• Tidak ada hasil yang ditemukan

Spesifikasi Teknis Pemeliharaan Jalan Abu Bakar Ali

N/A
N/A
Fransisca Laura Agustien

Academic year: 2025

Membagikan "Spesifikasi Teknis Pemeliharaan Jalan Abu Bakar Ali"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

RINGKASAN SPESIFIKASI TEKNIS PEMELIHARAAN JALAN ABU BAKAR ALI

1. Spesifikasi Metode Konstruksi/Metode Pelaksanaan/ Metode Kerja Metode Pelaksanaan Pekerjaan adalah sebagai berikut:

A. Divisi 1 Umum.

• Pekerjaan Mobilisasi mengacu pada Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 seksi 1.2 Mobilisasi.

• Item Pekerjaan yang ada pada seksi harus memiliki nilai/harga.

Adapun item pekerjaan yang ada pada seksi ini meliputi : 1) Papan Informasi Pekerjaan.

2) Peralatan.

3) Kantor Lapangan dan Fasilitas.

4) Mobilisasi Fasilitas Laboratorium.

5) Demobilisasi.

• Pekerjaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja mengacu mengacu pada Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 seksi 1.19 Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

 Miminal Alat Pelindung Diri (APD) yang harus disediakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Topi Pelindung, Pelindung Pernafasan, Sarung Tangan, Sepatu Keselamatan dan Rompi Keselamatan.

B. Divisi 2 Drainase

•Pelaksanaan Pekerjaan Pasangan Batu Dengan Mortar merujuk pada Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 seksi 2.2 Pasangan Batu dengan Mortar.

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Concrete Mixer.

•Pelaksanaan Pekerjaan Gorong-gorong Kotak Bertulang mengacu dijelaskan dalam Spesifikasi Tambahan ini pada Point 9. Box Culvert.

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Excavator dan crane.

•Pelaksanaan Pekerjaan Pasang Grill Besi Cor mengacu dijelaskan dalam Spesifikasi Tambahan ini pada Point 5. Pekerjaan Inlet Grill Besi Cor.

(2)

C.Divisi 3 Pekerjaan Tanah Dan Geosintetik

•Pelaksanaan Pekerjaan Galian Biasa merujuk pada Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 seksi 3.1 Galian.

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Excavator dan Dump Truck.

•Pelaksanaan Pekerjaan Galian Struktur dengan kedalaman 2 - 4 meter mengacu pada Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 seksi 3.1 Galian.

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Excavator dan Dump Truck.

 Dasar perhitugan kuantitas galian haruslah gambar penampang melintang profil tanah asli sebelum digali yang telah disetujui dan gambar pekerjaan galian akhir dengan garis, kelandaian dan elevasi yang disyaratkan atau diterima. (maksud lebih jelasnya bagaimana)

 Galian di luar garis yang ditunjukkan dalam profil dan penampang melintang yang diseujui tidak akan dimasukkan dalam volume yang diukur untuk pembayaran.

 Bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah; Bahan Pengaman Tebing Galian yang disetujui oleh Pengawas Pekerjaan.

(perencana memberi keterangan tambahan terkait bahan pengaman tebing)

•Pelaksanaan Pekerjaan Galian Perkerasan Beraspal dengan Cold Milling Machine merujuk pada Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 seksi 3.1 Galian.

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Cold Milling Machine, Water Tanker dan Dump Truck.

•Pelaksanaan Pekerjaan Galian Perkerasan Beraspal tanpa Cold Milling Machine merujuk pada Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 seksi 3.1 Galian.

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Concrete Cutter, Jack Hammer dan Dump Truck.

•Pelaksanaan Pekerjaan Galian Perkerasan Berbutir merujuk pada Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 seksi 3.1 Galian.

(3)

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Excavator dan Dump Truck.

•Pelaksanaan Pekerjaan Timbunan Pilihan dari Sumber Galian merujuk pada Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 seksi 3.2 Timbunan.

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Wheel Loader, Motor Grader, Tandem Roller, Water Tanker dan Dump Truck.

 Elevasi dan kelandaian akhir setelah pemadatan harus tidak lebih dari 2 cm atau lebih rendah dari 3 cm dari yang ditentukan atau disetujui.

 Segera setelah penempatan dan penghamparan timbunan, setiap lapis harus dipadatkan dengan peralatan pemadat yang memadai dan disetujui Pengawas Pekerjaan sampai mencapai kepadatan yang disyaratkan.

 Setiap satu lapis setebal 20 cm bahan bergradasi menerus dan tidak mengandung batu yang lebih besar dari 5 cm.

 Pemadatan timbunan tanah harus dilaksanakan hanya bilamana kadar air bahan air bahan berada dalam rentang 3% dibawah kadar air optimum sampai 1% di atas kadar air optimum. Kadar air optimum harus didefinisikan sebagai kadar air pada kepadatan kering maksimum yang diperoleh bilamana tanah dipadatkan sesuai dengan SNI 1742:2008.

 Pemadatan timbunan keseluruhan harus dipadatkan dengan menggunakan pemadat mekanis.

 Timbunan pada lokasi yang tidak dapat dicapai dengan peralatan pemadat mesin gilas, harus dihampar dalam lapisan horizontal dengan tebal gembur tidak lebih dari 10 cm dan dipadatkan dengan penumbuk loncat mekanis atau timbris (tamper) manual dengan berat statis minimum 10 kg. Pemadatan di bawah maupun di tepi pipa harus mendapat perhatian khusus untuk mencegah timbulnya rongga-rongga dan untuk menjamin bahwa pipa terdukung sepenuhnya.

 Timbunan harus diukur sebagai jumlah kubik meter bahan terpadatkan yang diperlukan, diselesaikan di tempat dan diterima.

Volume yang diukur harus berdasarkan gambar penampang melintang profil tanah asli yang disetujui atau profil galian sebelum setiap timbunan ditempatkan dan gambar dengan garis,

(4)

kelandaian dan elevasi pekerjaan timbunan akhir yang disyaratkan dan diterima.

•Pelaksanaan Pekerjaan Penyiapan Badan Jalan merujuk pada Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 seksi 3.3 Penyiapan Badan Jalan.

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Stamper.

 Pengukuran dan Pembayaran didasarkan pada lokasi yang sudah ditentukan pada daerah galian.

D.Divisi 5 (Perkerasan Berbutir)

•Lapis Pondasi Agregat Kelas B

Metode pelaksanaan mengikuti Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 Divisi 5 Seksi 5.1 Lapis Pondasi Agregat

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Wheel Loader, Motor Gragder, Dump Truck, dan Vobratory Roller.

 Bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah; Aggregat B.

 Toleransi elevasi permukaan terhadap elevasi rencana :

 Gradasi lapis fondasi agregat adalah sebagai berikut :

(5)

 Sifat-sifat lapis fondasi agregat :

 Tebal padat maksimum tiap pemadatan satu lapis tidak boleh melebihi 20 cm, kecuali digunakan peralatan khusus yang disetujui oleh Pengawas Pekerjaan.

 Pemadatan secara keseluruhan harus dilakukan dengan mesin Pemadat Mekanis yang telah disetujui Pengawas Pekerjaan.

 Volume yang diukur dan diterima harus berdasarkan atas penampang melintang yang ditunjukkan pada gambar, menggunakan prosedur pengukuran standar ilmu ukur tanah, bila tebal yang diperlukan merata, dan pada penampang melintang yang disetujui Pengawas Pekerjaan bila tebal yang diperlukan tidak merata, dan panjangnya diukur secara mendatar sepanjang sumbu jalan.

 Faktor pembayaran harga satuan untuk ketebalan kurang atau diperbaiki :

(6)

 Faktor pembayaran harga satuan untuk kepadatan kurang atau diperbaiki :

•Lapis Fondasi Agregat Semen Kelas A (Cement Treated Base = CTB) Metode pelaksanaan mengikuti Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 Divisi 5 Seksi 5.5 Lapis Pondasi Agregat

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Wheel Loader, Motor Gragder, Dump Truck, dan Vobratory Roller.

 Tebal minimum Lapis Fondasi yang dihamparkan dan dipadatkan tidak boleh urang dari 1 cm dari tebal yang ditunjukkan dalam gambar.

 Tebal permukaan akhir dari Lapis Fondasi Agregat harus mendekati elevasi rancangan dan tidak boleh berbeda lebih dari 1 cm dari elevasi rancangan pada titik manapun.

 Penggunaan kadar semen untuk Lapi Fondasi Agregat Semen Kelas A (CTB) adalah 3-5%.

 Kekuatan campuran didasarkan atas kuat tekan benda uji silinder diameter 150 mm dan tinggi 300 mm pada umur 7 hari.

 Benda uji silinder menggunakan bahan yang disiapkan sesuai SNI 1743:2008 metode D, dipadatkan dalam 5 lapis, masing-masing lapisan ditumbuk sebanyak 145 tumbukan dengan berat alat penumbuk 4,5 kg dan tinggi jatuh 45 cm. selanjutnya uji kuat tekan benda uji silinder sesuai dengan ketentuan SNI 1974:2011.

(7)

 Persyaratan kuat tekan (unconfined compressive strength) dari lapis Fondasi Agregat Semen Kelas A (CTB) dalam umur 7 hari sebesar 45 – 55 kg/cm2.

 Selama proses penghamparan lapis fondasi agregat semen, percobaan silinder minimum 4 buah benda uji harus dilakukan.

