PERBANDINGAN TAFSIR AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG SIHIR DALAM TAFSIR AL-QURTUBI DAN AL-ALUSI
SKRIPSI
Disusun Oleh:
M. Fahrial Ansyori NIM: U20151066
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN HUMANIORA
JUNI 2022
PERBANDINGAN TAFSIR AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG SIHIR DALAM TAFSIR AL-QURTUBI DAN AL-ALUSI
SKRIPSI
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar
Sarjana Agama (S.Ag)
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Disusun Oleh:
M. Fahrial Ansyori NIM: U20151066
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN HUMANIORA
JUNI 2022
iv MOTTO
َلَ َو ۚ ًةَمْح َر ْمُكِب َدا َرَأ ْوَأ اًءوُس ْمُكِب َدا َرَأ ْنِإ ِ َّاللَّ َنِم ْمُكُم ِصْعَي يِذَّلا اَذ ْنَم ْلُق ا ًري ِصَن َلَ َو اًّيِل َو ِ َّاللَّ ِنوُد ْنِم ْمُهَل َنوُد ِجَي
“Katakanlah: "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?"
Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Ahzab: 17)
1
1 Al-Qur’an Cordoba Terjemahan dan Tajwid Berwarna, (Bandung: Cordoba Press, 2018), hal. 421.
KATA PERSEMBAHAN
Berhiaskan rasa syukur kepada Allah atas segala karunia-Nya, Ananda persembahkan karya ini untuk orang yang sangat Ananda ta’dzimi dan ta’ati yaitu:
Ayahanda Diarsah dan Ibunda Sarimih
Berserta Mertua saya Abah Ainul Hayat dan Ummah Tri Erminiwati
Do’a dan kasih sayang kalian adalah lentera dalam setiap perjuangan Ananda.
Tanpamu Ananda tidaklah akan ada di dunia ini.
Semoga Ayahanda dan Ibunda selalu ada dalam lindungan Allah SWT.
For My Lovely
Istriku Hafiyya Izdihaar El Fauzy dan anakku AlQummas Aydan Al-Fachry yang selalu memberi motivasi dan ikhlas menemaniku dikala suka maupun duka, memapahku di kala aku
terjatuh dalam keputusasaan sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar.
For All My Teacher
Asatidz yang ada di Yayasan Ibnu Katsir Jember yaitu Pondok Pesantren Al-Quran Ibnu Katsir Jember. Terkhusus kepada jajaran Founding Father Ibnu Katsir, Ust. Abu Hasanuddin, Ust. Khoirul Hadi, Ust. Neman Agustono, Ust. Syukri Nur Salim, Ust. Didik
Hariadi, Ust. Agus Rahmawan dan jajaran Asatidz yang lainnya. Beliau semualah yang membekali ananda dengan ilmu dan doa. Semoga kebaikan, kemuliaan selalu membersamai
beliau semua baik di dunia maupun di akhirat.
For My Friends
Segenap teman-teman seperjuangan, yaitu angkatan V IBKA Jember dan kelas IAT 2 tahun 2015 yang telah mengajari makna perjuangan secara bersama-sama dan dipenuhi dengan suka cita. Dan sebagai sarana saya dalam mengaktualisasi diri hingga bisa membuat keluarga
baru sehingga Ananda tidak hanya mengerti ilmu, namun pertemanan.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan banyak nikmat, karunia ilmu dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada nabi kita Muhammad SAW.
Juga tidak lupa kepada para keluarganya, para sahabatnya, serta para pengikutnya yang tetap setia sampai akhir zaman.
Segenap upaya semaksimal mungkin, penulis berusaha menyajikan yang terbaik, sehingga terwujud penyusunan skripsi ini dengan judul “Perbandingan Tafsir Ayat-Ayat Al- Qur’an Tentang Sihir dalam Tafsir Al-Qurtubi dan Al-Alusi.” Penulis menyadari bahwa penyelesaian skripsi ini tidak lepas dari peran dan dukungan serta bimbingan dan arahan dari segenap pihak terkait. Oleh karena itu, penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto, S.E., M.M., selaku Rektor Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember
2. Bapak Prof. Dr. Khusna Amal, S. Ag, M. Si, sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember 3. Bapak Dr. Uun Yusufa, M.A, sebagai ketua Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, sekaligus beliau sebagai dosen pembimbing skripsi yang senantiasa memberikan arahan dan bimbingan dalam menyelesaikan skripsi ini
4. Seluruh Civitas Academika dari jajaran direksi, karyawan, staff, dan seluruh dosen- dosen yang ada di lingkungan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang telah turut mendidik penulis di meja perkuliahan, khususnya segenap dosen penguji yang bersedia meluangkan waktunya untuk meluangkan waktu dan pikirannya menguji skripsi ini
5. Seluruh teman-teman jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IAT) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang banyak membantu selama kuliah dari awal sampai akhir masa pendidikan
6. Semua pihak yang telah berpartisipasi membantu penulis baik dalam hal moral, tenaga, maupun spiritual, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Keterbatasan kemampuan yang dimiliki penulis dalam menyusun dalam menyusun laporan penelitian ini tentu ada, sehingga penulis mohon saran dan kritik yang dapat membantu penulis untuk memenuhi kekurangan dalam pelaksanaan penelitian. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat secara pribadi dan bagi khalayak umum. Amiin.
Jember, 29 Juni 2022
Penulis.
ABSTRAK
Ansyori, M Fahrial. 2022. Perbandingan Tafsir Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Sihir Dalam Tafsir Al-Qurtubi dan Al-Alusi. Skripsi, Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.
Meninjau dari kasus yang pernah terjadi mengenai peraktik sihir atau ilmu hitam, nampaknya perlu diadakan penelitian lebih jauh mengenai hakikat sihir. Kajian berkenaan dengan sihir dalam perspektif tafsir Al-Qur’an akan sangat membantu memberikan pengetahuan, pemahaman bahkan menjadi petunjuk bagi seorang muslim karena kedudukannya sebagai sumber utama dalam Islam, mengingat keberadaan praktek sihir masih eksis di zaman kontemporer seperti sekarang ini.
Fokus pembahasan dalam penelitian ini yaitu: (1) Bagaimana penafsiran Al- Qurthubi tentang ayat-ayat sihir dalam Kitab Tafsir Al-Qurtubi, (2) Bagaimana penafsiran Al-Alusi tentang ayat-ayat sihir dalam Kitab Tafsir Ruh Al-Ma'ani, dan (3) Bagaimana perbandingan tafsir ayat-ayat Al-Qur’an tentang sihir menurut Al-Qurtubi dan Al-Alusi dalam masing-masing kitabnya tersebut.
Pendekatan penelitian yang digunakan peneliti adalah kualitatif berjenis kepustakaan. Sumber data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) Kitab Tafsir Al-Jami' liahkam al-Qur'an wa al-Mubayyin Lima Tadhammanahu Min as- Sunnah wa Ayi al-Furqan karya Al-Qurthubi, (2) Kitab Tafsir Ruhul Ma’ani karya Mahmud Al-Alusi. Adapun proses analisis datanya menggunakan jenis teknik analisis data deskriptif dan menggabungkannya dengan teknik komparatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Makna dan hakikat sihir menurut Al- Qurtubi adalah sesuatu yang nyata berupa usaha seseorang untuk menipu pandangan orang lain agar ia melihat sesuatu yang berbeda dengan aslinya. Sihir dapat menciptakan keajaiban, namun hakikat sumber keajaiban tersebut diciptakan oleh Allah SWT ketika adanya sihir tersebut. Strategi dalam melakukan sihir adalah dengan cara ikatan dan tiupan melalui media seludang mayang kurma, jarum dan gerigi sisir.
Adapun hukum melakukan praktek sihir yaitu: jika si penyihir mengucapkan kalimat yang membuat ia kufur, maka ia dikatakan kafir sehingga ia wajib untuk dibunuh jika tidak bertaubat. Akan tetapi jika ucapan itu bukan ucapan yang membuatnya kafur, maka ia telah melakukan dosa besar, sehingga ia tidak boleh dibunuh. (2) Makna dan hakikat sihir menurut Al-Alusi adalah sesuatu yang nyata dan aneh (di luar kebiasaan) yang didapat melalui pembelajaran dan untuk melakukannya membutuhkan bantuan setan dengan melakukan perbuatan buruk. Sihir dapat menciptakan keajaiban, namun pelaku yang menyebabkan sesuatu yang aneh tersebut adalah Allah SWT. Strategi melakukan sihir adalah dengan cara ikatan (buhul) dan tiupan melalui media patung tiruan dan jarum. Adapun hukum melakukan sihir adalah langsung dihukumi telah menjadi kafir dan taubatnya tidak diterima sehingga orang tersebut wajib dibunuh, jika sang pelaku diketahui bahwa ia benar-benar melakukan sihir. (3) Adapun titik persamaan dan perbedaan antara Al-Qurtubi dengan Al-Alusi ketika keduanya mengemukakan konsep sihir, yaitu: Persamaan dalam hal hakikat sihir, sumber keajaiban sihir, dan strategi sihir melalui ikatan tali (buhul) yang dijahit dengan media jarum, kemudian ditiupkanlah sihir pada ikatan tersebut. Sedangkan perbedaannya adalah dalam makna sihir, pembuktian hakikat sihir, media yang digunakan dalam strategi melakukan sihir, dan hukum melakukan praktek sihir.
