• Tidak ada hasil yang ditemukan

Arsitektur Postmodern

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Arsitektur Postmodern"

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)

arsitektur postmodern PENDAHULUAN

SENI POST MODERN

POST-MODERNISM – EXPERIMENTAL, ENCYCLOPEDICT, and ECLECTIC

Pengertian paham Post Moderen adalah suatu keadaan yang digunakan untuk mendeskripkan sesuatu yang bercita rasa tinggi. Hal tersebut lalu dipasarkan secara menarik terutama dalam hal penyajiannya serta re-interpretasi gaya dan tema dari seni masa lalu.Seni masa lalu tersebut lalu ditampilkan pada masa sekarang dengan ditambahkan oleh sentuhan – sentuhan artistic.

Spesifikasi Post-Modern berbeda dengan atitud Modernism terutama jika dilihat dari sisi penciptaan ‘gaya baru’. Post-Modern juga dikategorikan sebagai explorasi dari prioritas tradisional – modern dalam hal melukis dan penggunaan museum sebagai ‘ruang seni’

Post- Modernisme adalah suatu keaadaan yang mana kemudian diaplikasikan ke dalam pendeskripsian seni bercita rasa tinggi (avant garde) sejak awal abad ke 17. Dimana kedua isi budaya seni cita rasa tinggi dan kebenaran-kebenaran

pembangunan artistiknya dapat mencapai titik perubahan yang kritis.

Layaknya Post – Impresionisme, Post – Modernisme tidaka dapat mendeskripsikan secara jelas apakah itu seniman Post Modern yang sudah ada sejak era Moderen dimulai.

Seni Post – Modern mengandung banyak tradisi bercita rasa tinggi yang penuh pengalaman. Bedanya dari Modernisme, Modernisme lebih agresif dalam

‘meminjam’ dan ‘mengkombinasikan’ gaya-gaya seni masa lalu. Sedangkan Post – Modernisme lebih konstan untuk mencari ‘langkah selanjutnya’ daripada hanya sekadar meminjam gaya-gaya masa lalu, Ia bahkan tak jarang menciptakan gaya baru.

Gaya seni masa lalu terdiri atas kumpulan bentuk yang hamper sama untuk

menciptakan ‘seni yang baru’. Sedangkan dalam pendekatan ala Post –modern, ia mengkombinasikan bentuk-bentuk yang bertentangan dari gaya seni masa lalu sampai akhirnya ia menciptakan suatu bentuk yang baru.

Contoh terbaik dari Post- Modern yang bekerja sama dengan seni adalah Arsitektur Kontemporer. Sudah lebih dari 60 tahun, ‘langit’ kota-kota di Amerika didominasi oleh logam dan kaca yang dibentuk seakan akan akan ‘mencakar langit’. Hal ini tentunya didasarkan pada beberapa fungsi arsitektur bercita rasa tinggi.

(2)

Untuk 2 dekade terakhir ini, kota-kota di Amerika sudah mulai mengembangkan ‘desain pinjaman ‘ gaya arsitektur dari berbagai era. Sebagai contoh, misalnya arsitektur The Bonaventure Hotel di Los Angeles yang terlihat ‘tak terduga’, ‘ mengejutkan’ , dan ‘ memiliki beberapa cerita’ karena begitu besarnya lobby hotel itu.

Contoh lainnya adalah bangunan pencakar langit New York AT & T di San Francisco yang monumental. Bentuknya yang seperti it, diadopsi dari bentuk jam seorang kakek yang si arsiteknya temui di Chippendale. Bentuk keseluruhannya benar-benar ‘bersih’, dibagi atas beberapa section yang ditutup oleh kaca.

Yang perlu kita ketahui , konsentrasi terbesar Post Modern adalah menyatukan lingkungan sekitar, kebenaran ide artistic dan material termasuk di dalamnya yang dilupakan oleh Era arsitektur Modern.

TEORI POSTMODERN

Sejak pertengahan tahun 1960-an, teori arsitektur telah benar-benar menjadi interdisipliner; bergantung pada jajaran luas paradigma kritis.

Proyek perbaikan moderenisme ini, disajikan sebagai Pembuatan Teori baru untuk Arsitektur, dijalankan dari sudut pandang paradigma politik, etika, ilmu bahasa, estetika, dan fenomonologi.

Jenis teori-teori dapat digolongkan dalam beberapa sikap menurut subyeknya: yakni preskriptif, proskriptif, afirmatif, atau kritis.

Teori preskriptif menawarkan penyelesaian baru atau dihidupkan lagi untuk 

masalah khusus; berfungsi untuk menentukan norma baru untuk praktek. Jadi ini menaikkan standart atau bahkan metode disain. Dapat menjadi kritis (cenderung radikal) atau afirmatif dari status quo (konservatif).

teori proskritif, yang menawarkan keadaan standar apa yang dihindarkan dalam 

desain. Arsitektur yang baik atau urbanisme dalam hal proskriptif didefinisikan dengan tiadanya sifat negative.

Teori k

 ritis menilai dunia yang dibangun dan hubungannya terhadap masyarakat yang dilayaninya. Teori ini sering memiliki orientasi politik atau etika yang

dinyatakan untuk mendorong perubahan. Teori kritis secara ideologi dapat didasarkan pada paradigma Marxisme atau feminisme, bersifat spekulatif, mengandung pertanyaan, dan kadang-kadang utopia/ idaman.

(3)

Jika teori harus membawa kepada hasil yang dapat diperkirakan, maka satu-satunya teori yang dapat diterima adalah preskriptif dan proskriptif. Kedua aspek dalil ini ditantang oleh para pembuat teori postmodern seperti Alberto Perez-Gomez: Kepercayaan (modern) bahwa teori telah disahkan, dapat dipakai dan memerlukan pengurangan teori yang benar terhadap status ilmu terapan teori¨ ini tidak termasuk dongeng dan pengetahuan yang bebas dan secara eksklusive mengenai dominasi efisien dunia materi. Teori juga mengalamatkan hubungan antara arsitektur dan alam, saat dikembangkan melalui konstruksi tempat.

Paradigma filosofi dan ilmiah sebagian besar telah membentuk pandangan arsitek

ISI

AWAL MULA ARSITEKTUR POST-MODERN

Pada era 1980 ada ‘spektrum’ yang melingkupi seluruh Eropa yaitu Post Modern. Fenomena ini pada awalnya meledak di Amerika, kemudian menyebar ke seluruh Eropa dan bahkan ‘mengendap’ di Eropa. Mengapa Post Modern begitu meledak di dunia barat pada saat itu ?

Menurut Paolo Portogeshi, seorang arsitek dari Era Post Moderen, Arsitektur pada era ini adalah suatu bentuk ‘penolakan’ dari sesuatu yang rumit, suatu

pembaharuan yang lebih dari sekadar simple, tetapi juga dapat merubah pemikiran seseorang.

Post Modern menjamin adanya pembaharuan pada penampilan bangunan, penyederhanaan isi bangunan yang meyakinkan untuk merubah bentuk dan strategi pembangunan. Tetapi pada akhirnya, sensasi sulit dari era arsitektur Modern, ketidaknyamanan penyesuaian budaya manusia pada arsitektur Modern, akan terhapuskan dengan perealisasian arsitektur Post Modern.

Post Modern, menurut Paolo Portogeshi, adalah kebenaran suatu pendobarakan dalam hal hubungan social dunia. Aspek lain dari kondisi Post Modern adalah ketidakmanusiawian proses dasar dari teori kritik kaum borjuis.

KEMATIAN ARSITEKTUR MODERN

Kematian arsitektur Modern dimulai di St. Louis , Missoury pada 15 Juli 1972 ketika gedung apartemen Pruitt Igoe diledakkan dengan dinamit . Mengapa hal ini bias terjadi ? karena di gedung ini terjadi banyak tindakan vandalisme yang

(4)

di daerah lain. Dan Oscar Newman, sang arsitek semakin ‘memfasilitasi’ hal ini dengan dibangunnya Pruitt Igoe.

Keberadaan koridor panjang. Tak ada pembatas antara ruang privat dan public dan juga desain tanp-a memperhatikan lingkugan membuat vandalisme semakin marak di gedung ini. Maka dari itu, gedung inipun dihancurkan dan dijadikan titik

kehancuran Arsitektur Modern .

Selain Pruitt Igoe, ada pula bangunan lain yang disebut-sebut sebagai awal

kehancuran Arsitektur moderen yaitu apartemen Lake Shore Drive di Chicago karya Mies Van Der Rohe. Bangunan yang mengadopsi gaya arsitektur Doria Kuno terlihat amatlah tidak manusiawi. Mengapa? Karena fasadnya yang dipenuhi oleh kaca gelap dan logam terlihat seperti kantor sehingga orang-oranmg yang tinggal di dalamnya merasa amat tertekan.

Pada tahun 1955 ada sebuah essai yang mengekspos beberapa rahasia dibalik Arsitektur Modern. Essai tersebut mencoba untuk menyerang pertanggung jawaban Arsitektur Modern akan utilitas dan efisiensi structural ketika 2 hal yang amat

bertentangan ( sisi struktur dan kemanusiaan penghuni )

Philip Johnson dalam “ The Processionsl Element in Architecture “ 1965, mengkombinasikan spasial rasionalitas dari pergerakan modern dengan

permainannya serta bentuk-bentuk histories arsitektur. Argumen ini tanpa ragu-ragu mendobrak pintu sejarah arsitektur.

‘ Mies is such jenius! But I grew old ! And bored! My direction is clear; eclectic tradition. This is not academic revivalism. There are no classic orders or gothic finalos, I try to pick up what I like throughout history. We can’t know history ‘

Jadi pada tahun 1961, apa yang Philip Johnson pertahankan yaitu rasa eklektisisme_ bukan hanya tone-tone yang unik, pilihannya yang terlihat dangkal di permukaan, tetapi sebuah pilihan itu sebenarnya begitu mendalam karena merupakan hasil investigasi yang terus menerus.

PEMBAGIAN ERA DALAM ARSITEKTUR POSTMODEREN

Era Diagona

 l

Arsitek yang terkenal pada era ini :

Robert Venturi, dengan desainnya yang terkenal pada North Penn Visiting Nurses ( Headquarters Builiding).

(5)

Kahn, dengan rancangannya yang ‘berputar ke segala arah’ pada Salk Lab. Aalto, dengan Berlin Phil.

Le Corbusier, dengan Carpenter Centre dan Chatedral du Ronchamp yang terkenal. Era Asimetrikal Simetri, era ini dapat dibagi lagi menjadi :

Era Moore bangunan yang terkenal : Sea Ranch, Santa Barbara. Era Supergrafis bangunan yang terkenal : Westchester Rest.

