• Tidak ada hasil yang ditemukan

SOP PEDOMAN STRATEGI ANTI FRAUD (SAF)

N/A
N/A
Ahmad Faruq

Academic year: 2024

Membagikan "SOP PEDOMAN STRATEGI ANTI FRAUD (SAF)"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dasar Hukum

Tujuan Penyusunan Kebijakan Anti Fraud

Kajian Berkala

Ruang Lingkup

Definisi

KETENTUAN UMUM IMPLEMENTASI KEBIJAKAN STRATEGI

Ketentuan Umum …

Peluang terjadinya kecurangan di PT BPR Nusamba Pecangaan diharapkan dapat dicegah atau setidaknya dikurangi dengan membangun budaya kejujuran, keterbukaan, program pendampingan pegawai, dan upaya menghilangkan peluang pegawai untuk melakukan kecurangan, baik yang mereka lakukan. baik secara sendiri-sendiri maupun sendiri-sendiri atau dengan melibatkan pihak di luar PT BPR Nusamba Pecangaan. Oleh karena itu, untuk mengurangi risiko terjadinya kecurangan di PT BPR Nusamba Pecangaan, perlu disikapi dengan kewaspadaan dan antisipasi tidak hanya potensi kecurangan yang timbul secara internal namun juga eksternal. Selama ini, baik secara langsung maupun tidak langsung, Bank telah menerapkan pencegahan Fraud, antara lain melalui penerapan Manajemen Risiko khususnya sistem pengendalian internal, dan penerapan tata kelola perusahaan yang baik (GCG).

Namun demikian, agar penerapan strategi anti-fraud dapat berjalan efektif, masih diperlukan upaya peningkatan budaya sadar risiko agar pencegahan Fraud benar-benar menjadi pusat perhatian dan budaya di PT BPR Nusamba Pecangaan di seluruh tingkatan organisasi. , baik oleh Direksi, Dewan Pengawas maupun oleh pegawai, Unit atau fungsi Anti Fraud berfungsi mengoordinasikan Strategi Anti Fraud dengan memastikan dan memantau penerapan 4 (empat) pilar Anti Fraud Strategi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Kebijakan Strategi Anti Fraud

Sebagai wujud komitmen Dewan terhadap kebijakan strategi anti-fraud Perseroan, Direksi Perseroan tidak memberikan toleransi terhadap segala bentuk penipuan, baik yang berasal dari dalam maupun luar Perseroan. Penerapan kebijakan anti Fraud melibatkan setiap unit kerja dengan peran dan tanggung jawab sesuai dengan kewenangannya yaitu. Komitmen Anti Fraud menjadi dasar penyusunan kebijakan bisnis, operasional, sistem dan prosedur setiap perusahaan, termasuk penerapan manajemen risiko, prinsip GCG, dan sistem pengendalian internal;

Jenis perbuatan yang tergolong penipuan adalah penipuan, penipuan, penggelapan harta kekayaan, pembocoran informasi, tindak pidana pada bank (tipi bank) dan perbuatan lain yang dapat disamakan dan/atau sesuai dengan pengelompokan kejadian penipuan. sesuai dengan ketentuan penerapan manajemen risiko yang berlaku, misalnya klasifikasi peristiwa Fraud pada Lampiran; Unit Kerja Pelapor wajib melaporkan setiap Kejadian Fraud (berapa pun nilai kerugiannya sebelum pemulihan/penanganan Insiden Fraud) dengan mencatat kejadian tersebut dalam Register Insiden Fraud, paling lambat 24 jam sejak unit kerja mengetahui adanya kejadian Fraud tersebut. Insiden penipuan. kepada Satuan Kerja Kepatuhan. Perseroan melalui Satuan Kerja Kepatuhan, dengan persetujuan direktur yang membawahi fungsi kepatuhan, wajib melaporkan kejadian Fraud yang diperkirakan berdampak negatif signifikan terhadap Perseroan dan/atau nasabah serta berpotensi menimbulkan kerugian. melakukan penipuan. perhatian masyarakat dalam waktu paling lama 3 hari setelah perseroan diberitahu mengenai adanya kejadian penipuan di kalangan direksi dan dewan pengawas;

Perusahaan melalui Satuan Kerja Kepatuhan dengan persetujuan Direktur yang membidangi fungsi kepatuhan wajib melaporkan pelaksanaan Kebijakan Strategi Anti Fraud setiap semester untuk posisi bulan Juni dan Desember paling lambat tanggal 10 (sepuluh) hari kerja setelah bulan pelaporan kepada Dewan Komisaris; Pengendalian melalui review berkala minimal setahun sekali oleh Manajemen (Senior Level Review) yang dikoordinasikan oleh Satuan Kerja Kepatuhan dan dilaporkan kepada Direksi; serta peninjauan operasional (tinjauan fungsional) oleh Audit Internal atas penerapan Kebijakan Strategi Anti Fraud;

STRUKTUR ORGANISASI ANTI FRAUD

Aspek Manajemen Risiko

Cakupan Minimum

Pengawasan aktif dewan dan komisaris kemudian dilimpahkan kepada seluruh unit kerja di kantor pusat dan cabang. Dalam menyusun kebijakan dan prosedur pelaksanaan pengendalian Fraud yang telah disusun bank, perlu memperhatikan ukuran bank dan kompleksitas kegiatan usaha bank. Kebijakan dan prosedur tersebut harus dikomunikasikan secara efektif kepada seluruh tingkatan organisasi bank dan berbagai pihak yang terkait dengan bank.

