SKRIPSI
Diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember
Untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Agama (S.Ag) Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora, Jurusan Tafsir Hadits
Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir
Oleh:
LILIS SYAMSIAH NIM: 082142044
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) JEMBER FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB DAN HUMANIORA
JULI 2018
PEMBACAAN AYAT-AYAT AL-QUR’AN DALAM ZIKIR (STUDI LIVING QUR’AN TAREKAT SYADZILIYYAH
DESA SUMBEREJO AMBULU JEMBER)
SKRIPSI
Diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember (IAIN)
Untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Agama (S.Ag) Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora, Jurusan Tafsir Hadits
Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir
Oleh : Lilis Syamsiah NIM : 082142044
SKRIPSI
Telah diuji dan diterima untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Agama (S.Ag) Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora, Jurusan Tafsir Hadits
Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Hari : Senin
Tanggal : 09 Juli 2018
Wahai orang-orang yang beriman! Ingat-lah kepada Allah, dengan mengingat (nama- Nya) sebanyak-banyaknya, (Q.S al-Ahzab : 41) 1
1 Kemenag RI, Syaamil Qur’an (Bandung: PT Syigma Examedia Arkanleema, 2010), 423.
Abah dan Ummi, serta keluarga besar di Cilegon dan di Pandeglang Seluruh adik-adik penulis, Khizmiah (Mia), Khizmi Nawawi, Hazim Suhaemi,
Nailin Najȃh, M. Wildan Kholili, Lu’lu Nujaema.
Keluarga besar Pondok Pesantren al-Qur’an Ibnu Katsir (Asatidz-Asatidzah, Murobbiyyah, Musyrif-Musyrifah dan para donator).
Seluruh sahabat seperjuangan “al-Sȃbiqûn al-Awwalûn”, Teh Sa’adah, Mbak Muti’, Nabeel, Ukh Min’ai, Ukh Zizi, Ukh Erlita, Sister Manis, Himmah, mbak Is, mbak Indah, mbak Miftah, mbak Liph, mbak Aisy, mbak Hanik, mbak Heppi,
A’yun, bu-Diel, Ti-ul, Sitti, Chirippa, mbak Irfah, Mbak Runna serta teman- teman yang sudah tidak bersama kami.
Untuk adik-adik angkatan di Pondok Pesantren al-Qur’an Ibnu Katsir Putri dan sahabat G’Stragle 714 al-Kautsar.
Kampus Institut agama Islam Negeri Jember, khususnya Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora Program studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir. dan teman- teman seperjuangan Q1 angkatan 2014 serta teman-teman KKN PAR 2017
posko 28.
Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang selalu memberikan rahmat-Nya kepada kami yang sedang menuntut ilmu, Selawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW dan kepada keluarga, para sahabat serta para pengikutnya hingga akhir zaman.
Skripsi yang berjudul “Pembacaan ayat-ayat al-Qur’an dalam zikir (Studi Living Qur’an tarekat Syadziliyyah desa Sumberejo Ambulu Jember) ini diajukan sebagai salah satu persyaratan menyelesaikan program sarjana strata 1 guna memperoleh gelar sarjana Agama Jurusan ilmu a-Qur’an dan Tafsir di Fakultas Ushuluddin, adab dan Humaniora Institut Agama Islam Negeri Jember. Dalam penyelesaian skripsi ini, penulis memperoleh banyak dukungan dari berbagai pihak, dengan rasa penuh hormat peneliti menyampaikan Jazakumullah Khoir Katsir kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., MM selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.
2. Dr. H. Abdul Haris, M.Ag selaku Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora IAIN Jember.
3. H. Mawardi Abdullah, Lc., MA selaku Ketua Jurusan Tafsir Hadis IAIN Jember.
4. Dr. Uun Yusufa, M.A selaku Ketua Program studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir sekaligus dosen pembimbing yang telah membimbing dalam penyelesaian skripsi ini.
pikirannya untuk menjadikan penulis lebih teliti lagi dalam penulisan skripsi. Untuk sekretaris sidang, ibu Siti Qurrotul Aini, Lc., M.Hum yang telah membimbing dan memberikan arahan dalam proses penyelesaian revisi skripsi.
7. Abah dan Ummi, yang telah banyak berjuang dan berdoa untuk penulis sehingga penulis bisa menyelesaikan pendidikan sampai perguruan tinggi dengan lancar. Terimakasih penulis sampaikan kepada mang Hayani dan mang Najmuddin yang telah banyak membantu dan memberikan motivasi dalam penyelasaian skripsi ini.
8. Yayasan pondok pesantren al-Qur’an Ibnu Katsir serta para donatur yang telah memberikan beasiswa kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan pendidikan S1 di IAIN Jember. Ucapan terimakasih penulis sampaikan untuk asatidz dan asatidzah yang telah membantu dan sabar membersamai perjuangan kami selama 5 bulan terakhir di karantina tahfidz Qur’an Kaliwining.
9. Keluarga di Sumberejo Ambulu Jember, Sirotul Azizah yang telah memberikan inspirasi judul penelitian ini, Abah Kyai Karim dan keluarga, bapak H. Mursyid dan keluarga, bapak. Edi dan Keluarga serta seluruh Jemaah Syadziliyyah di Sumberejo yang telah menginzinkan penulis untuk
terkait penelitian ini. Untuk Mbak May dan Sister, terimakasih sudah membantu dan menemani penulis dalam melakukan penelitian semoga Allah mudahkan urusan kalian. Ȃmîn.
10. Terimaksih untuk teman-teman seperjuangan di pondok pesantren al- Qur’an Ibnu Katsir (al-Sȃbiqûn al-Awwalûn) atas doa dan motivasi, terimaksih telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi, Semoga Allah selalu memudahkan urusan kita semua. Jazakunnallahu Khoir.
11. Semua pihak yang memberikan kontribusi dan mendukung dalam penyelesaian skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu penulis meminta maaf kepada semua pihak yang merasa kurang berkenan dengan skripsi ini, semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua khususnya bagi yang membaca.
Jember, 9 Juli 2018 Penulis,
Lilis Syamsiah NIM. 082 142 044
umat Islam, di dalam al-Qur’an terdapat petunjuk tentang hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan manusia serta manusia dengan alam sekitarnya.
Pemahaman dan pemaknaan masyarakat terhadap al-Qur’an sangat beragam, dalam penelitian ini dipaparkan salah satu respons masyarakat terhadap al-Qur’an, yaitu anggota tarekat Syadziliyyah di desa Sumberejo Ambulu Jember yang menjadikan ayat-ayat al-Qur’an sebagai bacaan rutin dalam zikir.
Fokus masalah yang diteliti dalam skripsi ini adalah: 1) Bagaimana praktik pembacaan zikir menggunakan ayat-ayat al-Qur’an di kalangan tarekat Syadziliyyah di desa Sumberejo Ambulu Jember? 2) Bagaimana pemahaman tentang ayat-ayat al-Qur’an yang dijadikan sebagai zikir dalam pandangan Jemaah tarekat Syadziliyyah di desa Sumberejo Ambulu Jember? 3) Bagaimana makna pembacaan ayat-ayat al-Qur’an dalam zikir menurut Jemaah tarekat Syadziliyyah di desa Sumberejo Ambulu Jember?.
Tujuan penelitian ini adalah 1) Untuk mendeskripsikan praktik pembacaan zikir menggunakan ayat-ayat al-Qur’an di kalangan tarekat Syadziliyyah di desa Sumberejo Ambulu Jember, 2) Untuk mengungkapkan pemahaman tentang ayat- ayat al-Qur’an yang dijadikan sebagai zikir dalam pandangan Jemaah tarekat Syadziliyyah di desa Sumberejo Ambulu Jember, 3) Untuk menganalisis makna pembacaan ayat-ayat al-Qur’an dalam zikir menurut Jemaah tarekat Syadziliyyah di desa Sumberejo Ambulu Jember.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang bersifat penelitian lapangan dengan jenis penenelitian fenomenologi. Metode pengumpulan data dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Adapun untuk menguji keabsahan data menggunakan triangulasi data.
Hasil penelitian ini adalah Pertama, Ayat-ayat al-Qur’an yang terdapat dalam bacaan zikir tarekat Syadziliyyah di desa Sumberejo adalah Q.S al-Taubah ayat 128-129 (Laqad Ja’akum) dan Q.S al-Baqarah ayat 255 (Ayat Kursi). Zikir ini dibaca setiap setelah salat fardlu, malam khususiyyah (malam selasa), selapanan (35 hari sekali) sebanyak 100 kali dipimpin oleh imam khususiyyah.
