SKRIPSI
HUBUNGAN POLA MAKAN DAN SIKAP IBU DENGAN KEJADIAN GIZI KURANG PADA BALITA
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TOSIBA KABUPATEN KOLAKA
TAHUN 2024
SRI WAHYUNI
NIM. B.230.63.63
PROGRAM STUDI SARJANA KEBIDANAN FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS MEGA BUANA PALOPO
2024
PERNYATAAN SIAP UJIAN SKRIPSI
HUBUNGAN POLA MAKAN DAN SIKAP IBU DENGAN KEJADIAN GIZI KURANG PADA BALITA
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TOSIBA KABUPATEN KOLAKA
TAHUN 2024
SRI WAHYUNI B.2306363
Palopo, 2024
Tim Pembimbing
( Bd. Andi Fatimah Jamir,S.SIT.,SKM.,M.Kes. ) NIDN.0906068501
PERNYATAAN PERSETUJUAN
“Hubungan Pola Makan Dan Sikap Ibu Dengan Kejadian Gizi Kurang Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Tosiba Kabupaten Kolaka
Tahun 2024”
SRI WAHYUNI NIM. B.230.63.63
Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi dan telah dilakukan revisi akhir serta memenuhi kriteria uji similarity sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana S1 Kebidanan pada Program Studi Sarjana S1 Kebidanan Fakultas Kesehatan
Palopo, …. 2024 Pembimbing Utama
( Bd. Andi Fatimah Jamir,S.SIT.,SKM.,M.Kes. ) NIDN.0906068501
Mengetahui, Ketua Program Studi
Yuniar Dwi Yanti, S.ST.,M.Keb NIP. 091306881304
LEMBAR PENGESAHAN
“Hubungan Pola Makan Dan Sikap Ibu Dengan Kejadian Gizi Kurang Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Tosiba Kabupaten Kolaka
Tahun 2024”
SRI WAHYUNI NIM. B.230.63.63
Telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Pada tanggal, …… 2024
Tim Penguji
Pembimbing : Bd. Andi Fatimah Jamir,S.SIT.,SKM.,M.Kes(
Penguji :Nur Asphina R.Djano,SKM.,MM. (...………..…)
Skripsi ini dinyatakan memenuhi salah satu syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana S1 Kebidanan pada Program Studi Sarjana S1 Kebidanan Fakultas Kesehatan Universitas Mega Buana Palopo
Palopo, ……2024 Mengetahui, Ketua Program Studi
Yuniar Dwi Yanti, S.ST.,M.Keb NIP. 091306881304
PERYATAAN KEASLIAN
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : SRI WAHYUNI
NIM : B.230.63.63
Program Studi : S1 Kebidanan
Menyatakan dengan sesungguhnya, bahwa skripsi saya yang berjudul:
“Hubungan Pola Makan Dan Sikap Ibu Dengan Kejadian Gizi Kurang Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Tosiba Kabupaten Kolaka
Tahun 2024”
Adalah benar-benar karya tulisan saya sendiri, bukan merupakan hasil karya orang lain, dalam skripsi ini tidak ada terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang sepengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis diacu dan disitasi dalam naskah skripsi serta dituliskan dalam daftar pustaka.
Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan isi skripsi ini hasil karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.
Palopo, ……2024 Yang Menyatakan
SRI WAHYUNI
ABSTRAK
Hubungan Pola Makan Dan Sikap Ibu Dengan Kejadian Gizi Kurang Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas
Tosiba Kabupaten Kolaka Tahun 2024
SRI WAHYUNI
Latar Belakang Gizi kurang merupakan salah satu penyakit akibat gizi yang masih merupakan masalah di Indonesia. Masalah gizi pada balita dapat memberi dampak terhadap kualitas sumber daya manusia, sehingga jika tidak diatasi dapat menyebabkan lost generation. World Health Organization (WHO) Berdasarkan data Balita yang memiliki tinggi badan dan berat badan ideal ( BB/TB normal) jumlahnya 61,1%. Masih ada 38,9% balita di Indonesia yang masih mengalami masalah gizi, terutama balita dengan tinggi badan dan berat badan (pendek – normal) sebesar 23,4% yang berpotensi akan mengalami kegemukan Tujuan:
Untuk mengetahui hubungan pola makan dan sikap ibu dengan kejadian gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Tosiba kabupaten Kolaka Tahun 2024.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sempel dalam penelitian ini adalah balita umur 12-59 tahun sejumlah 32 balita. Pengumpulan data dilakukan menggunakan lembar kuesioner dan lembar observasi. Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah dan dianalisis menggunakan SPSS versi 22 dan dianalisa menggunakan uji Chi- Square. Hasil: Analisa data menggunakan uji Chi-Square yaitu didapatkan ρ=0,001<dari α=0,05, ini berarti HO ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian terdapat hubungan pola makan balita dengan kejadian gizi kurang dan uji yaitu didapatkan ρ=0,009<dari α=0,05, ini berarti HO ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian terdapat hubungan sikap ibu dengan kejadian gizi kurang Kesimpulan:
hubungan pola makan dan sikap ibu dengan kejadian gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Tosiba Kabupaten Kolaka tahun 2024.
Kata Kunci: Gizi Kurang, Pola Makan, Sikap Ibu
ABSTRACT
The Relationship Between Eating And Attitude Of The Mother With The Incidence Of Lack Nutrition In Toddlers In The Working
Area Of Puskesmas Tosiba, Kolaka District Year 2024
SRI WAHYUNI
Background: Malnutrition is a disease caused by nutrition which is still a problem in Indonesia. Nutritional problems in toddlers can have an impact on the quality of human resources, so that if they are not addressed they can cause a lost generation. World Health Organization (WHO) Based on data from toddlers who have ideal height and weight (normal weight/height), the number is 61.1%. There are still 38.9% of toddlers in Indonesia who are still experiencing nutritional problems, especially toddlers with height and weight (short - normal) of 23.4%
who have the potential to be overweight. Purpose: To determine the relationship between diet and mother's attitude with incidence malnutrition in the working area of the Tosiba Health Center, Kolaka district, in 2024. Methods: This research is an analytic descriptive study with a cross-sectional approach. The sample in this study were toddlers aged 12-59 years with a total of 32 toddlers. Data collection was carried out using questionnaires and observation sheets. The data that has been collected is then processed and analyzed using SPSS version 22 and analyzed using the Chi-Square test. Results: Data analysis used the Chi-Squar test, which obtained ρ=0.001<from α=0.05, this means that HO is rejected and Ha is accepted. Thus there is a relationship between toddler eating patterns and the incidence of malnutrition and the Chi-Squar test is obtained ρ = 0.009 <from α = 0.05, this means that HO is rejected and Ha is accepted. Thus there is a relationship between the mother's attitude and the incidence of malnutrition.
Conclusion: the relationship between diet and mother's attitude with the incidence of malnutrition in the working area of the Tosiba Health Center, Kolaka Regency, in 2024.
Keywords: Malnutrition, Diet, Mother's Attitude
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...i
PERNYATAAN SIAP UJIAN PROPOSAL...ii
DAFTAR ISI...iii
KATA PENGANTAR...v
DAFTAR TABEL... vii
DAFTAR GAMBAR... viii
DAFTAR LAMPIRAN...ix
DAFTAR SINGKATAN...x
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1
B. Rumusan Masalah...4
C. Tujuan Penelitian...4
D. Manfaat Penelitian...4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Tentang Gizi Kurang...7
B. Tinjauan Umum Tentang Pola Makan...15
C. Tinjauan Umum Tentang Sikap Ibu...19
D. Kerangka Konsep...27
E. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif...27
F. Hipotesis Penelitian………28
BAB III METODELOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian...30
B. Tempat dan Waktu Penelitian...30
C. Populasi dan Sampel Penelitian...30
D. Instrument Penelitian...32
E. Pengumpulan Data... 32
F. Pengolahan Data dan Penyajian Data...33
G. Analisa Data...34
H. Etika Penelitian...35
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian...…...30
B. Hasil Penelitian...…...31
C. Pembahasan………34
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan...38
B. Saran... 38
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Definisi Operasional dan Kriteria Objektif………..vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar Judul Halaman
Tabel 2.1 Daftar Angka kecukupan gizi (AKG) Per Orang
Per Hari yang dianjurkan……… 18 Table 3.1 Definisi Oprasional……….. 23 Tabel 4.1 Luas Wilayah, Jarak dan Waktu Tempuh desa/kelurahan Kec.