Kebijakan dan prosedur dirancang untuk mengurangi risiko yang teridentifikasi dan mencegah perilaku yang mengarah pada penipuan.

Struktur Organisasi, Tugas dan Tanggungjawab

Pedoman penerapan strategi anti-fraud 16 Dalam penerapan strategi anti-fraud, jajaran organisasi dan setiap karyawan PT. Pedoman penerapan strategi anti-penipuan 19 a) Bertanggung jawab untuk menilai jenis risiko yang ada. dalam transaksi perbankan;. Dalam melakukan pengendalian dan pemantauan, Bank akan mengambil langkah-langkah yang bertujuan untuk meningkatkan efektivitas penerapan strategi anti-fraud.

Pedoman Penerapan Strategi Anti-Fraud 26 4) Kerugian (jika ada) akibat penipuan akan dipulihkan. pemulihan) dan didokumentasikan dengan baik, dan. Pedoman Penerapan Strategi Anti Fraud 31 kesalahan pada suatu fakta, yang kemudian menyajikan kesimpulan atas rangkaian temuan dan rangkaian kejadian. Pelaporan ini tidak mengurangi kewajiban Bank untuk mengambil tindakan sesuai dengan strategi anti-fraud.

Peraturan sanksi diatur tersendiri dari Pedoman Penerapan Strategi Anti Fraud dengan menerbitkan Peraturan Perusahaan dan/atau Keputusan Direksi (Resolusi Direksi). Pedoman Penerapan Strategi Anti Fraud 33 dan Penyebab Fraud serta penetapan tindakan perbaikan yang diperlukan, termasuk penguatan sistem pengendalian internal. Pedoman Penerapan Strategi Anti Fraud 49 validitas, keberadaan, kepemilikan dan kewenangan akses terhadap seluruh transaksi dan dokumen Bank sesuai dengan investigasi brief;

Pedoman Penerapan Strategi Anti Fraud 52 Lampiran 10. LAPORAN PENERAPAN KEBIJAKAN STRATEGI ANTI FRAUD SEMESTER XX TAHUN XX. Menjelaskan secara singkat hasil evaluasi dan langkah tindak lanjut penerapan Strategi Anti Fraud pada Periode Laporan;

IMPLEMENTASIB STRATEGI ANTI FRAUD

Pengertian Fraud

Pengertian Fraud adalah suatu perbuatan penyimpangan atau kelalaian yang dengan sengaja dilakukan untuk menyesatkan, menyesatkan atau memanipulasi Bank, nasabah atau pihak lain, yang terjadi di lingkungan Bank dan/atau menggunakan Fasilitas Bank, sehingga mengakibatkan Bank, nasabah atau pihak lain dirugikan. kerugian dan/atau pelaku Penipuan memperoleh keuntungan finansial baik langsung maupun tidak langsung.” Penipuan yang dilakukan oleh pihak internal Bank dengan memanfaatkan kewenangannya untuk memperoleh keuntungan baik perorangan maupun kelompok yang mengakibatkan kerugian bagi Bank atau pihak-pihak yang mempunyai hubungan dengan Bank. Penipuan yang dilakukan oleh pihak luar dengan memanfaatkan kelemahan prosedur Bank yang ada dan penggunaan fasilitas Bank secara tindak pidana dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan baik bagi perorangan maupun kelompok yang mengakibatkan kerugian bagi Bank atau pihak-pihak yang berkaitan dengan Bank. .

Penipuan dilakukan dengan cara bekerjasama antara pihak internal dan eksternal Bank dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan pribadi atau kelompok, yang mengakibatkan kerugian bagi Bank atau pihak-pihak yang terkait dengan Bank. Kolusi umumnya terjadi dengan memanfaatkan kewenangan pihak internal dan mengakali prosedur perbankan yang ada dengan menggunakan pihak eksternal sebagai eksekutor atas penipuan yang terjadi.

Pengenalan Budaya Anti Fraud …

Strategi Anti Fraud

Penerapan Strategi Anti Fraud

Kesadaran anti-fraud merupakan upaya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan Fraud bagi seluruh jajaran organisasi Bank dan berbagai pihak yang terkait dengan Bank. Etos kepemimpinan dan kesadaran anti-fraud harus menjiwai setiap kebijakan atau ketentuan yang ditetapkan. Pedoman Penerapan Strategi Anti Fraud 29 2) Sistem seleksi yang dilengkapi dengan kualifikasi yang sesuai dengan mempertimbangkan risiko, serta ditentukan secara obyektif dan transparan.

