Metode mekanik melibatkan rekayasa fisik terhadap lahan untuk mengendalikan aliran air dan mencegah erosi
OLEH KELOMPOK 6
Dosen Pengampu: Dr. Ir. H. Wiskandar,M.P
Joshua Valentino Munthe (D1A022106) Nurfadilla (D1A022111)
Mesriana Kudadiri (D1A022113) Aziz Hayatul Nasyid (D1A022114)
ANGGOTA KELOMPOK
Latar Belakang
Afghanistan merupakan negara dengan iklim arid dan semi-arid yang sebagian besar
wilayahnya terdiri dari daerah pegunungan dan lereng curam. Kondisi ini menyebabkan tanah yang sangat tipis dan rentan terhadap erosi, terutama selama musim hujan ketika tanah leach dari permukaan dan tertransportasi ke daerah dataran rendah. Erosi tanah ini tidak hanya
mengurangi kesuburan tanah tetapi juga mengancam sumber daya air dan keberlanjutan lingkungan di negara tersebut. Kurangnya vegetasi penutup di daerah pegunungan
memperparah masalah ini, karena tanah menjadi sangat rentan terhadap erosi dan longsor yang berdampak negatif terhadap air tanah dan keamanan infrastruktur.
untuk mengatasi dan memitigasi erosivitas ini, berbagai metode pengendalian tanah seperti pembangunan struktur mekanik (dinding penahan, check dam, gabion, dan revetment), serta penggunaan teknis konservasi tanah, dikembangkan dan diusulkan untuk diterapkan di
berbagai kawasan musim hujan dan lereng pegunungan.
Effects of Soil Erosion on Water Resources in Slopy Mountainous Areas of Afghanistan and Soil Attrition Control Strategies
JUDUL
International Journal of Earth Sciences Knowledge and Applications
Metodologi dalam jurnal ini melibatkan kajian literatur,
pengumpulan data lapangan mengenai kondisi topografi dan
vegetasi di wilayah Afghanistan, serta analisis lokasi erosi untuk menilai efektivitas berbagai metode konservasi tanah dan air,
baik mekanik maupun vegetatif, yang disesuaikan dengan kondisi lokal
Metode Penelitian
5
Jurnal ini secara spesifik mengkaji berbagai daerah pegunungan dan wilayah berslopes di Afghanistan, termasuk:
- Daerah Pegunungan di sekitar wilayah Kabul dan Parwan, seperti lembah Paghman dan wilayah pegunungan di distrik Jabal Sarage.
- Wilayah Wardak dan Nangarhar yang memiliki lingkungan berbukit dan lereng curam.
- Daerah aliran sungai di wilayah pegunungan seperti Sungai Salang dan kawasan sekitarnya, yang menjadi fokus utama dalam studi mengenai erosi dan konservasi tanah.
Kawasan studi ini umumnya merupakan daerah dengan kondisi iklim kering, tanah lepas, dan minim vegetasi penutup, sehingga teknologi konservasi tanah dan air sangat diperlukan untuk melindungi sumber daya alam dan mencegah bencana alam seperti longsor dan banjir akibat erosi.
Daerah Study
5
Metode Mekanik untuk Pengendalian Erosi dan Air
1. Dinding Penahan (Revetment Walls):Dinding ini dibuat dari batu, beton, atau bahan lain yang dipasang di tepi lereng atau tepi sungai untuk melindungi tanah dari hantaman air dan mengurangi kecepatan aliran, sehingga
mencegah terjadinya erosi
2. Check Dam (Dinding Penghambat):Sebuah struktur kecil yang dibangun di saluran atau gully untuk
memperlambat aliran air, memfasilitasi deposisi sedimen, dan meningkatkan infiltrasi air ke tanah. Biasanya terbuat dari batu, kayu, atau bahan konservasi lainnya
3. Gabion dan Crib Wall: Struktur dari kawat berisi batu atau beton kecil yang digunakan sebagai pagar penahan tanah di lereng yang rawan erosi. Gabion efektif untuk stabilisasi lereng dan mengurangi aliran turbulen
4. Prop Walls dan Dentition Walls:Dinding support yang didukung pada tanah yang lunak untuk menstabilkan lereng dan mencegah longsoran. Prop wall biasanya dipasang di bagian bawah lereng, sedangkan dentition wall berfungsi memotong dan mengalihkan aliran air
5. Revêtement / Pemasangan Batu (Stone Pitching):Penutup permukaan tanah dengan batu besar untuk
melindungi dari erosi akibat aliran air permukaan dan infiltrasi. Teknik ini cocok di area terbuka, tepi sungai, dan lereng curam
6. Terracing dan Contour Farming (Terasering dan Pertanian Kontur):Teknik pembuatan teras di sepanjang kontur tanah untuk mengurangi kecepatan aliran air dan erosi, sekaligus meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah.
