan nilai-nilai Islam karena masyarakat dapat dengan mudah memahami apa yang ingin disampaikan.
Kata kunci: Seni Mural, Ekspresi, Nilai-nilai Keislaman, Kota Salatiga
PENDAHULUAN
Manusia merupakan makhluk sosial, yang tak dapat hidup sendiri dalam kehidupan sehari-harinya. Selalu melibatkan manusia lain, dan tak dapat menghindari adanya interaksi antar manusia itu sendiri. Inilah yang disebut sebagai proses komunikasi sebagai sarana saling berinteraksi agar mendapatkan timbal balik atau respon dari hasil penyampaian pesan.
Penyampaian pesan dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Berbagai jenis media massa dapat digunakan untuk menyampaikan pesan secara tidak langsung. Pada umumnya, masyarakat hanya mengenal media sebagai sarana yang digunakan untuk menyampaikan informasi kepada khalayak umum dengan tujuan memberikan informasi atau peristiwa yang sedang atau akan terjadi. Media termasuk surat kabar, bisa juga berbentuk buku, yang lebih digital berupa tabloit, media juga dapat berupa artikel, radio, televisi, dan lain sebagainya.
Hadirnya media tidak hanya dapat menjadi pembujuk yang kuat, tetapi juga dapat mengubah sikap dan perilaku seseorang terhadap sesuatu (Rivers., et al, 2004: 225). Ini karena pengaruh besar media terhadap komunikasi. Media komunikasi juga dapat digunakan untuk berdakwah, karena mereka dapat mendorong masyarakat untuk mendengarkan. Untuk individu atau kelompok tertentu, media komunikasi dapat digunakan. Mural seni adalah salah satu alat komunikasi alternatif yang sangat populer. Mural adalah lukisan di tembok atau dinding besar. Pada dasarnya, manusia adalah makhluk visual selain sosial. Mereka lebih mudah memproses data dan informasi dalam bentuk gambar dari pada format data lainnya.
Hal ini terjadi disebabkan karena setiap otak manusia dapat mengaplikasikan atau memproses gambar 60.000 kali lebih unggul dari pada memproses suatu teks.
Hal tersebut telah dibuktikan selama berabad-abad. Berawal dari munculnya karya seni pada dinding, bebatuan, dan gua di hampir seluruh dunia. Gambar ini diperkirakan berasal dari zaman batu akhir Paleolitik-Mesolitik, di mana tulisan dan seni lukis pertama kali muncul.
terus berkembang hingga mencapai masa sekarang, yang jauh lebih kontemporer. Jadi, mural adalah seni visual yang pernah ada di dunia sejak 30.000 tahun SM (Iswandi, 2016: 10). Karya visual telah lama menjadi pilihan utama untuk menyampaikan pesan atau aspirasi dalam bentuk gambar. Hal ini disebabkan oleh keunggulannya, yaitu dapat dinikmati lebih lama dan mudah didokumentasikan, dan pesan menjadi lebih singkat, ringkas, dan mudah dipahami.
Sementara itu Seni lukis mural hadir bukan sebagai representasi dari seorang pelukis, tetapi dari hasil dari representasi sosial budaya, dialogis seorang pelukis dengan sekitarnya, oleh perorangan, kelompok, pengusaha maupun lembaga sosial budaya (Wiratno, 2022: 4).
Sehingga menjadi suatu kebiasaan yang dapat berlangsung lama dalam ruang lingkup masyarakat tertentu. Sering dipertunjukkan dalam acara seni jalanan. Hal tersebut merupakan sebuah seni ruang umum atau public. Mural menjadi salah satu karya seni yang sekarang dikenal sebagai seni publik dan seni lingkungan, dengan memperlihatkan keberadaan karya seni di dinding realitas sosial masyarakat dan berhubungan dengan kehidupan masyarakatnya.
Mural merupakan lukisan yang digunakan untuk menghias ruang arsitektural. Hal tersebut jika dibahas secara mendalam, tentunya mural tidak dapat dipisahkan dari dinding, yang merupakan komponen utama bangunan. Saat ini, coretan dinding dapat digunakan sebagai media alternatif untuk menyampaikan situasi dan masalah yang terjadi pada masyarakat Salatiga (Susanto, 2002: 76).
Semakin banyak orang di Kota Salatiga mengenal seni mural sebagai seni melukis dan mengambar di tembok di tempat umum. Berpikir kritis tentang seni mural menunjukkan bahwa seni benar-benar terkait dengan kehidupan sosial masyarakat. Selain itu, kekacauan dalam kehidupan menggerakkan seni. Melalui lensa seni jalanan perkotaan menjadi sebuah fenomen dari perkembangan sebuah kota yang memerlukan sebuah cara berpikir yang lebih dinamis dan fleksibel dalam melihat sebuah perkembangan kota, dengan demikian seni mural memiliki keterlibatan di lingkungan. Seniman Kota Salatiga akan terus berekspresi untuk berbagi pendapat mereka tentang kondisi kota. Terlepas dari itu, sebagai akibat dari kerusakan yang disebabkan oleh era digitalisasi, wadah mereka mulai hilang dari dinding sudut kota.
Tembok jalanan menjadi tempat alternatif bagi seorang seniman untuk menyampaikan pikiran dan perasaan mereka tentang keadaan kota (Mulyana, 2001: 376).