Pedoman Penerapan Strategi Anti Fraud 30 Kebijakan dan mekanisme audit mendadak harus diterapkan, khususnya pada unit bisnis yang berisiko tinggi atau rentan terhadap kecurangan. Dalam hal ini, pedoman penerapan strategi anti Fraud menginstruksikan bank untuk mengendalikan Fraud melalui upaya yang tidak hanya ditujukan pada pencegahan, namun juga mendeteksi, menyelidiki dan memperbaiki sistem sebagai bagian dari strategi terpadu untuk mengendalikan Fraud di masa depan. BPR Nusamba Pecangaan dapat membaca, memahami dan mengimplementasikan apa yang tertulis dalam Pedoman Penerapan Strategi Anti Fraud untuk menciptakan budaya dan kesadaran anti Fraud di seluruh jenjang organisasi sehingga kedepannya Fraud dapat dicegah dan dideteksi sedini mungkin. mungkin.

BPR Nusamba Pecangaan mendukung dan menerapkan kebijakan anti-fraud dan tidak memberikan toleransi terhadap praktik penipuan. Penerapan budaya kerja, budaya kepatuhan, kode etik, budaya anti-fraud dan strategi anti-fraud dalam menjalankan setiap aktivitas PT. Penerapan budaya kerja, budaya kepatuhan, kode etik, budaya anti-fraud dan kebijakan strategi anti-fraud dalam menjalankan setiap aktivitas PT.

Pedoman Penerapan Strategi Anti Fraud 53 7) Tindakan Bank, misalnya melaporkan kepada pihak yang berwenang, memberikan kerugian kepada pihak yang dirugikan, pemutusan hubungan kerja, dan sebagainya.

PENUTUP

Referensi

Dokumen terkait

Building, maupun dengan mempublikasikan hukuman bagi para pelaku fraud untuk menanamkan efek jera bagi para pegawai/pejabat di internal Bank bjb. Menanamkan budaya zero

Organisasi dalam hal ini adalah organisasi dalam arti luas termasuk sistem pengorganisasian lingkungan masyarakat. Organisasi yang menjadi korban Fraud atau dimana

orientasi ke depan (forecasting) yang akan menganalisis peranan sebuah kebijakan strategi anti Fraud yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dalam mengatasi/mencegah

Penelitian ini adalah pembahasan tentang hasil penelitian terhadap kebijakan Bank Indonesia mengenai anti fraud yang diimplementasikan dalam Surat Edaran Bank Indonesia

Strategi anti fraud merupakan wujud komitmen sebuah entitas keuangan dalam mengendalikan tindakan kecurangan. Dalam Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/28/DPNP/Tanggal

Strategi Pencegahan Fraud Dalam Klaim BPJS Kesehatan di masa yang akan datang Strategi yang diperlukan untuk mencegah tindakan fraud dalam program JKN di masa yang akan datang,

Keamanan, Kesehatan, Keselamatan Kerja, dan Lingkungan (K3L) adalah bidang yang penting dalam manajemen perusahaan yang bertujuan untuk melindungi dan memastikan kesejahteraan karyawan serta menjaga kelestarian lingkungan tempat kerja. Konsep K3L mencakup serangkaian praktik dan kebijakan yang dirancang untuk mencegah kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, serta kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas perusahaan. Keamanan: Fokus pada upaya perlindungan terhadap karyawan dari potensi bahaya fisik dan kejahatan di tempat kerja. Ini meliputi penerapan sistem keamanan, pelatihan untuk tindakan darurat, penggunaan peralatan pelindung diri, dan penegakan aturan keselamatan di tempat kerja. Kesehatan: Berkaitan dengan upaya menjaga kesehatan fisik dan mental karyawan. Ini meliputi pencegahan penyakit akibat kerja, akses terhadap layanan kesehatan, program kesehatan dan kesejahteraan, serta promosi gaya hidup sehat. Keselamatan Kerja: Berfokus pada identifikasi, penilaian, dan pengendalian risiko di tempat kerja untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan cedera. Ini termasuk pembangunan budaya keselamatan, pelatihan keselamatan, audit keselamatan, dan penerapan prosedur kerja yang aman. Lingkungan: Melibatkan upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan tempat kerja dan mencegah polusi serta kerusakan lingkungan. Ini termasuk pengelolaan limbah, konservasi sumber daya alam, penggunaan energi yang efisien, dan kepatuhan terhadap peraturan lingkungan. Dengan menerapkan praktik K3L yang baik, perusahaan dapat meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya akibat cedera dan penyakit, serta membangun citra perusahaan yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan. Selain itu, pemenuhan kriteria K3L juga seringkali menjadi persyaratan hukum dan regulasi yang harus dipatuhi oleh perusahaan untuk menjaga keberlanjutan operasional