Kedua Pemahaman Jemaah terhadap ayat-yat dalam zikir tersebut adalah bahwa ayat Laqad Jȃ’akum merupakan ayat yang menjelaskan tentang Nabi dan sifat- sifatnya, sedangkan ayat kursi menjelaskan tentang Allah dan sifat-sifatNya.
Ketiga pemaknaan terhadap pembacaan ayat-ayat al-Qur’an dalam zikir menurut jemaah tarekat Syadziliyyah adalah bahwa bagi siapa saja yang rutin mengamalkan zikir tersebut, akan merasa lebih dekat dengan Allah dan Nabi-Nya, terjaga kemanan lahir batin, kesehatan, dijauhkan dari gangguan jin dan setan, cepat mendapatkan solusi, doa dikabulkan.
2 Tim penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, (Jember: IAIN Jember Press), 2015.
Vocal Tunggal Vocal panjang
Arab Indonesia Arab Indonesia Arab Indonesia
ا A ط Th ا ȃ
ب B ظ Zh و Û
ت T ع ‘ ي Î
ث Ts غ Gh Vocal pendek
ج J ف F َ A
ح H ق Q َ I
خ Kh ك K َ U
د D ل L Vocal ganda
ذ Dz م M ي Yy
ر R ن N و Ww
ز Z و W Diftong
س S ه H و أ Aw
ش Sy ء , ي أ Ay
ص Sh ي Y
ض dl
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iii
MOTTO ... iv
PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... ix
PEDOMAN TRANSLITERASI ... x
DAFTAR ISI ... xi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Fokus Penelitian ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Manfaat Penelitian ... 8
E. Definisi Istilah ... 9
F. Metode Penelitian ... 10
G. Sistematika Penulisan ... 14
BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu ... 16
B. Kajian Teori ... 18
BAB III GAMBARAN UMUM DESA SUMBEREJO DAN TAREKAT SYADZILIYYAH A. Gambaran Umum Desa Sumberejo ... 29
B. Gambaran Umum Tarekat Syadziliyyah ... 31
BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS A. Pembacaan zikir dalam Tarekat Syadziliyyah ... 49
dalam zikir ... 64 C. Makna Pembacaan Ayat-ayat al-Qur’an dalam Zikir ... 67 D. Pembahasan temuan ... 70 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 78 B. Saran ... 79 DAFTAR PUSTAKA ... 80 LAMPIRAN-LAMPIRAN
1
Al-Qur’an adalah mukjizat Islam yang abadi di mana semakin maju ilmu pengetahuan, semakin tampak validitas kemukjizatannya. Allah SWT menurunkuannya kepada Nabi Muhammad SAW demi membebaskan manusia dari berbagai kegelapan hidup menuju cahaya Ilahi, dan membimbing mereka ke jalan yang lurus.3 Al-Qur’an adalah risalah Allah untuk seluruh umat manusia. Allah SWT berfirman dalam Q.S al-Furqȃn : 1
“Maha Suci Allah yang telah Menurunkan al-Furqȃn (al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia)”4
Al-Qur’an merupakan sumber utama ajaran Islam dan pedoman hidup bagi setiap muslim. Al-Qur’an tidak sekedar memuat petunjuk tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya (habl min Allah wa habl min al-nȃs), serta manusia dengan alam sekitarnya. Untuk memahami ajaran Islam secara sempurna (Kȃffah),
3 Manna al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu al-Qur’an (Jakarta : Pustaka al-Kautsar, 2014), 3.
4 Kemenag RI, Syaamil Qur’an (Bandung: PT Syigma Examedia Arkanleema, 2010), 359.
diperlukan pemahaman terhadap kandungan al-Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari secara sungguh-sungguh dan konsisten.5
Pemaknaan dan pengamalan tentang al-Qur’an di kalangan umat Islam sangat beragam di antaranya adalah membaca al-Qur’an, menghafalkan al- Qur’an, mengamalkan isi kandungan al-Qur’an, berobat dengan al-Qur’an, memohon berbagai hal dengan al-Qur’an, mengusir makhluk halus dengan al- Qur’an, menerapkan ayat-ayat al-Qur’an tertentu dalam kehidupan individual maupun dalam kehidupan sosial, dan menuliskan ayat-ayat al-Qur’an untuk menangkal gangguan maupun untuk hiasan.6
Dalam tradisi Islam “tradisional” misalnya, al-Qur’an pada umumnya dipahami dengan cara yang lebih sederhana dan mistis. Masyarakat awam lebih cenderung memperlakukan al-Qur’an sebagai bacaan atau mantra yang dipercayai memiliki efek psikologis ataupun pengaruh fisis. Fenomena kultural yang menekankan al-Qur’an sebagai bacaan yang sampai saat ini masih ada antara lain : berkembangnya penggunaan wirid atau zikir yang diambil dari ayat al-Qur’an, ilmu mujarabat dan penggunaan rajah.7
Secara umum tujuan orang membaca al-Qur’an dikelompokkan menjadi tiga, yang pertama adalah membaca al-Qur’an sebagai ibadah. Tujuan ini dapat dilihat dari definisi al-Qur’an, bahwa “al-Qur’an adalah kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat
5 Said Agil Husin al Munawar, al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki (Jakarta : Ciputat Press, 2002), 3.
6 Muhammad, “Mengungkap Pengalaman Muslim Berinteraksi dengan al-Qur’an” dalam Sahiron Syamsuddin (ed), Metodologi Penelitian qur’an dan Hadits (Yogyakarta : TH Press, 2007), 12.
7 Anharudin, Lukman Saksono, Lukman Abdul Qohar Sumabrata, Fenomenologi al-Qur’an (Bandung : PT al-Ma’arif, 1997), 27.
Jibril yang diturunkan secara mutawatir dan membacanya sebagai ibadah.
Pernyataan ini telah memotivasi kaum muslimin untuk membaca al-Qur’an sebanyak-banyaknya walaupun belum mengerti makna dan tafsirnya.”8
Kedua, membaca al-Qur’an untuk mencari petunjuk. Untuk tujuan ini seorang muslim atau bahkan non muslim yang menjadi pengkaji al-Qur’an akan membaca sebagian atau keseluruhan al-Qur’an agar mendapatkan petunjuk. Petunjuk yang dimaksud adalah bisa berupa kejelasan makna yang dimaksudkan lafadz al-Qur’an, atau isyarat-iyarat tertentu yang dapat ditangkap dari susunan lafadz al-Qur’an. tujuan orang muslim membaca al- Qur’an dalam hal ini adalah untuk bisa menguatkan keyakinan mereka akan kebesaran al-Qur’an dan pesan-pesan yang terkandung dalam al-Qur’an.
Ketiga, membaca al-Qur’an untuk dijadikan alat justifikasi. Dalam hal ini pembacaan menggunakan “bagian tertentu” dari al-qur’an untuk mendukung pikiran ataupun keadaannya pada saat tertentu. Pada hal ini, yang biasanya terjadi adalah orang terlebih dahulu berhadapan dengan sebuah persoalan, maka dicarilah bagian-bagian tertentu dari al-Qur’an untuk kemudian memberikan penilaian terhadap keadaan tersebut. Penilaian tersebut bisa untuk mendukung ataupun menolaknya, tergantung tujuan dari si pembaca.9
Pemahaman mengenai al-Qur’an bagi setiap pembacanya memiliki ragam yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan individu. Hal tersebut juga melahirkan perilaku yang beragam sebagai penafsiran al-Qur’an dalam
8 Ahmad Rafiq, “Pembacaan yang Atomistik terhadap al-Qur’an : antara Penyimpangan dan Fungsi”, Jurnal Studi ilmu –ilmu al-Qur’an dan Hadis, V, 2004, 3.
9 Ibid., 4-5.
praktik-praktik kehidupan, baik pada dataran teologi, filosofis, psikologi maupun kultural. Penafsiran personal yang diungkapkan dan dikomunikasikan secara verbal maupun tindakan dapat mempengaruhi individu lain sehingga terbentuk kesadaran bersama dan pada taraf tertentu melahirkan tindakan kolektif serta terorganisasi.10 Sebagai contoh adalah pembacaan ayat al-Qur’an dalam zikir.
