• Tidak ada hasil yang ditemukan

Slide Materi Ketetapan MPR

N/A
N/A
Nandez Siregar

Academic year: 2024

Membagikan "Slide Materi Ketetapan MPR"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Ketetapan MPR Kelompok 2

materI

(2)

Aprian Chlara Erick

Enjelina

Nelson Filbert

Nelson Imanuel 1. 2.

3. 4.

5. 6.

Anggota mpr:

(3)

“ Ketetapan MPR atau disingkat TAP MPR

merupakan bentuk putusan MPR yang berisi hal-hal yang bersifat penetapan (beschikking). “

pENGERTIAN

KETETAPAN MPR

(4)

Ketetapan MPR adalah jenis keputusan MPR yang mengatur dan memiliki

kekuatan hukum. Menurut UU RI No. 12 Tahun 2011 (yang diubah oleh UU RI No.

13 Tahun 2022), Ketetapan MPR mencakup Ketetapan MPR Sementara dan yang masih berlaku sebagaimana diatur dalam Ketetapan MPR RI No. I/MPR/2003

tentang Peninjauan Materi dan Status Hukum Ketetapan MPR Tahun 1960- 2002.

Pasal 99 Peraturan MPR RI No. 1 Tahun 2019 membedakan Ketetapan MPR, Peraturan MPR, dan Keputusan MPR. Peraturan MPR berisi pengaturan dengan

kekuatan hukum dalam dan luar MPR, contohnya Tata Tertib MPR RI No. 1 Tahun 2019. Keputusan MPR adalah penetapan dengan kekuatan hukum dalam

MPR, seperti Kode Etik MPR RI No. 2/MPR/2010.

Ketetapan MPR berada di bawah UUD NRI Tahun 1945 dan tidak boleh

bertentangan dengannya. Ketetapan MPR bisa menjelaskan wewenang MPR dan merinci aturan dalam UUD NRI Tahun 1945. Contohnya, pelantikan dan

pemberhentian presiden dilakukan melalui Ketetapan MPR sesuai dengan Pasal

116 Peraturan MPR RI No. 1 Tahun 2019.

(5)

Tingkat I dalam konteks ini merujuk pada salah satu tahapan dalam proses

pembentukan ketetapan atau keputusan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) di

Indonesia. Proses ini biasanya berlangsung dalam beberapa tahap, dan Tingkat I adalah tahap awal dalam proses tersebut:

1. Pendahuluan:

Proses pembuatan ketetapan atau keputusan MPR dimulai dengan penerimaan bahan- bahan yang akan dibahas. Bahan-bahan ini bisa berupa usul, saran, atau masukan dari berbagai pihak, seperti fraksi-fraksi dalam MPR, pemerintah, atau masyarakat umum.

2. Pembahasan oleh Badan Pekerja MPR:

Setelah bahan-bahan tersebut diterima, Badan Pekerja MPR (biasanya terdiri dari anggota MPR yang dipilih atau ditunjuk) bertanggung jawab untuk melakukan

pembahasan awal terhadap bahan-bahan tersebut. Mereka akan memeriksa, menganalisis, dan membahas konten dari bahan-bahan tersebut.

TINGKAT 1

(6)

3. Rancangan Ketetapan/Keputusan MPR:

Hasil dari pembahasan di Tingkat I adalah penyusunan rancangan ketetapan atau

keputusan MPR. Rancangan ini berisi pokok-pokok pikiran atau substansi dari apa yang akan dibahas lebih lanjut dalam Tingkat II.

4. Bahan Pokok Pembicaraan Tingkat II:

Rancangan ketetapan atau keputusan MPR yang dihasilkan di Tingkat I kemudian

menjadi bahan pokok pembicaraan dalam Tingkat II. Ini adalah tahap lanjutan di mana MPR secara lebih mendalam membahas dan mengolah rancangan tersebut, serta

mungkin melakukan perubahan atau penyesuaian.

5. Tingkat II dan Proses Selanjutnya:

Proses berlanjut hingga Tingkat II dan seterusnya, sampai MPR mencapai kata sepakat mengenai ketetapan atau keputusan yang akan diambil. Proses ini dapat melibatkan diskusi, negosiasi, dan pengambilan keputusan yang melibatkan seluruh anggota MPR.

