• Tidak ada hasil yang ditemukan

SLIDE PANDANGAN ISLAM TENTANG PERILAKU SEKSUAL

N/A
N/A
Hney Xelow

Academic year: 2023

Membagikan "SLIDE PANDANGAN ISLAM TENTANG PERILAKU SEKSUAL"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

PANDANGAN ISLAM TENTANG PERILAKU SEKSUAL

(HUKUM LGBT, PORNOGRAFI, PORNOAKSI, TUNTUNAN RASULULLAH SAW, KISAH KAUM

NABI LUTH DAN PENCEGAHANNYA

(2)

Apa itu Seks?

Seks adalah perbedaan badani atau biologis perempuan dan laki-laki yang sering disebut jenis kelamin.

Sedangkan seksualitas menyangkut berbagai dimensi yang sangat luas yaitu dimensi

biologis, sosial, psikologis dan kultural.

(3)

Seksualitas dimensi biologis:

Berkaitan dengan organ reproduksi dan alat kelamin termasuk bagaimana menjaga

kesehatan dan memfungsikan secara optimal organ reproduksi dan dorongan seksual.

Seksualitas dimensi psikologis”

Bagaimana menjalankan fungsi sebagai makhluk seksual.

(4)

Seksualitas dimensi sosial:

Bagaimana pandangan lingkungan dalam membentuk pandangan seksualitas yang akhirnya membentuk perilaku seksual.

Seksualitas dimensi kultural:

Menunjukkan perilaku seks menjadi bagian dari budaya yang ada di masyarakat.

(5)

Saat puber, organ-organ reproduksi sudah mulai berfungsi, hormon-hormon seksualnya juga

mulai berfungsi. Hormon-hormon inilah yang menyebabkan dorongan seksual, yaitu hormon esterogen dan progesteron pada perempuan serta hormon testosteron pada laki-laki.

(6)

Perilaku Seksual

Sarlito Wirawan, psikolog berkata:

Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Bentuk-

bentuk tingkah laku ini beraneka ragam mulai dari perasaan tertarik hingga kencan,

bercumbu dan bersenggama. Objek

seksualnya bisa berupa orang lain, bisa juga

terhadap diri sendiri seperti onani, masturbasi

(7)

Seks Dalam Pandangan Islam

Manusia diciptakan berpasang-pasangan dan memiliki kecenderungan kepada pasangannya.

ْ نِمَو

ِْهِتَيَآ

ْ نَأ

َْقَلَخ

ْ مُك َْل

ْ نِم

ُْكِسُف نَأ

ْ م ْ م ُْكَن يَ ب َْلَعَجَو ا َْه يَلِإ اوُنُك سَتِل اًجاَو زَأ

ًْةَّدَوَم

ًْةَ حَْرَو

َّْنِإ

َْكِلَذ ِْف

َْيَلآ

ْ م وَقِل ْ ت

َْفَ تَ ي

َْنوُرَّك

(

٢١

)

(8)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari

jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum (30):21)

(9)

َّْشلاُّْبُحِْساَّنلِلَْنِِّيُز

ِِّْنلاَْنِمْ ِتاَوَه

ِْءاَس

ِْيِطاَنَق لاَوَْينِنَب لاَو

َْنِمِْةَرَط نَقُم لاْ

ْ ِبَهَّذلا

ْ لاْ ِل يَ لْاَوِْةَّضِف لاَو

َْع نلأاَوِْةَمَّوَسُم

ِْما َْي نُّدلاِْةاَيَ لْ اُْعاَتَمَْكِلَذْ ِث رَ لْاَو

َُّْللَّاَوْا

ْ ِبآَم لاُْن سُحُْهَد نِع (

١٤

)

(10)

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu:

wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang- binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah- lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran (3): 14)

(11)

Manusia menyalurkan hasrat seksualnya dengan jalan pernikahan bukan dengan perzinahan.

اوُبَر قَ ت لاَو

َْنِِّزلا

ُْهَّنِإ

َْنا َْك

ًْةَشِحاَف

َْءاَسَو

َْس لايِب

( ٣٢ )

“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’ (17): 32)

(12)

Hubungan seksual dalam Islam dinilai berpahala jika sudah menikah, tetapi hubungan seks di luar pernikahan haram dan berdosa.

