• Tidak ada hasil yang ditemukan

sistem pajak bumi dan bangunan di indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "sistem pajak bumi dan bangunan di indonesia"

Copied!
110
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

4 Pajak bumi dan bangunan disebut juga pajak perumahan, yaitu pajak yang dipungut atas bumi dan bangunan. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1994.

Rumusan Masalah

6 Mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam; persentase ini mencapai 88%, yang merupakan jumlah umat Islam tertinggi di dunia. Di sisi lain, sebagai warga negara Indonesia, umat Islam juga wajib membayar pajak bagi yang memenuhi persyaratan karena undang-undang mewajibkannya.

Tujuan Penelitian

Kegunaan Penelitian

Penelitian Terdahulu

Penelitian ini bertajuk “Tinjauan Ekonomi Islam tentang Pajak Bumi dan Bangunan di Kota Metro” dan dilakukan pada tahun 2017. Perbedaan dengan penelitian penulis terletak pada objek penelitiannya yaitu Pajak Bumi dan Bangunan di Kota Metro.

Metode Penelitian

Analisis data dalam penelitian kualitatif berlangsung pada saat pengumpulan data dan setelah selesai pengumpulan data dalam jangka waktu tertentu. Menurut Miles dan Huberman, langkah ketiga dalam analisis data kualitatif adalah menarik kesimpulan dan memverifikasinya.

Sistematika Penulisan

15 BAB II, merupakan kajian teori yang terdiri atas: sistem perpajakan di Indonesia, penerapan pajak bumi dan bangunan di Indonesia, sistem perpajakan dalam perekonomian syariah. BAB III, pembahasan terdiri dari: Konsep Kepemilikan Tanah dalam Islam, Sistem Pajak Bumi dan Bangunan di Indonesia Menurut Perspektif Ekonomi Islam, Analisis Penerapan Pajak Bumi dan Bangunan di Indonesia.

KAJIAN TEORI

Sistem perpajakan di Indonesia

Undang-undang perpajakan mengatur hubungan antara pemerintah (fiskus) sebagai pemungut pajak dan masyarakat sebagai wajib pajak: pajak (subjek pajak), berapa besar pajak yang dipungut (tarif pajak), segala sesuatu tentang penciptaan dan penghapusan utang pajak, dan hubungan hukum antara pemerintah dan wajib pajak. Penyidikan dihentikan apabila dilakukan selama Wajib Pajak bersedia melunasi utang pajaknya, ditambah denda empat kali lipat dari jumlah pajak yang belum atau kurang dibayar (paragraf kedua).

Sistem Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di Indonesia

Objek pajak di bidang perkebunan adalah tanah dan/atau bangunan yang terletak di areal yang digunakan untuk usaha perkebunan. Objek pajak di bidang kehutanan adalah tanah dan/atau bangunan yang berada pada kawasan yang digunakan untuk usaha kehutanan. Objek pajak pada sektor pertambangan adalah tanah dan/atau bangunan yang terletak pada wilayah yang digunakan untuk pertambangan.

Apabila Wajib Pajak belum mengetahui Badan Kena Pajak, maka Direktur Pajak yang menetapkan Badan Kena Pajak wajib membayar pajak tersebut. Subjek pajak yang ditunjuk dapat memberitahukan secara tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak bahwa ia bukan merupakan Pengusaha Kena Pajak untuk subjek pajak yang bersangkutan. Tarif Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebesar 0,5% (lima persepuluh persen)26.. a) Dasar pengenaan pajaknya adalah Nilai Jual Subjek Pajak (NJOP).

Nilai Jual Properti Kena Pajak (NJOP) merupakan harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi setiap tahunnya. Besaran NJOP ditentukan berdasarkan klasifikasi: a) Objek pajak sektor pedesaan dan perkotaan b) Objek pajak sektor perkebunan. Dalam menentukan besarnya pajak yang terutang pada PBB, setiap wajib pajak diberikan Nilai Jual Objek Fiskal Tidak Kena Pajak (NJOPTKP).

Sistem perpajakan dalam ekonomi Islam

Dalam buku Pajak Menurut Syariah yang ditulis oleh Gusfahmi, ada beberapa ahli yang membahas. Sedangkan menurut non Islam pajak (pajak) bersifat kekal (selamanya). b) Pajak (Dharibah) hanya dapat dikenakan atas pembiayaan yang menjadi kewajiban bagi umat Islam dan terbatas pada jumlah yang diperlukan untuk pembiayaan wajib tersebut, tidak lebih. Sedangkan pajak non Islam (pajak) diperuntukkan bagi seluruh warga negara tanpa membedakan agama. c) Pajak (Dharibah) dipungut hanya dari umat Islam dan tidak dipungut dari non-Muslim.

