skripsi - Universitas Muhammadiyah Makassar
Bebas
75
0
0
Teks penuh
(2)
(3)
(4)
(5)
(6) MOTO DAN PERSEMBAHAN Siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil Siapa yang bersabar, maka ia akan beruntung Mereka yang berjalan pada jalannya, akan sampai pada tujuan.. Kupersembahkan karya sederhana ini dengan ungkapan kesyukuran dan nada yang indah sebagai hasil perjuangan kedua orangtuaku Ayahanda Kaharuddin dan Ibunda Habi yang telah mengurai benang kasih lewat do’a dan tetesan keringat demi kesuksesan penulis, dan telah membesarkan dan membimbing Ananda sejak kecil sampai sekarang.. vi.
(7) ABSTRAK. Abdul Rahman. 2016. Interferensi Fonologi Bahasa Bugis dan Pengaruhnya terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar. Skripsi. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing oleh M. Ide Said DM dan Munirah. Masalah utama dalam penelitian ini adalah bagaimana interferensi fonologi bahasa Bugis dan pengaruhnya terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran mengenai kesalahan bunyi bahasa Mahasiswa FKIP yang menggunakan bahasa Bugis sebagai bahasa pertama dan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua . Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskripif. Data dari penelitian ini berupa bunyi bahasa yang mengalami interferensi dalam berkomunikasi antar satu mahasiswa dengan mahasiswa yang lainnya. Sumber data dari penelitian ini adalah wawancara dan percakapan mahasiswa FKIP Unismuh Makassar. Hasil penelitian menunjukkan cara berbahasa mahasiswa FKIP Unismuh Makassar baik dalam suasana formal maupun informal masih sering terjadi kedwibahasaan sehingga terjadi kesalahan berbahasa dalam bidang bunyi bahasa Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan penyebab terjadinya interferensi fonologi bahasa Bugis dan pengaruhnya terhadap pernggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar yaitu mahasiswa telah terbiasa menggunakan dua bahasa dalam berkomunikasi secara bergantian dan kurangnya pemahaman tentang struktur kedua bahasa yang digunakan.. Kata kunci: interferensi, fonologi, bahasa Indonesia yang baik dan benar.. Vii.
(8) KATA PENGANTAR. Alhamdulillahi robbil alamin, puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. atas berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Skripsi yang berjudul “Interferensi Fonologi Bahasa Bugis dan Pengaruhnya terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar” dirampungkan dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan akademik guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar. Salam dan salawat tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. sebagai ushwatun hasanah dan rahmat bagi alam semesta. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis telah banyak mendapat bantuan dalam bentuk bimbingan, saran, maupun motivasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu, selayaknya apabila dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah banyak memberikan inspirasi. Segala rasa hormat, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada Prof. Dr. M. Ide Said DM, M.Pd dan Dr. Munirah, M.Pd. sebagai pembimbing I dan pembimbing II yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi kepada penulis sejak awal perkuliahan hingga selesainya skripsi ini. Tidak lupa juga penulis mengucapkan terima kasih kepada: Dr. H. Irwan Akib, M.Pd., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. A. Sukri Syamsuri, M.Hum., Dekan Fakultas Keguruan. dan. Ilmu. Pendidikan. Universitas. Muhammadiyah. Makassar.. Dr. Munirah, M.Pd., Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Seluruh Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia beserta stafnya atas izin dan fasilitas yang diberikan dalam mendukung pendidikan sampai pelaksanaan penelitian. Terkhusus kepada sahabatku terima kasih telah menorehkan kenangan yang begitu indah selama viii.
(9) empat tahun kebersamaan kita, memberikan banyak motivasi, nasihat, dan dukungan agar penulis dapat menyelesaikan pendidikan. Penulis tentunya tidak dapat memberikan balasan yang setimpal terhadap semua bantuan dan bimbingan yang telah diberikan kecuali berdoa semoga Allah Swt. senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia kepada hamba-Nya yang senantiasa membantu sesamanya. Akhirnya,. dengan. segala. kerendahan. hati,. penulis. senantiasa. mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak, selama saran dan kritikan tersebut sifatnya membangun karena penulis yakin bahwa suatu persoalan tidak akan berarti sama sekali tanpa adanya kritikan. Mudah-mudahan di masa yang akan datang penulis dapat berkarya lebih baik lagi. Semoga skripsi ini dapat memberi manfaat bagi para pembaca, terutama bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Amin.. Makassar,. Penulis. Februari 2016.
(10) DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL ................................................................................... .... i. LEMBAR PENGESAHAN ......................................................................... .... ii. PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................................... iii SURAT PERNYATAAN .................................................................................. iv SURAT PERJANJIAN ..................................................................................... v MOTO DAN PERSEMBAHAN ...................................................................... vi ABSTRAK ......................................................................................................... vii KATA PENGANTAR ....................................................................................... ix DAFTAR ISI ...................................................................................................... x BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ .... 1 A. Latar Belakang .................................................................................. .... 1 B. Rumusan Masalah .............................................................................. 5. C. Tujuan Penelitian ............................................................................... 5. D. Manfaat Penelitian ............................................................................. 5. BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR ........................ 7. A. Kajian Pustaka .................................................................................... 7. B. Kerangka Pikir ................................................................................... 29. BAB III METODE PENELITIAN ............................................................. 31. A. Fokus Penelitian ................................................................................. 31. B. Definisi Istilah .................................................................................... 31. C. Data dan Sumber Data ....................................................................... 31. x.
(11) xi. D. Teknik Pengumpulan Data ................................................................. 31. E. Teknik Analisis Data .......................................................................... 32. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................... 33. A. Hasil Penelitian ................................................................................... 33. B. Pembahasan ......................................................................................... 48. BAB V SIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 53. A. Simpulan ............................................................................................. 53. B. Saran .................................................................................................... 54. DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 55.
(12) 1. BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Sejak diciptakannya manusia oleh Allah Swt. yaitu Nabi Adam as. dan Hawa, maka pada saat itu lahir bahasa karena dengan diciptakannya dua insan tersebut terjadilah suatu dialog atau komunikasi timbal balik, yang tentunya dengan menggunakan bahasa. Namun, bahasa yang digunakan, penulis tidak mengetahui secara pasti, dan mengenai nama bahasa itu tidak perlu dipersoalkan dan diperdebatkan, yang jelas, menurut hemat penulis, keberadaan bahasa itu muncul bersamaan diciptakannya manusia oleh Allah Swt. Adanya manusia berarti akan ada pula komunikasi sedang yang dijadikan sebagai alat komunikasi, adalah bahasa itu sendiri. Dengan demikian, terdapat hubungan yang erat antara bahasa dan komunikasi dalam umat manusia. Karena perkembangan kehidupan manusia, terbentuklah negara dan setiap negara itu memiliki bahasa nasional tersendiri. Kalau di negara Republik Indonesia yang menjadi bahasa nasional adalah bahasa Indonesia, yakni bahasa yang diikrarkan oleh pemuda bangsa Indonesia pada masa penjajahan Belanda yang dikenal dengan nama Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Pada saat itu bahasa Indonesia menjadi alat pemersatu dari penghubung antara daerah dan budaya di negara yang kita cintai. Diikrarkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional, dalam UU 1945 Pasal 36 dinyatakan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa negara, dan bahasa daerah yang dipakai sebagai alat perhubungan dan dipelihara oleh masyarakat 1 ..
(13) 2. pemakainya, dipelihara juga oleh negara sebagai bagian kebudayaan nasional yang hidup. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat No. 4/MPR/1978 menggariskan bahwa pembinaan bahasa daerah dilakukan dalam rangka pengembangan bahasa Indonesia dan untuk memperkaya perbendaharaan bahasa Indonesia sebagai salah satu sarana identitas nasional. Di samping ketentuan seperti yang tertentu dalam UUD itu bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa negara, bahasa Indonesia pun di negara Indonesia ini adalah bahasa resmi artinya dalam semua situasi resmi, baik lisan maupun tertulis wajib menggunakan bahasa Indonesia. Adapun berbagai macam bahasa itu, mengakibatkan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat dwibahasawan bahkan multibahasawan. Kalau di wilayah Sulawesi Selatan, masyarakatnya bisa mengalami kedwibahasaan karena sebagian masyarakat dapat bertutur kata (berbicara) dengan menggunakan bahasa Bugis dan bahasa Makassar, bahasa Bugis dan bahasa Indonesia, bahasa Bugis dan bahasa Inggris, bahasa Makassar dan bahasa Indonesia, bahasa Makassar dan bahasa Inggris, dan lain-lain. Bahkan ada pula masyarakat yang multibahasawan karena mereka dapat berbicara bahasa Bugis, dan bahasa Makassar serta bahasa Inggris, dan sebagainya. Dengan adanya kondisi masyarakat seperti ini, mempengaruhi mereka dalam berbicara pada saat menggunakan satu bahasa. Sengaja atau tidak, sering terjadi kesalahan di dalam menggunakan bahasa tertentu karena kebiasaan menggunakan dua bahasa atau lebih secara bergantian dalam kehidupan sehari-hari. Namun, hal seperti ini sulit untuk dihindari bagi masyarakat Indonesia, karena bahasa pertama yang menjadi bahasa ibu atau. ..
(14) 3. bahasa pertama yang dikuasai oleh masyarakat pada umumnya telah dipelajari bahkan terwaris secara alamiah. (Kamaruddin, 1992). Hasil survei menunjukkan bahwa 98 persen di antara responden yang mengatakan bahwa anak di desanya mempelajari bahasa daerah sebagai bahasa pertama dan hanya 2 persen yang menyatakan bahasa Indonesia yang pertama dipelajari oleh anak-anak. Bahasa ibu dikuasai bukan melalui proses belajar, melainkan melalui perolehan bahasa secara bawah sadar. Menurut Slametmulyana (dalam Badudu, 1983:16) mengatakan antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah telah terjadi kontak sosial dan budaya yang aktif. Jiwa bahasa Indonesia dan jiwa bahasa daerah telah bertemu. Kedua bahasa yang bersangkutan mulai saling memperhatikan, akhirnya saling mempengaruhi. Bahkan masyarakat yang berasal dari daerah dan suku tertentu, apabila mereka tinggal pada daerah yang masyarakatnya berbahasa daerah yang lain pula, pada umumnya mereka tetap mempertahankan bahasa daerah atau bahasa ibu tersebut, di samping menggunakan bahasa Indonesia. Melihat kenyataan ini, penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian terhadap masyarakat yang dwibahasaan, yakni pada suku Bugis Bone. Kita telah mengetahui bahwa bahasa ibu bagi masyarakat Bone adalah bahasa Bugis, bahasa ini menjadi alat komunikasi masyarakat Bone, di samping merupakan pendukung kebudayaan daerah yang harus tetap dipelihara dan dikembangkan. Karena bahasa Bugis memang telah menjadi bahasa pertama (ibu) oleh suku Bugis Bone, mengakibatkan masyarakatnya sering menggunakan bahasa Indonesia yang kurang tepat, apalagi dalam situasi formal.. ..
