Apa saja faktor yang melatarbelakangi terjadinya ilusi harga pada penjualan buah-buahan di kota Palangka Raya? Bagaimana pandangan ekonomi syariah terhadap ilusi harga penjualan buah-buahan di kota Palangka Raya? Untuk mendeskripsikan dan menganalisis pandangan hukum ekonomi syariah terhadap ilusi harga pada penjualan buah-buahan di kota Palangka Raya.
Penelitian yang berjudul “Ilusi Harga Pada Penjualan Buah-buahan di Kota Palangka Raya (Perspektif Hukum Ekonomi Syariah)” merupakan suatu bentuk.
PENDAHULUAN
- Kegunaan Praktis
- Jual Beli Menurut Hukum Islam
- Akad
- Konsep Gasyisyi
- Harga
Sumber rujukan pada bab II adalah rujukan atau literatur dari buku, hasil penelitian terdahulu, artikel pada jurnal ilmiah, situs internet dan dokumentasi tertulis lainnya. Isi bab II merupakan penjelasan yang lebih menekankan pada kerangka pemikiran peneliti dalam menghasilkan variabel-variabel yang diteliti dan konteks penelitian.
METODE PENELITIAN
Tempat Penelitian
Topik dan permasalahan dalam penelitian ini ditemukan tepatnya di Jalan Cilik Riwut dan G. Obos Kota Palangka Raya. Dengan pendekatan ini, penulis akan memperoleh informasi dari berbagai sudut pandang mengenai permasalahan yang ingin dicari jawabannya. 111 Metode pendekatan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sejarah, pendekatan uṣūl fiqh dan pendekatan fiqh. Pendekatan historis ini diperlukan jika peneliti yakin bahwa wahyu filosofis dan cara berpikir ketika sesuatu dipelajari benar-benar relevan untuk masa kini. 112 Dalam pendekatan historis ini, peneliti mengungkap alasan terjadinya ilusi harga saat menjual buah di kota. Palangka Raya.
Pelaku usaha (pedagang buah) yang melakukan ilusi harga pada saat menjual buah minimal 1 tahun. Pelaku usaha (pedagang buah-buahan), di pinggir jalan, di pinggir Jalan Cilik Riwut dan G.Obos, kota Palangka Raya. Alasan peneliti memilih kriteria subjek di atas karena subjeknya adalah seorang pelaku usaha (pedagang buah) yang melakukan ilusi harga dalam penjualannya.
Dimana peneliti memilih lokasi penjual buah-buahan yang berjualan di pinggir Jalan Cilik Riwut dan Jalan G. Obos Kota Palangka Raya. Dalam penelitian ini, peneliti juga mengumpulkan informasi tambahan dari tiga peneliti berinisial IM, SW dan MZ yaitu konsumen yang merasa tertipu dengan ilusi harga di penjualan buah pinggir jalan. Kemudian jumlah subjeknya adalah 3 (tiga) orang yang berjualan di pinggir Jalan Cilik Riwut dan Jalan G. Obos Kota Palangka Raya, dengan menggunakan metode snowball sampling.
Wawancara terbagi menjadi dua jenis, yaitu wawancara terstruktur118 dan wawancara tidak terstruktur.119 Jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur atau terbimbing, yang mana penulis menentukan masalah dan pertanyaan yang akan diajukan.120. Dalam rangka mengungkap ilusi harga pada penjualan buah-buahan di kota Palangka Raya, maka pertanyaan yang diajukan dalam wawancara pada penelitian ini adalah:
Observasi
Moleong mengelompokkan observasi menjadi dua jenis, yaitu observasi partisipan dan observasi non partisipan. Mengamati melibatkan pemenuhan dua peran secara bersamaan, yaitu sebagai pengamat dan sekaligus menjadi anggota resmi kelompok yang diamati.124. Peneliti mencoba mengetahui lebih jauh mengenai ilusi harga yang dilakukan oleh pedagang buah-buahan dengan menggunakan berbagai bentuk dan penulisan harga.
Peneliti mengamati dan memperhatikan ekspresi penjual buah yang menjual dengan ilusi harga dan mengamati ekspresi konsumen yang membeli buah dengan ilusi harga.
