• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI WIDYA FEBRINA .pdf

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "SKRIPSI WIDYA FEBRINA .pdf"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

Judul Skripsi: PENGARUH EKSTRAK DAUN SENDUDUK (Melastoma malabathricum L.) TERHADAP LUKA EKSISI PADA TIKUS PUTIH JANTAN. Daun senduduk (Melastoma malabathricum.L) diketahui mengandung senyawa yang berperan dalam penyembuhan luka seperti flavonoid, tanin dan saponin, dll. Hasil penelitian pengelupasan jaringan kelompok I, II, III, IV, V terjadi pada hari dan % penyembuhan luka secara berurutan dari yang tertinggi yaitu kelompok I, kelompok III, kelompok V, kelompok II, kelompok IV.

Kata kunci: Luka eksisi, gel ekstrak daun Senduduk (Melastoma malabathricum.L) Konsentrasi penyembuhan luka eksisi, Waktu epitelisasi, Penyembuhan luka %. Kata Kunci : Luka Eksisi, Konsentrasi Ekstrak Daun Senduduk Gel (Melastoma malabathricum.L), Penyembuhan Luka Eksisi, Waktu Epitelisasi, % Penyembuhan Luka.

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Klasifikasi Tanaman

Senggani (seduduk) termasuk tumbuhan herba, tinggi 0,5 - 4 m, dahan muda bersisik, daun bertangkai, bertentangan, bujur atau bujur bujur dengan hujung runcing, daun bertulang 3,2 - 20 kali 1 - 8 cm, kedua-dua belah sisi berbulu.

Morfologi Daun Senduduk (Melastoma malabathricum L)

Tumbuhan ini tumbuh di negara tropis terutama di tempat-tempat yang mendapat cukup sinar matahari, seperti daerah pegunungan, kebun dan pekarangan di dataran tinggi.Tanaman ini tumbuh hingga ketinggian 4 meter dengan banyak cabang dan daun yang rimbun. sebagai kaca ungu tua dekoratif saat matang.

Tinjauan Kimia

  • Flavonoida
  • Saponin

Saponin memiliki gugus glikosil yang berbeda pada posisi C3, namun beberapa saponin memiliki 2 rantai gula pada posisi C3 dan C17 (Vincken et al., 2017). Saponin memiliki kemampuan sebagai pembersih dan antiseptik untuk membunuh dan mencegah pertumbuhan mikroorganisme yang biasa terdapat pada luka yang menyebabkan luka parah (Simanjuntak, 2008). Senyawa tanin merupakan senyawa astringen yang memiliki rasa pahit karena adanya gugus polifenol yang dapat mengikat dan mengendapkan atau mengkerutkan protein.

Astringen tanin menyebabkan mulut kering dan keriput setelah mengonsumsi teh kental, anggur merah, atau buah mentah. Tanin berperan sebagai astringen yang dapat menyebabkan penutupan pori-pori kulit, pengerasan kulit, penghentian eksudat dan perdarahan ringan (Anief, 1997).

Gambar 3. Struktur Kimia Saponin
Gambar 3. Struktur Kimia Saponin
  • Tujuan Ekstraksi

Menurut Depkes RI (2000), zat aktif yang terdapat pada tumbuhan dan hewan umumnya lebih mudah larut dalam pelarut organik. Pelarut organik akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif di dalam sel dan pelarut organik di luar sel. Larutan dengan konsentrasi tinggi akan berdifusi keluar sel dan proses ini akan terus berlangsung hingga terjadi keseimbangan antara konsentrasi zat aktif di dalam dan di luar sel.

Menurut Dirjen POM (1986) dimana tujuan ekstraksi adalah untuk mengekstraksi komponen kimia yang terkandung dalam bahan alam dengan pelarut organik tertentu, maka dinding sel akan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif tersebut.

  • Definisi Kulit

Menurut Djuanda (2015), lapisan epidermis adalah lapisan kulit yang dinamis yang terus-menerus beregenerasi dan merespon rangsangan di luar dan di dalam tubuh manusia. Menurut Djuanda (2015), lapisan dermis adalah lapisan di bawah epidermis yang jauh lebih tebal dari epidermis. Batas antara jaringan subkutan dan dermis tidak jelas, dapat berupa jaringan subkutan yang terdiri dari lemak.

Luka didefinisikan sebagai gangguan fungsi seluler, anatomis dan kontinuitas jaringan hidup yang disebabkan oleh trauma fisik, kimiawi, termal, mikroba atau imunologis yang mempengaruhi jaringan (Thakur et al., 2011). Hal ini dapat menyebabkan luka, cacat atau kerusakan pada kulit dan jaringan di bawahnya (Karakata S et al, 1995).