(15) 4. Penggunaan bahasa Bugis dan bahasa Indonesia secara bergantian itu, akan sulit dihindari adanya kontak bahasa, yang tentunya berpengaruh pada penggunaan bahasa Indonesia berdasarkan kaidah-kaidah yang berlaku. Kesalahan berbahasa Indonesia bukan hanya dalam rumah tangga setiap siswa, melainkan terbawa sampai di sekolah. Padahal, sekolah sebagai lembaga formal pendidikan, untuk mendidik anak/siswa agar menguasai bahasa Indonesia yang benar, baik dalam tulisan maupun dalam bentuk lisan. Namun, kenyataannya kesalahan berbahasa Indonesia masih sering ditemukan di sekolah-sekolah, mulai dari tingkat dasar sampai tingkat menengah, bahkan di perguruan tinggi sekalipun. Oleh karena itu, penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian terhadap penggunaan bahasa Indonesia oleh masyarakat yang dwibahasaan, yakni dengan memilih objek penelitian pada masyarakat suku bugis Bone. Berdasarkan penelusuran terhadap beberapa karya penelitian sebelumnya yang memiliki tema yang hampir relevan dengan tema yang diangkat peneliti yakni sebagai berikut. Skripsi karya Nuraeni (2003) yang berjudul Interferensi Bahasa Bugis terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Berkomunikasi oleh Siswa SLTP Negeri 4 Kahu Kabupaten Bone, yang mengungkapkan bahwa adanya kesalahan yang terjadi dalam penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa pertama atau bahasa Bugis untuk berkomunikasi. Dalam penelitian ini, penulis akan mengamati, meneliti, dan mencari data mengenai “Interferensi Fonologi Bahasa Bugis dan Pengaruhnya terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar”. Alasan memilih judul ini karena sampai saat ini masih banyak kesalahan-kesalahan yang dilakukan pada. ..
(16) 5. masyarakat. kampus. khususnya. pengguna. bahasa. Bugis. dalam. proses. berkomunikasi dan juga sebagai bahan masukan bagi para pembina, terutama pengajar bahasa Indonesia.. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, pokok permasalahan yang perlu menjadi perhatian dalam penelitian ini adalah: “Bagaimanakah interferensi fonologi bahasa Bugis dan pengaruhnya terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar ?. C. Tujuan Penelitian. Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah mengetahui interferensi fonologi bahasa Bugis dan pengaruhnya terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.. D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik bersifat teoretis maupun bersifat praktis: 1.. Secara teoretis penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat untuk pengembangan teori kebahasaan dan menambah informasi khazanah penelitian kajian fonologi sebagai disiplin ilmu linguistik yang memusatkan perhatiannya pada gejala kebahasaan di masyarakat.. ..
(17) 6. 2.. Secara praktis, penelitian ini memberikan gambaran tentang interferensi fonologi bahasa Bugis dan pengaruhnya terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan memperkaya wawasan pengetahuan di bidang. linguistik. khususnya. pengetahuan. tentang. fonologi. dalam. pengggunaan bahasa Indonesia. Temuan tersebut diharapkan memberi kontribusi data dasar bagi penelitian lanjutan yang sejenis serta dapat menambah pengetahuan bagi pembaca, peneliti dan para pemerhati kebahasaan.. ..
(18) 7. BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. A. Kajian Pustaka Keberhasilan suatu penelitian bergantung teori yang mendasarinya. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa teori yang terkait, semua teori tersebut dipaparkan sebagai berikut;. 1.. Penelitian Relevan Berdasarkan penelusuran terhadap beberapa karya penelitian sebelumnya. yang memiliki tema yang hampir relevan dengan tema yang diangkat peneliti yakni sebagai berikut: Pertama, skripsi karya Nuraeni (2003) yang berjudul Interferensi Bahasa Bugis terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Berkomunikasi oleh Siswa SLTP Negeri 4 Kahu Kabupaten Bone, yang mengungkapkan bahwa adanya kesalahan yang terjadi dalam penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa pertama atau bahasa Bugis untuk berkomunikasi. Kedua, Disertasi karya Masrurah Mochtar (2000) yang berjudul Interferensi Morfologis Penutur Bugis terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia, yang menyatakan bahwa adanya kontak yang semakin intensif antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah (BD) telah membawa perubahan dalam lingkup bentuk pemakaian kedua bahasa tersebut.. 7 ..
(19) 8. Berdasarkan temuan-temuan di atas, ditunjukkan bahwa tema yang diangkat penulis memiliki perbedaan oleh kedua penulis yang telah disebutkan di atas. Pertama, dilihat lebih dekat kalau dibandingkan dengan penelitian Nuraeni berbeda sasaran yang akan diteliti. Sasaran peneliti adalah mencari tahu interferensi fonologi dan pengaruhnya terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar pada masyarakat kampus Unismuh Makassar. Sedangkan, penelitian Nuraeni mengungkapkan Interferensi Bahasa Bugis dan Pengaruhnya terhadap Bahasa Indonesia dalam Berkomunikasi oleh Siswa SLTP Negeri 4 Kahu Kabupaten Bone. Sementara itu, jika dibandingkan dengan penelitian tesis Masrurah Mochtar, subjek dan objek yang diteliti berbeda. Objek yang diangkat penulis yaitu Interferensi Fonologi Bahasa Bugis dan Pengaruhnya terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar. Sementara, pada karya penelitian Masrurah Mochtar adalah Interferensi Morfologis Penutur Bugis terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia. Subjek sasaran pun berbeda, subjek penelitian penulis adalah masyarakat kampus Unismuh Makassar, sedangkan subjek Masrurah Mochtar dilaksanakan dengan responden sebanyak 200 orang yang diambil berdasarkan pekerjaan (pegawai guru, dosen, pedagang, petani, dan pelajar). Oleh karena itu, dengan permasalahan interferensi fonologi dan pengaruhnya terhadap bahasa Indonesia yang baik dan benar, layak untuk dikaji lebih lanjut untuk dijadikan sebagai objek penelitian ini.. ..
(20) 9. 2.. Fonologi. a.. Pengertian Fonologi Menurut Chaer (2009: 1) secara etimologis kata fonologi berasal dari kata. fone yang berarti ‘bunyi’, dan logos yang berarti ilmu. Sebagai sebuah ilmu, fonologi lazim diartikan sebagai bagian dari kajian linguistik yang mempelajari, membahas membicarakan, dan menganalisis bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat-alat ucap manusia. Menurut hierarki satuan bunyi terkecil yang menjadi objek kajiannya, fonologi dibagi atas dua bagian, yaitu fonetik dan fonemik. Secara umum, fonetik bisa dijelaskan sebagai cabang fonologi yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa tanpa memperhatikan statusnya, apakah bunyi bahasa itu dapat membedakan makna atau tidak. Sedangkan fonemik adalah cabang kajian fonologi yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsinya sebagai pembeda makna. Masnur Muslich (2008: 8-9) membagi fonetik menjadi tiga macam yaitu : fonetik fisiologis atau artikularis, fonetik akuistik, dan fonetik auditoris. Berdasarkan keberadaan bunyi bahasa itu sewaktu dikaji, dibedakan adanya tiga macam fonetik, yaitu fonetik fisiologis artikulatoris, fonetik akuistik, dan fonetik auditoris. Sewaktu bunyi itu berada dalam proses produksi di dalam mulut penutur, dia menjadi objek kajian fonetik artikulatoris atau fonetik organis. Sewaktu bunyi itu berada atau sedang merambat di udara menuju telinga pendengar, dia menjadi objek kajian fonetik akustis. Lalu, sewaktu banyi bahasa itu sampai atau berada di telinga pendengar, dia menjadi objek kajian fonetik auditoris.. ..
(21) 10. Gambar 1.1: Gambar pembagian fonetik. Fonetik artikulatoris disebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis meneliti bunyi-bunyi bahasa itu diproduksi oleh alat-alat ucap manusia. Pembahasannya, antara lain meliputi masalah alat-alat ucap yang dugunakan dalam memproduksi bunyi bahasa; bagaimana bunyi bahasa itu dibuat; mengenai klasifikasi bunyi bahasa yang dihasilkan serta apa kriteria yang digunakan. Alat ucap adalah alat yang digunakan untuk mengucapkan kalimat-kalimat, frase-frase kata-kata. Alat itu terdiri atas, Paru-paru, Laring, Faring, Rongga mulut, Rongga Hidung, Bibir, Gigi, Lidah, Gusi (Alveolum), Langit-langit Keras (Palatum), Langit-langit Lembut (Velum), Pangkal Lidah (Ovula). Fonetik akuistik, yang objeknya adalah bunyi bahasa ketika merambat ke udara, antara lain membicarakan gelombang bunyi beserta frekuensi dan kecepatannya ketika merambat ke udara, spektrum, tekanan dan intensitas bunyi. Kajian fonetis akuistik lebih mengarah kepada kajian fisika daripada kajian linguistik, meskipun linguistik punya kepentingan di dalamnya. Fonetik auditoris meneliti bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu diterima oleh telinga, sehingga bunyi-bunyi itu didengar dan dapat dipahami. Dalam hal ini. ..
(22) 11. tentunya pembahasan mengenai struktur dan fungsi alat dengar, yang disebut telinga itu bekerja. Bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu, sehingga bisa dipahami. Oleh karena itu, kiranya kajian fonetik auditoris lebih berkenaan dengan ilmu kedokteran, termasuk kajian neurologi. b.. Fonem Bahasa Bugis Mulia (1997) berpendapat bahwa bahasa Bugis adalah bahasa yang. digunakan oleh masyarakat Sul-Sel yang abjadnya dikenal dengan sebutan lontara. Sistem aksara lontara terdiri atas 23 tanda bunyi yang biasa disebut ina surek artinya `induk huruf΄. Di samping itu, terdapat pula tanda-tanda yang dapat menimbulkan variasi bunyi yang disebut anak surek. Ke-23 tanda bunyi `ina surek΄ tersebut adalah: Gambar 1.2 Aksara Lontara. http://syamsudduhaa.blogspot. com/2013/10 /pembinaan-danpengembangan-bahasa-bugis_19.html diakses 12 Mei 2015 Kelima anak surek ditempatkan pada berbagai posisi berikut: 1) tanda ( e---- ) tempatnya di depan ina surek menghasilkan bunyi /É/ 2) tanda (---- o) tempatnya di belakang ina surek menghasilkan bunyi /o/ 3) tanda ( ----E ) tempatnya di atas ina surek menghasilkan bunyi /ə/. ..