Dokumentasi
Sehubungan dengan penelitian tersebut, peneliti mengumpulkan data dari responden mengenai ilusi harga pada penjualan buah-buahan di kota Palangka Raya (perspektif hukum ekonomi syariah). 130Siti Mushbihah, “Pembagian Harta Warisan Dengan Undian (Studi di Desa Cempaka Mulia Barat Kecamatan Cempaga Kabupaten Kotawaringin Timur)” (Skripsi-IAIN Palangka Raya: Palangka Raya, 2016), diIAIN Palangka Raya. Dalam penelitian ini berarti peneliti memperoleh data tentang ilusi harga dalam penjualan buah-buahan di kota Palangka Raya (perspektif hukum ekonomi syariah) dan menjelaskan apa adanya, maka apa yang dianggap tidak sesuai atau kurang sahih akan dihilangkan atau tidak disertakan dalam pembahasan.
Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan penelitian ini, peneliti menjelaskan secara ilmiah data ilusi harga dalam penjualan buah-buahan di kota Palangka Raya (perspektif hukum ekonomi syariah) tanpa menyembunyikan kekurangannya. Penjualan buah-buahan di Palangka Raya (dari sudut pandang hukum ekonomi syariah) tidak menyimpang dari data yang dianalisis. 135 Portal Resmi Pemerintah Kota Palangka Raya, "Swjarah Palangka Raya", di https://palangkaraya.go.id/selayang-pandang/histori-palangka-raya/ (2 Juni 2020).
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1958. Ibu kota provinsi yang dulunya Pahandut diubah namanya menjadi Palangka Raya.136. kemudian ditetapkan letak dan kedudukan Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah akan dipindahkan dari Banjarmasin ke Palangka Raya terhitung tanggal 20 Desember 1959. Selanjutnya terhitung tanggal 20 Juni 1962, Kabupaten Palangka Raya Persiapan Khusus Kotamadya Palangka Raya dipimpin oleh W. Coenrad selaku Ketua Pemerintahan Administratif Kota 140 Palangka Raya.
Kemudian pasukan terjun payung membawa lambang Kotamadya Palangka Raya ke lapangan upacara dalam parade jalan kaki. Pada hari ini, berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Gubernur Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah, Bapak. Tjilik Riwut diangkat menjadi Penguasa Kota Palangka Raya dan Menteri Dalam Negeri. Lambang Kota Palangka Raya dipersembahkan untuk hal tersebut.
Gambaran Umum dan Letak Geografis Kota Palangka Raya
Apabila pengkaji bertanya kepada subjek N tentang bentuk dan jenis tulisan dalam kemasukan harga buah-buahan yang anda buat. Apabila pengkaji bertanya kepada subjek A tentang bentuk dan tempat tulisan yang berbeza dalam dimasukkan harga buah yang anda buat?. Apabila pengkaji bertanyakan kepada subjek RR tentang bentuk dan tempat tulisan yang berbeza dalam kemasukan harga buah yang anda buat.
Peneliti kemudian menanyakan bagaimana Anda menjelaskan ilusi harga dalam penjualan buah Anda kepada konsumen. Ketika peneliti menanyakan kepada subjek I tentang bentuk dan perbedaan tempat menulis ketika menyebutkan harga buah yang dibuat. Ketika peneliti menanyakan kepada subjek R tentang bentuk dan perbedaan tempat penulisan saat menyatakan harga buah yang dibuat?
Lalu peneliti menanyakan bagaimana cara menjelaskan kepada konsumen mengenai ilusi harga pada penjualan buah yang Anda lakukan? Ketika peneliti menanyakan kepada subjek AA tentang bentuk dan macam-macam tempat tulisan pada saat harga buah yang dibuat dicantumkan. Pada wawancara kedua yaitu pada topik penelitian berinisial A. Peneliti menanyakan bagaimana ilusi harga pada penjualan buah anda?
Ilusi harga di obral buah yang saya jual biasa saja, cantumkan jualan buah dengan harga murah, jika mencantumkan harga dengan harga tinggi maka tidak akan ada yang membeli). Saat peneliti menanyakan pada subjek I, peneliti menanyakan apa yang menjadi ilusi harga pada penjualan buah anda. Kemudian subjek penelitian kelima yaitu R. Peneliti bertanya, apa yang terjadi dengan ilusi harga pada penjualan buah anda?
Menurut pendapat peneliti dapat disimpulkan adanya praktek ilusi harga dalam penjualan buah-buahan yang dilakukan pedagang dengan.
Faktor Yang Melatarbelakangi Adanya Ilusi Harga
Menurut Ny. R juga tahu harus ada transparansi dan kejujuran harga, namun ia tetap melakukan ilusi harga saat menjual buah. Menurut pendapat peneliti, dapat disimpulkan bahwa faktor yang melatarbelakangi ilusi harga dalam penjualan buah ini antara lain. Para pedagang buah percaya bahwa mencantumkan harga buah yang murah atau ilusi harga dapat membuat calon pembeli tertarik untuk membeli.
