MAKALAH KEPERAWATAN KRITIS “SYNCOPE “
Nama Kelompok :
1. R a t n a W u l a n V . (70425003) 2. A n a M a s r u r o t u l
J .
(70425005)
PRODI RPL S1 KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA KEDIRI 2024
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sinkop atau pingsan merupakan permasalahan yang penting dewasa ini.
Secara substansial mengakibatkan pe-nurunan kualitas hidup pada semua dimensi kesehatan terutama mobilitas, aktivitas sehari-hari, dan perawatan diri sendiri. Sinkop digambarkan sebagai masalah yang relatif kompleks dan seringkali berpotensi membahayakan, kadang- kadang manifestasi klinis tidak jelas. (Moya et al., 2009)
Studi prospektif 1 tahun terakhir terhadap pasien sinkop menunjukkan mortalitas yang tinggi, kematian mendadak ditemukan berkisar antara 3-24%
dalam 1 tahun. Kematian berlebih ditemukan pada pasien dengan kelainan kardiovaskular yang mendasari. Sinkop adalah T-LOC (transient loss of consciousness) yang disebabkan karena hipoperfusi serebral global sementara yang ditandai dengan onset cepat, durasi pendek, dan pemulihan lengkap spontan. Definisi sinkop ini berbeda dengan definisi lainnya, karena memasukkan penyebab ketidaksadaran, yaitu hiperplantasi serebral global sementara. (Gofir A, 2011)
Sinkop merupakan salah satu penyebab penurunan kesadaran yang banyak ditemukan di Unit Gawat Darurat (UGD). Sinkop didefinisikan sebagai hilangnya kesadaran sesaat, dengan kehilangan postur tubuh (jatuh).
Merupakan 3% dari kunjungan UGD dan 6% dari kunjungan rawat jalan ke rumah sakit. Mengatasi penyebab pingsan lainnya sangat penting karena prognosis dan pengobatannya berbeda. Sinkop merupakan gejala suatu penyakit sehingga harus dicari etiologinya. Dalam studi berbasis populasi didapatkan prevalensi sinkop pada pria sama dengan wanita, kejadiannya hampir 2 kali lipat pada pasien dengan riwayat kardiovaskular. Kematian sekitar 30% lebih tinggi pada sinkop yang tidak diketahui sebabnya.
Sinkop sering dijumpai, dan sangat penting untuk melakukan evaluasi klinis pada praktek medis. Dalam hal kunjungan ke rumah sakit, sinkop mencapai 3% kunjungan ruang gawat darurat dan 1% - 6% dari kunjungan
pasien umum di rumah sakit Amerika Serikat. Minimal 3% populasi mengalami sinkop selama pengamatan 25 tahun. (Moya et al., 2009)
Sinkop relatif sering terjadi di semua kelompok usia, mulai dari 15% anak usia di bawah 18 tahun dan 23% pada pasien lansia berusia di atas 70 tahun.
Prevalensi dan kejadian sinkop meningkat seiring bertambahnya usia, dengan 30% tingkat kekambuhan. (Moya et al., 2009)
Penelitian di Irlandia menyatakan kunjungan pasien sinkop murni sebesar 1,1% dari seluruh kunjungan ke UGD. Di Amerika Serikat prevalensi 19%
penduduk mngalami sinkop, dengan karakteristik usia > 75 tahun (21%) dan 45-54 tahun (20%), laki-laki dibanding perempuan 15% : 22%. (Moya et al., 2009)
Sinkop umum terjadi pada populasi masyarakat dan episode pertama muncul pada karakteristik usia yang ditunjukkan oleh Gambar 1. Prevalensi sangat tinggi untuk sinkop pada pasien 10 - 30 tahun, dengan puncak 47%
pada wanita dan 31% pada pria berusia sekitar 15 tahun. (Moya et al., 2009)
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa Definisi dari Syncope?