Gambar 5. Anatomi Fisiologi Kulit  2.4.1.3 Pengertian Luka
Gambar 5. Anatomi Fisiologi Kulit 2.4.1.3 Pengertian Luka

Berdasarkan tingkat kontaminasi

Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka

Berdasarkan proses penyembuhan

Berdasarkan mekanisme terjadinya luka

Hewan liar yang biasa menggigit adalah hewan yang bersifat liar dan memakan daging, yaitu dalam upaya mempertahankan diri. Luka eksisi (luka potong), luka eksisi adalah luka yang muncul dipermukaan kulit dan lapisan dibawahnya akan dipotong dengan berbagai kedalaman, namun tepi lukanya teratur dan disebabkan oleh kejadian yang tidak disengaja seperti kecelakaan, trauma , atau paparan tekanan, panas, sengatan matahari atau bahan kimia (Yeni, et al. 2015).

Berdasarkan lama penyembuhan

  • Definisi Gel
  • Dasar Gel
  • Pre Formulasi Sediaan Gel
  • Evaluasi Gel

Jaringan granulasi terdiri dari kombinasi dari: fibroblas, sel inflamasi, pembuluh darah baru, fibronektin dan asam hialuronat. Gel didefinisikan sebagai sistem semi-padat yang terdiri dari dispersi yang terdiri dari partikel anorganik kecil atau molekul organik besar yang diserap oleh cairan (Ansel, 1989). Mereka umumnya terdiri dari molekul organik besar yang dapat dilarutkan atau digabungkan dengan molekul fase pendispersi.

Basis gel hidrofobik meliputi petrolatum, minyak mineral/gel polietilen, basis plastik aluminium stearat, carbowax (Ansel 1989). Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, basis gel hidrofobik biasanya terdiri dari parafin cair dengan polietilen atau minyak lemak dengan koloid/silika. Basa gel hidrofilik umumnya merupakan molekul organik berukuran besar dan dapat larut atau bergabung dengan molekul fase dispersi (Ansel, 1989).

Carbopol 940 akan mengembang jika terdispersi dalam air dengan adanya zat alkalizing seperti triethanolamine atau disopropanolamin untuk membentuk sediaan semi padat (Lachman, 2007). Selama pencampuran dengan cara memanaskan dengan cara mencampurkan sebagian atau seluruh bahan gel kemudian dipanaskan atau dikembangkan dalam air panas (Martin, 1993). Dalam proses pembuatan gel, campur terlebih dahulu bahan dasarnya dan aduk kuat-kuat untuk mencegah gelembung udara hingga sediaan cukup kental dan tidak terlalu lengket untuk dituang.

Basis yang dihasilkan ditambahkan ke zat obat yang telah dilarutkan dalam air atau dalam pelarut yang cocok untuk bahan tahan panas yang ditambahkan setelah pendinginan basis gel (Voight, 1994). Propilen glikol larut dengan air, aseton dan kloroform, larut dalam eter dan beberapa minyak esensial, tetapi tidak dapat bercampur dengan minyak lemak. Uji homogenitas dilakukan dengan sampel gel yang ditebarkan pada kaca atau bahan transparan lain yang sesuai, sediaan harus memiliki komposisi yang homogen dan tidak terlihat butiran kasar (Ditjen POM, 1985).

Gambar 6. Fase inflamasi penyembuhan luka dimulai segera setelah terjadi  kerusakan jaringan dan fase awal hemostatis
Gambar 6. Fase inflamasi penyembuhan luka dimulai segera setelah terjadi kerusakan jaringan dan fase awal hemostatis

METODA PENELITIAN

  • Waktu dan Tempat Penelitian
  • Alat dan Bahan .1 Alat
    • Bahan
  • Persiapan Hewan Percobaan
  • Prosedur Penelitian .1 Pengambilan Sampel .1 Pengambilan Sampel
    • Identifikasi Sampel
    • Ethical Clearance (Etikal Klirens)
    • Pembuatan Ektrak Daun Senduduk (Melastoma malabathricum.L.)
    • Pemeriksaan Susut Pengeringan
    • Pembuatan Gel
    • Evaluasi Sediaan
  • Pembuatan Luka
  • Pemberian Gel
  • Pengujian Aktivitas Penyembuhan Luka
  • Parameter yang Diukur Pada Penyembuhan Luka .1 Persentase Luas Penyembuhan Luka .1 Persentase Luas Penyembuhan Luka
    • Waktu Epitelisasi
    • Analisis Data

Tikus yang digunakan adalah tikus yang sehat dan tidak menunjukkan perubahan berat badan lebih dari 10% yang berarti menunjukkan perilaku visual yang normal. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun senduduk (Melastoma malabathricum L.) yang diambil dari daerah Lubuk Buaya Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. Pengamatan bentuk, bau dan warna dilakukan secara visual, dibiarkan pada suhu ruang dan diamati setiap minggu selama 6 minggu (Depkes RI, 1980).