Dan tidak memungut pajak dari orang di luar kemampuannya.48 3) Dikutip oleh Gusfahmi dalam buku Pajak menurut. Apabila berbagai kebutuhan dan pengeluaran tersebut tidak dibiayai, maka akan timbul kerugian bagi umat Islam, padahal Allah juga telah mewajibkan umat Islam untuk membayar pajak hanya untuk memenuhi (kekurangan biaya) berbagai kebutuhan dan pengeluaran yang diperlukan. menjadi berlebihan. 8) Dikutip Gusfahmi dalam buku Pajak Menurut Syariah. Hal ini diungkapkan Hasan Turobi dari Sudan dalam bukunya Prinsip Pemerintahan, Kebebasan, dan Tanggung Jawab dalam Islam yang dikutip Gusfahmi dalam buku Pajak Menurut Syariah.

Dan orang-orang yang telah menetap di kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang-orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). 53 Hantar orang yang mempunyai pengetahuan dalam perkara ini untuk menganggarkan jumlah pengeluaran. Para penakluk mahu harta rampasan itu dibahagikan antara mereka dalam bentuk harta dan tanah sesuai dengan apa yang disebut dalam al-Quran dan As-Sunnah khususnya tentang harta rampasan.

Membagikan tanahnya kepada orang yang telah menaklukkannya, sebagaimana ia membagikan rampasan perang kepada pasukannya. Jika aku membaginya, tidak ada lagi yang tersisa untuk orang-orang yang datang setelahmu.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Sistem Pajak Bumi dan Bangunan di Indonesia menurut perspektif ekonomi

67 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan, diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000.1 Pajak Bumi dan Bangunan (LBT) merupakan pajak yang bersifat material dalam arti besarnya pajak yang terutang ditentukan oleh kondisi dan bendanya yaitu tanah atau bangunan.2 Negara Indonesia mempunyai pola hidup masyarakatnya dan perekonomiannya bertumpu pada pertanian. Dalam ekonomi Islam tidak ada acuan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), melainkan hanya pajak bumi (kharaj). Pada dasarnya pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan merupakan sarana untuk mewujudkan kerja sama nasional yang saling menguntungkan dalam pembiayaan negara dan pembangunan nasional, sehingga dalam pembentukannya perlu memperhatikan asas kepastian hukum, keadilan dan kesederhanaan, serta didukung oleh pajak. sistem administrasi yang memudahkan pemenuhan kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak.

Objek pajak bumi dan bangunan di Indonesia mempunyai beberapa persamaan dengan pajak bumi (kharaj) dalam Islam. Sedangkan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) merupakan pajak atas bumi dan bangunan yang dikenakan terhadap seluruh jenis tanah dan bangunan di Indonesia. PBB dipungut atas semua orang atau bangunan yang memiliki dan menikmati tanah dan bangunan yang dimilikinya, sedangkan kharaj dipungut hanya kepada orang-orang kafir dan Islam jika mereka membeli tanah taklukan.

Tarif dan syarat pajak bumi dan bangunan di Indonesia dengan pajak bumi (kharaj) dalam Islam. PBB dikenakan tarif tetap bagi semua orang atau badan yang memiliki dan menikmati tanah dan bangunan, sedangkan Kharaj mempunyai dua jenis tarif. Jika PBB menggunakan tarif seperti kharaj, yaitu tarif menurut jumlah kekayaan berupa tanah dan bangunan yang dimiliki, maka masyarakat akan kembali berpikir untuk mengumpulkan kekayaannya dalam bentuk tanah atau bangunan.

Sistem penentuan PBB di Indonesia dengan sistem penentuan pajak tanah

73 Progresif, yaitu persentase yang digunakan bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah kena pajak. Di sinilah Anda akan melihat perbedaan antara mereka yang memiliki banyak kekayaan dan mereka yang hanya memiliki sarana untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, karena saat ini banyak orang yang mengumpulkan kekayaan dalam bentuk tanah dan bangunan. Irigasi ini terbagi menjadi empat golongan, yaitu lahan yang diairi dengan sungai atau mata air, lahan yang diairi dengan tenaga manusia atau hewan, lahan yang diairi dengan air hujan, dan lahan yang tidak memerlukan irigasi dan kesuburannya diperoleh secara alami.