Metode Mekanik yang Dilakukan
5
Berdasarkan keefektifan dan kecocokannya di daerah pegunungan Afghanistan yang berbukit dan beriklim arid, metode berikut direkomendasikan:
-Pembangunan Check Dam dan Dinding Penahan (Revetment Walls):Kedua struktur ini sangat efektif dalam mengurangi kecepatan aliran air dan menangkap sedimen, yang merupakan langkah penting dalam konservasi tanah dan air di daerah berbukit.
-Penanaman Pohon dan Semak (Vegetative Stabilization):Meskipun ini termasuk metode
biologis, penanaman vegetasi berakar kuat sangat disarankan untuk memperkuat lereng dan meningkatkan kestabilan tanah secara alami.
-Terasering dan Teknik Kontur:Sangat cocok untuk daerah berlereng curam dan membantu memperlambat aliran air sekaligus meningkatkan infiltrasi air ke tanah.
-Gabion dan Crib Walls:Efektif di area yang membutuhkan stabilisasi lereng jangka
menengah hingga panjang dan mampu menahan tekanan tanah sekaligus memperlambat erosi.
Rekomendasi Metode
5
Jurnal ini menegaskan pentingnya penerapan berbagai metode konservasi tanah dan air di daerah pegunungan Afghanistan, yang rentan terhadap erosi karena kondisi
iklim arid dan topografi berbukit. Erosi tanah yang signifikan mengancam kesuburan tanah, kualitas air tanah, dan keberlanjutan lingkungan. Untuk mengatasi masalah ini, kombinasi metode mekanik seperti pembangunan struktur penahan tanah (dinding
revetment, check dam, gabion, prop wall), serta penggunaan teknik konservasi tanah seperti terasering dan penanaman vegetasi secara strategis sangat diperlukan.
Secara keseluruhan, keberhasilan pengendalian erosi di Afghanistan sangat
bergantung pada kombinasi strategi mekanik dan ekologis yang terintegrasi, serta dukungan dari profesional dan lembaga terkait di tingkat nasional dan internasional, untuk menjaga keberlanjutan tanah dan sumber air bagi masyarakat setempat.
Kesimpulan
5
The Effects Of Rainfall and Terracing-Mulch Combinations on Soil Erosion in a Loess Hilly Area, China: Insights From Plot Simulations and WEPP Modeling
JUDUL
Latar Belakang
Luas lahan di daerah lembah dan perbukitan di Cina
sangat rentan terhadap erosi tanah karena kondisi iklim dan karakteristik tanah yang mudah terkikis. Di daerah seperti Plateau Loess, erosi tanah menjadi masalah
besar yang mengancam produktivitas tanah dan
ekosistem setempat. Pengelolaan erosi yang efektif sangat diperlukan untuk menjaga keberlanjutan
lingkungan dan usaha pertanian di daerah ini.
Metodologi studi ini menggabungkan pengumpulan data lapangan, simulasi curah hujan buatan menggunakan rainfall simulator, serta pemodelan erosi tanah dengan perangkat lunak WEPP. Data tanah diukur secara langsung, dan simulasi hujan dilakukan dengan sistem yang dikalibrasi untuk menghasilkan intensitas tertentu. Data curah hujan, topografi, serta karakteristik tanah kemudian dimasukkan ke
dalam model WEPP untuk memprediksi runoff dan erosi, sementara data lapangan digunakan untuk kalibrasi dan validasi model.
Metode Penelitian
5
Daerah studi dilakukan di daerah Perbukitan Loess, cina, yang terletak di
provinsi Gansu, Tiongkok. Lokasi ini berada pada koordinat 35°34′ 45.88′′ N dan 104°38 ′ 5.67 ′′ E, dan memiliki iklim semi-kering dengan curah hujan
tahunan sekitar 421 mm, sebagian besar terjadi selama musim tanam.