Berawal dengan paradigma yang mengungkapkan manusia sebagai makhluk visual dan tidak bisa lepas dari bersosial. Kombinasi atas memberikan penyuaraan atau pendapat yang dilakukan oleh manusia atau seniman dapat memberikan manfaat dan memiki fungsi bagi manusia untuk menjadikannya sebagai wadah atau tempat menyampaikan pendapat dalam bentuk gambar yang indah, menarik dan kreatif. Hal tersebut membuat orang yang melihat tertarik untuk menikmati gambar mural tersebut. Selain itu, mungkin dapat mengubah pandangan publik tentang gambar jalanan saat ini yang hanya merusak pemandangan kota.
Namun pada kenyataanya berbanding terbalik. Seni mural tidak hanya sekedar coretan di tembok jalanan, akan tetapi juga sebagai media komunikasi dan dakwah. Tentunya dengan konten yang berisikan nilai-nilai keislaman ataupun sebagai penyalur aspirasi masyarakat.
Peneliti menambahkan data yang diambil dari hasil penelitian karya Martahayu, et al (2020: 231) yang mengatakan bahwa, mural memiliki tujuan agar dapat menyampaikan pesan moral kepada publik karena memiliki nilai budaya, relegius, dan sosial. Pada karya Hidayatullah and Sabana (2021: 1) mengatakan bahwa, mural sebagai elaborasi, sintesis, eksplorasi dan produksi karya yang dapat dinikmati keindahannya dan memiliki makna di dalamnya. Sebuah seni mural yang menggambarkan kegembiraan dibuat selama proses pembuatan karya tersebut.
Karya mural ini juga berfungsi sebagai alat yang baik untuk belajar dan menunjukkan keberadaan madrasah. Menurut Cahyanto et al (2020: 73) seni mural merupakan aktivitas pembuatan suatu karya yang dilakukan untuk memberikan nilai kepada publik, dan mural juga sebagai sarana belajar dalam meningkatkan moral dan karakter kepada masyarakat.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas menunjukkan bahwa seni mural sangat penting untuk dilakukan penelusuran karena dapat menjadi media komunikasi dan dakwah. Agar penelitian ini lebih penting untuk dilakukan penelusuran peneliti menambahkan argument secara literatur. Pada karya Octaviana (2019) mengkaji tentang seni mural sebagai strategi dakwah pada komunitas Kartini. Karya Astuti, et al (2023) mengeksplorasi identitas budaya Jawa melalui mural di kota batik. Karya Ahmad (2013) mengkaji tentang dakwah melalui seni sebagai wujud teknologi pembelajaran. Karya Akbar, at al (2020) mengkaji tentang mural sebagai media pembelajaran. Beberapa literatur tersebut memiliki kekosongan terhadap objek penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Berdasarkan beberapa data, argumen, literatur di atas dengan demikian peneliti akan memfokuskan penelitiannya untuk menganalisis seni mural di Kota Salatiga Tahun 2023 sebagai bentuk representasi nilai-nilai keislaman.
METODE PENELITIAN
Peneliti ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini juga menggunakan metode analisis semiotik dengan teori Roland Barthes. Menurut Sugiyono (2016: 9) penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian atau riset yang mendeskripsikan hasil penelitian dengan deskripsi atau kalimat. Penelitian kualitatif merupakan suatu penelitian yang mendeskripsikan hasil dari suatu riset atau temuan dari kajian tertentu dengan menggunakan narasi berbentuk kalimat (Thabrani, 2019: 169). Penelitian kualitatif juga memiliki tujuan untuk menjelaskan suatu kejadian atau peristiwa berdasarkan data yang dikumpulkan oleh peneliti, dan data atau informasi tersebut digali secara mendalam agar dapat mendeskripsikan temuan riset yang berkualitas dan berkuantitas (Kriyantono, 2016: 56–57).
Menurut Rasimin (2019: 67) penelitian kualitatif adalah cara untuk menjelaskan hasil penelitian dalam kalimat dari pada menggunakan angka. Jenis riset kualitatif juga menggambarkan laporan riset dengan narasi berbentuk kalimat atau deskripsi (Gunawan, 2013:
213). Sedangkan tujuan dari metode deskriptif untuk memberikan deskripsi terhadap suatu pristiwa atau fenomena yang sedang diteliti (Saebani, 2011: 122; Arifin, 2012: 54). Pada penelitian ini peneliti akan melihat dan melakukan analisis pada mural yang berada di dinding Kota Salatiga. Pada penelitian ini, data dikumpulkan melalui dokumentasi dan observasi atau pengamatan. Sumber informasi dalam penelitian ini berasal dari berbagai referensi pihak kedua, seperti jurnal, hasil penelitian, dan lainnya (Sadiah, 2015: 91). Pada penelitian ini juga penulis akan menggunakan model semiotika, sedangkan teori yang digunakan adalah teori Roland Barthes yang memuat dari beberapa prinsip yakni denotasi, konotasi, dan mitos.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Seni Mural dan Nilai-Nilai Keislaman
Mural yang biasanya dimanfaatkan sebagai media digital maupun sosial namun, saat ini dimanfaatkan sebagai tulisan syair dan berbagai gambar yang bermakna pesan moral di dalamnya (Aflaha, 2017: 257). Mural menurut bahasa latin berasal dari kara “murus‟ berarti maknanya dinding. Sedangkan secara modern, mural merupakan lukisan yang memiliki ukuran jumbo atau besar pada sebuah dinding dan lain sebaginya. Dengan demikian mural merupakan gambar yang dimanfaatkan sebagai sarana atau media untuk berkomunikasi (Gazali, 2017: 71).