Puskesmas Tosiba……… 34 Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Ibu Balita Berdasarkan Umur Di
Puskesmas Tosiba Tahun 2024 ………... 34 Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Pendidikan Ibu ………... 35 Tabel 4.4 Distribusi frekuensi responden berdasarkan Status Gizi……... 36 Tabel 4.5 Distribusi frekuensi Sikap Ibu Balita ……… 37 Tabel 4.6 Distribusi frekuensi responden berdasarkan Pola Makan……….. 38 Table 4.7 hubungan pola makan balita dengan kejadian gizi kurang
di wilayah kerja Puskesmas Tosiba Kabupaten Kolaka
Tahun 2024………. 38 Table 4.8 hubungan sikap ibu dengan kejadian gizi kurang di
wilayah kerja Puskesmas Tosiba Kabupaten Kolaka Tahun 2024……… 39
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I Lembar Persetujuan Menjadi Responden Lampiran II Lembar Pemantauan
Lampiran III Surat Penelitian
Lampiiran IV Surat Balasan Penelitian Lampiran V Master Tabel
Lampiran VI Hasil Uji SPSS
Lampiran VII Dokumentasi Kegiatan
DAFTAR SINGKATAN
ASI : Air Susu Ibu
AKG : Angka kecukupan gizi BBL :Bayi Baru Lahir
JKN : Jaminan Kesehatan Nasional JAMPERSAL : Jaminan Persalinan Universal KIE : Komunikasi Informasi dan Edukasi HPK : Hari Pertama Kehidupan
WHO : World Health ganization
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa dan rahmat serta ridho- Nya kepada penulis sehingga dapat meyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Hubungan Pola Makan Dan Sikap Ibu Dengan Kejadian Gizi Kurang di Wilayah Kerja Puskesmas Tosiba Kabupaten Kolaka Tahun 2024”.
Penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua untuk dukungan moril dan materil yang diberikan. Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini jauh dari kesempurnaan disebabkan terbatasnya pengetahuan yang dimiliki oleh penulis olehnya itu dengan rendah hati mengharapkan saran dan kritik.
Ucapan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat:
1. Bapak H. Rahim Munir Said, SP., MM selaku Pembina Yayasan Pendidikan Mega Buana.
2. Ibu Dr. Hj. Nilawati Uly, S.Si., Apt., M.Kes selaku Rektor Universitas Mega Buana Palopo.
3. Bapak Indra Amanah AN, SKM., MPH selaku Wakil Rektor I Bidang Akademik.
4. Ibu Evawati Uly, S.Farm., Apt., MM selaku Wakil Rektor II Bidang Keuangan dan SDM.
5. Bapak Suwandi N,SKM.,M.PH selaku Wakil Rektor III Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama.
6. Ibu Yuniar Dwi Yanti, S.ST.,M.Keb selaku Ketua Program Studi Sarjana Terapan Kebidanan.
7. Ibu Dewi Hastuti, S.Tr.Keb., M.Keb Selaku Ketua Program Studi Kebidanan Universitas Mega Buana Palopo.
8. Ibu Bd.Andi Fatimah Jamir, S.SIT., SKM.,M.Kes.,Selaku Pembimbing Akademik saya dalam Penyusunan Proposal ini sehingga dapat terselesaikan dengan baik.
9. Ibu Nur Asphina R.DJano,SKM.,MM Selaku Penguji.
10. Hj. Martha Kamma, S.ST Selaku Pimpinan Lokasi Penelitian.
Yang tak lupa pula untuk saudara, teman-teman serta seluruh keluarga yang telah membantu dan memberikan motivasi sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.
Akhir kata semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan rahmat, berkat dan karuniaNya kepada kita semua dan memberikan imbalan yang setimpal atas semua jerih payah dari pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan kepada penulis serta senantiasa menambah ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang selalu bersyukur.
Kolaka, September 2024 Penulis
SRI WAHYUNI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gizi kurang merupakan salah satu penyakit akibat gizi yang masih merupakan masalah di Indonesia. Masalah gizi pada balita dapat memberi dampak terhadap kualitas sumber daya manusia, sehingga jika tidak diatasi dapat menyebabkan lost generation (generasi yang hilang). Kekurangan gizi dapat mengakibatkan gagal tumbuh kembang, meningatkan angka kematian dan kesakitan serta penyakit terutama pada kelompok usia rawan gizi yaitu balita.(Fatonah 2020)
. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) Berdasarkan data Balita yang memiliki tinggi badan dan berat badan ideal ( BB/TB normal) jumlahnya 61,1%. Masih ada 38,9% balita di Indonesia yang masih mengalami masalah gizi, terutama balita dengan tinggi badan dan berat badan (pendek – normal) sebesar 23,4% yang berpotensi akan mengalami kegemukan. Prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada balita terdapat 3,4% balita dengan gizi buruk dan 14,4% gizi kurang. Masalah gizi kurang pada balita di Indonesia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masuk dalam kategori sedang. Indikator WHO diketahui masalah gizi kurang sebesar 17,8%
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mengintegrasikan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dan Survei Status Gizi Balita Indonesia
(SSGI). SKI 2023 bertujuan untuk menilai hasil pembangunan kesehatan di Indonesia dalam lima tahun terakhir dan mengukur tren status gizi balita dari 2019–2024.
Gizi kurang di Indonesia menurut SKI adalah 21,5%, turun 0,1%
dari tahun 2022 yang sebesar 21,6%. Penurunan prevalensi gizi kurang ini telah terjadi secara berturut-turut selama 10 tahun terakhir (2013–
2023). Namun, angka gizi kurang masih sangat tinggi, mengingat target penurunan gizi kurang pada tahun 2024 adalah 14%.
Gizi kurang sering terjadi pada anak usia 2–3 tahun. Kegiatan posyandu dapat membantu orang tua memantau pertumbuhan anak dan mencegah gizi kurang lebih cepat jika anak mengalami weight faltering.
(Riskades 2023).
Menurut Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2022, Pengukuran indeks Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) pada balita diketahui sebesar 0,6% balita gizi buruk dan sebesar 4,0% balita gizi kurang.
Provinsi dengan persentase tertinggi gizi buruk dan gizi kurang pada balita adalah Provinsi Papua Barat, sedangkan provinsi dengan persentase terendah adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sedangkan berdasarkan SSGI tahun 2022 diperoleh prevalensi balita gizi buruk dan gizi kurang (wasting) sebesar 7,7%.
Angka gizi kurang di Sulawesi Tenggara masih berada diatas rata- rata nasional, angka kasus gizi kurang nasional hanya mencapai 8,9%
berdasarkan SSGI 2021 data per Kabupaten/Kota maka yang tertinggi yaitu Wakatobi sebanyak 43,3% menyusul Konawe kepulauan 22,1%,Buton 24,1%,Buton selatan 16,7%,Kolaka timur 14,2%, Buton Tengah13,1%,Buton utara 12,8 %, Bombana 11,5 %, Muna 11,2%, Konawe utara 11,0%, Kolaka 8,6%, Kota bau bau6,2%, Kolaka utara 4,4%, Muna barat 3,0%, Kota kendari 2,5% Konawe selatan 2,2%,Konawe 0,4%.
Puskesmas Tosiba merupakan wilayah kerja terdapat banyak Gizi kurang dimana angka kejadian Gizi kurang dari tahun 2023 ketahun 2024 meningkat berdasarkan data yang diperoleh dari Penanggung jawab TPG yaitu pada tahun 2023 terdapat 42 Gizi kurang pada balita dimana pada, Lawulo 6 balita, liku 7 balita, kalaloa 6 balita, Konaweha 7 balita, Latuo 6 balita, ulaweng 6 balita lambo lemo 5 balita, Amamotu . Pada Tahun 2024 terdapat 48 Gizi kurang pada balita dimana pada desa Lawulo 3 balita, Liku 8 balita, Kalaloa 5 balita, Konaweha 5 balita, Latuo 7 balita, Ulaweng 6 balita, Lambo Lemo 7 balita, balita,amamotu 7 balita (Puskesmas Tosiba.2024).
.Berdasarkan hasil penelitian banyak balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Tosiba disebabkan prilaku dari ibu yang tidak terlalu memperhatikan baik buruknya pola asuh makan, personal hygiene, dan pendapatan keluarga (Agriana Tri Cahyani Gunawan,dkk.2022).
Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “hubungan Pola makan dan sikap ibu dengan
kejadian gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Tosiba Kabupaten Kolaka Tahun 2024”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka rumusan masalah penelitian ini adalah Apakah Ada hubungan pola makan dan sikap ibu dengan kejadian gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Tosiba Kabupaten Kolaka Tahun 2024 ?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui hubungan pola makan dan sikap ibu dengan kejadian gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Tosiba kabupaten Kolaka Tahun 2024.
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui hubungan pola makan ibu dengan kejadian gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Tosiba Kabupaten Kolaka tahun 2024.
b. Untuk mengetahui hubungan sikap ibu dengan kejadian gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Tosiba Kabupaten Kolaka Tahun 2024.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat ilmiah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber ilmu pengetahuan dan menjadi rujukan untuk penelitian selanjutnya.
Sebagai bahan rujukan dalam mengkaji hubungan pola makan dan sikap Ibu dengan kejadian Gizi Kurang di Wilayah Kerja Puskesmas Tosiba Kabupaten Kolaka Tahun 2024.
2. Manfaat institusi
Hasil penelitian ini dapat memperkaya khasana ilmu pengetahuan kebidanan dan dapat menjadi salah satu bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya.
3. Manfaat bagi masyarakat
Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk mengetahui hal yang bisa dilakukan oleh masyarakat dalam mengetahui hubungan pola makan dan sikap Ibu dengan kejadian gizi kurang Tahun 2024.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Balita Gizi Kurang 1. Pengertian
Gizi kurang adalah masalah gizi utama yang akan berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Balita yang mengalami gizi kurang memiliki tingkat morbiditas lebih tinggi dari berbagai penyakit.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan riwayat BBLR, riwayat pemberian ASI eksklusif, riwayat penyakit infeksi, pendapatan ekonomi keluarga dan pola asuh makan terhadap kejadian gizi kurang pada balita usia 12- 59 bulan.(Dewi 2022)
Gizi kurang merupakan keadaan kekurangan gizi pada tubuh yang dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan, penurunan daya tahan tubuh serta bila tidak ditangani dengan baik akan beresiko menyebabkan perkembangan hanya terjadi setelah bayi berusia dua tahun. (Multicenter Growth Reference Study).(ibnu 2020)
Gizi kurang adalah masalah gizi utama yang akan berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Balita yang mengalami gizi kurang memiliki tingkat morbiditas lebih tinggi dari berbagai penyakitGizi kurang menjadi salah satu masalah gizi utama di Indonesia menekankan Program Indonesia Sehat dengan salah satu sasaran pokok Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 yaitu meningkatnya status kesehatan gizi ibu dan anak.
Menurut Rina Damayanti,2019 .Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengetahuan ibu tentang gizi dan pola pemberian makan terhadap kejadian gizi kurang pada balita dimana terdapat pengaruh pengetahuan ibu tentang gizi dan pola pemberian makan terhadap kejadian gizi kurang pada balita dimana ibu dengan pengetahuan kurang beresiko 2,9 kali memiliki anak dengan gizi kurang dibandingkan ibu dengan pengetahuan baik dan balita dengan pola pemberian makan kurang memiliki resiko sebesar 6,3 kali mengalami gizi kurang dibandingkan balita dengan pola pemberian makan baik, sehingga dapat dilakukan upaya promosi kesehatan untuk menurunkan angka kejadian gizi kurang pada balita.
2. Kriteria Gizi Kurang
a. Balita gizi kurang berdasarkan indeks BB
Merupakan pengukuran antropometri yang sering dilakukan digunakan sebagai indikator dalam keadaan normal, dimana keadaan kesehatan dan keseimbangan antara intake dan kebutuhan gizi terjamin. Berat badan memberikan gambaran tentang massa tubuh (otot dan lemak). Massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan keadaan yang mendadak, misalnya terserang infeksi, kurang nafsu makan dan menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. BB/TB
lebih menggambarkan status gizi sekarang. Berat badan yang bersifat labil, menyebabkan indeks ini lebih menggambarkan status gizi seseorang saat ini (Current Nutritional Status) (Mary E, 2019).
Rumus Z-Score
Menentukan status gizi anak
Berat Badan menurut umur (BB/TB)
b. Balita gizi kurang menurut Pengukuran tinggi badan(TB)
Pertumbuhan tinggi badan bertambah setiap tahunnya,namun tinggi badan setiap anak tidan sama,di pengaruhi oleh faktoir nutrisi dan genetik. pengukuran tinggi badan pada anak sangat penting,karna untuk mengetahui status gizi anak tersebut apakah baik atau kurang.pengukuran tinggi badan maupun panjang badan harus dilakukan dengan posisi anak atau bayi tegak saat akan dilakukan pengukuran agar hasil yg didapat akurat
(BB/TB)= BB Anak-BB Medium BB Medium- (table-1sd)
(BB/TB)= BB anak –BB medium (Tabel +1sd)-BB median
3. Faktor Penyebab Gizi kurang
Penyebab gizi kurang pada balita antara lain riwayat pemberian ASI eksklusif, riwayat pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), riwayat penyakit infeksi, tingkat pendidikan orang tua, jenis pekerjaan orang tua, pendapatan keluarga, jumlah anggota keluarga, jarak kelahiran yang terlalu rapat, tingkat pengetahuan ibu tentang gizi, dan pola pemberian makan. Kandungan nutrisi pada ASI sesuai dengan kebutuhan nutrisi pada bayi untuk pertumbuhan dan perkembangannya serta melindungi bayi dari infeksi karena kandungan zat antibodi dan zat immunoprotektif yang ada dalam ASI (Rocha, Oliveira, dan Leal, 2018).
Faktor penyebab terjadinya masalah gizi kurang pada balita meliputi penyebab langsung dari penyakit infeksi, pokok masalah gizi kurang dari karakteristik ibu balita yaitu berupa umur ibu, pendidikan, pekerjaan, pemberian ASI dan MP-ASI, dan jumlah anak. Masalah utama terjadinya gizi kurang pada balita yaitu dari penghasilan orang tua balita, karena akan berpengaruh pada asupan nutrisi yang dikonsumsi sebuah keluarga di setiap harinya dan perilaku orangtua dalam berbagai pola asuh anak (UNICEF, 2018).
Gizi kurang dan penyakit infeksi saling berkaitan satu sama lain.
Penyakit infeksi dapat mempengaruhi nafsu makan, menyebabkan kehilangan bahan makanan karena muntah dan diare, dan mempengaruhi metabolisme makanan (Dwijayanthi, 2019). Tingkat pendidikan orang
tua terutama ibu merupakan faktor penting dalam menentukan kualitas perawatan anak dan berhubungan erat dengan pengetahuannya mengenai jenis makanan dan sumber gizi yang baik untuk keluarga. Sedangkan jenis pekerjaan yang dilakukan orang tua berkaitan dengan pendapatan yang diperoleh dan menentukan seberapa besar sumbangan mereka terhadap keuangan keluarga yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, seperti kebutuhan untuk membeli makanan yang bergizi. Adanya ketidakseimbangan antara pangan yang tersedia dan jumlah anggota keluarga akan menimbulkan kondisi gizi kurang pada anak (Andriani dan Wirjatmadi, 2019.
Jarak umur antara anak satu dengan anak lainnya yang terlalu dekat menyebabkan ibu tidak dapat merawat anaknya dengan baik karena perhatian ibu berkurang sehingga anak belum dipersiapkan dengan baik untuk menerima makanan pendamping ASI (Marimbi, 2010).
Pengetahuan tentang kebutuhan tubuh akan zat gizi berpengaruh terhadap jumlah dan jenis pangan yang dikonsumsi.
Tingkat pengetahuan ibu tentang gizi berpengaruh terhadap perilaku ibu dalam memilih makanan untuk seluruh anggota keluarga khususnya anak balitanya yang berdampak pada asupan gizi (Supariasa, 2019). Anak-anak merupakan konsumen pasif, mereka menerima apapun makanan yang disediakan oleh ibunya. Pola pemberian makan yang dilakukan oleh ibu baik dari segi kualitas dan kuantitas akan mempengaruhi status gizi anak. Pola pemberian makan pada balita
meliputi penyusunan menu, pemilihan bahan makanan, pengolahan bahan makanan, dan penyajian makanan (Rusilanti, Dahlia, dan Yulianti, 2019).
