Disertasi ini merupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat memperoleh gelar sarjana, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Kementerian Administrasi Negara, Universitas Muhammadiyah Makassar. Muhlis Madani, M.si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar, Bapak Dr.
Latar Belakang Masalah
Semua hal itu tertuang dalam satu undang-undang yang lengkap, yaitu dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Undang-undang ini menggantikan Undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan karena sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga tidak disusun dalam suatu kesatuan sistem yang menjadi bagiannya.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Kegunaan Penelitian 1. Kegunaan Teoritis
Sebagai rekomendasi kepada Pemerintah khususnya masyarakat di Kelurahan Manuruki, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar dalam melaksanakan kebijakan pembentukan pengatur kecepatan jalan. Dari temuan penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat di Kelurahan Manuruki, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar dalam membentuk pengatur kecepatan/polisi tidur sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Koordinasi
Sebab, koordinasi merupakan konsep yang diterapkan dalam kelompok, bukan pada upaya individu, melainkan pada sejumlah individu yang bekerja sama dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Dari ciri-ciri di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri koordinasi adalah suatu usaha kerjasama yang dilakukan secara terus-menerus, yang didukung oleh suatu kesatuan usaha atau tindakan yang bertanggung jawab dalam pengelolaan.
Tipe-Tipe Koordinasi
Setiap jenis unit dalam suatu organisasi mungkin memiliki metode dan standar berbeda untuk mengevaluasi program terhadap tujuan dan kompensasi karyawan. Asas koordinasi adalah asas skala (hierarki) yang artinya koordinasi dilakukan menurut tingkatan kekuasaan dan tanggung jawab yang diselaraskan pada tingkatan yang berbeda satu sama lain.
Syarat-Syarat Koordinasi
Ciri-Ciri Koordinasi
Kesatuan usaha maksudnya adalah usaha-usaha pada setiap kegiatan individu harus disusun sedemikian rupa sehingga terjadi keselarasan dalam pencapaian hasil.
Pendekatan Pertama: Teknik-Teknik Manajemen Dasar
Pendekatan Kedua: Meningkatkan Koordinasi Potensial
Pendekatan Ketiga: Mengurangi Kebutuhan Akan Koordinasi
Mekanisme – Mekanisme Pengkoordinasian Dasar
Hirarki manajerial
Aturan dan prosedur
Rencana dan penetapan tujuan
Pedoman Koordinasi
Kebaikan dan Hambatan Koordinasi yang efektif Kebaikan
Pendekatan untuk mencapai Koordinasi yang efektif
Mendorong koordinasi, integrasi dan sinkronisasi antar pejabat atau pihak-pihak yang terlibat dalam menjalankan misi organisasi. Menyatukan arah dan langkah serta tindakan yang akan dilakukan oleh pejabat, anggota organisasi atau pihak terkait untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, pola kerjasama terpadu dan hubungan kerja timbal balik harus secara sadar dipersiapkan sebaik-baiknya.
Memadukan kerja sama dan hubungan kerja ke dalam struktur organisasi Yang dimaksud dengan “sengaja” ikut serta dalam kerja sama dan hubungan kerja dalam organisasi tersebut di atas, misalnya: dengan sengaja menetapkan tujuan dan sasaran, ketentuan atau aturan main, perencanaan dan sebagainya. Selain itu, sebagai bukti terpenuhinya syarat yang “disengaja”, biasanya dinyatakan dalam bentuk bagan struktur organisasi. Dikatakan bahwa dalam prinsip kerjasama dan hubungan kerja terpadu, struktur organisasi juga mencakup pembagian kerja yang logis.
Dapat mengembangkan daya inisiatif dan inovatif para pejabat, karena dalam rangka koordinasi mau tidak mau harus mencari cara dan sarana yang cocok untuk melaksanakan tugas secara menyeluruh dan mencapai keseimbangan dan keselarasan.
