• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEJARAH DAN KESEJARAHAN

Dalam dokumen Arsitektur Postmodern (Halaman 73-83)

Postmodern memposisikan dirinya sebagai arsitektur yang merekomendasikan nilai sejarah, lain halnya dengan arsitektur modern yang menolak sejarah.

Alan Colquhoun menyatakan dalam buku “Three Kinds of Historiscism” pada arsitektur garda depan,dimana terbentuk bentukan baru yang berkelanjutan dibawah gerak sosial, perkembangan teknologi dan representasi simbol .

Modernitas disini ingin memutuskan tali ikatan masa lalu, dengan penemuan baru yang berkesinambungan dan tidak terikat sejarah. Kesejarahan memiliki arti yang masih berkaitan dengan postmodern dan berhubungan dengan kemauan untuk perhatian terhadap tradisi masa lalu , merupakan praktek artistik menggunakan bentukan- bentukan sejarah masa lalu para postmodernist menggunakan elemen – elemen masa lampau untuk ditempelkan merekonstruksi elemen otentik untuk ditempelkan pada bangunan mereka, mereka merasa bahwa setiap elemen memiliki arti sendiri- sendiri yang sangat superior

Salah satu kejadian penting dalam sejarah arsitektur saat ini ,adalah

pengelompokkan hasil karya arsitek- arsitek kedalam aliran modern, padahal arsitektur modern tidak singular tetapi terdapat kecenderungan terdapatnya perbedaan

Teori Sejarah dan Kesejarahan

Robert Venturi berpendapat sehubungan dengan adanya keburukan dan kebiasaan sebagai simbol dan gaya arsitektur (style)

“Secara artistik, kegunaan dari elemen konvensional dalam arsitektur lazimnya merupakan bentukan familiar dari sistem konstruksi yang ada ,membangkitkan pikiran dari masa lalu.Beberapa elemen mungkin dipilih secara hati-hati ataupun diadaptasi dari perbendaharaan yang sudah ada dan terstandarisasi daripada secara unik diciptakan melalui data original dan intuisi artistic”

Kaitan antara teori ini dengan ragam tema sejarah jelas sekali terliht saling mempengaruhi, dimana tema sejarah dalam arsitektur modern memperhatikan unsur sejarah masa lalu, pengaplikasiannya pada pengadopsian elemen-elemen original masa lalu yang dikombinasi hal ini mirip dengan apa yang dikemukakan oleh Venturi yang menyoroti penggunaan elemen yang diadopsi secara

standard.Penggunaan elemen masa lalu tidak hanya terbatas pada aliran Greko-Roman saja seperti kolom ionic,doric,pedimen gaya Yunani dsb tapi perlu juga mengingat kesejarahan dibalik pengadopsian elemen tersebut, ada nilai tersendiri yang berkaitan dengan sejarah. Kalau diperhatikan secara seksama antara tema sejarah dengan tema makna ada batas tipis yang membedakan, dimana bisa saja London Bridge Tower dimasukkan kedalam tema makna dan tema sejarah

Aplikasi Bentukan

Sebagai contoh adalah karya Renzo Piano, London Bridge Tower

Bagian puncak menara dari tower seperti tiang kapal yang tinggi , mengikuti konsep dimana arsitektur harus menggunakan memory menjadi bagian dari bangunan. Itu sebabnya Renzo mengadopsi bentukan kapal Layar Thames yang legendaris(yang mengarungi lautan dekat London Bridge). Untuk puncak menara dari tower juga mengambil bentukan puncak menara sebuah gereja. Disini terlihat adanya kecocokan antara objek dan tema, seperti yang dinyatakan oleh Culquhuon dalam “Three Kinds of Historicism” yaitu terbentuknya bentukan baru yang yang berkelanjutan dibawah gerak sosial , perkembangan teknologi dan representasi simbol.