Mural adalah lukisan atau gambar yang dilukis oleh seorang seniman secara langsung atau pun dilukis secara tidak langsung pada berbagai ruang dinding (Suherman et al., 2019: 196–97).
Menurut Gozali (2005: 72) mural memiliki beberapa fungsi, seperti fungsi personal yang berarti hanya individu, fungsi sosial yang berarti untuk public, dan fungsi fisik yang berarti lebih menikmati keindahanya saja. Fungsi personal berarti sebagai pemuas atau penikmat untuk diri seniman itu sendiri. Fungsi sosial berarti seni mural memiliki keterkaitan dengan masyarakat, meskipun karya dibuat hanya sebagai nilai seni bagi pembuat akan tetapi dibalik itu seniman mengharapkan respon atau penghargaan dari masyarakat. Fungsi fisik berarti karya yang tercipta sebagai pemuas atau penikmat keindahan dalam kebutuhan batin Masyarakat atau publik.
Representasi memiliki makna sebagai perwakilan atau gambaran secara sederhana berarti membangun ulang hakikat sosial yang diperlukan untuk mengaplikasikan suatu arti secara tekstual serta diharuskan validitas di dalam banyaknya konteks (Vera, 2014: 97).
Menurut Danesi (2010: 3) refresentasi merupakan aktivitas menyimpan gagasan, kemampuan
dengan menggunakan beragam cara secara fisik. Secara detail refresentasi merupakan fungsi atau manfaat dari sebuah tanda. Tanda tersebut mampu membentuk melukiskan, membuat perkara atau sesuatu yang memiliki rasa, makna, dan diparadigma dengan bentuk nyata atau fisik. Representasi disebut juga sebagai perasa atau memiliki nilai makna yang diaplikasikan melalui bentuk atau gambar. Perlu diketahui bahwanya setiap historis menyimpan nilai atau arti yang beragam karena, historis dapat memberikan makna sebagaimana pesan yang diselipkan oleh penciptanya. Dengan demikian representasi dapat maknai sebagai peristiwa seseorang untuk menampilkan dan menjelaskan sesuatu atau pesan dengan menggunakan bahasa (Eriyanto, 2001: 113).
Setiap manusia harus sehat jasmani dan rohani untuk menjadi atau tercapainya manusia yang baik. Selain memahami ilmu, mereka juga harus mengamalkannya. Setiap manusia harus mengaplikasikan pengetahuanya dalam setiap permasalahan atau rutinitas dalam hidupnya.
Semua tindakannya harus didasarkan pada pengetahuan agama, seperti halnya pengetahuan agama (Hayati, 2017: 180). Setiap kegiatan yang dilakukan oleh manusia tentunya tujuanya adalah untuk mencapai kebahagian atau kesuksesan. Kebahagiaan tersebut dilakukan oleh setiap manusia dengan menggunakan berbagai cara tanpa harus memperhatikan nilai baik dan buruknya demi tercapainya tujuan yang diinginkan. Hal ini dimulai dengan sebuat prinsip yang merupakan sebuah konsep yang tidak dapat diamati, dirasakan, atau diraba, dan tidak memiliki batas ruang lingkup (Djamal, 2017: 169).
Dalam hal ini, agama Islam memiliki posisi sebagai agama yang memiliki hubungan dengan sumber ilmu keislaman yang menghasilkan ajaran Islam. Setiap manusia dapat memanfaatkan akalnya untuk memilah dan memilih kebenaran dari sumber ajaran Islam.
Sumber ajaran dalam Islam dapat berupa Al-Quran, Al-Hadist dan lain sebagainya. Sumber tersebut memuat berbagai kriteriat baik berupa fiqih, akidah, akhlak dan lain sebagainya (Abidin, 2013: 1275). Berdasarkan ungkapan tersebut berarti refresentasi nilai-nilai keislaman berarti sesuatu perkara yang memiliki pesan dalam Agama Islam. Komunikasi yang bernilai dakwah dapat diaplikasikan diberbagai sarana, baik langsung dari seorang pendakwah melalui retorika (Syaf & Ibrahim, 2023). Idealnya dakwah dilakukan dengan ceramah yang dilengkapi oleh pengetahuan psikologi, sehingga membuat dakwah menjadi lebih menarik dan menarik perhatian pendengar Romadhonah & Ibrahim, 2023; Ibrahim & Riyadi, 2023). Namun dakwah bisa juga diaplikasikan melalui seni mural.
Mural di Taman Tingkir Kota Salatiga
Mural Sebagai Akibat Dari Penebangan Pohon
Pada gambar ini mengkaji tentang sebab akibat dari penebangan pohon yang lokasi muralnya berada di Taman Tingkir Kota Salatiga.
Gambar 1. Sebab Akibat penebangan pohon
Seni mural pada gambar 1 menunjuk pada makna denotasi, menampakkan gambar sebuah pohon besar yang ditebang dengan sengaja. Sementara konotasi sebenarnya adalah Pohon yang telah ditebang, simbol wajah yang menunjukkan kekecewaan. Narasi atau kalimat
“sebab akibat” tersebut menujukkan sebuah peringatan, sindiran dan ketegasan bahwa perbuatan penebangan pohon tidak baik untuk kestabilan lingkungan alam. Pada gambar mural tersebut terlihat ekspresi wajah yang kecewa atau murung salah satu bentuk kesedihan karena perbuatan orang yang tidak bertanggungjawab melakukan penebangan pohon di alam.