2. Apa Klasifikasi dari Syncope?
3. Apa Etiologi dari Syncope?
4. Bagaimana Manifestasi Klinis dari Syncope?
5. Bagaimana Patofisiologi dari Syncope?
6. Apa Komplikasi dari Syncope?
7. Apa Penunjang dari Syncope?
8. Apa Penatalaksanaan dari Syncope?
9. Bagaimana WOC dari Syncope?
10. Bagaimana Konsep ASKEP Syncope?
11. Bagaimana ASKEP Syncope?
1.3.Tujuan
1. Untuk Mengetahui Definisi dari Syncope 2. Untuk Mengetahui Klasifikasi dari Syncope
3. Untuk Mengetahui Etiologi dari Syncope
4. Untuk Mengetahui Manifestasi Klinis dari Syncope 5. Untuk Mengetahui Patofisiologi dari Syncope 6. Untuk Mengetahui Komplikasi dari Syncope 7. Untuk Mengetahui Penunjang dari Syncope 8. Untuk Mengetahui Penatalaksanaan dari Syncope 9. Untuk Mengetahui WOC dari Syncope
10.Untuk Mengetahui Konsep ASKEP Syncope 11.Untuk Mengetahui ASKEP Syncope
1.4.Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Hasil pembuatan makalah ini secara teoritis diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam memperkaya wawasan atau memperkaya konsep-konsep, teori-teori terhadap ilmu pengetahuan dari pembuatan makalah yang sesuai dengan bidang ilmu dalam suatu asuhan keperawatan.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini secara praktis diharapkan dapat menyumbangkan pemikiran terhadap pemecahan masalah yang berkaitan dengan Syncope.
Selanjutnya hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi penyusunan program pemecahan masalah yang berkaitan dengan Syncope.
BAB II PEMBAHASAN
2.1.Definisi Syncope
Syncope atau yang biasa dikenal dengan istilah pingsan merupakan kondisi dimana terjadi penurunan bahkan kehilangan kesadaran yang terjadi secara tiba-tiba dan bersifat sementara yang disebabkan oleh aliran darah di otak yang tidak tercukupi. Hal ini disebabkan karena terjadinya vasodilatasi dan bradikardi secara mendadak sehingga menimbulkan hipotensi. Onset dari syncope ini cepat, durasi singkat, dan pemulihan terjadi secara spontan dan sempurna. Penyebab lain kehilangan kesadaran yang perlu dibedakan dari syncope yaitu kejang, iskemik vertebrobasilar, hipoksemia, dan hipoglikemia.
(Longo, 2012)
Syncopal prodrome (presyncope) merupakan suatu kondisi yang umum terjadi dimana penurunan kesadaran mungkin terjadi tanpa ada gejala peringatan apapun. Gejala khas dari presyncope yaitu pusing, pingsan, lemah, lelah serta gangguan penglihatan dan pendengaran. (Toivonen L, 2009)
Syncope merupakan suatu mekanisme tubuh dalam mengantisipasi perubahan suplai darah ke otak dan biasanya terjadi secara mendadak dan sebentar atau kehilangan kesadaran dan kekuatan postural tubuh serta kemampuan untuk berdiri karena pengurangan aliran darah ke otak. Pingsan,
"blacking out", atau syncope juga bisa diartikan sebagai kehilangan kesadaran sementara yang diikuti oleh kembalinya kesiagaan penuh. Pingsan merupakan suatu bentuk usaha terakhir tubuh dalam mempertahankan kekurangan zat-zat penting untuk di suplai ke otak seperti oksigen dan substansi-substansi lain (glukosa) dari kerusakan yang bisa permanen. (McPhee SJ,2010)
2.2.Klasifikasi Syncope
Klasifikasi Syncope menurut (Longo,2012 dan Morag 2013) : 1. Syncope di Mediasi Saraf (Neurally Mediated Syncope)
Syncope dimediasi saraf merupakan syncope tersering yang ada pada orang yang tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Syncope yang
dimediasi oleh saraf ini merupakan jalur terakhir yang ditempuh dari refleks sistem saraf sentral dan perifer. Terdapat perubahan yang bersifat cepat dan sementara pada aktivitas autonom eferen yang ditandai dengan peningkatan aliran parasimpatik sehingga menyebabkan bradikardi dan simpatoinhibition sehingga menyebabkan vasodilatasi. Perubahan pada aktivitas autonom eferen menyebabkan penurunan tekanan darah dan penurunan aliran darah otak dibawah kemampuan autoregulasi. (Longo, 2012)
Terkadang neurally mediated syncope disebut juga vasovagal syncope dan atau situational refleks syncope. neurally mediated syncope disebut syncope situasional pada beberapa kondisi yaitu pada saat pungsi vena, berkemih, batu, menelan, defekasi, dan neuralgia glosofaringeal.
(Morag, 2013)
Gejala yang timbul pada syncope yang dimediasi saraf antara lain pusing, lelah, pucat, jantung berdebar, mual, hiperventilasi, dan menguap.