Obyek postmodern memperhatikan tradisi masa lalu. Hal ini seperti yang dihadirkan oleh Renzo mengadopsi bentukan kapal layar Thames yang memiliki nilai

kesejarahan tersendiri ,begitu pula dengan puncak gereja. Bila hal ini ditilik dari pengadopsian bentukan terasa klop dengan teori milik Robert Venturi yang menekankan adanya pencomotan elemen original. Bangunan Renzo ini kiranya kemungkinan dapat mempresentasikan teori milik Venturi dan dapat dikategorikan kedalm kelompok tema sejarah dan kesejarahan

Sikap postmodern dalam hubungannya dengan pembaruan

Salah satu hal yang paling membuat bingung adalah istilah yang sering kali dipakai untuk mendeskripsikan kondisi modern .Beberapa usaha yang dilakukan berkaitan dengan pendeskripsian kondisi modern menghindari perbedaan persepsi dibedakan menjadi anti modern dan promodern

Teori yang melandasi anti modern

Mencari perubahan radikal dengan melakukan pembaruan , menawarkan alternatif baik orientasi kedepan ataupun mundur kebelakang (kebangkitan tradisional).Posisi postmodern melindungi sejarah dan dalam arsitekturnya nilai-nilai estetis klasik seperti tiruan dan ornamen kembali diperjuangkan.

Teori anti modern ini lebih condong memunculkan aliran baru yang memusuhi modern ingin memunculkan kembali ornamen masa lampau yang dihindari oleh modern

Teori yang melandasi Promodern

Merupakan kebalikan dari postmodern yang ingin lebih meluaskan modern dan melengkapi budaya tradisi modern dan kemudian mentransformasikannya

Modernisme sebagai program kritik diri yang menjanjikan memelihara kualitas tinggi dari seni masa lalu pada masa sekarang ini dan juga untuk memastikan kelanjutan dari estetis sebagai suatu nilai.

Terjadinya kekecewaan terhadap modern yang diakibatkan beberapa hal yaitu kurang efektif dalam memecahkan permasalahan sosial ,kurang identifikasi sosial, kurangnya ketaatan dan kurangnya kecintaan terhadap diri sendiri

TEMA 2 : MAKNA

Tujuan dari arsitektur adalah menghasilkan wacana tektonis yang menandai sebagai tempat bernaung sekaligus pada saat yang sama mewakili suatu makna atau sebuah cerita

Sebuah lukisan modern berhenti menghadirkan image yang dapat dikenali dalam kehidupan. Jadi mengapa arsitektur harus dibatasi untuk menghadirkan suatu yang eksternal dari diri arsitektur sendiri? Pemikiran ini menggaris bawahi posisi otonomi yang memandang fungsi sebagai eksternal dalam arsitektur.Postmodern

menempatkan nilai lebih tinggi pada bentukan daripada fungsi dengan sengaja dan menolak dictum form follow function

Teori dari makna

“ Saya memandang makna sebagai suatu ide yang fundamental dalam arsitektur dan ide dari segala bentuk di lingkungan atau tanda dalam bahasa , yang

membantu menjelaskan mengapa bentuk bisa mendadak menyeruak hidup dan terkadang terkesan hancur berkeping. Selama ada dalam masyarakat maka setiap kegunaan akan diubah dengan sendirinya menjadi sebuah tanda contoh sederhana seperti sebuah jas hujan yang melindungi kita dari hujan, tidak dapat dilepaskan dari tanda yang mengindikasikan situasi di atmosfer, jas hujan identik dengan tanda akan turun hujan.jas hujan akan dipisahkan dari maknanya jika guna sosialnya menurun atau masyarakat secara expisit menyangkal maknanya lebih lanjut”

Teori ini dikemukakan oleh Charles Jencks yang merupakan penjelasan mengenai pentingnya makna dari sebuah bangunan akan dapat memberikan jiwa,

menghidupkan existensi dari bangunan itu sendiri.Teori ini berkaitan dengan tema makna yang memandang tujuan dari arsitektur bukan hanya menciptakan tempat

hunian untuk bernaung namun jug sebuah karya yang sarat makna bahkan didasari konsep yang mampu menceritakan asal-usul terjadinya bentukan

Aplikasi Bentukan :

Seperti yang dihadirkan oleh Kisho Kurokawa dalam Pasific Tower, tersirat dari bentukan mampu bercerita banyak, mulai dari bentuk tower yang menyerupai separuh bulan ,terinspirasi dari Chu Mon yaitu gerbang simbolik dari pintu masuk ruang minum teh di Jepang ini menunjukan adanya distorsi geometri oleh non-geometri(bentukbalok yang kemudian dipotong cembung)

Penggunaan dua material yang melambangkan dua budaya yaitu budaya Eropa yang diwakili oleh beton agregate putih berupa curving wall, sedangkan pada bagian plaza terdapat curtain wall dari kaca flat yang menciptakan efek

transparan,mengingatkan kita pada bahan penutup pintu di Jepang. Gedung ini memang mengekspresikan simbiosis antara Timur dan Barat.