Pilihan pohon sebagai icon seni mural mungkin karena alam semesta diciptakan oleh Allah harus dijaga dan dipelihara dengan menstabilkan kehijauan atau pohon jangan digundulkan sehingga alam bisa terjaga dengan baik. Salah satu ikhtiar agar alam semesta bisa menjadi baik, dan terhindar dari bencana adalah eksistensi pohon yang hijau dan luas dapat menjadi sumber kehidupan dan penyeimbang lingkungan, serta menjaga alam menjadi lebih stabil dan terhindar dari bencana baik longsor ataupun banjir. Pohon juga banyak memiliki manfaat dan dapat membantu kemapanan masyarakat serta dapat menstabilkan ekosistem di sekelilingnya.
Berdasarkan analis seni mural pada gambar tersebut, penebangan pohon menyebabkan lingkuangan menjadi tidak stabil dan rusak karena manusia tidak bisa menjaga kehijauan alam atau menebang pohon secara liar. Pada seni mural ini, maknanya jelas menunjukkan bahwa lingkungan yang sudah tidak hijau atau rusak mengakibatkan keberlangusungan hidup bagi semua mahluk akan terancam puna terutama pada makhluk yang berada di sekeliling pohon tersebut. Dalam ilustrasi ini, seni mural memiliki nilai untuk menunjukkan keislaman dalam bentuk akhlak. Hal ini ditunjukkan oleh hubungan yang ada antara manusia dan makhluk hidup lainnya.
Gambar Lingkungan Pabrik
Seni mural pada gambar ini menjelaskan tentang lingkungan pabrik yang berlokasi di Taman Tingkir Kota Salatiga.
Gambar 2. Lingkungan
Berdasarkan gambar 2 tersebut, seni mural menunjuk pada makna denotasi yakni terdapat seorang yang memakai atribut astronot sedang berada di kawasan pabrik-pabrik perkotaan dan polusi udara dikelilingnya. Pada makna konotasinya terlihat seseorang yang memakai pakaian astronot yang lokasinya dekat pada lingkungan sebuah pabrik. Alasan seseorang menggunakan baju astronot karena ruang terbuka hijau yang berkurang dan jumlah pabrik yang semakin meningkat yang menghasilkan asap dari pabrik menempatkan Bumi sebagai tempat tinggal yang rentan. Pada makna mitos mengatakan bahwa pencemaran pada
udara berdampak membahayakan kestabilan hidup manusia salah satunya kesehatan.
Lingkungan yang nyaman, bersih dan sehat sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Kesehatan manusia terancam oleh berbagai penyakit karena pencemaran udara.
Linkungan pabrik mengurangi ruang terbuka dan pencemaran lingkungan, berdasarkan analisis pada gambar seni mural tersebut menunjukkan bagaimana cerobong pabrik mencemari lingkungan dan membahayakan masyarakat di sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa agama Islam menegaskan bahwa tidak ada individu yang memiliki kekuasaan di dunia ini yang dapat bertindak dan bertindak sesuka hati tanpa mempertimbangkan nasib orang lain. Dalam ilustrasi ini, seni mural berperan penting dan memiliki nilai moral di dalam menunjukkan bahwa Islam bertujuan untuk menjaga akhlak. Pada moral ini juga memberikan pesan hubungan antara manusia dan alam atau lingkungan.
Gambar peringatan dilarang merokok
Seni mural pada gambar ini berlokasi di Taman Tingkir Salatiga dengan deskripsi mural sebagai peringatan dilarang merokok.
Gambar 3. Peringatan merokok
Lihat gambar di atas. Mural ini menunjukkan seorang kakek yang sedang merokok dengan karakteristik wajah memiliki brewok lebat dan dari warna kulit kakek tersebut mililiki kulit sawo matang, serta dari pandangan mata cukup tajam seperti sedang merenungkan sesuatu yang ia lihat. Pada mural tersebut dari makna denotasi menunjukkan bahwa kakek tersebut sedang merokok dengan kondisi melamun dan pandangan matanya sedang fokus pada sesuatu. Ditandai dengan tulisan di bawahnya, "Dilarang Merokok di Wilayah Yang Katanya Ramah Anak- Anak ini", seolah-olah menunjukkan bahwa tempat tersebut adalah tempat di mana tidak ada asap rokok. Ketika ia merokok di area tersebut, ekspresi wajahnya menunjukkan keraguan.
Rokok sebenarnya mengandung banyak macam zat. Banyaknya macam zat tersebut sebagian darinya dapat membahayakan kesehatan manusia, sehingga dampak negatif dari rokok tersebut bisa menyebabkan kematian bagi penggunanya. Namun, para penikmat atau pencinta rokok tidak memikirkan atau mengetahui bahayanya dapat mengakibatkan kerusakan bagi tubuhnya. Secara tidak langsung asap rokok membahayakan kesehatan orang lain, terutama anak-anak. Konteks ini dalam sebuah hadits dijelaskan sebagai berikut:
َراَرِض َلا َو َرَرَض َلا Artinya: “Tidak boleh berbuat dharar, begitu pula tidak pula berbuat dhirar.” (HR. Ibnu Majah no. 2340, shahih).
Berdasarkan perspektif Islam, ada banyak perdebatan tentang hukum merokok, beberapa berpendapat bahwa itu haram, sementara yang lain berpendapat bahwa tidak ada
hubungan agama antara merokok dan agama. Namun, para ulama menganggap merokok memiliki dua hukum yakni haram dan makruh, karena memiliki kemampuan untuk merugikan diri sendiri dan orang lain. Allah telah berfirman sebagai berikut:
ْلا ُّبِحُي َهّللا َّنِإ اْوُ نِسْحَأ َو ِةَكُلْهَّ تلا ىِلِإ ْمٌكْيِدْيَأِب اوُقْلُ ت َلا َو ِهّللا ِلْيِبَس ْيِف اْوُقِفْنَا َو ََْيِنِسْحُمُ
Artinya: “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesunggunya Allah menyukai orang -orang yang berbuat baik.” (QS. Al Baqarah 195)(Departemen Agama: 2019).