Jaha>lah (ketidaktahuan), disini yang dimaksud adalah ketidakjelasan pedagang buah terhadap konsumen dalam mencantumkan harga buah, dalam artian pedagang buah hanya mencantumkan harga buah yang murah sehingga membodohi konsumen dengan ilusi harga yang dibuat oleh pedagang buah. Berbohong atau berspekulasi di sini yang dimaksud adalah tindakan pedagang buah yang tidak jujur terhadap harga buah yang dijualnya. Tujuan lain di sini berarti pedagang buah-buahan menggunakan harga sebagai alat strategis dalam perdagangan untuk menarik konsumen.
Penetapan harga markup di sini maksudnya pedagang buah memberi harga pada barangnya dengan cara membeli buah dari bos buah dan menjualnya kembali setelah terlebih dahulu ditambah biayanya. Tingkat harga yang dimaksud di sini adalah pedagang buah-buahan mengenakan harga yang sama, lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan dengan harga pesaing utama. Ketika harga berfluktuasi, pedagang buah dapat menetapkan harga buahnya sendiri, dengan mempertimbangkan biaya seperti transportasi atau jasa perantara.
Harga buah yang dijual berdasarkan kualitasnya, jika kualitasnya bagus maka harganya pasti mahal, sedangkan jika kualitasnya kurang bagus tentu harganya lebih murah, namun yang dilakukan pedagang buah disini adalah menciptakan harga. ilusi sehingga konsumen tertipu. Menurut hemat peneliti, berdasarkan uraian di atas, faktor adanya ilusi harga pada penjualan buah-buahan di kota.
Pandangan Hukum Ekonomi Syariah Terhadap
Palangka Raya telah melanggar syarat-syarat sah jual beli dalam akad dan perjanjian, namun syarat-syarat jual beli dan akad telah dipenuhi, sehingga dapat dikatakan sah walaupun menimbulkan rasa ketidakpuasan di kalangan konsumen. Dalam penentuan harga buah dapat dikatakan konsisten dengan strategi penentuan harga dalam bauran pemasaran, pendapatan yang seluruh unsurnya hanya mewakili harga saja. Berdasarkan ayat tersebut beliau menjelaskan bahwa jual beli tanpa mengindahkan ketentuan Hukum Ekonomi Syariah tidak diperbolehkan dan tidak sah, karena terdapat penipuan dan penipuan serta saling menjatuhkan. Dalam jual beli menurut Hukum Ekonomi Syariah harus mempunyai asas ijab kabul, asas keadilan, asas kejujuran, asas kepuasan, asas gotong royong, asas bermanfaat, dan asas tidak untung. . dilarang.
Dalam muamelah terdapat ciri-ciri jual beli yang dilarang yaitu jual beli yang mengandung garar dan ghasyisii. Selain termasuk dalam syarat sahnya juga termasuk dalam syarat luzum yaitu ketika pembeli mengetahui penjual buah melakukan ilusi harga dan setelah melihat buah yang dijual murah sudah tidak bagus lagi. kualitas, pembeli mempunyai hak untuk melanjutkan penjualan atau membatalkannya, berdasarkan penelitian para informan yang merasa tertipu dengan ilusi harga pada saat menjual buah, ada yang memilih tetap membeli dan ada pula yang memilih membatalkan jual beli. Berdasarkan penjelasan sebelumnya mengenai praktek ilusi harga dalam penjualan buah-buahan di Kota Palangka Raya, maka peneliti menggunakan teori qiyas dalam analisisnya.
Maksudnya di sini adalah menyeimbangkan antara jebakan harga saat jual beli dan ilusi harga saat jual beli. Faktor yang melatarbelakangi terjadinya ilusi harga pada penjualan buah di kota Palangka Raya adalah agar konsumen tertarik untuk membeli, lokasi. Jual beli dengan ilusi harga tetap sah karena kaidah jual beli terpenuhi, meskipun menimbulkan ketidakpuasan konsumen.
Dalam jual beli dan mempelajari hukum ekonomi syariah, sudah selayaknya para pelaku usaha atau pedagang buah-buahan menerapkan unsur syarat hukum dalam jual beli serta memperhatikan transparansi harga dan kejujuran serta etika dalam bisnis syariah. Jual Beli Tanpa Label Harga Dalam Perspektif Hukum Perlindungan Konsumen dan Hukum Islam (Studi pada Rumah Makan di Kota Palangka Raya).