Aturan di Indonesia Tentang Alat Pengendali Kecepatan Jalan
Speed bump atau disebut juga speed limiter adalah peninggian ruas jalan berupa tambahan aspal atau semen yang dipasang melintang di jalan sebagai tanda untuk memperlambat kecepatan kendaraan. Kendaraan yang melaju dengan kecepatan tidak melebihi batas tidak akan merasakan dampak dari polisi tidur tersebut. Dalam keputusan Menteri Perhubungan tersebut tidak ada istilah “speed bumps” yang memang merupakan suatu alat pembatas kecepatan, yaitu berupa meninggikan sebagian badan jalan di atas sumbu jalan sampai dengan lebar, tinggi, dan kemiringan yang telah ditentukan.
Tujuan awal dibuatnya polisi tidur adalah untuk mengurangi kecepatan pengendara di tempat tertentu demi keamanan dan kenyamanan. Bahkan, tak sedikit pengendara sepeda motor yang terjatuh karena "polisi tidur" yang dibuat tidak mengikuti aturan yang berlaku. Dampak positif dari polisi tidur ini adalah kendaraan yang melewatinya akan berhati-hati dengan mengurangi kecepatan kendaraannya.
Jika diteliti dengan lebih terperinci, ternyata penciptaan polisi tidur ini dikawal selia dengan Keputusan Menteri Perhubungan no.
Klasifikasi Jalan Desa
Kerangka Pikir
Penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan harus dilaksanakan dan terus ditingkatkan agar jangkauan dan pelayanannya lebih luas lagi kepada masyarakat, dengan memperhatikan sebesar-besarnya kepentingan umum dan kemampuan masyarakat, kelestarian lingkungan hidup, koordinasi antara otoritas pusat dan daerah antar instansi, sektor. dan unsur-unsur yang berkaitan dengan terciptanya keselamatan dan ketertiban dalam penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan serta terwujudnya sistem transportasi nasional yang andal dan terpadu. UU ini menggantikan UU No. 14 Tahun 1992 tentang Angkutan Jalan dan Lalu Lintas, karena sudah tidak sejalan lagi dengan perkembangan zaman, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta belum disusun menjadi suatu kesatuan sistem yang menjadi bagian dari transportasi secara keseluruhan. Undang-undang ini juga mengatur hak, kewajiban, dan tanggung jawab penyedia jasa atas kerugian pihak ketiga akibat angkutan jalan raya.
Dalam perkembangannya lalu lintas jalan raya dapat menjadi permasalahan bagi masyarakat, karena semakin bertambahnya jumlah orang yang berpindah atau berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, dan semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan angkutan jalan raya, hal ini akan berdampak pada tingginya jumlah lalu lintas. kecelakaan.cross. Kecelakaan lalu lintas yang terjadi antara lain disebabkan oleh kelelahan, kecerobohan, kurang hati-hati dan rasa bosan yang dialami pengemudi. Tidaklah berlebihan jika semua kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan pribadi maupun angkutan umum disebabkan oleh pengemudi, pejalan kaki, kendaraan, sarana dan prasarana, petugas/penegak hukum di bidang lalu lintas jalan.
Fokus Penelitian
Deskripsi Fokus Penelitian
Kerangka berpikir. pengendara mengurangi kecepatannya dengan meninggikan sebagian badan jalan yang melintang terhadap sumbu jalan). Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan, Pasal 28 ayat Ketentuan pidana atas pelanggaran pasal ini adalah pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp. 24 juta, sesuai dengan ketentuan Pasal 274 ayat (1) dan ayat dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009. Alat pembatas kecepatan merupakan perlengkapan tambahan di jalan yang berfungsi untuk membuat pengemudi kendaraan bermotor mengurangi kecepatannya.
Koordinasi horizontal yaitu koordinasi antar pejabat atau antara yang mempunyai tingkatan hierarki yang sama dalam suatu organisasi dan antar pejabat dari organisasi yang setingkat, beberapa bentuk koordinasi menurut luas dan arah jalannya yaitu menurut luasnya, ada adalah koordinasi internal yaitu koordinasi antar pejabat antar unit organisasi dan koordinasi eksternal yaitu koordinasi antar pejabat dari organisasi yang berbeda atau antar organisasi.