Kata kunci : Sihir, Ayat-Ayat Sihir, Tafsir Al-Qurtubi, Tafsir Al-Alusi.
x DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ………..…...………... i
LEMBAR PERSETUJUAN ………...…... ii
LEMBAR PENGESAHAN ………..………... iii
MOTTO ………...………... iv
KATA PERSEMBAHAN ………..………... v
KATA PENGANTAR ………...……... vi
PEDOMAN TRANSLITERASI ………... viii
ABSTRAK ………... ix
DAFTAR ISI ………... x
DAFTAR TABEL ………... xii
DAFTAR GAMBAR ………... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ………... xiv
BAB I: PENDAHULUAN ………... 1
A. Latar Belakang Penelitian ... 1
B. Fokus Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat Penelitian ... 5
E. Definisi Istilah ... 7
F. Metode Penelitian ... 7
G. Sistematika Pembahasan ... 12
BAB II: KAJIAN KEPUSTAKAAN ………... 14
A. Penelitian Terdahulu ... 14
B. Kajian Teori ... 17
BAB III: BIOGRAFI TOKOH DAN PENAFSIRAN AYAT TENTANG SIHIR ..…... 30
A. Al-Qurtubi ………... 30
B. Al-Alusi ………. 48
BAB IV: PEMBAHASAN ………. 60
A. Konsep Sihir Menurut Al-Qurtubi dan Al-Alusi ... 60
B. Titik Persamaan dan Perbedaan ... 67
xi
BAB V: PENUTUP ………... 72
A. Kesimpulan ... 72
B.Saran ... 73
DAFTAR PUSTAKA ……….... 74
DAFTAR LAMPIRAN ……….. 78
xii
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Perbedaan dan Persamaan Konsep Sihir Dalam Al-Qur’an ………70
xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Metode Sihir Telapak Tangan (Al-Kaff) ……….23
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Pernyataan Keaslian Tulisan ………...78 Lampiran 2. Riwayat Hidup Penulis ………...79
1 BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Al-Qur’an dari semenjak diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW selalu mendapat perhatian serius bagi orang yang beriman. Mereka akan terus berupaya memperhatikannya untuk mendapat hikmah dan petunjuk darinya. Petunjuk Al- Qur’an tersebut tidaklah mudah ditangkap maknanya bila tanpa ada penafsirannya. Oleh karenanya sejak diwahyukan hingga dewasa ini gerakan penafsiran yang dilakukan oleh para ulama tidak pernah berhenti dengan banyak pembahasan yang sangat kompherensip yang salah satunya adalah penafsiran mengenai hakikat dari ilmu sihir.1
Sihir merupakan sesuatu yang lembut dan halus (tidak terlihat). Sihir adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh orang tertentu (disebut tukang sihir) dengan syarat-syarat tertentu mempergunakan peralatan yang tidak lazim untuk dipakai, serta dengan cara yang sangat rahasia, untuk menimbulkan efek jahat dalam diri orang lain yang menjadi korbannya. Ada juga yang mengatakan akan nama lain dari sihir adalah santet, teluh, magic, vodoo dan lain sebagainya.2
Jika ditinjau dari pandangan agama Islam, sihir merupakan termasuk ke dalam kategori perbuatan dosa yang besar. Bahkan praktek sihir dapat juga dipandang sebagai dosa yang paling besar. Dosa sihir menurut Nabi Muhammad SAW sama seperti dosa menyekutukan Allah SWT (syirik) dan dosa durhaka terhadap kedua orang tua.3 Oleh karena itu, Allah SWT mengingatkan setiap hamba-Nya agar senantiasa tidak melakukan
1 Moh. Jufriyadi Sholeh, “Tafsir Al-Qurtubi: Metodologi, Kelebihan Dan Kekurangannya” Jurnal Reflektika, Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan Sumenep, Volume 13, No.1, Juni, 2018. hal. 50.
2 IAIN Syarif Hidayatullah, “Ensiklopedia Islam Indonesia”, (Jakarta: Djambatan, 1992), hal. 78.
3 Abdul Kholiq al-Athar. Menolak dan Membentangi Diri dari Sihir (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996), hal. 12.
2 sesuatu pekerjaan yang ada hubungannya dengan campur tangan setan, seperti halnya perbuatan sihir. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:
اَمُهَساَبِل اَمُهْنَع ُع ِزْنَي ِةَّنَجْلا َنِم ْمُكْي َوَبَأ َج َرْخَأ اَمَك ُناَطْيَّشلا ُمُكَّنَنِتْفَي َلَ َمَدآ يِنَب اَي اَمُهَي ِرُي ِل
ُثْيَح ْنِم ُهُليِبَق َو َوُه ْمُكا َرَي ُهَّنِإ ۗ اَمِهِتآ ْوَس َلَ َنيِذَّلِل َءاَيِل ْوَأ َنيِطاَيَّشلا اَنْلَعَج اَّنِإ ۗ ْمُهَن ْو َرَت َلَ
َنوُنِم ْؤُي
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang- orang yang tidak beriman.” (QS. Al-A’raf: 27)4
Diantara contoh peraktek sihir yang pernah terjadi tertulis Aunur Rafiq dalam bukunya, ia mengkisahkan bahwa ada seorang wanita yang telah setuju menikah tetapi pagi harinya ia menolak. “Seorang pemuda datang kepada saya (Syaikh Wahid Abdus Salam Bali) seraya mengatakan ‘Kami menhadapi anak perempuan aneh. Ada seorang laki-laki datang meminangnya ia menyetujui dan sangat senang menerimanya, tetapi bila telah tidur kemudian bangun dipagi harinya ia mengubah pendapatnya dan menolak menikah dari orang tersebut tanpa menjelaskan sebab-sebabnya’. Setelah ditelusuri ternyata di dalam tubuh perempuan tersebut terdapat jin suruhan dari orang yang hendak tidak suka dengan wanita tersebut sekaligus jin tersebut juga tidak ingin perempuan yang tersebut menikah. Namun, setelah dibacakan beberapa bacaan Ruqyah akhirnya jin tersebut mau keluar dari tubuh perempuan tersebut.”5
Oleh karena itu peneliti meninjau dari kasus yang terjadi mengenai peraktik sihir atau ilmu hitam, nampaknya perlu diadakan penelitian lebih jauh mengenai hakikat dari
4 Al-Qur’an Cordoba Terjemahan dan Tajwid Berwarna, (Bandung: Cordoba Press, 2018), hal. 153.
5 Aunur Rafiq Shaleh Tamhid, Sihir Dan Cara Pengobatannya Secara Islami, Terj. (Jakarta: Robbani Press, 1995), Cet. Ke-1, hal. 17
3 sihir karena memang keberadaannya masih eksis di zaman kontemporer seperti sekarang ini. Dan agar mendapat pengetahuan serta pemahaman yang orisinal, maka kajian berkenaan dengan sihir dalam perspektif Al-Qur’an akan sangat membantu memberikan petunjuk karena kedudukannya sebagai sumber utama dalam Islam.
Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT dengan bahasa Arab dengan segala keragaman peristilahan dan uslub yang terdapat di dalamnya. Ada yang Sharih dan ada yang Kinayah, ada yang ‘Aam dan ada yang Khos, ada yang terbatas dan ada yang tidak terbatas, ada yang dapat dipahami dengan isyarat dan ada yang dipahami dengan ibarat, ada yang Hakiki dan ada yang Majazi. Oleh karena, masyarakat muslim sangat membutuhkan tafsir Al-Qur’an guna dapat memahami dengan baik dan mengamalkannya dengan baik pula.6 Terlebih pemahaman mengenai sihir yang tentunya sangat rentan menimbulkan konflik pemahaman di kalangan masyarakat luas.
Demi menunjang kebutuhan tersebut, peneliti mencoba melakukan penelitian dengan mengangkat tema mengenai sihir yang dikaji menggunakan disiplin ilmu Tafsir Al-Qur’an yang diambil dari dua tokoh ahli tafsir yaitu: Al-Qurthubi dan Al-Alusi.
Dimana kedua tokoh ini adalah orang yang populer dan ahli dalam bidang tafsir, dan juga karya-karyanya memiliki pengaruh yang besar terhadap khazanah keilmuan Islam.