Zikir adalah usaha yang dilakukan untuk mengingat Allah SWT, yang dilakukan baik dengan ucapan lisan (menyebut, mengucapkan) maupun hanya dilakukan dalam hati. Zikir adalah ibadah yang paling mudah setelah membaca al-Qur’an, tidak ada ibadah yang dilakukan dengan lisan yang lebih utama daripada berzikir kepada Allah dan mengangkat hajat-hajat dengan doa- doa yang tulus kepada-Nya. Sebaik-baik zikir adalah yang didalamnya berpadu hati dan lisan.11 Dengan melakukan zikir, jiwa akan menjadi tentram, tenang dan damai, serta tidak mudah terombang-ambing oleh pengaruh negatif lingkungan dan budaya global.12
Adapun keutamaannya adalah bahwa zikir dapat mengusir setan, membuat rida Allah yang maha pemurah, mendatangkan rezeki, menyebabkan Allah ingat kepada hamba yang berzikir kepada-Nya. Selain itu, zikir dapat menghapuskan kesalahan-kesalahan dan mengamankan sang hamba dari penyesalan pada hari kiamat, karena setiap majelis yang di dalamnya sang
10 Muhammad, “Mengungkap Pengalaman Muslim”, 12.
11 Abdullah bin Umar al-Bakri, Subulus Salam (Jakarta: Pondok Pesantren Darunnajah, 2017), 19.
12 Marwan Salahudin, “Esoterik : Jurnal Akhlak dan Tasawuf”, Vol.2, No.1, 2016, 67.
hamba tidak berzikir kepada Rabbnya, maka ia akan meneyesali pada hari kiamat.13
Macam-macam zikir diantaranya adalah selawat untuk Nabi SAW,
tahlil , tasbih , takbir , tahmid ,
hauqalah , istigfar , bahkan setiap orang yang
beramal untuk Allah dengan menaati-Nya adalah orang yang berzikir (ingat) kepada Allah SWT.14
Masyarakat memiliki beragam cara untuk menerapkan ajaran zikir tersebut, ada yang menerapkan sebatas apa yang telah diajarkan Rasulullah, ada yang mengikuti majelis – majelis zikir, mengikuti kelompok tarekat tertentu dan ada yang mengamalkannya saat tertentu, misalnya setelah salat fardu dan lain-lain.
Tarekat Syadziliyyah adalah salah satu tarekat yang berkembang di Indonesia. Tarekat ini disandarkan kepada Syekh Abu al-Hasan al-Syadzili sebagai pendirinya,15 adapun amalan yang selalu dikerjakan pada tarekat ini salah satunya adalah zikir, dalam hal ini salah satu zikir yang dibaca adalah dengan ayat-ayat al-Qur’an.
Pada awalnya, bacaan zikir pada tarekat Syadziliyyah yang dilaksanakan setelah salat fardu adalah sama sebagaimana umumnya kaum
13 Ibn Umar, Subulus Salam, 20.
14 Ibid., 20.
15 Abu Muqaffa Hasani, Mengenal Thariqah Syadziliyah (Kediri : Mitra Gayatri, t.t.), 4.
muslimin mengamalkan, akan tetapi ketika Syekh Shalȃh al-Dîn menjadi guru mursyid, bacaan setelah salat fardu ditambah dengan membaca ayat laqad Jȃ’akum dan ayat kursi. Selain itu, ayat tersebut menjadi amalan wajib yang
harus diamalkan oleh calon Jemaah Syadziliyyah sebelum dibaiat atau biasa disebut dengan riyadlah. Rutinitas pembacaan ayat-ayat al-Qur’an ini merupakan kegiatan sosial masyarakat setempat yang mengikuti tarekat Syadziliyyah atau calon jemaah tarekat Syadziliyyah yang berlangsung hingga sekarang. Pembacaan ayat-ayat tersebut dilatarbelakangi karena adanya pemahaman mengenai ayat-ayat al-Qur’an yang terkandung dalam zikir.
Berangkat dari fenomena tersebut, penulis tertarik atau terdorong untuk meneliti serta mengkaji pemahaman dan pemaknaan terhadap ayat-ayat al-Qur’an dalam zikir menurut Jemaah tarekat Syadziliyyah lebih mendalam dengan menggunakan kajian living Qur’an. Selain itu, ketertarikan penulis untuk meneliti judul ini adalah dikarenakan penulis tertarik dengan tarekat Syadziliyyah, karena pada tarekat ini tidak hanya diatur masalah kehidupan akhirat saja, akan tetapi masalah kehidupan dunia baik sosial atau ekonomi pun diatur sedemikian baik, salah satunya yaitu dengan dibentuknya KSP BMT PETA .
Dari latar belakang tersebut, agar tulisan ini lebih terarah maka peneliti memfokuskan pembahasan hanya mengenai praktik pembacaan ayat-ayat al- Qur’an dalam zikir serta pemahaman dan pemaknaannya menurut Jemaah tarekat Syadziliyyah, dengan begitu peneliti membuat penelitian yang berjudul
“Pembacaan Ayat-ayat al-Qur’an dalam Zikir (Studi Living Qur’an Tarekat Syadziliyyah Desa Sumberejo Ambulu Jember).”
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparzkan sebelumnya, maka fokus penelitian dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana praktik pembacaan zikir menggunakan ayat-ayat al-Qur’an di kalangan tarekat Syadziliyyah di desa Sumberejo Ambulu Jember?
2. Bagaimana pemahaman tentang ayat-ayat al-Qur’an yang dijadikan sebagai zikir dalam pandangan Jemaah tarekat Syadziliyyah di desa Sumberejo Ambulu Jember?
3. Bagaimana makna pembacaan ayat-ayat al-Qur’an dalam zikir menurut Jemaah tarekat Syadziliyyah di desa Sumberejo Ambulu Jember?.
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mendeskripsikan praktik pembacaan zikir menggunakan ayat-ayat al-Qur’an di kalangan tarekat Syadziliyyah di desa Sumberejo Ambulu Jember.
2. Untuk mengungkapkan pemahaman tentang ayat-ayat al-Qur’an yang dijadikan sebagai zikir dalam pandangan Jemaah tarekat Syadziliyyah di desa Sumberejo Ambulu Jember.
3. Untuk menganalisis makna pembacaan ayat-ayat al-Qur’an dalam zikir menurut Jemaah tarekat Syadziliyyah di desa Sumberejo Ambulu Jember.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan keilmuan di bidang ilmu al-Qur’an dan tafsir khususnya dalam bidang kajian living Qur’an. selain itu dapat menjadi referensi penelitian berikutnya dalam mengkaji fenomena respon masyarakat terhadap al- Qur’an dan bentuk pengaplikasian di kehidupan sehari-hari.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Penulis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan kepada penulis tentang kajian living Qur’an khususnya mengetahui pemaknaan ayat-ayat yang dijadikan zikir dalam tarekat Syadziliyyah di desa Sumberejo Ambulu Jember.
b. Bagi IAIN Jember
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan khazanah keilmuwan Islam dan sebagai bahan referensi untuk mahasiswa IAIN Jember, khususnya mahasiswa Prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, adab dan Humaniora.
c. Bagi Masyarakat umum
Memberikan informasi kepada masyarakat tentang tarekat Syadziliyyah dan ajaran-ajarannya, serta dapat mengetahui fadlîlah dari ayat-ayat al-Qur’an yang dijadikan sebagai bacaan zikir.
E. Definisi Istilah 1. Zikir
Zikir adalah usaha yang dilakukan untuk mengingat Allah SWT, yang dilakukan baik dengan ucapan lisan (menyebut, mengucapkan) maupun hanya dilakukan dalam hati. Zikir adalah salah satu amalan yang terpenting dalam tarekat, tujuannya adalah mengantarkan para jemaah tarekat untuk sampai kepada Allah dan mencapai rida-Nya.
2. Living al-Qur’an.
Living al-Qur’an adalah kajian atau penelitian ilmiah tentang berbagai peristiwa sosial terkait dengan kehadiran atau keberadaan al- Qur’an di sebuah komunitas muslim tertentu.16 Living al-Qur’an juga dapat didefinisikan sebagai bentuk dan model praktik, resepsi dan respon masyarakat dalam memperlakukan dan berinteraksi dengan al-Qur’an.17 3. Tarekat
Tarekat adalah jalan yang bersifat spiritual bagi seorang sufi yang didalamnya berisi amalan ibadah dan lainnya yang bertemakan menyebut nama Allah dan sifat-sifatnya disertai dengan penghayatan yang mendalam.18 Amalan yang selalu terlihat dalam tarekat adalah zikir, adapun bacaan zikir yang dibaca oleh setiap tarekat berbeda-beda.
Adapun yang dimaksud dari judul penelitian ini adalah, penelitian terhadap pengaplikasian ayat-ayat al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat,
16 M. Mansur, “Living Qur’an dalam Lintasan Sejarah Studi Qur’an” dalam Sahiron Syamsuddin (ed), Metodologi Penelitian qur’an dan Hadits, (Yogyakarta : TH Press, 2007), 8.
17 Abdul Mustaqim, metode Penelitian al-Qur’an dan Tafsir (Yogyakarta : Idea Sejahtera, 2015), 104
18 Abudin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta : Rajagrafindo Persada, 2010), 270-271.
khususnya ayat-ayat al-Qur’an yang dijadikan sebagai bacaan zikir dalam tarekat Syadziliyyah yang berada di desa Sumberejo Ambulu Jember.