Dari konsepnya dapat terlihat Kisho memulai desainnya berawal dari konsep bentukan, lebih mengutamakan bentuk daripada fungsi menggabungkan unsur barat dan timur dengan penggunaan dua material termasuk ke dalam kategori memodifikasi struktur. Beliau juga mencoba menghadirkan bentukan gabungan yang memiliki makna tersendiri yang tersirat, memberikan jiwa pada bangunan seperti yang diungkapkan oleh Jencks. Berdasaran uraian diatas bangunan ini cocok dengan teori Jencks karena memiliki “nyawa” sendiri yang mampu bercerita dan dapat dikategorikan kedalam bangunan yang memiliki tema makna karena berangkat dari bentukan

Contoh kedua dari tema makna yaitu Rumah sakit anak-anak penderita

“Neuromuscular disorder”(epilepsi) yang dibuat dengan ide dasar “Bahtera Nuh” (Noah’s Ark) yang menceritakan bagaimana Nuh membawa dan merawat

bermacam-macam binatang dalam bahteranya melalui badai dan banjir besar. Dan interpretasi pada kenyataannya yaitu sebagai tempat penampungan dan perawatan anak-anak dari berbagai usia, latar belakang, dan jenis penyakit yang cukup

beragam.

Representasi dan Kesejarahan Postmodern

Postmodern mereperesentasikan makna dari suatu tema. Para seniman postmodern memperkenalkan kembali sisi manusia pada karya-karya mereka yang mengakhiri era abstraksi yang dimulai dari Cubisme, construktivisme dan

yaitu dari segi jiwa (lifestyle) melebihi fungsi bangunan secara umum. Penilaian akan karya arsitektur akan berbeda-beda dari setiap pribadi manusia namun nilai lebihnya yaitu manusia akan merasa lebih dihargai secara emosi dan keinginan untuk mengekspresikan dirinya semaksimal mungkin. Karakteristik lain dalam karya postmodern yaitu merepresentasikan masa lalu untuk keperluan masa kini yang juga disesuaikan dengan kultur setempat. Pada dasarnya segala pembenaran dalam aliran postmodern berdasar pada ekologi, urbanisme dan kultur.

Sebagai contoh bangunan “Portland Building” oleh Michael Graves. Graves memang berminat pada arsitektur figuratif yang artinya arsitektur yang berasosiasi dengan alam dan tradisi klasik. Dengan memanfaatkan fragmen-fragmen berkesan sejarah, maka akan muncul makna tradisional dan gambaran yang khas pada bangunan. Patung dan elemen-elemen masif lain memberikan kesan bangunan kembali ke masa kejayaan Yunani dan Romawi walaupun sebenarnya sudah berbeda sekali namun elemen-elemen ini masih memberikan gambaran yang kuat sifat

tradisionalnya.

TEMA 3 : TEMPAT

Fungsionalisme pada kenyataannya mematikan sisi manusia dari suatu karya arsitektur, menjadikannya suatu lingkungan skematis dan tidak berkarakter yang sangat miskin kemungkinan untuk penempatan sisi manusiawi.

Manusia, Arsitektur dan Alam

Hubungan antara manusia dan alam merupakan suatu fenomena permasalahan yang sudah lama dicari penyelesaian terbaiknya. Alam (nature) dalam hubungannya dengan kultur telah menjadi patokan tema yang stabil dari masa ke masa. Secara umum pergumulan manusia terhadap keadaan alam yang berbeda-beda karakternya pada setiap tempat yang berbeda menjadikan ide dasar dari suatu tema. Arsitektur dalam hubungannya dengan alam harus dapat menjadi tempat bernaung yang aman bagi manusia dari faktor-faktor alam yang terjadi di suatu tempat. Dari sini munculah teknologi yang dibuat manusia untuk beradaptasi salah satunya dalam berarsitektur.