Sementara beberapa faktor predisposisi yang dapat menyebabkan syncope yaitu berdiri tegak dalam waktu yang lama, suhu lingkungan yang hangat, penurunan volume intravaskular, konsumsi alkohol, hipoksemia, anemia serta faktor emosi. (Morag, 2013)
2. Syncope Hipotensi Orthostatik
Hipotensi orthostatik didefinisikan sebagai penurunan tekanan darah sistolik paling sedikit 20 mmHg atau tekanan darah diastolik minimal 10 mmHg dalam waktu 3 menit saat berdiri. Kondisi ini merupakan suatu manifestasi yang muncul akibat disfungsi sistem saraf otonom pusat maupun perifer sehingga menyebabkan kegagalan vasokonstriksor simpatis (saraf otonom). Dalam beberapa kasus, tidak terjadi kompensasi pada denyut jantung meskipun terjadi hipotensi, sedangkan pada kegagalan parsial otonom, denyut jantung dapat meningkat sampai batas tertentu, tetapi tidak mampu untuk mempertahankan curah jantung. Syncope hipotensi orthostatis merupakan penyebab tersering syncope pada orang usia lanjut. (Morag, 2013)
Gejala khas yang muncul pada syncope hipotensi ortostatik antara lain pusing, presyncope yang terjadi jika terdapat perubahan postural yang mendadak. Ada juga gejala non spesifik lainnya seperti kelelahan, perlambatan kognitif, atau sakit kepala. Penglihatan juga mungkin kabur karena retina atau lobus oksipital mengalami iskemi. Selain itu juga mungkin terjadi dyspnea ortostatik yang diduga disebabkan oleh ketidakseimbangan ventilasi-perfusi karena tidak adekuatnya perfusi dari apeks paru. Gejala pada syncope hipotensi orthostatik dapat diperparah jika beraktivitas terlalu berat, berdiri terlalu lama, peningkatan suhu lingkungan.
3. Syncope Kardiovaskular
Syncope kardiovaskular disebabkan oleh aritmia dan penyakit struktural jantung. Kondisi ini dapat terjadi dalam kombinasi karena penyakit struktural jantung membuat jantung lebih rentan terhadap aktivitas listrik abnormal. . (Longo, 2012)
Aritmia merupakan penyebab utama dari bradikardi dan takikardi.
Bradiaritmia dapat menyebabkan syncope karena terjadi disfungsi nodus sinus yang parah dan atrioventrikular block. Bradiaritmia karena disfungsi nodus sinus sering dikaitkan dengan takiaritmia atrium, yang dikenal sebagai kelainan sindrom takikardi-bradikardia. Penyebab tersering syncope pada sindrom takikardia-bradikardia adalah jeda yang berkepanjangan setelah penghentian episode takikardi.Takiaritmia ventrikel merupakan salah satu penyebab tersering syncope.
Kemungkinan syncope dengan takikardi ventrikular tergantung pada ventricular rate. Jika ventricular rate dibawah 200 denyut permenit, kondisi ini cenderung tidak menyebabkan syncope. Terganggunya fungsi hemodinamik selama takikardi ventrikular disebabkan oleh kontraksi ventrikular yang tidak efektif, menurunnya pengisian diastolik karena waktu pengisian ventrikel yang singkat, kehilangan sinkronisasi arterioventrikular dan terjadinya iskemi miokard secara bersamaan.
Syncope dapat disebabkan oleh kelainan struktural jantung dengan cara mengganggu volum curah jantung. Beberapa contoh penyakit
jantung struktural yang menyebabkan syncope yaitu penyakit katup, iskemia miokard, hipertropi, masa jantung dan efusi perikardial. Selain mengganggu curah jantung, penyakit struktural jantung ini juga dapat menyababkan syncope melalui mekanisme patofisiologis lainnya. Sebagai contoh yaitu, gangguan struktural seperti stenosis aorta dan kardiomiopati dapat menyebabkan terjadinya refleks vasodilatasi sehingga memicu syncope, contoh lainnya yaitu pada pengobatan agresif gagal jantung dengan menggunakan diuretik dan atau vasodilator dapat menyebabkan hipotensi orthostatik yang dapat menyebabkan syncope.
2.3.Etiologi Syncope
Penyebab syncope dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) Syncope yang dimediasi oleh syaraf (2) Syncope akibat hipotensi ortostatik dan (3) Syncope Kardiovaskular. (Longo, 2012)
1. Syncope yang dimediasi oleh syaraf terdiri dari sekelompok heterogen gangguan fungsional yang ditandai oleh perubahan sementara pada refleks yang bertanggung jawab untuk mempertahankan homeostasis kardiovaskular. Kegagalan sementara dalam pengontrolan tekanan darah disebabkan oleh vasodilatasi episodik dan bradikardi yang terjadi pada berbagai kombinasi.
2. Adapun pada pasien dengan hipotensi ortostatik, homeostasis kardiovaskular kronik terganggu karena kegagalan kontrol otonom.