Topografinya berupa perbukitan dan lembah dengan kemiringan yang sering melebihi 15 derajat, sehingga tanahnya sangat rentan terhadap erosi.
Wilayah ini didominasi oleh material loess yang sangat erodibel dan
memperlihatkan tantangan besar dalam konservasi tanah, karena kondisi
iklim dan penggunaan lahan yang memicu terjadinya proses degradasi tanah secara cepat
Daerah Study
5
Pengendalian erosi yang digunakan dalam studi ini melibatkan kombinasi teknik terracing (terasering) dan mulching (penutup tanah dengan mulsa) dengan tujuan meningkatkan stabilitas tanah dan mengurangi kehilangan tanah serta runoff air.
1. Jenis-jenis Sistem Terracing (Terasering):
Level Bench Terraces (LBTr): Teras horizontal yang dibuat sejajar dengan kontur lereng, membantu memperlambat aliran air dan meningkatkan infiltrasi.
Trench Terraces (TTr): Teras berupa parit atau saluran di sepanjang lereng untuk mengendalikan aliran air dan mengurangi erosi.
Zig Terraces (ZTr): Teras yang dibentuk dengan pola zig-zag, berguna pada lereng yang lebih curam.
Fish-scale Pits (FSPs): Sistem berupa sumur kecil atau cekungan berbentuk sisik ikan yang berfungsi menampung air dan mencegah erosi.
Non-Terraced Mulching (NTr-M): Tanpa teras tetapi dilapisi mulsa untuk mengurangi kecepatan aliran air dan pelindung tanah.
Metode Mekanik yang Dilakukan
5
2. Penggunaan Mulsa (Mulching):
Mulsa digunakan sebagai penutup permukaan tanah untuk melindungi tanah dari hentakan air hujan dan mengurangi kecepatan aliran permukaan.
Material mulsa bisa berupa dedaunan, jerami, atau bahan organik lainnya yang mudah terurai dan membantu meningkatkan kualitas tanah.
3. Kombinasi Sistem:
Sistem yang paling efektif adalah gabungan antara teras yang dirancang baik dengan penutup tanah (mulsa), misalnya, LBTr-M (level bench terrace dengan mulsa), TTrM (trench terrace dengan mulsa), dan ZTr-M (zig-zag terrace dengan mulsa).
Pendekatan ini memperkuat perlindungan terhadap erosi, terutama saat hujan deras, karena mampu memperlambat aliran air, meningkatkan infiltrasi, dan menstabilkan tanah secara
bersamaan
Metode Mekanik yang Dilakukan
5
Sistem LBTr-M (level bench terraces dengan mulsa) paling efektif dalam mengurangi runoff dan erosi tanah, bahkan di kondisi curah hujan tinggi.
Kombinasi terasering yang berbeda menunjukkan penurunan signifikan dalam laju runoff dan kehilangan tanah dibandingkan dengan penutup tanah dengan mulsa.
Penggunaan terasering dan penutup tanah dengan mulsa secara bersamaan
memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap erosi dibandingkan metode individual.
Secara umum, penggunaan sistem terasering yang dirancang baik dan penutup tanah yang memadai mampu meningkatkan stabilitas tanah dan mengurangi erosi secara signifikan, membantu mempertahankan produktivitas tanah di lingkungan yang
sensitif.
Hasil Dan Pembahasan
5
Kombinasi sistem terracing dan mulching secara signifikan efektif dalam mengurangi erosion tanah dan runoff air di daerah lereng berbatu di Loess Plateau, China. Sistem bench terraces (LBTr) yang dilengkapi mulsa (LBTr- M) menunjukkan performa paling unggul, tahan terhadap berbagai
intensitas curah hujan dan mampu meningkatkan stabilitas tanah secara optimal. Penggunaan sistem ini tidak hanya membantu mengendalikan
erosi secara efisien tetapi juga berkontribusi pada konservasi tanah danair yang berkelanjutan, sehingga cocok sebagai strategi pengelolaan tanah di daerah rawan erosi dan memungkinkan peningkatan produktivitas serta keberlanjutan ekosistem lokal.
Kesimpulan
5