BAB I : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (SANKRI)
Upaya pembangunan administrasi negara yang pada hakekatnya merupakan penyempurnaan sistem dan proses dalam penyelenggaraan kebijakan negara, bertujuan untuk meningkatkan kapasitas administrasi negara, untuk mendukung kelancaran penyelenggaraan pemerintahan negara. Melalui pengkajian dan penelitian dilaksanakan pula pengembangan keilmuan administrasi negara disesuaikan dengan perkembangan lingkungan stratejik dan nilai-nilai yang terkandung dalam peraturan perundangan yang berlaku. Dinamika perubahan kebijakan negara yang termuat dalam berbagai bentuk dan tingkatan peraturan perundangan, akan berimplikasi pada sistem administrasi negara di Indonesia. Perubahan tersebut perlu terus dipantau dan didokumentasikan secara sistematis dan terintegrasi dalam sebuah dokumen kebijakan sebagai acuan bagi Penyelenggara Negara, baik di tingkat Pusat maupun Daerah, yang tugasnya berkaitan dengan penyelenggaraan dan pengembangan Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (SANKRI). Atas dasar tuntutan kebutuhan tersebut, Lembaga Administrasi Negara (LAN) menyusun makalah ini untuk melaksanakan salah satu
fungsinya membina dan mengembangkan SANKRI.
1.2 Ruang Lingkup Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (SANKRI) Dalam rangka penyelenggaraan dan pengembangan administrasi negara sebagai sistem yang dipraktekkan dalam penyelenggaraan negara, secara substantif tidak dapat mengesampingkan hal-hal yang bersifat konseptual tentang makna dan hakekat administrasi negara sebagai disiplin dan sistem yang dipraktekkan di manca negara dengan berbagai sudut pandang yang melahirkan paradigma tentang administrasi negara itu sendiri. Oleh sebab itu pada makalah ini disamping sarat akan deskripsi realita, juga terdapat sentuhan-sentuhan konseptual yang dipandang signifikan untuk memberikan justifikasi terhadap eksistensi sistem administrasi negara yang hidup dalam praktek penyelenggaraan negara. Secara konseptual, SANKRI yang diungkap dalam makalah ini identik dengan Sistem Penyelenggaraan Kebijakan Negara, karena berkenaan dengan kewenangan lembaga-lembaga negara dalam rangka mencapai tujuan bernegara.
Mengingat dalam realita lembaga eksekutif (Pemerintah) lebih banyak berperan dalam pelaksanaan kegiatan pemerintahan, maka secara silih berganti SANKRI disebut juga sebagai Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara, yang dalam praktek tidak dapat mengesampingkan tata hubungannya dengan kewenangan Lembaga Negara sebagaimana
dimaksud UUD 1945.
Dalam rangka penerapan konsep sistem administrasi negara dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan negara, pada makalah ini dirumuskan pengertian SANKRI dan unsur-unsur pokoknya termasuk interaksinya dengan faktor-faktor lingkungan strategis. Deskripsi ini dimaksudkan untuk memperjelas posisi dan peran SANKRI sebagai dasar pijakan dalam menguraikan berbagai landasan penyelenggaraan SANKRI, yang meliputi landasan idiil Pancasila, landasan konstitusional UUD 1945, dan sebagai landasan operasional pengembangannya adalah Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) yang ditetapkan dalam UU No.25 Tahun 2004 beserta peraturan pelaksanaannya. Cakupan deskripsi substantif mengenai SANKRI dalam makalah ini beranjak dari konsep administrasi negara sebagai administrasi mengenai negara, yang mempunyai dua unsur pokok, yaitu organisasi dan manajemen. Atas dasar itu, deskripsi substantifmakalah ini meliputi: pertama organisasi penyelenggara negara yang meliputi tatanan organisasi lembaga Negara dan organisasi pemerintahan, baik di tingkat pusat maupun daerah; dan kedua manajemen pemerintahan (dalam konteks penyelenggaraan kekuasaan pemerintahan negara berdasarkan UUD 1945). Unsur pokok terakhir ini dirinci dalam deskripsi dimensi-dimensi Manajemen Kebijakan Publik, Manajemen Pegawai Negeri Sipil, Manajemen Keuangan Negara, Manajemen Pelayanan, dan Akuntabilitas. Pada bagian terakhir dikemukakan upaya untuk memproyeksikan arah pengembangan SANKRI dalam kerangka pembangunan penyelenggaraan negara, yang meliputi deskripsi Kebijakan Penyelenggaraan Negara, Rencana Program Penyelenggaraan Negara berdasarkan SPPN dan Rencana Pembangunan Nasional Jangka Menengah (RPJM) Nasional Tahun 2010-2014 sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 serta dimensi-dimensi pengembangan SANKRI tetap berdasarkan dan mengacu pada unsur-unsur pokok sebagaimana diuraikan di atas.
I.3 Maksud dan Tujuan Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (SANKRI)
Buku ini merupakan review terhadap Buku III Landasan dan Pedoman Pokok
Penyelenggaraan dan Pengembangan Sistem Administrasi Negara, untuk disesuaikan dengan perubahan kebijakan negara yang tercantum dalam berbagai peraturan perundangan yang berlaku, dan hasil studi empirik berkenaan dengan penyelenggaraan dan pengembangan SANKRI. Dengan demikian, setiap dinamika kebijakan dan pelaksanaannya di lapanganmengenai hal-hal yang berkenaan dengan pembangunan sistem administrasi negara dapat terdokumentasi secara memadai.
BAB II : KAJIAN TEORITIK 2.1 Sankri Dalam Arti Luas
SANKRI Jilid I, administrasi negara diartikan secara meluas yang mencakup aktifitas seluruh Lembaga Negara, baik lembaga legislatif, eksekutif, yudikatif, moneter, auditif dan sebagainya . Pandangan ini dapat dipahami, berdasarkan dua alasan:
Dikotomi antara politik dan administrasi negara ternyata tidak terbukti benar.
Keterlibatan birokrasi sebagai penyelenggara pemerintahan ternyata tidak hanya dalam pelaksanaan kebijakan negara/publik, tetapi juga dalam proses pembuatan kebijakan tersebut.
Pelaksanaan kebijakan negara/publik dengan sendirinya mencakup pelaksanaan kebijakan negara/publik yang paling mendasar sebagaimana dirumuskan dalam konstitusi. Pelaksanaan kebijakan dasar tersebut, melibatkan seluruh Lembaga Negara dalam pembuatan berbagai peraturan perundang-undangan sebagai format hukum dari kebijakan negara/publik, dan melibatkan lembaga yudikatif, eksekutif serta Lembaga Negara lainnya berkaitan dengan evaluasi implementasi peraturan tersebut.
2.2 Unsur-Unsur Sankri
SANKRI sebagai sistem penyelenggaraan negara dan/atau sistem penyelenggaraan pemerintahan negara, sebagaimana halnya suatu sistem terdiri dari subsistem-subsistem atau unsur-unsurnya. Seperti sistem lainnya, administrasi negara sebagai sistem, pada pokoknya terdiri dari unsur nilai, struktur dan proses. Perbedaan SANKRI sebagai sistem
penyelenggaraan negara dan SANKRI sebagai sistem penyelenggaraan pemerintahan negara ialah dalam hal unsur struktur dan prosesnya, sedangkan unsur nilainya sama.
1. Unsur Nilai
Unsur nilai, dapat pula disebut sistem nilai, meliputi landasan atau dasar negara yaitu Pancasila, cita-cita negara (nasional) dan tujuan negara (nasional), kesemuanya telah dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945, yang tetap tidak berubah walaupun UUD 1945 telah diadakan perubahan. Berbagai unsur nilai dimaksud diantaranya adalah :
Pancasila, sebagai landasan atau dasar negara mengandung 5 (lima) prinsip:
Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (alinea ke 4 Pembukaan UUD 1945). Pancasila juga merupakan falsafah hidup atau pandangan hidup yang mempersatukan bangsa, dan memberi petunjuk dalam upaya mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin dalam masyarakat Indonesia yang beraneka ragam;
Cita-cita negara (nasional), yaitu Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur (alinea ke 3). Cita-cita negara/nasional ini disebut juga sebagai visi ideal Indonesia;
Tujuan negara (nasional), yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial (alinea ke 4). Jika cita-cita nasional merupakan visi ideal, maka tujuan negara/nasional dapat juga disebut sebagai misi ideal.
2. Unsur Struktur
Unsur struktur merupakan satuan kelembagaan yang diperlukan dalam kehidupan Negara Republik Indonesia yang demokratis dan konstitusional berupa tatanan kelembagaan
penyelenggaraan negara dan pemerintahan negara dalam rangka mengemban misi dan mewujudkan visi bangsa, yang merefleksikan peran dan posisi aturan hukum, kewajiban, kewenangan dan tanggung jawab masing-masing.
