TUGAS KE- 4 SISTEM PERTANIAN TROPIKA TEMA KE-4 : LAHAN GAMBUT
KELOMPOK 3
Ketua : Ibnu Alifuddin Annas, 181510101038 Anggota : 1. Dio Kurniawan, 181510101039
2. Rajes Zulfatumagh, 181510101040
I. PENDAHULUAN
Tanah Gambut terbentuk melalui proses paludifikasi yaitu penebalan gambut karena tumpukan bahan organik dalam keadaan tergenang air. Bahan utama gambut tropika adalah biomassa tumbuhan, terutama pohon-pohonan. Karena bahan dan proses pembentukan yang khas, maka tanah gambut sangat berbeda dari sifat tanah mineral. Gambut yang tebal (dalam) dominan dibentuk oleh bahan organik, sedangkan gambut dangkal (tipis) dibentuk oleh bahan organik bercampur tanah mineral, terutama liat. Kandungan bahan organik di lapisan permukaan suatu kubah gambut bisa mendekati 100% dan dengan demikian kandungan karbon (C) organiknya bisa mencapai 60% dari berat keringnya. Untuk dapat digolongkan sebagai tanah gambut, kandungan c organiknya minimal 12% dan ketebalan gambutnya 50 cm (Subagyo, 2006).
Sekitar 5.241.473 ha atau 35,17% dari total luas lahan gambut Indonesia tergolong gambut dangkal (Wahyunto et al. 2014), tersebar di Pulau Papua (2.425.523 ha), Pulau Sumatera (1.767.303 ha), dan Pulau Kalimantan (1.048.611 ha). Angka ini akan mengalami dinamika akibat adanya kebakaran lahan gambut dan faktor lainnya, sehingga menyebabkan penurunan ketebalan gambut menjadi kurang dari 100. Luas lahan gambut di Indonesia ditaksir 14,95 juta hektar tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Papua serta sebagian kecil di Sulawesi (Wahyunto et al. 2014)
II. PEMBAHASAN
2.1 Karakteristik Tanah Gambut Tropika
Karakterisitik spesifik dari tanah gambut yang membedakan dengan tanah mineral umumnya, antara lain : (1) mudah mengalami kering tak balik (irreversible drying), (2) mudah ambles (subsidence), (3) rendahnya daya dukung (bearing capacity) lahan terhadap tekanan, (4) rendahnya kandungan hara kimia dan kesuburannya (nutrient), dan (5) terbatasnya jumlah mikroorganisme. gambut yang mengalami kering tak balik berubah sifat menjadi gambut yang tidak lagi mempunyai kemampuan dalam menyerap air seperti semula dan sifat gambut berubah dari suka air (hidrofilik) menjadi menolak air (hidrofobik).
Misalnya, gambut yang terbakar hanya dapat menyerap air sekitar 50% dari semula sebelum terbakar karena sebagian berubah menjadi hidrofobik. Sifat hidrofobik pada gambut muncul akibat (1) kandungan asam humat berupa selaput lilin, dan (2) adanya gugus non-polar seperti etil, metil dan senyawa aromatik (Valat et al., 1991).
Ambles (subsidence) diartikan sebagai penurunan muka tanah gambut akibat perubahan kematangan atau kemampuan gambut dalam menyerap air akibat pembukaan, penggunaan yang intensif, kebakaran, atau musim kemarau yang panjang. Namun belakangan ini amblesan dihubungkan dengan besaran emisi karbon sehingga taksiran emisi menjadi 1
berlebihan. Besar amblesan pada tahun 1-2 pembukaan lahan gambut lebih besar dan cepat dibandingkan tahun berikutnya. Rata-rata amblesan pada gambut Barambai, Barito Kuala (Kalsel) selama tiga tahun pertama rata-rata 16 cm/tahun dan pada gambut Delta Upang (Sumsel) antara 6,5-65,5 cm/tahun. Amblesan mulai mengecil setelah tahun ke enam dan mantap setelah tahun ke delapan atau ke sepuluh (Hardjowigeno, 1997).
