MASYARAKA T
MADANI KELOMPOK 5
Galuh Permata Sari (200308038) Khairunnisa Mahirah (200308042)
Abdullah Harpersing Nst (200308029) Rakha Jabran Ochisa (200308076)
Priya mohanisyah putri (200308047) Muhammad Alvin Maulana (200308073) anis dwi silviandari (200308031) R.M.Iqbal (200308077)
Ramadhan adyaksa putra (200308071) Nazarudin (190308082)
Muhammad Jabar Maulana (200308069) Diaz Ananda Putra Nasution (200308035) Sri Andriyani (200308078)
KELOMPOK 5
A. Definisi Masyarakat Madani
Masyarakat madani adalah masyarakat yang demokratis. Istilah
”madani” berasal dari kata ”madaniah” yang berarti peradaban.
Istilah ini secara historis merujuk pada ”kota Nabi” di Arab yang
bernama Yatsrib, yang kemudian menjadi Madinah. Karakteristik
kehidupan sosial di Madinah pada masa Nabi yang dianggap ideal
menginspirasi pengorganisasian sosial modern yang ideal pula
dengan nama ”masyarakat madani”.
Jika dicari akar sejarahnya, maka dapat dilihat bahwa dalam masyarakat Yunani kuno masalah ini sudah mengemuka. Rahardjo (1997) menyatakan bahwa istilah civil society sudah ada sejak zaman sebelum masehi. Orang yang pertama kali yang mencetuskan istilah civil society ialah Cicero
(106-43 SM), sebagai orator Yunani kuno. Civil society menurut Cicero ialah suatu komunitas politik yang beradab seperti yang dicontohkan oleh masyakat kota yang memiliki kode hukum sendiri.
Sejarah Masyarakat Madani Berdasarkan sejarah, terdapat dua masyarakat yang terdokumentasi sebagai masyarakat madani, yaitu: a) Bangsa/masyarakat Saba’, kaumnya nabi Sulaiman AS., b) Masyarakat madinah. Masyarakat madinah terdokumentasi sebagai masyarakat madani setelah terjadinya traktat, perjanjian antara Rasulullah SAW beserta umat Islam dengan penduduk madinah yang beragama Yahudi dan beragama Watsani dari kaum Aus dan Khazraj. Perjanjian madinah berisi tentang kesepakatan ketiga unsure masyarakat untuk saling tolong menolong, menjadikan Al-qur’an sebagai pedoman dan konstitusi, menjadikan kedamaian dalam kehidupan social, menjadikan
Rasulullah Saw sebagai pemimpin, dan member kebebasan bagi penduduknya untuk memeluk agama serta beribadah sesuai dengan ajaran-ajaran agama yang dianutnya.
B. Sejarah
Masyarakat Madan
i
● Istilah masyarakat madani selain mengacu pada konsep civil society, juga berdasarkan pada konsep negara- kota Madinah yang dibangun Nabi Muhammad SAW pada tahun 622M. Masyarakat madani juga mengacu pada konsep tamadhun (masyarakat yang beradaban) yang diperkenalkan oleh Ibn Khaldun, dan konsep Al Madinah al fadhilah (Madinah sebagai Negara Utama) yang diungkapkan oleh filsuf Al Farabi pada abad pertengahan . Masyarakat madinah terdokumentasi sebagai masyarakat madani setelah terjadinya traktat, perjanjian antara Rasulullah SAW beserta umat Islam dengan penduduk madinah yang beragama Yahudi dan beragama Watsani dari kaum Aus dan Khazraj. Perjanjian madinah berisi tentang kesepakatan ketiga unsure masyarakat untuk saling tolong menolong, menjadikan Al-qur’an sebagai pedoman dan konstitusi, menjadikan kedamaian dalam kehidupan social, menjadikan Rasulullah Saw sebagai pemimpin, dan member kebebasan bagi penduduknya untuk memeluk agama serta beribadah sesuai dengan ajaran-ajaran agama yang dianutnya
.