Era Graves bangunan yang terkenal : Warehouse Conversion , Villa Snellman. Era Layering dan Ambiguitas bangunan yang terkenal : Hotel de Beauvis dan  Folly Farm.

Era Frontalitas dan Rotasi bangunan yang terkenal Gunwyn Venture.

Era Demi Form dan Kejutan bangunan yang terkenal : Yinyang Hse dan Anti  Dwelling Box.

Era Shifted Axes Bangunan yang terkenal : Atheneum dan Matthew Street.

PENGERTIAN POSTMODERN DAN ARSITEKTUR POSTMODERN

Pengertian postmodern :

• Arsitektur yang sudah melepaskan diri dari aturan-aturan modernisme. Tapi kedua-duanya masih eksis.

• Anak dari Arsitektur Modern. Keduanya masih memiliki sifat/ karakter yang sama. • Koreksi terhadap kesalahan Arsitektur Modern. Jadi hal-hal yang benar dari

Arsitektur Modern tetap dipakai.

• Merupakan pengulangan periode 1890-1930.

• Arsitektur yang menyatu-padukan Art dan Science, Craft dan Technology, Internasional dan Lokal. Mengakomodasikan kondisi-kondisi paradoksal dalam arsitektur.

(6)

Perubahan mendasar dalam sejarah dunia arsitektur adalah saat hadirnya arsitektur modern. Arsitektur sampai abad ke-19 dianggap sebagai seni bangunan. Reformasi pemikiran Arsitektur Modern ini mulai muncul pada abad ke-18, dimana yang dimaksud Arsitektur Modern bukan karya arsitektur, melainkan ide, gagasan, pikiran atau pengetahuan dasar tentang arsitektur. Pemikiran tersebut baru dapat direalisasikan pada pertengahan abad ke-19 dikarenakan pendidikan Arsitektur yang dibagi menjadi dua, sebagai kesenian dan sebagai ilmu teknik sipil, dan munculnya industri bahan bangunan.

Antara tahun 1890-1930 muncul berbagai macam pergerakan, antara lain : Art and Craft, Art Noveau, Ekspresionisme, Bauhaus, Amsterdam School, Rotterdam School, dll. Periode tersebut merupakan puncak sekaligus titik awal dari arsitektur modern. Pada tahun 1950-1960, terdapat 2 pihak yang berlawanan :

1. Kelompok yang berpihak pada teknologi dan industrialisasi; tahun 1950 dikatakan sebagai titik puncak kejayaan Arsitektur Modern.

2. Kelompok yang memuja estetik dan artistik; tahun 1950-an dilihat sebagai titik awal kemerosotan Arsitektur Modern.

Sekitar tahun 1960-an, pertentangan antara kedua pihak itu terjadi lagi dikarenakan adanya perbedaan pendapat tentang 'untuk siapa arsitektur itu diciptakan?'. Hal tersebut yang menjadi titik awal lahirnya Post Modernisme yang melawan

Modernisme dengan pernyataan: Less Is Bore. Media massa juga ikut berperan dalam memicu timbulnya pluralism yang menjadi bahan dasar post modernisme. Perbedaan karakter Modernisme dan Post Modernisme :

• Modernisme : singular, seragam, tunggal.

• Post Modernisme : plural, beraneka ragam, bhinneka.

Sebuah Gambaran tentang Post Modern

Postmodern bisa dimengerti sebagai filsafat, pola berpikir, pokok berpikir, dasar berpikir, ide, gagasan, teori. Masing-masing menggelarkan pengertian tersendiri tentang dan mengenai Postmodern, dan karena itu tidaklah mengherankan bila ada yang mengatakan bahwa postmodern itu berarti `sehabis modern' (modern sudah usai); `setelah modern' (modern masih berlanjut tapi tidak lagi populer dan

dominan); atau yang mengartikan sebagai `kelanjutan modern' (modern masih berlangsung terus, tetapi dengan melakukan penyesuaian/adaptasi dengan perkembangan dan pembaruan yang terjadi di masa kini).

(7)

Di dalam dunia arsitektur, Post Modern menunjuk pada suatu proses atau kegiatan dan dapat dianggap sebagai sebuah langgam, yakni langgam Postmodern. Dalam kenyataan hasil karya arsitekturnya, langgam ini muncul dalam tiga versi/sub-langgam yakni Purna Modern, Neo Modern, dan Dekonstruksi. Mengingat bahwa masing-masing pemakai dan pengikut dari sub-langgam/versi tersebut cenderung tidak peduli pada sub-langgam/versi yang lain, maka masing-masing

menamakannya langgam purna-modern, langgam neo-modern dan langgam dekonstruksi.

1. PURNA MODERN

a. Purna Modern merupakan pengindonesiaan dari post-modern versi Charles Jencks (ingat, pengertian veris Jencks itu berbeda dari pengertian umum dari `Post Modern' yang digunakan dalam judul catatan kuliah ini)

b. Ditandai dengan munculnya ornamen, dekorasi dan elemen-elemen kuno (dari Pra Modern) tetapi dengan melakukan transformasi atas yang kuno tadi.

c. Menyertakan warna dan tekstur menjadi elemen arsitektur yang penting yang ikut diproses dengan bentuk dan ruang.

d. Tokohnya antara lain : Robert Venturi, Michael Graves, Terry Farrell. 2. NEO MODERN

a. Dahulu diberi nama Late Modern oleh Charles Jencks, sehingga pengertiannya tetap tidak berubah.

b. Tidak menampilkan ornamen dan dekorasi lama tetapi menojolkan Tektonika (The Art of Construction). Arsitekturnya dimunculkan dengan memamerkan kecanggihan yang mutakhir terutama teknologi.

c. Sepintas tidak terlihat jauh berbeda dengan Arsitektur Modern yakni menonjolkan tampilan geometri.

d. Menampilkan bentuk-bentuk tri-matra sebagai hasil dari teknik proyeksi dwi matra (misal, tampak sebagai proyeksi dari denah). Tetapi, juga menghadirkan bentukan yang trimatra yang murni (bukan sebagai proyeksi dari bentukan yang dwimatra).

e. Tokohnya antara lain: Richard Meier, Richard Rogers, Renzo Piano, Norman Foster.

f. Tampilan dominan bentuk geometri.

g. Tidak menonjolkan warna dan tekstur, mereka ini hanya ditampilkan sebagai aksen. Walaupun demikian, punya warna favorit yakni warna perak.

(8)

3. DEKONSTRUKSI

a. Geometri juga dominan dalam tampilan tapi yang digunakan adalah geometri 3-D bukan dari hasil proyeksi 2-D sehingga muncul kesan miring dan semrawut.

b. Tokohnya antara lain: Peter Eisenman, Bernard Tschumi, Zaha Hadid, Frank O'Gehry.

c. Menggunakan warna sebagai aksen dalam komposisi sedangkan tekstur kurang berperan.

`Pokok-pokok pikiran yang dipakai arsitek Post Modern yang tampak dari ciri-ciri di atas berbeda dengan Modern. Di sini akan disebutkan tiga perbedaan penting dengan yang modern itu.

1. Tidak memakai semboyan Form Follows Function

Arsitektur posmo mendefinisikan arsitektur sebagai sebuah bahasa dan oleh karena itu arsitektur tidak mewadahi melainkan mengkomunikasikan.

Apa yang dikomunikasikan?

Yang dikomunikasikan oleh ketiganya itu berbeda-beda, yaitu :

PURNA MODERN : yang dikomunikasikan adalah identitas regional, identitas kultural, atau identitas historikal. Hal-hal yang ada di masa silam itu

dikomunikasikan, sehingga orang bisa mengetahui bahwa arsitektur itu hadir sebagai bagian dari perjalanan sejarah kemanusian.

NEO MODERN : mengkomunikasikan kemampuan teknologi dan bahan untuk berperan sebagai elemen artistik dan estetik yang dominan.

DEKONSTRUKSI : yang dikomunikasikan adalah

a. Unsur-unsur yang paling mendasar, essensial, substansial yang dimiliki oleh arsitektur.

b. Kemampuan maksimal untuk berarsitektur dari elemen-elemen yang essensial maupun substansial.

Karena pokok-pokok pikiran itu dapat pula dikatakan bahwa:

Arsitektur PURNA MODERN memiliki kepedulian yang besar kepada masa silam (The Past),

Arsitektur NEO MODERN memiliki kepedulian yang besar kepada masa ini (The Present), sedangkan

(9)

Arsitektur DEKONSTRUKSI tidak mengikatkan diri kedalam salah satu dimensi Waktu (Timelessness). Pandangan seperti ini mengakibatkan timbulnya pandangan terhadap Dekonstruksi yang berbunyi "Ini merupakan kesombongan dekonstruksi." 2. Fungsi ( bukan sebagai aktivitas atau apa yang dikerjakan oleh manusia terhadap arsitektur)

Yang dimaksud dengan `fungsi' di sini bukanlah `aktivitas', bukan pula `apa yang dikerjakan/dilakukan oleh manusia tehadap arsitektur' (keduanya diangkat sebagai pengertian tentang `fungsi' yang lazim digunakan dalam arsitektur modern). Dalam arsitektur posmo yang dimaksud fungsi adalah peran adan kemampuan arsitektur untuk mempengaruhi dan melayani manusia, yang disebut manusia bukan hanya pengertian manusia sebagai mahluk yang berpikir, bekerja melakukan kegiatan, tetapi manusia sebagai makhluk yang berpikir, bekerja, memiliki perasaan dan emosi, makhluk yang punya mimpi dan ambisi, memiliki nostalgia dan memori. Manusia bukan manusia sebagai makhluk biologis tetapi manusia sebagai pribadi. Fungsi = apa yang dilakukan arsitektur, bukan apa yang dilakukan manusia; dan dengan demikian, 'FUNGSI bukan AKTIVITAS'

Dalam posmo, perancangan dimulai dengan melakukan analisa fungsi arsitektur, yaitu :

Arsitektur mempunyai fungsi memberi perlindungan kepada manusia (baik melindungi nyawa maupun harta, mulai nyamuk sampai bom),

Arsitektur memberikan perasaan aman, nyaman, nikmat,

Arsitektur mempunyai fungsi untuk menyediakan dirinya dipakai manusia untuk berbagai keperluan,

Arsitektur berfungsi untuk menyadarkan manusia akan budayanya akan masa silamnya,

Arsitektur memberi kesempatan pada manusia untuk bermimpi dan berkhayal, Arsitektur memberi gambaran dan kenyataan yang sejujur-jujurnya.

Berdasarkan pokok pikiran ini, maka :

Dalam PURNA MODERN yang ditonjolkan didalam fungsinya itu, adalah fungsi-fungsi metaforik (=simbolik) dan historikal.