Dalam hal ini peneliti menggunakan kitab Tafsir Al-Jami’ Li Ahkami Al-Qur’an wa Al-Mubayyin Lima Tadhammanahu Min As-Sunnah wa Ayyah Al-Furqan karya Al- Qurthubi dan kitab Tafsir Ruh Al-Ma'ani fi Tafsir Al-Qur'an Al-Karim wa As-Sab' Al- Matsani karya Al-Alusi. Itu dikarenakan kedua tafsir tersebut memiliki pandangan yang berbeda dalam beberapa penafsiran termasuk pada penafsiran mengenai sihir.
6 Nashih Nashrullah, “Alasan Mengapa Kajian Tafsir Al-Qur’an Sangat Diperlukan”, (https://www.republika.co.id/berita/q5adm2320/) diakses pada 10 September 2021 jam 10.00 wib.
4 Adanya perbedaan penafsiran tersebut sudah bisa diasumsikan, mengingat kitab Tafsir Al-Qurtubi ini bercorak fiqih, karena dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an lebih banyak dikaitkan dengan persoalan-persoalan fiqih.7 Sedangkan kitab Tafsir Ruh Al- Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an al-Karim wa as-Sab' al-Matsani ini memiliki corak Isyari, yaitu tafsir yang mencoba menguak dimensi makna batin berdasar isyarat atau ilham dan ta'wil sufi).8
Maka dari semangat intelektualitas tersebut peneliti memcoba untuk membuat penelitian ini dengan judul penelitian yaitu: Perbandingan Tafsir Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Sihir dalam Tafsir Al-Qurtubi dan Al-Alusi. Guna setiap muslim tidak menyeleweng dari syariat Islam yang bahwasanya sihir bukanlah tempat menyelesaikan suatu perkara dan bukan tempat meminta sesuatu.
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah dibahas sebelumnya, maka fokus dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana penafsiran Al-Qurthubi tentang ayat-ayat sihir dalam Kitab Tafsir Al-Jami’ Li Ahkami Al-Qur’an wa Al-Mubayyin Lima Tadhammanahu Min As-Sunnah wa Ayi Al-Furqan?
2. Bagaimana penafsiran Al-Alusi tentang ayat-ayat sihir dalam Kitab Tafsir Ruh Al-Ma'ani fi Tafsir Al-Qur'an Al-Karim wa As-Sab' Al-Matsani?
3. Bagaimana perbandingan Tafsir Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Sihir dalam kedua ahli tafsir tersebut?
C. Tujuan Penelitian
7 Moh. Jufriyadi Sholeh, “Tafsir Al-Qurtubi: Metodologi, Kelebihan Dan Kekurangannya” Jurnal Reflektika, Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan Sumenep, Volume 13, No.1, Juni, 2018, hal. 52.
8 Aminah Rahmi Hati, “Analisa Terhadap Tafsir Ruh al-Ma’ani” Jurnal Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau, No. 334/ TH. U/ SU. S1/ Januari, 2013, hal 59-60.
5 Sejalan dengan fokus penelitian yang telah disebutkan di atas, maka tujuan diadakannya penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana penafsiran Al-Qurthubi tentang ayat-ayat sihir dalam Kitab Tafsir Al-Jami' liahkam al-Qur'an wa al-Mubayyin Lima Tadhammanahu Min as-Sunnah wa Ayi al-Furqan?
2. Untuk mengetahui bagaimana penafsiran Al-Alusi tentang ayat-ayat sihir dalam Kitab Tafsir Ruhul Ma’ani?
3. Untuk mengetahui perbandingan tafsir ayat-ayat Al-Qur’an tentang sihir dalam kedua ahli tafsir yang dimaksud?
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Terdapat penelitian yang tulis oleh Winda Nurwulan dengan judul
“Penafsiran Ayat-Ayat Sihir Menurut Al-Alusi Dalam Kitab Ruhul Ma’ani” yang disimpulkan bahwa sihir Mengungkapkan bahwa sihir memiliki makna tipu daya nyata yang berasal dari pribadi yang buruk, tentunya sumber keajaiban yang terdapat pada sihir adalah berasal dari setan dari kalangan jin yang barangsiapa melakukan prakteknya adalah haram karena mengikuti Jumhur Ulama’ dan mempelajarinya pun dihukumi haram karena termasuk dari Sadd ad-Dariah.9
Peneliti melihat penelitian tersebut terlalu subjektif, karena hanya berasal dari satu tokoh ahli tafsir saja. Oleh sebab itu, peneliti mencoba menyempurnakan
9 Winda Nurwulan, “Penafsiran Ayat-Ayat Sihir Menurut Al-Alusi Dalam Kitab Ruhul Ma’ani”, Skripsi, (Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, 2019).
6 penelitian terdahulu tersebut dengan menambahan satu tokoh ahli tafsir lain guna dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan dan kemajuan ilmu Al-Qur’an dan Tafsir serta menambah wawasan bagi seluruh civitas akademika dan masyarakat muslim yang lainnya tentang hakikat ayat-ayat sihir.
2. Manfaat Praktis
a. Manfaat bagi peneliti.
Secara praktis, manfaat dari penelitian ini bagi peneliti adalah dapat menambah wawasan dan intelektualitas peneliti tentang hakikat ayat-ayat sihir yang diambil dari penafsiran Al-Qurthubi dan Al-Alusi agar menambah keimanan peneliti.
b. Manfaat bagi UIN Jember.
Penelitian ini memiliki mnafaat praktis bagi UIN Jember yang salah satunya ialah diharapkan dapat memberi sumbangsih keilmuan kepada UIN Jember khususnya program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dalam kajian- kajian keislaman yang mengenai hakikat ayat-ayat sihir berdasarkan komperasi penafsiran Al-Qurthubi dan Al-Alusi.
c. Manfaat bagi masyarakat.
Adapun manfaat praktis bagi masyarakat umum dari penelitian ini yaitu diantaranya dapat gambaran kepada para pengamat Ilmu Al Quran dan Tafsir, psikologi Islam, guru-guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bimbingan Konseling (BK), Bimbingan Rohani (BIMROH), dan para pendidik serta
7 masyarakat muslim mengenai hakikat ilmu sihir sehingga mampu menjadi sosok muslim ideal yang terhindar dari sihir.
E. Definisi Istilah 1. Sihir
Pengertian sihir dalam penelitian ini diambil dari pendapatnya Ibnu Qudamah dalam buku yang dikarang oleh Fathi Yakan, menurutnya sihir adalah adalah mantera dan guna-guna yang disertai bacaan, yang ditulis dan diamalkan.
Bacaan tersebut akan mempengaruhi tubuh, hati dan akal seseorang yang akan disihir. Sihir dapat menyebabkan seseorang menjadi sakit, membuat orang marah, tidak dapat melakukan hubungan seksual dengan suami atau istrinya, membuat hubungan pasangan suami istri bercerai, atau menimbulkan rasa cinta, bahkan dapat membuat orang yang terkena sihir meninggal dunia.10
2. Ayat-Ayat Sihir
Adapun maksud ayat-ayat sihir dalam penelitian ini adalah semua ayat Al- Qur’an yang memiliki penjelasan atau informasi mengenai sihir, baik dari sisi sejarah, pengertian, macam-macam dan lain sebagainya. Dimana menurut Jamal Abdul Bary, ayat-ayat sihir dalam Al-Qur’an dapat ditemui lebih dari 63 kali yang terdapat dalam berbagai surat dengan bentuk dan variasi yang berbeda tetapi makna lafadz yang sama.11
F. Metode Penelitian
10 Fathi Yakan, Sihir dalam Pemahaman Islam, (Jakarta: PT. Arista Brahmatyasa, 1995), hal. 18.
11 Jamal Abdul Bary, Al-Badiyl Al-Islami Lifak As-Sihr Jilid 1 Cet. II, (Mesir: Jumhuriyah Misr Al- Arabiyah, 1992), hal. 74-76.
8 Berikut ini adalah penjabaran metodologi penelitian yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian yang berjudul “Perbandingan Tafsir Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Sihir dalam Tafsir Al-Qurtubi dan Al-Alusi”
1. Pendekatan Penelitian
Penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti termasuk pada penelitian pendekatan kualitatlif yaitu merupakan penelitian yang memanfaatkan sumber perpustakaan untuk memperoleh data penelitiannya.12 Salah satu ciri dari penelitian pustaka adalah peneliti berhadapan langsung dengan teks (nash) atau data angka dan bukan pengetahuan langsung dari lapangan atau sanksi-mata berupa kejadian, orang atau benda-benda lainnya.
Alasan menggunakan pendekatan kualitatif karena peneliti tidak akan melakukan riset atau observasi lapangan, melainkan hanya melakukan pengumpulan dan analisis terhadap karya-karya ilmiah yang berkaitan dengan penafsiran akhlak dalam Al-Qur’an menurut Abdullah bin Mas'ud dalam kitab Tafsir Ibnu Mas’ud. Pada saat menganilisis naskah yang dimaksud, peneliti menggunakan pendekatan Contein Analysis.13 Oleh karena itu sangat tepat kiranya peneliti memilih pendekatan kualitatif dalam penelitian ini.