(23) 12. 4) tanda ( --•-- ) tempatnya di atas ina surek, mengahasilkan bunyi /i/ dan 5) tanda ( --.--) di bawah ina surek, menghasilkan bunyi /u/ Sistem ejaan telah berkali-kali diupayakan penyempurnaannya. Atas prakarsa Lembaga Bahasa Nasional Cabang III Ujung Pandang, pada tahun 1975 telah diselenggarakan Seminar Pembakuan Ejaan Bahasa Bugis-Makassar dengan huruf Latin di Ujung Pandang. Hasilnya, berupa Pedoman Ejaan Bahasa-bahasa Daerah di Sulawesi Selatan (1989). Selanjutnya, pada tahun 1990 diadakan Lokakarya Pemantapan Ejaan Latin Bahasa-bahasa Daerah di Sulawesi Selatan yang dibiayai oleh Balai Penelitian Bahasa di Ujung Pandang. Adapun implikasi dari seminar tersebut adalah timbulnya kesadaran pemerintah daerah untuk melestarikan sistem aksara yang direalisasikan dengan meningkatkan pengajaran bahasa Bugis di sekolah-sekolah termasuk pengajaran aksara lontaraknya. c.. Fonem Bahasa Indonesia Nazir dan Wayan. (1987 : 23) berpendapat bahwa Bahasa Indonesia. memiliki sistem ejaan dan mempunyai 26 huruf yang tersusun dalam sebuah abjad. Ejaan ialah perlambangan fonem dengan huruf. Dalam sistem ejaan suatu bahasa, ditetapkan bagaimana fonem-fonem dalam bahasa itu dilambangkan. Lambang fonem itu dinamakan huruf. Susunan sejumlah huruf dalam suatu bahasa disebut abjad. Huruf-huruf yang jumlahnya 26 buah itulah yang dipakai untuk melambangkan bunyi dan fonem di dalam bahasa Indonesia. Akan tetapi, tidak semua fonem atau bunyi dapat dilambangkan dengan satu huruf. Misalnya bunyi vokal [ i ], dan [ I ] masih dilambangkan dengan huruf i, bunyi vokal [ u ], [ U ] masih dilambangkan dengan huruf u, bunyi vokal [ e, E, ə, dan ].. ..
(24) 13. Tabel 1.1 lambang fonem No. .. Huruf. Nama. Lambang Fonem. A. A. [a]. B. Be. [b]. C. Ce. [c]. D. De. [d]. E. E. [ e E, ə]. F. Ef. [ ef ]. G. Ge. [g]. H. Ha. [h]. I. I. [ i, I ]. J. Je. [j]. K. Ka. [k]. L. Le. [l]. M. Em. [m]. N. En. [n]. O. O. [o]. P. Pe. [p]. Q. Qui. [q]. R. Er. [r]. S. Es. [s]. T. Te. [t]. U. U. [ u, U ]. V. Ve. [v]. W. We. [w]. X. Eks. [x]. Y. Yei. [y]. Z. Zet. [z].
(25) 14. 3.. Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar Bahasa Indonesia yang baik dan benar dibagi tiga menurut Hadi dan Arifin. (1993:9) yaitu; a.. Bahasa yang Baik Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa Indonesia yang digunakan. sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku. Misalnya, dalam situasi santai dan akrab, seperti di warung kopi, di pasar, di tempat arisan, dan di lapangan sepak bola hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang santai dan akrab dan tidak terlalu terikat oleh patokan. Dalam situasi resmi dan formal, seperti dalam kuliah, seminar, sidang DPR, pidato kenegaraan hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang resmi dan formal, yang selalu memperhatikan norma bahasa. b.. Bahasa yang Benar Bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan. sesuai dengan aturan atau kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Kaidah bahasa Indonesia itu meliputi kaidah ejaan, kaidah pembentukan kata, kaidah penyusunan kalimat, kaidah penyusunan paragraf, dan kaidah penataan penalaran. Jika kaidah digunakan dengan cermat, kaidah pembentukan kata diperhatikan dengan saksama, dan penataan penalaran ditaati dengan konsisten, pemakaian bahasa Indonesia dikatakan benar. Sebaliknya, jika kaidah-kaidah bahasa itu kurang ditaati, pemakaian bahasa tersebut dianggap tidak benar/tidak baku. c.. Bahasa yang Baik dan Benar Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang. ..
(26) 15. digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Jika bahasa diibaratkan pakaian, kita akan menggunakan pakaian renang pada saat akan berenang di kolam renang sambil membimbing dan mengajari anak-anak berenang. Akan tetapi, tentu kita akan mengenakan pakaian yang disetrika rapi, sepatu yang mengkilat dan seorang laki-laki mungkin akan menambahkan dasi yang bagus pada saat ia menghadiri suatu pertemuan resmi, pada saat menghadiri pesta perkawinan rekan sejawat, atau pada waktu menghadiri sidang DPR. Tetapi, akan sangat ganjil jika pakaian, sepatu, dan dasi itu kita gunakan untuk berenang. Demikian juga, kita akan dinilai orang yang kurang adab jika menghadiri acara dengar pendapat di DPR dengan pakaian renang karena di sana ada ketentuan yang sudah disepakati bahwa siapa pun yang akan menghadiri acara resmi di DPR harus berpakaian rapi. Kalau contoh itu dianalogikan dengan pemakaian bahasa, betapa ganjilnya percakapan seorang suami dengan istrinya jika berlangsung seperti berikut: Suami : “Bu, bolehkah bapak bertanya, apakah ibu sudah menyiapkan hidangan untuk makan siang hari ini ?” Istri. : “Ya tentu saja. Saya sudah masak nasi lengkap dengan sayur kesenangan. Bapak, dan sekarang silakan Bapak menikmati. hidangan itu. Silakan Bapak menikmati hidungan yang sudah disiapkan.. ..
(27) 16. Suami : ”Mari Bapak cicipi makanan ini. Oh, menurut hemat Bapak seandainya Ibu menambahkan garam sedikit lagi ke dalam sayur ini, pasti sayur tersebut akan lebih lezat.” Istri. : Mudah-mudahan pada kesempatan lain Ibu dapat membuat sayur lebih enak seuai dengan saran Bapak.”. Lucu sekali ilustrasi itu, bukan? Sebaliknya, bagaimana pendapat Anda jika seorang. mahasiswa. (pembicara) bertanya kepada dosennya (pendengar) tentang materi kuliah yang diberikan dosen (objek), pada saat kuliah berlangsung (waktu), di kampus (tempat), dalam situasi belajar-mengajar (resmi) sebagai berikut. “Maaf Mas, gue kepengen usul, coba jelasin dulu dong garis besar kuliah kita, apakah sudah sesuai kurikulum unuiversitas kita?” Kedua contoh rekaan itu dapat dikatakan tidak tepat. Contoh pertama sangat menggelikan karena pada situasi santai digunakan bahasa yang resmi sehingga terasa kaku; contoh kedua juga sangat tidak tepat karena pada situasi formal dugunakan kata-kata dialek dan struktur yang tidak baku. Sehingga mirip percakapan di warung kopi. Kedua contoh itu tidak baik dan tidak benar karena bahasa yang digunakan tidak sesuai dengan situasi pemakaian, lagipula tidak sesuai dengan kaidah yang berlaku. Contoh yang lain pemakaian lafal daerah, seperti lafal bahasa Bugis, Jawa, Sunda, Batak dalam berbahasa Indonesia pada situasi resmi dan formal sebaiknya. ..
(28) 17. dikurangi. Kata memuaskan yang diucapkan (memuaskang) bukanlah lafal bahasa Indonesia. Pemakaian lafal asing sama saja salahnya dengan pemakaian lafal daerah. Ada orang yang sudah terbiasa mengucapkan kata logis dan sosiologi menjadi (lohis) dan (sosiolohi). Itu merupakan pengucapan yang perlu dibenahi jika kita sedang berbicara dalam bahasa Indonesia situasi resmi. Sebenarnya, kesalahan umum pemakaian bahasa Indonesia dalam masyarakat merupakan suatu gejala yang wajar. Kesalahan umum berbahasa Indonesia timbul dalam masyarakat, antara lain, karena bahasa Indonesia sedang berkembang. Penggunaan bahasa Indonesia sedang menuju ke penggunaan bahasa yang standar. Di satu pihak para pakar bahasa menyarankan pemakaian bahasa yang sesuai dengan kaidah, tetapi di pihak lain masyarakat masih terbiasa berbahasa dengan mengabaikan kaidah. Akan tetapi, tidak berarti bahwa kesalahan umum itu harus dibiarkan berlarut-larut. Sudah saatnya, kesalahan itu kita atasi dengan segera. Untuk mengatasi kesalahan itu dengan segera, para pemakai bahasa harus berupaya meningkatkan keterampilannya dalam memperagakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan aturan yang berlaku. Anjuran ini mudah diucapkam, tetapi sukar dilaksanakan karena hal itu semua memerlukan kesadaran dan kemauan para pemakai bahasa Indonesia untuk memperbaiki diri jika ia membuat kesalahan.. ..
(29) 18. Dalam kaitan dengan kesadaran dan kemauan itu, Abas (dalam Hadi dan Arifin, 1993-13) mengemukakan bahwa menggolong–golongkan pemakai bahasa menjadi empat kelompok sebagai berikut. a. Golongan yang tidak tahu bahwa ia tidak tahu b. Golongan yang tahu bahwa ia tidak tahu c. Golongan yang tahu bahwa ia tahu d. Golongan yang tidak tahu bahwa ia tahu Penggolongan itu dapat ditafsirkan seperti berikut. Golongan a, itu berarti tidak seorang pun boleh menasihati supaya menggunakan bahasa Indonesia dengan benar. Dia tidak menyadari bahwa dirinya tidak tahu aturan bahasa. Jika termasuk golongan b,. menerima nasihat dari siapapun tentang penggunaan. bahasa Indonesia yang benar karena sadar bahwa tidak mengetahui aturan bahasa. Jika termasuk golongan c, dengan pengetahuan yang sudah ada, maka pengetahuan tentang bahasa cukup sampai di situ. Jika termasuk golongan ke d selalu mencari dan bertanya tentang kaidah pemakaian bahasa yang benar karena pengetahuan yang sudah dimiliki terasa masih belum cukup. 4.. Interferensi Bahasa Interferensi bahasa merupakan hasil dari pemakaian dua bahasa yang. menimbulkan kecenderungan untuk memasukkan unsur bahasa yang satu pada bahasa lainnya. Dalam buku Analisis Kesalahan Berbahasa karangan A. Muhammad Junus dan A. Fatimah Junus mengatakan bahwa: Tarigan dalam Junus dan Junus (2010:21) mengatakan bahwa untuk memahami kesalahan berbahasa tidak mungkin dilakukan secara tuntas tanpa. ..