Biaya uji dibebankan kepada Penyedia Jasa sampai dengan hasil uji disampaikan kepada Pengawas Pekerjaan dan dapat diterima.

 Kepadatan Lapis Fondasi Agregat Semen setelah pemadatan harus mencapai kepadatan kering lebih dari 98% kepadatan kering maksimum sebagaimana yang ditentukan pada SNI 1743:2008 metode D.

 Pemadatan harus dilakukan dengan pemadat kaki kambing bervibrasi (vibratory

E. Divisi 6 (Perkerasan Aspal)

•Pekerjaan Lapis Resap Pengikat – Aspal Cair/Emulsi

Metode pelaksanaan mengikuti Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 Divisi 6 Seksi 6.1 Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Asphalt Distributor dan Compressor.

 Bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah; Aspal Cair Lapis Resap Pengikat.

 Pekerjaan penyemprotan aspal tidak boleh dimulai sebelum perkerasan telah disiapkan dan dapat diterima oleh Pengawas Pekerjaan.

 Pengawas Pekerjaan dapat memerintahkan agar lubang yang besar atau kerusakan lain yang terjadi dibongkar dan dipadatkan kembali atau penggantian lapisan fondasi diikuti oleh pengerjaan kembali Lapis Resap Pengikat.

 Setelah proses pengeringan, bahan aspal harus sudah meresap merata dan tanpa bagian kosong yang belum teraspal ke dalam lapis fondasi, meninggalkan sebagian bahan aspal yang dapat ditunjukkan dengan permukaan berwarna hitam yang merata dan tidak berongga (porous).

 Tekstur untuk permukaan lapis fondasi yang sudah dilapisi aspal harus rapid an tidak boleh ada genangan atau lapisan aspal atau aspal tercampur agregat halus yang cukup tebal sehingga mudah dikupas dengan pisau.

 Takaran pemakaian lapis perekat adalah sebagai berikut :

(8)

•Pekerjaan Lapis Perekat – Aspal Cair/Emulsi

Metode pelaksanaan mengikuti Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 Divisi 6 Seksi 6.1 Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Asphalt Distributor, Compressor dan Power Boom .

 Bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah; Aspal Cair Lapis Perekat.

 Lapisan yang telah selesai harus menutup keseluruhan permukaan yang dilapisi dan tampak merata, tanpa adanya bagian-bagian yang beralur atau kelebihan aspal.

 Pekerjaan penyemprotan aspal tidak boleh dimulai sebelum perkerasan telah disiapkan dan dapat diterima oleh Pengawas Pekerjaan.

 Takaran pemakaian lapis perekat adalah sebagai berikut :

•Pekerjaan Lataston Lapis Aus (AC-WC)

Metode pelaksanaan mengikuti Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 Divisi 6 Seksi 6.3. Campuran Beraspal Panas

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; AMP, Wheel Loader, Dump Truck, Tandem Roller, P. Tyre Roller dan Asphalt Finisher.

(9)

 Bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah; Agregat, Semen dan Aspal.

 Toleransi tebal Lataston Lapis Aus (AC-WC) adalah sebesar -3,0 mm.

 Tebal nominal minimum Lataston Lapis Aus (AC-WC) adalah sebesar 4,0 cm.

 Bilamana campuran beraspal dihamparkan sebagai lapis perata maka lapis perata untuk perbaikan bentuk ini harus diaplikasikan bersama-sama dengan sebagian atau seluruh tebal lapis pelapisan (overlay) untuk perkuatan (strengthening) sebagaimana ditunjukkan dalam gambar atau sebagimana yang diperintahkan Pengawas Pekerjaan dengan tebal lapis perata tidak boleh melebihi 2,5 kali tebal nominal dan tidak boleh kurang dari diameter maksimum partikel yang digunakan.

 Tebal lapis campuran bukan perata harus diperiksa dengan benda uji “inti” (Core) perkerasan yang diambil oleh Penyedia Jasa dengan jumlah sesuai petunjuk Pengawas Pekerjaan.

 Benda uji inti paling sedikit harus diambil dua titik pengujian yang mewakili per penampang melintang per lajur yang diambil secara acak dengan jarak memanjang antar penampang melintang yang diperiksa tidak lebih dari 100 m.

 Paling sedikit 30 hari sebelum dimulainya pengaspalan, Penyedia Jasa harus menyerahkan secara tertulis kepada Pengawas Pekerjaan, usulan Design Mix Formula (DMF) untuk campuran yang akan digunakan dalam pekerjaan.

 Pekerjaan pengaspalan yang permanen belum dapat dimulai sebelum diperoleh Job Mix Formula yang disetujui oleh Pengawas Pekerjaan.

 Seluruh campuran yang dihampar harus sesuai dengan Job Mix Design (JMF).

 Alat pemadat tandem statis minimum harus mempunyai berat statis tidak kurang dari 8 ton. Roda gilas harus bebas dari permukaan yang datar, penyok, robek-robek atau tonjolan yang merusak permukaan perkerasan.

 Ketentuan viskositas dan temperature aspal harus sesuai sebagai berikut :

(10)

 Faktor pembayaran harga satuan untuk ketebalan kurang atau diperbaiki :

 Faktor pembayaran harga satuan untuk kepadatan kurang atau diperbaiki :

 Bilamana ketebalan dan kepadatan campuran beraspal rata-rata kurang dari yang disyaratkan tetapi masih dalam batas-batas toleransi sesuai penjelasan diatas maka bilamana Pengawas Pekerjaan dapat menerima pekerjaan campuran beraspal panas tersebut, pembayaran dilakukan dengan mengalikan harga satuan dengan Faktor pembayaran yang tercantum dalam tabel diatas.

•Pekerjaan Lataston Lapis Antara (AC-BC)

Metode pelaksanaan mengikuti Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 Divisi 6 Seksi 6.3. Campuran Beraspal Panas.

(11)

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; AMP, Wheel Loader, Dump Truck, Tandem Roller, P. Tyre Roller dan Asphalt Finisher.

 Bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah; Agregat, Semen dan Aspal.

 Toleransi tebal Lataston Lapis Aus (AC-BC) adalah sebesar -4,0 mm.

 Tebal nominal minimum Lataston Lapis Aus (AC-BC) adalah sebesar 6,0 cm.

 Bilamana campuran beraspal dihamparkan sebagai lapis perata maka lapis perata untuk perbaikan bentuk ini harus diaplikasikan bersama-sama dengan sebagian atau seluruh tebal lapis pelapisan (overlay) untuk perkuatan (strengthening) sebagaimana ditunjukkan dalam gambar atau sebagimana yang diperintahkan Pengawas Pekerjaan dengan tebal lapis perata tidak boleh melebihi 2,5 kali tebal nominal dan tidak boleh kurang dari diameter maksimum partikel yang digunakan.

 Tebal lapis campuran bukan perata harus diperiksa dengan benda uji “inti” (Core) perkerasan yang diambil oleh Penyedia Jasa dengan jumlah sesuai petunjuk Pengawas Pekerjaan.

 Benda uji inti paling sedikit harus diambil dua titik pengujian yang mewakili per penampang melintang per lajur yang diambil secara acak dengan jarak memanjang antar penampang melintang yang diperiksa tidak lebih dari 100 m.

 Paling sedikit 30 hari sebelum dimulainya pengaspalan, Penyedia Jasa harus menyerahkan secara tertulis kepada Pengawas Pekerjaan, usulan Design Mix Formula (DMF) untuk campuran yang akan digunakan dalam pekerjaan.

 Pekerjaan pengaspalan yang permanen belum dapat dimulai sebelum diperoleh Job Mix Formula yang disetujui oleh Pengawas Pekerjaan.

 Seluruh campuran yang dihampar harus sesuai dengan Job Mix Design (JMF).

 Alat pemadat tandem statis minimum harus mempunyai berat statis tidak kurang dari 8 ton. Roda gilas harus bebas dari permukaan yang datar, penyok, robek-robek atau tonjolan yang merusak permukaan perkerasan.

 Ketentuan viskositas dan temperature aspal harus sesuai sebagai berikut :

(12)

 Faktor pembayaran harga satuan untuk ketebalan kurang atau diperbaiki :

 Faktor pembayaran harga satuan untuk kepadatan kurang atau diperbaiki :

 Bilamana ketebalan dan kepadatan campuran beraspal rata-rata kurang dari yang disyaratkan tetapi masih dalam batas-batas toleransi sesuai penjelasan diatas maka bilamana Pengawas Pekerjaan dapat menerima pekerjaan campuran beraspal panas

(13)

tersebut, pembayaran dilakukan dengan mengalikan harga satuan dengan Faktor pembayaran yang tercantum dalam tabel diatas.

F. Divisi 7 (Struktur)

•Pekerjaan Beton Struktur, fc’20 MPa.

Metode pelaksanaan mengikuti Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 Divisi 7 Seksi 7.1 Beton dan Beton Kinerja Tinggi.

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Concrete Mixing Plant, Concrete Vibrator, Water Tank Truck dan Truck Mixer Agitator.

 Bahan yang digunakan dalam pekerjaan Beton Struktur Fc’20 pada Jalan adalah sebagai berikut; Semen, Pasir Beton, Agregat Kasar dan Perancah.