2. Jenis Penelitian
12 Mestika Zed, Metode Penelitian Kepustakaan, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2008), hal.
21.
13 Sutrisno Hadi, Metode Research, (Yogyakarta: UIN Jogya Press, 1996), hal. 7.
9 Penelitian ini merupakan jenis riset kepustakaan atau Library Research. Riset kepustakaan atau sering juga disebut studi pustaka adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian.14 Jenis penelitian ini diaktualisasikan oleh peneliti dengan cara membaca sumber data primer serta buku-buku, penelitian, karya tulis ilmiah serta sumber data lainnya untuk menghimpun data dari berbagai literatur, baik perpustakaan maupun di tempat-tempat lain yang ada hubungannya dengan pembahasan penelitian ini.15
3. Sumber Penelitian
Adapun sumber data yang berarti subjek dari mana data dapat diperoleh,16 yang dalam penelitian ini terbagi menjadi dua sumber data, yaitu:
a. Data Primer, yaitu data-data yang di kumpulkan oleh peneliti dari sumber utamanya.17 Dalam penelitian ini data primer ialah:
(1) Kitab Tafsir Al-Jami' liahkam al-Qur'an wa al-Mubayyin Lima Tadhammanahu Min as-Sunnah wa Ayi al-Furqan karya Al-Qurthubi, (2) Kitab Tafsir Ruhul Ma’ani karya Mahmud Al- Alusi.
14 Mestika Zed, Metode Penelitian Kepustakaan, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2008), hal.
3.
15 Mahmud, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2011), hlm. 31.
16 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan dan Praktek (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002), hal. 3.
17 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2009), hal. 308.
10 b. Data Sekunder, yaitu sumber data yang tidak langsung seperti
buku dan majalah ilmiah, koran, sumber data arsip, dokumentasi organisasi, dokumen pribadi, dan lewat orang lain yang digunakan oleh penulis guna menunjang penelitian.18 Tentunya data sekunder dalam penelitian ini adalah antara lain: (1) buku yang berjudul “Ilmu Sihir dan Penangkalan” karangan Wahid Abdussalam Baly, (2) buku yang berjudul “Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir” karangan Abdul Khaliq Al-Athar, (3) buku yang berjudul Landasan Hukum Persihiran dan Perdukunan Perspektif Islam karangan Nuraningsih Nawawi, (4) buku yang berjudul “Kaifa Tatakhallash Minas Sihr” karya Munirah binti Abdul Aziz, terj. Abdullah Haidir, (5) buku yang berjudul “Misteri Besar Harut dan Marut” karangan As’adi.
Serta karya-karya lain seperti kitab klasik, buku, penelitian, dan lain sebagainya yang ada hubungannya dengan pembahasan sihir.
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang akan dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah dengan penelitian kepustakaan atau Library Research.
Peneliti beranggapan bahwa dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui penelitian kepustakaan, maka hasilnya akan lebih maksimal.
Hal tersebut dikarenakan penelitian ini membahas seorang tokoh dan satu tema, dimana tema yaitu mengenai pembahasan sihir dan tentunya itu
18 Ibid., hal. 309.
11 banyak dicurahkan teori-teorinya di dalam buku, artikel, karya ilmiah dan lain sebagainya.19 Adapun proses pengumpulan data dijalani dengan beberapa cara, antara lain dengan membaca, mencatat, lalu mendeskripsikan dan menyusunnya secara sistematis dan terakhir melakukan analisis perbandingan mengenai hakikat sihir.
5. Teknik Analisis Data
Sejalan dengan jenis data yang digunakan dalam penelitin ini adalah bersifat kualitatif, maka proses analisis datanya juga akan dilakukan dengan cara mengolah, menganalisis dan menafsirkan secara kualitatif. Tepatnya adalah menggunakan jenis teknik analisis data deskriptif dan menggabungkannya dengan teknik komparatif.
Tepatnya setelah data dikumpulkan kemudian peneliti membuat gambaran terhadap data-data yang telah tersusun dan terkumpul dari berbagai sumber data lalu memberikan intepretasi terhadap data tersebut.20 Kemudian peneliti akan menghimpun sejumlah ayat-ayat Al-Qur`an mengenai sihir untuk selanjutnya peneliti akan mengkaji, meneliti, dan membandingkan pendapat dua penafsiran mengenai ayat-ayat tersebut.21 6. Tahap-Tahap Penelitian
19 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan dan Praktek (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002), hal. 53.
20 Jujun S, Suriasumantri, Penelitian Ilmiah Kefalsafahan dan Keagamaan: Mencari Paradigma Kebersamaan, (Bandung: Nuansa, 2001), hal. 68-69.
21 Abd al-Hayy, al-Famawiy, al-Bidayat fi al-Tafsir al-Maudhu’I, (Cairo: al-Hadhrat al- Tarbiyyah), hal.
46.
12 Ada beberapa tahap dalam penelitian ini dan itu mengacu pada tahap penelitian secara umum, terdiri atas tahap pra penelitian, tahap penelitian, dan tahap akhir penelitian. Berikut ini adalah perinciannya:22
a. Tahap pra lapangan, dimana peneliti (1) menyusun rencana penelitian yang dalam menyusun rencana ini peneliti menetapkan beberapa hal yaitu: judul penelitian, latar belakang, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian dan lain sebagainya. (2) Peneliti meminta persetujuan judul kepada Kepala Jurusan Ilmu Al Quran dan Tafsir Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dengan membawa surat pengantar untuk melakukan penelitian.
Sehingga peneliti dapat melakukan tahapan untuk memulai penelitian di tempat tersebut.
b. Tahap penelitian lapangan, dimana peneliti melaksanakan penelitian dengan mengumpulkan data-data yang diperlukan yaitu: Kitab Tafsir Al-Qurthubi, Kitab Tafsir Ruhul Ma’ani Al- Alusi, dan literatur yang dapat menunjang penelitian ini.
c. Tahap akhir penelitian, yaitu dimana setelah serangkaian kegiatan peneliti dalam mengumpulkan data dianggap selesai, peneliti mulai menyusun kerangka laporan hasil penelitian dengan menganalisis data yang sudah diperoleh.
G. Sistematika Penelitian
22 Lexy J Moleong. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), hal. 310.
13 Sistematika penelitian penelitian ini terdiri dari lima bab dan beberapa sub bab yang perinciannya adalah sebagai berikut:
1. Pada BAB I yaitu berisi pendahuluan yaitu: latar belakang, fokus masalah, tujuan dan manfaat, definisi istilah, metode dan sistematika penulisan.
Fungsi bab ini untuk memperoleh gambaran secara umum mengenai pembahasan dalam penelitian sikripsi ini.
2. Pada BAB II yaitu berisi kajian kepustakaan, bagian ini akan membahas mengenai kajian terdahulu dan literatur yang bergubungan dengan skripsi ini. Serta beberapa kajian teori yang menjadi pijakan dari bab selanjutnya yang berisikan tentang khazanah sihir dalam agama Islam.
3. Pada BAB III berisi deskripsi biografi Al-Qurtubi dan Al-Alusi beserta masing-masing penafsirannya mengenai konsep sihir dalam Al-Qur’an.
4. Pada BAB IV berisi berisi penyajian data dan analisis yang meliputi:
penyajian data dan analisis, serta pembahasan temuan.
5. Kemudian pada bab V, yaitu penutup yang meliputi (a) kesimpulan dan (b) saran. Serta bagian akhir peneliti akan mencantumkan daftar pustaka dan beberapa lampiran-lampiran sebagai pendukung data penelitian.
14 BAB II
KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu
Berikut ini adalah kajian kepustakaan yang diambil dari beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti, diantaranya:
a. Skripsi yang tulis oleh Winda Nurwulan seorang mahasiswi Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Skripsi tersebut berjudul
“Penafsiran Sihir Menurut Al-Alusi Dalam Kitab Ruhul Ma’ani”.
Adapun intisari dari penelitian tersebut ia menjelaskan bahwa sihir memiliki makna tipu daya nyata yang berasal dari pribadi yang buruk, tentunya sumber keajaiban yang terdapat pada sihir adalah berasal dari setan dari kalangan jin yang barangsiapa melakukan prakteknya adalah haram karena mengikuti Jumhur Ulama’ dan mempelajarinya pun dihukumi haram karena termasuk bagian dari Sadd ad-Dariah.1
Jika dilihat dari penelitian yang ditulis oleh saudara Winda Nurwulan, peneliti menyakini bahwa penelitian dengan judul “Perbandingan Tafsir Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Sihir dalam Tafsir Al-Qurtubi dan Al-Alusi”
dapat dikatakan berbeda. Hal tersebut dikarenakan dari sisi jumlah penafsirnya juga berbeda, dimana peneliti menggunakan dua penafsiran yaitu Tafsir Al-Qurthubi dan Tafsir Ruhul Ma’ani.