ِْفَو

ِْع ضُب

ْ مُكِدَحَأ

َْقَدَص

ْ ة اوُلاَق

َْيَ

َْلوُسَر

َِّْللَّا

ِْتَيََأ

َْنُدَحَأ

ُْهَتَو هَش

ُْنوُكَيَو

َْلُْه اَهيِف

ْ ر جَأ

َْلاَق

ْ مُت يَأَرَأ

ْ وَل

اَهَعَضَو

ْ ماَرَح ِْف

َْناَكَأ

َْلَع

ِْه ي اَهيِف

ْ ر زِو

َْكِلَذَك َْف

اَذِإ اَهَعَضَو

ِْل َلاَ لْا ِْف

َْن اَك

ُْهَل

اًر جَأ

(13)

“Dan hubungan intim di antara kalian (suami- istri) adalah sedekah.” Para sahabat bertanya,

“Wahai Rasulullah, bagaimana bisa mendatangi istri dengan syahwat (disetubuhi) bisa bernilai pahala?” Ia berkata, “Bagaimana pendapatmu jika ada yang meletakkan syahwat tersebut pada yang haram (berzina), bukankah bernilai dosa?

Maka sudah sepantasnya meletakkan syahwat tersebut pada yang halal mendatangkan

pahala”. (HR. Muslim no. 1006).

(14)

• Islam mengatur adab-adab jima’

(berhubungan suami-istri)

ْ مُكُؤاَسِن

ْ ث رَح

ْ مُكَل اوُت أ َْف

ُْكَث رَح

ْ م

َّْنَّأ

ْ مُت ئِش اوُمِِّدَقَو

ُْف نلأ

ْ مُكِس

ْوُقَّ تاَو

ََّْللَّا ا

اوُمَل عاَو

ْ مُكَّنَأ

ْوُقلاُم

ِْرِِّشَبَو ُْه

ُْم لا

َْينِنِم ؤ

(

٢٢٣

)

(15)

isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira

orang-orang yang beriman. (QS. Al-Baqarah (2):223)

(16)

• Nafsu seksual itu harus dikendalikan dengan melakukan puasa

ْ نَم

َْعاَطَت سا

َْةَءاَب لا

ْ جَّوَزَ تَ ي ل َْ ف

ُْهَّنِإ َْف

ُّْضَغَأ

ِْرَصَب لِل

ُْنَص حَأَو

ِْج رَف ل ِْل

ْ نَمَو

ْ عِطَت سَي ْ َل

ِْه يَلَعَ ف

ِْم وَّصلِبِ

ُْهَّنِإ َْف

ُْهَل

ْ ءاَجِو

(17)

Barangsiapa yang sudah memiliki kemampuan untuk menikah, menikahlah, karena

sesungguhnya menikah itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Dan

barangsiapa yang belum sanggup menikah, maka baginya berpuasa karena sesungguhnya itu menjadi benteng baginya”. (HR. Bukhari)

(18)

• Islam memberikan pencegahan dari tindakan seksual yang menyimpang

َْعْ َلَِإُْلُجَّرلاُْرُظ نَ يْ َلا

َْلاَوِْلُجَّرلاِْةَر و

ُْةَأ رَم لاْ

ُْ يْ َلاَوِْةَأ رَم لاِْةَر وَعْ َلَِإ

ِْإُْلُجَّرلاْيِض ف

ْ َلَ

َْوْ دِحاَوْ ب وَ ثْ ِفِْلُجَّرلا

َْم لاْيِض فُ تْ َلا

ْ َلَِإُْةَأ ر

َْو لاْ ِب وَّ ثلاْ ِفِْةَأ رَم لا

ِْدِحا

(19)

“Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki- laki lain, dan jangan pula seorang wanita melihat aurat wanita lain. Dan janganlah seorang laki-

laki memakai satu selimut dengan laki-laki lain dan jangan pula seorang wanita memakai satu selimut dengan wanita lain”. (HR. Muslim dari Abi Said al-Khudri).

(20)

Hukum LGBT, Pornografi, Pornoaksi

Persoalan pornografi pernah dibahas oleh Majelis Tarjih dan Tajdid dalam Musyawarah Nasional Tarjih ke-26 Tahun 2003 di Padang Sumatera Barat, dan telah dikeluarkan

keputusan tentang Pornografi dan Pornoaksi.