 Penyedia Jasa harus mengirimkan rancangan campuran (mix design) untuk masing-masing mutu beton yang akan digunakan sebelum pekerjaan pengecoran dimulai, lengkap dengan hasil pengujian bahan dan hasil pengujian percobaan campuran beton di laboratorium berdasarkan kuat tekan beton secara umum untuk umur 7 hari dan 28 hari, kecuali ditentukan untuk umur-umur yang lain oleh Pengawas Pekerjaan.

 Hasil pengujian adalah nilai rata-rata dari dua nilai kuat tekan benda uji dalam satu set benda uji (1 set = 3 buah benda uji), yang selisih nilai antara keduanya ≤ 5% dari rata-rata 2 nilai kuat tekan benda uji tersebut untuk satu umur, untuk setiap kuat tekan beton dan untuk setiap jenis komponen struktur yang dicor terpisah pada tiap hari pengecoran.

 Penyedia jasa harus menyediakan benda uji beton berupa silinder dengan diameter 150 mm dan tinggi 300 mm, dan harus dirawat sesuai dengan SNI 4810:2013. Pengambilan benda uji harus diambil dari beton yang akan dicor dicetak bersamaan, kemudian dirawat.

 Perbaikan atas pekerjaan beton yang retak atau bergeser yang diakibatkan oleh kelalaian Penyedia Jasa merupakan tanggung jawab Penyedia Jasa dan harus dilakukan dengan biaya sendiri.

Penyedia tidak tidak bertanggung jawab atas kerusakan yang timbul berasal dari bencana alam yang tidak dapat dihindarkan, asalkan pekerjaan yang rusak tersebut telah diterima dan dinyatakan oleh Pengawas Pekerjaan secara tertulis telah sesuai.

(14)

 Perbaikan atas pekerjaan beton yang tidak memenuhi ketentuan dalam Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 dapat mencakup pembongkaran dan penggantian seluruh beton.

 Beton harus dipadatkan dengan penggetar mekanis dari dalam atau dari luar yang telah disetujui. Bilamana diperlukan, dan bilamana disetujui oleh Pengawas Pekerjaan, penggetaran harus disertai penusukan secara manual dengan alat yang cocok untuk menjamin pemadatan yang tepat dan memadat. Penggetar tidak boleh digunakan untuk memindahkan campuran beton dari satu titik ke titik lain di dalam acuan.

 Perawatan beton dilaksanakan dengan memperhatikan waktu pengikatan awal. Segera setelah terjadinya

 Beton akan diukur dengan jumlah meter kubik terpasang dan diterima sesuai dengan yang ditunjukkan pada gambar oleh Pengawas Pekerjaan. Tidak ada pengurangan yang akan dilakukan untuk volume yang ditempati oleh pipa dengan luasan total secara melintang struktur yang ditinjau dan setara dengan diameter kurang dari 200 mm atau oleh benda lainnya yang tertanam seperti “water stop”, baja tulangan, selongsong pipa (conduit) atau lubang sulingan (Weephole).

•Pekerjaan Beton, fc’15 MPa.

Metode pelaksanaan mengikuti Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 Divisi 7 Seksi 7.1 Beton dan Beton Kinerja Tinggi.

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Concrete Mixing Plant, Concrete Vibrator, Water Tank Truck dan Truck Mixer Agitator.

 Bahan yang digunakan dalam pekerjaan Beton Struktur Fc’20 pada Jalan adalah sebagai berikut; Semen, Pasir Beton, Agregat Kasar, Perancah dan paku.

 Penyedia Jasa harus mengirimkan rancangan campuran (mix design) untuk masing-masing mutu beton yang akan digunakan sebelum pekerjaan pengecoran dimulai, lengkap dengan hasil pengujian bahan dan hasil pengujian percobaan campuran beton di laboratorium berdasarkan kuat tekan beton secara umum untuk umur 7 hari dan 28 hari, kecuali ditentukan untuk umur-umur yang lain oleh Pengawas Pekerjaan.

 Hasil pengujian adalah nilai rata-rata dari dua nilai kuat tekan benda uji dalam satu set benda uji (1 set = 3 buah benda uji), yang selisih nilai antara keduanya ≤ 5% dari rata-rata 2 nilai kuat tekan

(15)

benda uji tersebut untuk satu umur, untuk setiap kuat tekan beton dan untuk setiap jenis komponen struktur yang dicor terpisah pada tiap hari pengecoran.

 Penyedia jasa harus menyediakan benda uji beton berupa silinder dengan diameter 150 mm dan tinggi 300 mm, dan harus dirawat sesuai dengan SNI 4810:2013. Pengambilan benda uji harus diambil dari beton yang akan dicor dicetak bersamaan, kemudian dirawat.

 Perbaikan atas pekerjaan beton yang retak atau bergeser yang diakibatkan oleh kelalaian Penyedia Jasa merupakan tanggung jawab Penyedia Jasa dan harus dilakukan dengan biaya sendiri.

Penyedia tidak tidak bertanggung jawab atas kerusakan yang timbul berasal dari bencana alam yang tidak dapat dihindarkan, asalkan pekerjaan yang rusak tersebut telah diterima dan dinyatakan oleh Pengawas Pekerjaan secara tertulis telah sesuai.

 Perbaikan atas pekerjaan beton yang tidak memenuhi ketentuan dalam Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 dapat mencakup pembongkaran dan penggantian seluruh beton.

 Beton harus dipadatkan dengan penggetar mekanis dari dalam atau dari luar yang telah disetujui. Bilamana diperlukan, dan bilamana disetujui oleh Pengawas Pekerjaan, penggetaran harus disertai penusukan secara manual dengan alat yang cocok untuk menjamin pemadatan yang tepat dan memadat. Penggetar tidak boleh digunakan untuk memindahkan campuran beton dari satu titik ke titik lain di dalam acuan.

 Perawatan beton dilaksanakan dengan memperhatikan waktu pengikatan awal. Segera setelah terjadinya

 Beton akan diukur dengan jumlah meter kubik terpasang dan diterima sesuai dengan yang ditunjukkan pada gambar oleh Pengawas Pekerjaan. Tidak ada pengurangan yang akan dilakukan untuk volume yang ditempati oleh pipa dengan luasan total secara melintang struktur yang ditinjau dan setara dengan diameter kurang dari 200 mm atau oleh benda lainnya yang tertanam seperti “water stop”, baja tulangan, selongsong pipa (conduit) atau lubang sulingan (Weephole).

•Baja Tulangan Polos-BJTP 280

Metode pelaksanaan mengikuti Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 Divisi 7 Seksi 7.3(1) Baja Tulangan.

(16)

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Alat Bantu berupa Alat Pembengkok Baja Tulangan.

 Bahan yang digunakan dalam pekerjaan adalah sebagai berikut;

Baja Tulangan Polos BjTP 280 dan Kawat Beton.

 Hasil pengujian kuat Tarik baja tulangan harus memenuhi tabel Sifat mekanis baja tulangan yaitu sebagai berikut :

 Jumlah pengujian dan metode pengujian baja tulangan dijelaskan lebih rinci pada Spesifikasi Tambahan.

•Baja Tulangan Polos-BJTS 280

Metode pelaksanaan mengikuti Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 Divisi 7 Seksi 7.3(1) Baja Tulangan.

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Alat Bantu berupa Alat Pembengkok Baja Tulangan.

 Bahan yang digunakan dalam pekerjaan adalah sebagai berikut;

Baja Tulangan Polos BjTS 280 dan Kawat Beton.

 Hasil pengujian kuat Tarik baja tulangan harus memenuhi tabel Sifat mekanis baja tulangan yaitu sebagai berikut :

(17)

 Jumlah pengujian dan metode pengujian baja tulangan dijelaskan lebih rinci pada Spesifikasi Tambahan.

•Pekerjaan Pasangan Batu

Metode pelaksanaan mengikuti Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 Divisi 7 Seksi 7.9 Pasangan batu.

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Excavator, Dump Truck, Concrete Mixer dan Water Tanker.

 Bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Batu Kali, Semen dan Pasir.

•Pekerjaan Pembongkaran Pasangan Batu.

Metode pelaksanaan mengikuti Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 Divisi 7 Seksi 7.15 Pembongkaran Struktur.

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Jack Hammer, Wheel Loader dan Dump Truck.

•Pekerjaan Pembongkaran Beton.

Metode pelaksanaan mengikuti Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 Divisi 7 Seksi 7.15 Pembongkaran Struktur.

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Jack Hammer, Wheel Loader dan Dump Truck.

•Pekerjaan Marka Jalan Thermoplastik.

Metode pelaksanaan mengikuti Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 Divisi 9 Seksi 9.2 Pekerjaan Lain-lain.

(18)

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Dump Truck dan Themoplastic Road Marking Machine.

 Bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Cat Marka Thermoplastic dan Glass Bead.

•Pekerjaan Kerb Pracetak Jenis 1 (Peninggi/Mountable).

Metode pelaksanaan mengikuti Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 Divisi 9 Seksi 9.2 Pekerjaan Lain-lain.

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Flat Bed Truck.

 Bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Kerb Pracetak dan Mortar.

•Pekerjaan Pengecatan Kereb pada Trotoar atau Median.

Metode pelaksanaan mengikuti Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 Divisi 10 Seksi 10.1 Pemeliharaan Jalan.

 Miminal peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Water Jet Blasting.

 Bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut; Cat Dasar (Cat Minyak), Cat Dekoratif (Cat Minyak) dan Thinner.