1 Winda Nurwulan, “Penafsiran Ayat-Ayat Sihir Menurut Al-Alusi Dalam Kitab Ruhul Ma’ani”, Skripsi, (Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, 2019).
15 b. Skripsi yang ditulis oleh Uswatun Khoeriyah seorang mahasiswi Fakultas
Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Skripsi tersebut berjudul “Sihir dalam Al-Qur’an (Studi Komparatif Tafsir al-Manar karya M. Abduh dan Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab)”.
Adapun intisari dari penelitian tersebut ia menjelaskan bahwa perbandingan penafsiran ayat-ayat yang berbicara tentang sihir menurut Muhammad Abduh dalam Tafsir Al-Manar dan Muhammad Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah. Sihir menurut Muhammad Abduh adalah sesuatu yang yang dapat dipelajari. Sedangkan menurut Muhammad Quraish Shihab sihir adalah tipuan, pengelabuan mata.2
Jika dilihat dari penelitian yang ditulis oleh saudari Uswatun Khoeriyah, peneliti menyakini bahwa penelitian dengan judul “Perbandingan Tafsir Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Sihir dalam Tafsir Al-Qurtubi dan Al-Alusi”
dapat dikatakan berbeda. Hal tersebut dikarenakan dari sisi penafsirnya yang berbeda, dimana peneliti menggunakan dua penafsiran yaitu Tafsir Al- Qurthubi dan Tafsir Ruhul Ma’ani.
Tidak hanya itu, pembahasan penafsiran juga akan berbeda karena peneliti mengambil pendekatan ahli tafsir versi non-kontemporer. Sedangkan penelitian saudari Uswatun Khoeriyah dapat dikatakan kontemporer, mengingat tokoh penafsir yang terasuk pada ahli tafsir yang hidup pada abad modern.
2 Uswatun Khoeriyah, “Sihir Dalam Al-Qur’an (Studi Komparatif Tafsir al-Manar karya M. Abduh dan Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab)”, Skripsi, (Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2016).
16 c. Skripsi yang ditulis oleh Taufik Hidayat seorang mahasiswa Fakultas
Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Skripsi tersebut berjudul “Exsistensi Sihir Dalam Mendekontruksi Aqidah Muslim” dengan metode yang digunakan adalah metode deskripsi.
Adapun intisari dari penelitian tersebut ia menjelaskan bahwa praktek ilmu sihir sangat memiliki pengaruh terhadap akidah seseorang yang menganut agama Islam, yang dimana pengaruh tersebut lebih cenderung pada hal-hal yang tidak baik bagi akidah seorang muslim. Adapun salah satu cara sihir dalam merusak akidah terhadap diri seseorang adalah adanya keterikatan antara dia dengan jin.3
Jika dilihat dari penelitian yang ditulis oleh saudara Taufik Hidayat, peneliti menyakini bahwa penelitian dengan judul “Perbandingan Tafsir Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Sihir dalam Tafsir Al-Qurtubi dan Al-Alusi” dapat dikatakan berbeda. Hal tersebut dikarenakan dari sisi penafsirnya yang berbeda. Tidak hanya itu, jumlah penafsirnya juga berbeda, dimana peneliti menggunakan dua penafsiran yaitu Tafsir Al-Qurthubi dan Tafsir Ruhul Ma’ani.
Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu di atas, peneliti tidak menemukan kesamaan yang begitu signifikan baik dari segi judul penelitian, fokus penelitian sebagaimana yang akan dipaparkan pada bab-bab selanjutnya. Dengan begitu, penelitian
3 Taufik Hidayat, “Exsistensi Sihir Dalam Mendekontruksi Aqidah Muslim”, Skripsi, (Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2005).
17 dengan judul “Perbandingan Tafsir Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Sihir dalam Tafsir Al- Qurtubi dan Al-Alusi” dapat dikatakan original.
B. Kajian Teori
1. Pengertian Sihir
Pengertian sihir menurut Ibnu Qudamah adalah mantera dan guna-guna yang disertai bacaan, yang ditulis dan diamalkan. Bacaan tersebut akan mempengaruhi tubuh, hati dan akal seseorang yang akan disihir. Sihir dapat menyebabkan seseorang menjadi sakit, tidak dapat melakukan hubungan seksual, membuat hubungan pasangan suami istri bercerai, atau menimbulkan rasa cinta, bahkan dapat membuat orang yang terkena sihir meninggal dunia.4
Menurut Fakhruddin Al-Razi sihir adalah segala sesuatu yang sebabnya tidak terlihat dan jika digambarkan tidak seperti hakikat yang sebenernya, berlangsung melalui tipuan.5 Sedangkan Al-Azhari mengatakan bahwa sihir adalah perbuatan untuk mendekati setan dan meminta pertolongan kepadanya. Asal pengertian sihir adalah mengubah wujud asli menjadi wujud yang lain.6 Sedangkan Ibnu Qayyim juga berpendapat bahwa sihir adalah melakukan pemujaan kepada roh-roh jahat dan mengharapkan kesaktian yang luar biasa.7
2. Sejarah Sihir
4 Fathi Yakan, Sihir dalam Pemahaman Islam, (Jakarta: PT. Arista Brahmatyasa, 1995), hal. 18.
5 Ahmad Ibn Muhammad Fayyumi, Al-Misbah al-Munir: Mu’jam ‘Arabi ‘Arabi, (Beirut: Maktabat Lubnan, 1987), hal. 267.
6 Wahid Abdus Salam Bali, Ilmu Sihir dan Penangkalnya: Tinjauan Al-Qur’an, Hadist dan Ulama, (Jakarta: Logos Publishing House, 1995), hal. 1.
7 Muhammad Abd al-Wahhab, Mukhtasar Zad al-Ma’ad lil Imam Ibn Qayyim al-Jawziyah (Beirut: al- Maktab al-Islami), hal. 127.
18 Praktek sihir sudah banyak terjadi dari zaman dahulu hingga sekarang.
Berikut ini adalah rincian sejarah praktek sihir yang pernah terjadi dan termaktub dalam Al-Qur’an maupun Hadist:
a. Sihir Pada Masa Nabi Muhammad SAW
Sejarah sihir pernah terjadi di tengah-tengah perjuangan Nabi Muhammad SAW ketika beliau menyebarkan agama Islam. Akan tetapi beliau selalu dilindungi oleh Allah SWT sehingga sihir yang telah direncanakan berakhir sia-sia. Peristiwa tersebut berasal dari hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, hadis tersebut berasal dari Aisyah, beliau mengatakan: “Nabi Muhammad SAW disihir oleh seorang Yahudi Bani Zuraiq yang bernama Labid bin As’ham”.8
b. Sihir Pada Zaman Nabi Sulaiman
Sesungguhnya syetan itu menulis ilmu sihir melalui sekretaris Nabi Sulaiman (Ashif), lalu mereka pendam di bawah tempat shalat akan tetapi beliau tidak merasakannya. Setelah beliau wafat, para setan mengeluarkan apa yang telah mereka simpan di bawah tempatnya, sakan-akan Nabi Sulaiman yang menguasai para syetan ini adalah menggunakan perbuatan sihir. Namun Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW serta menurunkan ayat-ayat untuk menjelaskan alasan Nabi Sulaiman serta untuk melepaskan perkara-perkara yang telah dituduhkan kepada Nabi Sulaiman, yaitu dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 102.9
8 Muhammad Habibullah Al-Jakani, Zad al-Muslim, (Beirut: Daar al-Fikr, 1981), Jilid IV, hal. 221.
9 Fathi Yakan, op.cit., hal. 10.
19 c. Sihir Pada Zaman Nabi Musa
Masyarakat pada zaman Nabi Musa terkenal dengan keahlian bermain sihir. Sejarah telah mencatat bahwa beliau sudah banyak melawan dan menghadapi permasalahan musuh-musuh yang menggunakan sihir. Puncak dari semua itu adalah ketika beliau harus berhadapan serta beradu kekuatan, kemahiram dengan para penyihir yang disuruh oleh Fir’aun. Tongkat Nabi Musa sebagai mukjizat dari Allah SWT untuk melawan para penyihir yang disewa Fir’aun, para penyihir yang ahli dalam sihirnya tersebut kalah dan mukjizat Allah SWT.10
3. Macam-Macam Sihir
Mengenai macam-macam sihir, Abu Abdullah Al-Razi dalam kitab Tafsir Mafatih Al-Ghaib mengemukakan bahwa ada beberapa macam sihir yang diantaranya adalah sebagai berikut ini:
a. Sihir Kaldani dan Kisydan. Sihir ini berasal dari bangsa Kaldaniyah dan Kisydaniyah, dahulu mereka menyembah bintang-bintang yang beredar. Mereka meyakini bahwa bintang tersebut adalah pengatur alam semesta, dan yang mendatangkan kebaikan atau keburukan.
