• Tidak ada hasil yang ditemukan

STATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PEMBINAAN INTERAKSI SOSIAL ANAK TUNARUNGU

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "STATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PEMBINAAN INTERAKSI SOSIAL ANAK TUNARUNGU "

Copied!
96
0
0

Teks penuh

Ririn Laksamana, 2021, Nim Strategi Bagi Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Mendorong Interaksi Sosial Siswa Anak Tuli di SLB Yayasan Mutiara Bunda. Setelah melihat latar belakang permasalahan diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan judul: Strategi Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membina Interaksi Sosial Siswa Anak Tuli di SLB Yayasan Mutiara Bunda.

Indentifikasi Masalah

Batasan Masalah

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Pembinaan

Caranya adalah dengan mengajak anak tunarungu untuk berbicara secara lisan di depan orang atau publik di setiap kesempatan. Terapi wicara dengan metode manual merupakan suatu cara untuk melatih atau mengajarkan anak tunarungu berkomunikasi dengan bantuan bahasa isyarat, yaitu melalui ejaan jari (Finger Spelling).

Pengertian Interaksi Sosial

Oleh karena itu, selain bahasa verbal, anak tunarungu juga dapat berkomunikasi dengan tulisan, bahasa isyarat, dan bahasa tubuh. 30 . pemahaman umum tentang bahasa isyarat membuat anak-anak tunarungu tidak dapat menggunakan bahasa itu untuk semua orang. Anak tunarungu adalah anak yang mengalami gangguan pendengaran (hard of hearing atau bahkan tuli).

11 Muh Aqsh, “Sistem Interaksi Sosial Anak Tuli di Yayasan Pendidikan,” (Skripsi S1 Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Makassar, 2018), hlm.10. oleh karena itu melalui proses belajar kosa kata dan belajar mengucapkan kata-kata dengan artikulasi yang jelas. Pada umumnya anak tunarungu yang tidak disertai gangguan lain memiliki inteligensi yang normal, namun prestasi akademiknya seringkali lebih rendah dibandingkan anak tunarungu pada usia yang sama.

Perkembangan kecerdasan anak tunarungu tidak secepat perkembangan anak mendengar, anak mendengar banyak belajar dari apa yang didengarnya. Namun hal ini tidak terjadi pada anak tunarungu, apalagi bahasa merupakan kunci utama untuk mengakses berbagai pengetahuan, sehingga ada batasan dalam belajar. Memiliki sifat lugu Anak tunarungu pada umumnya memiliki sifat tidak basa-basi, sehingga mereka dapat mengkomunikasikan perasaan atau pikirannya kepada orang lain dengan bebas.

Kajian Pustaka /Penelitian Terdahulu

Gambar. Kerangaka berpikir penelitian

Berdasarkan uraian gambar di atas, peneliti selanjutnya mengkaji tentang strategi pendidikan agama Islam Gutu dalam mendorong interaksi sosial bagi anak tunarungu di SLB Yayasan Mutiara Bunda. Strategi individualisasi, yaitu sebelum melakukan pembinaan dilakukan identifikasi awal berdasarkan karakteristik masing-masing anak secara individu. Penelitian ini merupakan kajian tentang Strategi guru Pendidikan Agama Islam dalam mendorong interaksi sosial anak tunarungu di Yayasan SLB Mutiara Bunda.

Penelitian dilakukan dengan terjun langsung ke lapangan untuk mendapatkan data yang diperlukan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, yaitu suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati, memusatkan perhatian pada latar belakang individu secara keseluruhan tanpa mengisolasi individu dan organisasi dalam variabel atau hipotesis, melainkan menafsirkan. mereka sebagai bagian dari kebutuhan. Makna adalah data aktual, data pasti yang merupakan nilai dibalik data yang tampak.

Subyek dan Informan

Sumber dan Sumber Data

Sumber data sekunder adalah data pelengkap atau data tambahan yang melengkapi data yang sudah ada agar pembaca lebih jelas memahami maksud penulis. Sumber data sekunder yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kajian terhadap artikel atau buku yang ditulis oleh para ahli yang ada hubungannya dengan pembahasan judul penelitian dan studi pustaka dari hasil penelitian sebelumnya yang memiliki relevansi dengan pembahasan penelitian ini, baik yang dipublikasikan maupun yang tidak dipublikasikan. dalam bentuk buku atau majalah ilmiah.