Untuk setiap kategori irigasi beban kharajnya akan berbeda-beda seperti lahan yang diairi dengan air sungai akan mempunyai beban kharaj yang berbeda dengan lahan yang diairi dengan tenaga manusia.11. Dari keduanya PBB dan Kharaj mempunyai persamaan, untuk PBB didasarkan pada harga jual tanah dan bangunan di suatu daerah atau Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dan untuk Kharaj didasarkan pada kesuburan tanah, lokasi dan lingkungan dimana tanah tersebut berada.

Analisis sistem Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di Indonesia menurut

76 Dalam pajak bumi dan bangunan di Indonesia, subjek pajaknya adalah orang pribadi atau badan yang benar-benar memiliki tanah dan bangunan yang digunakan untuk memperoleh tanah dan bangunan tersebut. Badan pajak ini memiliki perbedaan dengan PBB, di PBB semua orang dan badan yang memiliki dan memperoleh manfaat atas tanah dan bangunan akan dikenakan pajak, sedangkan dalam pajak bumi (kharaj) hanya orang non-Muslim yang wajib membayar pajak bumi, namun jika ada adalah seorang muslim dan jika membeli tanah kharajiyah akan dikenakan pajak. c) Tarif pajak. Pajak bumi dan bangunan di Indonesia mempunyai tarif tetap sebesar 0,5% untuk bumi dan bangunan tanpa memandang luas dan jumlah bangunan yang dimiliki, sedangkan tarif pajak bumi (kharaj) pada masa Umar adalah sesuai dengan tingkat kesuburan tanah dan jenis tanaman. , sehingga berbagai pajak dibayarkan. d) Fungsi pajak.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah disampaikan pada pembahasan sebelumnya, Sistem Pajak Bumi dan Bangunan di Indonesia menurut perspektif ekonomi Islam sudah sesuai dengan prinsip ekonomi Islam. Subjek pajak ini memiliki perbedaan dengan PBB, dalam PBB semua orang dan badan yang memiliki dan memperoleh manfaat atas tanah dan bangunan akan dikenakan pajak, sedangkan dalam pajak bumi (kharaj) hanya orang non-Muslim yang wajib membayar pajak bumi, namun jika ada adalah 'seorang muslim dan jika membeli tanah kharajiyah maka akan dikenakan pajak. Pajak bumi dan bangunan di Indonesia tarifnya tetap sebesar 0,5%, sedangkan untuk pajak bumi dan bangunan (kharaj) pada masa Umar tarifnya sesuai dengan tingkat kesuburan tanah dan jenis tanaman.

Penerapan pajak bumi dan bangunan memerlukan perhatian lebih agar sesuai dengan kondisi sosial, dan penerapan tarif perlu lebih ditingkatkan agar lebih adil. Kebijakan Kharaj pada Masa Rasulullah SAW dan Kaitannya dengan Pajak Bumi dan Bangunan di Indonesia,” Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syariah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah, Volume 4. Tinjauan Ekonomi Islam Pajak Bumi dan Bangunan di Kota Metro” Lampung: Tugas Diploma, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.

PENUTUP

Kesimpulan

Dalam penentuan PBB di Indonesia, sistem penentuan pajak bumi (kharaj) dalam Islam mempunyai kesamaan, yaitu untuk PBB didasarkan pada harga jual tanah dan bangunan pada suatu daerah atau Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dan untuk kharaj didasarkan pada harga jual tanah dan bangunan pada suatu daerah atau Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dan untuk kharaj didasarkan pada didasarkan pada harga jual tanah dan bangunan di suatu daerah atau Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). didasarkan pada status kesuburan tanah dan lokasi. Objek-objek tersebut mempunyai persamaan yaitu sama-sama mengenakan pajak bumi, namun pada bangunan PBB juga ditambahkan sebagai objek pajak. Fungsi PBB dan Kharaj memiliki kesamaan yaitu menjaga stabilitas perekonomian negara dan sebagai sumber pendapatan negara yang akan digunakan untuk kemakmuran rakyat.

Saran

Mashlahah Pajak Bumi Perspektif Abu Yusuf (Kajian Kitab Al-Kharaj)," Jurnal Dinamika Ekonomi & Bisnis, Vol. Abu Yusuf dan Pajak (Konsep dalam Kitab Al-Kharaj dan Relevansinya dalam Perekonomian Saat Ini) , "Fenomena, Jil.

Referensi

Dokumen terkait

We pass the time talking about the experiences of some of our traveling Missionaries: of one who was pushed from the mountain trail in to the precipice by a frightened cmv, but then

ACRONYMS aaS African Academy of Sciences aatf African Agricultural Technology Foundation aBne African Biosafety Network of Expertise acgt African Centre for Gene Technologies