Dengan ini Allah SWT mengutus Nabi Ibrahim AS yang membatalkan sihir yang dilakukan oleh mereka.11
10 Mutawalli Asy-Sya’rawi, Dosa Dosa Besar, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), hal. 134.
11 Wahid Abdussalam Bali, Sihir Keampuhan Al-Qur’an dalam Membentengi Diri Dari Pengaruh Sihir dan Terapi Pengobatannya Pada Penderita Akibat Sihir, (Jakarta: CV, Cendekia Sentra Muslim, 2001), Cet Ke- I, hal. 49.
20 b. Sihir khayalan, hipnotis dan sulap. Cara mempraktikan khayalan,
hipnotis dan sulap adalah dengan cara membuat mata seseorang terfokus pada suatu benda sehingga tidak melihat benda yang lain.
Contohnya seperti para pesulap yang sedang melangsungkan aksinya mereka akan membuat mata para penonton melihat kepadanya, setalah para penonton fokus, maka penyulap itu akan melakukan hal lain dengan cepat dan tepat untuk kemudian mereka akan memperlihatkan suatu hal yang menakjubkan.12
c. Sihir dengan menggunakan alat-alat. Sihir ini dilakukan dengan keahlian teknologi, namun untuk masa sekarang hal ini tidak dapat dikatakan sihir, karena pada hakikatnya ia mempunyai sebab-sebab yang sudah direncanakan sesuai hokum alam. Sebagian ahli mengatakan bahwa para penyihir Fir’aun memakai air raksa untuk mengelabuhi Nabi Musa.13
d. Sihir dengan cara mempengaruhi hati seseorang. Tukang sihir ini mengaku bahwa dia nama-nama Allah yang Agung, dan jin sudah tunduk atau patuh padanya. Jika orang yang dipengaruhi itu adalah orang yang lemah maka dia mudah percaya dan terpengaruh, setelah itu penyihir akan membuat orang tersebut bergantung kepadanya, dan dia akan merasa takut pada penyihir itu.14
e. Sihir dengan meminta bantuan mahluk gaib. Sihir ini meminta bantuan kepada mahluk gaib seperti jin dan setan. Jin terbagi menjadi dua yaitu, jin mukmin dan jin kafir atau setan. Para ahli yang sudah
12 Ibid.,
13 Ibid., hal. 50
14 Ibid.,
21 berpengalaman mengatakan bahwa bekerjasama dengan ruh-ruh sangatlah mudah, hanya dengan mantera-mantera dan jimat untuk menundukkan seseorang.15
4. Metode Sihir
Pada intinya sihir itu dilakukan dengan cara menghadirkan makhluk halus seperti jin dan lain sebagainya. Dan pada saat itu orang yang akan melakukan praktek sihir, ia akan menggunakan metode tertentu agar bisa berhasil dalam prakteknya.16 Berikut ini adalah metode-metode tukang sihir ketika melakukan aksi sihirnya:
a. Penyembelihan (Ad-Dzabh). Tukang sihir ketika akan melaksanakan penyembelihan dengan menyediakan seekor binatang kecil atau besar.
Dengan syarat tertentu, sesuai dengan permintaan jin. Biasanya kambing yang berwama hitam, karena jin lebih menyukai warna hitam. Kemudian tukang sihir menyembelih bintang tersebut tanpa menyebut nama Allah SWT. Terkadang tukang sihir mengotori tubuh orang yang sakit dengan darah hewan sembelihan tersebut kemudian dibuang ke dalam puing-puing rumah, sumur atau tempat yang tidak digunakan lagi yang biasanya merupakan tempat-tempat jin. Ketika membuang pun tidak menyebut nama Allah SWT. Saat kembali ke
15 Ibid., hal. 51
16 Wahid Abdussalam Bali, Sihir Keampuhan Al-Qur’an dalam Membentengi Diri Dari Pengaruh Sihir dan Terapi Pengobatannya Pada Penderita Akibat Sihir, (Jakarta: CV, Cendekia Sentra Muslim, 2001), Cet ke- I, hal. 49.
22 rumah, ritual berikutnya mengucapkan mantra-mantra sirik lalu menyuruh jin tersebut untuk melaksanakan perintahnya.17
b. Najis (Al-Najasah). Tukang sihir menulis satu surat Al-Qur’an dengan darah haid (darah wanita yang sedang datang bulan) atau barang najis lainnya. Setelah itu ia membacakan mantra-mantra untuk menghadirkan jin, lalu memerintahkannya untuk mengerjakan keinginannya. Unsur kufur yang terdapat dalam metode ini jelas terlihat, karena ia telah menghina Al-Qur’an.18
c. Ramalan (Al-Tanjim). Tukang sihir ini mengaku bahwa dia nama- nama Allah yang Agung, dan jin sudah tunduk atau patuh padanya.
Jika orang yang dipengaruhi itu adalah orang yang lemah maka dia mudah percaya dan terpengaruh, setelah itu penyihir akan membuat orang tersebut bergantung kepadanya, dan dia akan merasa takut pada penyihir itu.
d. Bekas (Al-Atsar). Tukang sihir meminta kepada pasien agar menyerahkan sesuatu yang mengandung bau keringatnya, seperti saputangan, sorban, kemeja atau yang lainnya. Dari benda itu dibuat bundelan (simpul) dari ujung atau yang lainnya. Caranya diukur sepanjang empat jari, serta dipegang dengan erat. Lalu membaca mantra-mantra syirik dengan suara pelan (tidak terdengar).19
e. Telapak Tangan (Al-Kaff). Metode ini biasanya dipergunakan oleh tukang sihir untuk mencari sesuatu (barang) yang hilang. Biasanya
17 Badruddin bin Abdullah As-Syibli, Keajaiban Jin Menurut Al-Qur’an dan Hadist, Terj. Yasin Musyafa’ dan Ali Hasan, (Semarang: CV. Toha Putra, 1985), hal. 168.
18 Ibid., hal. 42.
19 Wahid Abdul Salam Baly, Ilmu Sihir dan Penangkalnya, Tinjauan Al-Qur'an, Hadits dan Ulama, Terj. Ade Asnawi, (Jakarta: Logos, 1995), hal. 44.
23 Gambar 2.1 Metode Sihir Telapak Tangan (Al-Kaff) tukang sihir mendatangkan anak yang belum Baligh, dengan syarat tidak berwudhu. Sesudah itu ia memegang telapak tangan kiri anak f. tersebut dan membuat gambar empat persegi panjang di atasnya,
seperti di bawah ini:
Di sekitar gambar empat persegi panjang tersebut ditulis mantra- mantra sihir yang mengandung syirik. Setelah itu, ia meletakkan minyak dan bunga persis di tengah-tengah gambar tersebut. Kemudian ia menulis mantra-mantra di atas kertas yang panjang, lalu ditempelkan pada wajah anak. Setelah itu mulailah tukang sihir membacakan mantra-mantra.20
1. Kedudukan Sihir dalam Agama Islam
Banyak orang yang beranggapan bahwa sihir merupakan kejadian ajaib karena kejadian tersebut tidak bisa ditangkap dengan rasionalitas. Memang pada kenyataannya fenomena ajaib atau yang bisa disebut dengan kejadian di luar nalar kebiasaan )ةداعلا قراخ( sudah diperkenalkan di dalam ajaran agama Islam. Yaitu, Mukjizat, Karamah, Waqi'iyyah dan Sihir.
Nasarudin Umar memerinci masing-masing kejadian luar biasa tersebut, menurutnya (1) Mukjizat secara sederhana biasa diartikan sebagai perbuatan luar biasa yang muncul dari diri seorang Nabi atau Rasul. Sehingga selain darinya tidak
20 Tarmana Qasim, Menolak dan Membentengi Diri dari Ilmu Sihir, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996), hal. 23.
24 akan ada orang yang mampu mengakses keajaiban ini. Adapun (2) Karamah biasa diartikan perbuatan luar biasa muncul dari diri seorang wali atau kekasih Tuhan.
Sedangkan (3) Waqi'iyyah hampir sama dengan Karamah, hanya lebih banyak tampil dalam bentuk pengetahuan kejadian masa akan datang yang belum terjadi.
Adapun Sihir adalah juga perbuatan luar biasa yang muncul dari diri seorang yang belajar dan terus berusaha memahirkan diri di dalam mengamalkan keterampilan supranatural itu.21
Masih menurutnya, perbedaan utama terletak pada cara mendapatkan fenomena luar biasanya. Jika Mukjizat, Karamah dan Waqi'iyyah itu tidak bisa dipelajari, artinya pemberian dari Allah SWT )الله ةبهو(. Sedangkan Sihir yang umumnya memang sengaja dipelajari, bahkan ada yang membuka kursus ilmu sihir dan itu dapat ditemukan di mana-mana di seluruh belahan dunia. Sihir ini dapat diakses oleh siapa pun, tanpa dibedakan jenis kelamin, etnik, agama, dan atribut sosial budaya lainnya. Sehingga siapa pun yang mampu menjalani latihan dan memenuhi berbagai persyaratannya dapat memperoleh ilmu sihir ini.22 Tentunya dengan penuh kesungguhan dan kalau perlu dengan pengorbanan-pengorbanan tertentu, seperti puasa beberapa hari, menebus sejumlah tantangan yang ditetapkan oleh sang guru.