(30) 19. pemahaman yang baik terhadap interferensi, kedwibahasaan, pemerolehan bahasa, dan pengajaran bahasa yang erat hubungannya satu sama lain. Selanjutnya, pemahaman kesalahan berbahasa memberikan umpan balik bagi penyempurnaan program pengajaran bahasa. Keterkaitan antara pengajaran bahasa, pemerolehan bahasa, kedwibahasaan, interferensi, dan kesalahan berbahasa. Dalam diagram di bawah ini dapat dilihat keterkaitan antara pengajaran bahasa yang erat hubungannya satu sama lain. Selanjutnya, pemahaman kesalahan berbahasa memberikan umpan balik bagi penyempurnaan program pengajaran berbahasa. Penjelasan di atas menunjukkan struktur gangguan yang menyebabkan terjadinya. kesalahan. dalam. berbahasa.. Pengajaran. bahasa. melahirkan. pemerolehan bahasa. Hal ini berkaitan erat antara bidang pengajaran bahasa dan pemerolehan bahasa. Bahasa yang mula-mula diperoleh siswa disebut bahasa pertama (BI) dan bahasa yang diperoleh sesudah menguasai bahasa pertama disebut bahasa kedua (B2). Jalur pemerolehan bahasa ada yang melalui kegiatan formal dan ada pula informal atau biasa juga disebut learning a language at home, dan pendidikan formal biasa juga disebut learning a language at school Tarigan (dalam Junus dan Junus, 2010:28). Sehubungan pemerolehan bahasa Kaseng dalam Junus dan Junus (2010:29) mengatakan bahwa bahasa adalah alat berkomunikasi dan alat berpikir. Oleh karena itu, hubungan bahasa dengan kecerdasan sangat erat. Oleh karena itu pula, dalam menaruh perahatian pada pendidikan, kita memberikan perhatian pula pada perkembangan mental atau kecerdasan manusia yang merupakan salah satu. ..
(31) 20. tujuan terpenting bagi kehidupan manusia di muka bumi ini, yang merupakan tujuan universal. Salah satu aspek pendidikan bahasa yang perlu mendapat perhatian ialah pemerolehan bahasa. Pemerolehan bahasa melahirkan kedwibahasaan atau dengan kata lain kedwibahasaan adalah dua bahasa yang digunakan oleh seseorang secara bergantian. Misalnya bahasa Bugis dengan bahasa Indonesia, bahasa Bugis dengan bahasa Makassar, bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Perlu dipahami bahwa kadar kesempurnaan bahasa yang digunakan silih berganti itu relative, ada yang sempurna, kurang sempurna, dan tidak sempurna. Hastuti (dalam Junus dan Junus, 2010:30) mengatakan bahwa kadangkadang di dalam komunikasi karena keinginan yang kuat mengemukakan pendapatnya, baik pengajar maupun pembelajar tidak menyadari bahwa mereka ini. masing-masing. menggunakan. dua. bahasa. secara. berganti-ganti.. Kedwibahasaan bisa terjadi jika pada bahasa yang sedang dipakai tidak ditemukan konsep dalam bahasa yang dituturkan, maka seolah-olah ia dengan sendiri beralih menggunakan kode lain (bahasa lain). Kemungkinan lain jika penutur yang bersangkutan sudah bisa menggunakan kata atau istilah yang ia kuasai. Dengan demikian, ia bisa dikatakan menggunakan dua bahasa secara bergantian. Penggantian bahasa itu disebut alih bahasa. Jika seseorang memakai kata atau kalimat dari bahasa lain di dalam kerangka penggunaan sesuatu bahasa tertentu disebut campur kode. Kedwibahasaan melahirkan interferensi. Interferensi adalah produksi kedwibahasaan yang merusak atau merugikan bahasa yang bersangkutan.. ..
(32) 21. Kebiasaan kedwibahasaan menimbulkan kecenderungan untuk memasukkan unsur bahasa yang satu pada bahasa lainnya; atau sekaligus menerapkan dua pola bahasa yang dikenalnya pada saat menggunakan salah satu bahasa tadi sehingga terdapat tendensi yang bertentangan dengan informasi bahasa. Penyimpangan-peyimpangan dari norma salah satu bahasa tadi sebagai akibat dari keintimannya pada dua bahasa atau lebih disebut gejala interferensi Said (dalam Junus dan Junus, 2010:30). Tarigan (dalam Junus dan Junus, 2010:30) mengatakan bahwa kontak bahasa yang terjadi pada diri dwibahasawan menimbulkan saling pengaruh antara B1 dan B2. Saling pengaruh antara B1 dan B2 berarti bahwa B1 dapat mempengaruhi B2 atau sebalikya. Kontak B1 dan B2 terjadi pada individu yang menggunakan kedua bahasa itu secara bergantian. Pengaruh ini dapat hilang sama sekali pada saat pembicara menguasai dengan baik B1 dan B2 pada taraf yang sama baiknya. Sistem bahasa yang sering digunakan oleh dwibahasawan dapat berupa sistem fonologi, morfologi, dan sintaksis. Sepanjang sistem bahasa yang digunakan itu mempunyai kesamaan dalam kedua bahasa tersebut, maka belum terjadi kekacauan. Akan tetapi, apabila sistem bahasa yang digunakan berbedabeda pada kedua bahasa itu, maka mulailah timbul kekacauan. Penggunaan sistem bahasa tertentu pada bahasa lainnya disebut transfer atau pemindahan sistem fonologi, morfologi, dan sintaksis. Transfer yang bersifat membantu karena kesamaan atau kesejajaran di sebut transfer positif. Sebaliknya,. ..
(33) 22. jika transfer itu bersifat megacaukan karena perbedaan sistem bahasa maka transfer itu disebut transfer negatif. Transfer positif terjadi apabila orang Bugis menggunakan bahasa Bugis pada waktu berbicara dalam bahasa Makassar sedang sistem itu kebetulan sama pada kedua bahasa tersebut. Unsur-unsur yang sama di dalam B1 dan B2 yang sedang dipelajari sangat menunjang pengajaran B2 sebaliknya unsur-unsur berbeda menyebabkan timbulnya kesulitan belajar. Contoh pelaku orang ketiga pada bahasa Bugis Bone dan Bugis Makassar: Bolana (Bugis Bone) Ballanna (Bugis Makassar), manuqna (Bugis Bone), janganna (Bugis Makassar). Transfer negatif terjadi jika orang yang berbahasa Inggris menggunakan struktur atau susunan kata bahasa Indonesia. Contoh orang tua (Bahasa Indonesia) old man (Bahasa Inggris). Interferensi menimbulkan kesalahan berbahasa atau dengan kata lain kesalahan berbahasa adalah produksi iterferensi. Kesalahan berbahasa yang dilakukan oleh pengguna bahasa harus diperbaiki. Penemuan kesalahan berbahasa ini dapat dimanfaatkan sebagai umpan balik dalam usaha penyempurnaan pengajaran bahasa Indonesia.. 5.. Jenis Interferensi. a.. Interferensi bunyi/Fonetik Interferensi terjadi bila penutur itu mengidentifikasi fonem sistem bahasa. pertama (bahasa sumber atau bahasa yang sangat kuat memengaruhi seorang penutur) dan kemudian memakainya dalam sistem bahasa kedua (bahasa sasaran).. ..
(34) 23. Dalam mengucapkan kembali bunyi itu, dia menyesuaikan pengucapannya dengan aturan fonetik bahasa pertama. Penutur dari jawa selalu menambahkan bunyi nasal yang homorgan di muka kata-kata yang dimulai dengan konsonan /b/, /d/, /g/, dan /j/, misalnya pada kata:/mBandung/, /mBali/, /nDaging/, /nDepok/, /ngGombong/, /nyJambi/ dalam pengucapan kata-kata tersebut telah terjadi interferensi tata bunyi bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia. Hal-hal yang menyebabkan kekacauan tersebut yaitu: 1) Adanya bunyi yang hampir bersamaan dalam bahasa asal. 2) Adanya pemakaian bunyi sentak yang sebenarnya tidak perlu diucapkan. Bunyi /s/ dalam bahasa Indonesia sering dikacaukan pemakainnya dengan /sy/. Kekacauan ini timbul akibat adanya kata-kata serapan dari bahasa Arab yang mengandung kedua macam bunyi tersebut. contoh: /salam/ - /syalam/, /insan/ /insyan/, /saraf/ - /syaraf/, /shabat/ - /syahabat/, /slat/ - /syalat/, /insaf/ - /insyaf/. Selain itu, bunyi /s/ dalam pemakaian bahasa Indonesia dikacaukan pula dengan bunyi /z/. hal ini tamapak, mislanya pada pemakaian kata /asas/ atau /asasi/ menjadi /asazi/ atau /azazi/. Kekacauan juga terjadi pada pengucapan bunyi /p/ dengan /f/. hal ini terjadi pada kata serapan yang mengandung bunyi tersebut. Contoh /pikir/ - /fikir/, /sipat/ - /sifat/, /transport/ - /transfor/, /pantasi/ - /fantasi/, /pisik/ - /fisik/, /aktip/ /aktif/ b.. Interferensi Tata Bahasa/Morfologi Terjadi apabila seorang penutur mengidentifikasi morfem atau tata bahasa. pertama dan kemudian menggunakannya dalam bahasa kedua. Interferensi tata. ..