C. Peran Umat Islam Dalam Mewujudukan Masyarakat Madani
Peranan umat islam di Indonesia untuk mewujudkan masyarakat madani sangat diperlukan karena umat islam merupakan masyarakat. Untuk mewujudkan harus ada upaya – upaya yang perlu dilakukan yaitu:
1.Keniscayaan peran umat islam
2.Keniscayaan sistem ekonomi dan kesejahteraan umat 3.Zakat dan wakaf sebagai instrumen kesejahteraan umat.
4. Mewujudkan tata sosial politik yang demokratis dan sistem ekonomi yang adil dan makmur bagi seluruh rakyat Indonesia
5. Sebagai pengembangan masyarakat melalui upaya peningkatan pendapatan dan pendidikan rakyat.
6. Mewujudkan tata sosial politik yang demokratis dan sistem ekonomi yang adil dan makmur bagi seluruh rakyat Indonesia
7. Sebagai pengembangan masyarakat melalui upaya peningkatan pendapatan dan pendidikan rakyat.
8. Sebagai advokasi bagi masyarakt yang “teraniaya”, tidak berdaya membela hak - hak dan kepentingan mereka (masyarakat yang terkena pengangguran, kelompok buruh, TKI, TKW yang digaji atau di PHK secara sepihak, di siksa bahkan di bunuh oleh majikannya dan lain - lain).
C. Peran Umat Islam Dalam Mewujudukan Masyarakat Madani
9. Keniscayaan peran umat islam.
10. Umat islam adalah umat yang diberikan oleh Allah di antara pemeluk agama yang lainnya. Umat islam memiiki aturan hidup yang sempurna dan sesuai dengan fitrah hidupnya. Dalam konteks masyarakat Indonesia, umat Islam adalah umat Islam yang sangat pasti peran umat islam sangat menentukan.
11. Keniscayaan sistem ekonomi dan kesejahteraan umat.
12. Sistem ekonomi islam menggunakan prinsip ekonomi yang diasaskan dan bangun oleh ajaran islam. Dimana dalam Al-Qur'an dan Hadits mempelajari motif laba (profit) dalam kegiatan ekonomi, namun terbatasi oleh syarat-syarat kehidupan moral.
Kehidupan sosial dan persekutuan pada setiap diri masyarakat. Islam mengharamkan riba, tipu daya, pemaksaan dan eksploitasi berlebihan dan mudarat. Islam lebih mengedepankan ekonomi pasar untuk mengembangkan harta. Sebab harta bukan saja untuk kesejahteraan pribadi tetapi juga kesejahteraan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
13. Zakat dan wakaf sebagai instrumen kesejahteraan umat.
14. Dalam ajaran islam ada dua dimensi hubungan yang harus dipelihara yaitu hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia lain dalam kehidupan bermasyarakat, kedua hubungan ini harus berjalan seimbang dan penuh dengan aturan..
15. Dengan terlaksanakannya hubungan tersebut maka manusia akan sejahtera baik dunia maupun akhirat. Untuk mencapai tujuan itu, maka diadakan zakat, sedekah, infaq, hibah dan wakaf. Dengan pengelolaan zakat dan wakaf dengan baik maka akan terwujud masyarakat madani yaitu masyarakat sejahtera sosial ekonomi.
KeadilanDalam islam sudah diterangkan dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits tentang aspek kehidupan dalam bermasyarakat.
Supremasi Hukum
Pentingnya adil karena sebenarnya Allah Maha melihat apa-apa yang kita kerjakan.
Persamaan
Saling menghargai dan menghormati karena umat manusia harus bersatu walaupun berbeda-beda
Pluralisme (kemajemukan)
Bersikap toleran yang tinggi dan saling menghormati.
Pengawasan sosial
Keterbukaan sebagai rasio pandangan dari pandangan positif dan optimis sesama manusia