• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI ESENSI KELEMBAGAAN BANK SYARIAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "SKRIPSI ESENSI KELEMBAGAAN BANK SYARIAH"

Copied!
157
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Perkembangan perbankan syariah di Indonesia sangat pesat dan pesat, namun masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa bank syariah adalah bank konvensional yang menggunakan istilah islam untuk menarik masyarakat muslim. Selain itu, sering kali praktik bank syariah memberikan wewenang kepada nasabah untuk membeli barang yang mereka inginkan sendiri, yang berarti bank tidak berhubungan langsung dengan pemasok. Keberadaan dhaman (jaminan/jaminan) pada suatu bank syariah sekilas memang menjadi permasalahan bagi pihak-pihak yang ingin mengajukan pembiayaan, apalagi jika tidak mempunyai dhaman (jaminan/jaminan) yang dapat dijadikan agunan. . untuk memperoleh pembiayaan dari bank syariah.

Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengkaji lebih lanjut kasus ini dengan judul “Esensi Kelembagaan Bank Syariah: Hubungan Akad Murabahah di Kabupaten Pinrang”.

Rumusan Masalah

Untuk itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pelaksanaan akad murabahah di BSI KCP Pinrang, apakah pelaksanaannya di lapangan sudah memenuhi ketentuan yang diatur dalam syariat Islam.

Tujuan Penelitian

Kegunaan Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan Penelitian Relevan

Persamaan penelitian Tita Djuitaningsih dengan penulis adalah sama-sama membahas apakah produk murabah sesuai hakikat/makna/tujuannya, namun terdapat perbedaan antara penelitian Tita Djuitaningsih dengan penulis, penulis membahas tentang hakikat perbankan syariah. : hubungan akad murabahah di Kabupaten Pinrang, sedangkan Titi Djuitaningsih membahas tentang kesenjangan teori dan praktik akad bai' al-Murabahah pada perbankan syariah di Indonesia. Penelitian ketiga dilakukan oleh Mia Maisarah pada tahun 2018 dengan judul skripsi “Penerapan Syariah Produk Murabahah di Bank Syariah Aceh”. 11Tita Djuitaningsih, “Kesenjangan Konsep dan Praktek Akad Bai’ al-Murabahah pada Perbankan Syariah di Indonesia”, Media Riset Akuntansi.

Implementasi Akad Murabahah Pada Perbankan Syariah Dalam Perspektif Hukum Ekonomi Syariah (Studi Pada Bank Mandiri Syariah Kota Bandar Lampung)”.

Tinjauan Teori

  • Makna Esensi
  • Pelaksanaan
  • Akad Murabahah Dalam Perbankan Syariah

Salah satu skema fiqh yang paling populer digunakan oleh perbankan syariah adalah skema jual beli murabahah. Singkatnya, murabahah adalah akad jual beli suatu barang yang menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati antara penjual dan pembeli. Ulama madzhab Maliki membolehkan pungutan yang berkaitan langsung dengan transaksi jual beli dan pungutan yang tidak berkaitan langsung dengan transaksi tersebut tetapi memberi nilai tambah terhadap barang tersebut.

Selain itu, ulama madzhab Syafi’i membolehkan biaya-biaya yang umumnya dikeluarkan dalam suatu transaksi jual beli di luar biaya tenaga kerja itu sendiri karena komponen ini termasuk dalam keuntungan. Peraturan Bank Indonesia (PBI) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan murabahah adalah jual beli barang dengan harga barang ditambah margin keuntungan yang disepakati. Keunggulan jual beli produk murabahah adalah memberikan keamanan dan kenyamanan kepada nasabah dalam hal angsuran pembiayaan.

Kerangka Konseptual

Kerangka Pikir

METODE PENELITIAN

Pendekatan dan Jenis Penelitian

Jenis data yang digunakan peneliti adalah data kualitatif, dimana data kualitatif berbentuk kalimat deskriptif dan bukan berupa angka-angka. Selain itu, data kualitatif diperoleh dari wawancara, observasi dan dokumen lain yang mendukung penelitian. Data primer adalah data yang diperoleh melalui wawancara pengumpulan data, sehingga sumber data ini disebut juga responden, yaitu jika orang tersebut menjawab atau menanggapi pertanyaan peneliti secara lisan atau tertulis.