(35) 24. bentuk kata atau morfologi terjadi bila dalam pembentukan kata-kata bahasa pertama penutur menggunakan atau menyerap awalan atau akhiran bahasa kedua. Misalnya awalan ke- dalam kata ketabrak, seharusnya tertabrak, kejebak seharusnya terjebak, kekecilan seharusnya terlalu kecil. Dalam bahasa Arab ada sufiks -wi dan -ni untuk membentuk adjektif seperti dalam kata-kata manusiawi, inderawi, dan gerejani. Tipe lain interferensi ini adalah interferensi struktur. Yaitu pemakaian struktur bahasa pertama dalam bahasa kedua. Misalnya kalimat dalam bahasa Inggris, I and my friend tell that story to my father sebagai hasil terjemahan dari saya dan teman saya menceritakan cerita itu kepada ayah saya. Dalam kalimat bahasa Inggris tersebut tampak penggunaan struktur bahasa dalam bahasa Indonesia. Padahal terjemahan yang baik tersebut sebenarnya adalah My friend and i tell that story to my father. c.. Interferensi Kosakata/Sintaksis Interferensi ini terjadi karena pemindahan morfem atau kata bahasa. pertama ke dalam pemakaian bahasa kedua. Bisa juga terjadi perluasan pemakaian kata bahasa pertama, yakni memperluas makna kata yang sudah ada sehingga kata dasar tersebut memperoleh kata baru atau bahkan gabungan dari kedua kemungkinan di atas. Misalnya, Rumahnya ayahnya Ali yang besar sendiri di kampung itu, atau Makanan itu telah dimakan oleh saya, atau Hal itu saya telah katakan kepadamu kemarin. Bentuk tersebut merupakan bentuk interferensi karena sebenarnya ada padanan bentuk tersebut yang dianggap lebih gramatikal yaitu: Rumah ayah Ali yang besar di kampung ini, Makanan itu telah saya makan, dan Hal itu telah saya katakan kepadamu kemarin.. ..
(36) 25. d.. Interferensi Tatamakna/Semantik Interferensi dalam tata makna dapat dibagi menjadi tiga bagian.. Interferensi perluasan makna atau expansive interference, yakni peristiwa penyerapan unsur-unsur kosakata ke dalam bahasa lainnya. Misalnya konsep kata Distanz yang berasal dari kosakata bahasa Inggris distance menjadi kosakata bahasa Jerman. Atau kata democration menjadi Demokration dan demokrasi. Interferensi penambahan makna atau additive interference, yakni penambahan kosakata baru dengan makna yang agak khusus meskipun kosakata lama masih tetap dipergunakan dan masih mempunyai makna lengkap. Misalnya kata Father dalam bahasa Inggris atau Vater dalam bahasa Jerman menjadi Vati. Pada usahausaha ‘menghaluskan’ makna juga terjadi interferensi, misalnya: penghalusan kata gelandangan. menjadi. tunawisma. dan. tahanan. menjadi. narapidana.. Interferensi penggantian makna atau replasive interference, yakni interferensi yang terjadi karena penggantian kosakata yang disebabkan adanya perubahan makna seperti kata saya yang berasal dari bahasa melayu sahaya. Bahasa yang mempunyai latar belakang sosial budaya, pemakaian yang luas dan mempunyai kosakata yang sangat banyak, akan banyak memberi kontribusi kosakata kepada bahasa-bahasa yang berkembang dan mempunyai kontak dengan bahasa tersebut. Dalam proses ini bahasa yang memberi atau memengaruhi disebut bahasa sumber atau bahasa donor, dan bahasa yang menerima disebut bahasa penyerap atau bahas resepien, sedangkan unsur yang diberikan disebut unsur serapan atau importasi. . Tetapi dengan bahasa asing, bahasa Indonesia hanya menjadi penerima dan tidak pernah menjadi pemberi.. ..
(37) 26. Sekurang- kurangnya ada tiga unsur penting yang mengambil peranan dalam terjadinya proses interferensi yaitu: Bahasa sumber (source language) atau biasa dikenal dengan sebutan bahasa donor. Bahasa donor adalah bahasa yang dominan dalam suatu masyarakat bahasa sehingga unsur-unsur bahasa itu kerapkali dipinjam untuk kepentingan komunikasi antar warga masyarakat. Bahasa sasaran atau bahasa penyerap (recipient). Bahasa penyerap adalah bahasa yang menerima unsur-unsur asing itu dan kemudian menyelaraskan kaidah-kaidah pelafalan dan penulisannya ke dalam bahasa penerima tersebut. Unsur serapannya atau importasi (importation). Hal yang dimaksud di sini adalah beralihnya unsur-unsur dari bahasa asing menjadi bahasa penerima. Secara umum, Ardiana (dalam Nyoman, http://kidunghijau.blog spot.com/2013/01/ interferensi-dan-integrasi.html, diakses 12 mei 2015) membagi interferensi menjadi lima macam, yaitu (1) Interferensi kultural dapat tercermin melalui bahasa yang digunakan oleh dwibahasawan. Dalam tuturan dwibahasawan tersebut muncul unsur-unsur asing sebagai akibat usaha penutur untuk menyatakan fenomena atau pengalaman baru. (2) Interferensi semantik adalah interferensi yang terjadi dalam penggunaan kata yang mempunyai variabel dalam suatu bahasa. (3) Interferensi leksikal, harus dibedakan dengan kata pinjaman. Kata pinjaman atau integrasi telah menyatu dengan bahasa kedua, sedangkan interferensi belum dapat diterima sebagai bagian bahasa kedua. Masuknya unsur leksikal. ..
(38) 27. bahasa pertama atau bahasa asing ke dalam bahasa kedua itu bersifat mengganggu. (4) Interferensi fonologis mencakup intonasi, irama penjedaan dan artikulasi. (5) Interferensi gramatikal meliputi interferensi morfologis, fraseologis dan sintaksis.. B. Kerangka Pikir Berdasarkan uraian pada kajian pustaka, maka bagian ini akan diuraikan beberapa hal yang dijadikan penulis sebagai landasan berpikir. Selanjutnya landasan berpikir yang dimaksud tersebut akan mengarahkan penulis untuk menemukan data dan informasi dalam penelitian ini. Mahasiswa Unismuh Makassar yang akan peneliti jadikan sumber informasi atau sumber untuk mendapatkan data yaitu peneliti fokuskan pada objek yang khusus berasal dari bugis atau yang menggunakan dua bahasa dalam berkomunikasi bahasa bugis dan bahasa Indonesia. Mahasiswa yang dimaksud yaitu Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unismuh Makassar.Mahasiswa FKIP sebagian besar menggunakan lebih dari satu bahasa dalam berkomunikasi. Dalam proses berkomunikasi sering terjadi kelebihan bunyi atau biasa dikenal dengan sebutan okkots. Okkots ini bisa diartikan kesalahan bunyi bahasa. Kesalahan bunyi bahasa adalah kesalahan mengucapkan kata sehingga menyimpang dari ucapan baku atau tidak sesuai dengan ejaan yang disempurnakan. Hal ini terjadi karena adanya penggunaan dua bunyi bahasa yang berbeda saat berkomunikasi. Kejadian ini menyebabkan. ..
(39) 28. kesalahan pada bahasa kedua.. Interferensi atau gangguan yang terjadi pada. bahasa kedua menyebabkan kesalahan fonologi pada bidang fonem. Secara umum, kesalahan-kesalahan berbahasa yang terjadi seperti yang telah diuraikan di atas, penyebabnya adalah persamaan dan perbedaan fonem pada kedua bahasa yang dianalisis. Seringnya menggunakan dua bahasa secara bergantian akan berpengaruh terhadap salah satu bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini terjadi akibat penyimpangan atau interferensi dalam mengucapkan kata dan tidak sesuai dengan ejaan atau tidak baku, sebenarnya penyebab utamanya adalah faktor bahasa asli atau bahasa ibu penutur sehingga terjadilah kesalahan dalam mengucapkan sebuah kata saat menggunakan bahasa Indonesia.. ..
(40) 29. Bagan Kerangka Pikir. Mahasiswa FKIP Unismuh Makassar. FonologiBahasa Bugis. Fonologi. Fonem. Fonem. Penggunaan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar. Interferensi. Temuan. .. Fonologi Bahasa Indonesia.
(41) 30. BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian adalah suatu usaha untuk menentukan, mengembangkan dan mmengisi kebenaran pengetahuan. Sebagai usaha pengetahuan dan penelitian maka metode yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hal-hal yang berhubungan dengan cara kerja, cara memperoleh data sehingga mendapatkan kesimpulan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif, suatu pemaparan, suatu pemaparan yang menjelaskan hubungan antara data yang diperoleh dari perpustakaan dan menjawab objek penelitian Effendi (dalam Raja Rachmawati, 2012 : 39). A. Fokus Penelitian 1.. Fokus Penelitian Fokus penelitian berdasarkan judul penelitian yang diangkat yaitu. “Interferensi Fonologi Bahasa Bugis Bone Terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar”.. 2.. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah metode. deskriptif karena sasarannya adalah mengetahui Interferensi fonologi bahasa Bugis Bone dan pengaruhnya terhadap bahasa Indonesia. Maka dalam menyusun desain penelitian ini harus dirancang berdasarkan pada prinsip metode deskriptif 29 ..
(42) 31. yaitu memaparkan dan menyampaikan data secara objektif untuk memahami kesalahan atau gangguan yang terjadi akibat pemakaian dua bahasa secara bergantian. B. Definisi Istilah Untuk membatasi ruang lingkup penelitian ini maka penulis perlu menegemukakan definisi istilah, yaitu dalam menganalisis interferensi bahasa. Hanya ada dua bahasa yang diguanakan yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Bugis. Disamping itu perlu adanya pemahaman diantara keduanya agar dapat mengidentifikasi kesalahan yang timbul pada pengucapan akibat interferensi dari penggunaan bahasa secara bergantian dalam kehidupan sehari-hari.. C. Data dan Sumber Data 1.. Data Data yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kata, ungkapan, dan. kalimat yang terdapat dalam pelafalan bahasa Bugis Bone yang memiliki interferensi terhadap penggunaan bahasa Indonesia sehingga menimbulkan makna yang berbeda dengan perihal yang ingin di sampaikan.. 2.. Sumber Data Mahasiswa FKIP yang menggunakan bahasa bugis Bone dan bahasa. Indonesia secara bergantian dalam proses berkomunikasi sehari-hari sehingga mengakibatkan terjadinya interferensi bahasa bugis terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.. ..
(43) 32. D. Teknik Pengumpulan Data Dengan memperhatikan tujuan dari penelitian ini, menuju pada metode deskriptif yang digunakan. Dengan demikian, teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik penelitian lapangan (obervasi langsung) yaitu saat berkomunikasi yang berkaitan dengan penelitian ini. Peneliti secara langsung mengumpulkan data dengan berbicara sekaligus mencatat tuturan yang dituturkan oleh beberapa orang yang menjadi objek penelitian. a.. Data Rekaman Data rekaman adalah merekam percakapan subjek penelitian ketika melakukan percakapan. Alat yang digunakan merekam yaitu telepon genggam (Handphone). b.. Data Mencatat Data mencatat adalah mencatat pembicaraan subjek penelitian yang didengar dan dilihat dalam mengumpulkan data. Alat yang digunakan mencatat adalah buku dan pulpen.. E. Teknik Analisis Data Berdasarkan teknik pengumpulan data yang dipergunakan, maka adapun langkah yang digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan interferensi bahasa bugis terhadap penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar yaitu sebagai berikut: 1.. Mengindentifikasi fonem bahasa Bugis dan bahasa Indonesia.. 2.. Mengklasifikasikan fonem bahasa Bugis dan bahasa Indonesia.. ..