Pengamatan bentuk, bau dan warna dilakukan dengan menggunakan panca indera yang dibiarkan pada suhu ruang dan dapat diamati setiap minggu selama 6 minggu (Depkes RI, 1980). Sediaan harus menunjukkan komposisi yang homogen dan tidak homogen serta diamati setiap minggu selama 6 minggu (Depkes RI, 1980). Alat ini terlebih dahulu dikalibrasi dengan larutan buffer asetat pH 4.0 dan elektroda dibilas dengan akuades dan dikeringkan.

Angka yang ditunjukkan oleh pH meter merupakan nilai pH sediaan dan diamati setiap minggu selama 6 minggu (Depkes RI, 1995). Sediaan disimpan pada suhu dingin (4 ± 2oC) selama 24 jam, kemudian dipindahkan ke dalam oven pada suhu (40 ± 2oC) selama 24 jam. Sediaan gel sebanyak ± 40 ml dimasukkan ke dalam gelas ukur 50 ml kemudian diukur viskositasnya menggunakan viskometer Brookfield RVT yang dilengkapi dengan spindel No.7 kecepatan 50.

Haiwan eksperimen dicukur di bahagian belakang, di mana hirisan akan dibuat, dan kemudian dibersihkan dengan kapas yang direndam dalam alkohol 70%. Penyediaan gel, gel daripada ekstrak daun dan gel perbandingan (O®) disapu pada bahagian belakang tikus dua kali sehari, pada waktu pagi dan petang, selama 21 hari. Penyediaan gel, gel ekstrak daun sanduk dan gel bandingan (O®) disapu pada bahagian belakang tikus, sapukan gel dua kali sehari pada waktu pagi dan petang, selama 21 hari.

Tabel 1. Formula Gel (Wandi,2015)  Komposisi
Tabel 1. Formula Gel (Wandi,2015) Komposisi

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1 Hasil

Daun senduduk yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari daerah Lubuk Buaya, Padang, Sumatera Barat. Tujuan pemilihan sampel daun senduduk karena peneliti ingin melihat efektivitas daun senduduk terhadap luka eksisi dalam bentuk sediaan gel. Pada penelitian sebelumnya sediaan gel daun senduduk ini ditujukan untuk luka bakar berjudul “Efektivitas gel bakar” ekstrak etanol daun senggani grade II (Melastoma malabathricum.L) ) pada tikus putih jantan (Rattus novergicus) (Wandi, 2015). Identifikasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa sampel yang digunakan adalah daun senduduk spesies Melastoma malabathricum.L dari famili Melastomaceae (Lampiran 2, halaman 50).

Pengumpulan dilakukan pada pagi hari, setelah panen dilakukan sortasi basah, pencucian dengan air mengalir dan penjemuran untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada daun dilakukan, kemudian dilakukan pemotongan daun untuk memudahkan ekstraksi zat aktif pada daun senduduk. Selain itu pemeriksaan organoleptik merupakan salah satu uji karakterisasi yang dilakukan terhadap ekstrak daun senduduk yang diperoleh, uji karakterisasi ini mampu melihat bentuk, bau, warna, rasa dari sampel yang kita gunakan. Ekstrak daun senduduk berbentuk cairan kental, berbau khas dan berwarna coklat tua (Tabel 3 halaman 55).

Evaluasi gel ekstrak daun sanduk yaitu uji organoleptik dengan bentuk sediaan semi padat, berwarna coklat, hijau muda, hijau tua dan berbau khas (Gambar 9 halaman 58). Hewan coba dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok 1 pembanding (O®), kelompok 2 kontrol negatif (basis gel), kelompok 3 (konsentrasi gel 2,5%), kelompok 4 (konsentrasi gel 5 %) dan kelompok 5 ( konsentrasi gel 7,5%). Hasil persentase penyembuhan luka pada kelompok perlakuan diaplikasikan dengan gel (O®), base gel, konsentrasi gel 2,5%, konsentrasi gel 5%, konsentrasi gel.