Dalam hal ini Bank Syariah Indonesia (BSI) di Kabupaten Pinrang dimana data diperoleh dengan melakukan wawancara dan observasi. Data sekunder merupakan data yang diperoleh pihak ketiga atau tidak diperoleh dari objek yang diteliti. Dalam hal ini yaitu data yang diperoleh dari informasi tertulis berupa dokumen, buku, jurnal, dan lain sebagainya.

Observasi adalah pengamatan terhadap suatu objek yang diteliti baik secara langsung maupun tidak langsung untuk memperoleh data yang akan dikumpulkan dalam penelitian.59 Observasi yang akan dilakukan penulis adalah dengan mengamati dan mencatat fakta-fakta yang terjadi berkaitan dengan pelaksanaan penelitian. kontrak murabahah. di BSI KCP Pinrang, lalu intinya sambung. Orang yang diwawancarai dalam penelitian kualitatif adalah informan yang darinya diperoleh pengetahuan dan pemahaman.60 Oleh karena itu, tujuan wawancara adalah untuk mengumpulkan informasi akurat dari orang sungguhan. Wawancara yang akan dilakukan peneliti adalah dengan pegawai BSI KCP Pinrang yang memang memahami akad murabahah.

Metode dokumentasi digunakan untuk meneliti dokumen-dokumen (arsip) yang berkaitan erat dengan penelitian ini. Alasan digunakannya metode dokumentasi ini adalah untuk memperoleh data terkait permasalahan yang diteliti yaitu Hakikat Kelembagaan Bank Syariah: Hubungan Akad Murabahah di Kabupaten Pinrang.

Uji Keabsahan Data

Teknik Analisis Data

67 Muhammad Syah, Consumer Business Relationship Manager (CBRM), wawancara peneliti di BSI KCP Pinrang pada 9 November 2022. 75 Muhammad Syah, Consumer Business Relationship Manager (CBRM), wawancara peneliti di BSI KCP Pinrang pada 9 November 2022. 78 Muhammad Syah, Consumer Business Relationship Manager (CBRM), wawancara peneliti di BSI KCP Pinrang pada 9 November 2022.

80 Muhammad Syah, Consumer Business Relations Manager (CBRM), wawancara dengan peneliti di BSI KCP Pinrang pada 9 November 2022.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

  • Pelaksanaan Akad Murabahah pada Bank Syariah di
  • Faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan Akad Murabahah
  • Esensi Akad Murabahah pada Bank Syariah di Kabupaten

Berdasarkan hasil observasi tersebut, dapat dijelaskan permasalahan-permasalahan yang selama ini berkaitan dengan penerapan akad murabahah pada perbankan syariah. Akad murabahah adalah suatu transaksi jual beli dimana seorang pedagang membeli suatu barang yang diinginkan pembeli kemudian menjualnya kepada pembeli dengan harga yang dihitung dengan menggunakan margin keuntungan yang disepakati, tidak termasuk biaya-biaya yang dikeluarkan oleh pedagang. Peran bank syariah dalam akad murabahah dapat digambarkan lebih tepat dengan konsep non-seller financing.

Untuk tujuan pembiayaan murabahah sendiri dijelaskan dalam pasal akad murabahah bahwa tujuan pembiayaan adalah sesuai dengan kebutuhan nasabah. Penerapan akad murabahah di BSI KCP Pinrang berbeda dengan bank konvensional karena kami tidak memberikan uang kepada nasabah. Berdasarkan hasil wawancara dengan BSI KCP Pinrang dan peneliti dapat diketahui bahwa pelaksanaan akad murabahah di BSI KCP Pinrang berbeda dengan bank konvensional.