F. Metode Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat field research atau penelitian lapangan, maksudnya peneliti melakukan studi terhadap realitas kehidupan sosial masyarakat secara langsung.
Adapun jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian fenomenologi. Peneliti mencari arti atau makna dari pengalaman yang ada dalam kehidupan masyarakat khususnya terhadap jemaah tarekat Syadziliyyah di desa Sumberejo.
2. Lokasi penelitian
Sebagaimana judul penelitian yang telah tertera, maka lokasi penelitian ini dilaksanakan di desa Sumberejo. Desa Sumberejo adalah salah satu desa yang berada di kecamatan Ambulu kabupaten Jember, yang sebagian kecil dari masyarakatnya mengikuti tarekat Syadziliyyah.
Sumberejo merupakan salah satu desa yang terletak di wilayah administrasi kecamatan Ambulu Kabupaten Jember, dengan luas wilayah 18.709.530 km² atau 1.870.953 ha. Sebelah Utara berbatasan dengan desa Sabrang, sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia, sebelah Timur berbatasan dengan sungai Mayang dan sebelah Barat berbatasan dengan desa Lojejer.
3. Subyek Penelitian
Terkait penelitian ini, yang dijadikan Subyek penelitian adalah Kyai Abdul Karim sebagai Imam tarekat Syadziliyyah, bapak Sangali sebagai ketua tarekat Syadziliyyah, serta beberapa jemaah tarekat Syadziliyyah yang berada di desa Sumberejo Ambulu Jember.
4. Teknik Pengumpulan data
Adapun langkah-langkah yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data adalah sebagai berikut :
a. Observasi
Dengan metode observasi, peneliti melakukan penelitian secara langsung ke desa Sumberejo yaitu dengan mengikuti kegiatan zikir rutinan baik yang dilaksanakan pada malam selasa yang bertempat di rumah Kyai Abdul Karim, maupun kegiatan zikir setiap malam minggu kliwon (35 hari sekali) atau biasa disebut dengan selapanan.
Kegiatan tersebut dilaksanakan ditempat-tempat yang berbeda (anjangsana) atau bergantian antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.
b. Wawancara
Selain dengan observasi, peneliti juga melakukan wawancara kepada Imam tarekat Syadziliyyah, dan beberapa anggota Syadziliyyah untuk mencari atau menguji keabsahan data yang peneliti terima dari informan satu dengan informan lainnya atau dari hasil observasi.
c. Dokumentasi
Dengan metode ini, peneliti memperoleh data diantaranya, profil desa Sumberejo, buku pedoman tarekat Syadziliyyah, dan data anggota yang mengikuti tarekat Syadziliyyah di desa Sumberejo.
Selain itu, peneliti juga mendapatkan foto-foto kegiatan.
5. Analisis Data
Untuk menganalisis data, peneliti menggunakan model analisa data menurut Miles dan Huberman yang mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus sampai tuntas sehingga datanya sudah jenuh.19 Dalam penelitian ini, untuk menganalisis data menggunakan tiga tahapan, yaitu : a. Data reduction (Reduksi Data)
Setelah peneliti melakukan penelitian langsung, peneliti mendapatkan data yang cukup banyak dari beberapa informan yang telah diwawancarai atau dari hasil observasi. Tahap selanjutnya adalah peneliti memilih atau menyeleksi data-data penting yang diperoleh dari wawancara, observasi dan dokumentasi tersebut agar tidak terlalu bertele-tele dalam pembahasan.
b. Data display (Penyajian data)
Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data atau menyajikan data. Dalam hal ini peneliti
19 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2016), 246.
memaparkan data-data yang telah direduksi atau menyajikan data berdasarkan fokus yang telah ditentukan dengan teks naratif.
c. Conclusion Drawing / verification
Setelah data disajikan, maka langkah selanjutnya adalah menyimpulkan dari apa yang peneliti temukan. Jika kesimpulan ini didukung oleh bukti-bukti yang kuat, maka kesimpulan dalam penelitian ini merupakan kesimpulan yang valid.
6. Keabsahan Data
Untuk menguji keabsahan data, penulis menggunakan teknik triangulasi yaitu mencari data yang sama dari beberapa sumber di antaranya imam tarekat Syadziliyyah, ketua tarekat Syadziliyyah dan beberapa anggota tarekat Syadziliyyah.
7. Tahap-tahap Penelitian
a. Pendahuluan, pada tahap pertama peneliti mengumpulkan masalah- masalah yang akan diteliti, sehingga terkumpul menjadi beberapa rumusan masalah dan kemudian mengacu kepada pembentukan tema penelitian
b. Pengembangan, setelah terbentuknya tema penelitian, selanjutnya peneliti melakukan pengembangan data dengan analisa kecil, yang dilakukan dengan mengumpulkan beberapa argumen, kajian pustaka atau buku penjunjang yang berkaitan dengan penelitian, dan mengatur tahap-tahap yang akan dilaksanakan selanjutnya.
c. Penelitian, setelah melalui tahap pengembangan, selanjutnya peneliti akan melakukan penelitian sebenarnya. Peneliti melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi di desa Sumberejo untuk mencari data yang valid mengenai tarekat Syadziliyyah. Setelah data terkumpul, maka peneliti melakukan analisis data.
d. Penulisan laporan, setelah peneliti mendapatkan data yang valid, maka langkah selanjutnya adalah peneliti melakukan penulisan terhadap hasil penelitian dan menyimpulkan data yang telah didapatkan guna mempertanggungjawabkan keabsahan dari penelitian yang telah dilaksanakan.
G. Sistematika Penulisan
Bab pertama, berupa pendahuluan yang menjelaskan tentang latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, metode penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab kedua, kajian kepustakaan yang membahas tentang penelitian terdahulu dan kajian teori.
Bab ketiga, berisi tentang gambaran umum mengenai profil desa, tarekat Syadziliyyah dan perkembangannya di desa Sumberejo Ambulu Jember
Bab keempat, berisi tentang pembahasan temuan yaitu tentang ayat- ayat yang dibaca dalam zikir, pelaksanaan zikir dan pemaknaan masyarakat terhadap ayat-ayat al-Qur’an dalam zikir tarekat Syadziliyyah.
Bab kelima, merupakan akhir dari pembahasan yaitu penutup yang meliputi kesimpulan dari hasil penelitian dan saran atau rekomendasi untuk para peneiti selanjutnya.
KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian terdahulu
Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan judul penelitian ini di antaranya adalah:
Skripsi yang berjudul “Pembacaan Ayat-ayat al-Qur’an dalam zikir Chemistri (Studi Living Qur’an di Pondok Holistik – 7 Yogyakarta)” karya Ahmad Angsori Maksum, dalam skripsinya ia menjelaskan secara detail bagaimana pelaksanaan zikir chemistry, ayat apa saja yang dibaca dalam zikir chemistry dan bagaimana pandangan para peserta terhadap zikir chemistry.
Setelah melakukan wawancara dan observasi, ia menyimpulkan bahwa zikir Chemistri berbeda dengan zikir lainnya, yaitu bentuk zikir yang dikembangkan oleh Pondok Holistik-7 Yogyakarta dengan mensinergikan antara napas, lisan, hati, pikiran dan gerak dalam satu kesatuan proses zkir.20
Skripsi yang berjudul “Pembacaan Ayat-ayat al-Qur’an dalam Rutinan Ratib al-‘Attas (Studi Living Qur’an di Lembaga Pendidikan Thariq al-Jannah Kel. Muja-Muju, Kec. Umbulharjo, Kotamadya Yogyakarta, DIY) karya Mulyadi, dalam skripsinya ia membahas tentang praktik pembacaan ayat-ayat al-Qur’an dalam Ratib al-‘Attas dan makna dari penggunaan ayat-ayat al-
20 Ahmad Angsori Maksum, “Pembacaan ayat-ayat al-Qur’an dalam zikir chemistry (studi living qur’an di Pondok Holistik-7 Yogyakarta), (Skripsi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2017).
Qur’an tersebut di Lembaga Pendidikan Thariq al-Jannah Muja-Muju Umbulharjo Yogyakarta D.I. Yogyakarta.21
Skripsi yang berjudul “Ayat-ayat al-Qur’an dalam Tradisi Senenan Thariqah Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah (Studi Living qur’an di Desa Cukir Kec. Diwek Kab. Jombang)” karya Fathurrobbani, dalam skripsinya ia membahas tentang fenomena praktik pembacaan ayat-ayat al-Qur’an dalam tradisi senenan dan pemaknaan masyarakat terhadap praktik pembacaan ayat- ayat al-Qur’an dalam tradisi senenan yang dilaksanakan oleh tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di desa Cukir.22
Skripsi yang berjudul “Pembacaan Surat-Surat al-Qur’an dalam Tradisi Dulkadiran (Kajian Living Qur’an di dusun Sampurnan kec. Bungah kab.
