• Tidak ada hasil yang ditemukan

skripsi - Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "skripsi - Repository"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

Judul Skripsi: Tinjauan Islam Budaya Mappande sasi di Desa Ujung Labuang Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang. Judul Skripsi: Tinjauan Islam Budaya Mappande sasi di Desa Ujung Labuang Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang. INDRIANI, Tinjauan Islam Budaya Sasi Mappande di Desa Ujung Labuang Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang (dibimbing oleh Muhamed Jufri dan Dr. Iskandar.

  • Latar Belakang
  • Rumusan Masalah
  • Tujuan Penelitian
  • Kegunaan penelitian

Suku Mandar di Desa Ujung Labuang merupakan salah satu daerah pesisir yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Oleh karena itu salah satu tradisi tradisional suku Mandar yang masih dilestarikan di Desa Ujung Labuang yaitu budaya sasi Mappande. Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin mengetahui bagaimana Islam ditinjau dalam budaya sasi Mappande. Penelitian ini diberi judul: “Tinjauan Islam terhadap Budaya Sasi Mappande di Desa Ujung Labuang Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang”.

  • Tinjauan Penelitian Terdahulu
  • Tinjauan teoretis
  • Tinjauan Konseptual
  • Bagan Kerangka Pikir

4Risnayanti, Implementasi Nilai-Nilai Hukum Islam Dalam Budaya Mappande Sasi Dalam Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Di Desa Ujung Labuang, (Skripsi; Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam: STAIN Parepare, 2017). Umum dan abstrak karena nilai-nilai tersebut merupakan ukuran umum terhadap apa yang diinginkan atau dianggap baik. Biasanya stabil, sulit diubah karena nilai-nilai yang dijalani sudah melembaga atau mengakar di masyarakat.

  • Jenis Penelitian
  • Pendekatan Penelitian
    • Pendekatan Historis
  • Lokasi dan waktu penelitian
  • Metode keabsahan data
  • Fokus penelitian
  • Jenis dan sumber data yang digunakan
  • Tekhnik Pengumpulan Data
  • Teknik Analisi Data

Data tersebut bersifat subjektif dan melibatkan persepsi dan keyakinan peneliti dan subjek. Data dalam penelitian kualitatif berbentuk kata-kata dan dianalisis dalam bentuk tanggapan dan kesimpulan deskriptif individu atau kedua-duanya.36. Dalam penelitian lain disebutkan bahwa penelitian kualitatif deskriptif berarti data yang dikumpulkan berbentuk kata-kata dan gambar, bukan angka. Temuan penelitian tertulis berisi kutipan dari data untuk menggambarkan dan memberikan bukti pencapaian. Data tersebut meliputi transkrip wawancara, catatan lapangan, foto, rekaman video, dokumen pribadi, catatan dan rekaman resmi lainnya.37.

Pendekatan sejarah diperlukan dalam pemahaman agama, karena agama itu sendiri muncul dari situasi konkrit bahkan berkaitan dengan kondisi sosial.Pendekatan sejarah hanya sebatas pada aspek lahiriah dan lahiriah dari keberagaman umat manusia, serta tidak terlalu memahami, mendalami dan menyentuh aspek batin-eksoteris dan makna terdalam, serta moralitas yang terkandung dalam ajaran agama itu sendiri. Dalam penelitian ini penulis meneliti Desa Ujung Labuang Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang yang mana fokus penelitiannya adalah pada kegiatan budaya Mappande Sasi. Data yang diperoleh langsung dari masyarakat setempat, baik dilakukan melalui wawancara, observasi, dan alat lainnya, merupakan data primer. 46 Data primer diperoleh dari hasil wawancara terhadap informan yang dipilih dalam penelitian dan dengan observasi atau pengamatan langsung di lokasi penelitian.

Data sekunder merupakan sumber data yang tidak langsung diberikan kepada pengumpul data melainkan melalui orang lain atau dokumen. 47 Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti dari berbagai sumber data yang ada (pemohon sebagai sekunder). diambil dari berbagai sumber buku, laporan dan jurnal. Observasi merupakan kegiatan mencari data yang dapat digunakan untuk memberikan suatu kesimpulan atau diagnosis.48. Dokumentasi adalah suatu cara pengumpulan data yang menghasilkan catatan-catatan penting berkaitan dengan masalah yang diteliti guna memperoleh data yang lengkap, valid, dan tidak bersifat evaluatif.51.

Data yang dikumpulkan dimulai dari catatan lapangan dan komentar peneliti, gambar, foto, dokumen berupa laporan dan sebagainya.52.