SPESIFIKASI TEKNIS TAMBAHAN PEKERJAAN PEMELIHARAAN JALAN ABU BAKAR ALI

1. Tempat dan Uraian Pekerjaan 1.1. Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan yang dilaksanakan adalah Pemeliharaan Jalan Abu Bakar Ali terdiri dari :

(19)

No. Mata Uraian Pembayaran

DIVISI 1. UMUM 1.2 Mobilisasi 1.2.(a) Mobilisasi

1 Penyiapan dokumen penerapan SMKK SKh-1.1.22.(1a) Pembuatan dokumen RKK dan RMPK SKh-1.1.22.(1b) Pembuatan prosedur dan instruksi kerja SKh-1.1.22.(1c) Penyusunan pelaporan penerapan SMKK

3 Alat Pelindung Kerja dan Alat Pelindung Diri SKh-1.1.22.(3a5) Pembatas area (Restricted Area)

3b APD

SKh-1.1.22.(3b1) Topi pelindung (Safety Helmet)

SKh-1.1.22.(3b6) Pelindung pernafasan dan mulut (masker, masker respirator) SKh-1.1.22.(3b7) Sarung tangan (Safety Gloves)

SKh-1.1.22.(3b8) Sepatu keselamatan (Safety Shoes, rubber safety shoes and toe cap) SKh-1.1.22.(3b11) Rompi keselamatan (Safety Vest)

6 Fasilitas sarana, prasarana, dan alat kesehatan SKh-1.1.22.(6a) Peralatan P3K

7 Rambu dan Perlengkapan lalu lintas yang diperlukan atau manajemen lalu lintas SKh-1.1.22.(7a) Rambu petunjuk

SKh-1.1.22.(7b) Rambu larangan

SKh-1.1.22.(7j) Lampu putar (rotary lamp) (Sewa)

10 Protokol Pencegahan Penyebaran COVID-19 SKh-1.1.23.(a) Thermogun

SKh-1.1.23.(b) Penyediaan Sabun Cuci Tangan

DIVISI 2. DRAINASE

2.3.(14) Gorong-gorong Kotak Beton Bertulang, ukuran dalam 40 x 40 cm (HD) SKh-1.2.3.(19).a Pasang Grill Besi Cor 40x60x4 cm

SKh-1.2.3.(19).c Pasang Sumur dengan Buis Beton dia. 80 cm

DIVISI 3. PEKERJAAN TANAH DAN GEOSINTETIK 3.1.(1) Galian Biasa

3.1.(8) Galian Perkerasan Beraspal tanpa Cold Milling Machine 3.1.(9) Galian Perkerasan berbutir

Skh.3.6.(1) Pemotongan Akar Pohon Pilihan diameter > 30 – 50 cm

DIVISI 5. PERKERASAN BERBUTIR 5.1.(1) Lapis Pondasi Agregat Kelas A

DIVISI 6. PERKERASAN ASPAL 6.1 (2a) Lapis Perekat - Aspal Cair

6.3(5a) Laston Lapis Aus (AC-WC) 6.3.(8) Bahan anti pengelupasan

DIVISI 7. STRUKTUR 7.1 (7a) Beton strukur, fc’20 MPa

7.3 (1) Baja Tulangan Polos-BjTP 280 7.15.(2) Pembongkaran Beton

7.16.(3a) Pipa Drainase PVC diameter 150 mm

DIVISI 10. PEKERJAAN PEMELIHARAAN KINERJA 10.1.(9) Perbaikan Campuran Aspal Panas

(20)

No. Mata Uraian Pembayaran

DIVISI 1. UMUM 1.2 Mobilisasi 1.2.(a) Mobilisasi

1 Penyiapan dokumen penerapan SMKK SKh-1.1.22.(1a) Pembuatan dokumen RKK dan RMPK SKh-1.1.22.(1b) Pembuatan prosedur dan instruksi kerja SKh-1.1.22.(1c) Penyusunan pelaporan penerapan SMKK

3 Alat Pelindung Kerja dan Alat Pelindung Diri SKh-1.1.22.(3a5) Pembatas area (Restricted Area)

3b APD

SKh-1.1.22.(3b1) Topi pelindung (Safety Helmet)

SKh-1.1.22.(3b6) Pelindung pernafasan dan mulut (masker, masker respirator) SKh-1.1.22.(3b7) Sarung tangan (Safety Gloves)

SKh-1.1.22.(3b8) Sepatu keselamatan (Safety Shoes, rubber safety shoes and toe cap) SKh-1.1.22.(3b11) Rompi keselamatan (Safety Vest)

6 Fasilitas sarana, prasarana, dan alat kesehatan SKh-1.1.22.(6a) Peralatan P3K

7 Rambu dan Perlengkapan lalu lintas yang diperlukan atau manajemen lalu lintas SKh-1.1.22.(7a) Rambu petunjuk

SKh-1.1.22.(7b) Rambu larangan

SKh-1.1.22.(7j) Lampu putar (rotary lamp) (Sewa)

10 Protokol Pencegahan Penyebaran COVID-19 SKh-1.1.23.(a) Thermogun

SKh-1.1.23.(b) Penyediaan Sabun Cuci Tangan

DIVISI 2. DRAINASE

2.3.(14) Gorong-gorong Kotak Beton Bertulang, ukuran dalam 40 x 40 cm (HD) SKh-1.2.3.(19).a Pasang Grill Besi Cor 40x60x4 cm

SKh-1.2.3.(19).c Pasang Sumur dengan Buis Beton dia. 80 cm

DIVISI 3. PEKERJAAN TANAH DAN GEOSINTETIK 3.1.(1) Galian Biasa

3.1.(8) Galian Perkerasan Beraspal tanpa Cold Milling Machine 3.1.(9) Galian Perkerasan berbutir

Skh.3.6.(1) Pemotongan Akar Pohon Pilihan diameter > 30 – 50 cm

DIVISI 5. PERKERASAN BERBUTIR 5.1.(1) Lapis Pondasi Agregat Kelas A

DIVISI 6. PERKERASAN ASPAL 6.1 (2a) Lapis Perekat - Aspal Cair 6.3(5a) Laston Lapis Aus (AC-WC) 6.3.(8) Bahan anti pengelupasan

DIVISI 7. STRUKTUR 7.1 (7a) Beton strukur, fc’20 MPa

7.3 (1) Baja Tulangan Polos-BjTP 280 7.15.(2) Pembongkaran Beton

7.16.(3a) Pipa Drainase PVC diameter 150 mm

DIVISI 10. PEKERJAAN PEMELIHARAAN KINERJA 10.1.(9) Perbaikan Campuran Aspal Panas

Pekerjaan utama :

1. Pekerjaan perkerasan Aspal Laston Lapis Aus (AC-WC) perata

2. Pekerjaan gorong-gorong kotak beton bertulang ukuran dalam 200 x 200 cm (HD)

1.1. Lokasi Pekerjaan

Pekerjaan ini berlokasi di Kelurahan Bausasran, Kemantren Umbulharjo dan Kelurahan Jetis, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta.

(21)

1.2. Tenaga dan Sarana Kerja

Untuk memperlancar pelaksanaan pekerjaan, Penyedia Jasa konstruksi harus menyediakan:

a. Tenaga kerja/tenaga ahli yang cukup memadai disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan. Daftar personil inti yang akan dilibatkan menangani pekerjaan, sesuai dengan organisasi pelaksanaan. Personil inti yang dilibatkan menangani pekerjaan harus memenuhi minimal sebagai berikut:

a. Personil yang digunakan

No Personil Jenis Keahlian

SKT / SKA

Pengalama n ( Tahun )

Jumlah ( orang )

1 Pelaksana

SKT Pelaksana Pekerjaan Jalan

(TS 045) atau

Pelaksanan Pemelihara Jalan

(SI032018) atau

Pelaksana Lapangan Pekerjaan Jalan

(SI032004))

2 tahun 1

2 Petugas

Keselamatan Konstruksi

Sertifikat Petugas

Keselamatan Konstruksi 0 tahun 1

b. Peralatan yang digunakan Peralatan yang digunakan

No Nama Peralatan Kapasitas

Minimal Satuan Keterangan

1 Mobil Dump Truck 4 m3 2 unit Sewa / Milik sendiri

2 Pick Up 1300 cc 1 unit Sewa / Milik sendiri

3 Asphalt Sprayer 15 HP 1 unit Sewa / Milik sendiri

4 Asphalt Finisher 47 HP 1 unit Sewa / Milik sendiri

5 Tandem Roller 6 – 8 T 50 HP 1 unit Sewa / Milik sendiri

6 Pneumatic Tyre Roller 10 T 60 HP 1 unit Sewa / Milik sendiri

7 Excavator 140 HP 1 unit Sewa / Milik sendiri

8 Crane on Track 35 Ton 1 unit Sewa / Milik sendiri

Daftar peralatan harus dilampiri dengan Buki Kepemilikan Alat (Surat Pernyataan Kepemilikan/ Bukti Sewa/ Bukti Pembelian/ Bukti Kepemilikan Lainnya). Jika melampirkan bukti sewa, maka dalam perjanjian sewa harus tertera :

(22)

a. Jangka waktu sewa masih berlaku pada tahun 2025.

b. Surat perjanjian menunjukan nama penyedia jasa yang memasukkan penawaran.

c. Standar Harga Tenaga Kerja

Dasar peraturan upah sesuai dengan Peraturan Wali Kota Yogyakarta Nomor 269 tahun 2024 tentang Standar Harga Satuan Jasa Tahun Anggaran 2025.