TINGKAT 1

(7)

Penting untuk dicatat bahwa proses ini merupakan salah satu bagian dari proses

demokratis dalam pembuatan keputusan di tingkat tinggi di Indonesia. Selama proses

ini, berbagai pandangan dan kepentingan dari berbagai pihak akan dipertimbangkan dan didiskusikan untuk mencapai kesepakatan yang baik untuk kepentingan negara dan

rakyat.

6. Pengesahan:

Setelah semua tahap selesai, ketetapan atau keputusan MPR diresmikan melalui

pengesahan dalam sidang pleno MPR. Hal ini mengubahnya menjadi keputusan resmi yang akan menjadi pedoman atau undang-undang yang mengikat.

TINGKAT 1

(8)

Yaitu pembahasan oleh rapat paripurna MPR yang didahului oleh penjelasan pimpinan dan dilanjutkan dengan pandangan umum fraksi fraksi

Pada tahap ini , rancangan ketetapan MPR yang dibahas akan lebih rinci oleh anggota MPR agar dapat membuat keputusan.

- setelah tahap 1,Proses perancangan mengenai apa yang akan dibahas lebih jelas lagi , termasuk juga dari isi ketetapan MPR ( uraian mengenai perubahan konstitusi atau ada isu penting yang perlu ditetapkan oleh pihak MPR).

- Setelah itu rancangan tersebut akan dibawa ke rapat paripurna MPR ( ini merupakan

forum resmi di mana anggota MPR berkumpul untuk membahas dan mengambil keputusan mengenai masalah yang signifikan).

- Pimpinan MPR atau pimpinan sidang akan memberikan penjelasan awal mengenai

rancangan ketetapan MPR. Penjelasan ini mencakup latar belakang, tujuan, dan urgensi dari ketetapan yang diajukan.

tINGKAT 2

(9)

Fraksi-fraksi yang ada di MPR akan diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangan umum mereka mengenai rancangan ketetapan MPR. Ini adalah tahap di mana fraksi-fraksi dapat mengemukakan argumen dan pendapat mereka terkait dengan ketetapan tersebut.

Setelah pandangan umum fraksi-fraksi disampaikan, akan dilakukan debat dan pembahasan lebih lanjut mengenai rancangan ketetapan MPR. Anggota MPR dapat mengajukan amendemen atau perubahan terhadap rancangan, dan perdebatan mungkin berlangsung sampai kesepakatan akhir tercapai.

Jika rancangan ketetapan MPR diterima oleh mayoritas anggota MPR dalam pemungutan suara, maka rancangan tersebut akan dianggap sah dan menjadi ketetapan resmi MPR.

Setelah disahkan, ketetapan MPR akan menjadi pedoman atau kebijakan resmi yang harus dijalankan oleh lembaga-lembaga dan pihak-pihak terkait sesuai dengan isi ketetapan tersebut.

tINGKAT 2

(10)

pembahasan oleh komisi/panitia ad hoc MPR terhadap semua hasil

pembicaraan tingkat I dan II. Hasil pembahasan pada tingkat III ini merupakan Rancangan Ketetapan atau keputusan MPR seperti Namanya, tahap ketiga ini melibatkan komisi-komisi MPR atau panitia ad hoc yang khusus dibentuk untuk mengkaji dan memfinalisasi rancangan ketetapan MPR.

- MPR dapat membentuk komisi-komisi atau panitia ad hoc dengan anggota

yang memiliki keahlian atau pengetahuan khusus terkait dengan masalah yang dibahas dalam ketetapan MPR tersebut. Tujuannya adalah untuk melakukan

pembahasan yang lebih mendalam.

- Komisi atau panitia ad hoc ini akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut

terhadap rancangan ketetapan MPR yang telah disetujui di Tingkat 2. Mereka akan memeriksa detail-detail ketetapan, menganalisis implikasi

pelaksanaannya, dan dapat mengusulkan perubahan atau amendemen jika dianggap perlu.

TINGKAT 3

(11)

- Rancangan ketetapan MPR yang telah disusun pada tingkat ini akan dibahas dan diadopsi oleh anggota MPR dalam rapat paripurna atau forum resmi lainnya, sehingga menjadi ketetapan MPR yang sah.