NEO MODERN menunjuk pada fungsi-fungsi mimpi, yang utopi (masa depan yang sedemikian indahnya sehingga tidak bisa terbayangkan).

(10)

3. Bentuk dan Ruang

Didalam posmo, bentuk dan ruang adalah komponen dasar yang tidak harus berhubungan satu menyebabkan yang lain (sebab akibat), keduanya menjadi 2 komponen yang mandiri, sendiri-2, merdeka, sehingga bisa dihubungkan atau tidak. Yang jelas bentuk memang berbeda secara substansial, mendasar dari ruang.

Ciri pokok dari bentuk adalah 'ada dan nyata/terlihat/teraba', sedangkan ruang mempunyai ciri khas 'ada dan tak-terlihat/tak-nyata'. Kedua ciri ini kemudian menjadi tugas arsitek untuk mewujudkannya.

Berdasarkan pokok pikiran ini, maka dalam arsitektur :

PURNA MODERN bentuk menempati posisi yang lebih dominan daripada ruang, NEO MODERN sebaliknya bertolak belakang , menempatkan ruang sebagai unsur yang dominan, sedangkan dalam

DEKONSTRUKSI tidak ada yang dominan, tidak ada yang tidak dominan, bentuk dan ruang memiliki kekuatan yang sama.

Arsitektur Post Modern sudah ada di Indonesia sejak tahun 1970-an melalui karya dari Y.B Mangunwijaya. Tapi bila dilihat dari ciri visual Post Modern maka langgam ini belum cukup populer di Indonesia. Hanya beberapa buah saja yang berusaha menghadirkannya antara lain: Sonny Sutanto, Yori Antar, Sardjono Sani, dll. (Dari berbag

ARSITEKTUR POST MODEREN

CIRI ARSITEKTUR POSMODEREN

Ciri arsitektur pada era ini bisa dibilang amat jelas dan amat mirip dengan gaya arsitektur minimalis. Mengapa ? karena bentuknya yang persegi tegas, sudut-sudutnya tajam, lingkarang tegas, lengkungan-lengkungan tanpa banyak detail, membuatnya terlihat simple sampai-sampai dijadikan symbol penolakan arsitektur moderen yang rumit. Lihat saja pada kebanyakan bangunan era Posmoderen, atap plat beton yang kokoh, split level yang jelas, sudut-sudut yang tajam, serta tak lupa bentuk lengkung dan patahan yang tegas menjadi cirri utama arsitektur pada era ini. Warna-warna contras juga banyak digunakan pada arsitektur era ini. Yang paling penting, arsitektur pada era ini amat menekankan pada kenyamanan

(11)

penghuni meskipun pada akhirnya bentuk bangunan yang dibuat terlihat ambigu / aneh.

Seperti yang dikemukakan pada awal paper ini, arsitektur Postmoderen masih mengakui bahwa ia mengadopsi gaya-gaya arsitektur lama terutama pada penggunaan kolom model Doria dan Hellenic.

Misalnya saja pada Athens Apartement karya david Hicks. Ia mengadopsi gaya Doria pada pengecatan dinding apartemen sehingga terlihat ‘deep freeze’ ( putih dingin kebiru-biruan) dan pola lantai hitam-putih dari gaya Hellenic.

Contoh lain , Moscow State University. Ia meminjam bentuk limas segi 4 dari Piramid dan menggabungkannya dengan balok. Mengapa dipilih pyramid ? karena pyramid dianggap sebagai miliknya ‘kaum borju’. Yang pasti saat Universitas itu dibangun, paham komunis masih amat kuat pengaruhnya di Rusia dimana hanya orang kaya saja yang bisa kuliah di Universitas Moscow.

METAFORA dan METAFISIKA

Alasan lain penyebab banyak arsitek meningglakan prinsip Modernisme adalah begitu nyata ketidakmampuan Modernisme untuk mendeskripsikan apa arti

Arsitektur sebenarnya. Apakah yang paling penting dalam arsitektur itu ? Terutama sekarang ketika modernis percaya kemajuan teknologi dan mesin Aestetic terlihat begitu naïf ?

Arsitektur seharusnya punya referensi yang signifikan seperti Renaissance yang punya Metafisik Plato, Romawi yang punya kepercayaan kan organisasi imperial. Satu dari beberapa hal tersebut (referensi.red) mampu mendefinisikan karakteristik dari Posmoderen adalah suatu ‘pencarian’. Sesudah segala keanehan yang

terlhat,Para arsitek akhirnya malah lebih familiar dan lelah dengan proses dan kegunaanya. Tetapi meskipun mesin metafora itu mati, kita tidak menutup kemungkinan metafora yang mati itu akan membangun metafisika.

Meskipun sedikit,fungsi spiritual dari arsitektur memang ada. Faktanya tidak pergi meski agama dan pemahaman tentang metafisika sudah hilang. Dan yang pasti arsitektur Posmoderen yang sama seperti pelukis Surealisme, mengkristalisasikan spritulitasnya di sekitar kemungkinan tangan bermetafora lagi.

Contoh bangunan yang menggunakan metafora adalah Sydney Opera House dan Chatedral du Ronchamp . Sydney Opera House menggunakan metafora 3 kura-kura yang bertumpukan pada bentuk atapnya.

Sedangkan pada Chatedral du Ronchamp, menggunakan analogi lonceng gereja pada denahnya.

(12)

DEFINISI TEORITIS PARADIGMA POSTMODERNISME

Dengan meningkatnya publikasi teori arsitek, dan eksibisi postmodernisme terdapat tambahan yang ditandai dengan adanya paradigma teorikal atau framework

ideologikal, yang strukturnya masih menjadi perdebatan. Dilihat dari sisi lain, paradigma utama yaitu teori bentuk arsitek yang merupakan sebuah fenomena, kecantikan, teori bahasa tubuh (semiotics, structuralism, poststructuralism, dan deconstruction), Marxism, dan feminism).

PARADIGMA 1: PHENOMENOLOGY

Phenomenology adalah kebenaran teori arsitektur pada metode filosofi. Dimana ancaman filosofikal ini didasarkan pada kebiasaan postmodern melalui tempat, pandangan, dan pembuatan yang terkadang terlihat berlebihan dan tidak dapat dipertanyakan. Pada teori terbaru ditunjukkan spekulasi dari filosofi, dengan membuat masalah pada interaksi tubuh dengan lingkungannya.

Pada tahun 1950, dimana Martin Heidgger dan Gaston Bachelard menerjemahkan sebuah pekerjaan terdapat kemungkinan, pemikiran fenomenologikal arsitektur mulai tidak menempatkan formalitas dan bergantung pada pekerjaan tanah untuk kecantikan mendadak. Fenomenologi mengkritik logika dari ilmuwan, melalui pemikiran (optimisme mengenai keuntungan dari adanya metode ilmuwan yang dapat dikaitkan dengan kemanusiaan) positif telah dielevasikan dan tidak diberi nilai, tampil seperti postmodernist yang berpikir ulang menjadi modernity dengan hanya sedikit keinginan yang antusias.

Tulisan Heidgger didasarkan dengan motivasi kekhawatiran mengenai

ketidakmampuan orang modern untuk merefleksikan hidup sebagai manusia, ia mendebat, refleksi semacam itu mengartikan kondisi seorang manusia. Salah satu fenomenologikal yang sangat berpengaruh pada arsitektur adalah Building Dwelling Thinking,dimana Heidgger menuliskan hubungan antara bangunan, tempat tinggal, manusia, konstruksi, dan penghematan.

Dengan menyelidiki etimologi pada kata bauen (bangunan) Heidgger menemukan kembali konotasi kuno dan arti luas yang menyampaikan kesejahteraan potensial. Tempat tinggal didefinisikan sebagai ‘tempat untuk bermalam’. Sedangkan benda merupakan elemen yang mengumpulkan ‘empat fungsi’ dari bumi, udara, makhluk hidup, dan dewa. Melalui essay-nya, Heidgger menyimpulkan bahwa bahasa

membentuk suatu pemikiran, sedangkan pemikiran dan puisi diperlukan untuk sebuah tempat tinggal.

(13)

Christian Norberg-Schulz mengartikan konsep tempat tinggal Heidgger sebagai berada di tempat yang damai pada tempat yang telah dilindungi. Ia mendebat, potensi arsitektur untuk mendukung tempat tinggal: “Tujuan utama dari arsitektur adalah untuk membuat dunia terlihat. Dapat diumpamakan sebuah benda, dan dunia yang dibawa ke permukaan terdiri dari apa yang didapatkan.” Kritik norwegia muncul dengan adanya koneksi antara arsitektur dan tempat tinggal. Norberg-Sshulz secara luas diteliti, dan dipertimbangkan sebagai arsitektur yang

fenomenologi, yaitu, memberi perhatian terhadap ‘ruang yang konkrit’ melalui seluruh tempat.

Aspek teknik dari arsitektur memainkan sebuah peran, terutama detail yang

konkrit, dimana norberg-Schulz berkata “jelaskan lingkungan dan buatlah karakter tersebut memanifestasi.”

Fenomenologi pada arsitektur membutuhkan perhatian dalam pembebasan mengenai bagaimana benda dibuat. Seperti yang dikatakan Mies “Tuhan adalah detail.” Pengaruh pemikiran ini dikenali sebagai elemen dasar dari arsitektur (dinding, lantai, tembok,dll, sebagai pembatas atau beban) tetapi juga menunjuk kearah ketertarikan yang dibentuk ulang dalam kualitas yang sensual alam material, cahaya, warna dan simbol, merupakan hal yang signifikan untuk digabungkan.

Perez-Gomez mengatakan, dengan mengembangkan konsep Heidgger mengenai tempat tinggal untuk memungkinkan ‘orientasi keberadaan’, pengenalan budaya, dan hubungan dengan sejarah.

Fenomenologi Finnish, Juhani Pallasmoa, mengartikan arsitektur dari segi fisik. “Pembukaan pandangan ke kedua realita mengenai persepsi, mimpi, memori yang terlupakan dan imaginasi.” Hal ini merupakan pemikiran yang sempurna mengenai ‘arsitektur diam’ yang abstrak. Sementara Pallasmoa menginvestigasi

ketidaksadaran paralel dalam Freudian, arsitekturnya membentuk sebuah sublime sementara.