1.3. Cara Pelaksanaan

Pekerjaan harus dilaksanakan dengan penuh keahlian, sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam Dokumen pengadaan, Gambar Rencana, Berita Acara Penjelasan serta mengikuti petunjuk Konsultan Pengawas dan Direksi Teknis.

1.4. Pada akhir kerja Penyedia Jasa konstruksi diharuskan membersihkan area kegiatan dari segala kotoran akibat kegiatan pembangunan, termasuk sisa- sisa material bangunan serta gundukan tanah, bekas galian dan lain sebagainya

2. Pekerjaan Persiapan 2.1 Pengukuran

a. Lingkup pekerjaan

Pekerjaan pengukuran berupa pengukuran lokasi proyek untuk menentukan luasan, batas-batas lokasi, ketinggian dan level eksisting lokasi proyek hingga menghasilkan data berupa gambar yang lengkap. Pengukuran dilakukan sebelum penghamparan dan setelah penghamparan sesuai dengan ketentuan.

b. Pelaksanaan pekerjaan

1). Penyedia Jasa konstruksi diwajibkan mengadakan pengukuran dan penggambaran kembali lokasi pembangunan dengan dilengkapi keterangan-keterangan mengenai peil, ketinggian tanah, letak pohon, letak batas-batas tanah dengan alat-alat yang sudah ditera kebenarannya.

2). Ketidakcocokan yang mungkin terjadi antara gambar dan keadaan lapangan yang sebenarnya harus segera dilaporkan kepada Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas untuk dimintakan keputusannya.

3). Penentuan titik ketinggian dan sudut-sudut hanya dilakukan dengan alat waterpass yang ketepatannya dapat dipertanggungjawabkan.

4). Penyedia Jasa konstruksi harus menyediakan waterpass/theodolith/total station beserta petugas yang melayaninya untuk kepentingan pemeriksaan Direksi Teknis dan

(23)

Konsultan Pengawas selama pelaksanaan proyek.

5). Pengukuran sudut siku dengan prisma atau barang secara azas segitiga phytagoras hanya diperkenankan untuk bagian-bagian kecil yang disetujui Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas.

6). Pengukuran level cross dilakukan setiap sta 12,5 m dengan mengukur elevasi tepi kanan, tengah, dan tepi kiri. Pada jarak pe ngukuran jarak 12,5 meter tersebut dapat dilakukan pengukuran la gi/lebih mendetail jika dalam pengamatan terdapat perbedaan elev asi maupun dimensi yang ekstrim.

2.2 Papan Nama Proyek Pelaksanaan pekerjaan

a. Penyedia Jasa diwajibkan memasang papan nama proyek dengan ukuran 80 x 120 di tempat lokasi kegiatan yang mudah dilihat umum.

b. Pemasangan papan nama pekerjaan dilakukan pada saat dimulainya pelaksanaan pekerjaan.

c. Bentuk papan nama pekerjaan, ukuran, isi dan warnanya ditentukan kemudian, yang dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Direksi Teknis.

2.3 Pekerjaan Papan Dasar Pengukuran/Bowplank.

a. Lingkup pekerjaan

Pekerjaan papan dasar pengukuran adalah pekerjaan pembuatan papan dasar pengukuran di lokasi proyek meliputi pekerjaan pengukuran dan pemasangan papan-papan untuk menentukan tinggi acuan bangunan dan letak as-as bangunan.

b. Pelaksanaan pekerjaan

1). Papan dasar pelaksanaan dipasang pada patok kayu kasau Meranti 5/7, tertancap di tanah sehingga tidak bisa digerak-gerakkan atau diubah-ubah, berjarak maksimum 2 m satu sama lain.

2). Papan patok ukur dibuat dari kayu meranti, dengan ukuran tebal 3 cm, lebar 20 cm, lurus dan diserut rata pada sisi sebelah atasnya (waterpass).

3). Tinggi sisi atas papan patok ukur harus sama satu dengan lainnya, kecuali dikehendaki lain oleh Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas.

4). Papan dasar pelaksanaan dipasang sejauh 200 cm dari as pondasi terluar, Bila mana Lokasi tidak memungkinkan maka dipasang pada bagian terluar yang paling aman, dan harus mendapat persetujuan Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas.

2.4 Listrik Kerja dan Air Kerja 1). Lingkup pekerjaan

Pekerjaan pengadaan listrik kerja dan air kerja merupakan pekerjaan

(24)

pengadaan air untuk pelaksanaan pekerjaan dan pengadaan listrik untuk pelaksanaan pekerjaan serta untuk penerangan lokasi di malam hari, pekerjaan ini tidak masuk dalam penawaran namun menjadi kewajiban penyedia barang dan jasa dalam pengadaan nya, untuk kelancaran pekerjaan.

2). Pelaksanaan pekerjaan

i. Pengadaan air kerja dengan pengadaan pompa air untuk mengambil air bersih pada sumur exsisting yang ada.

ii. Air bersih ditampung menggunakan bak penampung air (drum) untuk pelaksanaan pekerjaan serta untuk air kebutuhan direksi.

iii. Pengadaan listrik kerja dengan pemasangan listrik sementara dari PLN atau boleh menggunakan Genset berkapasitas cukup digunakan untuk kelancaran pekerjaan serta penerangan lokasi site.

iv. Lampu-lampu penerangan site dipasang permanen sampai selesainya pekerjaan.

2.5 Kantor Sementara/Direksi Keet 1). Lingkup pekerjaan

i. Pekerjaan kantor sementara/Direksi Keet adalah pekerjaan penyediaan kantor di lokasi proyek sebagai sarana untuk pengawasan, evaluasi dan koordinasi proyek, pekerjaan ini tidak masuk dalam penawaran namun menjadi kewajiban penyedia barang dan jasa dalam pengadaannya, untuk kelancaran pekerjaan. Kantor sementara atau direksi keet boleh membuat baru atau sewa. Setelah proyek selesai barang tersebut menjadi milik penyedia Jasa konstruksi.

ii. Direksi keet wajib dilengkapi tempat untuk menaruh material proyek seperti benda uji beton, baja tulangan, dll. Perawatan benda uji beton juga dilakukan di Direksi Keet Pekerjan.

2.6 Pekerjaan Pembersihan Lokasi a. Lingkup pekerjaan

Pekerjaan pembersihan lokasi adalah pekerjaan pembersihan lokasi proyek yang ditunjukkan pada gambar rencana hingga lokasi proyek siap untuk pekerjaan selanjutnya.

b. Pelaksanaan pekerjaan

1). Lokasi proyek harus dibersihkan dari rumput, semak, akar-akar pohon. Terutama pada tepi tepi aspal yang ditumbuhi tanaman rumput.

2). Segala macam sampah-sampah dan barang-barang bekas bongkaran harus dikeluarkan dari lokasi proyek, dan tidak dibenarkan untuk ditimbun di pinggir jalan tanpa pengaman meskipun untuk sementara.

2.7 Pemasangan Rambu-Rambu Lalu Lintas

Karena lokasi proyek berada di tepi jalan raya, selama pembangunan

(25)

berlangsung penyedia jasa konstruksi wajib memasang rambu-rambu petunjuk maupun peringatan, seperti rambu peringatan berhati-hati karena lokasi akses keluar masuk kendaraan proyek dan lain-lain rambu –rambu lalu lintas minimal dipasang 50 meter sebelum lokasi yang dikerjakan. Rambu dipasang sebelum tikungan atau persimpangan jalan yang mengarah/menuju ke lokasi pekerjaan.

3 Pekerjaan Beton Bertulang 3.1 Lingkup Kerja

Pekerjaan beton bertulang adalah pekerjaan pembuatan semua beton bertulang sesuai dengan gambar perencanaan,yang meliputi pembuatan begesting, pembesian sehingga menghasilkan beton bertulang yang memenuhi volume,dan spesifikasi teknis. Dimensi beton bertulang dan spesifikasi pembesian sesuai dengan dokumen perencanaan. Pekerjaan beto n bertulang yang dimaksud dalam pekerjaan ini antara lain pekerjaan joint din ding saluran, bak kontrol, pekerjaan tutup dan badan inlet, pekerjaan plat tut up manhole.

3.2 Standar :

a. SNI M-26-1990-F (Metode Pengujian dan Pengambilan Contoh untuk Campuran Beton Segar)

b. SK SNI M-62-1990-03 (Metode Pembuatan dan Perawatan Benda Uji Beton di Laboratorium).

c. SK SNI-T-15-1990-03 (Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal).

d. SK SNI T-28-1991-03 (Tata Cara Pengadukan Pengecoran Beton).

e. SK SNI S-18-1990-03 (Spesifikasi Bahan Tambahan Untuk Beton ).

f. SNI 03-4146-1996 (Metode Pengujian Slump Beton).

g. SNI 03 – 1974-1990 (Metode Pengujian Kuat Tekan Beton).

h. Pd- T- 27-1999-03 (Tata Cara Pendetailan Penulangan Beton).

i. Pd-M-33-2000-03 (Metode Pengujian Mutu Air Untuk Digunakan dalam Beton).

j. SNI 07- 2529-1991 (Metode Pengujian Kuat Tarik Baja Beton)

k. SK SNI S-04-1989-F (Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian A (Bahan Bangunan Bukan Logam)).

l. SK SNI S-05-1989-F ((Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian B (Bahan Bangunan dari Besi/Baja))

m. SNI 2052-2017 – Baja Tulangan Beton

n. SNI_2847-2019 – Persyaratan Beton Struktural Untuk Bangunan Gedung o. Penyedia jasa harus menggunakan SNI terbaru atau standar lain yang

relevan

3.3 Pelaksanaan pekerjaan

(26)

a. Pekerjaan Pembesian.