- Hasil pembahasan di Tingkat 3 akan menggabungkan semua masukan, pandangan, dan perubahan yang telah diajukan dan dibahas di Tingkat 1 dan Tingkat 2. Ini akan menjadi tahap final dalam penyusunan ketetapan MPR.

- Hasil dari pembahasan di Tingkat 3 akan dijadikan dasar untuk menyusun Rancangan Ketetapan MPR yang akan menjadi keputusan resmi MPR.

Rancangan ini mencakup semua ketentuan dan keputusan yang

diperlukan sesuai dengan topik atau isu yang diatur dalam ketetapan.

TINGKAT 3

(12)

Pembicaraan tingkat 4 dalam proses penyusunan ketetapan MPR adalah tahap implementasi dan pelaksanaan ketetapan MPR yang telah disahkan. Pada tahap ini, ketetapan MPR menjadi hukum atau kebijakan yang berlaku, dan langkah-langkah konkret diambil untuk mewujudkan isi ketetapan tersebut. Berikut adalah beberapa hal yang terjadi pada tahap ini:

1. Implementasi Kebijakan: Pemerintah atau lembaga-lembaga yang bertanggung jawab akan mulai menerapkan ketetapan MPR sesuai dengan isi dan ketentuannya. Ini bisa mencakup

perubahan dalam kebijakan publik, regulasi, atau program-program pemerintah.

2. Pelaksanaan Program dan Proyek: Jika ketetapan MPR berhubungan dengan program atau proyek tertentu, langkah-langkah akan diambil untuk memulai dan melaksanakan program tersebut sesuai dengan panduan yang telah diberikan oleh MPR.

tINGKAT 4

(13)

3. Pengawasan dan Evaluasi: Pada tahap ini, penting untuk melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap pelaksanaan ketetapan MPR. Ini dapat dilakukan oleh lembaga-

lembaga pengawas atau komite-komite yang relevan untuk memastikan bahwa

ketetapan tersebut diterapkan dengan benar dan mencapai tujuan yang diinginkan.

4. Pendanaan dan Anggaran: Jika ketetapan MPR memerlukan alokasi anggaran

tambahan, langkah-langkah akan diambil untuk mengalokasikan sumber daya yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan ketetapan tersebut.

5. Evaluasi Dampak : Dalam beberapa kasus, evaluasi dampak juga dapat dilakukan

untuk menilai efektivitas dan konsekuensi dari ketetapan MPR terhadap masyarakat dan ekonomi.

tINGKAT 4

(14)

Pembicaraan tingkat 4 adalah tahap kunci dalam siklus kebijakan, karena inilah ketetapan MPR benar-benar

dijalankan dan memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat. Selain itu, tahap ini juga melibatkan

koordinasi antara berbagai lembaga pemerintah, pemangku kepentingan, dan masyarakat untuk

memastikan bahwa ketetapan MPR diimplementasikan dengan baik.

tINGKAT 4

(15)

SekIAN DAN TERIMA KASIH

Referensi

Dokumen terkait

“Penjelasan Pasal 7 ayat (1) ini menyebutkan „ Yang dimaksud dengan Ketetapan MPR adalah Ketetapan MPRS dan Ketetapan MPR yang masih berlaku sebagaimana Pasal 2

Majelis Permusyawaratan Rakyat bersidang sedikitnya sekali dalam lima tahun di ibukota negara Sidang MPR terdiri atas sidang umum dan sidang istimewa. Sidang Umum yaitu rapat

Permusyawaratan dalam Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Tanggal 1 sampai dengan 9 Nopember 2001 yang membahas Rancangan Ketetapan Majelis

Ditempatkannya kembali Ketetapan MPRS dan Ketetapan MPR RI sebagai salah satu jenis perundang-undangan dalam hierarki perundang-undangan sebagaimana diatur

Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XVI/MPR/1998 tentang Politik Ekonomi dalam Rangka Demokrasi Ekonomi, dinyatakan tetap berlaku dengan

Penempatan Ketetapan MPR ke dalam jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan sebagaimana diatur di dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 ternyata terabaikan,

Permusyawaratan dalam Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tanggal 1 sampai dengan 11 Agustus 2002 yang membahas usul Rancangan Ketetapan

Bahwa  dengan  diberikan  hak  uji  meterial  undang­undang  kepada  MPR . dengan bentuk peraturan Ketetapan MPR No.