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Setelah terpilihnya Kepala Desa, maka peralihan jabatan dilanjutkan oleh Kepala Desa terpilih yaitu Bapak. Desa Ujung Labuang termasuk dalam wilayah Kecamatan Suppa dengan luas 227 Ha di Desa Ujung Labuang. Namun, meskipun potensi wilayahnya besar, masih banyak potensi sumber daya alam yang belum tergarap pada tahap ini. Jarak tempuh dari ibu kota kecamatan sekitar 17 kilometer, sebagian jalan utama sudah baik karena sudah diperbaiki, sedangkan sebagian jalan di Desa Ujung Labuang masih rusak parah dan ada juga yang sudah dibeton. dibuat. Namun belum mampu menjangkau seluruh wilayah desa sehingga masyarakat masih kesulitan untuk mengangkut hasil pertanian.

Desa Ujung Labuang merupakan salah satu dari 10 desa dan kelurahan di wilayah Kecamatan Suppa, terletak ± 17 (tujuh belas) km dari Ibu Kota Kecamatan Suppa dan ± 39 (tiga puluh sembilan) km dari Ibu Kota Kecamatan Pinrang.

Tabel 1. Batas Wilayah desa Ujung Labuang
Tabel 1. Batas Wilayah desa Ujung Labuang

Sejarah budaya Mappande sasi

Kemudian mereka memakannya bersama-sama, karena pada saat itu para nelayan tidak mendapatkan ikan apa pun, sehingga mereka mempraktikkan budaya sasi Mappande agar dapat menangkap banyak. Sasi Bacong Mappande pertama kali diadakan di desa Tulu dimana salah satu nelayan bermimpi didatangi seekor ikan yang berbicara kepada nelayan tersebut untuk melakukan budaya sasi Mappande dengan mempersembahkan beberapa sesaji. Dan masyarakat pada saat itu percaya bahwa dengan menjaga budaya Mappande mereka akan mendapatkan hasil tangkapan yang banyak.

Seingat saya, orang pertama yang mempunyai budaya mappande sasi di kampung Tulu melakukannya supaya mereka mendapat banyak ikan. Jadi, menurut Pak Mahyuddin, budaya Mappande Sasi pertama kali dianjurkan di kampung Tulu, oleh pa'jala (nelayan yang menangkap ikan dengan pukat), budaya itu diamalkan supaya hasil tangkapan mereka banyak. Kerana pada masa itu mereka sangat percaya bahawa dengan melaksanakan budaya Mappande mereka akan mendapat banyak tangkapan.

Menurut Pak. Bahtiar, budaya sasi Mappande sudah diturunkan dari nenek moyang dan menjadi adat istiadat masyarakat desa Ujung Labuang. Dalam melaksanakan budaya sasi Mappande, niat dan tindakan harus diutamakan. Jadi menurut Pak. Bahtiar, budaya sasi Mappande sudah turun temurun dari nenek moyang dan menjadi adat masyarakat di desa Ujung Labuang yang masih dilakukan hingga saat ini. Menurut Pak. Da'amin, pelaksanaan budaya sasi Mappande di desa Ujung Labuang tidak lagi seperti tempat-tempat lain yang melaksanakan budaya sasi Mappande yang masih sangat sakral yaitu seperti orang-orang zaman dulu dalam pelaksanaan budaya sasi Mappande tersebut, yang masih menawarkan penawaran, tapi di desa.

Setelah desa Lero dan desa Ujung Labuang dipisahkan, karena pada awalnya desa Lero dan Ujung Labuang merupakan satu desa, maka masyarakat desa Ujung Labuang tetap menjalankan budaya tersebut dengan menyebutnya sebagai Festival Nelayan, yaitu acara syukuran para nelayan dan bukan lagi budaya sasi Mappande. pelaksanaan niat budaya mappande sasi inilah yang harus diutamakan.

Proses Pelaksanaan Budaya Mappande sasi

Dan pada hari pementasannya, doa syukur dibacakan di setiap kapal disertai pembacaan doa keselamatan. Menurut Pak Daamino, ada dua kali doa syukur yang dibacakan dalam pelaksanaan budaya Mappande Sasi, yang pertama dalam pelaksanaan budaya Mappande Sasi, pembacaan doa Barazanja akan dilakukan di rumah salah satu kepala suku yang dipanjatkan. diusulkan oleh tokoh masyarakat dan tokoh agama pada saat diskusi. Kedua, pembacaan doa syukur pada hari pelaksanaan budaya Mappande Sasi di setiap kapal dengan pembacaan doa keselamatan.