Arsitektur modern lebih mengutamakan analogi mesin daripada analogi secara organik. Dengan kata lain arsitektur modern mengesampingkan perasaan manusia secara organik dan mengutamakan apa yang dapat dibuat dengan mesin sehingga menjadi standar dan sederhana. Sebagian besar karya-karya arsitektur modern “gagal” untuk menyatu dengan alam dan lingkungan. Contoh sederhana dari satu karya arsitektur yang mengutamakan analogi secara organik untuk dapat menyatu dengan lingkungan yaitu bangunan “Timber Workshop” di bawah ini. Untuk sebuah bangunan gudang tempat penyimpanan dan pemotongan kayu yang berlokasi di tengah hutan sebenarnya dapat saja dibuat sederhana dengan dasar pemikiran pemanfaatan ruang yang maksimal dan fungsional. Namun gambaran yang terjadi

dengan lingkungan akan saling bertolak belakang. Karena itu bangunan sedapat mungkin dibuat menjadi seperti suatu unsur organik yang terkesan tidak masif dan dapat bergerak. Struktur atap dan dinding yang menyatu dan dengan lengkungan-lengkungan di seluruh bagian membuat bangunan ini tampak seperti suatu

organisme hidup.

Tempat dan Genius Loci

Menurut Albert Einstein, tempat tidak lain hanyalah bagian dari permukaan bumi yang dapat dideskripsikan dengan sebuah nama dan terdiri dari satu atau lebih material yang tersusun di dalamnya. Sejarahwan arsitektur Peter Collins mengembangkan pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa itulah arti ruang (space) yang tepat dalam arsitektur yang mungkin juga berarti “place” (plaza, piazza) adalah karya seni terbesar yang mampu digarap oleh arsitek.

Teori penempatan bermula dari fenomena geografis dari suatu daerah / tempat tertentu dengan karakter dan jiwa yang unik dari tempat tersebut. Merupakan kewajiban arsitek untuk menempatkan karyanya dengan baik pada kondisi tertentu dari suatu tempat dimana karyannya akan dibangun. Struktur yang terjadi dari teori penempatan yang baik juga merupakan realisasi dari pikiran yang mengacu pada keadaan setempat yang kemudian dimodifikasi sehingga menjadi serasi dan sesuai untuk kebutuhan manusia di tempat tersebut. Halangan dan hambatan / tantangan adalah elemen yang mendasar dari tempat. Kedua hal ini akan mengarahkan segala pikiran ke suatu ide menjadi bermakna, berangkat dari pemikiran untuk mengakali penempatan, dengan kata lain mencari Genius Loci dari tempat tersebut.

Konfrontasi dan Penempatan

Dalam membangun sebuah karya arsitektur perlu dipertimbangkan kondisi topografi dari suatu tempat. Hal ini juga menjadi masalah serius yang dapat

menimbulkan konfrontasi serta mempengaruhi tema dan bentukan yang terjadi. Menurut Heidegger dalam hal ini dikenal istilah “nature and nurture” arsitektur yang baik juga merawat lingkungan tempat dimana ia didirikan. Menurut Tadao

Ando begitu pula di lingkungan perkotaan dengan kepadatan dan kultur tertentu, sebuah karya arsitektur harus dapat mewakili dan merepresentasikannya dengan baik.Sedapat mungkin menghindari konfrontasi akibat salah penempatan. Namun dengan adanya konfrontasi dapat dilakukan perbaikan dan penyesuaian yang terbaik.

Tempat dan Regionalisasi

Menurut Frampton regionalisme kritis mencari kemungkinan dari penempatan dalam makna yang lebih besar dari sebuah karya arsitektur.

Diperlukan adanya pengenalan akan regional, bangunan lokal dan sensitivitasnya terhadap cahaya, angin dan kondisi temperatur yang semuanya mengatur respon dari arsitektur yang memberi respon positif pada site. Dengan demikian disain yang terjadi akan menjadi sangat estetis dan ekologis dan juga menolak kapitalisme dari gerakan modernisme.

Dalam dokumen Arsitektur Postmodern (Halaman 73-83)

Dokumen terkait