Sesuai dengan pengertian sistem penyelenggaraan negara dan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara sebagaimana telah disebutkan terdahulu, maka unsur atau subsistem tersebut adalah sebagai berikut:
Struktur penyelenggaraan negara, meliputi seluruh Aparatur Negara, baik Aparatur Kenegaraan, Aparatur Pemerintahan maupun Aparatur Perekonomian Negara, beserta seluruh organisasi politik, kemasyarakatan, dunia usaha, yang berkembang sesuai dengan kehidupan dan kemajuan bangsa.
Struktur penyelenggaraan pemerintahan negara, mencakup Presiden beserta keseluruhan aparatur pemerintahan dan aparatur perekonomian negara baik di tingkat Pusat maupun Daerah.
Dalam penyelenggaraan negara terdapat hubungan antara Aparatur Kenegaraan di luar lembaga eksekutif, yang turut menjamin terlaksananya penyelenggaraan pemerintahan negara sesuai dengan prinsip-prinsip good governance. Mengacu pada UUD 1945, Aparatur Kenegaraan dimaksud adalah:
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang wewenang utamanya adalah melaksanakan fungsi konstitutif;
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dalam pelaksanaan fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan;
Mahkamah Agung (MA) dan Mahkamah Konstitusi (MK) dalam pelaksanaan fungsi yudisialnya;
Badan Pemerikasa Keuangan (BEPEKA) dalam pelaksanaan fungsi auditifnya;
Bank Indonesia (BI) sebagai Bank Sentral selaku pemegang otoritas di bidang moneter.
3. Unsur Proses
Unsur proses sebagai unsur pokok SANKRI dapat dirinci berdasarkan UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan lain sebagai pelaksanaan UUD tersebut. Penyelenggaraan negara dan penyelenggaraan pemerintahan negara dalam pengertian proses secara garis besar dapat dikemukakan sebagai berikut :
a. Proses Penyelenggaraan Negara
Penyelenggaraan negara sebagai proses yang digambarkan dengan peran pelaku (lembaga)nya dapat diberikan contoh sebagai berikut:
MPR sebagai Lembaga Negara yang terdiri dari atas Anggota DPR dan DPD, berwenang mengubah dan menetapkan UUD; melantik Presiden dan/atau Wakil Presiden; dan memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya menurut mekanisme tertentu berdasarkan UUD;
Penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) dilakukan untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden, serta wakil-wakil rakyat di lembaga-lembaga perwakilan, yaitu DPR, DPD, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi dan Kabupaten/Kota;
DPR bersama Presiden menyusun Undang-Undang dalam rangka penyelenggaraan negara yang menjabarkan nilai-nilai dalam UUD 1945. Dalam bidang legislasi tertentu, perlu melibatkan dan memperhatikan pertimbangan DPD sebagai bahan pertimbangan penyusunan Undang-Undang. Khusus untuk penyusunan Undang-Undang tentang APBN, inisiatifnya diajukan oleh Presiden, yang dalam pembahasannya melibatkan DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD;
MK menyelenggarakan kegiatannya dalam rangka mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-Undang yang dibentuk oleh DPR bersama dengan Presiden terhadap UUD;
MA menguji peraturan perundang-undangan di bawah Undang-Undang yang dibentuk oleh Pemerintah terhadap Undang-Undang;
BEPEKA memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga negara;
Bank Indonesia menyelenggarakan kegiatannya untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah melalui pelaksanaan kebijakan moneter secara berkelanjutan, konsisten, transparan, dan harus mempertimbangkan kebijakan umum Pemerintah di bidang perekonomian yang tercantum dalam berbagai produk peraturan perundang- undangan;
b. Proses Penyelenggaraan Pemerintahan Negara
Penyelenggaraan pemerintahan negara sebagai proses yang digambarkan dengan peran pelaku (lembaga)nya dapat diberikan contoh sebagai berikut:
Presiden secara formal ataupun tidak formal, memberikan arahan terutama kepada para Menteri sebagai pembantu-pembantunya;
Sebagai acuan penyelenggaraan pembangunan nasional disusun SPPN yang ditetapkan dalam UU No.25 Tahun 2004;
Penyelenggaraan pemerintahan negara berlangsung dengan arahan Presiden, SPPN serta berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku, dilaksanakan oleh para Menteri, yang operasionalisasinya dilaksanakan oleh Aparatur Pemerintahan dan Aparatur Perekonomian Negara, baik di tingkat Pusat maupun Daerah, beserta masyarakat;
Dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan negara diadakan hubungan kerja dan koordinasi antara dan antar Aparatur Pemerintah Pusat dan Aparatur Pemerintah Daerah; Penyelenggaraan pemerintahan daerah merupakan bagian yang integral dari penyelenggaraan pemerintahan negara.
Presiden dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan mempunyai hubungan kerja dengan Lembaga Negara lainnya sesuai ketentuan peraturan perundangan yang berlaku;
Dalam bidang legislasi, Presiden dapat mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dan terlibat dalam pembahasannya dengan DPR;
DPR, DPD, BEPEKA, Bank Indonesia, MA dan MK melakukan pengawasan sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
BAB 3:PERMASALAHAN dan PEMBAHASAN A. PERMASALAHAN
1. Fungsi Dan peranan hukum adm. Negara dalam pemberantasan korupsi 2. Strategi pemberantasan korupsi dalam perspektif hukum administrasi Negara 3. Pemberantasan korupsi melalui peran hukum administrasi Negara dan good governance
B. PEMBAHASAN
1. FUNGSI DAN PERANAN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA DALAM PEMBERANTASAN KORUPSI
Dalam UUD 1945 ditegaskan bahwa Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (rechtstaat), tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (Machstaat). Ini berarti bahwa Republik Indonesia adalah negara hukum yang demokratis berdasarkan pancasila dan UUD 1945, menjunjung tinggi hak asasi manusia , dan menjamin semua warga bersamaan kedudukannya didalam hukum dan pemerintah wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.
Hukum menetapkan apa yang harus dilakukan dan atau apa yang boleh dilakukan serta yang dilarang. Sasaran hukum yang hendak dituju bukan saja orang yang nyata-nyata berbuat melawan hukum, melainkan juga perbuatan hukum yang mungkin akan terjadi, dan kepala alat perlengkapan negara untuk bertindak menurut hukum. Sistem bekerjanya hukum yang demikian itu merupakan salah satu bentuk penegakan hukum.
Proses pembangunan dapat menimbulkan kemajuan dalam kehidupan masyarakat, selain itu dapat juga mengakibatkan perubahan kondisi sosial masyarakat yang memiliki dampak sosial negatif, terutama menyangkut masalah peningkatan tindak pidana yang meresahkan masyarakat. Salah satu tindak pidana yang dikatakan cukup fenomenal adalah masalah korupsi. Tindak pidana ini tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat.
Diberbagai belahan dunia, korupsi selalu mendapatkan perhatian yang lebih dibandingkan dengantindak pidana lainnya. Fenomena ini dapat dimaklumi mengingat dampak negatif yang ditimbulkan oleh tindak pdana ini. Dampak yang ditimbulkan dapat menyentuh berbagai bidang kehidupan. Korupsi merupakan masalah serius, tindak pidana ini dapat membahayakan stabilitas dan keamanan masyarakat, membahayakan pembangunan sosial ekonomi, dan juga politik, serta dapat merusak nilai-nilai demokrasi dan moralitas karena lambat laun perbuatan ini seakan menjadi sebuah budaya. Korupsi merupakan ancaman terhadap cita-cita menuju masyarakat adil dan makmur.
Selama ini korupsi lebih banyak dimaklumi oleh berbagai pihak daripada memberantasnya, padahal tindak pidana korupsi adalah salah satu jenis kejahatan yang dapat menyentuh berbagai bidang kehidupan. Korupsi merupakanmasalah serius, tindak pidana ini dapat membahayakan stabilitas dan keamanan masalah serius, tindak pidana ini dapat membahayakan pembangunan sosial ekonomi, dan juga politik, serta dapat merusak nilai- nilai demokrasi dan moralitas karena lambat laun perbuatan ini seakan menjadi sebuah budaya. Korupsi merupakan ancaman terhadap cita-cita menuju masyarakat adil dan makmur.
