• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Arsitektur Postmodern Jürgen Habermas

N/A
N/A
ARMANDA SIHALOHO

Academic year: 2024

Membagikan " Studi Arsitektur Postmodern Jürgen Habermas"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

PAPER SEMINAR ARSITEKTUR

“ARCHITECTURE POSTMODERNISM STUDY OF Jürgen Habermas”

DOSEN KOORDINATOR:

Dr. INDRABAKTI SANGALANG, S.T., M.T.

NIP. 19750111 200003 1 003

DOSEN PENGAMPU:

Dr. TARI BUDAYANTI USOP, S.T., M.T.

NIP. 19770713 200312 2 015 DISUSUN OLEH:

ARMANDA SIHALOHO NIM. 213020502046

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS PALANGKA RAYA FAKULTAS TEKNIK

JURUSAN ARSITEKTUR

2024

(2)

ABSTRAK

Arsitektur postmodern muncul sebagai respons terhadap modernisme, yang dianggap telah kehilangan makna dan relevansi dalam konteks sosial dan budaya yang berubah. Gerakan ini ditandai dengan penggunaan elemen historis, simbolis, dan estetik yang beragam, menciptakan karya yang merayakan pluralitas dan eklektisisme. Postmodernisme menolak gagasan universalisme yang diusung oleh modernisme dan berfokus pada konteks lokal serta pengalaman subjektif individu. Dalam praktik arsitektur, ini terlihat melalui desain yang menggabungkan berbagai gaya, penggunaan bahan yang tidak konvensional, serta penyampaian narasi visual yang kaya. Jürgen Habermas, filsuf dan kritikus sosial Jerman, mengajukan tanggapan kritis terhadap arsitektur postmodern. Dalam pandangannya, arsitektur modernisme, meskipun sering dikritik karena keterasingan dan kekakuannya, memiliki potensi untuk menjadi kekuatan perubahan sosial melalui rasionalitas normatifnya. Habermas mendorong kelanjutan gerakan modern yang bersifat kritis, menolak penolakan total terhadap modernisme yang diusulkan oleh arsitektur postmodern dan neo-historisisme. Ia menganggap postmodernisme, termasuk praktik arsitek seperti Venturi dan Hollein, berpotensi menjadi

“perancang panggung surealis” yang mengutamakan efek visual di atas fungsi publik dan sosial, sehingga mengarah pada estetika yang dangkal.

Kata Kunci:

Arsitektur Postmodernisme, Modernisme, Jürgen Habermas.

PENDAHULUAN

Arsitektur postmodern muncul sebagai reaksi terhadap dominasi arsitektur modern yang berkembang dari awal abad ke-20 hingga pertengahan abad ke-20. Modernisme, dengan prinsip-prinsip fungsionalisme, universalisme, dan kejujuran material, berusaha menciptakan desain yang bersih, sederhana, dan tanpa ornamen. Namun, pada akhir 1960-an dan awal 1970- an, kritik terhadap modernisme mulai mengemuka. Arsitektur postmodern mulai menekankan keragaman, pluralitas, dan kekayaan kontekstual, merangkul elemen-elemen historis, simbolis, dan eklektik dalam desain bangunan.

Arsitektur postmodern berkembang pada 1970-an dan 1980-an dengan arsitek seperti Robert Venturi, Michael Graves, Frank Gehry, dan Charles Moore. Karya-karya mereka mencerminkan prinsip-prinsip postmodernisme melalui penggunaan bentuk yang dinamis, warna yang berani, dan penggabungan elemen klasik. Misalnya, karya Venturi seperti Casa Gordon dan Vanna Venturi House menampilkan penggunaan ornamen dan tata ruang yang tidak konvensional, sementara Frank Gehry dikenal dengan bentuk-bentuk eksperimental yang menantang norma-norma arsitektur. Jürgen Habermas, seorang filsuf dan teoritikus sosial Jerman, memiliki pandangan kritis terhadap postmodernisme dan, lebih luas lagi, terhadap arsitektur postmodern. Meskipun Habermas tidak berfokus secara langsung pada arsitektur, pemikirannya tentang rasionalitas, ruang publik, dan komunikasi sangat relevan dalam membahas implikasi sosial dari arsitektur postmodern.