PARADIGM 2: AESTHETIC OF THE SUBLIME

Seperti fenomenologi, estetik sebagai paradigma filosofi berhadapan dengan produksi dan penerimaan seni pekerjaan. Karena fungsinya sebagai ekspresi

karakter modern, konstitusi sublime bergabung dengan dasar kategori estetik pada periode postmodern. Kelahiran kembali ketertarikan pada sublime merupakan masa yang dapat diterapkan pada emphasis sekarang, pada pengetahuan arsitektur melalui fenomenologi. Paradigma fenomenologi sebagai persoalan fundamental pada estetik: efek pekerjaan arsitektur mempunyai sudut pandang. Sebagai contah pada sublime, pengalaman merupakan sebuiah hal yang penting.

(14)

Definisi penggabungan dari sublime memberikan bentuk pada model estetik modern dan pemikiran postmodern. Pemikiran kembali mengenai sublime dapat dipergunakan untuk membangun kembali arsitektur yang salah dan pindah ke formalisme sekarang.

Pada arsitektur abad ke-20. pemikiran mengenai sublime atau kecantikan terlihat begitu bebas. Untuk mencapai ‘titik radikal’ pada sejarah dari masa modern, teori estetik harus berubah. Polemik modernist adalah untuk estetik tabula rasa

(abstraksi) dan untuk aplikasi ilmu dalam desain, menanamkan teori yang

berlangsung. Perhatian secara positif diberikan kepada rasional, fungsi kecantikan dan sublime sebagai masalah arsitektural. Postmodern sendiri, pada sublime adalah sebagai batas ijin perkembangan teori yang penting.

Deskripsi Postmodern menurut Sigmund Froud, merupakan sebuah penemuan mengenai sesuatu yang tidak asing lagi untuk ditampilkan; perasaan yang tidak mudah mengenal ketidakberadaan. Campuran dari yang diketahui dan tidak asing oleh orang asing, asla dari kata unheimliche, yang diartikan tidak mempunyai rumah. Penbelajaran terbaru Vidler pada The architectural PostModern ditulis, tema umum dari ide adalah mengenai tubuh manusia.

Vidler mengenali kegunaan dari defamiliarizing, ‘pembalikan dari norma kecantikan dan penggantian sublime’ sebagai sebuah strategi pengamatan formal. Penjelasan dari eksplorasi Eisenman adalah sebagai ‘manifestasi ketidakpastian fisikal’, ia mengklaim penawaran grolesque sebagai tantangan untuk terus mendominasi kecantikan, sejak zaman Renaissance. Eisenman berpikir bahwa gerakan modern merupakan sesuatu yang tidak terganggu selama 500 tahun, yang dikatakan sebagai ‘masa klasikal’.

Sublime yang sangat penting dikenal dengan tulisan kritis, yang mempunyai seni dan literature utama. Ditampilkan sebagai sebuah fenomena modern sebagai sebuah kritik sosial, atau sebuah aspek psikologi yang ditemui, profil dari sublime bergabung. Yang kemudian Jean Franquois Lyolara dan Eisenman mengkonstruksi ulang dan menentukan keabstrakan tersebut. Posisi teori ini telah berpindah dan mempunyai batasan dari kemampuan untuk melihat arsitektur pada masa dialog yang terus-menerus antara sublime dan ‘yang cantik’. Perhatian Vidler dan

penempatan Eisenman merupakan pengalaman spasial mengenai tantangan tujuan manusia sebagai seorang formalis dan penerimaan arsitektur non-percobaan.

PARADIGMA 3: LINGUISTIC THEORY

Perputaran perhatian pada budaya kritis postmodern juga mempengaruhi restrukturisasi pemikiran dari paradigma bahasa. Semiotik, strukturalisme, dan post-strukturalisme membentuk ulang literatur, filosofi, antropologi, sosiologi, dan aktivitas kritikal yang besar.

(15)

SEMIOTICS

Paradigma ini diparalelkan sebagai sebuah kebangkitan arti dan simbol pada dunia arsitektur. Arsitektur mempelajari bagaimana arti dibawa dalam bahasa dan

diaplikasikan terhadap ilmu melalui ‘linguistic analogy’ menjadi sebuah arsitektur. Timbul pertanyaan, apakah dalam hal umum seperti bahasa, dapat dimengerti oleh orang awam diluar dunia arsitektur dalam proses pembuatannya.

Diana Agrest dan Mario Gandelsonas pada “Semiotics and Architecture” serta Geoffrey Broodbent pada “A Plain Man’s Guide to the Theory of Signs in

Architecture”, menanyakan mengenai ‘kontak sosial’ yang terdapat pada setiap arsitektur. Sebagai perwujudan fungsi modern dimana bentuk yang menentukan, hal ini didebat dari poin bahasa, dimana obyek arsitektur tersebut tidak mempunyai maksud lain, namun mampu membentuk suatu budaya. Ahli bahasa Swiss, De Saussure memberi kontribusi utama, yaitu pembelajaran bahasa secara sinkron, dan pemeriksaan bagian bahasa dan hubungannya antar setiap bagian.

De Saussure merupakan penemu note signifier, yang relasi strukturalnya ditandai dengan bahasa. Sebagai dua komponen penting pada tanda, timbul ide: “bahasa merupakan sebuah sistem yang mempunyai masa bebas dimana setiap masa menghasilkan kesulitan dari kehadiran secara simultan terhadap yang lainnya.” Mario Gondelsonas membandingkan sintatis yang diambil pada pekerjaan Eisenman dengan semantik yang digunakan oleh Graves. Agrset dan Gondelsonas dalam teori dan pelatihannya dipengaruhi oleh bahasa, dimana mereka menemukan cara

semiotik dalam membaca arsitektur sebagai sebuah lapangan produksi pengetahuan.

STRUCTURALISME

Strukturalisme merupakan metode pembelajaran yang secara umum menuntut: “bentuk alami benda dapat dikatakan tidak terdapat pada benda itu sendiri, tetapi pada hubungan yang telah kita bangun dan buat diantara benda tersebut.” Dunia dibentuk oleh bahasa, dimana struktur mempunyai hubungan yang berarti antara tanda, namun ada juga perbedaan antara struktur dan sistem bahasa pada saat tidak adanya masa yang positif.

Struktural focus pada kode, konvensi, dan proses pertanggungjawaban pada pekerjaan, dimana mampu menciptakan arti sosial yang tersedia. Sementara struktur yang telah menjadi dasar pada linguistic dan antropologi, merupakan sebuah persilangan disiplin.

Penampilan dari strukturalisme untuk arsitektur rasional sangat jelas melalui penjelasan metode berikut ini, yaitu bila salah satu pengganti arsitektur bekerja untuk pekerjaan literatur: ‘Strukturalis mengambil bahasa sebagai sebuah model dan mencoba untuk membangun sebuah grammar – peralatan sistematik dari

(16)

elemen dan kemungkinannya untuk kombinasi – yang akan dihitung untuk bentuk dan arti dari pekerjaan literatur.’

POST-STRUCTURALISME

Kritik budaya Hal Foster menandai perubahan dari modern menjadi postmodern melalui dua ide yang dipinjam secara langsung dari literatur dan kritik budaya Roland Barther. Perubahan focus pada artistic atau produksi literatur dari kreasi modern terhadap seluruh atau kesatuan, menjadi kreasi postmodern terhadap ‘ruang multidimensi’ atau ‘methodological field’. Sangat sulit untuk memisahkan strukturalisme dan post-strukturalisme.

Cara lain untuk menandai perubahan strukturalisme menjadi post-strukturalisme, yaitu pergerakan dari memandang bahasa secara obyektif, memandangnya sebagai obyek yang tidak salah. Dimana Eagleton menjelaskan ‘discourse’ berarti bahasa diambil sebagai sebuah dasar atau pelatihan.

Sebelum strukturalisme, tindakan interpretasi dilakukan untuk menemukan arti yang melibatkan tujuan dari pengarang atau pembaca; hal ini berarti

dipertimbangkan secara jelas. Strukturalisme tidak mencoba menegaskan arti yang benar mengenai pekerjaan, atau untuk mengevaluasi pekerjaan dalam relasinya dengan peraturan-peraturan. Pada post-strukturalisme, hal tersebut menjadi tidak berarti, dan berada di bagian paling dasar.

Menurut Foster pada ‘[Post]modern Polemics’, paradigma poststrukturisasi

mengajukan dua pertanyaan utama bagi arsitektur postmodern, status dari subyek dan bahasanya, dan status sejarah dan perwakilannya; dimana keduanya dibentuk dengan perwakilan sosial. Obyek dari post-strukturalis adalah untuk menampilkan segala sesuatu dalam kenyataan sebagai yang diberi kuasa oleh penulisnya, untuk merefleksikan mereka. Sebagai contoh, sejarah, merupakan implikasi yang

subyektif.

Barthe dan Michel Foucault menyarankan keunikan dan kekreativitasan dari pengarang untuk kenyamanan, dibandingkan dengan pemilihan, pengurangan peran pengarang yang memainkan dibatasi oleh sejumlah masalah.

Teori postmodern diambil untuk diteliti ulang oleh arsitektur modern, juga relasi terhadap sejarah, perhatian pada inovasi modernisme, serta tanda pada individual, arsitek ‘pahlawan’. Banyak pencoba berpengaruh dan pelatih arsitektur

beranggapan bahwa post-strukturalis benar. DECONSTRUCTION

Salah satu post-strukturalis yang sangat penting adalah dekonstruksi. Dekonstruksi terlihat sebagai sebuah dasar pada pemikiran dari ‘logocentrisme’ dan pondasi dari bentuk lain seperti arsitektur. Jacques Derrida, seorang filsuf Perancis yang hampir selalu bekerja dengan yang berkaitan dengan dekonstruksi, menjelajahi kegunaan

(17)

dari operasi teori untuk memproduksi dasar tanah atau pondasi perdebatan, dan mengambil catatan untuk setiap catatan yang telah diberikan konsep.

Tujuan dari dekonstruksi adalah untuk menempatkan kategori filosofi dan menjadi seorang ahli, seperti membuat suatu bentuk menjadi bentuk lainnya yang

bertentangan, seperti hadir atau tidak hadir. Derrida melihat arsitektur sebagai sebuah pengendalian yang mengarah ke komunikasi dan transportasi pada bidang sosial, sama halnya dengan bidang ekonomi. Dekonstruksi merupakan bagian dari kritik postmodern, yang tujuannya untuk mengakhiri dominasi arsitektur modern. Pernyataan Tschumi mengenai arsitektur sangat dekat dengan Derrida: untuk mendapatkan konstruksi kondisi dimana ditempatkan yang paling tradisional dan aspek dari sosial kita dan mengatur ulang secara simultan elemen ini dengan cara yang paling bebas. Untuk mencoba batasan tersebut, ditemukan batasan yang bertentangan dengan disiplin dan subyek, yaitu kritis radikal.