Hal ini menjelaskan bahwa sebagai muslim, harus menghindari menggunakan apa pun yang bersifat menghancurkan atau merusak pada diri sendiri. Pada seni mural tersebut memiliki nilai keislaman tentang syariah. Konteks ini mendeskripsikan segara sesuatu baik dalam bentuk peraturan dan lain sebagainya yang berkaitan dengan manusia dan sang pencipta.
Gambar tulisan Pancasila dasar negara
Seni mural pada gambar ini berlokasi di Taman Tingkir Salatiga dengan deskripsi mural dengan tulisan dasar negara.
Gambar 4. Pancasila Dasar Negara
Gambar tersebut menunjukkan arti denotasi berupa huruf "Pancasila", yang berarti Dasar Negara Indonesia Rakyat Adil Makmur Santosa. dengan latar belakan foto seorang bapak dan anak yang mengendarai gerobak. Meskipun makna konotasinya adalah bahwa Pancasila berfungsi sebagai dasar negara Republik Indonesia, lirik lagu nasional "rakyat adil makmur sentosa" tercantum di gambar ini dalam lagu garuda Pancasila. Dua orang yang terlihat di gambar ini adalah seorang bapak dan anak yang sedang menyeret sebuah gerobak rongsok. Mereka memiliki tubuh yang kurus dan memiliki dua ekspresi wajah yang berbeda;
latar belakang hitam-putih menunjukkan keprihatinan dan kehidupan. menggambarkan kondisi bangsa ini belum sepenuhnya makmur.
Kita semua tahu bahwa Pancasila berfungsi sebagai dasar negara dan pedoman hidup, dan setiap baitnya mengandung prinsip dan cita-cita bangsa Indonesia. Salah satu contohnya, pada alinea kelima, membahas keadilan sosial untuk seluruh rakyat Indonesia. Gambar mural di atas menunjukkan bahwa keadilan belum ada di Indonesia. Masih banyak orang yang tidak makmur, dan banyak masyarakat yang merasa keadilan belum ada di negeri ini. Gambar tersebut dapat menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu berlaku adil untuk menciptakan lingkungan yang adil untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur di Indonesia.
Dalam ilustrasi ini, seni mural memiliki makna sebagai representasi keislaman dalam sistem syariah. Hubungan antara peraturan dasar pemerintahan Indonesia dan perilaku adil terhadap
masyarakat kecil yang seringkali mendapatkan ketidakadilan dari sistem pemerintahan adalah buktinya.
Gambar Tulisan Sabar dan Syukur
Seni mural pada gambar ini berlokasi di Taman Tingkir Salatiga dengan deskripsi mural dengan tulisan sabar dan syukur.
Gambar 5. Sabar Dan Syukur
Pada seni mural tersebut terlihat sebuah tulisan yang berada di dinding dan berlokasi di Taman Tingkir Kota Salatiga. Tulisan tersebut berukuran besar dan berwarna dengan bernarasi
"Sabar itu tak berujung dan syukur tak terukur," dan seseorang terlihat mengacungkan jari telunjuknya ke atas tulisan tersebut di bawahnya. Analisis arti gambar dari perspektif denotasi.
Dalam hal maknanya, tulisan ini mengingatkan semua orang bahwa kesabaran tidak memiliki batas dan tidak memiliki aturan. serta rasa syukur yang tak terbatas. Kita hanya memiliki titipan yang sementara dari Allah, karena apa yang kita miliki hanyalah milik-Nya.
Tulisan berwarna putih dan oranye menunjukkan bahwa manusia harus hidup dengan ikhlas, dalam warn aitu juga manusia harus semangat, optimisme di dalam melaksanakan sekenario hidup di alam semesta. Hal tersebut merupakan sebuah mitos yang sering terjadi pada setiap manuisa. Saat ini sangat jarang manusia sabar di dalam menjalankan atau menghadapi problem atau cobaan dalam hidupnya. Manusia juga kebanyakan lupa bersyukur kepada sang pencipta atas segala nikmat yang mereka dapatkan. Manusia hanya sibuk mencari dunia untuk menyenangkan dirinya tanpa sedikitpun rasa syukur atas nikmat yang mereka dapatkan.
Hidup seperti perjalanan ke pulau kebahagiaan. Pulau impian tidak mudah ditemukan.
Bagi mereka yang memang benar diberi ujian yang mampu menemukan dan mencapai pulau kebahagiaan tersebut. Keadaan tidak dapat menghindari kenyataan yang akan datang. Kita pasti akan menghadapi ujian, tetapi hanya jika kita menerimanya dan menghadapinya dengan sabar. Kita juga harus mensyukuri apa yang diberikan ketika kita diberi kenikmatan oleh sang pencipta. Sikap sabar dan syukur merupakan salah satu kepribadian yang amat mulia. Seperti firman Allah dalam Q.S Ibrahim ayat 7 yang berbunyi:
ْمُكَّنَدْيِزََلَ ْمُتْرَكَش َِْئَل ْمُكُّبَر َنَّذَأَت اَذِإ َو ٌدْيِدَشَل ِباَذَع َّنِإ ْمُتْرَفَك َِْئَل َو ۖ
Artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.S Ibrahim: 7) (Departemen Agama: 2019).