3. Sedangkan pada syncope kardiovaskular mungkin disebabkan oleh aritmia atau penyakit jantung struktural yang dapat menyebabkan penurunan curah jantung. Terdapat perbedaan yang sangat jelas pada gambaran klinis, dasar mekanisme patofisiologi, intervensi terapi dan prognosis pada ketiga penyebab syncope ini.
2.4. Manifestasi Klinis
Tanda gejala syncope bisa dilihat dalam 3 fase yaitu fase pre syncope, fase syncope dan fase post syncope. (McPhee SJ,2010)
1. Fase pre syncope
Pasien mungkin merasa mual, perasaan tidak nyaman, berkeringat dingin dan lemah. Mungkin ada perasaan dizziness (kepeningan) atau vertigo (dengan kamar yang berputar), hyperpnea (kedalaman nafas meningkat) penglihatan mungkin memudar atau kabur, dan mungkin ada pendengaran yang meredam dan sensasi-sensasi kesemutan dalam tubuh.
Fase pre-syncope atau hampir pingsan, gejala-gejala yang sama akan terjadi, namun pada fase ini tekanan darah dan nadi turun dan pasien tidak sungguh kehilangan kesadaran.
2. Fase syncope
Fase syncope ditandai dengan hilangnya kesadaran pasien dengan gejala klinis berupa:
a. Pernapasan pendek, dangkal, dan tidak teratur b. Bradikardi dan hipotensi berlanjut
c. Nadi teraba lemah dan gerakan konvulsif pada otot lengan, tungkai dan wajah. Pada fase ini pasien rentan mengalami obstruksi jalan napas karena terjadinya relaksasi otot akibat hilangnya kesadaran.
3. Fase post syncope
Fase terakhir adalah fase post syncope yaitu periode pemulihan dimana pasien kembali pada kesadarannya. Pada fase awal postsyncope pasien dapat mengalami disorientasi, mual, dan berkeringat. Pada pemeriksaan klinis didapatkan nadi mulai meningkat dan teraba lebih kuat dan tekanan darah mulai naik. Setelah episode pingsan, pasien harus kembali ke fungsi mental yang normal, meskipun mungkin ada tanda- tanda dan gejala-gejala lain tergantung pada penyebab yang mendasari pingsan. Contohnya, jika pasien ada ditengah-tengah serangan jantung, ia mungkin mengeluh nyeri dada atau tekanan dada.
2.5.Patofisiologi Syncope
Syncope merupakan konsekuensi dari hipopefusi serebral secara global dan dengan demikian merupakan suatu kegagalan mekanisme autoregulasi aliran darah otak. Adapun faktor yang bertanggung jawab atau autoregulasi dari aliran darah otak antara lain faktor myogenik, metabolit lokal, serta
kontrol neurovaskular otonom. Dalam keadaan normal, rentang aliran darah otak sekitar 50-60 ml/menit per 100 gram jaringan otak dan tetap relatif konstan selama tekanan perfusi mmulai 50-150 mmHg. Jika terjadi penghentian aliran darah selama 6-8 menit maka akan menyebabkan hilangnya kesadaran, sedangkan penurunan kesadaran akan terjadi saat aliran darah menurun sampai 25 ml/menit per 100 gram jaringan otak.
Dari sudut pandang klinis, penurunan tekanan darah sistolik sistemik dibawah 50 mmHg akan menyebabkan syncope. Penurunan kardiak output dan atau resistansi vaskuar sistemik (faktor penentu tekanan darah) merupaka hal yang mendasarai patofisiologi dari syncope. Beberapa penyebab umum terjadinya gangguan curah jantung yaitu penurunan efektif volum darah yang bersirkulasi, peningkatan tekanan dada, emboli paru masif, bradikardi dan tachyaritmia, penyakit katup jantung, dan disfungsi miokardia.
Dalam posisi berdiri memberikan beban stres fisiologis yang unik pada manusia. Posisi ini dapat dikatakan membebankan karena pada posisi berdiri akan terjadi penumpukan sekitar 500-1000 ml darah pada ekstremitas bawah dan sirkulasi splanknikus. Oleh karena hal inilah, umumnya periode syncope sering terjadi pada saat berdiri. Pada saat terjadi penumpukan aliran darah pada ekstremitas bawah, akan terjadi penurunan aliran balik vena ke jantung dan mengurangi pula pengisian ventrikel sehingga menyebabkan curah jantung dan tekanan darah berkurang.