Dari hasil pengamatan selama 21 hari pada hewan coba pada kelompok perlakuan didapatkan sediaan gel konsentrasi 2,5%, konsentrasi gel 5%, konsentrasi gel 7,5% yaitu hari ke 9, 10, 11 dan pada kelompok pembanding, dan basis gel. yaitu hari ke-8 dan ke-7, rata-rata kehilangan jaringan terjadi pada hari ke-2 (Tabel 16 halaman 63). Dari hasil pengukuran waktu epitelisasi dapat disimpulkan bahwa kelompok pembanding O®®, basis gel, waktu epitelisasi lebih cepat dibandingkan dengan gel konsentrasi 2,5%, gel konsentrasi 5%, gel konsentrasi 7,5% (Tabel 17 halaman 64). Hasil uji Duncan pada kelompok gel O®, gel basa, gel konsentrasi 2,5%, gel konsentrasi 5%, gel konsentrasi 7,5% menunjukkan perbedaan yang signifikan.

Tabel 2. Hasil pengukuran persentase luas penyembuhan luka
Tabel 2. Hasil pengukuran persentase luas penyembuhan luka

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan 5.1 Kesimpulan

Saran

Cahaya, Herson, H, Pramono, Dwi, AY. 2017. Uji farmakologi ekstrak kental daun meniran (Phyllanthus niruri Linn) untuk membantu penyembuhan luka sayat pada tikus putih jantan Journal of Pharmaceuticals, 2(1), 25-31. Huynh-Ba K.2008. Handbook pengujian stabilitas dalam pengembangan farmasi: regulasi, metodologi dan praktik terbaik. New York: Media Bisnis Sains Springer. Khasiat Salep Ekstrak Etanol Daun Senggani (Melastoma Malabathricum L.) dalam Penyembuhan Luka Bakar Pada Tikus Wistar Jantan (Rattus Norvegicus).

Mappa, T., Edy, J.H., Kojomg, N Gel formulasi ekstrak daun sasaladahan (Peperomia pellucida L.) H.B.K) dan uji khasiatnya terhadap luka bakar pada kelinci (Oryctolagus cuniculus). Jurnal Ilmiah Farmasi PHARMACON. Pengaruh ekstrak batang karamunting (Melastoma malabathricum Linn.) terhadap proses penyembuhan luka pada kulit mencit (Mus musculus L.). Qanun Medika, 2019, Proses Penyembuhan Luka Ditinjau dari Aspek Mekanisme Sel dan Molekuler Vol.3 No.1 : Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.

ITB Prasetyo, B.F.I., Wientarsih dan Priosoeryanto B.P.2010. Aktivitas sediaan gel ekstrak batang pisang ambon dalam proses penyembuhan luka pada mencit. Sunilson, A.J., James J., Thomas, J., Jayaraj, P., Varatharajan, R., Muthappan, M.2008. Aktivitas antibakteri dan penyembuhan luka (Melastoma balathricum L). Simanjuntak, M.R. 2008. Ekstraksi dan Fraksinasi Komponen Ekstrak Daun Senduduk (Melastoma balathricum.L) dan Pengujian Pengaruh Sediaan Krim Terhadap Penyembuhan Luka Bakar Skripsi: Medan, Fakultas Farmasi, Universitas Sumatera Utara.

Khasiat Ekstrak Etanol Combustio Gel Grade II Daun Senggani (Melastoma balathricum L) pada Tikus Jantan (Rattus norvegicus) Pontianak: Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura. Wahyuni, S. 2016. Pengaruh Salep Fitoplankton Chlorella Vulgaris Terhadap Penyembuhan Luka Mencit (Mus Musculus Albinus). Spesialisasi. Yeni dkk. 2015. Getah dari Pohon Jarak Pagar (Jatropha curcas). Secara topikal mempercepat waktu penyembuhan luka eksisi tikus. Studi ilmu kesehatan di program Universitas Gresik.

Gambar 10. Sampel Daun Senduduk (Melastoma malabathricum.L)
Gambar 10. Sampel Daun Senduduk (Melastoma malabathricum.L)

Tikus dengan

Tikus dengan

Siklus 2 Siklus 3 Siklus 4 Siklus 5 Siklus 6

Gambar

Gambar 1. Tanaman Senduduk  2.1.2   Nama Lain dan Nama Daerah
Gambar 2. Struktur Kimia Flavonoida
Gambar 3. Struktur Kimia Saponin
Gambar 4. Struktur Kimia Tannin
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian dilakukan dengan metode penelitian eksperimental, bertujuan untuk mengetahui formulasi sediaan masker gel peel-off ekstrak daun pandan wangi (Pandanus