Selama ini korupsi lebih banyak dimaklumi oleh berbagai pihak daripada memberantasnya, padahal tindak pidana korupsi adalah salah satu jenis kejahatan yang dapat menyentuh beragai kepentingan yang menyangkut hak asasi, ideologi negara, perekonomian, keuangan negara, moral bangsa,dan sebagainya, yang merupakan perilaku jahat yang cenderung sulit untuk ditanggulangi. Sulitnya penanggulangan tindak pidana korupsi atau minimnya pidana yang ditanggung oleh terdakwa yang tidak sebanding dengan apa yang dilakukanya. Hal ini sangat merugikan negara dan menghambat pembangunan bangsa. Jika hal ini terjadi secara terus-menerus dalam waktu yang lama, dapat meniadakan rasa keadilan dan rasa kepercayaan atas hukum dan peraturan perundang-undangan oleh warga negara.
Perasaan tersebut memang telah terlihat semakin lama semakin menipis dan dapat dibuktikan dari banyaknya masyarakat yang ingin melakukan aksi main hakim sendiri kepada pelaku tindak pidana didalam kehidupan masyarakat dengan mengatasnamakan keadilan yang tidak
dapat dicapai dari hukum, pearturan perundang-undangan, dan juga para penegak hukum di Indonesia.
Kasus-kasus tindak pidana korupsi sulit diungkapkan karena para pelakunya menggunakan peralatan canggih serta biasanya dilakukan oleh lebih dari satu orang dalam keadaan yang terselubung dan terorganisasi. Oleh karena itu, kejahatan ini sering disebut while collar crime atau kejahatan kerah putih.
Menyadari kompleknya permasalahan korupsi ditengah-tengah krisis multidimensional serta ancaman nyata yang pasti akan terjadi, yaitu dampak dari kejahatan ini. Maka tindak pidana korupsi dapat dikategorikan sebagai permasalahan nasional yang harus dihadapi secara sungguh-sungguh melalui keseimbangan langkah-langkah yang tegas dan jelas dengan melibatkan semua potensi yang ada dalam masyarakat khususnya pemerintah dan aparat penegak hukum.
Korupsi di Indonesia terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun . tindak pidana korupsi sudah meluas kedalam masyarakat, baik dari jumlah kasus yang terjadi dan jumlah kerugian negara, maupun dari segi kualitas tindak pidana yang dilakukan semakin sitematis serta lingkupnya yang memasuki seluruh aspek kehidupan masyarakat.
Kegagalan elit politik Indonesia melakukan upaya serius memberantas korupsi jelas akan membahayakan demokrasi. Rakyat akan menyalahkan demokrasi atas kesulitan yang dihadapinya. Padahal, kesulitan itu disebabkan oleh korupsi.
Korupsi di Negara Indonesia sudah dalam tingkat kejahatan korupsi politik. Kondisi Indonesia yang terserang kanker politik dan ekonomi sudah dalam stadium kritis. Kanker ganas korupsi terus menggerogoti saraf vital dalam tubuh negara Indonesia, sehingga terjadi krisis institusional. Korupsi politik dilakukan oleh orang atau institusi yang memiliki kekuasaan politik, atau oleh konglomerat yang melakukan hubungan transaksional kolutif dengan pemegang kekuasaan. Dengan demikian, praktik kejahatan luar biasa berupa kejahatan kekuasaan ini berlangsung secara sistematis.
Diberlakukannya Undang-Undang Korupsi dimaksudkan untuk menanggulangi dan memberantas korupsi. Politik kriminal merupakan strategi penanggulangan korupsi yang melekat pada Undang-Undang Korupsi. Mengapa dimensi politik krimnal tidak berfungsi, hal ini terkait dengan sistem penegakan hukum di negara Indonesia yang tidak egaliter. Sistem penegakan hukum yang berlaku dapat menempatkan koruptor tingkat tinggi diatas hukum.
Sistem penegakan hukum yang tidak kondusif bagi iklim demokrasi ini diperparah dengan
adanya lembaga pengampunan bagi konglomerat korupsi hanya dengan pertimbangan selera, bukan dengan pertimbangan hukum.
Telaah terhadap sebab-sebab yang mendorong seseorang untuk melakukan korupsi akan memberi dasar buat menemukan alternatif-alternatif pemecahan masalah korupsi. Sesuai dengan argumentasi-argumentasi yang telah diuraikan, upaya-upaya untuk mengatasi persoalan korupsi dapat ditinjau dari struktur atau sistem sosial, dari segi yuridis, maupun segi etika atau akhlak manusia. Satu hal yang telah jelas ialah bahwa korupsi adalah tingkah laku pejabat yang menyimpanng dari norma-norma yang sudah diterima oleh masyarakat dan digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi. Sementara itu korupsi juga menjadi fenomena yang tak terelakkan dalam setiap sistem pemerintahan. Tidak ada satupun sistem sosial yang benar-benar steril dari korupsi karena akan selalu ada individu-individu yang senang memilih jalan pintas untuk kepentingan diri sendiri meskipunmereka mengetahui dengan kesadaran penuh bahwa tindakannya tak dapat dibenarkan secara moral. Oleh sebab itu yang diperlukan adalah kewaspadaan yang terus menerus akan bahaya korupsi serta sikap- sikap tanpa kompromi terhadap bibit-bibit korupsi. Ini penting karena setiap bentuk korupsi akan memiliki potensi untuk mengakibatkan efek metastis sehingga menjalar secara cepat menjadi skandal yang sangat merugikan negara.
Oleh karena itu, sikap konsisten merupakan model paling utama untuk melawan korupsi.
Setiap unsur masyarakat dan pengelola negara harus senantiasa memiliki kepedulian yang besar terhadap isu-isu korupsi dan melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan setiap kali muncul gejala korupsi, dimanapun ia berada. Gejala korupsi tidak boleh didiamkan saja kalau tidak, ia akan merembet secara ganas dan untuk menanggulanginya perlu energi lebih besar.
2. STRATEGI PEMBERANTASAN KORUPSI DALAM PERSPEKTIF HUKUM ADMINISTRASI NEGARA
Strategi pemberantasan korupsi dalamperspektif hukum administrasi negarameliputi beberapa bidang perubahan, yaknisebagai berikut:
1. Kepemimpinan atau Pemerintahan yang Baik
Bagi legislatif yang terpilih adalah pilar utama sistem integritas nasional yang berlandaskan tanggung gugat demokrasi.Tugasnya dalam bahasasederhana, mewujudkan kedaulatan rakyat melalui wakil-wakil yang dipilih untuk kepentingan publik, memastikan bahwa tindakan eksekutif dapat dipertanggungjawabkan. Sama halnya pemerintah mendapat keabsahan setelah mendapatkan mandat dari rakyat. Legislatif sebagai badan pengawas, pengatur, dan wakil. Legislatif atau parlemen modern adalah pusat perjuangan untuk mewujudkan danmemelihara tata kelola pemerintahan yang baik untuk memberantas korupsi.
Begitu pula dengan eksekutif sebagai pelaksana yang juga merupakan wakil rakyat harus menjalankan pemerintahan yang sebaik-baiknya.
2. Program Publik
Perubahan akan program-program publik akan memperkecil insentif untuk memberi suap dan memperkecil jumlah transaksi dan memperbesar peluang bagi warga masyarakat untuk mendapatkan pelayanan publik. Reformasi ini misalnya, menghapus program-program korupsi yang tidak mempunyai alasan kuat dari sisi kepentingan masyarakat untuk diteruskan.
Banyak program diadakan semata-mata karena membawa keuntungan pribadi bagi para pejabat yang mengendalikannya, atau menyederhanakan program dan prosedur agar lebih efisien, meniadakan “penjaga gawang” yang melakukan pungutan liar, menyederhanakan prosedur untuk mendapat surat izin dari pemerintah. Ini dapat memperkecil peluang bagi pegawai negeri untuk dengan sengaja memperlambat kerja dan memperkecil wewenang mengambil keputusan sendiri, yang merupakan tanah subur bagi perilaku korupsi. Apabila wewenang memang harus dipertahankan, maka pejabat bersangkutan harus dibekali pedoman yang jelas mengenai tata cara menjalankan tugas. Swastanisasi perusahaan negara juga dapat mengurangi peluang melakukan korupsi dalam lingkungan birokrasi pemerintah (tetapi proses menjual itu sendiri harus terbuka, untuk mencegah jangan sampai dijangkiti korupsi, dan monopoli di sektor swasta yang mungkin timbul harus dikendalikan dengan benar
untuk mencegah penyalahgunaan monopoli itu). “Kekuasaan monopoli” para birokrat dapat diperkecil dengan cara menciptakan sumber-sumber persediaan yang saling bersaing,
memperbolehkan warga masyarakat mengambil surat izin mengemudi di kantor polisi lalu lintas mana saja, atau memperbolehkan pengusaha memperoleh surat izin dari pejabat mana saja atau kantor mana saja yang diberi wewenang untuk memberi izin. Sebaliknya, dapat pula bahwa polisi diberi wewenang yang tidak tumpang tindih sehingga tidak ada salah seorang anggotanya pun yang dapat memberi jaminan pada pelanggar hukum bahwa dia tidak akan ditahan.
