• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Sihir Menurut Al-Qurtubi dan Al-Alusi

Dalam dokumen SKRIPSI (Halaman 74-81)

BAB IV: PEMBAHASAN

A. Konsep Sihir Menurut Al-Qurtubi dan Al-Alusi

Berikut ini adalah analisis penafsiran ayat-ayat sihir menurut Al-Qurtubi dan Al- Alusi dalam masing-masing kitab tafsirnya yang dikelompokan menjadi beberapa sub kategori, diantaranya adalah sebagai berikut ini:

1. Makna dan Hakikat Sihir

Al-Qurtubi mengemukakan makna dari sihir yaitu usaha seseorang untuk menipu pandangan orang lain agar ia melihat sesuatu yang berbeda dengan aslinya. Permisalan dari tipuan pandangan tersebut dapat dilihat dari konsep fatamorgana, dimana seseorang seolah-olah melihat air padahal sebenarnya ia hanya melihat pasir.1

Usaha dan dampak dari sihir tersebut menurut Al-Qurtubi bersifat nyata dan memiliki hakikat, yang mana eksistensi tersebut dapat dilihat dalam tafsirnya surat Al-Baqarah ayat 102. Menurutnya, jika esktistensi sihir itu tidak ada dan tidak mempunyai hakikat, maka sihir tidak mungkin dapat dipelajari dan diajarkan kepada orang lain, serta Allah-pun tidak akan memberitahukan bahwa setan-setan yang kafir dimana mereka mengajarkan sihir kepada orang- orang di negeri Babil. Hal ini menunjulkan bahwa sihir itu memang nyata dan mempunyai hakikat. Kenyataan dan hakikat sihir tersebut dicontohkan dengan ketangkasan tangan-tangan seperti: tukang sulap dan pemain kartu.

Percontohan tersebut dikatakan oleh Al-Qurtubi dengan didasarkan pada pendapatnya Ibnu Faris.2

1 Abi Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar Al-Qurtubi, Al-Jami' Li Ahkami Al-Qur'an wa Al- Mubayyin Lima Tadhammanahu Min As-Sunnah wa Ayyi Al-Furqan, Jilid 1 (Beirut: Ar-Risalah, 2006), hal. 272.

2 Ibid., hal. 276.

61 Sedangkan makna dari sihir menurut Al-Alusi bahwasanya sihir adalah sesuatu yang aneh dan di luar kebiasaan yang didapat melalui pembelajaran yang untuk melakukannya seseorang membutuhkan bantuan dari setan dengan melakukan perbuatan-perbuatan buruk secara perkataan (jampi-jampi dengan kata-kata syirik, memuji syetan), perbuatan (menyembah bintang bukan atas nama Allah SWT, selalu berbuat jahat) dan keyakinan (menganggap baik sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada syetan dan menimbulkan kecintaan kepadanya).3

Adapun eksistensi sihir menurut Al-Alusi bersifat nyata dan memiliki hakikat, yang mana eksistensi tersebut dapat dilihat dalam tafsirnya surat Al- A’raf ayat 116. Menurutnya, sihir itu nyata serta memiliki hakikat. Beliau berpandangan tersebut berdasarkan pada dua alasan: (1) ditemukannya kata- kata buruk (jampi-jampi atau mantera) dimana logika tidak bisa mengesampingkan penyihir dengan pengetahuan tentang kekuatan kata yang merusak, (2) berasal dari pandangan Ahlussunnah dimana ditemukannya fakta kisah akan terkenanya nabi Muhammad Shalallohu ‘Alaihi wa Sallam oleh sihir yang dilakukan oleh orang Yahudi yang bernama Labid bin Al-‘A’sham dan kisah praktek sihirnya orang Yahudi dari daerah Khaibar kepada sahabat nabi yang bernama Ibnu Umar ketika beliau hendak pergi untuk menjaga pertanian pohon kurma.4

2. Sumber Keajaiban Sihir

3 Syihabuddin Mahmud Syukri Al-Alusi Al-Baghdadi, Ruh Al-Ma'ani fi Tafsir Al-Qur'an Al-Karim wa As-Sab' Al-Matsani, Jilid 1 (Beirut: Dar Ihya` At-Turats Al-‘Arabi, t.t), hal. 338.