4. Gejala Gizi Kurang.
Secara umum gejala-gejala berikut ini akan dialami oleh anak ketika mempunyai masalah gizi:
a. Hilangnya nafsu makan anak.
b. Gangguan pertumbuhan fisik anak seperti tidak mempunyai berat badan dan tinggi badan yang ideal.
c. Mudah lesu dan lemah karena tidak mempunyai kekuatan otot tubuh yang cukup.
d. Kulit kering dan rambut mudah rontok.
e. Pipi dan mata anak akan terlihat cekung.
f. Jika mempunyai luka maka penyembuhannya membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
g. Mudah mengalami sakit akibat terserang penyakit atau virus, memiliki risiko terkena komplikasi
5. Dampak Gizi kurang
Dampak yang ditimbulkan oleh gizi kurang diantaranya adalah :
Kekurangan gizi pada balita, membawa dampak negatif terhadap pertumbuhan fisik maupun mental, yang selanjutnya akan menghambat prestasi belajar. Akibat lainnya adalah penurunan daya tahan,
menyebabkan hilangnya masa hidup sehat balita, serta dampak yang lebih serius adalah 58 timbulnya kecacatan, tingginya angka kesakitan dan percepatan kematian (Andriani, 2019)
Kekurangan gizi pada anak dapat menimbulkan beberapa efek negatif seperti lambatnya pertumbuhan badan, rawan terhadap penyakit, menurunnya tingkat kecerdasan, dan terganggunya mental anak.
Kekurangan gizi yang serius dapat menyebabkan kematian anak (Kusriadi, 2018)
Berbagai penelitian membuktikan lebih dari separuh kematian bayi dan balita disebabkan oleh keadaan gizi yang jelek. Resiko meninggal dari anak yang bergizi buruk 13 kali lebih besar dibandingkan anak yang normal. WHO memperkirakan bahwa 54% penyebab kematian bayi dan balita didasari oleh keadaan gizi anak yang jelek (Hidayat, 2011
6. Intervensi Gizi kurang
Intervensi yang dilakukan berupa perbaikan pola makan dengan memberikan KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) tentang makanan bergizi,cara cuci tangan yang benar dengan di praktekan langsung ,kebersihan alat makan dan penimbangangan balita gizi kurangnya tiap minggu selama waktu intervensi ,indikator kebersihan apabila dalam makanan balita terpenuhi 4 komponen gizi sebanyak minimal 3 hari tiap 7 hari selama 14 hari periode intervensi dengan harapan kenaikan berat badan minimal 100 gram setiap
minggunya ,hasilnya dari 5 orang balita semua memahami pola makan yang baik dari 5 balita,3 balita naik beratnya disarangkan agar para ibu tetap mempertahankan pemberian pola makan yang sehat dan kebiasaan cuci tangan serta kebersihan alat makan tetap di jaga
Secara umum, ada dua jenis intervensi yang diarahkan pemerintah untuk mengatasi gizi kurang yaitu:
a. Intervensi Gizi Spesifik (berkontribusi 30 %) Intervensi Gizi Spesifik adalah intervensi yang ditujukan kepada anak dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan. Intervensi khusus jangka pendek, dan hasilnya dapat dilihat dalam waktu yang relatif singkat. Intervensi gizi secara khusus menyasar 3 subjek yaitu ibu hamil, ibu menyusui dan anak usia 0-6 bulan, ibu menyusui dan anak usia 7-23 bulan. Beberapa hal yang telah dilakukan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan antara lain pemberian suplemen makanan kepada ibu hamil untuk mengatasi kekurangan energi dan protein kronis, mendorong inisiasi menyusu dini (IMD) dan ASI eksklusif, serta mendorong terus menyusui hingga usia 23 bulan. dengan pemberian makanan tambahan ASI (MP-ASI) (Rahayu et al., 2018).
b. Program intervensi gizi sensitif meliputi : Penyediaan dan jaminan akses air minum, Penyediaan dan jaminan akses sanitasi, Peningkatan pangan, Penyediaan akses pelayanan kesehatan dan keluarga berencana (KB), Penyediaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Memberikan jaminan
persalinan universal (Jampersal), Memberikan pendidikan orang tua kepada orang tua, Memberikan pendidikan pendidikan anak usia dini, Memberikan pendidikan gizi kepada masyarakat, Memberikan pendidikan gizi dan kesehatan seksual dan reproduksi bagi remaja, Memberikan penyuluhan sosial keamanan dan dukungan bagi keluarga miskin dan Meningkatkan ketahanan pangan dan gizi (Rahayu et al., 2018).
7. Pencegahan Gizi kurang
Agar anak tidak mengalami kurang gizi maka orang tua harus berusaha keras untuk memenuhi nutrisi yang seimbang. Masa pertumbuhan anak sangat bergantung kepada apa yang ia makan. Lebih baik mencegah daripada mengobati, oleh sebab itu berikanlah makanan kepada anak yang mempunyai gizi seimbang, yaitu:
a. Memberikan buah dan sayur dalam setiap menu makanan.
b. Memberikan makanan yang mempunyai sumber kabohidrat, seperti kentang, roti, nasi dan sereal.
c. Memberikan makanan yang mempunyai sumber protein, seperti daging, telur, ikan dan kacang-kacangan.
d. Memberikan asupan vitamin dari susu dan produk turunannya.
B. Tinjauan Umum Pola Makan 1. Pengertian
Pola makan merupakan cara seseorang atau sekelompok orang dalam memilih makanan dan mengkonsumsi makanan tersebut sebagai reaksi fisiologis, psikologis, budaya, dan sosial. Pola makan yang seimbang, yaitu sesuai dengan kebutuhan disertai pemilihan bahan makanan yang tepat akan melahirkan status gizi yang baik. Asupan makanan yang melebihi kebutuhan tubuh akan menyebabkan kelebihan berat badan dan penyakit lain yang disebakan oleh kelebihan zat gizi.
Sebaliknya, asupan makanan kurang dari yang dibutuhkan akan menyebabkan tubuh menjadi kurus dan rentang terhadap penyakit.
Pola makan merupakan suatu kebiasaan menetap dalam hubungan dengan konsumsi makan yaitu berdasarkan jenis bahan makanan : makanan pokok, sumber protein, sayur, buah, dan berdasarkan frekuensi:
harian, mingguan, pernah, dan tidak pernah sama sekali. Dalam hal pemilihan makanan dan waktu makan manusia dipengaruhi oleh usia, selera pribadi, kebiasaan, budaya dan sosial ekonomi. Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat-zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik, kebersihan, dan berat badan ideal (Almatsier, 2022).
Pola makan yang seimbang, yaitu sesuai dengan kebutuhan disertai pemilihan bahan makanan yang tepat akan melahirkan status gizi yang baik. Asupan makanan yang melebihi kebutuhan tubuh akan menyebabkan kelebihan berat badan dan penyakit lain yang disebakan oleh kelebihan zat gizi. Sebaliknya, asupan makanan kurang dari yang dibutuhkan akan menyebabkan tubuh menjadi kurus dan rentan terhadap penyakit. Kedua keadaan tersebut sama tidak baiknya, sehingga disebut gizi salah (Dinkes Provinsi Sulsel. 2017).
2. Jenis Pola Makan
Adapun jenis Pola makan didefinisikan sebagai karateristik dari kegiatan yang berulang kali makan individu atau setiap orang makan dalam memenuhi kebutuhan makanan (Sulistyoningsih, 2019). Secara umum pola makan memiliki 3 (tiga) komponen yang terdiri dari :
a. Jumlah makan adalah banyaknya makanan yang dimakan dalam setiap orang atau setiap individu dalam kelompok (Willy, Pola asuh otoriter (authoritarian) Jumlah makanan
Banyaknya makanan yang dikonsumsi pada setiap orang atau individu dalam kelompok didefinisikan sebagai jumlah makanan.
Untuk mengetahui tingkat kecukupan gizi pada seseorang maka Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyusun Angka Kecukupan Gizi (AKG).