Pada prinsipnya, hukum pornografi dan pornoaksi adalah haram. Berikut ini kami

kutipkan Keputusan Munas Tarjih ke-26 tahun 2003 tentang Pornografi dan Pornoaksi:

(21)

• Pornografi adalah semua produk berupa

gambar, tulisan, dan suara yang menimbulkan nafsu birahi yang pemanfaatannya

bertentangan dengan agama, moral, dan

kesopanan. Pornoaksi adalah sikap, perilaku, gerakan tubuh, suara yang erotis dan sensual baik dilakukan secara sendirian atau bersama- sama yang pemanfaatannya bertentangan

dengan agama, moral dan kesopanan.

(22)

Pornografi dan pornoaksi merebak antara lain disebabkan oleh : (a) munculnya era kebebasan media cetak dan elektronika, dan pergaulan

bebas, (b) semakin massifnya kasus perjudian, minum-minuman keras, narkoba, pencurian

(termasuk korupsi), dan perzinahan, (c)

fenomena busana mini dan seksi, (d) pengaruh iklan obat kuat dan pemakaian kontrasepsi, (e) budaya global, termasuk budaya konsumeristik dan hedonistik.

(23)

• Pertimbangan dalam mensikapi merebaknya pornografi dan pornoaksi adalah: (a)

kenyataan bahwa pornografi dan pornoaksi memiliki dampak yang sangat negatif, (b)

membiarkan pornografi dan pornoaksi dapat berakibat pada penghancuran bangsa, dan (c) sebagian besar ummat Islam dan bangsa

Indonesia belum memberikan perhatian secara maksimal terhadap pornografi dan pornoaksi dan dampaknya.

(24)

• Akibat-akibat negatif pornografi dan pornoaksi antara lain; (a) dapat membangkitkan

seksualitas yang liar, (b) dapat menimbulkan kekacauan (chaos) sosial, (c) dapat melahirkan prostitusi dan kriminalitas, (d) meracuni

kerangka pikir dan menggelapkan hati nurani, (e) meluluhlantakkan nilai-nilai agama dan

moral.

(25)

• Hukum pornografi dan pornoaksi adalah

haram, sesuai dengan al-Quran, as-Sunnah al- Maqbulah, dan beberapa kaidah fiqhiyyah

(terlampir), sedangkan untuk kepentingan pendidikan, medis, penelitian, dan kegiatan ilmiah lainnya adalah bukan pornografi dan pornoaksi, hukumnya adalah mubah sesuai dengan kaidah fiqhiyyah: “al-Hajatu qad

tanzilu manzilat al-dharurat”.

(26)

Penanggulangan pornografi dan pornoaksi dapat

dilakukan melalui cara preventif dan repressif. Preventif dilakukan dalam bentuk: (a) kampanye anti pornografi dan pornoaksi baik melalui media cetak, elektronik, intranet, maupun internet; (b) sosialisasi anti

pornografi dan pornoaksi melalui pendidikan akhlaq al- karimah; (c) penyediaan sarana: pembinaan,

pengawasan, rehabilitasi, dan peran serta masyarakat.

Sementara itu, penanggulangan repressif dilakukan melalui: (a) mendesak adanya undang-undang anti pornografi dan pornoaksi melalui lobying dan aksi

sosial; (b) dibentuknya badan sensor yang independen.

(27)

Kisah Kaum Nabi Luth

ُْكَّنِإِْهِم وَقِلَْلاَقْ ذِإْاًطوُلَو

ِْحاَف لاَْنوُت أَتَلْ م

ْاَمَْةَش

اَْنِمْ دَحَأْ نِمْاَِبِْ مُكَقَ بَس

َْينِمَلاَع ل (

٢٨ )

Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya, “Kamu benar-benar melakukan

perbuatan yang sangat keji (homoseksual) yang belum pernah dilakukan oleh seseorang pun dari umat sebelum kaum di dunia ini”.

Q.S. Al Ankabut (29): 28.

(28)

Kalimat ata’tuuna” (mengapa kalian mengerjakan) diganti dengan innakum

lata’tuuna” (kamu benar-benar mengerjakan).

Ayat di atas adalah sebagian ayat yang

menjelaskan tentang LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender). Akronim (singkatan) ini mulai digunakan semenjak tahun 1990-an dan

menggantikan para komunitas gay karena istilah ini lebih mewakili kelompok-kelompok yang telah disebutkan.