Tschumi merupakan bagian arsitektural dari Barthes dan Derrida. Ia tertarik dengan teks arsitektur, sebagaimana suatu potensial yang terbatas, tapi melanggar

batasan disiplin tersebut. Jika tanda tidak dapat diartikan, maka kemudian diartikan dengan beberapa cara simultan. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana

arsitektur mendapat arti tersebut, apakah dapat terjadi persetujuan ‘bahasa’ dalam arsitektur.

Contoh bangunan :

HOUSE X – Peter Eisenman [deconstruction]

House X milik Peter Eisenman ini memasukkan kategori filosofi di dalamnya, dimana bangunan ini dibuat dengan konsep yang jelas terhadap urban.

Terdapatnya aksis urban yang juga dijadikan aksis dalam bangunan tersebut, menjadikan House X sebagai bentukan yang saling bertentangan, terlihat jelas bentukan-bentukan seperti hadir – tidak hadir.

Arsitektur sebagai pengendalian yang mengarah ke komunikasi dan transportasi di bidang sosial, hal diwujudkan House X dalam perannya yang mampu

mengkomunikasikan urban dengan baik secara sosial. Dari aspek sosial tersebut, terlihat adanya elemen-elemen yang diatur ulang secara simultan dengan cara yang bebas, yaitu bentukan-bentukan kotaknya.

PARADIGMA 4: MARXISTME

Arsitektur post modern tak dapat lepas dari paradigma marxistme. Paradigma ini merupakan suatu kritik terhadap arsitektur postmo.Pendekatan marxist berkaitan

(18)

dengan masalah politik,ideologi dan hubungan antar kelas arsitektur dan

urbanisme.Paradigma marxist menyoroti krisis arsitektur modern yang gagal karena hanya bergantung dan mengikuti revolusi umum dan mengandalkan kritik dari kelas arsitektur saja, tanpa mampu menyebabkan revolusi itu sendiri.Teori yang kritis baru datang dari institut penelitian sosial frankurt yang melakukan

pendekatan tidak hanya terhadap arsitektur tetapi juga melalui filosofi, sejarah dan psikologi untuk mendeskripsikan fenomena budaya pada konteks sosial.

PARADIGMA 5: FEMINISME

Diawali pada tahun 1960an yang menaruh perhatian pada masalah sosial terutama masalah perbedaan seksual. Pendekatan kritis yang bermunculan membawa jenis kelamin sebagai pengontrol sosial. Sebagai pengontrol sosial feminisme

menggunakan paradigma kritis termasuk poststrukturalisme, marxisme dan

psikoanalisis.Jadi, jenis kelamin dipergunakan dalam sejarah untuk membatasi atau memberi tanda terhadap yang lainnya.Dalam karyaarsitektur Sedangkan

Psikoanalisis menawarkan teori universal mengenai pembangunan fisik jenis kelamin pada dasar perwakilan, hal tersebut menawarkan sebuah kerangka kerja dimana feminin dan maskulin dapat dimengerti.

Kritik feminisme mengenai arsitektur bertujuan untuk mengejar teori berkaitan dengan kenyataan sosialnya.Kritik ini bersifat kritis, sehingga bangunan yang dimaksud bisa saja sangat radikal, dimana tolak ukurnya sendiri adalah keadaan sosialnya. Di sini Merupakan tempat dimana seseorang dapat dekat dengan

arsitektur dan bahkan berada di dalamnya, dapat meneliti mekanisme ideologi dan mengaburkan batas yang memisahkan arsitektur dengan yang lainnya.

Tema umum yang beredar merupakan pokok-pokok permasalahan yang disoroti oleh teori postmodern. Tema merupakan tanggung jawab sosial dan tubuh dari budaya postmodern.Adapun dalam dunia arsitektur post modern dikenal 6 macam tema yang menjadi isu penting dalam teori postmodern yakni: Histori dan

historikisme, meaning(arti),tempat(place),poloitik dan etika,teori urban dan tubuh(body)

TEMA 1. Histori dan Historikisme

Terjadinya krisis pada arsitektur modern meningkatkan kesadaran diri, analitis, image baru , dan orientasi pada alam dari periode postmodern. Para arsitek

postmodern kemudian lebih menaruh perhatian pada mereka sendiri dengan suatu sejarah yang mempengaruhi.

(19)

Cara yang ditempuh dapat melalui: Apropriasi dan kesadaran diri mengenai saat ini sebagai moment sejarah.

Pendekatan yang dilakukan postmodern adalah suatu pendekatan progresif dengan adanya suatu keinginan untuk meluas dan melengkapi apa yang kurang dari tradisi budaya modern. Foster menyetujui pendapat dari Clement Greenberg bahwa

modern adalah suatu program kritik diri dengan menjanjikan suatu kualitas tinggi dari suatu budaya yang diterapkan pada produksi masa kini dengan adanya kelanjutan estetik dari nilai tertentu.

Habermas seorang aliran dari postmodernisme menyatakan perbedaan antara efek modernisasi dan post modern adalah kurangnya keefektifan pada arsitektur modern dalam memecahkan masalah sosial.

Lyotard mengatakan bahwa dalam modernisme teknologi telah mengambil alih semua posisi kekuatan.

Salah satu teori historikisme yang dipakai dalam postmodern adalah Teori sejarah abad 19 yang mementingkan relatifisme modernitas budaya khususnya ide affan garde, maksudnya kreasi bentuk baru berkelanjutan di bawah gerak sosial dan teknologi dan representasi simbol tsb dari masyrakat melalui bentuk-bentuk ini.Jadi bentukan baru yang tercipta mampu merepresentasikan keadaan sosial masyarakat namun tidak meninggalkan teknologi dan kekreatifan desain.

Colqiuhoun menemukan 2 aspek paradok historikisme.

1. pencarian ekspresi kesalahan penjelasan spirit seseorang ke pola perubahan yang kontinu

2. modernisme mengganti sarana ke masa depan karena ide yang statis dan peraturan klasiknya.

Paradoks tersebut tidak dapat dihindari

Historikisme meliputi bagaimana seseorang dapat mengidentifikasikan penentuan spirit dari sejarah.

Dua definisi historikisme dalam postmodern: 1. sikap yang perhatian pada tradisi masa lalu 2. praktek artistik dari penggunaan bentuk sejarah

(20)

Para arsitek postmodern menggunakan elemen-elemen klasik dari kolase,patische atau rekonstruksi otentik

Kejadian penting dalam sejarah arsitek saat ini adalah penilaian kembali dari hasil karya bukan untuk mencocokkan diri.Jadi sebenarnya karya yang baru tidak

menyamakan diri dengan sejarah, tetapi tetap memperhatikan sejarah dan alam dan sosial budaya.

Para historian arsitektur Marxist memilih suatu pendekatan dialetik yang menekankan ke alam yang lain dari aliran modern.

Revisi postmodern dengan tema historikisme bertujuan mencari kesinambungan dengan hasil karya yang lebih awal, dan mempertanyakan apakah suatu perubahan yang radikal itu layak?

dari gaya historikalnya.

Contoh bangunan yang mengambil tema histori dan historikisme ini adalah bangunan karya ROBERT VENTURI yakni bangunan Sainsbury Wing, (1986) di

London England.Gaya bangunan ini didesain utuk menanggapi bangunan lama yang ada di sebelahnya yakni bangunan national gallery yang dibangun pada 1983.

Sainsbury wing menampilkan replikasi ornamen lama .

Menurut Robert Venturi arsitektur tidak muncul begitu saja , namun berasal dari suatu sejarah, yang memiliki identitas dan unsur historis.Hal ini sesuai dengan karyanya yang benyak menampilkan kekompleksan desain karena Venturi tidak menyukai elemen yang murni,bersih dan terus terang.Namun elemen kompleksitu didapatkan dari kultur yang sudah ada, yakni unsur historikisme yang dimaksud di atas, yakni sikap memperhatikan tradisi masa lalu.Venturi juga menggunakan elemen klasik pada sainsbury wing dengan cara ‘ menempel’ maupun rekonstruksi ulang dari bangunan national galeri.

Jadi, venturi menganggap perlunya kesinambungan antara bangunan lama yang sudah ada sebelumnya dengan bangunan baru.Tidak perlu perubahan radikal

(21)

Hubungan antara manusia dengan alam adalah masalah filosofi yang panjang, yang dapat dijelaskan dengan fenomena, seperti Norberg-Schulz. Negara Barat

memikirkan alam sebagai ‘hal yang berbeda’ dalam hubungannya dengan budaya yang mampu menstabilkan/memberi tema untuk suatu negara.

Sejak revolusi industri, kemajuan revolusi tersebut mengurangi hambatan-hambatan yang selalu hadir. Hal ini ditunjukkan dengan dekonstruksi, dimana oposisi budaya/alam tidak dilibatkan, adanya ketidaksesuaian, dan sepanjang semua ini benar, apakah perbedaan struktur harus dibatasi?

Beberapa pendapat yang ada mengatakan, bahwa alam diutamakan, tantangan budaya sekarang ini berasal dari perlawanan akhir pada spectrum, juga dari pengetahuan manusia dan bentuk instrumentalnya yang dinamakan teknologi. Dalam perindustrian masa lalu, produksi dalam arsitektur dilakukan atas referensi yang disusun untuk alam dan berhubungan dengan alam. Arsitektur modern memegang analogi mesin disamping analogi organik. Walaupun mesin seringkali didesain berdasarkan sistem alam, namun digunakan sebagai model formal dari arsitektur yang menimbulkan pencegahan dari hubungan langsung dengan alam. Problem tersebut karena adanya kemajuan teknologi, dimana simbol posisi manusia bersama-sama dengan alam meninggalkan peraturan arsitektur.

TEMPAT DAN GENIUS LOCI

Albert Einstein mengatakan tempat sebagai bagian kecil pada permukaan bumi yang diidentifikasi dengan nama, obyek material dan hal-hal yang lain. Sejarahwan arsitektur, Peter Collins menerima definisi dari Albert Einstein tersebut dan

mengembangkan implikasinya :

“Saat ini ada berbagai macam kecepatan yang dilibatkan dalam desain arsitektur, salah satu kemungkinan yang dimuat bahwa ‘tempat’ (plaza, piazza) adalah kecepatan terbesar bahwa pada arsitektur bisa disesuaikan dengan kinerja seni yang tidak menyatu.”

Teori tempat timbul dari fenomena dan geografi fisik. Tempat menawarkan cara untuk mempertahankan kerelatifan dalam teori modern pada sejarah

penggambaran tubuh dan versifikasinya pada kualitas utama pada sisi.