Berdasarkan analis pada seni mural tersebut menunjukkan bahwa urgensinya sikap sabar dan syukur bagi setiap manusia. Islam mengajarkan kita untuk sabar setiap saat. serta menunjukkan rasa syukur saat diberi nikmat atau mendapatkan sesuatu. Dalam situasi ini, seni mural menggambarkan keislaman dalam hal akhlak. Her tersebut dibuktikan dengan bersabar dan bersyukur.
Mural di Selasar Kota Salatiga Gambar bertuliskan arab
Seni mural pada gambar ini berlokasi di Selasar Tingkir Salatiga dengan deskripsi mural dengan tulisan Arab.
Gambar 6. Tulisan Arab
Gambar 6 menunjukkan tulisan arab dengan desain air tiga dimensi di tengah retakan bongkahan batu atau struktur. Jadi, berdasarkan maknanya, tulisan Arab tersebut memiliki bacaan "Iqro" yang berwarna kuning dan memiliki definisi "bacalah". Pada warna kuning tersebut memberi kesan atau suasana terang dan cerah. Alasanya karena pada tulisan arab tersebut posisinya seakan-akan berada di tengah genangan air pada sebuah lobang bongkahan yang terbuat dari batu kasar yang berwarna gelap dan amat hitam. Makna dalam tulisan tersebut adalah Jika Anda tidak membaca, Anda akan seperti hidup tanpa arah dan tujuan.
Ilmu adalah penting karena membantu orang yang tidak tahu menjadi tahu. Iqra adalah permulaan dari perubahan tersebut.
Berdasarkan perspektif Islam, surat Al-Alaq merupakan sebuah surat yang paling awal diturunkan dan diterima oleh Nabi Muhammad SAW. Menurut perspektif ini, perintah membaca harus dikombinasikan dengan membaca tanda-tanda kebesaran-Nya. Wahyu tersebut disampaikan kepada nabi saat sedang di gua Hira. Seperti firman Allah dalam Q.S Al- Alaq ayat 1 yang berbunyi:
َقَلَخ ْيِذَّلا َكِّبَر ِمْساِب ْأَرْ قِا Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan) (Q.S Al-Alaq:1) (Departemen Agama: 2019).
Pada ayat tersebut termuat sebuah kata Iqro dan bermakana membaca. Ayat tersebut dituliskan pada sebuah seni mural yang dilukiskan oleh seniman di Selasar Kota Salatiga. Ayat tersebut sebuah bentuk perintah untuk belajar dan belajar tersebut adalah makna dari seni mural ini. Islam adalah agama yang sempurna yang menjunjung tinggi pengetahuan dan mewajibkan setiap warganya untuk belajar. Seni mural memiliki nilai sebagai representasi
keislaman dalam pencarian ilmu pengetahuan sehingga dapat membuat manusia memahami bahkan mampu menganalisa semua hal dalam intelektualitas.
Gambar kepala dengan berisikan buku
Seni mural pada gambar ini menjelaskan tentang gambar kepala kakek tua yang berisi banyak macam buku dan berlokasi di Selasar Tingkir Kota Salatiga.
Gambar 7. Ilmu dan Wawasan
Gambar tersebut secara denotasi menunjukkan karya seni yang dibuat oleh beberapa orang, dengan tema sebuah gambar besar kepala orang tua berkumis dengan banyak buku di kepalanya. Gambar ini menunjukkan bahwa para seniman ingin memberikan pesan yang mendorong semua orang untuk membaca buku. Buku adalah sumber ilmu dan jendela dunia, sehingga seseorang dapat memperluas wawasannya dengan membacanya. Mitos mengatakan bahwa menuntut ilmu tidak terbatas pada usia. Tidak buruk untuk menghargai seseorang yang memulai karirnya sebagai peneliti di usia senja. karena ilmu tidak terbatas pada waktu dan umur. Selain itu, orang tua masih membutuhkan pengetahuan agar mereka dapat terus beraqidah, beribadah, dan bermuamalah berdasarkan pengetahuan. Tidak ada orang cerdas yang malas.
Berdasarkan analis seni mural tersebut memberikan deskripsi bahwa setiap manusia urgensi terhadap disiplin ilmu. Pada gambar mural tersebut terkandung pesan bahwa pengetahuan atau ilmu merupakan poin penting karena ilmu tidak memiliki batas usia. Dalam agama Islam, dianjurkan untuk terus memperoleh pengetahuan, baik dalam hal dunia maupun akhirat, karena ilmu akan bermanfaat bagi individu dan masyarakat. Kita dapat dengan jelas melihat bahwa mural pada gambar 7 menunjukkan nilai seni mural untuk menggambarkan akhlak Islam, seperti yang dikatakan dalam sebuah hadist "Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat." Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa menuntut ilmu dari kecil hingga usia tua sangat penting, di dalam mencari ilmu usia bukanlah sebuah persoalan untuk berhenti mencari ilmu.
Analisis Mural di Monginsidi Kota Salatiga Toleransi antar umat beragama
Seni mural pada gambar ini berlokasi di Selasar Tingkir Salatiga dengan deskripsi mural dengan gambar toleransi antar umat beragama.