Perubahan hemodinamik yang terjadi dapat memicu refleks kompensasi yang diprakarsai oleh baroreseptor di sinus karotis dan arkus aorta, sehingga menghasilkan peningkatan aliran simpatis dan penurunan aktivitas nervus vagus. Refleks kompensasi ini membuat peningkatan resistensi perifer, aliran darah dari vena kembali ke jantung dan kardiak output, sehingga dapat membatasi penurunan tekanan darah. Namun, jika respon kompensasi ini gagal maka hipoperfusi serebral akan terjadi, seperti pada neurally mediated syncope dan orthostatic hypotension. (Morag, 2013)
2.6.Pemeriksaan Penunjang
Selain pemeriksaan fisik, tanda vital dan anamnase, klien syncope juga memerlukan beberapa pemeriksaan untuk menegakkan diagnose dan penyebab syncope diantaranya yaitu: (Toivonen L, 2009)
1. EKG
Untuk mengetahui adanya gangguan listrik jantung dan sumbatan pada jantung
2. Holter monitor
Untuk mengetahui perubahan dan fluktuasi kondisi jantung serta mengetahui irama dan denyut jantung yang abnormal yang mungkin terungkap sebagai penyebab yang potensial dari pingsan atau syncope.
3. Tilt Table Test
Merupakan pemeriksaan untuk mendiagnosa ortostatic hypotensi.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara menempatkan pasien diatas meja, kemudian meja dimiringkan secara bertahap dari posisi horisontal hingga posisi vertikal. Selama pemeriksaan tekanan darah dan nadi terus dipantau sesuai dengan posisi-posisi yang berbeda.
4. Masase Carotis
Masase carotis dapat mendeteksi penyebab syncope, salah satu dugaannya yaitu aritmia (takikardi). Masase carotis dapat dilakukan untuk menurunkan heart rate. Pemijatan dilakukan di salah satu arteri carotis selama 10 menit dengan maksud untuk merangsang system parasympatis sehingga dapat memperlambat denyut jantung.
5. CT Scan
Untuk mengetahui adanya lesi dalam otak dan sebagai pencitraan otak 6. Tes Laboratorium diantaranya: Complete Blood Count, tes elektrolit,
glukosa darah, tes fungsi ginjal
2.7.Penatalakasanaan
Tatalaksana yang perlu dilakukan pada syncope yaitu pemeriksaan dan penanganan cepat terhadap airway (jalur napas), breathing (pernapasan), circulation (sirkulasi), dan status kesadaran. Pada syncope yang tidak
berhubungan dengan kelainan kardiovaskular, penanganannya dapat dilakukan dengan meletakan pasien dalam posisi berbaring. Pada posisi ini dapat memperbaiki venous return ke jantung dan kemudian dapat meningkatkan aliran darah otak. Jika pasien sudah tersadar, diharapkan untuk tidak terburu- buru mendudukan posisi pasien, karena dapat menyebabkan syncope yang berulang. Adapun terapi lainnya yang dibutuhkan jika pasien syncope tidak segera sadar yaitu akses intravena, administrasi oksigen, pembukaan jalan napas, pemberian glukosa, Pharmacologic circulatory support, dan Pharmacologic or mechanical restraints. (McPhee, 2010)
Penatalaksanaan sinkope menurut Kamadjaya, 2009 1. Tatalaksana kegawatdaruratan medis :
1) Pada penderita yang mengalami syncope perlu dimonitor kesadarannya secara berkala dengan melakukan komunikasi verbal dengan penderita.
Apabila penderita dapat merespon baik secara verbal maupun non- verbal berarti airway & breathing penderita baik.
2) Circulation dapat dinilai dengan memonitor nadi arteri radialis dan pengukuran tekanan darah. Tekanan darah sistolik, meskipun turun, pada umumnya masih berada di atas 70 mmHg. Sebaliknya, pada penderita yang mengalami syok tekanan darah dapat menurun secara drastis sampai di bawah 60 mmHg. Pada hipotensi berat semacam itu dapat terjadi hilangnya kesadaran dimana pnderita tidak memberikan respon dengan rangsang verbal. Hilangnya kesadaran dapat dipastikan dengan tidak adanya respon motorik terhadap rangsang nyeri, misalnya dengan cubitan, pada ekstremitas atas penderita.
3) Apabila terjadi penurunan atau kehilangan kesadaran yang disertai hipotensi maka segera lakukan posisi supine, dimana kepala dan tungkai diletakkan lebih tinggi daripada kepala.
4) Pada penderita yang hilang kesadarannya perlu dilakukan intervensi untuk membebaskan jalan nafas yaitu dengan chin lift dan head tilt yang bertujuan untuk mengangkat pangkal lidah ke anterior untuk membebaskan orofaring dan mengevaluasi fungsi pernafasan dengan
look-feel-listen. Diberikan oksigen tambahan dengan sarana face mask dengan tetap mempertahankan terbukanya jalan nafas.