3. Perbaikan Organisasi Pemerintah
Di samping mengadakan perubahan pada program-program spesifik, perhatian diperlukan untuk mencegah korupsi melalui perubahan pada susunan organisasipemerintah. Untuk ini perlu perubahan pada cara pemerintah menjalankan tugasnya sehari-hari. Cara mengadakanperubahan ini, yakni dengan memberikan gaji yang cukup untuk hidup pada pegawainegeri dan politisi sehingga karir dalam pemerintahan menjadi pilihan yang cukup baik bagi orang-orang yang memenuhisyarat.
Dengan cara menghilangkan kesanpemerintah angker dan pemerintah itulahan pribadi, menyebarkan informasi kepada warga masyarakat mengenai hakmereka untuk mendapat layanan dari pemerintah, menerbitkan buku peganganbagi pegawai negeri yang dapat dengan mudah diperoleh dan dipelajari oleh wargamasyarakat dan kontraktor yangberhubungan dengan lembaga pemerintahbersangkutan, dan menghapuskan kontakempat mata dengan cara memasukkan unsur acak (misalnya, rotasi anggota stafdari waktu ke waktu) sehingga wargamasyarakatyang berkepentingan dengan mereka tidak dapatlagi mengetahui lebihdahulu dengan pejabat mana dia harusberurusan.
4. Penegakan Hukum
Upaya memberantas korupsi melalui kodifikasi hukum, pertama-tama terlihatdari keluarnya Peraturan Penguasa MiliterNo. Prt/PM/03/1957, No. Prt/ PM/06/1957, dan No.
Prt/PM/O11/1957. Peraturan-peraturan ini berusaha memberi batasankorupsi dalam istilah hukum sekaligusmemperbaiki kualitas hukum sebagaipengatur interaksi antar manusia.
Korupsidiberi batasan sebagai “Perbuatan-perbuatan yang merugikan keuangan danperekonomian negara”. Di sini dibedakanantara “perbuatan korupsi pidana”
dan“perbuatan korupsi lainnya”. Kecuali itu,terdapat pula peraturan No.
Prt/PEPERPU/013/1958 yang mengangkatmasalah adanya kesulitan untukmembuktikan terlebih dahulu bahwaterdakwa
telah melakukan suatu kejahatandan pelanggaran.Pada tahun 1960 dikeluarkan peraturanbaru mengenai korupsi, yaitu PeraturanPemerintah Pengganti Undang-UndangNomor 24 (PRP)
Tahun 1960 tentangPengusutan, Penuntutan, dan PemeriksaanTindak Pidana Korupsi.
Korupsi dirumuskansebagai delik pidana bukan hanya denganpernyataan-
pernyataan yang abstrak moralistik. Muncul pengertian-pengertianbaru mengenai penyuapan aktif,pembuktian tindakan korupsi, di samping ketentuan-ketentuan mengenai hukum acaranya memperkuat kedudukannyaperaturan ini kemudian diubah menjadi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1961.Keputusan Nomor 228 Tahun 1968,Presiden mengambil inisiatif untukmembentuk Tim Pemberantasan Korupsi(TPA) yang diberi tugas untuk membantu pemerintah dalam memberantas perbuatankorupsi secepat-cepatnya dan setertib-tertibnya.
Tim ini pun tidak memuaskandalam mencegah banyaknya korupsi. Bahkan pernah terjadi tim ini kelirumenafsirkan mis-managementsebagaikorupsi.Lalu pada tahun 1970, Presiden mengeluarkan dua buah keputusanpresiden yang tertuang dalam KeputusanPresiden Nomor 13 Tahun 1970 untuk membentuk Komisi 4. Anggota-anggota Komisi4 adalah Wilopo Kasimo, Prof. Ir.Johannes, dan Anwar Tjokroaminoto. Suara-suara masyarakat yang menuntut penindakan tegas terhadap para koruptorbisa diredakan, meskipun hukum positifyang mengaturnya tetap belum terwujud. Kemudian dikeluarkan Undang- UndangNomor 3 Tahun 1971 tentangPemberantasan Tindak Pidana Korupsi yangmerupakan usaha merumuskan delik korupsi yang cukup lengkap dimiliki oleh para penegak hukum di Indonesia. Di dalamundang-undang ini, perumusan delikkorupsi dibuat lebih jelas dan dapat mencakup sebagian besar bentuk-bentukkorupsi yang ada, prosedur pemeriksaandisederhanakan, dan proses pembuktianmenjadi lebih mudah.Kemudian Undang- Undang Nomor 3 Tahun 1971 diubah dengan Undang Undang Nomor 31 Tahun1999 tentang Pemberantasan TindakPidana Korupsi, yang kemudian diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, terlebih dengan adanya sistempembuktian terbalik, yang akan memudahkan proses pembuktian perkarakorupsi di pengadilan.Selain itu dikeluarkan juga Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentangPenyelenggaraan Negara yang Bersih danBebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Dengan dikeluarkannya undang-undang ini,diharapkan penyelenggara negara mampumenjalankan fungsi dan tugas-tugasnyasecara sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.
Menegakkan hukummemang penting, tetapi strategi yanghanya berfokus pada penegakan hukum hampir pasti akan gagal dengan kemungkinan besar tidak akan dapatmenciptakan lingkungan etika yangmenolak perilaku korupsi, oleh karena itusangat diperlukan peran serta masyarakatdalam pemberantasan korupsi di sektorpublik.
5. Kesadaran Masyarakat
Hal yang tak kalahpentingnya ialahkeberanian dan tekad seluruh aparatur negara dan masyarakat untuk melawankorupsi. Segala macam sistem dan konsepsitidak akan terlaksana apabila para pelaksananya sendiri kurang berani untukmengungkap korupsi yang jelas-jelas terdapat di depan hidungnya. Masih banyakjaksa yang takut untuk melakukan tuntutan karena korupsi melibatkan orang-orang penting dan mempunyai kekuasaan.Keberanian harus ditumbuhkan bersama-sama meningkatnya kesadaran masyarakatakan hukum.Di dalam budaya danperilaku,secara psikologis kita mengenal budayamalu(shame culture)dan budaya salah(guilt).Budaya malu adalah pola perilakuyang menunjukkan “kehilangan muka”
atauperasaan jengah apabila seseorang melakukan kesalahan di hadapan oranglain.
Sementaraitu, budaya salah dapatdilihat dari apa yang dirasakan dalam batinseseorang.
Dengan demikian, budaya maluhanya menimbulkan rasa bersalah jikaseseorang melakukan kejahatan dandiketahui oleh pihak lain, entah itu teman,atasan atau pengawas keuangan tetapibudaya salah tampak dari rasa salah jikamelakukan penyimpangan moral meskipuntidak ketahuan orang lain.
6.Pembentukan Lembaga PencegahKorupsi
Negara yang sungguh-sungguh berupaya memberantas korupsi perlu mendirikanlembaga baru atau memperkuat lembagayang ada dan dapat menjalankan fungsi-fungsi spesifik dalam tugas-tugas upayaantikorupsi. Meski banyak model lembagatersedia, tetapi apa pun model yangdigunakan, lembaga itu harus dilengkapi dengan sumber daya manusia yang cukupdan dana yang cukup pula. Kalau tidak, daftar panjang lembaga antikorupsi yangtidak efektif akan bertambah panjang. Lembaga yang dapat dicontoh antara lain Komisi Independen Anti Korupsi sepertiyang ada di Hongkong, yang memilikiwewenang luas untuk menyelidik danmenyeret tertuduh ke pengadilan dan untuk mendidik masyarakat. Komisisemacam itu harus benar-benar independen dari penguasa negara tetapitunduk pada hukum, karena kalau tidak akan cenderung menjadi lembaga penindaspula.Pilihan lain adalah memperkuatkantor Auditor Negara dan kantorOmbudsman,sebuah lembaga yang dapatmembantu memperbaiki kinerja pejabatpemerintah dan bersamaan dengan itu dapat memberikan saran bagi wargamasyarakat.Pejabat kantor itu harusdiangkat dengan cara yang memastikanbahwa kantor itu independen danprofesional dan laporan dari kantor ini harus disebarluaskan dalam masyarakat,dan pemerintah harus melaksanakanrekomendasinya. KantorOmbudsmansudah didirikan di berbagai negara danmembuka kesempatan untuk membanguntanggung gugat administrasi pemerintahan,sementara sistem peradilan menyesuaikandiri pada perannya yang baru ataumemperkecil inefisiensi dan korupsi yang menghambat melakukan
tugasnya.Mendirikan Kantor Kontraktor Jenderal akan membuka peluang bagi pengawasanindependen atas kegiatan kontrak mengontrak yang dilakukan pemerintahdan kinerjanya di bidang ini.Selain hal-hal tersebut, pers juga berperan dalam upaya melakukan pemberantasan korupsi. Kegiatan-kegiatanpers mesti digalakkan tanpa sikap yangberlebihan dari pihak pemerintah. Persyang diperlukan adalah pers yang mampu mewakili aspirasi masyarakat, menemukan berbagai bentuk penyimpangan administratif, mampu menjadi sarana komunikasi timbal balik antara rakyat dan pemerintah. Pers hendaknya bukan hanya menjadi corong bagi pernyataan-pernyataan pejabat tetapi juga dapat menjadi alat kontrol bagi adanya penyelewengan-penyelewengan program pembangunan karena pengawasan pembangunan tidak mungkin sepenuhnya diserahkan kepada satuan-satuan pengawas struktural maupun fungsional.