Tabel 2.1
Daftar Angka kecukupan gizi (AKG) Per Orang Per Hari yang dianjurkan
Zat Gizi Kebutuhan wanita dewasa
Kebutuhan wanita hamil
Sumber makanan Energi
(kalori)
2500 +300 Padi-padian, jagung,
uumbi-umbian, mie, roti
Protein (gram)
40 +10 Daging, ikan telur,
kacang-kacangan, tahu,, tampe Kalsium
(mg) 0,5 +0,6 Susu, ikan teri,
kacang-kacangan sayuran hijau Zat Besi
(mg) 28 +2 Daging, hati,
sayuran hijau Vitamin A
(SI) 3500 +500 Hati, kuning
teluuur, sayur dan buah berwarna hijau
dan kuning kemerahan Vitamin B1
(mg)
0,8 +0,2 Biji-bijian, padi-
padian, kacang- kacangan daging Vitamin B2
(mg) 1,3 +0,2 Hati, telur sayur,
kacang-kacangan Vitamin B6
(mg)
12,4 +2 Hati, daging, ikan,
biji-bijian kacang- kacangan Vitamin c
(mg) 20 +20 Buah dan sayur
Sumber: (widyakarya Pangan Dan Gizi VIII) Tingkat Konsumsi Gizi = Asupan gizi
AKG Individux 100%
Dikelompokkan menjadi tiga klasifikasi tingkat konsumsi yaitu:
1. < 80% dari total AKG dikatakan kurang 2. 80 – 100 % dari total AKG dikatakan baik 3. > 100% dari total AKG dikatakan lebih
b. Jenis makanan
Jenis makan adalah sejenis makanan yang setiap hari dikonsumsi berupa makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayuran dan buah.
Nasi/pengganti 5-6 piring, lauk nabati 3-4 potong, lauk hewani 4-5 potong, buah-buahan 3 potong, sayuran 2-3 mangkuk dan dianjurkan minum 8-12 gelas/hari adalah menu ibu hamil yang seimbang.
Kandungan gizi yang berbeda-beda pada setiap makanan dapat berupa jenis zat gizi yang terkandung maupun jumlah dari masing- masing zat gizi. Komposisi zat gizi semakin lengkap jika makanan yang dikonsumsi bermacam-macam.
c. Frekuensi makanan
Berapa kali makan dalam sehari yang meliputi makan pagi, makan siang, makan malam dan makan selingan dikatakan frekuensi makan.
Frekuensi makanan menurun karena nafsu makan ibu yang kurang dan sering terjadi mual muntah pada usia kehamilan trimester I, nafsu makan ibu akan berangsur meningkat pada usia kehamilan trimester II sedangkan pada kehamilan trimester III nafsu makan ibu sangat baik dan sering merasa lapar. Ibu perlu mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung zat pembangun dan pengatur untuk persiapan persalinan.
C. Tinjauan Umum Sikap Ibu
Sikap di bentuk melalui pengetahuan, pengalaman dan keyakinan seseorang, apabila ketiga komponen tersebut telah tercapai dengan baik,maka akan terbentuk sikap yang baik pula. Berdasarkan penelitian mengenai sikap ibu dalam memenuhi kebetuhan gizi masih banyak yang kurang peduli memperhatikan penyajian makanan untuk anaknya terutama terkait dengan hal pemilihan jenis bahan makanan, penyediaan dan pemberian makanan tidak di lakukan dengan tepat pernyataan ini di sebabkan karena keadaan sosial ekonomi yang kurang mendukung dan ketersediaan waktu yang di miliki oleh ibu dalam hal ini sikap ibu sangat berpengaruh pada gizi anak.
(shaluhiyah et al, 2020)
Sikap ibu balita dalam menentukan pilihan mengkonsumsi bahan makanan yang banyak mengandung energi dan protein dapat merubah pola makan yang beragam untuk menunjang asupan energy dan protein bagi tubuh guna mencegah gizi kurang pada masa balita dapat menurunkan angka gizi kurangSikap ibu adalah kesiapan atau kesediaan ibu untuk merespon sesuatu tentang pemberian makanan pada balita. Sikap merupakan kesiapan atau kesediaan seseorang untuk bertingkah laku atau merespon sesuatu baik terhadap rangsangan positif maupun rangsangan negatif dari suatu objek rangsangan.11 Sikap bukan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan faktor predisposisi bagi seseorang untuk berperilaku.
Sikap seseorang dipengaruhi oleh faktor internal antara lain faktor psikologis dan fisiologis. Faktor eksternal berupa intervensi yang datang dari luar individu misalnya berupa pendidikan, pelatihan dan lainnya. Sikap subjek dalam pemberian makan akan mempengaruhi pola konsumsi seorang anak. Sikap ibu yang buruk tentang pemberian makan dapat menyebabkan pola konsumsi anak terganggu serta terjadinya gizi buruk pada anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum konseling gizi sebagian besar sikap ibu balita cukup. Namun masih ditemukan sikap yang kurang pada ibu seperti tidak setuju kondisi gizi buruk harus segera ditangani, memperkenalkan makanan awal pada bayi dengan makanan semi cair, anak usia 12-24 bulan diberikan makanan lunak. Hasil penelitian setelah konseling gizi terdapat peningkatan sikap ditunjukkan sebagian besar ibu bersikap baik. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pemberian konseling gizi dapat meningkatkan sikap seseorang. Berdasarkan penelitian ( Sheira et al) yang menyatakan konseling gizi dapat meningkatkan pengetahuan subjek mempengaruhi perubahan sikap menjadi lebih positif. 28 Konseling terbukti efektif mengubah sikap negatif menjadi positif seperti hasil penelitian ini khususnya dalam bidang kesehatan.Perubahan sikap tersebut tidak terlepas dari faktor yang mempengaruhi yaitu pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, informasi yang diterima dari berbagai sumber, emosi dari ibu sendiri serta fasilitas dan support dari keluarga termasuk suami.
Sikap merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan seseorang. Perubahan sikap secara berkelanjutan dapat mengubah
perilaku seseorang dimana perilaku pemberian makan yang baik dapat meningkatkan status gizi anak.25 Nilai value sikap ibu sebelum dan setelah konseling gizi sebesar 0,001 , oleh karena itu dapat disimpulkan terdapat perbedaan sikap sebelum dan setelah konseling gizi.
D. Kerangka Konsep
Berdasarkan uraian tinjauan pustaka dan variabel independen pada penelitian ini adalah hubungan pola makan dan sikap ibu dengan kejadain gizi kurang.
Keterangan:
Variabel independen : Variabel dependen :
E. Defenisi Oprasional dan Kriteria Objektif
Defenisi operasional adalah berisi komponen variabel yang akan diteliti ditambah istilah yang dipakai untuk menghubungkan variabel maupun subjek penetelitian bertujuan untuk memudahkan pengumpulan data dan menghidarkan perbedaan interpretasi serta membatasi ruang lingkup variabel (Ariani, A. P. 2014).
Pola makan
Sikap ibu
Gizi kurang
No Variabel Definisi Alat Ukur
Cara Ukur
Hasil Ukur (Kriteria Objektif)
Skala
Variabel dependen
1 Gizi kurang Status gizi kurang pada balita dimana BB/TB <-2 standar deviasi
Kuisi oner, Antro pomet ri balita
Waw ancar a
Gizi kurang jika BB/TB <- 2 sd
Gizi normal BB/TB-2 sampai dengan 2sd
Nominal
Variabel independen
1 Pola makan Pola makan merupakan cara seseorang atau sekelompok orang dalam memilih makanan dan mengkonsumsi makanan
tersebut sebagai reaksi fisiologis, psikologis, budaya, dan sosial.
Kuisi oner
Wawa
ncara Pola makan dikatakan:
1.Kategori tidak tepat, jika skor jawaban ya≤60%.
2.Kategori tepat, jika skor jawaban ya ≥60%
Nominal
2 Sikap ibu Sikap ibu terhadap balita dalam penyajian makan sehari- hari
Kuisi oner
Wawa
ncara Baik 76 – 100% Cukup 56 – 75%
Kurang < 55%
Nominal
F. Hipotesis Penelitian Hipotesis Nuul (Ho)
1. Tidak adanya hubungan pola makan dengan kejadian balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Tosiba Tahun 2024.
2. Tidak adanya hubungan sikap ibu dengan kejadian balita gizi kurang diwilyah kerja Puskesmas Tosiba Tahun 2024.
Hipotesis ( Ha )
1. Ada hubungan pola makan dengan kejadian balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Tosiba Tahun 2024.
2. Ada hubungan sikap ibu dengan kejadian balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Tosiba Tahun 2024.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan desain penelitian observasinal analitik, yang tergolong dalam jenis penelitian non-eksperimental yang bersifat korelasional (menjelaskan hubungan) yaitu penelitian ini dilaksanakan untuk menjelaskan hubungan antara variabel independen (pola makan dan sikap ibu) dan variabel dependen (Gizi kurang pada balita). Pendekatan dilakukan adalah cross sectional study yaitu waktu pengukuran atau observasi data variabel independen dan dependen diukur bersamaan pada waktu yang sama (Hidayat, 2014).
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian ini akan dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Tosiba Kabupaten Kolaka.
Penelitian ini akan dilakukan bulan Agustus sampai September 2024.
C. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki balita umur 12-59 bulan dan bersedia menjadi responden di Wilayah Kerja Puskesmas Tosiba yang berjumlah 48 orang.
2. Sampel
Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karateristik yang dimiliki oleh populasi (Ariani, A. P. 2014). Adapun sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita umur 12-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Tosiba berjumlah 32 orang.
a. Besar Sampel
Besarnya sampel dalam penelitian ini dihitung menggunakan rumus Slovin sebagai berikut.
n= N
(1+N . e2) Keterangan : n = jumlah sampel
N = jumlah populasi e = standar error (10%)
n= 48
1+(48X0,1²)
¿ 48 1,48
¿32,4=¿ 32
Dari perhitungan rumus di atas didapatkan hasil 32 orang responden, kemudian untuk menjaga seandainya ada yang drop out maka ditambah 10% menjadi 34 responden (Hidayat, 2017).
b.Sampling
Dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling Non
Probability Sampling dengan metode Consecutive Sampling.
Consecutive Sampling adalah cara pengambilan sampel yang dilakukan dengan memilih sampel yang memenuhi kriteria penelitian sampai kurun waktu tertentu sehingga jumlah sampel terpenuhi (Hidayat, 2017).
c. Kriteria sampel
1) Kriteria inklusi
Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari populasi target yang terjangkau dan diteliti (Ariani, A. P. 2014).
a) Ibu balita dan bersedia menjadi responden b) Ibu Balita yang memiliki balita gizi kurang c) Yang ada pada saat penelitian berlangsung 2) Kriteria eksklusi
Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subjek yang memenuhi kriteria inklusi dari studi karena berbagai sebab (Ariani, A. P. 2014).
a) Bukan ibu balita dan tidak bersedia menjadi responden b) Yang tidak memiliki balita gizi kurang
c) Tidak ada pada saat penelitian berlangsung
D. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuesioner yang berisi sejumlah pertanyaan untuk memperoleh data yang akurat dan objektif terhadap permasalahan yang diteliti yaitu kuesioner mengenai hubungan pola makan dan sikap dengan kejadian gizi kurang pada balita (Prakhasita, 2018), merupakan suatu daftar yang berisikan suatu rangkaian pertanyaan mengenai suatu hal atau dalam suatu bidang dimaksud untuk memperoleh data berupa jawaban-jawaban dari para responden. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui hubungan pola makan sikap dengan kejadian gizi kuang pada balita usia 12- 59 bulan.
(Hidayat, 2014). Skala dalam penelitian ini menggunakan skala likert untuk pengukuran pola pemberian makan. Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian, fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian. Pertanyaan dalam instrumen penelitian skala likert yaitu sangat sering skor 4, sering skor 3, jarang skor 2, dan tidak pernah skor 1 (Soedigdo, 2011).
E. Pengumpulan Data 1. Data Primer
Didapatkan secara langsung dari lembar kuesioner yang dibagikan oleh peneliti kepada responden dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Mengucap salam dan memperkenalkan diri kepada responden b. Menjelaskan maksud dan tujuan peneliti kepada responden
c. Setelah responden mengetahui maksud dan tujuan peneliti, kemudian peneliti memberikan lembar informed consent
d. Jika responden menyetujui dan bersedia menjadi responden, selanjutnya peneliti akan memberikan lembar kuesioner untuk diisi.
Namun, sebelum itu peneliti terlebih dahulu menjelaskan prosedur pengisian kuesioner.
e. Setelah responden memahami petunjuk pengisian kuesioner, peneliti akan mempersilahkan kepada responden untuk mengisi kuesioner.
f. Jika dalam pengisian kuesioner terdapat sesuatu yang kurang jelas untuk dipahami, peneliti akan membantu dan mengarahkan responden.
g. Dokumentasi penelitian.
2. Data sekunder
Didapatkan dari buku dan buku online, jurnal, data Dinas Kesehatan kabupaten Kolaka dan data dari puskesmas Tosiba dengan langkah- langkah sebagai berikut:
a. Buku dan buku online
1) Peneliti akan melakukan penelusuran secara online melalui aplikasi google chrome.
2) Kemudian peneliti mencari buku online sesuai dengan variabel peneliti.
3) Setelah mendapatkan buku yang sesuai dengan variabel peneliti, peneliti akan memilah dan mengfilter standar atau batasan tahun publikasi dari setiap buku dengan aturan 10 tahun terakhir.
b. Jurnal
1) Peneliti akan melakukan penelusuran secara online melalui aplikasi google chrome.
2) Kemudian peneliti membuka google cendikia dan mencari jurnal atau artikel penelitian sesuai dengan variabel peneliti.
3) Setelah mendapatkan jurnal atau artikel penelitian sesuai dengan variabel peneliti, peneliti akan memilah dan mengfilter standar atau batasan tahun publikasi dari setiap jurnal dengan aturan 5 tahun terakhir.
c. Puskesmas Tosiba
1) Peneliti Mengucap salam dan memperkenalkan diri kepada pimpinan Dinkes kabupaten Kolaka dan Kepala Puskesmas Tosiba.
2) Menjelaskan maksud dan tujuan peneliti kepada pimpinan Kepala Puskesmas Tosiba serta memberikan surat pengantar pengambilan data awal dari kampus peneliti.
3) Kemudian pimpinan kepala puskesmas Tosiba mengarahkan peneliti tempat pelayanan sesuai dengan objek penelitian
4) Setelah itu petugas di tempat pelayanan akan mengizinkan peneliti untuk mengambil data yang dibutuhkan.
F. Pengolahan dan Penyajian Data
Pengolahan data dilakukan secara manual dengan langkah- langkah sebagai berikut:
1. Editing (Penyuntingan data)
Hasil wawancara yang dikumpulkan melalui quesioner disunting terlebih dahulu. Jika masih ada data yang tidak lengkap dan tidak mungkin dilakukan wawancara ulang, maka kuesioner tersebut dikeluarkan.
2. Coding (Membuat lembaran kode)
Lembaran kode adalah instrumen berupa kolom-kolom untuk merekam data secara manual. Lembaran berisi nomor responden dan nomor pertanyaan.
3. Scoring
Mengisi kolom-kolom lembar kode sesuai dengan jawaban masing-masing pertanyaan.
4. Tabulating
Membuat tabel-tabel data, sesuai dengan tujuan penelitian atau yang diinginkan oleh peneliti (Ariani, A. P. 2014).
G. Analisa Data
Analisa data diolah dengan system computerisasi menggunakan program SPSS for windows untuk kemudian dilakukan analisa univariat dan bivariat.
1. Analisa univariat
Digunakan untuk mendeskripsikan variabel penelitian guna memperoleh gambaran atau karakteristik sebelum dilakukan analisa bivariat. Hasil dari penelitian di tampilkan dalam bentuk distribusi frekuensi.
2. Analisa Bivariat
Analisa bivariat yang dilakukan adalah tabulasi silang antara dua variabel yaitu variabel independent dan dependent. Analisa bivariat yang digunakan untuk mengetahui hubungan terhadap objek penelitian adalah menggunakan uji Chi square atau kai kuadrat (Ariani, A. P, 2014).
H. Etika Penelitian
1. Prinsip manfaat
Prinsip ini mengharuskan peneliti untuk memperkecil resiko dan memaksimalkan manfaat. Penelitian terhadap maanusia diharapkan dapat memberikan manfaat untuk kepentingan manusia secara individu atau masyarakat secara keseluruhan.
2. Prinsip menghormati martabat manusia
Prinsip ini meliputi :
a. Hak Menentukan Pilihan
Yaitu hak untuk memutuskan dengan sukarela apakah ikut ambil bagian dalam suatu penelitian tanpa resiko yang merugikan.
Hak ini meliputi hak untuk mendapat pertanyaan, mengungkapkan keberatan, dan menarik diri.
Hak mendapatkan data yang lengkap
Menghormati martabat manusia meliputi hak-hak masyarakat untuk memberi informasi, keputusan sukarela tentang keikut sertaan penelitian yang memerlukan ungkapan data lengkap.
3. Prinsip Keadilan
Prinsip ini bertujuan untuk menjunjung tinggi keadilan manusia dengan menghargai hak-hak memberikan perawatan secara adil, dan hak untuk menjaga privasi manusia.
Masalah etika yang harus diperhatikan dalam penelitian ini antara lain:
a. Dalam mengambil karya orang lain selalu mencantumkan nama dan sumbernya.
b. Mengaplikasikan informed consent.
c. Tidak mencantumkan nama (anonymity) responden pada lembar observasi.
d. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti (confidentiality).