Senada dengan penjelasan di atas, Khil bin Ibrahim Amin menjelaskan bahwasanya Sihir ini diperoleh dari belajar dan pengalaman, serta didapatkan dengan cara membiasakan mengucapkan kata-kata aneh seperti mantera-mantera atau dengan jimat-jimat dan segala sesuatu yang menyangkut perbuatan Sihir.
Sedangkan Karomah adalah pemberian dan karunia Allah SWT yang mana dalam
21 Nasarudin Umar, Beda Mukjizat, Karamah, Waqi’iyyah, dan Sihir, (https://republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/10/08/oeoxbi313/) diakses pada 23 November 2021 jam 09.00 wib.
22 Ibid.,
25 memperolehnya bukan kehendaknya dan tidak ada pengorbanan yang aneh. Mukjizat juga tidak jauh berbeda dengan Karomah hampir sama, tetapi anugrah Mukjizat ini hanya diberikan kepada Nabi dan Rasul saja.23
Keberadaan dan dampak dari Mukjizat ini benar-benar sesuatu yang nyata, baik segi dzahir maupun batinya, maksudnya bukan khayalan atau reka-rekaan.
Sedangkan Sihir meskipun secara dzahir seperti sesuatu yang luar biasa, hakikatnya adalah bukan, karena kekuatan yang dimunculkan adalah kekuatan nisbi atau permainan. Bahkan, kekuatannya tidak lepas dari hukum sebab akibat yang dikehendaki Allah SWT.24
2. Ayat-Ayat Sihir
Penyebutan kata sihir dalam Al-Qur’an terdapat lebih dari 63 kali yang ada pada berbagai surat dengan bentuk dan variasi yang berbeda tetapi makna lafadz yang sama. Kata sihir masing-masing tersebut terdapat dalam Al-Qur’an tepatnya:
surat Al-A'raf ayat 113, 116, 120, dan 132, surat Al-Mu'minun ayat 89, surat Al- Baqarah ayat 102, surat Al - Maidah ayat 110, surat Al-An'am ayat 7, surat Yunus ayat 2, 76, 77, 79, 80, 81, 82, surat Hud ayat 7, surat Taha ayat 58, 70, 71, 73, surat Al-Anbiya ayat 3, surat Asy-Syura ayat 38, 40, 49, 150, surat An-Nahl ayat 13, surat Al-Qashash ayat 32, surat Al-Saba' ayat 43, surat Az-Zuhruf ayat 30, 49, surat Al-Ahqof ayat 7, surat At-Thur ayat 15, surat Al-Qamar ayat 2, 34, surat Ashraf ayat 6, surat Al-Mudatsir ayat 24, surat Al-Falaq ayat 4, surat Thaha ayat 57, 63, 66, 67, 68, 69, surat As-Syuara ayat 35, 36, 41, 46, 54, 185, surat Al-Qasas ayat 48,
23 Khil Bin Ibrahim Amin dan Jamal Al-Shawadi, Sihir Dan Pengobatannya, (Surabaya: Karya Agung, 2004), hal. 11.
24 Ibid., hal. 12.
26 Al-A'raf ayat 109, 112, surat As-Shad ayat 47, 101, surat Al-Furqan ayat 8, surat Al-Hijr ayat 15, surat Al-Imran ayat 17.25
Walaupun ayat-ayat tentang sihir terdapat banyak dalam Al-Qur’an, dalam penelitian ini peneliti hanya memfokuskan pada beberapa surat dan ayat. Peneliti mengasusmsikan bahwa ayat-ayat di atas jika diambil intisari mengenai sihir, hanya akan menjadi beberapa ayat saja. Sehingga akan mendapatkan penjelasan yang lebih mendalam dan kritis. Adapun ayat-ayat sihir yang dimaksud oleh peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Surat Al-Baqarah ayat 102
ِكْلُم ٰىَلَع ُنيِطاَيَّشلا وُلْتَت اَم اوُعَبَّتا َو َنيِطاَيَّشلا َّنِكَٰل َو ُناَمْيَلُس َرَفَك اَم َو ۖ َناَمْيَلُس
اَم َو ۚ َتو ُراَم َو َتو ُراَه َلِباَبِب ِنْيَكَلَمْلا ىَلَع َل ِزْنُأ اَم َو َرْحِ سلا َساَّنلا َنوُمِ لَعُي او ُرَفَك ْكَت َلََف ٌةَنْتِف ُنْحَن اَمَّنِإ َلَوُقَي ٰىَّتَح ٍدَحَأ ْنِم ِناَمِ لَعُي وُق ِ رَفُي اَم اَمُهْنِم َنوُمَّلَعَتَيَف ۖ ْرُف
ِهِب َن
ُه ُّرُضَي اَم َنوُمَّلَعَتَي َو ۚ ِ َّاللَّ ِنْذِإِب َّلَِإ ٍدَحَأ ْنِم ِهِب َني ِ راَضِب ْمُه اَم َو ۚ ِه ِج ْو َز َو ِء ْرَمْلا َنْيَب ْم
ا يِف ُهَل اَم ُها َرَتْشا ِنَمَل اوُمِلَع ْدَقَل َو ۚ ْمُهُعَفْنَي َلَ َو ا ْو َرَش اَم َسْئِبَل َو ۚ ٍق َلََخ ْنِم ِة َر ِخ ْلْ
َنوُمَلْعَي اوُناَك ْوَل ۚ ْمُهَسُفْنَأ ِهِب (
١٠٢ )
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).
Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir’. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan
25 Jamal Abdul Bary, Al-Badiyl Al-Islami Lifak As-Sihr Jilid 1 Cet. II, (Mesir: Jumhuriyah Misr Al- Arabiyah, 1992), hal. 74-76.
27 antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (QS. Al-Baqarah:
102)26
b. Surat Al-‘Araf ayat 111-120
( َني ِرِشاَح ِنِئاَدَمْلا يِف ْلِس ْرَأ َو ُهاَخَأ َو ْه ِج ْرَأ اوُلاَق ٍميِلَع ٍر ِحاَس ِ لُكِب َكوُتْأَي ) ١١١
( ( َنيِبِلاَغْلا ُنْحَن اَّنُك ْنِإ ا ًرْجَ َلَ اَنَل َّنِإ اوُلاَق َن ْوَع ْرِف ُة َرَحَّسلا َءاَج َو ) ١١٢ َلاَق ) ١١٣
ُمْلا َنِمَل ْمُكَّنِإ َو ْمَعَن ( َنيِب َّرَق
ُنْحَن َنوُكَن ْنَأ اَّمِإ َو َيِقْلُت ْنَأ اَّمِإ ٰىَسوُم اَي اوُلاَق ) ١١٤
( َنيِقْلُمْلا اوُءاَج َو ْمُهوُبَه ْرَتْسا َو ِساَّنلا َنُيْعَأ او ُرَحَس ا ْوَقْلَأ اَّمَلَف ۖ اوُقْلَأ َلاَق ) ١١٥
( ٍميِظَع ٍرْحِسِب ْنَأ ٰىَسوُم ٰىَلِإ اَنْيَح ْوَأ َو ) ١١٦
َنوُكِفْأَي اَم ُفَقْلَت َيِه اَذِإَف ۖ َكاَصَع ِقْلَأ
( ( َنوُلَمْعَي اوُناَك اَم َلَطَب َو ُّقَحْلا َعَق َوَف ) ١١٧ اوُبَلَقْنا َو َكِلاَنُه اوُبِلُغَف ) ١١٨
( َني ِرِغاَص ( َنيِد ِجاَس ُة َرَحَّسلا َيِقْلُأ َو ) ١١٩
١٢٠ )
“(111) Pemuka-pemuka itu menjawab: "Beri tangguhlah dia dan saudaranya serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir). (112) supaya mereka membawa kepadamu semua ahli sihir yang pandai". (113) Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir'aun mengatakan: "(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?" (114) Fir'aun menjawab: "Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku)". (115) Ahli-ahli sihir berkata:
“Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan? (116) Musa menjawab: “lemparkanlah (lebih dahulu)!” maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka
26 Al-Qur’an Cordoba Terjemahan dan Tajwid Berwarna, (Bandung: Cordoba Press, 2018), hal. 16.
28 mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan). (117) Dan kami wahyukan kepada Musa: ‘lemparkanlah tongkatmu!’. Sekonyong- konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. (118) Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan.