2. Penanganan syncope sebenarnya cukup sederhana yaitu :
1) Menempatkan penderita pada posisi supine atau shock position. Kedua manufer ini akan memperbaiki venous return ke jantung dan selanjutnya meningkatkan cerebral blood flow. Selain intervensi tsb penderita dapat diberikan oksigen murni 100% melalui face mask dengan kecepatan aliran 6-8 liter per menit. Bila intervensi dapat dilakukan segeran maka biasanya kesadaran penderita akan kembali dalam waktu relatif cepat.
2) Setelah kesadaran pulih tetap pertahankan penderita pada posisi supine, jangan tergesa-gesa mendudukkan penderita pada posisi tegak karena hal ini dapat menyebabkan terulangnya kejadian syncope yang dapat berlangsung lebih berat dan membutuhkan waktu pemulihan lebih lama.
2.8. WOC
2.9.Konsep ASKEP Syncope 1. Pengkajian
1) Identitas
Mendapatkan data identitas pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, alamat, nomor registrasi, dan diagnosa medis.
2) Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama: Penurunan Kesadaran/ Syncope b. Riwayat penyakit sekarang: Syncope
c. Riwayat penyakit dahulu: pernah menderita anemia
d. Riwayat penyakit keluarga: mendapatkan data riwayat kesehatan keluarga pasien
3) Pola Kesehatan Fungsional
Hal-hal yang dapat dikaji pada gangguan oksigenasi adalah : a. Pola manajemen kesehatan-persepsi kesehatan
Bagaimana perilaku individu tersebut mengatasi masalah kesehatan adanya faktor risiko sehubungan dengan kesehatan yang berkaitan dengan oksigen.
b. Pola metabolik-nutrisi
Kebiasaan diet buruk seperti obesitas akan mempengaruhi oksigenasi karena ekspansi paru menjadi pendek. Klien yang kurang gizi, mengalami kelemahan otot pernafasan.
c. Pola eliminasi
Perubahan pola defekasi (darah pada feses, nyeri saat devekasi), perubahan berkemih (perubahan warna, jumlah, ferkuensi) d. Aktivitas-latihan
Adanya kelemahan atau keletihan, aktivitas yang mempengaruhi kebutuhan oksigenasi seseorang. Aktivitas berlebih dibutuhkan oksigen yang banyak. Orang yang biasa olahraga, memiliki peningkatan aktivitas metabolisme tubuh dan kebutuhan oksigen.
e. Pola istirahat-tidur
Adanya gangguan oksigenasi menyebabkan perubahan pola istirahat.
f. Pola persepsi-kognitif
Rasa kecap lidah berfungsi atau tidak, gambaran indera pasien terganggu atau tidak, penggunaaan alat bantu dalam penginderaan pasien.
g. Pola konsep diri-persepsi diri
Keadaan social yang mempengaruhi oksigenasi seseorang (pekerjaan, situasi keluarga, kelompok sosial), penilaian terhadap diri sendiri (gemuk/ kurus).
h. Pola hubungan dan peran
Kebiasaan berkumpul dengan orang-orang terdekat yang memiliki kebiasaan merokok sehingga mengganggu oksigenasi seseorang.
i. Pola reproduksi-seksual
Perilaku seksual setelah terjadi gangguan oksigenasi dikaji j. Pola toleransi koping-stress
Adanya stress yang memengaruhi status oksigenasi pasien.
k. Keyakinan dan nilai
Status ekonomi dan budaya yang mempengaruhi oksigenasi, adanya pantangan atau larangan minuman tertentu dalam agama pasien.
4) Pemeriksaan fisik : a. Head to toe
- Mata: Konjungtiva pucat (karena anemia), konjungtiva sianosis (karena hipoksemia), konjungtiva terdapat petechie ( karena emboli atau endokarditis)
- Mulut dan bibir: Membran mukosa sianosis, bernafas dengan mengerutkan mulut
- Hidung : Pernafasan dengan cuping hidung
- Dada: Retraksi otot bantu nafas, pergerakan tidak simetris antara dada kanan dan kiri, suara nafas tidak normal.