Menurut Heidgger posisi yang berhubungan dengan alam adalah usaha untuk memperkaya pengalaman manusia yang ditampung oleh banyak arsitek

kontemporer dan teoritis, seperti Gregotti, Raimund Abraham, Tadao Ando, dan Norberg-Schulz. Klaim pertanggungjawaban arsitek yang selanjutnya adalah untuk menyelidiki genius loci dan desain dalam cara (pembuatan-tempat) yang

(22)

diperhitungkan untuk kehadirannya. Sebaliknya, Norberg-Schulz menyebutkan intervensi manusia untuk intensitas atribut alam pada keadaan. Elemen yang nyata pada arsitektur diperingatkan pada fenomena sebagai ‘kesesuaian pada perbedaan’ dan ‘batasan dan ambang pintu’ merupakan elemen yang menunjang tempat.

Gregoti menetapkan pembuatan-tempat untuk tindakan arsitektur prima, dimana keasliannya : meletakkan batu pada tanah dan mulai ‘memodofikasi’ bahwa tempat ditentukan kedalam arsitektur.

Tugas arsitek adalah menghubungkan alam dengan keadaan dan penggunaan landscape. Keindahan yang berlangsung didalam penyusunan site mencerminkan hasrat untuk membuat tempat, seperti yang dipromosikan oleh Norberg-Schulz dan Gregotti.

TEMPAT DAN DAERAH

Didasarkan pada fenomena, regionalisma Frampton melihat kemungkinan pada tempat tinggal dalam arsitektur untuk dimaksudkan pada pengalaman yang lebih besar. Frampton mengamati daerah, bangunan, kepekaan cahaya, kepekaan udara, dan kepekaan suhu.

Aspek regionalis dalam kritik umu adalah sikap kontra terhadap pemakaian massa yang mampu menghasilkan produk bangunan. Frampton menyebut puisi Samper yang memahami perbedaan didalam rangka (ceriol) dan membawa kebaikan sistem bangunan dinding (bumi’telluric’).

Arsitek Ezra Ehrenkrontz memprediksi sosial dan ekonomi untuk Amerika

berdasarkan pada dispersal populasi sebagai penerima informasi yang canggih, pengamatannya dilengkapi dengan tingkat teori urban yang timbul ketika arsitek postmodern menyelidiki kembali sebagai landasan aktifitas arsitektural pada tingkat : sosio ekonomi, politik, sejarah, formal, puisi dan artistic.

Bila dikaitkan dengan tema “tempat”, maka dalam berarsitektur hendaknya disesuaikan dengan keadaan geografis dan site sekitar. Arsitektur dibangun tidak sekedar asal bangunan indah dan menbarik perhatian namun, disini juga dituntut bangunan yang peduli pada lingkungan, pada tempat bangunan tersebut berdiri. Contohnya pada bangunan Wisma Dharmala, pada fasadenya terdapat sunshading yang miring-miring, sunshading tersebut tidak muncul begitu saja tanpa fungsi yang jelas namun telah diperhitungkan sebelumnya oleh Paul Rudolf, dimana ia

membangun perkantoran di daerah tropis, yang membutuhkan banyak

pembayangan sehingga, energi listrik dalam bangunan dapat dihemat dan dapat digolongkan sebagai bangunan yang sesuai dengan tema “tempat”.

(23)

Dengan memperhatikan keadaan lingkungan sekitar banyak keuntungan yang didapat, contohnya: pada daerah yang banyak terdapat kayu jati, kita dapat mempertimbangkan untuk menggunakan bahan kayu tersebut daripada

menggunakan bahan batu kali, karena banyak kerugiannya mengingat kita harus mengeluarkan biaya ekstra untuk mengangkut batu-batu tersebut ke lokasi proyek kita sementara disekitar lokasi proyek tersebut kayu jati melimpah, disamping itu juga bangunan yang berdiri pada site tersebut tidak selaras dengan lingkungan sekitarnya, dimana ditengah-tengah hutan kayu berdiri suatu bangunan kokoh dengan material batu, dan memberi kesan seperti “rusa ditengah kota”.

Contoh lainnya pada Electa Book Shop for the Venice Biennale karya James Stirling dan Michael Wilford.

Toko buku karya Stirling ini dibangun di tengah site taman yang terdapat banyak pepohonan rimbun. Toko buku tersebut sengaja diberi warna coklat terang pada bagian bawahnya (dinidingnya) dan warna hijau pada bagian atapnya.

Hal ini dimaksudkan agar bangunan tersebut selaras dan menyatu pada alam sekitar tempatnya dibangun, sehingga bila dipandang akan memberi kesan selaras dan harmonis. Atapnya yang berwarna hijau sesuai dengan rimbunnya dedaunan di atas pohon, sementara dindingnya selaras dengan batang pohon.

Bagaimana pun juga bangunan yang dibangun dengan mempertimbangkan tema “tempat” mempunyai nilai tambah dari pada bangunan yang dibangun tanpa memperhatikan keadaan alam sekitarnya.

TEORI URBAN

Pada tahun 1960, urban terjadi kembali dan berhubungan drastis dengan modern yang memperhatikan fabric urban. Arsitek berfokus pada penciptaan kebebasan ‘obyek’ bangunan (misalnya Museum Guggensheim dan bangunan Seagram di New York) untuk 40 tahun, mulai merealisasi bahwa ada perlawanan yang diperuntukkan bagi obyek itu. Contohnya, fungsional penempatan dibawah semangat postmodern untuk pendekatan negatifnya pada perencanaan.

KONTEKSTUALISME

Artikel milik Rowe dan Kottler ‘Kota Sekolah Tinggi’ menawarkan analisa pengaruh dan strategi desain yang masih ditetapkan pada beberapa sekolah arsitektur saat ini.

Ada bukti nyata Rome seperti yang dikatakan Rowe dan Kotler ‘mentalitas

(24)

mampu membahayakan keseluruhan hambatan dalam perancanaan urban. Mereka berusaha untuk menggunakan logika positif untuk sesuatu yang tidak pasti, seperti arsitektur dan desain urban.

Teknik grafik pada bacaan dikembangkan oleh Rowe dan sekolah Cornell yang menawarkan kamusdan syntax pada validitas yang berkelanjutan untuk

menguraikan dan memahami kota.

TEORI MEMBACA DAN MENGARTIKAN

Dalam periode postmodern, semiologi juga mempunyai dampak pada persepsi kota, yang menunjukkan proses membaca letak kota sebagai teks. Memakai model

bahasa untuk maksud yang diberikan dari hubungan antara obyek didalam kota. Bahasa ditetapkan oleh arsitek postmodern sebagai cara pengkodean maksud arsitektural kedalam sistem.

Tschumi memilih penetapan aspek yang berbeda dengan bahasan Barthes tentang kota yang memperhatikan ‘dimensi erotis’ pada kota yang diidentifikasi sebagai pusat kota yang memegang keluasan. Semiologi Barthes dan urbanisme serta le plaisir du texle merupakan pengaruh jelas pada Tschumi, ‘keindahan pada arsitektur.’

IMAGE KOTA

Kritik pada post kota WWII, Lynch membutuhkan catatan visual yang memesan ungkapan manusia, kemampuan ber-image atau kemampuan untuk dibaca menjadi atribut penting yang diperhatikan oleh perancang urban dan arsitek sendiri yang berkenaan dengan isu komunikasi pada makna.

Barthes menuntut Lynch agar dapat menyelesaikan masalah semantik urban, tapi pada kenyataannya bahwa konsepsi pada kota lebih gestaltik daripada struktural. URBANISME EROPA : NEORATIONALISME DAN TYPOLOGY

Rossi juga menuntut Lynch terhadap pendapatnya bahwa orientasi didalam kota berasal dari pengalaman, seperti monumental. Strukturalis berpendapat bahwa kota adalah menjelaskan keseluruhan repetisi pada komponen elemental. Dimana Rossi menyelidiki fungsi bentuk di kota-kota Eropa sebagai penyimpan memori kolektif.

Rossi juga mengingatkan simbol kota yang penting dalam memfokuskan kembali perhatian pada pendapat pembuat arsitektur dalam konteks urban, “pertentangan

(25)

diantara utama dan umum, diantara individu dan kolektif, dicukupi dari kota dan dari konstruksinya, juga arsitekturnya.”

Rossi memperkenalkan kembali catatan tipologi sebagai alat analitik dan sebagai dasar rasional untuk proses desain pada transformasi.

ARSITEK-ARSITEK PADA ERA POSTMODERN

Beberapa Arsitek yang tekenal karena pengaruhnya pada ewra Postmodern :

• John Burgee

• Michael Graves ( paling terkenal karena karenanya dijadikan sebagai figure pergerakan Postmodern

• Jon Jerde • Philip Johnson • Ricardo Legorreta • Ricardo Bofill

• Charles Willard Moore • William Pereira

• Cesar Pelli • Antoine Predock • Robert A.M. Stern • James Stirling • Robert Venturi • Peter Eisenman

(26)

Bangunan pada era Postmodern, terkadang menampilkan ‘si tua la trompe d’oeil’, menciptkan ilusi bentuk atau kedalaman dimana sebenarnya tidak ada sesuatupun disana tetapi ter4lihat ada karena sudah ‘diutak-atik ‘ oleh ‘si pelukis’ seperti pada zaman Renaissance.

Misalnya pada Gedung The Portland Public Service (1980) yang terlihat mempunyai pillar-pilar-pilar pada satu sisi bangunan. Padahal sebenarnya pilar-pilar itu tidak ada. Contoh lainnya adalah Museum Seni Hood ( 1981-1983) yang punya tipikal simetrikal fasad yang menunjukkan betapa ia dibangun dengan pengaruh Post modern.

Juga Vanna Venturi House rancangan Robert Venturi ( 1962-1964 ) mengilustrasikan tujuan para Postmoderenis yaitu mengkomunikasikan karakteristik tiap

symbol.Fasadnya, menurut Venturi adalah symbol gambar sebuah rumah. Sama seperti ketika abad ke 18. Ini adalah bagian dari kegunaan simetri dan kelebihan lengkungan pada entrance rumah.

Mungkin contoh terbaik dari ironi dalam bangunan-bangunan Postmodern adalah Charles Willard Moore’s Piazza d’italia ( 1978 ). Moore mengambil elemen

arsitektural dari zaman Renaissance Italia dan Keantikan zaman Romawi. Meskipun ia tidak menggabungkan keduanya. Ironinya dating ketika ada pilar-pilar yang dibungkus oleh logam. Hal itu juga menajadi suatu paradox ketika kita menyadari bahwa Keantikan Italia amat jauh dari ‘keaslian ‘ New Orleans tempat bangunan ini berdiri.