Akad murabahah pembelian konsumen mengatur jenis pembelian yang dibiayai oleh pihak pertama, dalam hal ini bank syariah. Dari hasil wawancara peneliti dengan BSI KCP Pinrang dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa produk pembiayaan yang menggunakan akad murabahah di BSI KCP Pinrang. Setelah nasabah menerima barang (barang) beserta dokumennya, maka nasabah berhak menyerahkan barang tersebut kepada BSI KCP Pinrang, setelah itu BSI KCP Pinrang dan nasabah mengadakan akad murabahah.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Implementasi Akad Murabahah Pada Bank Syariah Di Kabupaten Pinrang Syariah di Kabupaten Pinrang. Hakikat Akad Murabahah Pada Bank Syariah Di Kabupaten Pinrang Akad Murabahah adalah akad penyediaan barang berdasarkan sistem jual beli, dimana bank merupakan penjual yang memenuhi kebutuhan nasabah dan kepada nasabah dijual dengan harga perolehan. . ditambah keuntungan (margin) yang disepakati. Alasan KUR di BSI menggunakan akad murabahah karena dalam sistem di bank syariah, ketika kita memberikan pembiayaan kepada nasabah, skemanya memerlukan jual beli.85.

Hal ini menunjukkan bahwa, setelah pembelian barang diwakilkan oleh nasabah dan bukti pembelian diserahkan kepada bank, maka akad murabahah tetap berjalan.

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir BSI KCP PINRANG
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir BSI KCP PINRANG

Pembahasan Hasil Penelitian

Implementasi akad Murabahah di BSI KCP Pinrang telah terlaksana dengan baik. Hal ini membuktikan bahwa pemberian pembiayaan murabahah telah memenuhi landasan hukum dan fatwa DSN-MUI, baik dalam hal pemberian asuransi maupun penjaminan, yang diperbolehkan sesuai dengan Fatwa DSN MUI No.: 04/DSN-MUI/IV/2000 Tentang murabahah pada 3 .a ketentuan yang menyatakan bahwa “dibolehkan adanya jaminan dalam murabahah agar pembeli bersungguh-sungguh dalam memesannya”. Seperti halnya pada BSI KCP Pinrang, terdapat faktor atau alasan pelaksanaan akad murabahah dan akad wakalah. Hakikat Akad Murabahah Pada Bank Syariah Kabupaten Pinrang. Setiap sesuatu yang diciptakan pasti mempunyai hakikat/makna atau tujuannya masing-masing, begitu pula murabah mempunyai hakikat atau makna tersendiri, dimana hakikat dari akad murabahah ini adalah akad penyediaan barang dengan sistem jual beli, dimana pihak bank adalah penjual yang memenuhi kebutuhan pembeli dan menjual kepada pelanggan dengan harga beli ditambah keuntungan (margin) yang disepakati.

Pelaksanaan akad Murabahah di BSI KCP Pinrang diawali dengan tata cara pembiayaan, dimana nasabah yang ingin mengajukan pembiayaan Murabahah di BSI KCP Pinrang harus melengkapi seluruh tata cara yang telah ditentukan oleh BSI. Selain itu apabila nasabah ingin melunasi sebelum habis masa angsuran maka sisa kewajiban nasabah harus dilunasi.Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan akad murabahah di BSI KCP Pinrang adalah: 1) akad murabahah merupakan transaksi yang transparan. Hakikat akad murabahah adalah akad jual beli yang mana bank bertindak sebagai penjual, nasabah sebagai pembeli, dan pedagang/pengembang sebagai pemasok barang.

Jadi akad yang digunakan tidak hanya murabahah saja, namun ada juga akad wakalah sebagai akad pelengkap, yang menjadikan akad yang digunakan akad murabahah adalah wakalah. Meski akad murabahah untuk pembiayaan jual beli di BSI KCP Pinrang telah terlaksana dengan baik, namun masih ada harapan untuk lebih lanjut. Menambah sumber daya manusia yang berdedikasi pada bagian keuangan di BSI KCP Pinrang yang khusus menangani sosialisasi pembiayaan agar pembiayaan murabahah dapat terus meningkat.