3. PEMBERANTASAN KORUPSI MELALUI PERAN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA DAN GOOD GOVERNANCE.
Dalam melaksanakan penyelenggaraan kekuasaan pemerintah yang baik, sebenarnya sudah ada sejak zaman Plato, jika dilihat dari aspek historis maka di dalamnya terdapat dua pendekatan ( secara personal dan secara sistem ).Pendekatan secara personal telah dimulai pada masa Plato. Menurutnya, penyelenggaraan kekuasaan yang ideal dilakukan secara paternalistik, Pada bagian lain, Plato mengusulkan agar negara menjadi baik, harus dipimpin oleh seorang filosof yang arif bijaksana, menghargai kesusilaan, dan berpengetahuan tinggi.
Dan pendekatan yang ke dua yakni pendekatan secara sistem, disini Plato sendiri merubah gagasannya yang semula mengidealkan pemerintah itu dijalankan oleh raja-filosof menjadi pemerintahan yang dikendalikan oleh hukum. Karena menurut Plato, penyelenggaraan negara yang baik ialah yang didasarkan pada pengaturan hukum yang baik.
Namun dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah berbagai bidang kehidupan dan pemerintahan ke arah yang dicita-citakan. Akibat kemajuan tersebut, globalisasi telah melanda di berbagai penjuru dunia, yang membawa implikasi pada pemilihan dan praktek penyelenggaraan pemerintahan, yang pada akhirnya menimbulkan pergeseran pada sejumlah paradigma dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Pertama, terjadinya perubahan paradigma dari government ke governance, dan good governance. Kedua, terjadinya pergeseran paradigma tentang peran pemerintah dari rowing the boat ke steering the boat. Dan pergeseran peran administrasi negara dari service provider menjadi service enabler. Ketiga, perubahan paradigma birokrasi dari weberian paradigm of bureaucracy, yang sangat hirarkhis dan rules driven, menjadi flat organization dan mission
driven.
Dalam era globalisasi juga telah memudarkan batas-batas yang jelas antara hukum publik dan hukum privat. Sementara itu terjadi perubahan teori Hukum Administrasi Negara dari red light theory menjadi green light theory dan kearah reinvented theory. Dengan demikian perlu dilakukan perubahan-perubahan dan penyesuaian-penyesuaian kebijakan di berbagai bidang Pemerintahan, dalam mengantisipasi pergeseran-pergeseranparadigma tersebut di atas, untuk menghadapi era globalisasi yang melanda berbagai penjuru dunia. Sehingga dalam penyelenggaraan kekuasaan pemerintah yang baik dapat tercapai dengan lancar. Dengan latar belakang pemikiran-pemikiran itulah, maka kiranya perlu dibentuk suatu pusat kajian yang dapat memberikan kontribusinya bagi berlangsungnya pergeseran-pergeseran paradigma tersebut, ke arah yang mendukung bagi berlangsungnya pembangunan nasional kita. Untuk itulah, maka dibentuk Pusat Kajian Hukum dan Kepemerintahan yang Baik.
Prinsip Good Governance atau asas umum pemerintahan yang baik merupakan ideologi lama yang baru mendapat tempat ketika kondisi negara sudah dalam keadaan kacau baik di bidang politik, ekonomi, sosial hukum, dan administrasi, termasuk didalamnya mekanisme/proses dan lembaga-lembaga yang menanganinya.
Konsep Good Governance ini sudah lama berkembang, bermula dari adanya rasa ketakutan (fear) sebagian masyarakat terhadap freies ermessen yang memberikan wewenang kepada pejabat negara/ administrasi untuk bertindak sendiri di luar peraturan perundang-undangan.
Kewenangan yang diberikan ini dikuatirkan akan menimbulkan kerugian bagi warga masyarakat sehingga mucullah apa yang dinamakan prinsip umum pemerintahan yang baik atau the general principle of good administration.
Prinsip ini sekarang sudah diterima sebagai suatu keharusan. Asas-asas pemerintahan yang baik ini dikembangkan oleh teori ilmu hukum dan yurisprudensi baik di lingkungan adminstrasi negara maupun oleh putusan-putusan pengadilan sehingga mendapat tempat yang layak dalam peraturan perundang-undangan di beberapa negara termasuk Indonesia. Banyak negara telah menerapkan prinsip ini sekitar 50-100 tahun yang lalu, sedangkan Indonesia baru mengemuka di era reformasi ini.Banyak unsur dari prinsip good governance yang telah diterima oleh masyarakat, hal terpenting dari unsure tersebut adalah kecermatan (carefulness), kepastian (security), kewajaran (reasonableness), persamaan (equality), dan keseimbangan (balances).
Jika dihubungkan dengan negara secara keseluruhan maka prinsip good governance merupakan prinsip yang mengetengahkan keseimbangan hubungan antara masyarakat
(society) dengan negara (state) serta negara dengan pribadi-pribadi (personals). Ini artinya, setiap kebijakan public (public policy) mau tidak mau harus melibatkan berbagai pihak dan sektor baik pemerintah, masyarakat maupun sektor swasta dengan aturan main yang jelas.
Dengan demikian, penerapan good governance di Indonesia diharapkan terciptanya format politik demokratis, dan melahirkan model alternative pembangunan yang mampu menggerakkan partisipasi masyarakat di segala bidang kehidupan.
Bila dilihat dari kondisi Indonesia yang amburadul saat ini, maka prinsip good governance ini jelas-jelas bukanlah obat mujarab untuk melindungi dan membersihkan negara ini dari isu korupsi, kolusi dan nepotime. Karena korupsi sudah ada ditengah-tengah kita sejak awal manusia mulai membentuk organisasi dan korupsi meruapakan bagian dari kegiatan kolektif kita. Namun demikian, tidak berarti kita boleh bersikap acuh tak acuh, karena korupsi merusak kehidupan ekonomi dan landasan moral tata kehidupan.
Pada umumnya kita cenderung menganggap korupsi tidak ada, atau cenderung tidak mengindahkannya. Memang benar, sulit untuk melihat apakah korupsi ada atau tidak, karena korupsi berlangsung dalam selubung kerahasiaan. Selain itu menurut Aristoteles, kesulitan ini juga karena ”hal yang biasa terjadi sehari-hari mendapat perhatian paling kecil dari masyarakat”. Namun, kita harus membangkitkan dorongan yang lebih kuat dalam diri kita masing-masing untuk membasmi korupsi. Zaman informasi telah membuka peluang bagi masyarakat dan organisasi non-pemerintah mendapatkan alat-alat untuk menyusun kekuatan dan informasi untuk membasmi korupsi di tingkat lokal.
Gerakan menuju desentralisasi, akuntabilitas, dan bentuk-bentuk pemerintah berdasarkan demokrasi di tingkat lokal semakin bergairah. Dalam hubungan ini kerugian besar yang ditimbulkan korupsi semakin banyak dibicarakan dalam masyarakat. Masyarakat luas juga mengharapkan melalui good governance dapat mengkikis habis semua perbuatan yang merugikan kepentingan umum yang terjadi dalam pemerintahan. Korupsi adalah simbol dari pemerintahan yang tidak benar, yang dicerminkan oleh patronese, prosedur berbelit-belit, unit pemungut pajak yang tidak efektif, pengurusan lisensi, korupsi besar-besaran dalam pengadaan barang dan jasa, dan layanan masyarakat yang sangat buruk.