4 Syihabuddin Mahmud Syukri Al-Alusi Al-Baghdadi, op. cit., Jilid 9, hal. 25.

62 Keajaiban atau yang bisa disebut dengan kejadian di luar nalar kebiasaan )ةداعلا قراخ( akibat perbuatan sihir menurut Al-Qurtubi memang ada dan itu pernah terjadi. Namun beliau menyakini kemunculan hal-hal luar biasa di tangan penyihir yang tidak mampu dilakukan manusia pada umumnya merupakan suatu fenomena yang tidak dapat diingkari. Namun fenomena semacan tersebut merupakan fenomena yang harus diyakini bahwa Allah tidak melakukan semua itu karena dikehendaki sang penyihir.5

Al-Qurtubi menekankan dalam tasfirnya surat Al-Baqarah ayat 102 bahwa walaupun si-penyihir itu mampu melakukan hal-hal luar biasa (ajaib), akan tetapi tindakan sihirnya bukanlah faktor yang memunculkan semua keajaiban itu, bukan merupakan alasan terjadinya semua itu, juga bukan sebab yang mendorong terjadinya hal itu. Dan penyihir-pun bukanlah sosok yang menciptakan semua itu secara independen. Akan tetapi, semua itu diciptakan oleh Allah SWT ketika adanya sihir tersebut, sebagaimana Allah SWT menciptakan perasaan kenyang setelah makan.6

Sedangkan menurut penafsiran Al-Alusi bahwa sumber keajaiban sihir seperti seseorang tiba-tiba bisa terbang di udara, berjalan di atas air, bunuh diri dan mengubah manusia menjadi keledai, pada dasarnya pelaku sejati semua perbuatan tersebut adalah Allah SWT yang sunnah-Nya tiada dapat terjadi dengan kemampuan penyihir. Pernyataan tersebut dapat ditemukan dalam surat Al-Baqarah ayat 102.7

Al-Alusi juga memberikan pernyataan lain mengenai sumber keajaiban sihir pada surat Al-A’raf ayat 116, bahwasanya pelaku semuannya yang

5 Abi Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar Al-Qurtubi, op. cit., Jilid 1, hal. 274.

6 Ibid., hal. 277.

7 Syihabuddin Mahmud Syukri Al-Alusi Al-Baghdadi, op. cit., Jilid 1, hal. 339.

63 menyebabkan sesuatu yang aneh dan di luar kebiasaan tersebut secara nyata adalah Allah SWT. Bahkan pada kisah terkenanya Muhammad SAW oleh sihir orang Yahudi, dimana hakikat terjadinya itu semua tidak ada yang mengerjakan selain Allah SWT dan apa yang terjadi semuanya dari-Nya.8

3. Strategi Sihir

Mengenai strategi dan metode pelaksanaan sihir, Al-Qurtubi mengungkapkan dalam tafsirnya surat Al-Falaq ayat 4, yaitu dengan cara mengikat atau ikatan. Hal tersebut didasarkan pada kisah Rasulullah SAW pernah disihir oleh seorang Yahudi yang berasal dari bani Zuraiq, namanya adalah Labid bin AI-A'sham. Sihir itu membuat beliau SAW berhalusinasi dengan mengira melakukan sesuatu yang tidak dilakukan. Berdasarkan riwayat dari lbnu Abbas, bahwa cara sihir tersebut dilakukan dengan membuat seludang mayang kurma yang diikat dengan sebelas ikatan yang dijahit dengan jarum dan beberapa gerigi sisir.9