(Setiawan A dan Saryono,
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Gambaran Umum
Puskesmas Tosiba berkedudukan dibagian utara ibu kota kabupaten Kolaka, tepatnya di Desa Tamboli, Kecamatan Samaturu, dengan jarak tempuh ± 40 KM. Kondisi geografis berupa dataran rendah dengan ketinggian kurang dari 1.000 meter dari permukaan laut dan suhu 23 – 31°C yang merupakan tanah persawahan, tegalan dan pekarangan sehingga mudah dijangkau dengan kendaraan mobil atau pun motor sampai ke dusun.
Batas wilayah kerja Puskemas Tosiba, yaitu:
Sebelah Utara : Kecamatan Wolo Sebelah Selatan : Kecamatan Latambaga Sebelah Timur : Kecamatan Uluiwoi Sebelah Barat : Teluk Bone
Luas gedung puskesmas induk sebesar 850 m2 pada lahan seluas 3.600 m2, dibangun pada tahun 1981 dan terakhir direhab pada tahun 2012. Adapun arsitektur, desain dan tata letak ruangan belum sesuai dengan PMK Nomor 75.
Wilayah Kerja Puskemas Tosiba di Kecamatan Samaturu terdiri atas 17 desa dan 2 kelurahan 573,55 km2. Adapun batas masing-masing desa/kelurahan dapat dilihat pada gambar berikut : Gambar 1.1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Tosiba
Sumber : Sistim Informasi Puskesmas Tosiba
Puskesmas Tosiba mempunyai letak pada lokasi yang strategis karena terletak dipusat pusat kecamatan dengan akses jalan yang sangat baik, namun berdasarkan jarak tempuh berada jauh ke bagian utara Kecamatan Samaturu sehingga sulit diakses oleh masyarakat dari desa yang berada dibagian selatan yang jaraknya cukup jauh. Adapun jarak dan waktu tempuh dari desa/kelurahan ke Puskesmas Tosiba dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.1 Luas Wilayah, Jarak dan Waktu Tempuh desa/kelurahan Ke Puskesmas Tosiba
N O Desa / Kelurahan Luas Wilayah ( KM2 )
Jarak ke Puskesmas (Km)
Waktu tempuh (
Menit )
1 Lawulo 23.73 20 52
2 Puu Lawulo 9.27 25 55
3 Sani-sani 14.15 12 40
4 Liku 26.11 10 50
5 Malaha 28.40 9 30
6 Meura 6.94 8 25
7 Kaloloa 34.89 7 20
8 Konaweha 37.19 6 18
9 Ulu Konaweha 24.14 5 16
10 Latuo 39.00 4 15
11 Awa 30.89 3 13
12 Lambo Lemo 32.56 2 10
13 Ulaweng 75.00 3 8
14 Amamotu 85.31 2 5
15 Tamboli 30.89 1 2
16 Puu Tamboli 8.61 3 4
17 Wowa Tamboli 25.00 7 10
18 Tosiba 26.47 3 4
19 Tonganapo 15.00 5 6
Jumlah penduduk di Kecamatan Samaturu dari pendataan BPS tahun 2024 sebanyak 25.356 jiwa terdiri dari 12.984 jiwa Laki- laki atau 51,2% dan perempuan 12.372 jiwa atau 48,8% dengan jumlah kepala keluarga 6.649.
B. Hasil Penelitian
1. Karakteristik Ibu Balita
a. Distribusi Kelompok Umur
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Ibu Balita Berdasarkan Umur Di Puskesmas Tosiba Tahun 2024
Kelompok Umur Frekuensi Persentase (%)
<20 Tahun 2 6,3
20-35 Tahun 26 81,3
>35 Tahun 4 12,5
Total 32 100,0
Sumber: Data Primer 2024..
Berdasarkan data tabel 4.2 tersebut, menunjukan bahwa dari 32 responden, kelompok umur terbanyak didominasi kelompok umur 20- 35 tahun yang berjumlah 26 responden (81,3) dan terkecil kategori umur <20 Tahun yang berjumlah 2 responden (6,3%).
b. Distribusi Pendidikan Ibu
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Pendidikan Ibu
Pendidikan Frekuensi Persentase (%)
SD 12 37,5
SMP 7 21,9
SMA S
5 15,6
Perguruan Tinggi 8 25,0
Total 32 100,0
Sumber: Data Primer 2024
Berdasar data tabel 4.3 di atas, ditunjukan bahwa dari 32 ibu balita pendidikan terbanyak yaitu SD 12ibu (37,5) dan pendidikan yang sedikit adalah SMA sebanyak 5 ibu (15,6).
2. Analisis Univariat a. Status Gizi Balita
Tabel 4.4 Distribusi frekuensi responden berdasarkan Status Gizi
Status Gizi Frekuensi Persentase
Gizi Normal 16 50,0%(%)
Gizi Kurang 16 50,0%
Total 32 100%
Sumber : Data primer 2024
Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan bahwa dari 32 balita dijadikan sampel balita yang memiliki Gizi Normal 16 balita (50,0%) dan yang memiliki Gizi Kurang 16 balita (50,0%)
b. Distribusi Sikap Ibu Balita
Tabel 4.5 Distribusi frekuensi Sikap Ibu Balita
Sikap Frekuensi Persentase (%)
Baik 12 37,4%
Cukup 10 31,3%
Kurang 10 31,3%
Total 32 100,0
Sumber :Data Primer 2024.
Menurut data pada tabel 4.5 di atas, bahwa dari 32 yang menjawab, sikap ibu balita terbanyak sikap baik sebanyak 12 responden (37,4%) dan sikap cukup dan kurang memiliki nilai seimbang yaitu 10 responden (31,3%).
c. Pola Makan
Tabel 4.6 Distribusi frekuensi responden berdasarkan Pola Makan Pola
Makan Frekuensi Persentase
Tepat 15 46,9%
Tidak tepat 17 53,1%
Total 32 100,%
Sumber : Data primer 2024
Berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan bahwa dari 32 responden dijadikan sampel, pola makan tertinggi yaitu pola makan tidak tepat sebanyak 17 balita ( 53,1%) dan terrendah pola tepat sebanyak 15 balita (46,9%).
3. Analisa Bivariat.
a. Hubungan Pola Makan Balita Dengan Kejadian Gizi Kurang Table 4.7 hubungan pola makan balita dengan kejadian gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Tosiba Kabupaten Kolaka tahun 2024
Pola Makan
Status Gizi
Jumlah Ρ
Gizi Normal Gizi Kurang
N % N % N %
0.001
Tepat 12 37,5 3 9,4 15 46,9
Tidak tepat 4 12,5 13 40,6 17 53,1
Total 16 50,0 16 50 32 100
Sumber : Data Primer 2024
Table 4.7 menunjukan bahwa dari 32 responden dijadikan sampel. Untuk variabel Pola Makan, balita yang memiliki pola tepat dan memiliki gizi normal yaitu 12 balita (37,5%), pola tepat namun memiliki status gizi kurang yaitu 3 balita (9,4%).
Sedangkan balita yang memiliki pola makan tidak tepat namun memiliki status gizi normal yaitu 4 balita (12,5%) dan memiliki pola makan tidak tepat dan status gizi kurang sebanyak 17 balita (53,1%). Untuk hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Squar yaitu didapatkan ρ=0,001<dari α=0,05, ini berarti HO ditolak dan
Ha diterima. Dengan demikian terdapat hubungan pola makan balita dengan kejadian gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Tosiba Kabupaten Kolaka tahun 2024.
b. Hubungan Sikap Ibu Dengan Kejadian Gizi Kurang
Table 4.8 hubungan sikap ibu dengan kejadian gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Tosiba Kabupaten Kolaka tahun 2023.
Sikap ibu
Status Gizi
Jumlah P Gizi Normal Gizi Kurang
N % N % N %
0.00 9 Baik
Cukup 10
4 31,2
12,5 2
6 6,3
18,7 12
10 37,6
Kurang 2 6,3 8 25,0 10 31.231,2
Total 16 50,0 16 50,0 32 100
Sumber : Data Primer 2024
Table 4.8 menunjukan bahwa dari 32 responden dijadikan sampel. Untuk variabel sikap ibu balita, sikap ibu baik dan balita memiliki gizi normal 10 balita (31,2%), sikap ibu baik namun balita mengalami gizi kurang 2 balita (6,3%). Sikap ibu cukup dan balita gizi normal 4 (12,5%) sedangkan sikap ibu cukup namun balita mengalami gizi kurang 6 balita (18,7%). Sikap ibu kurang namun gizi balita normal 2 balita (6,3 %) dan sikap ibu kurang dan balita mengalami gizi kurang yaitu 8 balita (25,0%).