Selain pembacaan doa syukur, para istri nelayan akan menyiapkan segala makanan yang nantinya akan disantap bersama di atas perahu pada hari budaya sasi Mappande. Ya, sebagai istri kepala suku, ketika kita menerapkan budaya sasi Mappande, jika rumah kita sedang ditempati oleh pembacaan doa syukur, biasanya kita akan mengajak tetangga untuk datang ke rumah untuk ma'dawa-dawa dan mempersiapkan segala sesuatunya. Menurut Ibu Diana selaku istri nakhoda kapal, dalam pelaksanaan budaya sasi Mappande, dilakukan dua kali dawa-dawa (kegiatan memasak bersama dalam budaya Mandar) yang dilakukan oleh istri nelayan di rumah salah satu nakhoda kapal. nakhoda kapal yang dipilih pada saat musyawarah, yang meliputi pembacaan doa syukur, dan juga menyiapkan segala makanan yang nantinya akan dibawa ke kapal pada hari pelaksanaan budaya ini.

Pada hari pelaksanaan budaya sasipara Mappande, perahu nelayan harus berbaris sesuai nomor seri perahu. Menurut Pak Bahtiar, pada Hari Kebudayaan Mappande Sasi ini, seluruh kapal akan dijajarkan sesuai nomor seri yang akan ditentukan oleh Panitia Pelaksana Kebudayaan Sasi Mappande pada saat konsultasi. Nilai-nilai sosial dapat dicermati dalam budaya Mappande Sasi, antara lain mempererat dan memelihara hubungan persahabatan antar anggota masyarakat.

Dalam pelaksanaan budaya sasi Mappande, dilakukan dua kali doa syukur, pertama di rumah salah satu nakhoda kapal, sedangkan doa Barazanji dibacakan oleh tokoh agama, tokoh masyarakat, dan nakhoda kapal.

Tinjauan Islam Terhadap Budaya Mappande sasi

Gotong royong merupakan kegiatan masyarakat untuk bekerja sama, dalam penerapan budaya sasi Mappande diperlukan kerjasama yang baik antar individu maupun individu lainnya. Sasi Mappande merupakan wujud rasa syukur masyarakat nelayan kepada Allah SWT yang telah memberikan makanan dan keselamatan untuk mencari nafkah, dan pada hari budaya sasi Mappande, keluarga akan datang ke desa Ujung Labuang hanya untuk ikut bersenang-senang. 66. Implementasi budaya sasi Mappande merupakan implementasi yang berisi ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT.

Dengan menerapkan budaya sasi Mappande dengan membaca dua doa syukur dan mengajak keluarga untuk datang dan berpartisipasi dalam perwujudan budaya tersebut. Berdasarkan wawancara yang dilakukan penulis dengan Bapak Erwin dan Ibu. Diana, sebagai persiapan pelaksanaan budaya sasi Mappande, para nelayan akan mendekorasi perahunya semenarik mungkin dengan dibantu oleh masyarakat dan remaja. Dalam hal ini menunjukkan bahwa dalam proses penerapan budaya Mappande terdapat nilai gotong royong untuk saling membantu.

Selain mempersiapkan pelaksanaan budaya sasi Mappande, masyarakat nelayan di desa Ujung Labuang akan mengundang kerabat dan keluarga di luar desa Ujung Labuang. Orang-orang dari luar sangat menyukai budaya ini. Mereka bahkan mengajak temannya berbondong-bondong ke Desa Ujung Labuang untuk merasakan budaya sasi mappande. Dalam hal ini menunjukkan bahwa dalam proses penerapan budaya sasi Mappande terdapat nilai gotong royong yang membantu sesama manusia. Dan masyarakat di Ujung Labuang akan memanggil kerabatnya untuk hadir. Dalam budaya sasi Mappande, masyarakat dari luar Desa Ujung Labuang akan berbondong-bondong datang ke Desa Ujung Labuang dengan mengajak temannya naik kapal.

Dalam hal ini kebudayaan Mappande menjadi sarana silaturahmi dengan masyarakat Sasi. Dengan diterapkannya budaya Mappande Sasi maka terjalin silaturahmi dan mempererat tali persaudaraan.

Kesimpulan

Saran

Pengaturan, Tesis Sarjana; Fakultas Ekonomi Syariah dan Islam : STAIN Parepare. Perilaku komunikasi ritual nelayan dalam tradisi festival Laut Nadran di Pelabuhan Karangantu, (tesis sarjana;

Gambar

Tabel 1. Batas Wilayah desa Ujung Labuang
Tabel 3. Pendidikan di desa Ujung Labuang
Tabel 5.Mata Pencaharian penduduk desa Ujung Labuang
Tabel 4. Agama / Aliran Kepercayaan
+2

Referensi

Dokumen terkait

1-71 Ambon, April 2009 ISSN 1693-6493 VALUASI EKONOMI WISATA SANTAI BEACH DAN PENGARUHNYA DI DESA LATUHALAT KECAMATAN NUSANIWE STRUKTUR MORFOLOGIS KEPITING BAKAU Scylla