Teknik Pengumpulan Data

Dari pemaparan di atas maka peneliti dalam penelitian ini mengambil teknik observasi tidak terstruktur untuk mengetahui secara langsung dan simultan proses pemajuan interaksi sosial bagi anak tunarungu di SLB Yayasan Mutiara Bunda. Penelitian ini menggunakan jenis wawancara karena peneliti dalam penelitian ini menggunakan pedoman wawancara dan bertujuan untuk mencari jawaban atas sesuatu yang lebih mendalam tentang informan tertentu. Teknik transgulasi artinya peneliti menggunakan uji validitas dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda untuk mendapatkan sumber data yang sama.

Teknik keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi: triangulasi data berupaya mencetak kebenaran data yang terkumpul dalam upaya mengecek kebenaran suatu data dengan data yang diperoleh dari sumber lain. Peneliti secara simultan menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk sumber data yang sama.

Semakin lama peneliti berada di lapangan, semakin banyak, kompleks dan rumit jumlah data yang akan dicari/dikumpulkan. Dalam penelitian kualitatif, penyajian dapat berupa deskripsi singkat, diagram, hubungan antar kategori, pan-diagram dan sejenisnya, dalam hal ini Miles dan Huberman menyatakan dalam Sugiyono “bentuk tampilan data yang paling sering untuk data penelitian kualitatif di past has been narrative text'' .yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks naratif Dalam penelitian kualitatif kesimpulan awal dapat sesuai dengan rumusan masalah Dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan dapat berkembang selama peneliti dalam bidang.32 12.

Gambar 1.5  Triangulasi,Teknik
Gambar 1.5 Triangulasi,Teknik

Deskripsi Wilayah Penelitian

  • Sejarah Berdirinya SLB Yayasan Mutiara Bunda
  • Letak Geografis SLB Yayasan Mutiara Bunda
  • Visi dan Misi SLB Yayasan Mutiara Bunda
  • Tujuan SLB Yayasan Mutiara Bunda
  • Keadaan Guru
  • Keadaan Siswa
  • Keadaan Sarana Prasarana SLB Mutiara Bunda Kota Bengkulu Dalam rangka memajukan pendidikan SLB Mutiara Bunda Kota

Peningkatan jumlah siswa pada pendidikan khusus dan layanan khusus Mutiara Bunda terus meningkat hingga saat ini. Sekolah Yayasan Mutiara Bunda Kota Bengkulu terletak di utara Kota Bengkulu tepatnya di Jalan Gunung Bungkuk Raya RT 07 RW 03 Kelurahan Tanah Patah Kec. Ratu Agung dari kota Bengkulu. Yayasan Mutiara Bunda memiliki letak geografis yang sangat strategis karena mudah dijangkau dari sudut pandang kota Bengkulu, tanah datar sangat cocok untuk anak-anak penyandang disabilitas.

Visi Yayasan SLB Mutiara Bunda adalah menciptakan sumber daya manusia mandiri yang mampu dan mampu berinteraksi dengan lingkungan. Yayasan Mutiara Bunda adalah lembaga pendidikan khusus dan layanan pendidikan khusus dalam menyelenggarakan pendidikan yang bertujuan untuk membantu peserta didik yang memiliki kelainan fisik dan mental, kelainan tingkah laku dan kelainan sosial agar mampu mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagai individu dan anggota masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. bidang sosial. interaksi dan dapat mengembangkan potensi-potensi dasar yang optimal.33 30. Dari tabel tersebut, kualitas guru SLB Mutiara Bunda di Kota Bengkulu sangat sesuai untuk tingkat SLB.

Pada tahun 2019-2020, SLB Mutiara Bunda Kota Bengkulu terdiri dari total 3 kelas, yaitu: (6) Anak Tuli meliputi (3) Siswa kelas V SD, (2) Siswa SMA (1) SD. Data siswa ditunjukkan pada tabel berikut ini. Kondisi Prasarana SLB Mutiara Bunda Kota Bengkulu Untuk Memajukan Pendidikan SLB Mutiara Bunda Kota Untuk Memajukan Pendidikan SLB Mutiara Bunda Kota Bengkulu Telah dibangun dan dilengkapi dengan sarana dan prasarana. Data sarana dan prasarana SLB Mutiara Bunda Kota Bengkulu dapat dilihat pada tabel berikut.