Double coding mengandung arti bahwa bangunan-bangunan ‘ menampilkan sesuatu’ pada banyak bangunan secara simultan. Bangunan yang menerapkan system ini vdengan baik adalah gedung The AT & T . Bangunan pencakar langit ini dapat memberikan konotasi-konotasi mengenai betapa bangunan ini dibangun dengan teknologi yang amat tinggi. Tetapi tidak begitu pada bagian atas bangunan ini. Bagian atas bangunhan ini menampilkan elemen yang terlihat antic. Double Coding ini adalah perkecualian dalam Postmodern.

Karakteristik dari Postmodern terkadang amat tak terduga. Hal yang paling bisa diingat adalah keceriaan dan bentuk mereka yang mengagumkan serta penuh humor sehingga penampilan bangunan merekapun sangat menarik.

PENUTUP KESIMPULAN

(27)

PERLUNYA TEORI POSTMODERN

Teori postmodern dapat mengembangkan atau membuka paradigma arsitek untuk berkarya secara bertanggung jawab antara bangunan & perilaku. Karena gaya arsitektur ini diciptakan untuk membetulkan segala yang salah pada gaya arsitektur pada era sebelumnya, hingga bisa dipastikan gaya arsitektur pada era ini lebih baik dalam hal menyamankan penghuni.

Hasil teori ini tidak dapat diprediksi macam-macam karena bersifat spekulatif dan berakhir terbuka yang berdampak pada bidang politik & sosial ditahun 1960-an – 1970-an.

Pada tahun 1990-an ada 3 tema teori yang muncul yaitu masalah badan, estetika dan etika lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

• Postmodern Architecture: Restoring Context Princeton University Lecture

• Postmodern Architecture and Urbanism University of California - Berkeley Lecture • Venturi ,Robert. 1977 .Learning from Las Vegas: The Forgotten Symbolism of Architectural Form. Cambridge, MA: MIT Press, ISBN 0-262-22015-6

• Klotz, Heinrich .History of Post-Modern Architecture. 1998.Cambridge, MA: MIT Press,. ISBN 0-262-11123-3

• http://en.wikipedia.org/wiki/Postmodern_architecture

• Pelfrey, Robert and Hall, Mary.1985. Art and Mass Media. Harper and Row Publisher. New York

• Portogeshi, Paolo. 1983. Postmodern. Electa Editrice. Milan, Italy

• Jencks, Charles. 1984. The Languange of Post-Modern Architecture.Rizoli International Publication, Inc. New York

• http://www.googlee.co.id/arsitektur postmodern/Kajian arsitektur Postmodern dalam kaitannya dengan bangunan

(28)

Posted by b2network

Labels: arsitektur postmodern

gertian Arsitektur ,Modern,Postmodern,Dekonstruksi

Posted on 1 Februari 2009. Filed under: Bobby_Saragih Tutorial |

A.ARSITEKTUR MODERN

Sepanjang sejarah manusia, Arsitektur hanya mengalami satu kali perubahan yang mendasar, yaitu di saat hadirnya Arsitektur Modern

(29)

. Sampai dengan masa Neo-klasik abad ke-19, Arsitektur dianggap sebagai

pengetahuan kesenian, yaitu seni bangunan. Artinya Arsitektur dianggap sebagai suatu ‘olah rasa’ yang dibuat berdasarkan perasaan sebagai sumber idenya dan tidak ada rumusnya.

Merintis Modern

Di pertengahan abad ke-18, tahun 1750-an di Perancis, muncul orang-orang yang berambisi untuk menghasilkan Arsitektur dengan menggunakan akal dan idenya sebagai sumber idenya, bukan seni dengan perasaan.

Beberapa nama tersebut adalah : Boulle

Blondel,

Quatremere de Quincy

(Tipologi misalnya, dimunculkan pertama kali pada abad ke-18 oleh Quatremere de Quincy.)

Bagi mereka ini, Arsitektur adalah olah pikir, bukan olah seni. Bagi dunia Arsitektur, apa yang dilakukan oleh orang-orang Perancis ini adalah sebuah reformasi,

perubahan. tak ayal lagi, sejarah menobatkan orang-orang ini sebagai the first Modern

. Dengan demikian, dapat saj dikatakan bahwa Arsitektur Modern

ini sudah hadir pada abad ke-18 bukan abad ke-20. Tetapi, yang dimaksud Arsitektur Modern

bukan karya Arsitektur, bukan bangunan atau gedung tapi adalah ide, gagasan, pikiran atau pengetahuan dasar tentang Arsitektur. Oleh sebab itu seringkali dikatakan bahwa pikiran-pikiran dasar/pokok mengenai Arsitektur Modern

(30)

telah dimunculkan di abad ke-18.

Pikiran-pikiran dasar yang baru tadi, baru mendapat kesempatan untuk direalisasikan pada pertengahan abad 19, karena beberapa hal :

1. Di pertengahan abad 19 itu secara resmi pendidikan Arsitektur telah terbagi menjadi dua yaitu :

Ecole des Beaux Arts – yang mengajarkan Arsitektur sebagai kesenian

Ecole Polytechnique – yang mengajarkan Arsitektur sebagai ilmu teknik sipil

2. Munculnya industri bahan bangunan, yang mampu menghasilkan keseragaman ukuran dan kecepatan membangun. Kedua hal ini menjadi faktor yang sangat mendorong percepatan dari Arsitektur Modern

tersebut.

Tahun 1851 di Inggris, diselenggarakan sebuah Expo , dimana gedung utamanya adalah rancangan dari seorang ahli botani. Gedung tersebut dikenal sebagai “Crystal Palace” karya Joseph Paxton yang oleh sejarah Arsitektur dinyatakan sebagai karya Arsitektur Modern

yang pertama, karena dalam perwujudannya mampui memperlihatkan keberadan dari Arsitektur yang mendominasikan unsur space sebagai. Sebelumnya, form merupakan unsur utama perancangan Arsitektur

(31)

Eiffel Tower karya Gustav Eiffel, seorang insinyur sipil.

Kesimpulan:

Ide tahun 1750: ide tentang Arsitektur adalah ‘olah pikir’ dan bukan ‘olah rasa’

Ide tahun 1851: ide tebtang Arsitektur adalah permainan ‘ruang’ dan bukan ‘bentuk’

Modern

Periode 1890 – 1930

Mulai tahun 1890-an sampai dengan 1930-an, terjadi sejumlah pertentangan dalam dunia Arsitektur yang ditunjukkan melalui munculnya berbagai eksperimen yang dilekukan oleh perorangan maupun oleh kelompok, Eksperimen tersebut, kalau diungkapkan sebagai sebuah pertentangan akan dapat dikatakan sebagai berikut ini.

Arsitektur sebagai art vs Arsitektur sebagai science

(32)

rsitektur sebagai craft vs Arsitektur sebagai assembly

Arsitektur sebagai karya manual vs Arsitektur sebagai karya machinal

Ya, Dibutuhkan 40 tahun untuk mengubah Arsitektur menjadi sekarang apa yang dikenal sebagai Arsitektur Modern

. Antara 1890-1930 muncul berbagai macam pergerakan: art and craft, art noveau, ekspresionisme, Bauhaus, Amsterdam School, Rotterdam School, dll.

Periode 40 tahun itu merupakan puncak sekaligus titik awal dari Arsitektur Modern

.

Periode 1950-1960an

Dalam sejarah Arsitektur, berakhirnya Perang Dunia II membawa perjalanan Arsitektur dapat dibaca dari dua sisi yang saling berlawanan yakni:

a. Bagi mereka yang berpihak pada Teknologi dan Industrialisasi, tahun 1950-an dikatakan sebagai titik puncak kejayaan Arsitektur Modern

b. Bagi mereka yang menempatkan Arsitektur sebagai karya yang estetik dan artistik, tahun 1950-an dilihat sebagai titik awal kemerosotan Arsitektur Modern

(33)

Mengapa tahun 50-an dikatakan sebagai puncak Arsitektur Modern

(banyak dianut oleh pengikut Arsitektur merupakan kerja ilmu dan teknologi)?

a. Karena tahun 50-an, segenap filosofi dan prinsip Arsitektur sebagai ilmu telah dapat diformulasikan dengan sempurna dari ide sampai dengan realisasinya: bangunan kotak dan geometris murni, Platonic solid, menjadi ekspresi yang pas bagi Arsitektur sebagai ilmu, karena dalam ilmu, yang disebut bentuk jikalau memenuhi aturan-aturan geometri, mis : lingkaran, bujursangkar, segitiga ( 2 matra/Dimensi ) dan bola, piramid, kubus ( 3 matra/Dimensi ).

b. Karya-karya Arsitektur mampu dan sangat sempurna untuk mengekspresikan space/ruang (ciri utama ruang adalah: ada tapi tidak dapat dilihat ) yang diwakili oleh kaca lebar dan bidang-bidang polos (Kaca adalah elemen ruang yang sangat tepat untuk mewakili ruang, karena kaca juga memiliki ciri `ada tapi tak terlihat’. Bidang polos pun dianggap sebagai pengekspresi ruang).

c. Faktor lain yang mendukung Arsitektur Modern

pd tahun 50-an: Mass Production.

Dengan produksi massal bahan bangunan oleh pabrik, terjadi 2 akibat:

Kecepatan membangun, dlm waktu singkat dapat menghasilkan bangunan.

(34)

Bahan bangunan dapat menembus batas budaya dan geografis, sehingga Arsitektur menjadi Internasional dan bangunan-bangunan di dunia menjadi seragam.

Dengan kata lain, Arsitektur menjadi sangat demokratis.

Mengapa tahun 50-an dikatakan sebagai kegagalan/ kemerosotan Arsitektur Modern

(banyak dianut oleh pengikut Arsitektur merupakan kerja seni dan estetika)?

Karena Arsitektur telah kehilangan identitas/ ciri individual perancangnya. Tahun-tahun itu, nama yang dikenal orang adalah nama biro-biro Arsitektur, bukan arsiteknya.

Walaupun Arsitektur menjadi sangat demokratis, dalam masyarakat tidak bisa dihilangkan adanya hirarki atau kelas-kelas. Maka kata-kata demokratis itu sama saja bohong/ omong kosong.

Dengan maraknya produksi massal, pabrik-pabrik dapat menghasilkan bahan-bahan bangunan yang sejenis atau mirip, tapi dengan kualitas berbeda.

Dengan hilangnya batas dunia, mengakibatkan hilangnya privacy.

(35)

Karena penekanan perancangan pada space, maka desain menjadi polos, simpel, bidang-bidang kaca lebar. Ciri ini juga disebut nihilism yang berarti tidak ada apa-apanya kecuali geometri dan bahan. (Dengan demikian, siapa pun bisa menjadi arsitek. Tidak ada bedanya arsitek atau bukan. Kalau sudah begini, apa gunanya sekolah arsitek?)