(29)

Lesbian adalah wanita yang mencintai atau

merasakan rangsangan seksual dengan sesama wanita.

Gay adalah istilah yang digunakan bagi lelaki penyuka sesama lelaki.

Biseksual adalah orang yang memiliki ketertarikan kepada lelaki sekaligus kepada perempuah,

Transgender adalah orang yang memiliki identitas gender atau ekspresi gender yang berbeda

dengan seksnya yang ditunjuk saat lahir (waria/wadam).

(30)

Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili mengidentifikasihkan tiga istilah yang relevan dengan LGBT yaitu zina, liwath dan Sihaq.

Pertama, Zina yaitu hubungan kelamin antara lelaki dengan wanita yang bukan pasangan suami istri yang sah.

Kedua, Liwath (Gay) yaitu hubungan homoseksual antara lelaki dengan lelaki.

Ketiga, Sihaq (lesbi) yaitu hubungan homoseksual antara wanita dan wanita.

Para ulama sepakat bahwa Liwath (gay) dan Sihaq (lesbi) statusnya lebih buruk dibandingkan Zina.

(31)

• Perbuatan ini merupakan suatu hal yang belum pernah dilakukan oleh seorang

keturunan Adam dan belum pernah terlintas dalam hati mereka untuk melakukannya selain kaum Sodom. Semoga laknat Allah tetap

menimpa mereka”.

• Sehubungan dengan firman Allah: “Yang

belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia) ini sebelum kalian”.( Q.S Al-A’araf: 80).

(32)

Imam Ash-Shan’ani (1059-1182 H) dalam “Subulus salam”

mengatakan ada 4 pendapat tentang hukuman bagi pelaku homoseksual:

Dihukum dengan hadd zina yaitu dirajam bagi

yang muhshan dan dijilid bagi yang ghairu muhshan.

Dibunuh baik pelaku maupun obyeknya baik muhshan maupun ghairu muhshan.

Dibakar dengan api, baik pelaku maupun obyeknya. Ini

adalah pendapat para sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam.

Dilempar dari tempat yang tinggi dengan kepala di bawah kemudian dilempari batu. ini adalah pendapat Abdulllah Bin Abbas Radhiallahu anhu.

(33)

Pencegahannya

ْيراخبلاْحيحص (

18 / 239

ْ نُغْاَنَ ثَّدَحْ راَّشَبُْن بُْدَّمَُمُْاَنَ ثَّدَح)

َْتَ قْ نَعُْةَب عُشْاَنَ ثَّدَحْ رَد

َْةَمِر كِعْ نَعَْةَدا

َْلاَقْاَمُه نَعَُّْللَّاَْيِضَرْ ساَّبَعِْن باْ نَع

َْنَعَل

َْوِْه يَلَعَُّْللَّاْىَّلَصَِّْللَّاُْلوُسَر

َْمَّلَس

ِِّْرلاْ نِمَْينِهِِّبَشَتُم لا

ِْءاَسِِّنلِبِْ ِلاَج

ِْلاَجِِّرلِبِِْءاَسِِّنلاْ نِمْ ِتاَهِِّبَشَتُم لاَو

“Rasulullah saw melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang

menyerupai laki-laki”. (HR. Bukhari 5885, 6834)

(34)

ْدوادْبىأْننس (

11 / 137 )

اَعْوُبَأْاَنَ ثَّدَحْ ب رَحُْن بُْ يَهُزْاَنَ ثَّدَح

ْ نَعْ ل َلاِبِْن بَْناَم يَلُسْ نَعْ رِم

ْ نَعْ ل يَهُسْ

َْلاَقَْةَر يَرُهْ ِبَِأْ نَعِْهيِبَأ

َْلَعَُّْللَّاْىَّلَصَِّْللَّاُْلوُسَرَْنَعَل

َْب لَ يَْلُجَّرلاَْمَّلَسَوِْه ي

ِْةَأ رَم لاَْةَس بِلُْس

ِْلُجَّرلاَْةَس بِلُْسَب لَ تَْةَأ رَم لاَو

“Rasulullah saw melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai

pakaian laki-laki” (HR. Abu Daud no. 3575)

(35)

ْيراخبلاْحيحص (

21 /

111 )