- Pola pernafasan: pernafasan normal (apneu), pernafasan cepat(tacypnea), pernafasan lambat (bradypnea)
b. System pernafasaan :
- Inpeksi : kembang kembis dada dan jalan nafasnya - Palpasi : simetris tidaknya dada saat paru ekspansi dan
pernafasaan tertinggal
- Perkusi : suara nafas ( sonor, hipersonor atau pekak) - Auskultasi ; suara abnormal (wheezing dan ronchi) c. System Kardiovaskuler :
- Inspeksi adakah perdarahan aktif atau pasif yang keluar dari daerah trauma
- Palpasi ; bagaimana mengenai kulit, suhu daerah akral - Suara detak jantung menjauh atau menurun dan adakah
denyut jantung paradok d. System neurologis
- Inpeksi ; gelisah atau tidak gelisah, adakah jejas di kepala - Palpasi ; kelumpuhan atau laterarisasi pada anggota gerak - Bagaimana tingkat kesadaran yang dialamu dengan
menggunakan Glasgow Coma Scale e. Pemeriksaan sekunder
1) Aktifitas Gejala :
- Kelemahan - Kelelahan
- Tidak dapat tidur - Pola hidup menetap - Jadwal olah raga tidak teratur Tanda :
- Takikardi
- Dispnea pada istirahat atau aaktifitas 2) Sirkulasi
Gejala : riwayat IMA sebelumnya, penyakit arteri koroner, masalah tekanan darah, diabetes mellitus, gagal nafas
Tanda :
- Tekanan darah
Dapat normal / naik / turun
Perubahan postural dicatat dari tidur sampai duduk atau berdiri
- Nadi
Dapat normal , penuh atau tidak kuat atau lemah / kuat kualitasnya dengan pengisian kapiler lambat, tidak teratus (disritmia)
- Bunyi jantung
Bunyi jantung ekstra : S3 atau S4 mungkin menunjukkan gagal jantung atau penurunan kontraktilits atau komplain ventrikel
- Murmur
Bila ada menunjukkan gagal katup atau disfungsi otot jantung
- Friksi ; dicurigai Perikarditis
- Irama jantung dapat teratur atau tidak teratur - Edema
Distensi vena juguler, edema dependent , perifer, edema umum,krekles mungkin ada dengan gagal jantung atau ventrikel
- Warna
Pucat atau sianosis, kuku datar , pada membran mukossa atau bibir.
3) Eliminasi
Tanda : normal, bunyi usus menurun.
4) Integritas ego
Gejala : menyangkal gejala penting atau adanya kondisi takut mati, perasaan ajal sudah dekat, marah pada penyakit atau perawatan, khawatir tentang keuangan , kerja , keluarga Tanda : menoleh, menyangkal, cemas, kurang kontak mata, gelisah, marah, perilaku menyerang, focus pada diri sendiri, koma nyeri
5) Makanan atau cairan
Gejala : mual, anoreksia, bersendawa, nyeri ulu hati atau terbakar
Tanda : penurunan turgor kulit, kulit kering, berkeringat, muntah, perubahan berat badan
6) Hygiene
Gejala atau tanda : kesulitan melakukan tugas perawatan 7) Neurosensori
Gejala : pusing, berdenyut selama tidur atau saat bangun (duduk atau istrahat )
Tanda : perubahan mental, kelemahan
8) Nyeri atau
ketidaknyamanan Gejala :
- Nyeri dada yang timbulnya mendadak (dapat atau tidak berhubungan dengan aktifitas ), tidak hilang dengan istirahat atau nitrogliserin (meskipun kebanyakan nyeri dalam dan viseral)
- Lokasi : Tipikal pada dada anterior, substernal , prekordial, dapat menyebar ke tangan, ranhang, wajah.
Tidak tertentu lokasinya seperti epigastrium, siku, rahang, abdomen, punggung, leher.
- Kualitas : “Crushing ”, menyempit, berat, menetap, tertekan, seperti dapat dilihat.
- Intensitas : Biasanya 10(pada skala 1 -10), mungkin pengalaman nyeri paling buruk yang pernah dialami.
Catatan : nyeri mungkin tidak ada pada pasien pasca operasi, diabetes mellitus , hipertensi, lansia.
9) Pernafasan
: a. Gejala :
- dispnea tanpa atau dengan kerja - dispnea nocturnal
- batuk dengan atau tanpa produksi sputum - riwayat merokok, penyakit pernafasan kronis.
b. Tanda :
- peningkatan frekuensi pernafasan - nafas sesak / kuat
- pucat, sianosis
- bunyi nafas ( bersih, krekles, mengi ), sputum 10) Interkasi social
Gejala : - Stress
- Kesulitan koping dengan stressor yang ada missal : penyakit, perawatan di RS
Tanda :
- Kesulitan istirahat dengan tenang
- Respon terlalu emosi ( marah terus-menerus, takut ) - Menarik diri
2. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan curah jantung b/d penurunan cardiac output
2. Gangguan perfusi jaringan serebral b/d penurunan aliran oksigen ke serebral
3. Gangguan perfusi jaringan b/d penurunan sirkulasi darah perifer;
penghentian aliran arteri-vena
3. Intervensi
1) Penurunan curah jantung b/d penurunan cardiac output Tujuan : aliran darah jantung adekuat
Kriteria hasil : perabaan nadi kuat, tekanan darah normal Intervensi:
1. Periksa ABC dan jika diperlukan bebaskan jalan nafas dan pijat jantung
Rasional: mengatasi kondisi gawat pasien lebih awal dapat memperbaiki prognosis.