(119) Maka mereka kalah ditempat itu dan jadilah mereka orang- orang yang hina. (120) Dan ahli-ahli sihir itu serta merta mengharapkan diri dengan bersujud.” (QS. Al-A’raf: 111-120)27 c. Surat Al-Falaq ayat 4
ِ رَش نِم َو ِتَٰثَّٰفَّنل ٱ
ىِف ِدَقُعْل ٱ ( ٤ )
“Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul” (QS. Al-Falaq: 4)28
3. Sihir dalam Pandangan Hukum Indonesia
Praktek sihir di Indonesia lebih dikenal dengan istilah santet. Sebetulnya baik sihir maupun santet memiliki persamaan makna, yaitu merupakan salah satu bagian dari praktek ilmu hitam yang dilakukan oleh dukun dengan bantuan mahluk gaib jin sebagai mediator untuk mencelakai korbannya. Namun perbedaannya adalah praktek ilmu hitam tersebut dikenal oleh masyarakat dahulu sebagai santet, sedangkan masyarakat sekarang menyebutnya sebagai santet.29
Upaya untuk memasukkan delik santet atau sihir dalam hukum pidana di Indonesia bukanlah hal yang mudah. Meskipun santet atau sihir dipandang sebagai perbuatan jahat, namun perbuatan tersebut sulit untuk dibuktikan. Sementara pembuktian dalam hukum pidana bertujuan untuk mencari kebenaran materiil dan
27 Ibid., hal. 164.
28 Ibid., hal. 604.
29 Ikha Safitri, “Kepercayaan Gaib dan Kejawen (Studi Kasus Pada Masyarakat Pesisir Kabupaten Rembang)”, Jurnal Kajian Kebudayaan Sabda 8 No. 1 April 201, hal. 20.
29 dalam sidang pengadilan juga tidak mungkin jika majelis hakim mendengarkan keterangan ahli dari paranormal.30 Upaya kriminalisasi tindakan mengenai persantetan dibuat dalam rumusan RUU-KUHP yang mengfokuskan pada kegiatan pencegahan terhadap praktik santet yang dilakukan oleh pemberi jasa santet. Yang akan dicegah atau diberantas adalah profesi tukang santet yang menawarkan jasa santet untuk mencelakakan atau membuat orang meninggal.31 Rumusan mengenai delik hukum santet atau sihir ini dapat lihat di dalam konsep RUU-KUHP Pasal 252 sebagai berikut ini:
“(1) Setiap orang menyatakan dirinya mempunyai kekuatan gaib, memberitahukan, memberikan harapan, menawarkan, atau memberikan bantuan jasa kepada orang lain bahwa karena perbuatannya dapat menimbulkan penyakit, kematian, atau penderitaan mental atau fisik seseorang dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (Tiga) tahun atau pidana denda paling banyak kategori IV. (2) Jika setiap orang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melakukan perbuatan tersebut untuk mencari keuntungan atau menjadikan sebagai mata pencaharian atau kebiasaan, pidananya dapat ditambah dengan 1/3 (satu per tiga).”32
30 Gede Yogi Arthani, “Praktek Paranormal dalam Kajian Hukum Pidana di Indonesia”, Jurnal Advokasi 5 No. 1, Maret 2015, hal. 36.
31 Satriadi, “Delik Santet Dalam Konstruksi RUU-KUHP”, Jurnal Hukum dan Politik Islam - Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone, Vol. 5 No. 2, Juli 2020, hal. 130.
32 Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 2019 Tentang Kitab Undang- Undang Hukum Pidana, hal, 57.
30 BAB III
BIOGRAFI TOKOH DAN PENAFSIRAN AYAT-AYAT TENTANG SIHIR A. Al-Qurtubi
1. Biografi Al-Qurtubi
Nama lengkap beliau yaitu Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farh Al-Anshori Al-Khazraji Al-Andalusi Al- Qurtubi. Beliau hidup di wilayah Spanyol berada di bawah pengaruh kekuasaan dinasti Muwahhidun yang berpusat di Afrika Barat dan Bani Ahmar di Granada sekitar abad ke-7 Hijriyah atau ke-13 Masehi.1
Kecintaan terhadap ilmu Al-Qurtubi beliau tuangkan dalam menulis sebuah kitab. Berkat kezuhudan dan kearifannya, ia korbankan waktunya hanya untuk beribadah dan mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Karya-karya yang beliau tuangkan dalam bentuk sebuah kitab meliputi beberapa bidang, diantaranya: bidang Hadist, Tafsîr, Fikih, Qira’at dan lain sebagainya. Adapun salah satu karya Imam Al- Qurtubi yang terkenal adalah kitab Tafsir Al-Jami’ Li Ahkami Al-Qur’an wa Al- Mubayyin Lima Tadhammanahu Min As-Sunnah wa Ayi Al-Furqan, yaitu kitab tafsir yang paling besar dan merupakan tafsir bercorak Fiqh.2
Al-Qurtubi dalam penulisan kitab tafsir di atas memulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas, dengan demikian beliau memakai sistematika mushafi, yaitu adalah menafsirkan Al-Qur’an sesuai dengan urutan ayat dan surat yang terdapat dalam mushaf.3 Beliau dalam menulis kitab tafsirnya menggunakan metode Tahlili, karena beliau berupaya menjelaskan seluruh aspek yang terkandung
1 Muhammad Husain Al-Dzahabi, Al-Tafsir Wal Mufassirun, Jilid 2 (Kairo: Dar Al-Hadis, 2005), hal.
401.
2 Ela Sartika, “Dimensi Bayani Dalam Tafsîr Al-Qur’ân Madzhab Maliki: Studi Penelitian Terhadap Tafsîr Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an Karya Al-Qurthubi”, Tesis (Bandung: UIN Sunan Gunung Djati, 2019), hal.
9.
3 Hamim Ilyas, Studi Kitab Tafsir, (Yogyakarta: Teras, 2004), hal. 68.
31 dalam Al-Qur’an dan mengungkapkan segenap pengertian yang dituju. Para pengkaji tafsir memasukkan tafsir karya Al- Qurtubi ini kedalam tafsir yang bercorak Fiqih, sehingga sering disebut sebagai Tafsir Ahkam. Karena dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an lebih banyak dikaitkan dengan persoalan-persoalan hukum.4
2. Penafsiran Ayat-Ayat Tentang Sihir Menurut Tafsir Al-Qurtubi5 a. Surat Al-Baqarah ayat 102
Dalam firman Allah ini teridapat dua puluh empat masalah:6 Pertama. Firman Allah Ta'ala:
ۖ َناَمْيَلُس ِكْلُم ٰىَلَع ُنيِطاَيَّشلا وُلْتَت اَم اوُعَبَّتا َو
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syetan-syetan pada masa kerajaan Nabi Sulaiman AS (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir.” Ini merupakan pernberitahuan dari Allah tentang segolongan orang yang melemparkan Al-Kitab, bahwa mereka pun mengikuti sihir. Mereka adalah orang-orang Yahudi.Muhammad bin Ishak berkata “Ketika Rasulullah menyebutkan bahwa nabi Sulaiman termasuk dari golongan para rasul, maka sebagian pendeta Yahudi berkata “Muhammad menganggap bahwa Ibnu Daud (Sulaiman) adalah seorang nabi. Demi Allah lbnu Daud hanyalah seorng penyihir.” Maka Allah 'Azzawa Jalla-pun menurunkan (ayat):
او ُرَفَك َنيِطاَيَّشلا َّنِكَٰل َو ُناَمْيَلُس َرَفَك اَم َو
“PadahalSulaiman tidak kafir (mengerjakan sihir), hanya syetan-syetan itulah yang kafir (mengerjakan sihir)."7
Ketika Sulaiman meninggal dunia orang-orang mengeluarkan tulisan sihir itu, dan mereka pun berkata kepada manusia, “Sesungguhnya Sulaiman menjadi raja kalian karena (sihir) ini. Maka pelajarilah oleh kalian.” Adapun ulama Bani Israil, mereka berkata “(Kami rnemohon) perlindungan kepada Allah Ta’ala jika ini merupakan ilmu Sulaiman.” Adapun kalangan yang Awam, mereka berkata “Ini
4 Muhammad Rifaldi, “Meninjau Tafsir Al-Jami’ Li Ahkami Al-Qur’an Karya Imam Al-Qurtubi”, Jurnal Iman dan Spiritualitas - UIN Sunan Gunung Jati Bandung, Volume 1, Nomor 1 Maret 2021, hal 93-94.
5 Peneliti melakukan inventarisasi penafsiran Al-Qurtubi tentang ayat-ayat sihir dalam karyanya kitab Tafsir Al-Jami’ Li Ahkami Al-Qur’an wa Al-Mubayyin Lima Tadhammanahu Min As-Sunnah wa Ayi Al-Furqan, yaitu: (1) Surat Al-Baqarah ayat 102, (2) Surat Al-‘Araf ayat 111-120, (3) Surat Al-Falaq ayat 4.
6 Peneliti hanya mengambil penafsiran yang berhubungan dengan