Sebagaimana diuraikan di atas bahwa sejarah lahirnya good governance ini berawal dari rasa ketakutan sebagian masyarakat terhadap kebebasan bertindak dari pajabat negara dalam menjalankan tugasnya. Pada mulanya asas ini mendapat tantangan khususnya dari pejabat- pejabat dan pegawai pemerintah karena ada kekawatiran bahwa hakim atau peradilan administrasi kelak akan mempergunakan istilah ini untuk memberikan penilaian terhadap
kebijaksanaan-kebijaksanaan yang diambil pemerintah. Namun keberatan tersebut saat ini telah lenyap karena tidak ada relevansinya lagi. Freies Ermessen tetap dapat dilaksanakan pemerintah dalam melakukan fungsinya, bahkan untuk masa sekarang asas-asas umum pemerintahan yang baik itu telah diterima dan dimuat dalam berbagai peraturan undang- undangan.
Beberapa unsur pemeritahan yang baik, yang telah memperoleh tempat yang layak dalam peraturan perundang-undangan di beberapa negara antara lain:
1. Asas bertindak cermat;
2. Asas motivasi;
3. Asas kepastian hukum;
4. Asas kesamaan dalam mengambil keputusan;
5. Asas meniadakan akibat-akibat suatu keputusan yang batal;
6. Asas menanggapi penghargaan yang wajar;
7. Asas kebijaksanaan;
8. Asas tidak mencampuradukkan kewenangan;
9. Asas keadilan dan kewajaran;
10. Asas penyelenggaraan kepentingan umum;
11. Asas keseimbangan;
12. Asas permainan yang layak;
13. Asas perlindungan atas pandangan hidup (cara) hidup pribadi.
Perumusan dan penetapan asas-asas tersebut di atas berpangkal pada teori-teori hukum umumnya dan yurisprudensi serta norma-norma yang hidup dalam masyarakat. Apabila asas- asas ini digunakan oleh hukum Indonesia, maka asas ini tidak boleh terlepas dari norma- norma hukum yang hidup dalam masyarakat Indonesia.
Menurut Abdul Gani Abdullah, good governance itu berhubungan erat dengan manajemen pengelolaan kebijakan pembangunan (khususnya bidang hukum). Apabila seorang pejabat publik akan mengambil keputusan dalam melaksanakan pemangunan, terlebih dahulu dia harus menerapkan prinsip-prinsip penyelenggaran pemerintahan yang baik sehingga hasil akhirnya secara menyeluruh adalah suatu perintah yang baik. Keputusan yang diambil oleh seroang pejabat publik baik itu berbentuk kebijakan (bescchiking) maupun aturan umum (regeling) harus benar-benar berdasarkan kewenangan yang diberikan undang-undang maupun yang dilimpahkan oleh pejabat. Ciri good governance di sini adalah keputusan tersebut diambil secara demokratis, transparan, akuntabilitas, dan benar.
Konsep good governace sangat diperlukan dalam pembangunan berkelanjutan karena merupakan prasyarat untuk mendapatkan keseimbangan yang efektif antara lingkungan dan pembangunan. Tanpa ini pembangunan berkelanjutan akan salah arah.
Good governance adalah pelaksanaan otoritas politik, ekonomi dan adminstratif dalam pengelolaan sebuah negara, termasuk di dalamnya mekanisme yang kompleks serta proses yang terkait, lembaga-lembaga yang dapat menyuarakan kepentingan perseorangan dan kelompok serta dapat menyelesaikan semua persoalan yang muncul diantara mereka.
Persyaratan minimal untuk mencapai good governance adalah adanya transparansi, pemberdayaan hukum, efektifitas dan efisiensi, serta keadilan.
Dalam hubungan dengan dunia hukum ada beberapa unsur dari good governance yang perlu menjadi perhatian antara lain:
1. Pertama, adanya aturan aturan hukum bagi seluruh tindakan ataupun kebijakan yang di ambil dalam proses penyelenggaran pemerintah.
2. Kedua, adanya suatu perancangan peraturan perundang-undangan melalui beberapa ukuran standar misalnya standar empirik ,standar filosofistik standar futuralistik, dan standar HAM, serta standar keadilan.
Standar empirik artinya pembuat peraturan perundang undangan harus jelas tujuannya, jelas kepentingan yang dilindungi, undang-undang itu terbentuk karena dibutuhkan oleh masyarakat sehingga diterima oleh masyarakat sebagai aturan yang mengatur kehidupan mereka dan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat yang ada. Misalnya di era reformasi ini di mana keterbukaan menjadi pilihan utama, kemudian ada undang-undang yang di sebut justru menghambat keterbukaan maka undang-undang tersebut jelas akan di tolak masyarakat. Sebagai contoh undang-undang penyiaran dianggap justru menghambat kebebasan mengeluarkan pendapat dan menghambat keleluasan lembaga penyiaran dalam melakukan tugas nya atau karena ada intervensi pemerintah.
Standar filosofistik bahwa pembuatan undang-undang harus bersifat universal yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dan manusia dengan masyarakat. Di sana tidak boleh ada pertentangan atau saling menyalahi. Standar ini juga mengatur kehidupan manusia berdasarkan kehidupan agama dan pemahaman nilai-nilai universal kemanusiaan sehingga masalah persamaan, martabat manusia, hak asasi dan kewajiban asasi seseorang manusia harus terpenuhi.
Standar futuralistik artinya undang-undang tersebut dapat memprediksi apa yang akan terjadi di masa akan datang sehingga diketahui perlu atau tidaknya perubahan undang-undang.
Undang-undang tersebut bersifat supel yang dapat diterapkan dalam beberapa tahun ke depan. Di Indonesia sering terjadi peraturan perundang-undangan silih berganti, baru berlaku sebentar sudah diganti dengan yang lain misalnya Undang-undang Tindak Pidana Korupsi, Undang-undang Tindak Pidana Pencucian Uang. Undang-undang di bidang Pasar Modal juga demikian, karena peraturan di bidang hukum bisnis terus berubah sejalan dengan perkembangan masyarakat bisnis, tetapi yang jelas diperlukan standar yang pasti.
Standar HAM artinya undang-undang yang dibuat tidak boleh mengorbankan HAM, tidak boleh bertentangan dengan hak-hak pribadi seseorang dan bertentangan dengan kepentingan umum.
Standar keadilan berarti undang-undang yang dibuat harus transparan, akuntabilitas, persamaan, dan dapat memberikan keadilan kepada masyarakat. Hal yang penting dalam prinsip good governance adalah pemberdayaan hukum seperti adanya peraturan dan kebijakan dan system peradilan pidana yang independent, dan professional.
Bentuk asas umum pemerintahan yang baik di Indonesia, secara resmi belum dirumuskan dengan rinci dalam bentuk tertulis. Istilah Asas Umum Pemerintahan Yang Baik (AUPB) itu masih sangat jarang sekali ditemukan. Istilah tersebut mungkin baru pertama ditemukan dalam Inpres No. 15 Tahun 1983 dengan menggunakan istilah “Sendi-sendi Kewajaran Penyelenggaraan Pemerintahan“ untuk mencapai apartur negara yang bersih dan berdaya guna.
Namun demikian, terlepas dari istilah, asas-asas itu sesungguhnya secara materiel telah terdapat dalam berbagai peraturan perundang-undangan dan yurisprudensi. Karena itu AUPB tersebut, tidak saja mempunyai kekuatan mengikat secara moral dan doktrinal tetapi lebih dari asas umum pemerintahan yang baik juga mempunyai kekuatan mengikat secara hukum, dan merupakan salah satu sumber Hukum Administrasi Negara (HAN) formal. Undang- undang sebagai salah satu sumber HAN formal maksudnya bukan hanya undang-udang dalam arti formal, tetapi mencakup semua undang-undang dalam arti material yaitu produk hukum yang mengikat seluruh penduduk secara langsung.
Upaya mewujudkan good governance di Indonesia merupakan suatu prioritas dalam rangka menciptakan suatu tatanan masyarakat, bangsa, dan negara yang lebih sejahtera, jauh dari korupi, kolusi, dan nepotisme, karena dalam kenyataannya masyarakat masih jauh dari hidup layak, korupsi masih merajalela. Namun demikian perjuangan dalam menciptakan pemerintahan yang bersih tidak boleh berhenti, harus tetap dilanjutkan dan diupayakan
semaksimal mungkin hingga suatu saat akan dirasakan begitu bermatabatnya bangsa yang memiliki komitmen, tanggung jawab, dan harga diri.
Konsep good governance bukan saja clean governance tetapi semua faktor-faktor pendukung harus memiliki code of conductnya sendiri, ada ketaatan kepada hukum, sistem dan sebagainya. Namun demikian tetap saja fungsi negara untuk melindungi kelompok-kelompok yang tidak mempunyai kekuasaan haruslah memegang peranan penting di dalam mewujudkan good governance, karena sampai saat ini kita memiliki civil society yang korup.