Gresik) karya Nilna Fadlillah, dalam skripsinya ia membahas secara spesifik tentang praktik pembacaan surat-surat al-Qur’an dalam tradisi dulkadiran dan makna yang terkandung di dalam praktik tersebut dengan menggunakan teori antropologi interpretative Clifford Geertz.23
Selanjutnya adalah skripsi yang berjudul “Pembacaan ayat-ayat al- Qur’an dalam tradisi Sadranan (Studi living Qur’an di Desa Cepego, Cepego, Boyolali) karya Muhammad Ardha Alfathoni, dalam skripsinya ia menjelaskan tentang praktik pembacaan ayat-ayat al-Qur’an dalam tradisi
21 Mulyadi, “Pembacaan Ayat-ayat al-Qur’an dalam Rutinan Ratib al-‘Attas (Studi Living qur’an di Lembaga Pendidikan Thariq al-Jannah Kel. Muja-Muju, Kec. Umbulharjo, Kotamadya Yogyakarta, DIY )”, (Skripsi, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2017).
22 Ahmad Fathurrobbani, “Pembacaan Ayat-ayat al-Qur’an dalam tradisi senenan thariqah qadiriyah wa naqsyabandiyah (Studi Living Qur’an di Desa cukir Kec. Diwek Kab. Jombang)”, (Skripsi, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2016).
23 Nilna Fadlillah, “Pembacaan Surat-surat al-Qur’an dalam tradisi Dulkadiran (Kajian Living Qur’an di dusun Sampurnan kec. Bungah kab. Gresik)”, (Skripsi, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2016).
sadranan, pemahaman masyarakat mengenai hal itu dan faktor pendorong yang melatar belakangi dalam pembacaan ayat-ayat al-Qur’an dalam tradisi sadranan.24
Dari hasil tinjauan beberapa karya tulis diatas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa belum terdapat karya tulis yang secara spesifik membahas tentang pembahasan ayat-ayat al-Qur’an yang dijadikan untuk bacaan zikir terutama dalam tarekat Syadziliyyah.
B. Kajian Teori 1. Tarekat
Tarekat berasal dari kosa kata bahasa arab tharîqah yang artinya jalan. Jalan yang dimaksud di sini adalah jalan yang ditempuh oleh para sufi untuk dapat dekat dengan Allah SWT. Menurut Prof. Dr. H. Abudin Nata dalam bukunya, ia menjelaskan bahwa yang dimaksud tarekat adalah jalan yang bersifat spiritual bagi seorang sufi yang didalamnya berisi amalan ibadah dan lainnya yang bertemakan menyebut nama Allah dan sifat-sifat-Nya disertai penghayatan yang mendalam. Amalan dalam tarekat ini ditujukan untuk memperoleh hubungan sedekat mungkin (secara rohaniah) dengan Allah SWT.25
Ahli sufi mengartikan tarekat sebagai sistem dalam rangka mengadakan latihan jiwa, membersihkan diri dari sifat-sifat tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji dan memperbanyak zikir
24 Ardha Al-Fathoni, “Pembacaan ayat-ayat al-Qur’an dalam tradisi Sadranan (Studi living Qur’an di Desa Cepego, Cepego, Boyolali), (Skripsi, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2016).
25 Nata, Akhlak Tasawuf , 270-271.
dengan penuh ikhlas semata-mata untuk mengharapkan bertemu dan bersatu dengan Allah SWT. Jalan dalam tarekat itu antara lain terus- menerus berada dalam zikir kepada Allah, dan terus menghindarkan dari berbagai hal yang membuat lupa kepada Allah SWT.26
Dalam perkembangan selanjutnya, Harun Nasution mengatakan bahwa tarekat adalah sebuah organisasi yang di dalamnya terdapat guru yang disebut mursyid atau syekh, murid, upacara ritual dan bentuk zikir tertentu.27 Guru atau mursyid dalam sistem tasawuf adalah asyraf al-Nȃs fi al-tharîqah, artinya orang yang paling tinggi martabatnya dalam suatu tarekat. Mursyid mengajarkan bagaimana cara mendekatkan diri kepada allah SWT sekaligus memberikan contoh bagaimana ibadah yang benar secara syariat dan hakikat. Selain itu, guru dalam tarekat tidak sekedar mengajarkan materi tasawuf saja, melainkan yang terpenting adalah melakukan talkin atau baiat28 yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain.29
Secara umum, orang yang mengikuti tarekat harus menjalankan syariat dan harus memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:
a. Mempelajari ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan syariat agama.
b. Mengamati dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengikuti jejak guru, melaksanakan perintahnya dan meninggalkan larangannya.
c. Tidak mencari-cari keringanan dalam beramal agar tercapai kesempurnaan yang hakiki.
26 Ibid., 270.
27 Ibid., 271.
28 Pengucapan sumpah setia kepada imam
29 Cecep Alba, Tasawuf dan Tarekat (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), 173.
d. Berbuat dan mengisi waktu seefesien mungkin dengan segala wirid dan doa guna pemantapan dan kekhusyukan dalam mencapai maqamat yang lebih tinggi
e. Mengekang hawa nafsu agar terhindar dari yang dapat menodai amal.30 Tarekat terbagi menjadi dua yaitu tarekat Mu’tabarah dan ghair Mu’tabarah. Tarekat Mu’tabarah adalah tarekat yang benar, setiap tarekat dianggap benar apabila terpenuhi 6 syarat. Sedangkan tarekat Ghair Mu’tabarah adalah tarekat yang menyimpang, yakni tidak memenuhi 6 kriteria. Adapun 6 kriteria tersebut adalah sebagi berikut:
1) Substansi ajarannya tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan al- Sunnah, maksudnya sumber utama ajaran tarekat adalah al-Qur’an al- Sunnah.
2) Tidak meninggalkan syariat.
3) Silsilahnya ittisal yaitu sampai dan bersambung kepada Rasulullah SAW.
4) Ada mursyid yang membimbing para murid.
5) Ada murid yang mengamalkan ajarannya.
6) Kebenaran ajarannya bersifat universal.31
Tarekat-tarekat yang berkembang di Indonesia antara lain adalah Qadiriyyah yang didirikan oleh Syekh Abd al-Qadir al-Jailani (w.1166), Naqsyabandiyyah yang didirikan oleh Syekh Bahȃ al-Din Naqsyabandi
30 Nata, Akhlak Tasawuf , 272.
31 Alba, Tasawuf dan Tarekat, 27.
(w.11389), Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah yang didirikan oleh ulama Indonesia yaitu ahmad Khatib Sambas (Kalimantan Barat), Satariyyah yang didirikan oleh Abdullah al-Syaththȃr (w.1428-1429), Tijaniyyah didirikan oleh Syekh Ahmad bin Muhammad al-Tijani Rifa’iyah didirikan oleh Ahmad Ibn al-Rifa’i (w. 1182) dan diantaranya adalah tarekat Syadziliyyah yang didirikan oleh Syekh Abu al-Hasan al-Syadzili.32
2. Zikir
a. Pengertian zikir
Kata zikir berasal dari bahasa arab yaitu dzakara-yadzkuru- dzikrun-wa dzukrun artinya adalah menyebut, mengingat. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia, zikir diartikan sebagai pujian kepada Allah yang diusun dan diucapkan secara runtut dan berulang- ulang; doa atau puji-pujian yang berlagu (dilakukan pada perayaan maulid Nabi)33, sedangkan secara istilah adalah usaha untuk mengingat Allah SWT, yang dilakukan baik dengan ucapan lisan (menyebut, mengucapkan) maupun hanya dilakukan dalam hati.