1). Sebelum memulai pekerjaan, selambat-lambatnya 2 hari, penyedia Jasa konstruksi harus menyiapkan rencana kerja pekerjaan pembesian, volume pekerjaan, jumlah tenaga kerja dan alat, jadwal pelaksanaan dan alur pekerjaan, serta contoh material yang akan dipakai disertai sertifikat hasil pengujian material untuk mendapat persetujuan dari Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas, disertai gambar shop drawing.

2). Diameter besi, jumlah besi dan jarak pembesian pada area yang akan dicor harus sesuai dengan gambar kerja.

3). Panjang sambungan tulangan pokok menggunakan peraturan beton/baja yang berlaku

4). Jarak bersih antara besi terluar dan Begisting menggunakan peraturan beton/baja yang berlaku

5). Ikatan bendrat harus kuat, tidak bergeser bila diketok.

6). Besi harus bersih dari karat, beton kering, oli dan material lain yang mengurangi lekatan (bonding) antara besi dan beton.

7). Sambungan besi atas harus terletak pada daerah lapangan.

8). Sambungan besi bawah harus terletak pada daerah tumpuan.

9). Pembengkokan besi (bending slope) dengan kemiringan 1 : 6.

10). Diameter baja tulangan polos dan sirip masih dalam Standar Toleransi sesuai dengan tabel toleransi tulangan besi menurut SNI 2052-2017 – Baja Tulangan Beton

11). Kawat pengikat besi beton/rangka adalah dari baja lunak dan tidak disepuh seng, diameter kawat lebih besar atau sama dengan 0,40 mm.

12). Semua Besi tulangan harus dibuktikan dengan sertifikat uji tarik baja minimal 3 buah benda uji untuk satu jenis besi dari laboratorium yang disetujui Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas b. Pekerjaan Begisting

1). Sebelum memulai pekerjaan, selambat-lambatnya 2 hari, penyedia Jasa konstruksi harus menyiapkan rencana kerja pekerjaan begisting meliputi volume pekerjaan, jumlah tenaga kerja dan alat, jadwal pelaksanaan dan alur pekerjaan, serta contoh material yang akan dipakai disertai sertifikat hasil pengujian material untuk mendapat persetujuan dari Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas, di sertai gambar shop drawing.

2). Penyedia Jasa konstruksi harus mengajukan ijin untuk memulai pekerjaan yang di setujui Konsultan Pengawas dan Direksi Teknis.

3). Bahan begisiting menggunakan multiplek tebal 9 mm, dengan penggunaan mengunakan sistem dua kali pakai.

4). Bahan Begisting sisi-sisinya siku.

5). Sambungan panel begisting harus rapat dengan ditutup sealtape atau sejenisnya.

6). Begisting harus di periksa kevertikalan dan kelurusannya dengan lot

(27)

dan tarikan benang.

7). Level lantai Begisting harus diperiksa dengan alat ukur terhadap level finish.

c. Pelaksanaan Cor Beton

1). Penyedia jasa mengirimkan contoh dari seluruh bahan yang hendak digunakan untuk menghasilkan data pengujian (Job mix desain) kepada Pengawas Pekerjaan.

2). Beton menggunakan Beton dengan Mutu Beton fc' mengacu pada standar SNI 03-2847-2002 yang merujuk pada ACI (American Concrete Institute)

3). Sebelum memulai pekerjaan, selambat-lambatnya 2 hari, penyedia Jasa konstruksi harus menyiapkan rencana kerja pekerjaan beton, volume pekerjaan, jumlah tenaga kerja dan alat, jadwal pelaksanaan dan alur pekerjaan, serta contoh material yang akan dipakai, job mix design beton dari vendor disertai hasil uji coba laboratorium untuk masing-masing bahan/material, untuk mendapat persetujuan dari Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas, disertai gambar shop drawing untuk pengecekan. (jika persyaratan di atas belum bias dipenuhi/disediakan oleh penyedia jasa, maka pekerjaan belum bisa dilaksanakan)

4). Sebelum di cor, lantai kerja harus bersih dari sisa-sisa pekerjaan sebelumnya atau kotoran-kotoran.

5). Material Begisting sudah dilapisi dengan oli bekas (non ekspose) dan mold oil/sika form oil (expose) agar beton tidak melekat pada cetakan dan mudah dibuka, untuk Begisting bekas yang akan dipakai ulang harus dirawat sehingga layak digunakan.

6). Bila diperlukan stek untuk penulangan diatasnya, panjang stek minimal 40 kali diameter.

7). Pengatur jarak selimut beton harus terpasang pada tempatnya. dan batas ketinggian cor harus ditandai dengan jelas.

8). Bila dilakukan pengecoran beton pada malam hari harus disediakan penerangan yang cukup dan dipersiapkan pelindung hujan.

9). Adukan diangkut ke tempat penuangan sebelum semen mulai berhidrasi dan selalu dijaga agar tidak ada bahan-bahan yang tumpah atau memisah dari campuran.

10). Penuangan adukan beton harus terus menerus agar didapatkan beton yang monolit. Selama penuangan beton, cetakan maupun tulangan dijaga agar tidak berubah posisi.

11). Pemadatan dengan alat getar tidak boleh menyentuh begisting dan atau tulangan. Penggetaran yang terlalu lama tidak diperbolehkan karena akan mengakibatkan segregasi.

12). Selama pengecoran harus dilakukan percobaan slump untuk mengukur kepekatan atau kekentalan campuran beton. Nilai slump ditetapkan 10±2 cm.

13). Untuk keperluan test kuat desak beton direksi teknis dan

(28)

konsultan pengawas sewaktu-waktu dapat memerintahkan pengambilan contoh beton segar. Pengambilan contoh beton segar dilakukan langsung dari truk aduk, dilakukan sebanyak 3 kali atau lebih dalam selang waktu ketika penuangan beton dari dalam pengaduk (awal, tengah dan akhir). Pengetesan dilakukan dengan usia uji beton meliputi 7, 14, dan 28 hari. Biaya pengetesan beton menjadi tanggungjawab penyedia jasa dan sudah diperhitungkan dalam penawaran.

14). Beton yang baru di cor harus dilindungi dari lalu lintas orang dan meterial.

d. Pembongkaran Begisting dan perawatan Beton

1). Sebelum memulai pekerjaan, selambat-lambatnya 2 hari, penyedia Jasa konstruksi harus menyiapkan rencana kerja pekerjaan pembongkaran Begisting dan perawatan beton volume pekerjaan, jumlah tenaga kerja dan alat, jadwal pelaksanaan dan alur pekerjaan.

2). Pembongkaran Begisting harus mendapatkan persetujuan dari Konsultan Pengawas.

3). Alat yang digunakan untuk membongkar Begisting tidak boleh merusak permukaan beton.

4). Beton harus dilindungi dari pengaruh panas, hingga tidak terjadi penguapan cepat.

5). Beton harus dibasahi paling sedikit selama 14 hari setelah pengecoran.

6). Aturan aturan yang tidak tercantum pada spesifikasi teknis tambahan, mengacu pada spesifikasi umum 2018 rev 2 Dirjen Binamarga.

4 Pekerjaan Sumur Resapan Air Hujan ( SPAH ) dengan diameter Buis 80 cm.

4.1 Buis Beton

Buis Beton diameter 80 cm

a. Diameter dalam buis beton 80 cm b. Tebal buis beton minimal 5 cm

c. Panjang satu buis beton antara 40 s/d 45 cm d. Buis beton tidak cacat (retak, pecah, dan rusak) 4.2 Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan sumur resapan dalam pekerjaan ini meliputi:

1. Galian tanah sumur resapan 2. Pemasangan buis beton 80 cm

3. Urugan dan pemadatan tanah samping kanan dan kiri buis beton.

(29)

4.3 Pelaksanaan Pekerjaan

1. Penyedia jasa harus mengajukan ijin terlebih dahulu kepada Direksi Teknis dan Konsultas Pengawas sebelum melakukan penggalian sumur resapan.

2. Titik-titik yang akan dilakukan penggalian harus sudah mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas untuk selanjutnya dikoordinasikan dengan pihak masyarakat sekitar.

3. Lebar galian sumur resapan berkisar 1 m untuk buis beton 80 agar buis beton dapat masuk dengan mudah. Kedalaman galian harus sesuai dengan gambar rencana.

4. Apabila dalam penggalian sumur resapan ditemukan adanya kendala utilitas bawah tanah (pipa dan kabel), maka penyedia jasa harus segera menghubungi Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas untuk mencari solusi bersama atas permasalahan tersebut.

5. Buis beton yang akan dipakai harus sudah mendapatkan persetujuan dari Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas.

6. Buis beton yang mengalami cacat (retak, pecah, dan rusak) yang akan mengakibatkan ketidaksempurnaan konstruksi tidak boleh dipakai dan harus segera dipisahkan dari buis beton yang baik.

7. Rongga antara buis beton dan galian harus diurug dengan tanah urug dan dipadatkan. Pengisian tanah urug dan pemadatan dilakukan secara bertahap tiap satu buis beton dan tidak diperkenankan melakukan pengisian tanah urug sekaligus setelah pemasangan buis selesai.