Terjadinya ambles (Subsidence) merupakan kejadian yang tak terhindarkan dan merupakan dampak dari pengelolaan lahan gambut untuk budidaya. Laju subsidence yang berlebihan menyebabkan cepatnya penurunan permukaan tanah sehingga elevasinya menurun mendekati elevasi muka air tertinggi di sungai sehingga akhirnya tak mampu lagi di darinasekan (Nurgroho, 2015).
Upaya secara berkelanjutan untuk mengurangi dampak subsiden adalah dengan tetap mengupayakan tersedianya sumber ekonomi masyarakat disatu sisi dan menghambat laju subsiden di sisi lain. Upaya tersebut dalam bentuk merubah budidaya tanaman yang memerlukan perlakuan drainase yang mengakibatkan subsiden dengan budidaya tanaman endemik gambut atau rawa yang sudah sesuai untuk tumbuh di lahan gambut. Tumbuhan tersebut menurut Daryono (2009) yang dapat dibudidayakan anatara lain tanaman jelutung, pinang, dan ramin.
2.3 Pemanfaatan Lahan Gambut Dangkal dan Ameliorasi
Lahan gambut mempunyai berbagai kendala untuk dimanfaatkan sebagai media tumbuh, sehingga diperlukan strategi, yakni langkah-langkah utama yang diperlukan untuk mencapai tujuan secara efisien dan efektif. Salah satu strategi yang diperlukan adalah pemilihan komoditas. Tidak semua komoditas dapat berkembang baik di lahan gambut dangkal,. Secara umum komoditas yang berkembang di lahan gambut dangkal dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yakni (1) tanaman pangan/ palawija, (2) tanaman hortikultura, dan (3) tanaman tahunan (Nursyamsi et al. 2014). Departemen Pertanian merekomendasikan untuk tanaman pangan dan hortikultura diarahkan pada gambut dangkal (< 100 cm), dan untuk tanaman tahunan pada gambut dengan ketebalan 2–3 m (Sabiham et al., 2008).
Pemilihan komoditas berkaitan erat dengan tipologi luapan, musim, nilai ekonomis komoditas, dan ketersediaan teknologi. Penataan lahan pada daerah produksi membuka peluang untuk membudidayakan komoditas-komoditas seperti padi, jagung, kedelai, jeruk, sayuran, kelapa, karet dan kelapa sawit. Komoditas hortikultura (sayuran dan buah-buahan) memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi daripada tanaman pangan, tetapi memerlukan teknik budidaya yang lebih intensif (Masganti 2013).
Salah satu permasalahan pada pemanfaatan lahan gambut adalah kemasaman tanah yang tinggi. Asam-asam organik di dalam gambut yang dihasilkan selama proses dekomposisi dalam keadaan anaerob bersifat racun bagi tanaman (Abdurachman, A., et al., 1998). Upaya yang dilakukan adalah memberi ameliorasi untuk meningkatkan hasil produksi tanaman dilahan gambut dangkal. Ameliorasi adalah tindakan penambahan bahan tertentu untuk mengubah kondisi tanah melalui perubahan lingkungan biotik, kimia dan fisika tanah yang fungsi utamanya meningkatkan ketersediaan hara dalam tanah dan menurunkan emisi GRK (Masganti, 2013). Bahan amelioran adalah bahan yang mampu memperbaiki atau membenahi kondisi fisik dan kesuburan tanah. Berbagai masukan disarankan adalah penambahan tanah mineral, kapur, pupuk kimia, pupuk kandang, dan sisa abu pembakaran (Sagiman, 2007).