َْحَْميِهاَر بِإُْن بُْمِل سُمْاَنَ ثَّدَح

َْنَ ثَّدَحْ ماَشِهْاَنَ ثَّد

ْ نَعْ َيَ َيَْا

اَْيِضَرْ ساَّبَعِْن باْ نَعَْةَمِر كِع

َْلاَقْاَمُه نَعَُّْللَّ

ْ يَلَعَُّْللَّاْىَّلَصُّْ ِبَِّنلاَْنَعَل

َْينِثَّنَخُم لاَْمَّلَسَوِْه

ْ ِلاَجِِّرلاْ نِم

َْقَوِْءاَسِِّنلاْ نِمْ ِت َلاِِّجََتَُم لاَو

ِْتوُيُ بْ نِمْ مُهوُجِر خَأَْلا

ْ مُك

ًْن َلاُفَْجَر خَأَو

ًْن َلاُفُْرَمُعَْجَر خَأَو

(36)

“Nabi saw melaknat laki-laki yang menyerupai wanita (mukhannats) dan wanita yang

menyerupai laki-laki (mutarojjilah) dan beliau saw bersabda, “Keluarkan mereka (usir) dari rumah-rumah kalian”. Maka Rasulullah saw mengeluarkan fulan dari rumahnya dan umar juga mengeluarkan fulan dari rumahnya”. (HR.

Bukhari 5886).

(37)

ْملسمْحيحص (

2 / 238 )

َّْدَحَْةَب يَشْ ِبَِأُْن بِْر كَبْوُبَأْاَنَ ثَّدَح اْ نَعْ ِباَبُ لْاُْن بُْد يَزْاَنَ ث

ِْن بِْكاَّحَّضل

َْعَْمَل سَأُْن بُْد يَزْ ِنََِبَ خَأَْلاَقَْناَم ثُع

َْسْ ِبَِأِْن بِْنَ حَّْرلاِْد بَعْ ن

ِِّْيِر دُ لْاْ ديِع

ِْهيِبَأْ نَع

َْسَوِْه يَلَعَُّْللَّاْىَّلَصَِّْللَّاَْلوُسَرَّْنَأ

ْ َلاَقَْمَّل

ُْلُجَّرلاُْرُظ نَ يْ َلا

ِْةَر وَعْ َلَِإْ

ْ رَم لاِْةَر وَعْ َلَِإُْةَأ رَم لاْ َلاَوِْلُجَّرلا

ِْإُْلُجَّرلاْيِض فُ يْ َلاَوِْةَأ

ْ ِفْ ِلُجَّرلاْ َلَ

َْلَِإُْةَأ رَم لاْيِض فُ تْ َلاَوْ دِحاَوْ ب وَ ث

ْ لاْ ِب وَّ ثلاْ ِفِْةَأ رَم لاْ

ِْدِحاَو

(38)

“Seorang laki-laki janganlah melihat aurat laki- laki lainnya. Begitu pula seorang wanita

janganlah melihat aurat wanita lainnya. Seorang laki-laki tidak boleh tidur dengan laki-laki lain dalam satu selimut dan seorang wanita tidak boleh tidur dengan wanita lain dalam satu selimut” (HR. Muslim)

Referensi

Dokumen terkait

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b, perlu menetapkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam tentang Pedoman Pelaksanaan

P Apakah anda merasa puas hanya dengan perkawinan kontrak B 103 S Gak lah De,pengen juga merasakan mamiliki suami seutuhnya 104 P Dampak positif atau negatif apa yang anda

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam tentang Penetapan

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Keputusan Pejabat Pembuat Komitmen Direktorat Pendidikan Tinggi

a) Laporkan jumlah pemasok yang harus menjalani asesmen terkait dampak hak asasi manusia. b) Laporkan jumlah pemasok yang diidentifikasi memiliki dampak yang benar-benar

konsekuensi negatif yang lebih serius daripada tingkat hukuman yang dilakukan. b) Hukuman harus digunakan hanya oleh orang-orang yang memiliki kedekatan dan penuh kasih sayang

bahwa berdasarkan pertimbangan pada huruf a dan b di atas perlu ditetapkan dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam tentang Izin Pembukaan Program Studi pada

Pergerakan dari titik A ke titik B, dari titik B ke titik C, dari titik A ke titik C dan sebagainya perpindahan dari satu ke titik lainnya, berarti konsumen ingin mendapatkan lebih