Gambar 8. Toleransi Antar Umat Beragama
Gambar tersebut secara denotasi menunjukkan pesan untuk semua orang agar bisa menghormati, dan menghargai antar sesama dan hidup rukun di dalam satu negara. Selain itu, setiap orang harus menjunjung tinggi nilai toleransi pada agama lain. Pada mural tersebut terlihat sepasang foto yang bertujuan untuk menciptakan kerukunan dan kebersamaan. Pada tulisan "Beda tak harus sama" menunjukkan bahwa segala sesuatu dalam kehidupan tidak harus atau tidak boleh sama. Manusia memiliki agama yang berbeda dan diciptakan oleh tuhan.
Semua orang memiliki hak untuk memeluk suatu agama dan mempercayai keyakinan mereka sendiri. Pada satu sisi gambar menunjukkan bahwa perbuatan insan dalam bermasyarakat harus bersosial dengan baik tanpa memperhatikan etnis tertentu. Insan harus menghargai dan saling tolong menolong tanpa membedakan golongan apapun. Pada mural tersebut menggunakan latar kertas dengan gulungan putih, bentuk kesucian dilukiskan dengan berbagai macam simbol yang bermakna kedamaian dan kerukunan. Selain itu, pada gambar dedaunan kecil di sekitarnya memberikan makna kesejukan dan kasih sayang.
Secara mitos, gambar tersebut mengikuti kaidah Isalam karena Islam tidak mengajarkan kebencian dan pembunuhan. Perbedaan agama adalah wajar, dan orang-orang saling membantu dan hidup bersama. Karena banyaknya agama, suku, dan budaya yang ada di dunia ini, kita harus tetap rukun satu sama lain. Dengan adanya perbedaan ini, umat beragama diharapkan untuk hidup rukun. Menghormati satu sama lain dan tidak ada pertikaian.
Memungkinkan orang-orang dari berbagai agama untuk saling menghargai satu sama lain adalah tujuan dari analis seni mural, seperti yang ditunjukkan pada gambar 8. Seni mural ini menunjukkan sikap toleransi masyarakat.
Dalam konteks Islam, kita diminta untuk mengenal satu sama lain, karena kita tidak dapat hidup sendirian, agama Islam selalu mengajarkan manusia dan kita semua untuk hidup damai, rukun antar sesama. Hal tersebut bermula karena manusia yang menganut agama Islam dan makhluk sosial harus menghormati dan saling menghargai satu sama lain. Ungkapan tersebut disebut dengan toleransi. Kata toleransi dalam Al-Qur'an ayat ketiga belas surah Al- Hujurat mejelskan bahwa manusia dapat mengenal satu sama lain, Allah membuat mereka berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Sebagai contoh, mural di Munginsidi Kota Salatiga menunjukkan bahwa gambar mural tersebut mendeskripsikan keislaman dalam akhlak.
PENUTUP
Berdasarkan diskusi di atas, penelitian tersebut mencapai kesimpulan bahwa seni mural dianggap efektif sebagai cara bagi penggiat mural di Kota Salatiga untuk menyampaikan nilai- nilai keislaman. Nilai-nilai ini disampaikan oleh penggiat mural baik secara langsung maupun tidak langsung melalui mural yang berkaitan dengan aqidah, syariah, dan akhlak. Setiap gambar yang disertakan memiliki pesan dan nilai yang tersirat tentang Islam. Seni mural Kota Salatiga menyampaikan prinsip Islam sesuai dengan kondisi lingkungan.
Pada Taman Tingkir Kota Salatiga, ada mural yang menunjukkan nilai-nilai keislaman.
Gambar 1 menunjukkan nilai akhlak untuk selalu menjaga lingkungan dengan tidak menebang pohon secara liar, karena dapat merusak kehidupan dan ekosistem alam. Gambar 2 menunjukkan nilai akhlak tentang pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh asap pabrik, yang dapat mengakibatkan kerugian dan ancaman kesehatan masyarakat. Gambar 3 pada mural menunjukkan nilai syariah tentang kemudhorotan yang disebabkan oleh asap rokok dan seorang perokok, karena keduanya membahayakan kesehatan perokok dan orang yang terkena asap. Gambar 4 menunjukkan nilai syariah karena berkaitan dengan peraturan pemerintah yang mengatur kehidupan masyarakat terhadap keadilan sosial yang masih jauh dari peraturan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Gambar 5 di mural menunjukkan nilai akhlak karena mengingatkan betapa pentingnya kesabaran dan bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan. Gambar 6 dan 7 dari mural di Taman Tingkir Kota menunjukkan nilai-nilai keislaman, karena setiap muslim harus belajar melalui membaca. Gambar 7 menunjukkan pentingnya belajar sejak kecil dan tidak ada batasan usia untuk belajar. Gambar 8 pada mural Taman Tingkir Kota Salatiga menunjukkan nilai-nilai keislaman, yang menggambarkan toleransi antar umat beragama dan kebutuhan untuk saling membantu.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z. (2013). Islam Inklusif: Telaah Atas Doktrin dan Sejarah. Jurnal Humanora, 4(2).
Aflaha, U. (2017). Kaos Hadis Sebagai Media Dakwah Dan Komunikasi Alternatif. INJECT:
Interdisciplinary Journal of Communication, 2(2).
https://inject.iainsalatiga.ac.id/index.php/INJECT/article/view/1315
Ahmad, Abd. A. (2013). Dakwah, Seni dan Teknologi Pembelajaran. Jurnal Dakwah Tabligh, 14(1), 75–89.
Akbar, T., Anto, P., & Andrijanto, M. S. (2020). Mural as a Medium of Language Learning in Preschool Education. Hortatori: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 4(1), 66–72.