Untuk hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Squar yaitu didapatkan ρ=0,009<dari α=0,05, ini berarti HO ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian terdapat hubungan sikap ibu dengan kejadian gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Tosiba Kabupaten Kolaka tahun 2024.
C. PEMBAHASAN
Hasil penelitian ini telah menjawab tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui hubungan pola makan dan sikap ibu dengan kejadian gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Tosiba Kabupaten Kolaka tahun 2024.
Dengan presentasi, kelompok umur ibu balita didominasi kelompok umur 20-35 tahun yang berjumlah 26 responden (81,3) dan terkecil kategori umur <20 Tahun yang berjumlah 2 responden (6,3%). Masa reproduksi wanita dibagi menjadi bebrapa periode yaitu kurun reproduksi muda (15-19 tahun), kurun reproduksi sehat (20-35 tahun) dan kurun reproduksi tua (36- 45 tahun). Menunda kehamilan pertama sampai dengan usia 20 tahun akan menjamin kehamilan dan kelahiran lebih aman serta mengurangi resiko bayi lahir rendah(Rinda, 2019. Seiring bertambahnya usia seorang ibu, dia akan cenderung memiliki bayi dengan berat badan lahir rendah.
Dan pendidikan ibu balita terbanyak yaitu SD 12 ibu (37,5) dan pendidikan yang sedikit adalah SMA sebanyak 5 ibu (15,6). Soetijiningsih, 2014 bahwa pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang penting dalam status gizi. Karena dengan pendidikan yang baik, maka orang tua dapat menerima segala informasi dari luar tentang cara pengasuhan anak yang baik terutama bagai mana ibu memberikan makanan kepada anak, bagaimana menjaga kesehatan anak, pendidikannya, dan sebagainya. Sehingga makin banyak pengetahuan yang dimiliki dan perilaku yang diharapkan akan muncul
polah asuh yang baik. Kejadia ini dapat diatasi dengan pendidikan Semakin tinggi tingkat penddikan ibu, semakin tinggi juga pengetahuan ibu.
Hasil ini diperoleh dari pengumpulan data secara langsung menggunakan kuesioner.
1. Hubungan pola makan balita dengan kejadian gizi kurang.
Untuk variabel Pola Makan, balita yang memiliki pola tepat dan memiliki gizi normal yaitu 12 balita (37,5%), pola makan tepat namun memiliki status gizi kurang yaitu 3 balita (9,4%). Sedangkan balita yang memiliki pola makan tidak tepat namun memiliki status gizi normal yaitu 4 balita (12,5%) dan memiliki pola makan tidak tepat dan status gizi kurang sebanyak 17 balita (53,1%). Untuk hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Squar yaitu didapatkan ρ=0,001<dari α=0,05, ini berarti HO ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian terdapat hubungan pola makan balita dengan kejadian gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Tosiba Kabupaten Kolaka tahun 2024.
Penelitian diatas sejalan dengan penelitian Meri, 2020 yang berjudul Hubungan Pola Makan Dengan Status Gizi Pada Anak Usia Prasekolah. Hasil analisis hubungan pola makan dengan status gizi pada anak usia prasekolah di TK Kristen Tunas Rama kota Makassar, peneliti menggunakan uji Chi Square dan diperoleh nilai ρ=0,015. Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nol (Ho) ditolak, dengan demikian ada hubungan antara pola makan dengan status gizi pada anak usia prasekolah di TK Kristen Tunas Rama
Kota Makassar. Penelitian yang sama juga diungkapkan oleh Tri Hastika, 2020 yang berjudul Hubungan Pola Makan Dengan Status Gizi Pada Balit dengan hasil Berdasarkan uji chi-square diperoleh p Value = 0,001 (p value<0,05)`` yang berarti h0 ditolak dan ha diterima.
Balita yang memiliki pola makan sering dan memiliki gizi normal yaitu 12 balita (37,5%) Pola makan merupakan cara seseorang atau sekelompok orang dalam memilih makanan dan mengkonsumsi makanan tersebut sebagai reaksi fisiologis, psikologis, budaya, dan sosial.
Pola makan yang seimbang, yaitu sesuai dengan kebutuhan disertai pemilihan bahan makanan yang tepat akan melahirkan status gizi yang baik. Asupan makanan yang melebihi kebutuhan tubuh akan menyebabkan kelebihan berat badan dan penyakit lain yang disebakan oleh kelebihan zat gizi. Sebaliknya, asupan makanan kurang dari yang dibutuhkan akan menyebabkan tubuh menjadi kurus dan rentang terhadap penyakit (Andriani dan Wirjatmadi, 2019)
Pada penelitian ditemukan pola makan sering namun memiliki status gizi kurang yaitu (9,4%). Hal tersebut dikarena pola makan baik tetapi nutrisi tidak seimbang. Pola makan yang baik terdiri dari konsumsi makanan yang berkualitas yaitu konsumsi makanan yang sehat dan bervariasi, serta konsumsi makanan yang cukup dari segi kuantitas diikuti dengan menerapkan perilaku makan yang benar. Jika hal ini diterapkan, makan akan menghasilkan status gizi anak yang normal, (Gustiva, 2016).
Pola makan merupakan suatu kebiasaan menetap dalam hubungan dengan konsumsi makan yaitu berdasarkan jenis bahan makanan : makanan pokok, sumber protein, sayur, buah, dan berdasarkan frekuensi:
harian, mingguan, pernah, dan tidak pernah sama sekali. Dalam hal pemilihan makanan dan waktu makan manusia dipengaruhi oleh usia, selera pribadi, kebiasaan, budaya dan sosial ekonomi. Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat-zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik, kebersihan, dan berat badan ideal (Almatsier, 2022).
Berdasarkan hasil penelitian didaptkan ada balita yang pola makan jarang dan mengalami gizi kurang yaitu 53,1%. Asupan makanan balita kurang dari yang dibutuhkan akan menyebabkan tubuh menjadi kurus dan rentan terhadap penyakit. Kedua keadaan tersebut sama tidak baiknya, sehingga disebut gizi salah Pola makan yang seimbang, yaitu sesuai dengan kebutuhan disertai pemilihan bahan makanan yang tepat akan melahirkan status gizi yang baik. Asupan makanan yang melebihi kebutuhan tubuh akan menyebabkan kelebihan berat badan dan penyakit lain yang disebakan oleh kelebihan zat gizi, (Dinkes Provinsi Sulsel.
2017).
2. Hubungan sikap ibu dengan kejadian gizi kurang
Untuk variabel sikap ibu balita, sikap ibu baik dan balita memiliki gizi normal 10 balita (31,2%), sikap ibu baik namun balita
mengalami gizi kurang 2 balita (6,3%). Sikap ibu cukup dan balita gizi normal 4 (12,5%) sedangkan sikap ibu cukup namun balita mengalami gizi kurang 6 balita (18,7%). Sikap ibu kurang namun gizi balita normal 2 balita (6,3 %) dan sikap ibu kurang dan balita mengalami gizi kurang yaitu 8 balita (25,0%). Untuk hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Squar yaitu didapatkan ρ=0,009<dari α=0,05, ini berarti HO ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian terdapat hubungan sikap ibu dengan kejadian gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Tosiba Kabupaten Kolaka tahun 2024.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian indiyanti, 2018 yang berjudul hubungan sikap dan pengetahuan ibu dengan status gizi berdasarkan bb/u pada anak balita di wilayah kerja puskesmas kota singkawang dengan Hasil analisa bivariat dengan menggunakan uji statistic fisher didapatkan nilai sig. atau p value 0,040 (<0,05) yang berarti terdapat hubungan antara sikap ibu dengan status gizi anak. Hasil penelitian didapatkan bahwa ibu yang memiliki sikapbaik dan status gizi balita normal yaitu 31,2%. Hal ini dikarenakan sikap terkait dengan pola asuh yang diberikan ibu kepada anak dapat memengaruhi status gizi anak seperti dalam memberikan perhatian yang penuh serta kasih sayang kepada anak, dan memberi waktu yang cukup untuk memerhatikan asupan gizi anak sehingga status gizi anak juga lebih baik. Pola asuh yang diberikan ibu kepada anak berkaitan dengan pola konsumsi makanan