Jürgen Habermas, seorang filsuf dan teoritikus sosial terkemuka dari Institut Penelitian Sosial Frankfurt, mengembangkan dan mengkritik proyek Sekolah Frankfurt sebelumnya. Ia menolak pesimisme yang ada, terutama dalam kritik terhadap rasionalitas pencerahan, dan membedakan antara rasionalitas normatif, yang dapat mendorong perubahan sosial, dan rasionalitas instrumental, yang bersifat positivistik dan mengurangi kehidupan budaya. Habermas mendukung modernisme sebagai kelanjutan dari proyek pencerahan dan menekankan pentingnya ruang publik sebagai arena untuk tindakan komunikatif.

(3)

Sebagai kritikus postmodernisme, Habermas menguraikan dalam artikelnya bahwa modernisme sering terjebak dalam beban dan diinstrumentalisasi. Ia mengidentifikasi tiga tren oposisi terhadap modernisme: neo-historisisme, postmodernisme, dan arsitektur alternatif, yang semuanya ia kritik karena mengabaikan substansi dan konteks sosial. Habermas berpendapat bahwa meskipun arsitektur modern memiliki kekurangan, ia tetap merupakan gerakan yang penting dan harus dilanjutkan sebagai alat untuk emansipasi sosial, menyoroti bahwa arsitektur modern memiliki potensi untuk menyatukan dan membentuk identitas sosial, meskipun sering kali terdistorsi oleh praktik yang tidak mempertimbangkan konteks sosial.

PEMBAHASAN

Sebagai anggota Institut Penelitian Sosial Frankfurt yang mewarisi pemikiran Adorno dan Horkheimer, Habermas berupaya mengembangkan dan mengkritik proyek Sekolah Frankfurt sebelumnya, menolak pesimisme yang ada dan menawarkan pandangan yang lebih optimis tentang rasionalitas dan potensi perubahan sosial.

1. Pemikiran Dasar Habermas: Rasionalitas Normatif vs. Instrumental Habermas membedakan antara dua jenis rasionalitas:

Rasionalitas Normatif: Ini adalah bentuk rasionalitas yang berfungsi sebagai kekuatan emansipasi, berfokus pada nilai-nilai etika dan norma sosial yang dapat mendorong perubahan positif dalam masyarakat.

Rasionalitas Instrumental: Sebaliknya, rasionalitas ini bersifat positivistik dan berorientasi pada efisiensi dan utilitas, yang sering kali mengakibatkan pengurangan makna dalam kehidupan budaya.

Habermas melihat bahwa rasionalitas normatif harus menjadi landasan bagi proyek modernisme, yang ia anggap sebagai kelanjutan dari pencerahan. Ia percaya bahwa modernisme dapat berfungsi sebagai alat untuk mencapai emansipasi sosial, bukan sekadar alat untuk penguasaan atau kontrol.

2. Ruang Publik dan Tindakan Komunikatif

Salah satu kontribusi utama Habermas adalah penekanan pada ruang publik sebagai arena untuk tindakan komunikatif. Ia berargumen bahwa ruang publik harus menjadi tempat di mana individu dapat berpartisipasi dalam diskusi dan deliberasi, sehingga menciptakan konsensus dan pemahaman bersama. Di sini, Habermas menentang relativisme yang muncul dari berbagai teori postmodern yang merayakan "permainan bahasa" tanpa mempertimbangkan konteks sosial yang lebih luas.