2. Pantau frekuensi nadi, RR, TD secara teratur
Rasional: Tanda vital sebagai acuan kondisi sirkulasi pasien.
3. Kaji perubahan warna kulit terhadap sianosis dan pucat.
Rasional: Pucat menunjukkan adanya penurunan perfusi perifer terhadap tidak adekuatnya curah jantung. Sianosis terjadi sebagai akibat adanya obstruksi aliran darah pada ventrikel.
4. Pantau intake dan output setiap 24 jam.
Rasional: Ginjal berespon untuk menurunkan curah jantung dengan menahan produksi cairan dan natrium.
5. Batasi aktifitas secara adekuat.
Rasional: Istirahat memadai diperlukan untuk memperbaiki efisiensi kontraksi jantung dan menurunkan komsumsi O2 dan kerja berlebihan.
2) Gangguan perfusi jaringan serebral b.d penurunan aliran oksigen ke serebral.
Tujuan: kebutuhan darah, oksigen di otak terpenuhi, perfusi jaringan efektif.
Kriteria hasil: TTV stabil, pasien berkomunikasi dan berorientasi dengan baik.
Intervensi:
1. Pantau tanda-tanda vital
Rasional: Tanda vital merupakan salah satu indikator keadaan umum dan sirkulasi pasien
2. Posisikan pasien dg posisi syok kaki diangkat 45 derajat
Rasional: Membantu memperbaiki venous return ke jantung dan selanjutnya meningkat cerebral blood flow.
3. Pantau tingkat kesadaran
Rasional: Tingkat kesadaran seseorang juga dipengaruhi oleh perfusi oksigen ke otak
4. Berikan terapi O2 yang adekuat
Rasional: mencegah hipoksia otak lebih berat
3) Gangguan perfusi jaringan b/d penurunan sirkulasi darah perifer; penghentian aliran arteri-vena
Tujuan: pemenuhan oksigen dan darah pada jaringan terpenuhi.
Kriteria hasil: Tidak terdapat tanda sianosis dan hipoksia jaringan.
Intervensi:
1. Observasi adanya pucat, sianosis, belang, kulit dingin/lembab, catat kekuatan nadi perifer.
Rasional: Vasokonstriksi sistemik yang diakibatkan oleh penurunan curah jantung mungkin dibuktikan oleh penurunan perfusi kulit dan penurunan nadi.
2. Dorong latihan kaki aktif/pasif.
Rasional: Menurunkan stasis vena, meningkatkan aliran balik vena dan menurunkan resiko tromboplebitis.
3. Pantau pernafasan
Rasional: Pompa jantung yang gagal dapat mencetuskan distres pernafasan.
4. Analisa Data
No Analisa Data ETIOLOGI MASALAH
1 Ds:
Sebelum pingsan Ny.F mengatakan ke temannya bahwa dia merasa pusing berkunang kunang dan pandangan sekitar gelap serta
Penurunan cardiac output
Penurunan efektif vol.
darah yang bersikulasi
Penurunan tekanan darah
Penurunan Curah Jantung
berkeringat dingin.
Do:
Bradikardi, TD : 100/60 mmHg, Nadi : 65x/m, Suhu : 360C, Pernafasan : 24x/m, Warna kulit pucat
Gangguan suplai darah
2 Ds:
Sebelum pingsan Ny.F mengatakan ke temannya bahwa dia merasa pusing berkunang kunang dan pandangan sekitar gelap serta berkeringat dingin.
Do:
Penurunan
kesadaran/ pasien pingsan
Penurunan aliran darah ke otak
Suplai O2 menurun
Otak
Gangguan perfusi jaringan serebral
3 Ds:
Sebelum pingsan Ny.F mengatakan ke temannya bahwa dia merasa pusing berkunang kunang dan pandangan sekitar gelap serta berkeringat dingin.
Posisi Tubuh
Beban strees fisiologi
Penurunan suplai darah pada jaringan tubuh dan
otak
Penurunan aliran darah
Gangguan perfusi jaringan
Do:
Turgor kulit jelek , Akral teraba dingin, Pasien tampak pucat. Nadi : 65x/menit
pada daerah perifer dan sel otak