(44) 33. 3.. Menganalisa masing-masing data yang relevan sesuai dengan masalah.. 4.. Mendeskripsikan masing-masing data yang telah diklasifikasikan sesuai dengan masalah yang diteliti.. ..
(45) 34. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Penelitian Pada bab ini akan diuraikan wujud keslahan fonem yang diujarkan oleh mahasiswa FKIP Unismuh Makassar yang mempunyai kebiasaan menggunakan dua bahasa (dwilingual). Mahasiswa tersebut datang dari daerah. Akan tetapi, kebanyakan dari mereka sering menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi. Namun, tidak dapat dipungkiri pengaruh bahasa daerah atau bahasa pertama belum bisa sepenuhnya dihilangkan oleh mahasiswa, apalagi dalam situasi santai atau informal. Berdasarkan penyajian yang telah dikemukakan, berikut ini akan dibahas bentuk interferensi yang terjadi pada percakapan mahasiswa FKIP Unismuh Makassar. Pada bab ini diuraikan secara rinci penelitian terhadap interferensi pada percakapan Mahasiswa FKIP yang terjadi di area kampus Unismuh. Contoh interferensi bahasa Bugis terhadap penggunan bahasa Indonesia yang baik dan benar pada percakapan yang terjadi di area kampus. 1.. Konteks : Wawancara di depan kelas Narasumber: Wawan (orang Bugis) Mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Aku (Penulis) A : Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatu W: Waalaikumsalang warahmatullahiwabarakatu A : Maaf mengganggu, bisa ngobrol sebentar dek ? 33. ..
(46) 35. W : Iye kak, bisa. A : Jurusan apa dek ? W : Jurusang Bahasa dan Sastra Indonesia kak. A : Tinggal dimana di Makassar dek ? W : Di Jalang Alaudding 2 Lorong 2 D kak. A : Apa kegiatan sehari-hari di kost dek ? W : Tidur, Makang, nontong TV kak, sama baca-baca buku. A : Sudah makan dek ? W : Belung pi kak. A : Sama jie dek, Saya juga belum pi. Biasanya kalau malam apa kita kerja dek ? W : Kalau malang kak biasanya nongkrong jie sama temang-temang. A : Oh begitu, terimah kasih informasinya dek, saya pamit dulu assalamu alaikum W : Waalaikumsalang. Dari percakapan di atas dapat ditemukakan bahwa dialog tersebut terjadi interfrensi fonologi dalam penggunaan bahasa Indonesia yang Baik dan Benar. Pada data di atas dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, sebagai berikut: a.. Fonem vokal /a/ digantikan dengan /e/ Salah. Seharusnya. Iye. Iya Kesalahan ini terjadi akibat interferensi fonem vokal bahasa pertama pada. bahasa kedua yakni penggantian fonem /a/ menjadi /e/. Akibat keseringan. ..
(47) 36. menggunakan bahasa Bugis dalam proses komunikasi sehari-hari, maka struktur kata bahasa Bugis digunakan dalam penggunaan bahasa Indonesia. b.. Fonem /n/ pada akhir kata diucapkan menjadi /ng/. Salah. Sehrusnya. Jurusang. Jurusan. Jalang. Jalan. Alaudding. Alauddin. Makang,. Makan. Nontong. Nonton. Temang. Teman. Kesalahan yang terjadi ialah fonem /n/ diungkapkan menjadi /ng/. Penyebab terjadinya kesalahan tersebut karena penggunaan bahasa Bugis dalam proses komunikasi sehari-hari tidak menggunakan fonem /n/ di akhir kata, tetapi /ng/. Contohnya : Rakkeang (alang-alang) Macenning (manis) Makessing (bagus) Bahasa Bugis tidak menggunakan fonem /n/ di akhir kata. Jadi, apabila ada kata bahasa Indonesia yang berakhiran /n/, itu berubah menjadi /ng/ akibat interferensi bahasa Bugis.. ..
(48) 37. c.. Fonem /m/ pada akhir kata diucapka menadi /ng/ Salah. Seharusnya. Belung. Belum. Malang. Malam. Waalaikumsalang. Waalaikumsalam. Kesalahan yang terjadi ialah fonem /m/ diungkapkan menjadi /ng/. Penyebab terjadinya kesalahan tersebut karena penggunaan bahasa bugis dalam proses komunikasi sehari-hari tidak menggunakan fonem /m/ di akhir kata, tetapi /ng/. Contohnya : Daeng (kakak) Uleng (bulan) Arringaneng (tempat jemuran) Bahasa Bugis tidak menggunakan fonem /m/ di akhir kata. Jadi, apabila ada kata bahasa Indonesia yang berakhiran /m/, itu berubah menjadi /ng/ akibat interferensi bahasa Bugis. 2.. Konteks. : Percakapan di parkiran motor di samping gedung FKIP. Narasumber : Farhan, Adlis (Orang Bugis) Mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia F : Oe brow dari manaki ? A : Dari makang kak.. ..
(49) 38. F : Deh, tidak ngajak-ngajak bede. A : Buru-buruka tadi kak. F : Dari poto studio ki kemarin toh ? A : Iye kak, samaka temang smp ku. F : Oh saya kira salah orangka, ku kira kembarmu itu kemarin masuk di studio poto. Saya (Penulis) bergabung dalam percapan tersebut. P : Maaf dek, bisa bertanya ? F, A : Iye bisa kak. P : Orang apaki dek ? F : Orang Bone kak. P : Kita ? A : Orang bone juga kak. Dari percakapan di atas dapat ditemukakan bahwa dialog tersebut terjadi interferensi fonologi dalam penggunaan bahasa Indonesia yang Baik dan Benar. Pada data di atas dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, sebagai berikut: a.. Fonem /f/ digantikan dengan /p/ Salah. Seharusnya. Poto. Foto. Kesalahan yang terjadi ialah fonem /f/ diucapkan menjadi /p/. Penyebab terjadinya kesalahan tersebut karena bahasa Bugis tidak memiliki fonem /f/ dalam aksara lontara. Aksara lontara hanya memiliki fonem /pa/ yang hampir sama. ..
(50) 39. bunyinya dengan fonem /f/, maka dari itu fonem /f/ pada bahasa Indonesia mengalami interferensi sehingga dalam proses komunikasi fonem yang digunakan adalah fonem /pa/ bahasa Bugis. b.. Fonem /n/ pada akhir kata diucapkan menjadi /ng/. Salah. Sehrusnya. Makang,. Makan. Temang. Teman. Kesalahan yang terjadi ialah fonem /n/ diungkapkan menjadi /ng/. Penyebab terjadinya kesalahan tersebut karena penggunaan bahasa Bugis dalam proses komunikasi sehari-hari tidak menggunakan fonem /n/ di akhir kata, tetapi /ng/. Contohnya : Rakkeang (alang-alang) Macenning (manis) Makessing (bagus) Bahasa Bugis tidak menggunakan fonem /n/ di akhir kata. Jadi apabila ada kata bahasa Indonesia yang berakhiran /n/, itu berubah menjadi /ng/ akibat interferensi bahasa Bugis. c.. .. Fonem vokal /a/ digantikan dengan /e/ Salah. Seharusnya. Iye. Iya.
(51) 40. Kesalahan ini terjadi akibat interferensi fonem vokal bahasa pertama pada bahasa kedua yakni penggantian fonem /a/ menjadi /e/. Akibat keseringan menggunakan bahasa Bugis dalam proses komunikasi sehari-hari, maka struktur kata bahasa Bugis digunakan dalam penggunaan bahasa Indonesia. 3.. Percakapan di depan BEM FKIP Unismuh Makassar Narasumber : Irsan (orang Makassar) dan Oca (orang Bugis) Mahasiswa Jurusan Pendidikan sosiologi I : darimanaki saudara ? O : Dari kost ji. I : Hujang gerimis ki tadi kah ? O : Iya, sebentar ji. I : Di Takalar tidak hujang ki. O : Enaknya pergi mancing ikang sore-sore brow. I : Edd, baruka sampai di makassar inie. Dari percakapan di atas dapat ditemukakan bahwa dialog tersebut terjadi. interfrensi fonologi bahasa Bugis dalam penggunaan bahasa Indonesia yang Baik dan Benar. Pada data di atas dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, sebagai berikut:. ..
(52) 41. a.. Fonem /n/ pada akhir kata diucapkan menjadi /ng/. Salah. Sehrusnya. Hujang,. Hujan. Ikang. Ikan. Kesalahan yang terjadi ialah fonem /n/ diungkapkan menjadi /ng/. Penyebab terjadinya kesalahan tersebut karena penggunaan bahasa Bugis dalam proses komunikasi sehari-hari tidak menggunakan fonem /n/ di akhir kata, tetapi /ng/. Contohnya : Rakkeang (alang-alang) Macenning (manis) Makessing (bagus) Bahasa Bugis tidak menggunakan fonem /n/ di akhir kata. Jadi apabila ada kata bahasa Indonesia yang berakhiran /n/, itu berubah menjadi ng akibat interferensi bahasa Bugis. 4.. Percakapan di kantin cordova Narasumber : Opi dan Aman (orang bugis) (Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia) O : Malang apa sebentar brow ? A : Malang kamis brow.. ..
(53) 42. O : Ayo ke retro sebentar deh, malang lediski. A : Mdd, malaska, na ajakka mantang ku ketemuang sebentar O : Oh pale, sendiri ma dech Dari percakapan di atas dapat ditemukakan bahwa dialog tersebut terjadi interfrensi fonologi bahasa Bugis dalam penggunaan bahasa Indonesia yang Baik dan Benar. Pada data di atas dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, sebagai berikut: a.. Fonem /m/ pada akhir kata diucapka menadi /ng/ Salah. Seharusnya. Malang. Malam. Kesalahan yang terjadi ialah fonem /m/ diungkapkan menjadi /ng/. Penyebab terjadinya kesalahan tersebut karena penggunaan bahasa Bugis dalam proses komunikasi sehari-hari tidak menggunakan fonem /m/ di akhir kata, tetapi /ng/. Contohnya : Daeng (kakak) Uleng (bulan) Arringaneng (tempat jemuran). ..