Waktu dan Lokasi Penelitian
Melalui pendekatan hukum normatif ini diharapkan kita dapat mempelajari peraturan perundang-undangan yang berlaku khususnya KUHP, UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan Keputusan Menteri Perhubungan No. 3 Tahun 1994 tentang Pengendalian dan Alat Keselamatan Pengguna Jalan dapat diterapkan pada kajian dan pembahasan permasalahan dalam penelitian ini. Sumber data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya melalui wawancara dengan Kepala Satuan Lalu Lintas Polres dan pengguna jalan yang sering melewati speed checker/speed humps.
Sumber data sekunder berupa buku literatur, peraturan perundang-undangan khususnya KUHP, UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan Keputusan Menteri Perhubungan No. catatan kuliah dan hasil penelitian yang berkaitan dengan permasalahan yang diangkat.
Informan Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
Bentuk wawancara yang dilakukan adalah wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur, wawancara terstruktur dilakukan untuk memperoleh data dasar mengenai pelaksanaan fungsi koordinasi Dinas Perhubungan dengan pemerintah kecamatan Manuruki dan wawancara tidak terstruktur dilakukan secara bebas untuk melengkapi data yang diperoleh dari wawancara terstruktur. wawancara. Analisis data sebagai kelanjutan dari proses pengolahan data merupakan karya seorang peneliti yang memerlukan ketelitian dan penggunaan daya berpikir secara optimal, dan kemampuan metodologis peneliti benar-benar teruji.”6 Diharapkan hasil analisis ini dapat bermanfaat. digunakan untuk menjawab permasalahan yang diangkat dalam skripsi ini dan pada akhirnya dapat digunakan untuk menarik kesimpulan dan memberikan saran bila diperlukan.
Pengabsahan Data
Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Perhubungan
Melaksanakan tugas pokok tertentu sesuai dengan kebijakan Walikota dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, merumuskan kebijakan, mengoordinasikan, mengembangkan dan mengawasi tugas departemen. Melakukan analisis terhadap pengoperasian prasarana transportasi darat dan teknis pengendalian operasional dan pemeliharaan prasarana transportasi darat.
Struktur Organisasi Dinas Perhubungan
Koordinasi Dinas Perhubungan Dengan Pemerintahan Kelurahan Manuruki Dalam Penertiban Alat Pengendali Kecepatan Kecamatan Manuruki Dalam Penertiban Alat Pengendali Kecepatan Kecamatan
Berdasarkan wawancara di atas, terlihat jelas bahwa polisi tidur sudah menjadi fenomena dan merupakan cerminan ketertiban hukum di masyarakat. Aneh tapi nyata, polisi tidur bertujuan untuk memperlambat kecepatan di jalan umum di Kelurahan Manuruki, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar yang sudah tidak terkendali lagi. Berdasarkan wawancara di atas, terlihat jelas bahwa polisi tidur bertujuan untuk memperlambat kecepatan di jalan umum di Kelurahan Manuruki, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar yang sudah tidak terkendali lagi.
Berdasarkan wawancara di atas, terlihat jelas bahwa polisi tidur yang umumnya terjadi di Kecamatan Manuruki kurang diperhatikan oleh pihak-pihak terkait sehingga semakin menjamur. Berdasarkan wawancara di atas terlihat bahwa polisi tidur yang umumnya terdapat di Kecamatan Manuruki sangat meresahkan karena adanya polisi tidur di jalan-jalan khususnya di Kecamatan Manuruki. Berdasarkan wawancara di atas, terlihat jelas bahwa polisi tidur yang umumnya terdapat di Kecamatan Manuruki dibuat untuk mengurangi kecepatan kendaraan yang lewat karena gang tersebut banyak dipenuhi anak-anak dan biasa digunakan untuk bermain terutama pada sore hari.
Berdasarkan wawancara di atas, terlihat jelas bahwa keberadaan speed bump tersebut sangat mengganggu kenyamanan pengemudi yang menurut saya sebagian besar bukanlah pengemudi yang cepat, terutama di jalan sempit.
Saran
Koordinasi Dinas Perhubungan dengan Pemerintah Desa Manuruki dalam pengendalian alat pengatur kecepatan yang berdampak jangka pendek dan jangka panjang di Desa Manuruki, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar. Dampak jangka pendeknya adalah memberikan keamanan bagi anak-anak saat bermain, kurang lancarnya perjalanan dan menimbulkan kemacetan akibat lambatnya kecepatan kendaraan.