Negara yang berhasil menarapkan good governance di Asia antara lain Korea Selatan dan Thailand. Kedua Negara tersebut memiliki komitmen politik dari pemimpin mereka meski tidak semua. Di Indonesia komitmen politik itu belumlah begitu jelas. Komitmen politik itu bias dimulai dari Presiden, Wakil Presiden, Kapolri, Kepala BUMN dan sebagainya.
Di dalam bukunya Robert Klitgoard disebutkan jika sistem pemberantasan korupsi belum terbangun, begitu juga sistem politik dan sistem hukum belum terbentuk dan tidak mendukung, maka pemberantasan korupsi harus dimulai dari tingkat atas atau pemimpinnya.
Hal tersebut berhasil diterapkan di Singapura, Hongkong dan Thailand. Hal ini belum kita temukan di Indonesia kecuali hanya diucapkan pada saat kampanye pemilu. Sebagian besar pemilihan kepala daerah dipilih melalui proses politik yang kotor, bagaiman mungkin mendapat gubernur dan bupati yang bersih.
Salah satu program good governance adalah pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme.
Korupsi menurut Klitgoard ditimbulkan karena ada monopoli, kekuasaan, dan diskresi yang begitu besar. Selama masih ada sentralisasi kekuasaan dan aturan-aturan yang tidak jelas dan tidak ada pertanggungjawab publik maka akan menimbulkan peluang korupsi. Di Indonesia dapat kita lihat peluang korupsi begitu besar, birokrasi begitu panjang,gaji pegawai negeri yang kecil, tidak adanya sistem public complain dan hampir semua partai politik mencari uang untuk membesarkan partainya.
Korupsi itu bukan merupakan kejahatan kalkulasi, dan bukan kejahatan orang bodoh, karena korupsi merupakan kejahatan rasional, orang akan melakukan korupsi jika keuntungan banyak dan resikonya kecil. Di Indonesia peluang ini terbuka lebar, tidak ada hukuman yang jelas, tidak ada ancaman untuk dikucilkan, dicemoohkan. Acaman hukuman menjadi tidak jelas karena pengadilan sudah dikuasai oleh para mafia, hukum selalu dan diperjual belikan putusan pengadilan selalu dimenangkan oleh penawar yang lebih tinggi.
Sejak era reformasi bergulir dipertengahan tahun 1998, masalah korupsi menjadi salah satu kajian menarik untuk dibicarakan dan diangkat kepermukaan. Usaha-usaha pemberatnsan
korupsi di Indonesia secara yuridis sudah dimulai sejak tahun 1957 dengan dikeluarkannya Peraturan Pemberantasan Korupsi; Peraturan Penguasa Militer Angkatan darat dan Laut Nomor Prt/PM/06/1957 dan Peraturan Penguasa Perang Pusat (Peperpu) No. 13 yang kemudian menjadi UU No. 24 /Prp/1960 tentang Pengusutan, Penuntutan dan Pemeriksaan Tindak Pidana Korupsi.
Kemudian dilanjutkan dengan usaha-usaha pemberatasan korupsi oleh pemerintah sejak awal 1970-an yaitu dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden No, 228/1967 Tim Pemberantasan Korupsi (TPK) hingga lahirnya UU No. 3/1971 tentang Tindak Pidana Korupsi. Begitu juga dengan pembinaan upaya pembinaan dari pejabat-pejabat telah ditingkatkan melalui pengawasan yang ketat, baik yang dilakukan oleh intern departemen dan lembaga maupun secara ekstern oleh Menteri Aparatur Negara. Namun seiring dengan pesatnya pembangunan, terasa pula semakin meingkatnya kebocoran dalam pembangunan, terbukti dengan kasus- kasus korupsi yang menyangkut kerugian negara milyaran hingga triliyunan rupiah.
Korupsi merupakan salah satu bentuk perbuatan melanggar hukum yang sangat membahayakan keadaan keuangan negara, dan akan berakibat terhambatnya pembangunan, karena banyak dana yang keluar tidak sesuai dengan pembangunan itu sendiri, sehingga tujuan yang diharapkan tidak tercapai. Oleh karena itu perlu ditingkatkan kebijakan serta langkah-langkah penegakan hukum berupa penindakan terhadap perkara korupsi, penyalahgunaan wewenang dan lain sebagainya.
Seiring dalam upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), serta peran masyarakat untuk mencegah dan memberantasnya, maka pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai peraturan perundang-undangan, antara lain:
1. UU No. 3/1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi;
2. UU No. 11/1980 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Suap;
3. UU No. 28/1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme;
4. UU No. 31/1999 tentang Pemberantasn Tindak Pidana Korupsi;
5. UU No. 20/2001 tentang Perubahan atas UU No. 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak PidanaKorupsi;
6. UU No. 30/2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi;
7. PP No. 30/1980 tentang Disiplin Pegawai Negeri sipil;
8. PP No. 71/2000 tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dan
PemberianPenghargaan Dalam Pencegah dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
9. Instruksi Presiden No. 5 /2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi.
Perilaku Fraud
Contoh praktek mal-administrasi yang termasuk dalam kategori titik kritis dalam SANKRI seperti yang dikemukakan Menpan dalam Irian, et al (2009) yaitu: inefisiensi, inefektifitas, tidak profesional, tidak netral, tidak disiplin, tidak patuh pada aturan, retrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tidak transparan, belum ada perubahan mindset,Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang marak di berbagai jenjang pekerjaan, sebagai abdi masyarakat belum terbangun, pemerintahan belum akuntabel, belum transparan, tidak partisipatif dan kredibel, lemahnya political willdari pemerintah, belum ada kesamaan persepsi dan pemahaman visi, misi dan tujuan serta ketidakjelasan rencana tindak dalam lembaga negara, kurangnya pemanfaatan teknologi informasi (TI) dalam pemberantasan KKN, masih banyak ditemukan peraturan perundang-undangan yang rancu antara sektoral dan pemerintah daerah, pelayanan publik belum berkualitas dan pelayanan publik prima belum terbangun secara luas. Rewansyah (2010) menggarisbawahi fenomena yang terjadi dewasa ini, bahwa di Indonesia sudah sangat carut marut dan perlu, sangat mendesak untuk segera dibenahi. Dikemukakannya bahwa: “orang-orang dalam administrasi pemerintah seharusnya bekerja untuk melayani masyarakat, tapi yang terjadi sekarang adalah 70%
pekerjaan yang mereka lakukan adalah untuk melayani orang-orang yang berkuasa yang mengangkat mereka dan sisanya 30% dilakukan semata-mata untuk mencari keuntungan berupa uang”. Tribunnews.com, 22 Februari 2011, memuat berita tentang Kejaksaan Agung Republik Indonesia telah memberhentikan 32 Jaksa yang melanggar kode etik selama tahun 2010. Total keseluruhan pegawai dan Jaksa yang ditindak selama tahun 2010 mencapai 288 orang. Ketidakpatutan yang dilakukan oleh pegawai dan jaksa bermasalah tersebut yaitu melakukan tindakan korupsi, kasus suap, memeras, dan penggelapan uang yang disita oleh negara. Selanjutnya, dalam Kompas(19 Februari 2011), diberitakan bahwa Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menerjunkan 40 tim investigasi untuk menyelidiki perekrutan calon pegawai negeri sipil di 46 kabupaten/kota. Sepanjang tahun 2010 masih banyak laporan mengenai dugaan kecurangan perekrutan CPNS. Beberapa penyimpangan yang dilaporkan antara lain peserta yang lulus seleksi kendati tidak mengikuti ujian serta rekayasa nilai ujian. Dugaan penyimpangan ini terjadi di 18 provinsi, antara lain Sumatera Utara (6 kabupaten/kota), Jambi (8 kabupaten/kota), Sumatera Barat (2), Riau (1), Bangka Belitung (1), Lampung (1), Kalimantan Tengah (1), Banten (1), Jawa Barat (1), dan
Nusa Tenggara Barat (4 kabupaten/kota). Laporan dugaan penyimpangan yang serupa datang dari Sulawesi Utara (3 kabupaten/kota), Sulawesi Selatan (2), Maluku (2), Maluku Utara (1), Jawa Timur (3), Sulawesi Barat (5), Kalimantan Barat (1), dan Jawa Tengah (3
kabupaten/kota), sungguh suatu perbuatan yang sangat tidak patut dan seharusnya tidak terjadi. Melihat kondisi sistem administrasi negeri ini, Kasim (2009), menyatakan telah terjadi tiga permasalahan laten (tersembunyi) yang menyebabkan buruknya kualitas sistem manajemen kepemerintahan, yakni pengawasan yang masih difokuskan pada proses