(54) 43. Bahasa Bugis tidak menggunakan fonem M di akhir kata. Jadi apabila ada kata bahasa Indonesia yang berakhiran m, itu berubah menjadi ng akibat interferensi bahasa Bugis. b.. Fonem /n/ pada akhir kata diucapkan menjadi /ng/. Salah. Sehrusnya. Mantang. Mantan. Ketemuang. ketemuan. Kesalahan yang terjadi ialah fonem /n/ diungkapkan menjadi /ng/. Penyebab terjadinya kesalahan tersebut karena penggunaan bahasa Bugis dalam proses komunikasi sehari-hari tidak menggunakan fonem /n/ di akhir kata, tetapi /ng/. Contohnya : Rakkeang (alang-alang) Macenning (manis) Makessing (bagus) Bahasa Bugis tidak menggunakan fonem /n/ di akhir kata. Jadi, apabila ada kata bahasa Indonesia yang berakhiran /n/, itu berubah menjadi /ng/ akibat interferensi bahasa Bugis. 5.. Percakapan di lantai 2 gedung iqra Narasumber : Ade Intan dan Anti (orang bugis) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Bahasa Inggris.. ..
(55) 44. A : Mau kemanaki ini ? AN : Ke kost maki deh. A : Apa dimakang di kost ta ? AN : Ayang goreng. A : Ayomi ! AN : Ada ikang goreng ? A : Ada, Ayomi ! AN : Malaska jalang kaki. A : Jangang mi pale. AN : Ayomi pale cantik. Dari percakapan di atas dapat ditemukakan bahwa dialog tersebut terjadi interfrensi fonologi bahasa Bugis dalam penggunaan bahasa Indonesia yang Baik dan Benar. Pada data di atas dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, sebagai berikut: c.. Fonem /m/ pada akhir kata diucapka menadi /ng/ Salah. Seharusnya. Ayang. Ayam. Kesalahan yang terjadi ialah fonem /m/ diungkapkan menjadi /ng/. Penyebab terjadinya kesalahan tersebut karena penggunaan bahasa Bugis dalam proses komunikasi sehari-hari tidak menggunakan fonem /m/ di akhir kata, tetapi /ng/. Contohnya :. ..
(56) 45. Daeng (kakak) Uleng (bulan) Arringaneng (tempat jemuran) Bahasa Bugis tidak menggunakan fonem /m/ di akhir kata. Jadi, apabila ada kata bahasa Indonesia yang berakhiran /m/, itu berubah menjadi /ng/ akibat interferensi bahasa Bugis. d.. Fonem /n/ pada akhir kata diucapkan menjadi /ng/. Salah. Sehrusnya. Dimakang. Dimakan. Ikang. ikan. Kesalahan yang terjadi ialah fonem /n/ diungkapkan menjadi /ng/. Penyebab terjadinya kesalahan tersebut karena penggunaan bahasa Bugis dalam proses komunikasi sehari-hari tidak menggunakan fonem /n/ di akhir kata, tetapi /ng/. Contohnya : Rakkeang (alang-alang) Macenning (manis) Makessing (bagus). ..
(57) 46. Bahasa Bugis tidak menggunakan fonem /n/ di akhir kata. Jadi apabila ada kata bahasa Indonesia yang berakhiran /n/, itu berubah menjadi /ng/ akibat interferensi bahasa Bugis. 6.. Percakapan di mesjid kampus Narasumber : Haris (orang jeneponto) dan wawan (orang Bugis) Jurusan bahasa dan sastra Indonesia dan sosiologi. H : Mau kemana ? W : Disampingnya Pakultas Kedokteran duduk-duduk. Ndak mauki ikut? H : Malaska, di sini ma saya. Dari percakapan di atas dapat ditemukakan bahwa dialog tersebut terjadi. interfrensi fonologi Bahasa Bugis dalam penggunaan bahasa Indonesia yang Baik dan Benar. Pada data di atas dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, sebagai berikut: a.. Fonem /f/ digantikan dengan /p/ Salah. Seharusnya. Pakultas. Fakultas. Kesalahan yang terjadi ialah fonem /f/ diucapkan menjadi /p/. Penyebab terjadinya kesalahan tersebut karena bahasa Bugis tidak memiliki fonem /f/ dalam aksara lontara. Aksara lontara hanya memiliki fonem /pa/ yang hampir sama bunyinya dengan fonem /f/, maka dari itu fonem /f/ pada bahasa Indonesia. ..
(58) 47. mengalami interferensi sehingga dalam proses komunikasi fonem yang digunakan adalah fonem /pa/ bahasa Bugis. 7.. Diskusi di dalam ruangan kelas Narasumber : Husna sebagai moderator (Orang Makassar) dan Farhan peserta diskusi (Orang Bugis). Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. H : Saya persilahkan kepada saudara farhang untuk menambahkan ! F : Terima kasih atas kesempatannya. Kalau melihat pakta yang terjadi di lingkungang sekitar, ada beberapa paktor yang mempengaruhi yaitu keluarga, kemampuang ekonomi, dang pendidikan. Dari percakapan di atas dapat ditemukakan bahwa dialog tersebut terjadi. interfrensi fonologi bahasa Bugis dalam penggunaan bahasa Indonesia yang Baik dan Benar. Pada data di atas dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, sebagai berikut: a.. Fonem /n/ pada akhir kata diucapkan menjadi /ng/. Salah. Sehrusnya. Parhang. Farhan. Lingkungang. Lingkungan. Kemampuang. Kemampuan. Kesalahan yang terjadi ialah fonem /n/ diungkapkan menjadi /ng/. Penyebab terjadinya kesalahan tersebut karena penggunaan bahasa Bugis dalam proses komunikasi sehari-hari tidak menggunakan fonem /n/ di akhir kata, tetapi /ng/. Contohnya :. ..
(59) 48. Rakkeang (alang-alang) Macenning (manis) Makessing (bagus) Bahasa Bugis tidak menggunakan fonem /n/ di akhir kata. Jadi apabila ada kata bahasa Indonesia yang berakhiran /n/, itu berubah menjadi /ng/ akibat interferensi bahasa Bugis. b.. Fonem /f/ digantikan dengan /p/. Salah. Seharusnya. Parhang. Parhan. Pakta. Fakta. Paktor. Faktor. Kesalahan yang terjadi ialah fonem /f/ diucapkan menjadi /p/. Penyebab terjadinya kesalahan tersebut karena bahasa Bugis tidak memiliki fonem /f/ dalam aksara lontara. Aksara lontara hanya memiliki fonem /pa/ yang hampir sama bunyinya dengan fonem /f/, maka dari itu fonem /f/ pada bahasa Indonesia mengalami interferensi sehingga dalam proses komunikasi fonem yang digunakan adalah fonem /pa/ bahasa Bugis.. B. Pembahasan. ..
(60) 49. Terjadinya interferensi bahasa Bugis ke dalam bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari oleh Mahasiswa FKIP Unismuh Makassar terjadi bukan karena disengaja dengan maksud untuk mempermudah penyampaian buah pikirannya. Akan tetapi terjadi karena penguasaan sistem bahasa pertama (bahasa Bugis) mereka yang lebih tinggi dari kemampuan mereka bertutur dengan menggunakan bahasa Indonesia. Penguasaan bahasa pertama yang lebih tinggi menyebabkan mereka terbiasa berbicara dengan bahasa tersebut, dan hal ini agaknya menjadi sebab mengapa bunyi bahasa Bugis banyak terbawa ke dalam bahasa Indonesia saat mereka berkomunikasi pada saat proses santai maupun situasi formal. Interferensi bahasa Bugis yang terjadi dalam komunikasi sehari-hari terjadi pula karena kebiasaan menggunakan bahasa tersebut dalam lingkungan mereka sehari-hari, sehingga kebiasaan tersebut tetap mereka bawa pada saat mereka seharusnya bertutur dengan bahasa Indonesia yang bukan merupakan bahasa keseharian. Oleh karena itu, kemampuan mereka untuk menggunakan bahasa Indonesia sulit berkembang dan hal tersebut menyebabkan kesalahan menggunakan bahasa Indonesia. Penjelasan di atas menunjukkan gangguan yang menyebabkan terjadinya kesalahan dalam berbahasa. Pengajaran bahasa melahirkan pemerolehan bahasa. Hal ini berkaitan erat antara bidang pengajaran bahasa dan pemerolehan bahasa. Bahasa yang mula-mula diperoleh Mahasiswa disebut bahasa pertama (BI) dan bahasa yang diperoleh sesudah menguasai bahasa pertama disebut bahasa kedua. ..
(61) 50. (B2). Jalur pemerolehan bahasa ada yang melalui kegiatan formal dan ada pula informal dan pendidikan formal Tarigan dalam Junus dan Junus (2010:28). Pemerolehan bahasa melahirkan kedwibahasaan atau dengan kata lain kedwibahasaan adalah dua bahasa yang digunakan oleh seseorang secara bergantian. Misalnya bahasa Bugis dengan bahasa Indonesia, bahasa Bugis dengan bahasa Makassar, bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Perlu dipahami bahwa kadar kesempurnaan bahasa yang digunakan silih berganti itu relatif, ada yang sempurna, kurang sempurna, dan tidak sempurna. Hastuti (dalam Junus dan Junus, 2010:30) mengatakan bahwa kadangkadang di dalam komunikasi karena keinginan yang kuat mengemukakan pendapatnya, baik pengajar maupun pembelajar tidak menyadari bahwa mereka ini. masing-masing. menggunakan. dua. bahasa. secara. berganti-ganti.. Kedwibahasaan bisa terjadi jika pada bahasa yang sedang dipakai tidak ditemukan konsep dalam bahasa yang dituturkan, maka seolah-olah ia dengan sendiri beralih menggunakan kode lain (bahasa lain). Kemungkinan lain jika penutur yang bersangkutan sudah bisa menggunakan kata atau istilah yang ia kuasai. Dengan demikian, ia bisa dikatakan menggunakan dua bahasa secara bergantian. Kedwibahasaan melahirkan interferensi. Interferensi adalah produksi kedwibahasaan yang merusak atau merugikan bahasa yang bersangkutan. Kebiasaan kedwibahasaan menimbulkan kecenderungan untuk memasukkan unsur bahasa yang satu pada bahasa lainnya; atau sekaligus menerapkan dua pola bahasa yang dikenalnya pada saat menggunakan salah satu bahasa tadi sehingga terdapat tendensi yang bertentangan dengan informasi bahasa.. ..