8. Sambungan antar buis beton tidak perlu untuk ditutup atau diplester karena sebagai ruang untuk tempat air meresap ke samping

5 Pekerjaan Inlet Grill Besi Cor 5.1 Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan inlet grill besi cor dan Manhole besi cor meliputi pengadaan dan pemasangan inlet grill besi cor yang disetujui sesuai dengan detil yang ditunjukkan dalam Gambar dan memenuhi Spesifikasi ini.

Pekerjaan besi cor yang dimaksud dalam pekerjaan ini adalah - Penggantian/pembongkaran inlet beton menjadi inlet besi

- Peninggian inlet grill besi eksisting setinggi level muka aspal baru

- Pembuatan inlet grill besi baru (cor beton badan inlet dan cor beton bertula ng plat tutup inlet)

(30)

- Penggantian plat tutup manhole beton ke manhole Besi

- Pembuatan plat tutup manhole besi diatas saluran atau pada trotoar.

- Pembuatan inlet grillbesi crossing melintang pada badan jalan.

5.2 Syarat-syarat Umum

a. Inlet grill besi cor adalah besi cor baru, tidak bekas

b. Inlet grill besi pada pengujian bahan harus memenuhi kadar besi (Fe) minimal 90%, kadar karbon (C) minimal 3% dan kadar tembaga (Cu) minimal 0,15%.

c. Inlet 40 cm x 60 cm tebal 4 cm harus mampu menahan uji tekan gandar 10 ton.

d. Inlet 60 cm x 60 cm tebal 5 cm harus mampu menahan uji tekan gandar 10 ton.

e. Inlet harus diberi minimal dua engsel agar mudah di buka tutup.

f. Desain inlet harus dikonsultasikan dan disetujui oleh Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas sebelum dilakukan pencetakan.

g. Garansi untuk inlet berlaku selama 1 tahun dan jika mengalami kerusakan Penyedia wajib mengganti dengan barang yang baru. Garansi inlet tersebut dituangkan dalam Surat Pernyataan Jaminan Mutu/Kualitas dan ditandatangani oleh Penyedia.

h. Penyedia wajib melampirkan surat perjanjian kerjasama dengan pabrik pengecoran logam.

i. Penyedia wajib melampirkan fotokopi uji laboratorium untuk produk sejenis yang pernah dibuat, untuk inlet minimal beban gandar 10 ton.

j. Pemasangan atau peninggian inlet grill besi dilaksanakan dengan syarat:

a. ketinggian harus sama dengan level muka aspal rencana

b. ketinggian grill tidak boleh melebihi elevasi muka aspal rencana c. jika elevasi grill lebih rendah dari muka aspal rencana maka toleransi yang diijinkan adalah 0,5 cm

5.3 Syarat-syarat Khusus

‘A. Iinlet 40 x 60 x 4 cm

1) Ukuran tutup inlet 40 cm x 60 cm (ukuran tidak termasuk rangka / frame luar).

2) Tebal inlet minimal 4 cm.

3) Berat inlet minimal 50 kg/unit (toleransi berat ± 5%).

4) Memenuhi uji beban (loading test) untuk beban titik minimal 10 ton.

(31)

‘B. Manhole drainase besi cor/tuang 60 x 60 x 5 cm

1) Ukuran plat manhole Besi 60 cm x 60 cm (ukuran termasuk rangka/frame luar).

2) Tebal inlet minimal 5 cm.

3) Berat inlet minimal 80 kg/unit (toleransi berat ± 5%).

4) Memenuhi uji beban (loading test) untuk beban titik minimal 10 ton.

Gambar .a. Inlet Grill Besi ukuran 40 x 60 cm

(32)

‘C. Manhole drainase besi cor/tuang 60 x 60 x 1 cm

1) Ukuran plat manhole Besi 60 cm x 60 cm (ukuran termasuk rangka/frame luar).

2) Tebal inlet minimal 1 cm.

3) Berat inlet minimal 20 kg/unit (toleransi berat ± 5%).

4) Memenuhi uji beban (loading test) untuk beban titik minimal 10 ton.

6 Pekerjaan Lapis Fondasi Agregat Semen Kelas A (Cement Treated Base = CTB).

6.1 Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan Lapis Pondasi Agregat Semen Kelas A (Cement Treated Base) meliputi penyediaan material, pengangkutan, penghamparan, pemadatan dengan roller, pembetukan permukaan (shapping), perawatan (curing) dan penyelesaian (finishing) sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam spesifikasi teknis Bina Marga Tahun 2018 revisi 2 Seksi 5.5 Lapis Fondasi Agregat Semen

6.2 Pelaksanaan Pekerjaan

1. Pelaksanaan pekerjaan tidak boleh dikerjakan pada waktu turun hujan atau kondisi lapangan sedang basah/becek.

2. 7 hari setelah penghamparan Lapis Fondasi Agregat Semen penghamparan lapis diatasnya harus segera dilaksanakan.

3. Penyedia jasa harus menjamin bahwa di lokasi pekerjaan, tidak ada lalu lintas yang diizinkan lewat diatas Lapis Pondasi Agregat Semen,

(33)

minimum 4 hari sesudah pemadatan terakhir dan mengalihkan lalu lintas dan membuat alternatif jalan.

4. Lapis Fondasi Agregat Semen terdiri atas agregat, semen dan air atas persetujuan Pengawas Pekerjaan. Kadar semen harus ditentukan berdasarkan percobaan laboratorium dan campuran percobaan (trial mix). Kadar air optimum harus ditentukan berdasarkan percobaan laboratorium.

5. Pencampuran bahan dapat dilakukan dengan metode Pencampuran di Tempat (Mix in Place) atau Pencampuran di Instalasi (Central Plant) selama sesuai dengan metode kerja yang tertulis dalam Spesifikasi Bina Marga tahun 2018 Revisi 2.

6. Lapisan fondasi bawah (Agregat B) harus sesuai dengan Spesifikasi Bina Marga tahun 2018 Revisi 2 Seksi 5.1 termasuk ketebalan, ukuran, elevasi seperti ditunjukan dalam gambar.

7. Permukaan tanah dasar atau lapis fondasi bawah harus bersih dan rata.

8. Lapis Fondasi Agregat Semen harus dihampar dan ditempatkan di atas permukaan yang telah disiapkan, dengan metode mekanis, menggunakan alat high density screed paver dengan dual tamping rammer sesuai instruksi Pengawas Pekerjaan, untuk mendapatkan kepadatan, toleransi kerataan dan kehalusan permukaan.

9. Campuran yang telah dihampar tidak boleh dibiarkan tanpa dipadatkan lebih dari 30 menit.

10. Kepadatan Lapis Fondasi Agregat Semen setelah pemadatan harus mencapai kepadatan kering lebih dari 98% kepadatan kering maksimum sebagaimana yang ditentukan pada SNI 1743:2008 Metode D. Bilamana kepadatan yang diperoleh kurang dari yang disyaratkan, maka kepadatan yang kurang ini harus diperbaiki.

11. Pemadatan harus telah selesai dalam waktu 60 menit semenjak semen dicampur.

12. Pemadatan harus dilakukan dengan pemadat kaki kambing bervibrasi (vibratory padfoot roller).

13. Segera setelah pemadatan terakhir dan atas usul Pengawas Pekerjaan bila permukaan telah cukup kering harus ditutup minimum selama 4 hari dengan menggunakan : a) Lembaran plastik atau terpal untuk menjaga penguapan air dalam campuran.

b) Penyemprotan dengan Aspal Emulsi CSS-1 dengan batasan pemakaian antara 0,35 – 0,50 liter per meter persegi.

c) Metode lain yang bertujuan melindungi Lapis Fondasi Agregat Semen adalah dengan karung goni yang dibasahi air selama masa perawatan (curing).

7 Pipa Limbah SDR-41 diameter 6”

7.1 Lingkup Pekerjaan

(34)

a. Sistem pemipaan air limbah seperti ditunjukkan dalam gambar lengkap dengan katup penyetop, elbow, sambungan T, fitting dan perlengkapan lain yang diperlukan.

b. Sistem pemipaan air limbah dari setiap fixture hingga ke jaringan limbah utama.

7.2 Bahan

a. Pipa jenis PVC SDR-41 untuk limbah.

7.3 Pelaksanaan Pekerjaan

a. Pelaksanaan pemasangan harus direncanakan dengan baik, dan hanya boleh dilaksanakan setelah mendapat ijin secara tertulis dari konsultan pengawas.

b. Gambar-gambar pemasangan harus dibuat secara rinci oleh kontraktor.

Hal ini agar dapat diketahui dengan tepat elevasi/letak/ukuran pipa pada samping box culvert rencana. Kontraktor bertanggung-jawab atas ukuran (dimensi) dan lokasi tersebut.

c. Kontraktor bertanggungjawab atas penyediaan lokasi pemasangan yang tepat.

d. Selama pemasangan berlangsung, kontraktor harus menutup ujung pipa yang terbuka untuk mencegah tanah, debu dan kotoran lain masuk ke dalam pipa.

e. Semua sambungan yang menghubungkan pipa-pipa dengan ukuran yang berbeda harus menggunakan reducing fitting. Sedapat mungkin dilaksanakan belokan-belokan dengan jenis long radius. Belokan-belokan short radius hanya boleh digunakan apabila kondisi setempat tidak memungkinkan memakai long radius, dan kontraktor harus memberitahukan hal ini kepada pengawas. Fitting atau alat-alat yang menimbulkan tahanan aliran yang tidak wajar tidak boleh digunakan.

f. Semua peralatan dan perlengkapan tambahan yang diperlukan dalam pekerjaan ini harus disediakan dan dilaksanakan oleh kontraktor tanpa menuntut biaya tambahan.