penyelenggaraan kegiatan birokrasi pemerintah dan penekanan masih pada ketaatan terhadap petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) daripada pencapaian tujuan (tupoksi) yang berorientasi pada mission driven, kapabilitas administrasi negara masih rendah dan fungsi pengawasan belum terintegrasi dengan baik ke dalam siklus administrasi negara, paradigma pengawasan yang lebih menekankan pada upaya menegakkan kebenaran formal, yaitu kesesuaian dokumen dan laporan keuangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, kurang menekankan pada upaya mencari kebenaran materiil, serta praktek pengawasan yang lebih menekankan pada upaya kuratif daripada preventifDalam prakteknya perilaku fraud muncul sejalan dengan sistem yang dianut dalam sistem kelembagaan
administrasi negara baik di pusat maupun di daerah sebagai dampak dari penerapan kebijakan politik dagang sapi, yang diistilahkan dengan selimut koalisi, sinergi aktor politik dan aktor pejabat karier, bagi-bagi kekuasaan dalam lembaga negara dan pemerintahan, serta konflik kepentingan politis yang di sulut dan disengaja antar lembaga-lembaga negara yang memiliki otoritas dalam pengambilan keputusan politik (legislatif dengan lembaga negara pelaksana (eksekutif). Beberapa fakta dapat disebutkan antara lain, proses seleksi pejabat publik (Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung, dan lain-lain) terlihat meragukan publik, terbukti sesudah lolos seleksi berperilaku dan bertindak tidak patut, buruk dan tidak kompeten. Begitu juga di daerah, fungsi Baperjakat dan inspektorat di daerah di dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya tidak dapat optimal dikarenakan masih kentalnya unsur subjektivitas dari pimpinan politis di daerah. Hubungan kelembagaan dalam praktek administrasi negara masih cenderung mengikuti aturan permainan menang-kalah, bukan permainan menang- menang atau konsensus yang berpihak untuk mensejerahterakan rakyat (welfare state)Sering kali kebijakan yang diterbitkan hanya dilandasi oleh idealisme sempit golongan, egoisme sektoral, atau bahkan ambisi-ambisi dan kepentingan-kepentingan pribadi, kelompok maupun golongan tertentu. Perilaku fraud sangat menggelitik dan nampak sudah menjadi penyakit administrasi dalam berbagai urusan. Contoh kecil dalam hal pelayanan Ijin Membuat Bangunan (IMB). Biaya telah ditetapkan melalui suatu peraturan daerah, dalam kenyataan
seringkali biaya pelayanan IMB yang telah ditetapkan tersebut menggelembung. Contoh lain, untuk menikah secara resmi dan diakui negara menjadi ajang kutipan. Radar Bogor
(23/05/12) memberitakan terdapat berbagai biaya yang dikenakan Kantor Urusan Agama (KUA) terhadap pasangan pengantin, mulai dari Rp. 200 ribuan hingga jutaan rupiah, tergantung kondisi sosial ekonomi calon pengantin. Padahal, biaya pencatatan nikah sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 51 Tahun 2000, yakni sebesar Rp. 30 ribu.
Biaya tersebut sudah termasuk pelayanan KUA serta pencetakan buku nikah. Penulis melihat kejadiankejadian yang dikategorikan fraud pada pengurusan perizinan IMB dan biaya
pernikahan, pada awalnya terjadi akibat tindakan transaksi dua pihak, yaitu respons dari pihak yangmenduduki jabatan dan jasa dari pihak yang bertindak sebagai pribadi yang berkepentingan dengan suatu urusan publik. Biasanya dalam transaksi tersebut salah satu pihak memberikan sesuatu yang lebih dari nilai nominal resmi untuk mempengaruhi suatu keputusan. Penyakit ini memang epidemis dan sudah menjadi gejala global. Para pakar Ilmu Sosial, menyebutnya budaya suap (bribery culture). Suap dan juga pemerasan (extortion payment) merupakan kenyataan dalam kehidupan sistem distribusi global, baik distribusi barang maupun distribusi keuangan (Pikiran Rakyat, 18 Februari 2003). Kata-kata populer secara khusus digunakan masyarakat di mana praktek ini berlangsung, misalnya di Afrika Barat, digunakan kata dash, di Timur Tengah, baksheesh. Di Amerika Latin, orang menyebutnya mordida, di Perancis dengan kata pot de vin yang artinyamangkuk anggur, untuk membuat mabuk mereka yang menerima uang suap, orang Italia menyebutnya
bustarella. Sedangkan di negara bagian Chicago, Amerika Serikat, orang menyebutnya a little grease. Sudarmo, dkk (2008) menyatakan, berbagai kasus dugaan korupsi pada instansi pemerintah, yang melibatkan sejumlah pejabat pada tingkatan di pusat dan daerah merupakan contoh fraud yang terjadi pada sektor publik, sementara pembobolan L/C Bank BNI, kasus Bank Global, Bank Century, impor gula ilegal, dan dana non-budgeter BULOG merupakan sebagian contoh kasus fraud di sektor korporasi yang mencuat di Indonesia. Sedangkan yang berskala global adalah kasus Enron, world.com dan Tyco, dan manipulasi pembukuan Walt Disney.
BAB IV : PENUTUP KESIMPULAN
Proses pembangunan dapat menimbulkan kemajuan dalam kehidupan masyarakat, selain itu dapat juga mengakibatkan perubahan kondisi sosial masyarakat yang memiliki dampak sosial
negatif, terutama menyangkut masalah peningkatan tindak pidana yang meresahkan masyarakat. Salah satu tindak pidana yang dikatakan cukup fenomenal adalah masalah korupsi. Tindak pidana ini tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat.
Diberbagai belahan dunia, korupsi selalu mendapatkan perhatian yang lebih dibandingkan dengan tindak pidana lainnya. Fenomena ini dapat dimaklumi mengingat dampak negatif yang ditimbulkan oleh tindak pdana ini. Dampak yang ditimbulkan dapat menyentuh berbagai bidang kehidupan. Korupsi merupakan masalah serius, tindak pidana ini dapat membahayakan stabilitas dan keamanan masyarakat, membahayakan pembangunan sosial ekonomi, dan juga politik, serta dapat merusak nilai-nilai demokrasi dan moralitas karena lambat laun perbuatan ini seakan menjadi sebuah budaya. Korupsi merupakan ancaman terhadap cita-cita menuju masyarakat adil dan makmur.
Pada umumnya kita cenderung menganggap korupsi tidak ada, atau cenderung tidak mengindahkannya. Memang benar, sulit untuk melihat apakah korupsi ada atau tidak, karena korupsi berlangsung dalam selubung kerahasiaan. Selain itu menurut Aristoteles, kesulitan ini juga karena ”hal yang biasa terjadi sehari-hari mendapat perhatian paling kecil dari masyarakat”. Namun, kita harus membangkitkan dorongan yang lebih kuat dalam diri kita masing-masing untuk membasmi korupsi. Zaman informasi telah membuka peluang bagi masyarakat dan organisasi non-pemerintah mendapatkan alat-alat untuk menyusun kekuatan dan informasi untuk membasmi korupsi di tingkat lokal.
Daftar Pustaka
Abdullah, Abdul Gani. Legal Drafting & Good Governance. Jurnal Keadilan. Vol2. No. 5 Tahun 2002.
Syamsudin, Amir. “Asas Umum Pemerintahan yang Baik”. Jurnal Keadilan. Vol. 2 No. 5 Tahun 2005: Jakarta
Hamzah, Andi. Korupsi di Indonesia, Masalah dan Pemecahannya. 1991. Jakarta: Gramedia Hafild , Emmy. Transparancy International Annual Report (Transparancy International), Jakarta 2004
Ceote, Husin. “Pengelolaan Sumber Daya Alam & Lingkungan Serta Good Governance di Era Otonomi Daerah dalam Pembangunan Berkelanjutan”, Jurnal Keadilan, Vol2. No. 5 Tahun 2002.
Muchsan, Pengantar Hukum Adminstrasi Nagara Indonesia, Liberty, Yogjakarta, 1982, hal. 2 http://download.portalgaruda.org/article.php?article=106077&val=2289
Narbun SF & Nuh. Mahfud, Pokok-pokok Hukum Administrasi Negara, Leberty, Yogyakarta, 1987, hal. 58-59.
Philipus M. Hadjon, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia, Bina Ilmu, Surabaya, 1987, hal.77.
Poerwadaminta WJS, Kamus Umum Bahasa Indonesia, , Jakarta: Balai Pustaka
Robert Kligaard, Penuntun Pemberantasan Korupsi dalam Pemerintahan Daerah, Yayasan Obor Indonesia,
Jakarta, 2005,
Teten Masduki,” Implewmentasi Prinsip Goog Governance di Indonesi” Jurnal Keadilan, Vol2. No. 5 Tahun
2002.