(62) 51. Penyimpangan-peyimpangan dari norma salah satu bahasa tadi sebagai akibat dari keintimannya pada dua bahasa atau lebih disebut gejala interferensi Said (dalam Junus dan Junus, 2010:30). Tarigan (dalam Junus dan Junus, 2010:30) mengatakan bahwa kontak bahasa yang terjadi pada diri dwibahasawan menimbulkan saling pengaruh antara B1 dan B2. Saling pengaruh antara B1 dan B2 berarti bahwa B1 dapat mempengaruhi B2 atau sebalikya. Kontak B1 dan B2 terjadi pada individu yang menggunakan kedua bahasa itu secara bergantian. Pengaruh ini dapat hilang sama sekali pada saat pembicara menguasai dengan baik B1 dan B2 pada taraf yang sama baiknya. Sistem bahasa yang sering digunakan oleh dwibahasawan dapat berupa sistem fonologi, morfologi, dan sintaksis. Sepanjang sistem bahasa yang digunakan itu mempunyai kesamaan dalam kedua bahasa tersebut, maka belum terjadi kekacauan. Akan tetapi, apabila sistem bahasa yang digunakan berbedabeda pada kedua bahasa itu, maka mulailah timbul kekacauan. Penggunaan sistem bahasa tertentu pada bahasa lainnya disebut transfer atau pemindahan sistem fonologi, morfologi, dan sintaksis. Transfer yang bersifat membantu karena kesamaan atau kesejajaran di sebut transfer positif. Sebaliknya, jika transfer itu bersifat megacaukan karena perbedaan sistem bahasa maka transfer itu disebut transfer negatif. Transfer positif terjadi apabila orang Bugis menggunakan bahasa Bugis pada waktu berbicara dalam bahasa Makassar sedang sistem itu kebetulan sama pada kedua bahasa tersebut. Unsur-unsur yang sama di dalam B1 dan B2 yang. ..
(63) 52. sedang dipelajari sangat menunjang pengajaran B2 sebaliknya unsur-unsur berbeda menyebabkan timbulnya kesulitan belajar. Contoh pelaku orang ketiga pada bahasa Bugis Bone dan Bugis Makassar: Bolana (Bugis Bone) Ballanna (Bugis Makassar) manuqna (Bugis Bone) janganna (Bugis Makassar). Transfer negatif terjadi jika orang yang berbahasa Inggris menggunakan struktur atau susunan kata bahasa Indonesia. Contoh orang tua (Bahasa Indonesia) old man (Bahasa Inggris). Interferensi menimbulkan kesalahan berbahasa atau dengan kata lain kesalahan berbahasa adalah produksi iterferensi. Kesalahan berbahasa yang dilakukan oleh pengguna bahasa harus diperbaiki. Penemuan kesalahan berbahasa ini dapat dimanfaatkan sebagai umpan balik dalam usaha penyempurnaan pengajaran bahasa Indonesia.. ..
(64) 53. BAB V SIMPULAN DAN SARAN. A. Simpulan Berdasarkan hasil pembahasan penelitian, peneliti mengambil simpulan bahwa kesalahan berbahasa yang dilakukan oleh mahasiswa FKIP Unismuh Makassar adalah sebuah kesalahan akibat kebiasaan menggunakan bahasa pertama dalam kehidupan sehari-hari dan kompetensi bahasa yang dimilikinya. Kesalahan yang dilakukan secara tidak sadar karena kurangnya pemahaman tentang struktur fonem kedua bahasa yang digunakan. Terbukti dari percakapan yang secara spontan dilakukan tanpa adanya kesadaran bahwa penggunaan bahasanya salah. Ada 2 faktor yang menyebabkan terjadinya interferensi bahasa Bugis terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar yang sering digunakan para mahasiswa adalah: 1.. Kebiasaan menggunakan bahasa Bugis,. 2.. Kompetensi tentang struktur kedua bahasa yang digunakan secara bergantian. Situasi terjadinya interferensi bahasa Bugis pada penggunaan bahasa. Indonesia pada mahasiswa FKIP Unismuh Makassar adalah paling sering dijumpai pada situasi santai atau informal, dan kadang-kadang juga pada saat formal.. 52 ..
(65) 54. B. Saran Dalam penelitian ini, penulis memberi saran sebagai berikut: 1.. Khusus kepada mahasiswa, hendaknya membiasakan menggunakan bahasa baku sehingga tidak terjadi interferensi dalam situasi formal.. 2.. Mahasiswa FKIP Unismuh Makassar, agar dalam berbicara hendaknya selalu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar agar tidak terjadi kesalahan dalam berbicara atau bertutur dengan lawan bicara.. 3.. Mahasiswa FKIP Unismuh Makassar, sebagai calon pendidik yang akan berbagi ilmu dengan peserta didik kelak, agar mulai dari sekarang harus memahami penyebab terjadinya kesalahan berbahasa untuk mengurangi kebiasaan akibat kompetensi yang kurang.. 4.. Mahsiswa/rekan yang ingin melanjutkan penelitian yang sama, diharapkan dapat menggunakan karya ini sebagai bahan perbandingan.. ..
(66) 55. DAFTAR PUSTAKA. Badudu, J.S. 1983. Membina Bahasa Indonesia Baku. Bandung: Pustaka Prima Chaer, Abdul. 1993. Pembakuan Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta ...................... 2009. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta Hadi Farid & Arifin. E. S. 1993. Seribu Satu Kesalahan Berbahasa. Jakarta: Akademika Presindo Junus, A.M dan Junus F. A. 2010.“Analisis Kesalahan Berbahasa”. Makassar: BadanHarian UNM Kamaruddin, 1992. Kajian tentang Hubungan antara Kedwibahasaan dan Sikap Bahasa dengan Kesadaran Adaptasi Inovasi pada Masyarakat Desa di Sulawesi Selatan Disertasi. Ujung Pandang: Universitas Hasanuddin. Masrurah , Mokhtar. 2000. Interferensi Morfologis Penutur Bahasa Bugis dalam Berbahasa Indonesia. Disertasi. tidak diterbitkan. Makassar: Universitas Muslim Indonesia Mulia, A.K. 1997. Struktur Fonem Bahasa Makassar. Diterbitkan. Makassar. Balai Penelitian Bahasa Pusat Pembinaan dan Kebudayaan Jalan Sultan Alauddin, Talasalapang Ujung Pandang Muslich, Masnur. 2008. Fonologi Bahasa Indonesia Tinjauan Deskriptif Sistem Bunyi Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara. Nuraeni.2003. Interferensi Bahasa Bugis terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Berkomunikasi oleh Siswa SLTP Negeri 4 Kahu Kabupaten Bone. Skripsi tidak diterbitkan. Makassar: Universitas Muhammadiyah Makassar. Nyoman, Ayu.2013. Interferensi dan Integrasi (Online) (http://kidunghijau.blog spot.com/2013/01/interferensi-dan-integrasi.html, diakses 12 mei 2015) Rachmawati, Raja. 2012. Interferensi Leksikal Bahasa Inggris dalam Bahasa Indonesia pada Surat Kabar di Pekanbaru. Diterbitkan. Riau. Balai Bahasa Provinsi Riau Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan Nasional Nazir. T. & Wayan. S. 1987. Fonologi. Denpasar: CV. Kayumas. ..
(67) 56. Syamsudduha, Ari. 2013. Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Bugis di Sulawesi Selatan (Online). (http://syamsudduhaa.blogspot. com/2013/10 /Pembinaan-dan- Pengembangan-Bahasa-Bugis_19.html. diakses 12 Mei 2015). ..
(68) KORPUS DATA PENELITIAN INTERFERENSI FONOLOGI BAHASA BUGIS TERHADAP PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR Penelitian. Cakupan. Percakapan. Keterangan. PENAMBAHAN Percakapan FONEM. Pertama W : Jurusang. Kata Jurusang, jalang, alaudding,. Bahasa dan Sastra. makan, nonton,. Indonesia kak.. temang-temang. A : tinggal dimana. Adalah. di Makassar dek ?. penambahan fonem. W : Di Jalang. /n/ menjadi /ng/. Alaudding 2 Lorong 2 D kak. INTERFERENSI FONOLOGI. A : Apa kegiatan sehari-hari di kost dek ? W : Tidur, Makang, nontong TV kak, sama baca-baca buku. W : kalau malang kak biasanya nongkrong jie sama temang-temang. Percakapan kedua A : dari makang. Kata makang dan temang Adalah.
(69) kak. F : deh, tidak. penambahan fonem /n/ menjadi /ng/. ngajak-ngajak bede. A : buru-buruka tadi kak. F : dari poto studio ki kemarin toh ? A : iye kak, samaka temang smp ku. Percakapan ketiga. Kata Hujang dan. I : hujang gerimis ki. ikang. tadi kah ? O : Iya, sebentar ji. I : di Takalar tidak. Adalah penambahan fonem /n/ menjadi /ng/. hujang ki. O : enaknya pergi mancing ikang soresore brow. Percakapan keempat A : mdd, malaska, na ajakka mantang ku. Kata mantang dan ketemuang adalah penambahan fonem /n/ menjadi /ng/.. ketemuang sebentar Percakapan kelima A : Apa dimakang di kost ta ?. Kata dimakang, ikang, jalang, jangang adalah penambahan fonem.
(70) AN. :. Ayang. /n/ menjadi /ng/.. goreng. A : Ayomi ! AN : Ada ikang goreng ? A : Ada, Ayomi ! AN. :. Malaska. jalang kaki. A : Jangang mi pale. Kata Farhang,. Percakapan. lingkungan,. ketujuh H :Saya persilahkan kepada. kemampuang. saudara adalah penambahan. farhang. untuk. menambahkan ! F : Terima kasih atas kesempatannya. Kalau melihat pakta yang terjadi di lingkungang sekitar, ada beberapa paktor yang mempengaruhi yaitu keluarga, kemampuang. fonem /n/ menjadi /ng/..
(71) ekonomi, dang pendidikan. PERUBAHAN. Percakapan. FONEM. Pertama W: Waalaikungsalang. Kata waalaikungsalang, belung, malang, waalaikungsalang. warahmatullahiwab Adalah perubahan arakatu. fonem /m/ menjadi. A : Maaf. /ng/ dan kata iye. mengganggu, bisa. adalah perubahan. ngobrol sebentar. fonem /a/ menjadi. dek ?. /e/. W : Iye kak, bisa. baca-baca buku. A : Sudah makan dek ? W : Belung pi kak. A : Sama jie dek, Saya juga belum pi. Biasanya kalau malam apa kita kerja dek ? W : kalau malang kak biasanya nongkrong jie sama temang-temang. W: Waalaikungsalang.
Dokumen terkait
Hasil analisis data menunjukkan bahwa 1 implementasi pendekatan humanistik religius dalam pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Kota Solok sebahagian sudah tertuang dalam