III.KESIMPULAN
2
Gambut tropika terbentuk dalam keadaan hutan alam karena proses penimbunan bahan organik dari sisa tumbuhan setempat berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan proses dekomposisi. Laju pembentukan tanah gambut tropika sangat lambat dan dipengaruhi oleh sumber dan jumlah air, kandungan mineral yang ada di dalam air, iklim, dan vegetasi yang berada di atasnya. Tanah gambut mempunyai karakterisitik yang khas, antara lain yaitu mudah mengalami kering tak balik dan mudah mengalami amblesan (subsiden) dalam keadaan aerobik. Dengan mempertahankan muka air tanah sedangkal mungkin sesuai kebutuhan tanaman, kekeringan, pemadatan dan amblesan pada tanah gambut dapat diminimalkan. Lahan gambut Indonesia sangat potensial dimanfaatkan untuk penyediaan bahan pangan. Pemanfaatan lahan gambut yang lebih masif untuk memasok bahan pangan dipicu oleh (1) laju alih fungsi lahan pertanian, (2) pertambahan jumlah penduduk, dan (3) keinginan menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.
IV. DAFTAR PUSTAKA
Abdurachman, A., K. Sudarman, dan D.A. Suriadikarta. 1998. Pengembangan Lahan Pasang Hardjowigeno, S. 1997. Pemanfaatan gambut berwawasan lingkungan. Alami 2(1):3-6.
Masganti, Nurhayati, R. Yusuf, dan H. Widyanto. 2015b. Teknologi ramah lingkungan dalam budidaya kelapa sawit di lahan gambut terdegradasi. Jurnal Sumberdaya Lahan 9(2):99-108.
Masganti. 2013. Teknologi inovatif pengelolaan lahan suboptimal gambut dan sulfat masam untuk peningkatan produksi tanaman pangan. Pengembangan Inovasi Pertanian 6(4):187-197.
Nugroho K. 2015. Penurunan Permukaan Lahan Gambut (Presentasi Power Point). IPN Toolbox Tema C Sun Tema C6. www.Cifor.org/ipn.toolbox diakses tanggal 20 Januari 2016.
Nursyamsi, D., S. Raihan, M. Noor, K. Anwar, M. Alwi, E. Maftuah, I. Khairullah, I. Ar- Riza, R.S. Simatupang, Noorginayuwati, dan Y. Rina. 2014. Buku Pedoman Pengelolaan Lahan Gambut untuk Pertanian Berkelanjutan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian. IAARD Press. Jakarta. 68 hlm Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap llmu Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Pontianak, 23 Juli 2007. 32 Halaman.
Sabiham, S., Wahyunto, Nugroho, Subiksa dan Sukarman, 2008. Laporan Tahunan 2008.
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor Sagiman, S., 2007. Pemanfaatan Lahan Gambut dengan Perspektif Pertanian Berkelanjutan.
Subagyo, H. 2006. Lahan Rawa Pasang Surut. Hal 23-98. Dalam. Karakteristik dan Pengelolaan Lahan Rawa. (Eds.). Didi Ardi S., Undang Kurnia, Mamat H.S., Wiwik Hartatik, dan Diah Setyorini. Bogor. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.
Surut : Keberhasilan dan Kegagalan Ditinjau dari Fisiko Kimia Lahan Pasang Surut.
Dalam M.Sabran, M.Y. Maamun, Sjachrani A., B.Prayudi, Izzudin Noor, S.
Sulaiman. Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian Menunjang Akselerasi Pengembangan Lahan Pasang Surut. Balai Penelitian Tanaman Rawa. Banjarbaru.
Hal 1-10
Valat, B., C. Jouany, and L. M. Riviere. 1991. Characterization of the wetting properties of air-dried peats and composts. Soil Sci. 152(2):100-107.
Wahyunto, K. Nugroho, S. Ritung, dan Y. Sulaiman. 2014. Indonesian peatland map:
method, certainty, and uses. Hlm 81-96. Dalam Wihardjaka et al. (Eds.). Prosiding 3
Seminar Nasional Pengelolaan Berkelanjutan Lahan Gambut Terdegradasi untuk Mitigasi GRK dan Peningkatan Nilai Ekonomi. Balitbangtan, Kementerian Pertanian
4