Zikir menurut Ibn Athaillah al-Sakandari adalah membebaskan diri dari sikap lalai dan lupa dengan menghadirkan hati secara terus- menerus bersama Allah. Sebagian kalangan mengatakan bahwa zikir adalah menyebut secara berulang-ulang dengan hati dan lisan nama
32 Nata, Akhlak Tasawuf , 273.
33 KBBI v1.1
Allah, salah satu sifat-Nya, salah satu hukum-Nya, atau lainnya yang dengannya seseorang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.34
Zikir tebagi menjadi dua, zikir orang awam dan orang khawwas. Zikir orang awam adalah zikir untuk memperoleh ganjaran dan pahala. Yaitu, seorang hamba berdizikir kepada Allah dengan zikir yang dia kehendaki, sementara dia tetap berakhlak dengan akhlak tercela, seperti pamer, ujub, sombong, dengki dan sifat lainnya.35
Adapun zikir orang khawwas adalah zikir yang disertai kehadiran hati yaitu seorang hamba berzikir kepada Allah dengan zikir-zikir khusus dan dengan cara-cara yang khusus pula untuk memperoleh makrifat kepada Allah, disertai penyucian dirinya dari akhlak-akhlak tercela dan menghiasinya dengan semua budi pekerti yang luhur. Dengan itu, dia berharap keluar dari kegelapan raga dan mengetahui rahasia-rahasia rohani.36
b. Macam-macam zikir
1) Zikir sirr (Diam-diam) dan Jahr (Bersuara)
Zikir kepada Allah disyariatkan baik secara diam-diam maupun dengan bersuara. zikir sirr yaitu zikir yang dibaca secara diam-diam, tidak dilafalkan dengan suara keras, tujuannya adalah supaya bisa lebih khusyuk ketika berzikir. Sedangkan zikir jahr adalah zikir yang dilafalkan dengan suara keras, tujuannya adalah karena amalnya lebih banyak dan manfaatnya akan menular kepada
34 Abdul Qadir Isa, Hakekat Tasawuf, (Jakarta: Qisthi Press, 2014), cet .14, 95.
35 Ibid., 153.
36 Ibid., 153.
orang-orang yang mendengarnya, sehingga dapat membangkitkan hati yang sedang lalai.37
2) Zikir lisan dan zikir hati
Fakhr al-Din al-Razi berkata, yang dimaksud dengan berzikir dengan lisan adalah ucapan-ucapan yang terdiri dari tasbih, tahmid dan tamjid, yakni mensucikan, memuji dan mengagungkan Allah SWT. Adapun yang dimaksud berzikir dalam hati adalah bertafakkur tentang kekuasaan dan sifat Allah , perintah dan larangan-Nya, dan memikirkan tentang rahasia ciptaan Allah SWT.38
3) Zikir sendiri dan zikir berjemaah
Ibadah yang dilakukan secara berjemaah memiliki nilai kekuatan, yaitu dapat mempertemukan banyak hati, mewujudkan sikap saling tolong menolong dan memungkinkan terjadinya tanya jawab, sehingga yang lemah mendapat bantuan dari yang kuat, yang berada dalam kegelapan mendapat bantuan dari yang tersinari, yang kasar mendapat bantuan dari yang lembut, dan yang bodoh mendapat bantuan dari yang pintar.39
Adapun zikir sendirian memiliki pengaruh yang sangat efektif dalam menjernihkan hati dan membangkitkannya, serta membiasakan seorang mukmin untuk senang kepada Tuhannya, menikmati munajat kepada-Nya dan merasakan kedekatan dengan-
37 Ibid., 105.
38 Supriyanto Abdullah, Dzikir dan Do’a Makbul, (Yogyakarta : Cahaya Hikmah, 2004), 15.
39 Isa, Hakekat Tasawuf, 107.
Nya. Seorang mukmin harus memiliki waktu khusus untuk berzikir kepada Allah secara menyendiri setelah melakukan muhasabah (evaluasi) terhadap dirinya, sehingga dia dapat mengetahui segala aib dan kesalahannya.40
c. Faedah dan Keutamaan Zikir
Berzikir adalah ibadah seperti halnya ibadah-ibadah lain yang mengandung banyak faedah dan keutamaan bagi siapa saja yang mengerjakannya. Diantaranya firman Allah yang menjelaskan tentang faedah dan keutamaan zikir adalah sebagai berikut:
Artinya “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah SWT. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram” (Q.S al- Ra’d : 28)41
Artinya “Berzikirlah kamu sebagaimana yang diterangkan, mudah- mudahan kamu termasuk orang-orang yang bertakwa” (al- Baqarah : 63) 42
Selain disebutkan dalam al-Qur’an, banyak hadits-hadits yang menjelaskan tentang faedah dan keutamaan zikir, di antaranya adalah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda :
40 Ibid., 109.
41 Kemenag RI, Syaamil Qur’an, 252.
42 Ibid., 10.
Artinya “Tidak satu kaum pun yang berzikir kepada Allah melainkan para malaikat akan mengitari mereka, rahmat akan melingkupi mereka, kedamaian akan turun kepada mereka dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya” (H.R Muslim dan Tirmidzi)
Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda, Allah berfirman :
Artinya “ Barangsiapa disibukkan oleh al-Qur’an dan zikir dari meminta kepada-Ku, maka Aku memberikannya sesuatu yang paling utama diantara apa-apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta kepada-Ku.” (H.R Tirmidzi dan Baihaqi)
Setelah disebutkan beberapa dalil yang menjelaskan tentang faedah berzikir maka dapat disimpulkan bahwa orang yang selalu berzikir kepada Allah adalah termasuk orang yang bertakwa, mereka akan dikelilingi oleh malaikat, di beri rahmat oleh Allah, merasakan kedamaian, ketenangan dan akan dikabulkan permintaannya.
Menurut Ibn al-Qayyim al-Jauzi faedah atau manfaat zikir lebih dari seratus, di antaranya adalah :
1. Zikir dapat mengusir, mengekang dan meremukkan setan.
2. Zikir dapat mendatangkan rida Allah SWT.
3. Zikir dapat menghilangkan rasa sedih dan gelisah dari hati.
4. Zikir dapat mendatangkan kebahagiaan hati.
5. Zikir dapat menguatkan hati dan badan.
6. Zikir dapat menyinari wajah dan hati.
7. Zikir dapat mendatangkan rezeki.
43 Isa, Hakekat Tasawuf, 141.
44 Ibid., 142.
8. Zikir dapat memberikan wibawa, ketenangan dan keceriaan kepada yang berzikir.
9. Zikir dapat mendatangkan mahabbah (cinta) yang merupakan ruh Islam, serta sumber kebahagiaan dan kesalamatan.
10. Zikir dapat mendatangkan muraqabah (perasaan selalu dalam pengawasan Allah SWT), sehingga seseorang dapat masuk ke dalam pintu ihsan.45
11. Zikir dapat mendatangkan inabah yaitu kembali kepada Allah SWT.
Barang siapa banyak kembali kepada-Nya dengan zikir, maka hatinya akan selalu kembali kepada-Nya disetiap saat.
12. Zikir dapat mendatangkan kedekatan dengan Allah SWT.
13. Zikir dapat membuka pintu keagungan dari pintu-pintu ma’rifat.
Semakin banyak seseorang berzikir, maka ma’rifatnya akan semakin bertambah.
14. Zikir dapat membuat orang yang berzikir merasakan wibawa dan keagungan Tuhannya. Hal itu disebabkan karena kuatnya Allah menguasai hatinya dan kehadiran bersama Allah SWT.
15. Allah akan mengingat orang-orang yang senantiasa berzikir kepada- Nya, sebagaimana firman Allah dalam Q.S al-Baqarah: 152,
ِنوُرُفْكَت َلاَو يِل ْاوُرُكْشاَو ْمُكْرُكْذَأ يِنوُرُكْذاَف –
١٥٢ -
16. Zikir dapat menghidupkan hati, Ibn Taimiyyah berkata “zikir bagi hati adalah ibarat air bagi ikan. Bagaimana keadaan ikan jika dia dikelarkan dari air?”
17. Zikir dapat membersihkan hati dari kelalaian dan nafsu 18. Zikir dapat menghapus segala kesalahan atau dosa
19. Zikir dapat menghilangkan rasa asing antara hamba dan Tuhannya.
Karena sesungguhnya antara orang lalai dengan allah terdapat keterasingan yang tidak bisa hilang kecuali dengan zikir.
20. Zikir dapat menyelamatkan dari azab Allah SWT
21. Zikir dapat mendatangkan ketenangan, mendatangkan kasih sayang dan naungan malaikat.
22. Zikir dapat menyebabkan terhindarnya lisan dari gibah, adu domba, berbohong dan segala sesuatu yang batil.
23. Sesungguhnya majelis zikir adalah majelisnya malaikat, sedangkan majelis kelalaian adalah majelisnya setan.
24. Zikir akan mendatangkan kebahagiaan bagi orang yang melakukannya dan yang mengikuti majelisnya.
25. Orang yang sibuk berzikir akan mendapatkan karunia Allah SWT yang paling utama yang dianugerahkan kepada orang-orang yang memohon kepada-Nya.46
45 Ihsan adalah, seseorang menyembah Allah seakan-akan dia melihat-Nya, jika tidak bisa melihatn-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatnya. (Imam Nawawi, Hadits Arba’in Nawawiyah (Pustaka Nuun, 2016), 5.)