3. Kritik terhadap Postmodernisme

Habermas adalah salah satu kritikus postmodernisme yang paling vokal. Dalam artikel

"Modernitas, Sebuah Proyek yang Tidak Lengkap," ia mengkritik pameran arsitektur di Venice Biennale 1980 yang dianggapnya konservatif. Ia mengidentifikasi tiga tren oposisi terhadap modernisme:

(4)

Neo-historisisme: Dikenal sebagai reaksi pelarian konservatif yang mengubah arsitektur menjadi replika gaya masa lalu tanpa mempertimbangkan konteks kontemporer.

Postmodernisme: Habermas mengkritik arsitek postmodern seperti Robert Venturi dan Hans Hollein, yang ia sebut sebagai "perancang panggung surealis." Ia berpendapat bahwa mereka menggunakan metode desain modern untuk menciptakan efek visual yang menarik, tetapi mengabaikan fungsi sosial dan makna yang lebih dalam.

Arsitektur Alternatif: Meskipun arsitektur alternatif berusaha merangkul partisipasi komunitas dan ekologi, Habermas menganggapnya sering kali mengarah pada pemujaan terhadap hal-hal yang dangkal dan kehilangan substansi dalam desain.

4. Tantangan terhadap Modernisme

Habermas mengakui bahwa modernisme mengalami beban dan diinstrumentalisasi, tetapi ia tetap mendukung kelanjutan gerakan modern yang kritis. Ia menekankan bahwa arsitektur harus terus berfungsi sebagai alat untuk perubahan sosial dan bukan hanya sebagai objek estetika. Dalam pandangannya, arsitektur modern memiliki potensi untuk menjadi kekuatan yang menyatukan dan membentuk identitas sosial, meskipun sering kali terdistorsi oleh praktik yang tidak mempertimbangkan konteks sosial.

konsep restorasi urbanitas dengan memberi perhatian pada kesalahpahaman dalam pengembangan kota, khususnya mengenai konsep fungsionalisme. Berikut penjelasan dari teks tersebut:

Pengertian Fungsionalisme dan Kasus Kota

1. Fungsionalisme: Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan bangunan yang dirancang sesuai tujuan pengguna. Namun, fungsionalisme juga menunjukkan hubungan anonim yang tidak selalu memperhatikan aspek sosial kehidupan kota dan penggunaannya.

2. Konteks Perencanaan Kota: Masalah perencanaan kota bukan sekadar desain estetis, melainkan juga berkaitan dengan pengendalian sistem yang tidak terlihat yang memengaruhi kehidupan urban. Meski banyak pihak berusaha mengingat kembali kota tradisional, hal ini tidak semudah yang diperkirakan. Sejak abad ke-19, kota modern menjadi kompleks dan tidak dapat direpresentasikan secara estetis, terperangkap dalam hubungan fungsional yang berbeda.

Kegagalan Proyek Arsitektur Modern

1. Proyek Arsitektur Modern (Neues Bauen): Teks ini mencatat kegagalan arsitektur dalam mengintegrasikan berbagai fungsi sosial, seperti perumahan dengan tempat kerja. Sebagai hasilnya, konsep tradisional tentang kota yang dihargai oleh masyarakat telah terlampaui.

2. Pameran Arsitektur dan Fungsi: Pameran industri besar di masa lalu mencerminkan keinginan pemerintah untuk mengatur pasar dalam konteks habitat manusia. Namun, struktur modern, seperti stasiun kereta dan gedung perkantoran, tidak lagi mewakili fungsi sosial yang serupa dengan gerbang kota di masa lalu.

(5)

Kebingungan dan Reaksi Terhadap Modernisme

1. Reaksi terhadap Arsitektur Modern: Kebingungan ini memunculkan kecenderungan untuk mencari solusi baru dengan melepaskan diri dari desain formal avant-garde dan prinsip fungsionalistis modern. Tiga kecenderungan yang muncul adalah:

o Neo-historisisme: Mengembalikan elemen tradisional dalam desain arsitektur.

o Postmodernisme: Memisahkan bentuk dan fungsi, dengan mengadopsi gaya campuran tanpa nostalgia.

o Arsitektur Alternatif: Menyesuaikan desain dengan konteks spasial dan sejarah, dan mengusulkan arsitektur partisipatif yang melibatkan dialog dengan masyarakat.