Al-Qurtubi juga mengungkapkan strategi dan metode pelaksanaan sihir dalam surat surat yang sama, yaitu dengan cara meniupkan beberapa ikatan benang untuk melancarkan sihirnya. Dimana peniupan yang dilakukan pada saat melakukan sihir tersebut memiliki tujuan untuk membahayakan jiwa seseorang, bisa seperti merusak akal sehat seseorang agar terganggu atau bahkan menghilangkan nyawa orang yang disihir tersebut.10

Sedangkan strategi dan metode pelaksanaan sihir yang diungkapkan oleh Al-Alusi yaitu ketika menafsirkan surat Al-Falaq ayat 4 adalah dengan cara seseorang yang memiliki hati kotor dan jiwa yang jahat membuat beberapa

8 Syihabuddin Mahmud Syukri Al-Alusi Al-Baghdadi, op. cit., Jilid 9, hal. 25.

9 Abi Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar Al-Qurtubi, op. cit., Jilid 22, hal. 570.

10 Ibid., hal. 575.

64 buhul-buhul atau gulungan tali untuk kemudian meniupkan kejahatan ke dalam gulungan tali tersebut.11

Strategi lain dalam praktek sihir diungkapkan oleh Al-Alusi berdasarkan kisah terkenanya Nabi Muhammad SAW oleh sihirnya orang Yahudi, yaitu dengan cara membuat patung yang serupa dengan beliau SAW, kemudian pada patung tersebut ditusukan jarum berjumlah sebelas biji dan terakhir diikat dengan beberapa tali ikatan. Setelah sahabat yang diutus mendapatkan media sihir tersebut di sebuah sumur, kemudian ia mendatangi Rasulullah SAW kemudian beliau membacakan surat Muawwadzataini, akhirnya beliau merasakan sehat setelah membaca dua ayat tersebut.12

4. Hukum Melakukan Sihir

Mengenai hukum melakukan paraktek sihir, Al-Qurtubi beracuan pada pendapatnya Ibnu Al-Mundzir. Menurutnya dalam tafsirnya surat Al-Baqarah ayat 102, jika seseorang mengaku bahwa dia menyihir dengan ucapan yang bisa membuat ia kufur, atau ada laporan saksi dimana saksi tersebut menjelaskan bahwa ucapan (yang digunakannya) adalah ucapan yang dapat membuat kafir, maka dia wajib untuk dibunuh jika tidak bertaubat. Akan tetapi jika ucapan yang dia gunakan untuk menyihir itu bukanlah ucapan yang membuatnya menjadi kafir, maka dia tidak boleh dibunuh. Sedangkan pada kasus dimana seseorang mengucapkan sihir namun bukan ucapan yang membuatnya menjadi kafir, jika dia melakukan perbuatan kriminal secara disengaja yang mewajibkan Qishash pada diri orang yang disihir, maka dia harus di-Qishash karena perbuatannya itu. Tapi jika perbuatan kriminal tersebut tidak

11 Syihabuddin Mahmud Syukri Al-Alusi Al-Baghdadi, op. cit., Jilid 30, hal. 282.

12 Ibid., hal. 283.

65 mewajibkan Qishash maka dia diharuskan untuk membayar Diyat karena perbuatannya tersebut.13

Pendapat Al-Qurtubi mengenai hukum melakukan paraktek sihir ini, berbeda dengan pendapatnya madzhab Fiqh yang beliau anut, yaitu Madzhab Maliki. Dimana Madzhab Maliki, berpandangan bahwa seorang muslim jika mempraktikan sihir secara langsung melalui ucapan yang dapat membuat kafir, maka dia harus dibunuh dan tidak harus diperintahkan untuk bertaubat. Apabila saat itu ia hendak bertaubat, maka taubatnya tidak boleh diterima. Hal tersebut dikarenakan Allah SWT telah menamakan sihir sebagai suatu kekafiran dengan firman-Nya,

ْرُفْكَت َلَف ٌةَنْتِّف ُنْحَن اَمَّنِّإ َلَوُقَي ٰىَّتَح ٍدَحَأ ْنِّم ِّناَمِّ لَعُي اَم َو

“Sedang keduanya tidak mengaiarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan, sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.”