Kepada seluruh jajaran untuk selalu menjaga komitmennya terhadap pengembangan prinsip syariah di BSI KCP Pinrang. BSI KCP Pinrang sebagai lembaga keuangan syariah diharapkan dapat sepenuhnya menerapkan prinsip-prinsip syariah secara menyeluruh, meskipun banyak kendala dalam menyempurnakannya.

PENUTUP

Simpulan

Untuk pengajuan pembiayaan ke BSI KCP Pinrang menggunakan agunan karena agunan ini menjadi pedoman bagi BSI jika tidak mampu membayar kewajibannya di kemudian hari dan agar nasabah merasa memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kewajibannya untuk melunasi bank dan bank. jaminan. Sedangkan untuk uang muka merupakan pengurangan harga barang yang akan dicicil kembali ke bank oleh nasabah. Faktor-faktor yang mempengaruhi akad wakalah di BSI adalah: Pertama, BSI tidak bertindak sebagai pemasok atau pemasok barang atau toko.

Dimana bank membeli barang yang diinginkan nasabah kemudian menjualnya kembali kepada nasabah dengan tambahan keuntungan yang disepakati bersama. Namun dalam praktiknya di BSI terdapat sedikit perubahan, dimana setelah nasabah mengajukan pembiayaan dan disetujui oleh bank, maka bank menggantikan nasabah untuk membeli sendiri barang yang diinginkan.

Saran

Kepada BSI KCP Pinrang agar selalu melakukan inovasi produk unggulan agar mampu bersaing dengan lembaga keuangan lainnya dan juga mengoptimalkan teknis operasional sesuai prinsip syariah. Kesenjangan Konsep dan Praktik Akad Bai’ al-Murabahah pada Perbankan Syariah di Indonesia”, Media Riset Akuntansi, 2017. Penerapan Syariah Produk Murabahah pada Bank Syariah Aceh” (Skripsi Sarjana: Jurusan Perbankan Syariah) (Ekonomi dan Bisnis Islam ) ): Banda Aceh, 2018.

Prabowo, Bagya Agung, & Jasri Bin Jamal, “Konsep dan Penerapan Akad Wakalah dalam Pembiayaan Murabahah di Perbankan Islam (Perbandingan Sistem Perbankan Syariah dan Konvensional), dikutip dari https://sef.feb.ugm.ac.id / sistem -Bank-Syariah-dan-hanya-konvensional-kondisi yang berbeda/, Pada tanggal 6 Agustus 2021 pukul 21:00 WIB Apakah dalam pengajuan pembiayaan murabahah terdapat agunan dan apakah agunan tersebut akan disita jika angsurannya bermasalah.

Bagaimana dengan asuransi/garansi yang dibebankan kepada pelanggan? apakah garansi itu barang yang sudah dimiliki atau barang yang akan dibeli. Bagaimana proses penerapan pembiayaan murabahah? yang berlangsung dari awal hingga akhir pembiayaan klien. skema).

TABEL ANGSURAN PRODUK PEMBIAYAAN DI BSI KCP PINRANG  1.  Angsuran Pembiayaan Griya KPR
TABEL ANGSURAN PRODUK PEMBIAYAAN DI BSI KCP PINRANG 1. Angsuran Pembiayaan Griya KPR

Gambar

10  Tabel Angsuran Produk Pembiayaan di BSI
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir BSI KCP PINRANG
Gambar 2.2 Skema Pembiayaan Murabahah melalui Wakalah di BSI KCP Pinrang  Dari skema di atas, tahapan pelaksanaan transaksi yang dilakukan BSI dalam  pembiayaan murabahah melalui wakalah adalah:
TABEL ANGSURAN PRODUK PEMBIAYAAN DI BSI KCP PINRANG  1.  Angsuran Pembiayaan Griya KPR

Referensi

Dokumen terkait

- Developer tidak menjamin disetujuinya permohonan KPR oleh Bank pernberi kredt Suku bunga kredit sepenuhrya ditentukan oleh bank pada saat persetujuan atau akad kredit -Apabila Bank