46 Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, al-Wabil al-Shayyib wa Rafi’ al-Kalim al-Thoyyib (Jeddah: Dar Ilm al-Fawaid), 94-100
3. Teori sosiologi pengetahuan Karl Mannheim
Dalam penelitian ini, teori yang digunakan adalah teori sosiologi pengetahuan yang ditawarkan oleh Karl Mannheim, yang disebut sebagai pencetus sosiologi pengetahuan, yang merupakan cabang termuda dari sosiologi. Sebagai teori, cabang ini berusaha menganalisis kaitan antara pengetahuan dan kehidupan.47
Teori sosiologi pengetahuan yang ditawarkan oleh Karl Mannheim membahas secara rinci perilaku (behavior) dan makna (meaning). Interpretasi makna dapat dilakukan pada tiga level makna yang berbeda yaitu objektif, ekspresive dan dokumenter.48
a. Makna objektif yaitu mengidentifikasi secara jelas suatu tindakan di dalam suatu konteks lokasi sosialnya (latar belakang). Dengan makna ini maka peneliti akan mencari latar belakang atau hal-hal yang mempengaruhi masyarakat dalam pemaknaan terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang dijadikan sebagai bacaan zikir sehingga dapat ditemukan makna dasar atau makna asli terhadap ayat-ayat al-Qur’an tersebut yang kemudian diakui sebagai nilai bersama.
b. Makna ekpresif adalah makna yang ditunjukkan oleh actor (pelaku tindakan) / (makna personal). Dengan makna ini akan ditemukan pemaknaan masyarakat secara personal terhadap pelaksanaan zikir tersebut. Dalam penelitian ini beberapa makna diambil dari ketua tarekat
47 Karl Mannheim, Ideologi dan Utopia : Menyingkap Kaitan Pikiran dan Politik terj. F. Budi Hardiman (Yogyakarta : Kanisius, 2002), cet. VII, 287
48 Andy Darmawan, “Dialektika Teori Kritis Mazhab Frankrut dan Sosiologi Pengetahuan”, Jurnal sosiologi Reflektif Laboratorium Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, VII, no. 2, April 2013, 256.
Syadziliyyah dan beberapa masyarakat yang mengikuti tarekat Syadziliyyaah di desa sumberejo Ambulu Jember.
c. Makna dokumenter yaitu makna yang tersirat atau tersembunyi, sehingga pelaku suatu tindakan tidak sepenuhnya menyadari bahwa suatu aspek yang diekspresikan menunjuk pada kebudayaan secara menyuluruh.
Dengan menggunakan teori Karl Mannheim ini, peneliti akan menganalisis makna dari pembacaan ayat-ayat al-Qur’an dalam zikir yang dibaca oleh jemaah tarekat Syadziliyyah di desa Sumberejo Ambulu Jember.
BAB III
GAMBARAN UMUM DESA SUMBEREJO DAN TAREKAT SYADZILIYYAH
A. Gambaran Umum Desa Sumberejo 1. Sejarah Desa
Pada tahun 1900 telah datang seorang laki-laki bernama R. Bahro berasal dari daerah kabupaten Purworejo (Jawa Tengah), membuka tanah yang masih hutan belukar. Setelah didiami oleh beberapa penduduk, maka terbentuklah sebuah desa yang bernama Gemuling.
Adapun nama Gemuling tersebut diambil dari nama sebuah sumur kuno yang terletak di tepi sungai, dimana posisi dari sumur tersebut dalam keadaan miring (bahasa jawa : ngguling). Pada tahun 1901, dilaksanakan pemilihan kepala desa. Sebagai kepala desa terpilih pada saat itu bernama Idris berasal dari wilayah kabupaten Kutoarjo (Jawa Tengah).
Selanjutnya untuk mempermudah dan memeperlancar pengaturan pemerintahan desa yang diperkuat dengan hasil kesepakatan bersama antara kepala desa Gemuling dengan kepala desa Sabrang (R. Sutowijoyo), pada klangsiran tanah yang pertama tahun 1923 dusun Babagan Nongko yang semula termasuk desa Gemuling, diminta oleh kepala desa Sabrang, sehingga sebelah Utara desa Sumberejo dibatasi oleh desa Sabrang, sebelah Timur dibatasi oleh hutan Sabrang, sebelah Selatan dibatasi oleh samudra Indonesia dan sebelah Barat dibatasi oleh hutan Grintingan.
dikarenakan semakin banyaknya penduduk pada desa ini, maka dirasa penting untuk meningkatkan peranan pemerintahan desa, maka
dengan persetujuan masyarakat pada tahun 1923 desa Gemuling diganti dengan nama desa Sumberejo. Untuk lebih meningkatkan kelancaran pelayanan terhadap masyarakat, desa Sumberejo dibagi menjadi 6 dusun diantaranya adalah dusun Krajan Lor, dusun Krajan Kidul, dusun Bregoh, dusun Watu Ulo, dusun Curahrejo dan dusun Sidomulyo.
2. Aspek Geografis
Sumberejo merupakan salah satu desa yang terletak di wilayah administrasi kecamatan Ambulu Kabupaten Jember, dengan luas wilayah 18.709.530 km² atau 1.870.953 ha. Sebelah Utara berbatasan dengan desa Sabrang, sebelah Selatan berbatasan dengan samudra Indonesia, sebelah Timur berbatasan dengan sungai Mayang dan sebelah Barat berbatasan dengan desa Lojejer.
Gambar 1.1. Peta desa Sumberejo49
3. Aspek Demografi
Jumlah penduduk desa Sumberejo pada tahun 2017 ini tercatat sebanyak 26.912 jiwa yang tersebar di 6 dusun, 46 RW dan 135 RT, dari jumlah tersebut terdiri dari laki-laki 13.818 jiwa dan perempuan 13.094 jiwa.
49 Hasil dokumentasi dari kantor desa Sumberejo
B. Gambaran Umum Tarekat Syadziliyyah 1. Tarekat Syadziliyyah
Tarekat Syadziliyyah adalah tarekat yang didirikan oleh Syekh Abu al-Hasan al-Syadzili.50 Beberapa periode kemudian muncul Ibn Atha‟illah al-Sakandari orang yang pertama menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa dan biografinya sehingga khazanah tarekat Syadziliyyah tetap terpelihara. Ibn Athailah juga orang yang pertama kali menyusun karya paripurna tentang aturan-aturan tarekat tersebut, asas-asanya, prinsip-prinsipnya, bagi angkatan-angkatan setelahnya. Melalui karya Ibn Atha‟illah, tarekat ini mulai tersebar sampai ke Maghrib, sebuah negara yang pernah menolak sang guru (Abu al-Hasan al-Syadzili). Sebagian ajaran tarekat ini dipengaruhi oleh al-Ghazali dan al-Makki. Salah satu perkataan al-Syadzili kepada murid-muridnya adalah:
“Seandainya kalian mengajukan suatu permohonan kepada Allah, maka sampaikanlah lewat Abu Hamid al-Ghazali”.
“Kitab ihya’ ulum al-Din, karya al-Ghazali mewarisi anda ilmu.
Sementara Qut al-Qulub karya al-Makki mewarisi anda cahaya” 51 Tarekat Syadziliyyah mempunyai pengaruh yang besar di dunia Islam. Sekarang tarekat ini terdapat di Afrika Utara, Mesir, Kenya, Tanzania Tengah, Sri langka , Indonesia dan beberapa tempat lainnya termasuk di Amerika Barat dan Amerika Utara. Adapun tokoh-tokoh
50 Lahir di Maroko pada tahun 593 H, di desa Ghimaroh yang terletak didekat kota Sabtah (sekarang kota Thonjah). Beliau tianggal di desa syadzilah. Oleh karena itu, namanya dinisbatkan kepada desa tersebut walaupun bukan berasal dari desa itu. Beliau wafat pada tahun 656 H.
jenazahnya disemayamkan di padang Idzab kawasan jurang Humaistara provinsi Bahr al-Ahmr (laut merah). (Abu Muqaffa Hasani, Mengenal Thariqah Syadziliyah (Kediri : Mitra Gayatri, t.t.), 4).
51 Abu Muqaffa Hasani, Mengenal Thariqah Syadziliyah (Kediri : Mitra Gayatri, t.t.), 4).
Indonesia yang mengikuti tarekat ini diantaranya adalah, Mbah Kyai Dalhar Watucongol-Magelang, Abuya Dimyathi Pandeglang-Banten, Kyai Mustaqim Tulungagung-Jawa Timur, Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan-Jawa Tengah.52
Wejangan dasar dalam tarekat Syadziliyyah yaitu pemahaman tauhid dengan sebenar-benarnya, tidak musyrik kepada Allah SWT, yang meliputi:
a. Ketakwaan kepada Allah SWT lahir dan batin, diwujudkan dengan jalan bersikap wara’ dan istiqȃmah dalam menjalankan perintah Allah SWT.
b. Konsisten mengikuti sunah Rasul, baik dalam ucapan maupun perbuatan, yang diwujudkan dengan selalu bersikap waspada dan bertingkah laku luhur.
c. Berpaling (hatinya) dari makhluk, baik dalam penerimaan maupun penolakan, dengan berlaku sadar dan berserah diri kepada Allah SWT (tawakal)
d. Rida kepada Allah, baik dalam kecukupan maupun kekurangan, yang diwujudkan dengan menerima apa adanya (qana’ah/tidak rakus) dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.