8 Pipa Limbah Cast Iron 8.1 Lingkup Pekerjaan

a. Sistem pemipaan air limbah seperti ditunjukkan dalam gambar lengkap dengan perlengkapan aksesorisnya.

b. Penggantian pipa limbah eksisting menjadi pipa limbah Cast iron pada lokasi titik-titik crossing limbah .

(35)

8.2 Bahan

a. Pipa jenis Cast Iron diameter 12”.

b. Pipa jenis Cast Iron diameter 24”.

8.3 Pelaksanaan Pekerjaan

a. Pelaksanaan pemasangan harus direncanakan dengan baik, dan hanya boleh dilaksanakan setelah mendapat ijin secara tertulis dari konsultan pengawas.

b. Gambar-gambar pemasangan harus dibuat secara rinci oleh kontraktor.

Hal ini agar dapat diketahui dengan tepat elevasi/letak/ukuran pipa pada samping box culvert rencana. Kontraktor bertanggung-jawab atas ukuran (dimensi) dan lokasi tersebut.

c. Kontraktor bertanggungjawab atas penyediaan lokasi pemasangan yang tepat.

d. Selama pemasangan berlangsung, kontraktor harus menutup ujung pipa yang terbuka untuk mencegah tanah, debu dan kotoran lain masuk ke dalam pipa.

e. Semua sambungan yang menghubungkan pipa-pipa dengan ukuran yang berbeda harus menggunakan reducing fitting. Sedapat mungkin dilaksanakan belokan-belokan dengan jenis long radius. Belokan-belokan short radius hanya boleh digunakan apabila kondisi setempat tidak memungkinkan memakai long radius, dan kontraktor harus memberitahukan hal ini kepada pengawas. Fitting atau alat-alat yang menimbulkan tahanan aliran yang tidak wajar tidak boleh digunakan.

Semua peralatan dan perlengkapan tambahan yang diperlukan dalam pekerjaan ini harus disediakan dan dilaksanakan oleh kontraktor tanpa menuntut biaya tambahan.

9 Box Culvert

9.1 Lingkup Pekerjaan

Box culvert dengan dimensi, letak pemasangan dan pengembalian galian sesuai dengan gambar kerja atau sesuai dengan arahan dari Pengawas Lapangan.

9.2 Bahan

a. Box Culvert dimensi 80x80 cm.

b. Box Culvert dimensi 100x100 cm.

c. Box Culvert dimensi 150x150 cm.

d. Box Culvert dimensi 180x180 cm.

e. Box Culvert dimensi 200x200 cm.

(36)

Tipe Dimensi Badan Box Culvert (cm) (minimum)

s H t1 t2 w L

Box Culvert

80 x 80 cm 80 80 Min.1

2 Min.12 Min.

104

100- 120 Box Culvert

100 x 100 cm

100 100 Min.1

2 Min.12 Min.

124

100- 120 Box Culvert

150 x 150 cm

150 150 Min.1

7 Min.17 Min.

184

100- 120 Box Culvert

180 x 180 cm 180 180 Min.1

8 Min.18 Min.

216

100- 120 Box Culvert

200 x 200 cm

200 200 Min.2

0 Min.20 Min.

240

100- 120

9.3 Syarat Mutu

a. Box culvert dengan beban gandar Heavy Duty.

b. Bahan material, metode dan cara pengujian harus sesuai dengan Divisi 7 Spesifikasi Teknis Bina Marga 2018 Revisi 2 tentang pekerjaan beton dan beton pracetak.

c. Kuat desak beton minimal 400 kg/cm2 pada umur 28 hari.

d. Tegangan leleh baja ≥ 4500 kg/cm2.

e. Tegangan tarik baja ≥ 5000 kg/cm2.

f. Box culvert yang didatangkan di lokasi pekerjaan adalah box culvert dengan umur sudah lebih dari 7 hari setelah tanggal produksi,

(37)

dibuktikan dengan tanggal produksi yang tertera pada box culvert.

g. Box culvert bisa diterima di lapangan jika hasil sampel uji beban gandar sudah keluar, sudah terverifikasi dan sudah lolos uji.

h. Box Culvert yang digunakan harus berasal dari pabrik dan sudah mempunyai spesifikasi produk khusus beton precast, baik dimensi, mutu, maupun uji bahan.

i. Beton precast Box Culvert yang digunakan harus berasal dari pabrik yang memenuhi standart ISO 9001 : 2008, dan sudah mempunyai spesifikasi produk khusus beton precast, baik dimensi, mutu, maupun uji bahan.

j. Penyedia wajib melampirkan brosur produk dan hasil uji lab dari Box Culvert.

k. Loading tes pada 1 buah Box Culvert dapat dilakukan di pabrik atau di laboratorium yang disetujui, minimal sampai batas beban gandar yang dipersyaratkan atau sesuai dengan arahan Pengawas Lapangan.

l. Spesi beton untuk sambungan antar box culvert yang dipasang biayanya dibebankan kepada Penyedia Jasa.

10 Pengujian / Test Material dan Hasil Pekerjaan I. Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan pengujian/test material dan hasil pekerjaan ini meliputi : 1. Pengujian Besi Beton

2. Pengujian Beton On Site (Cor Ditempat) 3. Pengujian Inlet/Grill besi

4. Pengujian Ketebalan Aspal/Core Drill 5. Pengujian loading test Box culvert 6. Pengujian CTB

7. Pengujian Agregat II. Pengujian Besi Beton

1. Penyedia Jasa harus mengujikan besi beton yang akan dipakai.

2. Besi beton yang diujikan adalah :

No Jenis Benda Uji Jumlah Sampel

1. Besi Beton Ø 12 3 bh

2. Besi Beton Ø 10 3 bh

3. Besi Beton Ø 8 3 bh

Pengujian harus dilakukan dengan ketentuan volume besi beton > 50 kg, jika volume besi beton < 50kg maka dibuktikan dengan sertifikat produk.

(38)

3. Pengujian harus dilakukan di laboratorium bahan bangunan yang ditunjuk oleh PPK, Direksi Teknis, atau Konsultan Pengawas.

4. Pengujian minimal meliputi diameter besi beton, berat besi beton permeter, dan Uji Tarik untuk mengetahui tegangan lelehnya (fy).

5. Hasil pengujian besi tersebut harus menyantumkan kode pabrikan sebagai identitas dari besi tersebut.

6. Diameter besi beton harus masih dalam Standar Toleransi sesuai dengan tabel toleransi tulangan besi menurut SNI 07- 0205- 2002, sebagai berikut:

 Diameter 6 mm, batas toleransi 0,3 mm.

 Diameter 8 s/d 14 mm, batas toleransi 0,4 mm.

Apabila diameter besi beton di luar batas toleransi, maka besi beton tersebut tidak boleh dipakai.

1. Mutu besi beton harus memenuhi tegangan leleh SNI 2052-2017 – Baja Tulangan Beton

2. Besi beton diijinkan untuk digunakan apabila sudah disetujui oleh Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas dengan dilampiri bukti hasil pengetesan besi dan atau sertifikat produk yang sudah disahkan oleh laboratorium bahan bangunan. Jika bukti di atas belum dilampirkan maka pekerjaan belum dapat dikerjakan 3. Biaya pengujian besi beton ini sepenuhnya menjadi tanggung

jawab Penyedia Jasa.

III.Pengujian Beton On Site (Cor Ditempat)

1. Penyedia Jasa harus melakukan uji sampel Silinder, Kubus, dan uji Hammer Test terhadap beton yang sudah dilaksanakan di lapangan.

Pemilihan pengujian, sample uji, dan jumlah sampel yang akan dilakukan t

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Analisis data akumulasi kendaraan sepeda motor Taman Parkir Abu Bakar Ali Malioboro I (TPM I) Yogyakarta pada hari Senin dapat dilihat pada Tabel 5.2.. Berdasarkan jumlah akumulasi

Suatu jalan memerlukan pemeliharaan dan perawatan pada konstruksi jalan.. serta bagian – bagian konstruksi

Perihal : Undangan Klarifikasi dan Negosiasi Teknis dan Biaya Pekerjaan Perencanaan Teknik Rehabilitasi/Pemeliharaan Jalan Senakin - Jame, Pemeliharaan Jalan Agak -

Sejarah pengumpulan Al quran versi Ustmant dimulai oleh Umar yang mengusulkan kepada Abu Bakar, yang menolak Mushaf Al quran yang telah disusun Ali dengan alasan banyaknya

a) Pekerjaan yang tercakup dalam Seksi ini harus meliputi pekerjaan pemeliharaan rutin untuk menjamin agar perkerasan, bahu jalan, sistem drainase, perlengkapan jalan dan jembatan

Ringkasan sejarah para khalifah pengganti rasulullah dan Abu Bakar sebagai khalifah

Spesifikasi teknis peningkatan jalan lingkungan permukiman di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Dokumen ini berisi detail pekerjaan persiapan hingga