SIKLUS PEMBIAYAAN DALAM PENDIDIKAN MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Manajemen Pembiayaan Pendidikan Dosen Pengampu: Isnaini, M.Pd.
oleh:
Fitriatul Isnaeni
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEPERGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM AN-NAWAWI PURWOREJO
2024
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pembiayaan pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam sistem pendidikan yang mempengaruhi kualitas dan keberlanjutan pendidikan itu sendiri. Pembiayaan pendidikan mencakup alokasi sumber daya untuk mendukung proses pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi. Sistem pembiayaan yang efektif dan efisien dapat menciptakan akses yang merata dan meningkatkan kualitas pendidikan untuk seluruh lapisan masyarakat.
Siklus pembiayaan dalam pendidikan terdiri dari serangkaian tahapan yang dimulai dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, evaluasi, dan pelaporan. Setiap tahapan ini saling berhubungan dan mempengaruhi kualitas serta hasil dari sistem pendidikan. Pembiayaan pendidikan yang baik dapat menciptakan kesempatan yang sama bagi setiap individu untuk memperoleh pendidikan tanpa terhambat oleh keterbatasan ekonomi. Oleh karena itu, penting untuk memahami siklus pembiayaan pendidikan secara menyeluruh agar dapat mengoptimalkan alokasi sumber daya dan memastikan pendidikan yang berkualitas dapat tercapai.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian dari Siklus Pembiayaan Pendidikan?
2. Sebutkan Tahapan-tahapan dalam Siklus Pembiayaan Pendidikan?
3. Sebutkan Tantangan dalam Siklus Pembiayaan Pendidikan?
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Siklus Pembiayaan dalam Pendidikan
Siklus adalah suatu rangkaian proses atau urutan kejadian yang terjadi berulang-ulang dalam suatu sistem atau aktivitas. Setiap tahapan dalam siklus saling terkait dan membentuk suatu kesatuan yang berkesinambungan. Siklus dapat berlangsung dalam waktu yang terbatas atau tidak terbatas, tergantung pada jenis dan tujuannya. Secara umum, siklus menggambarkan suatu proses yang berulang, di mana hasil dari satu tahap akan memengaruhi tahap berikutnya, dan tahapan tersebut akan dimulai kembali setelah siklus berakhir. Siklus ini bisa terjadi dalam berbagai aspek kehidupan, seperti ekonomi, alam, pendidikan, produksi, dan lain-lain.
Pembiayaan merupakan proses alokasi sumber daya pada kegiatan atau program tertentu.1 Sehingga pembiayaan pendidikan merupakan proses alokasi sumber daya untuk kegiatan atau program operasional pendidikan.
Pembiayaan pendidikan bukan tanggung jawab pemerintah saja melainkan tanggung jawab semua pihak, baik pemerintah, orang tua dan masyarakat.
Dalam konteks yang lebih spesifik, seperti dalam siklus pembiayaan pendidikan, siklus merujuk pada rangkaian tahapan yang terdiri dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, evaluasi, dan pelaporan yang dilakukan secara berulang untuk mengelola dan mengoptimalkan penggunaan dana pendidikan guna mencapai tujuan yang diinginkan. Siklus ini bertujuan untuk memastikan bahwa dana yang dialokasikan dapat mendukung semua aspek pendidikan, mulai dari peningkatan kualitas pengajaran, pembangunan infrastruktur pendidikan, hingga penyediaan fasilitas yang memadai.
B. Tahapan-Tahapan dalam Siklus Pembiayaan Pendidikan
Terdapat 3 tahapan atau siklus dari pembiayaan pendidikan, yaitu sebagai berikut :2
1. Perencanaan Pembiayaan Pendidikan (Budgeting)
Dalam pembiayaan pendidikan, perencanaan sering disebut sebagai budgeting. Tujuan utama dari budgeting ini adalah untuk memastikan penggunaan sumber daya keuangan dengan efektif dan efisien agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan. Hal ini di dukung oleh pendapat Anwar Abidin (2017) yang menyebutkan fungsi dasar suatu anggaran adalah sebagai alat perencanaan (planning), alat koordinasi (coordinating) dan alat pengendalian (controlling).3
Langkah-langkah penyusunan anggaran yaitu : a) Menginventarisasi rencana /nextyang akan dilaksanakan b) Menyusun rencana berdasar skala prioritas pelaksanaannya c) Menentukan program kerja dan rincian program
d) Menetapkan kebutuhan untuk pelaksanaan rincian program e) Menghitung dana yang dibutuhkan
f) Menentukan sumber dana untuk membiayai rencana.