Arifin, Z. (2012). Penelitian Pendidikan (Metode Dan Paradigma Baru). Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Astuti, E. Z., Ernawati, A., & Arifin, Z. (2023). Identitas Budaya Jawa Pada Mural di Kampung Batik Kota Semarang. Jurkom: Jurnal Roset Komunikasi, 6(1), 80–92.
Cahyanto, B., Rahayu, S., Fitria, R., Azizi, P., Arobi, A., Masrukhin, M., Mutmainah, S., Yulandra, N., Arrozak, M., & Malik, A. (2020). Pendampingan Pembuatan Mural Sebagai Upaya Peningkatan Pendidikan Karakter. Jurnal Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (JP2M), 1, 73. https://doi.org/10.33474/jp2m.v1i2.6601
Danesi, M. (2010). Pengantar Memahami Semiotik Media. Yogyakarta: Jalasutra.
Departemen Agama. (2019). Al-Hikmah: Al-Quran Dan Terjemahannya. Bandung: CV.
Diponegoro.
Djamal, M. S. (2017). Penerapan Nilai-nilai Ajaran Islam dalam Kehidupan Masyarakat di Desa Garuntungan Kec. Kindung Kab. Bulukumba. Jurnal Adabiyah, 17(2).
Eriyanto. (2001). Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKIS.
Gazali, M. (2017). Seni Mural Ruang Publik Dalam Konteks Konservasi. Jurnal Imajinasi, 11(1).
https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/imajinasi/article/view/11190
Gozali, D. M. (2005). Communication Measurement: Konsep dan Aplikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Gunawan, I. (2013). Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik. Jakarta: Bumi Aksara.
Hayati, U. (2017). Nilai-Nilai Dakwah Aktivitas Ibadah dan Perilaku Sosial. INJECT:
Interdisciplinary Journal of Communication, 2(2), 175–192.
https://inject.iainsalatiga.ac.id/index.php/INJECT/article/view/1324
Hidayatullah, T., & Sabana, S. (2021). Penciptaan Karya Mural di Madrasah Diniyyah AwaliyahAl Qamariyyah di Kampung Kota Ciroyom Bandung (The Creation of Mural in Al Qamariyyah Madrasah Diniyyah Awaliyah at Ciroyom Bandung Urban Village).
SANDI: Seminar Nasional Desain, 1(1). https://eproceeding.isi dps.ac.id/index.php/sandi-dkv/article/view/112
Ibrahim, M., & Riyadi, A. (2023). Concepts and Principles of Da’wah in The Frame of Islamic Community Development. Prosperity: Journal of Society and Empowerment, 3(1), 30–42.
https://doi.org/10.21580/prosperity.2023.3.1.13716
Iswandi, H. (2016). Seni Mural Sebagai Unsur Politik Dalam Kehidupan Sosial. Besaung: Jurnal Seni Desain Dan Budaya, 1(1).
Kriyantono, R. (2016). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Martahayu, V., Irfansyah, R., & Anharudin, A. (2020). Penggunaan Karya Seni Mural di Pemandian Air Barat Desa Ranggung Sebagai Media Pendukung Berbasis Edukasi Sosial Kemasyarakatan. SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan, 3(2). http://journal.ummat.ac.id/index.php/jpmb/article/view/1893
Mulyana, D. (2001). Ilmu Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosadakarya.
Octaviana, T. (2019). Metode Dakwah Komunitas Kartini Melalui Seni Mural Di Kota Bandar Lampung [Skripsi]. UIN Raden Intan Lampung.
Rasimin. (2019). Metode Penelitian Pendekatan Praktis Kualitatif. Yogjakarta: Trussmedia Grafika Yogjakarta.
Rivers, W. L., Theodore, P., & Jensen, J. W. (2004). Media massa masyarakat dan modern. Jakarta:
Prenada Media Grup.
Romadhonah, I. S., & Ibrahim, M. (2023). Komunikasi Dakwah dalam Bingkai Teori-Teori
Psikologi. Nusantara Hasana Journal, 3(2), 77–88.
https://doi.org/10.59003/nhj.v3i2.900
Sadiah, D. (2015). Metodologi Penelitian Dakwah. Bandung: Pt Remaja Rosdakarya.
Saebani, B. A. (2011). Fikh Munakahat Dua. Bandung: Pustaka Setia.
Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.
Suherman, Giyanti, S., & Anggraeni, S. P. K. (2019). Mural Di Lingkungan Sekolah Dalam Konteks Pendidikan Konservasi Refleksi Edukatika. Jurnal Ilmiah Kependidikan, 9(2).
https://jurnal.umk.ac.id/index.php/RE/article/view/3303
Sumaryanto, E., & Ibrahim, M. (2023). Komunikasi Antar Budaya Dalam Bingkai Teori-Teori
Adaptasi. Nusantara Hasana Journal, 3(2), 42–51.
https://doi.org/10.59003/nhj.v3i2.895
Susanto, B. (2002). Politik dan Postkolonialitas di Indonesia. Yogjakarta: Kanisius.
Syaf, M. L., & Ibrahim, M. (2023). Retorika Dakwah K.H Ahmad Bahauddin Nursalim Dalam Channel YouTube NU Online. Al-Hikmah Media Dakwah, Komunikasi, Sosial dan Kebudayaan, 14(1), 22–36. https://doi.org/10.32505/hikmah.v14i1.6133
Vera, N. (2014). Semiotika dalam Riset Komunikasi. Bogor: Ghalia Indonesia.
Wiratno, T. A. (2022). Model Seni Mural Perkembangan Lukisan Kontemporer. Sumatera Barat:
Insan Cendekia Mandiri.