Adapun penyihir dzimi jika mempraktikan sihir, maka dia harus dihukum sesuai dengan kadar sihir tersebut. Namun jika dia membunuh (seseorang) dengan sihirnya, maka dia boleh dibunuh jika tindakan kriminal itu muncul darinya sepanjang dia tidak mendapatkan jaminan perlindungan.14

Sedangkan hukum melakukan paraktek sihir menurut Al-Alusi, dimana beliau berpandangan dalam tafsirnya surat Al-Baqarah ayat 102, dimana beliau mendasari pandangan tersebut dari Abu Mansur Al-Maturidi. Menurutnya hukum melakukan sihir adalah jika di dalam praktek sihir itu terdapat penolakan terhadap sesuatu yang pasti dari syarat keimanan maka ia menjadi kufur, dan jika tidak ada maka ia tidak dikatakan kufur melainkan dosa besar.

13 Abi Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar Al-Qurtubi, op. cit., Jilid 1, hal. 279.

14 Ibid., hal. 280.

66 Sehingga jika ada seseorang benar-benar bertaubat dari sihir, maka Allah SWT akan diterima oleh-Nya.15

Al-Alusi mengungkapkan pendapat yang paling masyhur mengenai hukum melakukan sihir, sehingga pendapat inilah yang dijadikan patokan olehnya ketika menghukumi pelaku sihir. Pendapat ini berdasar dari Abu Hanifah bahwa penyihir dibunuh secara mutlak jika diketahui bahwa ia adalah seorang penyihir dan taubatnya tidak diterima karena dia telah kafir. Hal tersebut dikarenakan terdapat hadist yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab bahwasanya ia berkata: “Bunuhlah setiap penyihir lelaki dan perempuan, kemudian para sahabat membunuh tiga orang penyihir.”16

Mengenai hukuman dibunuh bagi pelaku yang melakukan praktek sihir, peneliti tidak menemukan secara tekstual mengenai macam sihir apa yang dihukum seperti itu, baik berasal dari penafsiran Al-Qurtubi maupun Al-Alusi.

Namun dalam hemat peneliti hukuman dibunuh tersebut jika mengacu pada penjelasan Abu Abdullah Al-Razi dalam bukunya Wahid Abdussalam Bali berasal dari jenis atau macam sihir yang yang meminta bantuan mahluk gaib.

Sihir macam ini biasanya dilakukan oleh seorang penyihir dengan meminta bantuan kepada mahluk gaib seperti jin dan setan melalui mantera-mantera tertentu.17 Hal tersebut dikarenakan baik Al-Qurtubi18 maupun Al-Alusi19 memiliki pandangan yang sama bahwa para pelaku sihir akan melakukan

15 Syihabuddin Mahmud Syukri Al-Alusi Al-Baghdadi, op. cit., Jilid 1, hal. 339.

16 Ibid., hal. 339.

17 Wahid Abdussalam Bali, Sihir Keampuhan Al-Qur’an dalam Membentengi Diri Dari Pengaruh Sihir dan Terapi Pengobatannya Pada Penderita Akibat Sihir, (Jakarta: CV, Cendekia Sentra Muslim, 2001), Cet Ke- I, hal. 51.

18 Abi Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar Al-Qurtubi, op. cit., Jilid 1, hal. 271.

19 Syihabuddin Mahmud Syukri Al-Alusi Al-Baghdadi, op. cit., Jilid 1, hal. 338.

67 kerjasama dengan jin atau setan dengan beberapa mantera yang ditiupkan pada media sihir.

Dalam dokumen SKRIPSI (Halaman 74-81)

Dokumen terkait