52 Ibid.,
e. Kembali kepada Allah, baik dalam keadaan senang maupun susah, yang diwujudkan dengan jalan bersyukur dalam keadaan senang dan berlindung kepada-Nya dalam keadaan susah.53
Kelima sendi tersebut juga di atas lima sendi berikutnya : a. Semangat yang tinggi, yang mengangkat seorang hamba kepada
derajat yang tinggi
b. Berhati-hati dengan yang haram, yang membuatnya dapat meraih penjagaan Allah atas kehormatannya
c. Berlaku benar/baik dalam berkhidmah sebagai hamba, yang memastikannya kepada pencapaian tujuan kebesaran- Nya/kemulianNya.
d. Melaksanakan tugas dan kewajiban yang menyampaikannya kepada kebahagiaan hidupnya.
e. Menghargai (menjungjung tinggi) nikmat, yang membuatnya selalu meraih tambahan nikmat yang lebih besar.54
Ciri khas dari tarekat Syadziliyyah adalah para jemaah tarekat ini berkeyakinan bahwa seorang syadzili (jemaah Syadziliyyah) pasti telah ditakdirkan menjadi jemaah tarekat ini sejak di alam azali dan mereka percaya bahwa Wali Qutb55 akan senantiasa muncul menjadi jemaah tarekat ini.56
53 Ibid., 10
54 Ibid., 10-11
55 Imamnya para wali
56 Ibid., 8
Pandangan masyarakat terhadap tarekat adalah bahwa tarekat memiliki kecenderungan yang berlebihan terhadap aspek spiritual semata dengan mengabaikan peranan social, perbaikan masyarakat. Selain itu, masyarakat memandang bahwa jemaah tarekat lebih konsentrasi pada amalan zikir dan wirid di malam hari, siang hari dan dalam suasana kesepian.57
Hal seperti itu, tidak terlihat pada tarekat Syadziliyyah, karena jemaah tarekat Syadziliyyah tidak hanya disibukkan dengan urusan akhirat, akan tetapi mereka juga tidak diperbolehkan meninggalkan dunia seluruhnya. Mereka tetap diharuskan bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Oleh karena itu, tarekat ini tidak hanya diminati oleh golongan tertentu, kan tetapi banyak diminati juga oleh setiap kalangan baik kalangan bawah, menengah atau atas.
Adapun pemikiran-pemikiran tarekat Syadziliyyah di antaranya sebagai berikut :
1) Tidak menganjurkan kepad murid-muridnya untuk meninggalkan dunia, karena jika meninggalkan dunia yang berlebihan maka akan menimbulkan hilangnya rasa syukur. Pandangannya tentang makanan, pakaian dan kendaraan yang layak dalam kehidupan yang sederhana akan menumbuhkan rasa syukur kepada Allah SWT.
2) Tidak mengabaikan dalam menjalankan syariat Islam, yakni tasawuf yang berlandaskan kepada al-Qur‟an, al-Sunnah, mengarah pada
57 Jamil, Akhlak Tasawuf, (Ciputat: Referensi, 2013), 147
asketisisme,58 pelusuran dan penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs), pembinaan moral (akhlak), dan suatu tasawuf yang dinilai cukup moderat59.
3) Zuhud tidak harus menjauhi dunia karena pada dasarnya zuhud adalah mengosongkan hati dari selain Allah SWT. Dunia yang dibenci oleh para sufi adalah dunia yang melengahkan dan memperbudak manusia sehingga melalaikan untuk dekat dengan Allah SWT.
4) Tidak ada larangan bagi jemaah Syadziliyyah untuk menjadi miliuner yang kaya raya, asalkan hatinya tidak bergantung pada kekayaannya.
Selain itu, jemaah juga diperbolehkan untuk tetap menjaga martabatnya dengan tidak selalu memakai baju lusuh yang tidak berharga. Dengan konsep ini, maka banyak dari kalangan usahawan- usahawan yang tertarik dengan tarekat ini.
5) Al-Syadzili menawarkan tasawuf yang positif dan ideal dalam arti disamping berupaya mencari „langit‟, juga harus beraktivitas dalam realitas sosial di „bumi‟ ini.
6) Tasawuf memiliki empat aspek, yakni berakhlak dengan akhlak Allah SWT, senantiasa melakukan perintah-perintah-Nya, dapat menguasai hawa nafsu serta berupaya selalu bersama dan berkekalan dengan-Nya secara sungguh sungguh.
58 Asketisme adalah paham yang mempraktikkan kesederhanaan, kejujuran dan kerelaan berkorban. (KBBI v1.1).
59 Moderat adalah selalu menhindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem, berkecenderungan kearah dimensi atau jalan tengah (KBBI v1.1)
7) Menurut al-Syadzili, makrifat adalah tujuan ahli tarekat atau tasawuf yang dapat diperoleh dengan dua jalan. Pertama adalah mawȃhib atau
„ain al-jûd (sumber kemurahan Tuhan) yaitu Tuhan memberikannya dengan tanpa usaha dan Allah memilih sendiri orang-orang yang akan diberikan anugerah tersebut. Kedua, adalah makȃsib atau badzi al- majhud yaitu makrifah akan dapat diperoleh melalui usaha keras, melaalui riyȃdlah, mulazamah al-dzikr, mulazamah al-wudhu’, puasa, shalat sunah dan amal saleh lainnya. 60
Imam Abu al-Hasan al-Syadzili pernah berkata kepada murid- muridnya bahwa beliau pernah diperlihatlkan oleh Allah catatan para murid yang hendak menjalani tarekat Syadziliyyah, bahwa mereka akan dibebaskan dari neraka.
“saya pernah diperlihatkan oleh Allah SWT catatan para murid yang hendak menjalani tarekat saya, luasnya catatan itu sejauh mata memandang dari murid yang pernah bertemu dengan saya sampai murid yang paling akhir. Mereka semua dibebaskan dari neraka.61
Imam al-Syadzili juga berkata murid Syadziliyyah itu diberi kelebihan oleh Allah 3 perkara:
60 Sri Mulyati, et.al, Mengenal dan Memahami Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia (Jakarta: Kencana, 2006), 73-75
61 Muhammad Mustaqim Husain. Durrah al-Salikin (Tulungagung : Pondok PETA, 2002), 4.
a) Orang Syadziliyyah itu sudah dipilih.
b) Orang Syadziliyyah itu manakala sampai majdub62 bisa cepat kembali normal seperti biasa.
c) Semua wali yang hidup sesudah zaman nya mayoritas mengamalkan tarekat Syadziliyyah. 63
Tarekat Syadziliyyah sama halnya dengan tarekat lainnya, tarekat ini mempunyai upacara keagamaan yang harus dilakukan oleh para jemaahnya berupa baiat, ijazah64, khirqah65, silisilah, amalan-amalan tarekat seperti dzikir, pembacaan hizb-hizb (Doa khusus yang diciptakan oleh Syekh Abu al-Hasan al-Syadzili), semisal hizb al-Nasr, hizb al-Barr, hizb al-Bahr, hizb Biladiyah, Hizb Hujub dan sebagainya.
Dari unsur-unsur tersebut, yang sangat penting bagi sebuah tarekat adalah silsilah. Silsilah itu bagaikan kartu nama dan pengesahan sebuah tarekat yang akan menjadi tolok ukur sebuah tarekat itu Mu’tabarah (dianggap sah) atau tidak. Silsilah tarekat adalah nisbah atau hubungan guru terdahulu sambung-menyambung antara satu sama lain sampai kepada Nabi. Hal ini harus ada sebab bimbingan keruhanian yang diambil dari guru-guru harus benar-benar berasal dari Nabi. Jika tidak, maka tarekat itu terputus dan palsu bukan warisan Nabi.66
Adapun sanad dan Silsilah Tarekat Syadziliyyah :
62 Kondisi psikologi seseorang ketika dia mencapai suatu keadaan rohani tertentu sampai dia kehilangan akalnya
63 Mustaqim, Durrah, 4.
64 Izin dari guru untuk mengamalkan sebuah wirid
65 Pemberian cendramata sebagai bentuk pensanadan dan pengizajahan (http : // sufiroad.
ksblogspot.co.id/2013/01/khirqah.html?m=1.
66 Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-tarekat Mukta