Keseragaman bentuk yang geometris menyebabkan pemandangan yang disharmoni, tidak menyatu dengan lingkungan. Terutama di Eropa, di mana

bentukan yang geometrik dianggap merusak dan memperburuk wajah lingkungan yang masih kental dengan wajah-wajah neoklasik/pramodern.

Sekitar tahun 1960, pertentangan antara kedua aliran itu (pro dan kontra 1950) terjadi lagi. Inti masalahnya adalah:

“Untuk siapa sebenarnya Arsitektur itu diciptakan?”

Maka tahun ini menjadi titik awal lahirnya Post-Modernisme yang melawan Modernisme dengan pernyataannya: Less is Bore.

Contoh: Brutalisme, aliran yang dianut oleh Paul Rudolph (salah satu proyeknya di Surabaya adalah Gedung Dharmala, tapi belum boleh dikatakan sebagai bangunan yang brutalistik).

Ada satu unsur lain di tahun 60-an yang cukup berpengaruh dalam dunia Arsitektur namun baru diakui peranannya pada tahun 1990-an, yaitu: Mass Media. (media cetak, TV, film). Media massa menjadi bagian dari Arsitektur karena Media menjadi wadah bagi kebebasan individual, alat diskusi/ pertukaran dan penyebar-luasan ide. Media massa menjadi pemicu timbulnya Pluralisme atau Kemajemukan yang

(36)

Perbedaan karakter Modernisme dan Post-Modernisme:

Modernisme : singular, seragam, tunggal

Post-Modernisme : plural, beraneka-ragam, bhinneka

B.ARSITEKTUR POSTMODERN

Pengertian postmodern :

Arsitektur yang sudah melepaskan diri dari aturan-aturan modernisme. Tapi kedua-duanya masih eksis.

Anak dari Arsitektur Modern. Keduanya masih memiliki sifat/ karakter yang sama. Koreksi terhadap kesalahan Arsitektur Modern. Jadi hal-hal yang benar dari

Arsitektur Modern tetap dipakai.

Merupakan pengulangan periode 1890-1930.

Arsitektur yang menyatu-padukan Art dan Science, Craft dan Technology, Internasional dan Lokal. Mengakomodasikan kondisi-kondisi paradoksal dalam arsitektur.

Tidak memiliki hubungan sama sekali dengan Arsitektur Modern.

Perubahan mendasar dalam sejarah dunia arsitektur adalah saat hadirnya arsitektur modern. Arsitektur sampai abad ke-19 dianggap sebagai seni bangunan. Reformasi pemikiran Arsitektur Modern ini mulai muncul pada abad ke-18, dimana yang dimaksud Arsitektur Modern bukan karya arsitektur, melainkan ide, gagasan, pikiran atau pengetahuan dasar tentang arsitektur. Pemikiran tersebut baru dapat direalisasikan pada pertengahan abad ke-19 dikarenakan pendidikan Arsitektur yang dibagi menjadi dua, sebagai kesenian dan sebagai ilmu teknik sipil, dan munculnya industri bahan bangunan.

(37)

Antara tahun 1890-1930 muncul berbagai macam pergerakan, antara lain : Art and Craft, Art Noveau, Ekspresionisme, Bauhaus, Amsterdam School, Rotterdam School, dll. Periode tersebut merupakan puncak sekaligus titik awal dari arsitektur modern.

Pada tahun 1950-1960, terdapat 2 pihak yang berlawanan :

1. Kelompok yang berpihak pada teknologi dan industrialisasi; tahun 1950 dikatakan sebagai titik puncak kejayaan Arsitektur Modern.

2. Kelompok yang memuja estetik dan artistik; tahun 1950-an dilihat sebagai titik awal kemerosotan Arsitektur Modern.

Sekitar tahun 1960-an, pertentangan antara kedua pihak itu terjadi lagi dikarenakan adanya perbedaan pendapat tentang ‘untuk siapa arsitektur itu diciptakan?’. Hal tersebut yang menjadi titik awal lahirnya Post Modernisme yang melawan

Modernisme dengan pernyataan: Less Is Bore. Media massa juga ikut berperan dalam memicu timbulnya pluralism yang menjadi bahan dasar post modernisme.

Perbedaan karakter Modernisme dan Post Modernisme :

Modernisme : singular, seragam, tunggal. 

Post Modernisme : plural, beraneka ragam, bhinneka. 

Sebuah Gambaran tentang Post Modern

Postmodern bisa dimengerti sebagai filsafat, pola berpikir, pokok berpikir, dasar berpikir, ide, gagasan, teori. Masing-masing menggelarkan pengertian tersendiri tentang dan mengenai Postmodern, dan karena itu tidaklah mengherankan bila ada yang mengatakan bahwa postmodern itu berarti `sehabis modern’ (modern sudah

(38)

usai); `setelah modern’ (modern masih berlanjut tapi tidak lagi populer dan dominan); atau yang mengartikan sebagai `kelanjutan modern’ (modern masih berlangsung terus, tetapi dengan melakukan penyesuaian/adaptasi dengan perkembangan dan pembaruan yang terjadi di masa kini).

Di dalam dunia arsitektur, Post Modern menunjuk pada suatu proses atau kegiatan dan dapat dianggap sebagai sebuah langgam, yakni langgam Postmodern. Dalam kenyataan hasil karya arsitekturnya, langgam ini muncul dalam tiga versi/sub-langgam yakni Purna Modern, Neo Modern, dan Dekonstruksi. Mengingat bahwa masing-masing pemakai dan pengikut dari sub-langgam/versi tersebut cenderung tidak peduli pada sub-langgam/versi yang lain, maka masing-masing

menamakannya langgam purna-modern, langgam neo-modern dan langgam dekonstruksi.

1. PURNA MODERN

a. Purna Modern merupakan pengindonesiaan dari post-modern versi Charles Jencks (ingat, pengertian veris Jencks itu berbeda dari pengertian umum dari `Post Modern’ yang digunakan dalam judul catatan kuliah ini)

b. Ditandai dengan munculnya ornamen, dekorasi dan elemen-elemen kuno (dari Pra Modern) tetapi dengan melakukan transformasi atas yang kuno tadi.

c. Menyertakan warna dan tekstur menjadi elemen arsitektur yang penting yang ikut diproses dengan bentuk dan ruang.

d. Tokohnya antara lain : Robert Venturi, Michael Graves, Terry Farrell.

2. NEO MODERN

a. Dahulu diberi nama Late Modern oleh Charles Jencks, sehingga pengertiannya tetap tidak berubah.

(39)

b. Tidak menampilkan ornamen dan dekorasi lama tetapi menojolkan Tektonika (The Art of Construction). Arsitekturnya dimunculkan dengan memamerkan

kecanggihan yang mutakhir terutama teknologi.

c. Sepintas tidak terlihat jauh berbeda dengan Arsitektur Modern yakni menonjolkan tampilan geometri.

d. Menampilkan bentuk-bentuk tri-matra sebagai hasil dari teknik proyeksi dwi matra (misal, tampak sebagai proyeksi dari denah). Tetapi, juga menghadirkan bentukan yang trimatra yang murni (bukan sebagai proyeksi dari bentukan yang dwimatra).

e. Tokohnya antara lain: Richard Meier, Richard Rogers, Renzo Piano, Norman Foster.

f. Tampilan dominan bentuk geometri.

g. Tidak menonjolkan warna dan tekstur, mereka ini hanya ditampilkan sebagai aksen. Walaupun demikian, punya warna favorit yakni warna perak.

3. DEKONSTRUKSI

a. Geometri juga dominan dalam tampilan tapi yang digunakan adalah geometri 3-D bukan dari hasil proyeksi 2-D sehingga muncul kesan miring dan semrawut.

b. Tokohnya antara lain: Peter Eisenman, Bernard Tschumi, Zaha Hadid, Frank O’Gehry.

c. Menggunakan warna sebagai aksen dalam komposisi sedangkan tekstur kurang berperan.

(40)

Pokok-pokok pikiran yang dipakai arsitek Post Modern yang tampak dari ciri-ciri di atas berbeda dengan Modern. Di sini akan disebutkan tiga perbedaan penting dengan yang modern itu.

1. Tidak memakai semboyan Form Follows Function

Arsitektur posmo mendefinisikan arsitektur sebagai sebuah bahasa dan oleh karena itu arsitektur tidak mewadahi melainkan mengkomunikasikan.

Apa yang dikomunikasikan?

Yang dikomunikasikan oleh ketiganya itu berbeda-beda, yaitu :

PURNA MODERN : yang dikomunikasikan adalah identitas regional, identitas kultural, atau identitas historikal. Hal-hal yang ada di masa silam itu

dikomunikasikan, sehingga orang bisa mengetahui bahwa arsitektur itu hadir sebagai bagian dari perjalanan sejarah kemanusian.

NEO MODERN : mengkomunikasikan kemampuan teknologi dan bahan untuk berperan sebagai elemen artistik dan estetik yang dominan.

DEKONSTRUKSI : yang dikomunikasikan adalah

a. Unsur-unsur yang paling mendasar, essensial, substansial yang dimiliki oleh arsitektur.

b. Kemampuan maksimal untuk berarsitektur dari elemen-elemen yang essensial maupun substansial.

Referensi

Dokumen terkait

kedalaman aliran tidak sama dengan nol dan kecepatan aliran tidak sama dengan nol maka debitnya dapat dihitung. Melakukan pengukuran debit pada vertikal paling tepi dengan

Banyak bukti telah memperlihatkan bahwa imunostimulan yang ditambahkan dalam pakan dapat meningkatkan resistensi ikan dan udang terhadap infeksi penyakit melalui peningkatan

Mengingat peubah yang dianalisis dan jumlah responden yang hams ditetapkan dalam analisis faktor biasanya cukup besar (lebih dari 10 peubah), maka perlu dilakukan

Sebelum penulis membahas tentang tatacara pelaporan dan penyetoran Pajak Penghasilan Pasal 25 orang pribadi terlebih dahulu akan membahas garis besar tentang Pajak Penghasilan

Analisis laporan keuangan merupakan suatu proses yang penuh pertimbangan dalam rangka membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan

Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2-JM) Bidang Cipta Karya merupakan dokumen perencanaan dan pemrograman pembangunan infrastruktur Bidang

Bentuk Perbuatan yang tergolong dalam tindak pidana penggunaan frekuensi radio tanpa izin adalah perbuatan (tindakan) yang dilakukan oleh orang perorangan atau koorporasi

Berdasarkan analisis pengkaji terhadap Standard for Teachers Competence in the Educational Assessment of Students STCEAS dan analisis sukatan pelajaran kursus pengukuran dan