Selain itu pula anggaran mempunyai manfaat atau berfungsi yang dapat digolongkan menjadi tiga jenis yaitu:4
a) Sebagai alat bantu penafsiran, digunakan untuk memperkirakan besarnya pemasukan dan pengeluaran guna memahami kebutuhan pembiayaan dalam mewujudkan kegiatan pendidikan suatu lembaga pendidikan.
2 Masditou, “Manajemen pembiayaan pendidikan menuju pendidikan yang bermutu” dalam
Jurnal Ansiru PAI, Vol. 1, No. 20, hlm. 119.
3 A. Anwar Abidin, “Manajemen pembiayaan pendidikan tinggi dalam upaya peningkatan mutu (Studi kasus pada perguruan tinggi swasta menengah di Surabaya)” dalam Jurnal Analisis Sumber dan Jenis Pembiayaan Pendidikan di Indonesia Penjaminan Mutu, Vol. 3, No. 1, hlm. 87.
4 F. Nanang, Ekonomi dan pembiayaan pendidikan, ( Bandung: PT. Remaja Rosmadakarya, 2009), hlm. 23.
b) Sebagai alat otoritas, dapat memberikan wewenang untuk mengeluarkan dana , sehingga kita dapat melihat berapa banyak atau dana dari anggaran yang dapat digunakan untuk mendanai kegiatan berdasarkan rencana anggaran sebelumnya.
c) Sebagai alat efisiensi, memungkinkan seseorang dapat memutuskan pelaksanaan suatu kegiatan dan membandingkannya dengan rencana.
2. Akuntansi (Accounting)
Akuntansi diartikan sebagai proses pencatatan, penggolongan, pelaporan, peringkasan dan penganalisis data keuangan suatu organisasi.5 Tujuan penyelenggaraan akuntansi dalam Badan Hukum Pendidikan Dasar Dan Menengah (BHPDM) adalah untuk menyediakan gambaran tentang keadaan keuangan pada lembaga pendidikan. Ada 3 anggaran publik dalam anggaran pendidikan yang harus kita perhatikan, yaitu:
a) APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) yang dikelola oleh pemerintah.
b) APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) yang dikelola oleh pemerintah daerah.
c) APBS (Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah) yang dikelola oleh sekolah.6
Anggaran ini harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Dari proses perencanaan hingga pelaksanaan, masyarakat perlu memahami penggunaan/alokasi dana ini. Pada dasarnya siklus akuntansi dapat dibedakan sebagai berikut:
a) Membuat atau menerima bukti pencatatan. Perusahaan biasanya memiliki bukti catatan sendiri atau bukti lain berupa kuitansi atau bukti lainnya.
b) Mencatat dalam buku jurnal.
5 Masditou, “Manajemen pembiayaan pendidikan..., hlm. 121.
c) Memindahkan data jurnal ke buku besar.
d) Menyusun laporan keuangan.
3. Evaluasi (Controling)
Evaluasi adalah proses pembuatan pertimbangan menurut suatu perangkat kriteria yang disepakati dan dapat dipertanggungjawabkan.7
Ada 3 tujuan evaluasi dari pembiayaan pendidikan, yaitu :8
a) Diakhir masa kerja, berikan diri dasar untuk memikirkan apa yang telah dicapai dan apa yang perlu mendapat penanganan khusus.
b) Memastikan metode kerja yang efektif dan efisien yang memungkinkan penggunaan sumber daya pendidikan secara efisien dan ekonomis.
c) Mendapatkan fakta tentang kesulitan, hambatan, dan tingkat retensi dalam aspek tertentu seperti program tahunan dan kemajuan studi.
Tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah serta menggunakan hasil evaluasi untuk perbaikan kinerja masa depan.
C. Tantangan dalam Siklus Pembiayaan Pendidikan
Meskipun siklus pembiayaan pendidikan terdengar cukup sistematis, dalam pelaksanaannya terdapat sejumlah tantangan yang sering kali dihadapi, antara lain:
1. Keterbatasan Anggaran
Banyak negara, khususnya negara berkembang, sering kali menghadapi keterbatasan anggaran yang dialokasikan untuk sektor pendidikan. Hal ini dapat menghambat penyediaan fasilitas yang memadai, peningkatan kualitas tenaga pendidik, dan akses pendidikan yang merata bagi semua lapisan masyarakat.
2. Ketidakefisienan dalam Penggunaan Anggaran
Pengelolaan anggaran yang tidak efisien dapat menyebabkan dana yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan kualitas
7 Masditou, “Manajemen pembiayaan pendidikan..., hlm. 124.
pendidikan malah tersalurkan ke kegiatan yang kurang prioritas. Hal ini sering kali disebabkan oleh kurangnya transparansi, akuntabilitas, dan mekanisme pengawasan yang lemah dalam pengelolaan dana pendidikan.
3. Distribusi Dana yang Tidak Merata
Di beberapa daerah, terutama di daerah terpencil atau kurang berkembang, pembiayaan pendidikan sering kali tidak merata. Hal ini dapat menyebabkan ketimpangan dalam kualitas pendidikan antar wilayah, yang pada akhirnya berpotensi memperburuk kesenjangan sosial dan ekonomi.
4. Perubahan Kebijakan yang Sering
Perubahan kebijakan yang sering dalam sektor pendidikan, baik dari pemerintah pusat maupun daerah, kadang membuat perencanaan pembiayaan menjadi kurang stabil. Ketidakpastian ini dapat mengganggu keberlanjutan program-program pendidikan yang sudah direncanakan dengan baik.9
BAB III PENUTUP
Siklus pembiayaan pendidikan adalah siklus merujuk pada rangkaian tahapan yang terdiri dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, evaluasi, dan pelaporan yang dilakukan secara berulang untuk mengelola dan mengoptimalkan penggunaan dana pendidikan guna mencapai tujuan yang diinginkan. Siklus ini bertujuan untuk memastikan bahwa dana yang dialokasikan dapat mendukung semua aspek pendidikan, mulai dari peningkatan kualitas pengajaran, pembangunan infrastruktur pendidikan, hingga penyediaan fasilitas yang memadai. Terdapat 3 tahapan atau siklus dari pembiayaan pendidikan, yaitu perencanaan pembiayaan pendidikan (budgeting), akuntansi (accounting), evaluasi (controling). Meskipun siklus pembiayaan pendidikan terdengar cukup sistematis, dalam pelaksanaannya terdapat sejumlah tantangan yang sering kali dihadapi, antara lain keterbatasan anggaran, ketidakefisienan dalam penggunanaan anggaran, distribusi dana yang tidak merata, dan perubahan kebijakan yang sering.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar Abidin, A. “Manajemen pembiayaan pendidikan tinggi dalam upaya peningkatan mutu (Studi kasus pada perguruan tinggi swasta menengah di Surabaya)” dalam Jurnal Analisis Sumber dan Jenis Pembiayaan Pendidikan di Indonesia Penjaminan Mutu. Vol.
3. No. 1.
Jurnal Ansiru PAI. Vol. 1. No. 20.
Masditou. “Manajemen pembiayaan pendidikan menuju pendidikan yang bermutu” dalam Nanang, F. 2009. Ekonomi dan pembiayaan pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosmadakarya.
Nursobah, A. The manajemen pembiayaan pada lembaga pendidikan Islam dalam Jurnal An Nahdliyyah: Jurnal Studi Keislaman. Vol. 1. No. 1.
Tilaar, H. A. R. 1995. Analisis kebijakan pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Trihantoyo, S. 2020. Manajemen keuangan pendidikan. Jakarta: Pustaka Aksara.