2. Nostalgia dan Anti-modernisme: Kecenderungan ini sering kali disertai dengan nostalgia yang bisa menjurus ke anti-modernisme, mengabaikan potensi positif modernisme. Pujian terhadap arsitektur vernakular, misalnya, dapat mengarah pada penolakan terhadap arsitektur modern dan dampaknya.

KESIMPULAN

Jürgen Habermas menunjukkan upaya untuk melanjutkan dan mengembangkan ide-ide Sekolah Frankfurt, secara khusus dalam konteks rasionalitas dan perubahan sosial. Dengan membedakan antara rasionalitas normatif yang berfokus pada nilai-nilai etika dan rasionalitas instrumental yang berorientasi pada efisiensi, Habermas menawarkan kerangka yang lebih optimis terhadap modernisme sebagai alat emansipasi. Ia menekankan pentingnya ruang publik sebagai arena bagi tindakan komunikatif, di mana individu dapat berpartisipasi dalam deliberasi untuk mencapai konsensus dan pemahaman bersama, yang berlawanan dengan relativisme yang berkembang dalam berbagai aliran postmodern.

Dalam kritiknya terhadap postmodernisme dan arsitektur alternatif, Habermas menunjukkan bahwa meskipun ada upaya untuk merangkul komunitas dan konteks sosial, sering kali hal tersebut mengarah pada kehilangan substansi dan makna dalam desain. Ia mendukung kelanjutan gerakan modern yang kritis, menekankan bahwa arsitektur seharusnya berfungsi tidak hanya sebagai objek estetika tetapi juga sebagai instrumen untuk perubahan sosial. Dalam hal ini, pemikiran Habermas memiliki relevansi yang signifikan dalam diskusi mengenai pengembangan kota dan arsitektur, memperingatkan perlunya mengintegrasikan nilai-nilai sosial dan keberlanjutan dalam praktik arsitektur, sehingga menciptakan ruang yang mengakomodasi dan memberdayakan kehidupan masyarakat urban.

DAFTAR PUSTAKA

Leach, Neil (Ed.). (1997). Rethinking Architecture: A Reader in Cultural Theory.

"The Theory of Communica ve Ac on" (1981)

Referensi

Dokumen terkait

Ruang heterotopia yang muncul pada Gereja Maria Asumpta terbentuk karena 2 hal yaitu perubahan karena konteks budaya dan perubahan karena terjadi perbedaan waktu

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah dengan kehialngan konteks budaya maka lagu anak-anak tradisi tidak memiliki makna dalam dunia kekinian.. Lagu anak-anak

Makna tidak pernah identik dengan dirinya sendiri karena muncul pada konteks yang berbeda- beda, tanda tidak pernah memiliki makna yang mutlak sama. Makna tidak akan pernah sama

Mahasiswa mampu mengembangkan kemampuan kreatif disain bangunan yang berbasis pada arsitektur Jawa dalam konteks kekinian/ kontemporer melalui penggunaan konsep

Unsur budaya juga diaplikasikan dalam rumah tinggal ini  sesuai dengan konsep arsitektur vernakular yang menekankan pada seluruh aspek lokalitasnya dan memiliki pemaknaan

Akulturasi arsitektur tradisional Makassar dalam perpaduan unsur budaya local dan asing dapat menyatu tetapi makna dan symbol budaya local masih dipertahankan,

Dari semua analogi, dapat dilihat bahwa arsitektur dan musik Barok ingin menciptakan suatu makna yang penuh dalam setiap karyanya, ide yang dibangun itu pun berusaha untuk disebarkan