Fakta Temuan Penelitian 1. Pembinaan interaksi sosial

Sebelum kita melakukan pembinaan terhadap anak tunarungu, terlebih dahulu kita harus mengetahui apa saja ciri-ciri anak tunarungu. Hal itu diungkapkan Wakil Kepala Sekolah Anak Tuli Yayasan SLB Mutira Bunda, Kota Bengkulu, Aprlilia Suryani, dalam kutipan wawancara. Jika kita sudah mengetahui ciri-ciri anak tunarungu, maka pembinaan akan diberikan sesuai dengan kebutuhan anak.” 36.

Dalam meningkatkan interaksi sosial bagi anak tunarungu, terlebih dahulu kita harus mengenal anak tunarungu, sehingga kita mengetahui ciri-ciri anak tunarungu. Upaya Yayasan SLB Mutira Bunda dalam menggalakkan interaksi sosial bagi anak tunarungu merupakan kerjasama yayasan dengan orang tua dari anak yang memiliki anak tunarungu. Interaksi sosial anak tunarungu dengan anak tunarungu lainnya Di kelas 5 terdapat 3 anak tunarungu yaitu: Dinda, Andeiogo dan Rihan.

Interaksi sosial anak tunarungu Fakta di lapangan menunjukkan bahwa anak tunarungu memiliki kemampuan interaksi sosial yang berbeda-beda. Sedangkan untuk anak tunarungu parah seperti Andeogo, sangat sulit setelah diajari, dan dia akan belajar besok. Oleh karena itu, semua sangat diperlukan bagi anak tunarungu dengan adanya fasilitas yang sangat membantu dalam mengasuh anak tunarungu.

Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan informan SLB Yayasan Mutiara Bunda di Kota Bengkulu, jika dilihat dari fasilitas yang lengkap sudah cukup memenuhi kebutuhan anak dalam pembinaan. Bahasa tubuh ini sering digunakan oleh anak-anak tunarungu dan orang-orang bercacat pada umumnya. Bahasa isyarat formal adalah bahasa nasional dalam bahasa isyarat yang sebagian besar menggunakan bahasa isyarat dengan struktur bahasa yang persis sama dengan bahasa lisan. C. Menentukan alokasi waktu pelaksanaan dan menggunakan media sharing coaching tools.

Interaksi anak tunarungu di Yayasan Mutiara Bunda Kota Bengkulu berupaya memberikan bimbingan kepada anak tunarungu pada waktu-waktu tertentu karena kondisi mereka tidak seperti anak normal. Strategi kolaboratif ini dinilai efektif untuk digunakan di kelas yang memiliki kemampuan heterogen, sehingga dapat diterapkan pada kelas mainstream tempat belajar anak tunarungu.Menurut Johnson, D.W. dan Johnson dalam strategi pembelajaran kooperatif ada 4 unsur dasar yaitu sebagai berikut. Pembiasaan di sini juga dapat diartikan sebagai pembiasaan yaitu membiasakan anak tunarungu berperilaku sesuai dengan yang diharapkan.

Faktor pendukung yang mempengaruhi perkembangan interaksi sosial penyandang tunarungu di Sekolah Yayasan Mutiara Bunda Kota Bengkulu. Strategi Guru Pendidikan Agama Islam untuk menggalakkan interaksi sosial anak tunarungu menggunakan strategi individualisasi agar lebih dekat dengan masing-masing anak sehingga pembinaan dapat tercapai dengan baik. Ada dua jenis bahasa isyarat, yang pertama adalah bahasa isyarat per-alfabet dan yang kedua adalah per-kalimat.

Saran

Agar guru pendidikan agama Islam (tunarungu) lebih memperhatikan siswanya, mereka memberikan motivasi penuh kepada orang tua dan anak. Pemerintah harus lebih memperhatikan lembaga sejenis karena minimnya lembaga yang menangani anak tunarungu membuat biaya masuk ke lembaga seperti ini tidak sedikit sehingga menjadi momok bagi orang tua yang menyekolahkan anaknya dengan gangguan ini. Ida Nurfinda, Metode Bimbingan Agama Bagi Anak Tunarungu di Panti Sosial Tuna Rungu dan Tunarungu Melati Bambu Apus, Jakarta Timur Skripsi Sarjana, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Gambar

Gambar 1.5  Triangulasi,Teknik
Gambar 1.6 Analisis data berikut.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pembinaan kedisiplinan shalat berjamaah santri dan mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat dalam menerapkan pembinaan