STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH PERUBAHAN KETEBALAN FILTER TERHADAP PENURUNAN KEKERUHAN DAN WAKTU JENUH
FAHRIZAL D011171511
Latar Belakang
Air merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan seluruh ekosistem di Bumi. Namun, kualitas air seringkali terancam oleh berbagai faktor, seperti polusi industri, domestik, pertanian, maupun faktor alami. Salah satu parameter yang digunakan untuk mengukur kualitas air adalah kekeruhan.
Kekeruhan air berkaitan erat dengan jumlah partikel-padat yang tersuspensi di dalamnya, seperti lumpur, pasir, debu, mikroorganisme, dan zat-zat organik lainnya. Untuk mengatasi permasalahan kekeruhan air, filtrasi telah dikenal sebagai salah satu metode yang efektif.
Dalam praktiknya, perubahan karakteristik filter, seperti ketebalan filter, dapat mempengaruhi efisiensi filtrasi dan kemampuan pengurangan kekeruhan air. Selain itu, perubahan ketebalan filter juga dapat mempengaruhi waktu jenuh, yaitu waktu yang dibutuhkan bagi media penyaring untuk mencapai batas maksimum penurunan kekeruhan yang dapat dicapai. Dalam konteks ini, penulis melakukan eksperimen menggunakan berbagai ketebalan filter untuk mempelajari pengaruhnya terhadap penurunan kekeruhan dan waktu jenuh.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, dalam upaya pelaksanaan penelitian yang terarah, maka dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh ketebalan filter terhadap penurunan kekeruhan pada proses filtrasi air?
2. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai waktu jenuh dalam proses filtrasi air?
Tujuan Penelitian
1. Mengetahui pengaruh ketebalan filter terhadap efektifitas penurunan kekeruhan pada proses filtrasi air.
2. Mengamati waktu yang dibutuhkan untuk mencapai jenuh dan tebal filter yang paling efektif.
Tinjauan Pustaka
Pasir
Pasir adalah contoh bahan material yang berbentuk butiran. Butiran pada pasir, umumnya berukuran antara 0,0625 sampai 2 mm. Berikut adalah jenis pasir dan fungsinya sebagai media filter:
A. Pasir Silika
B. Pasir Manganese
Zeolite
Zeolit terbentuk dari abu vulkanik yang telah mengendap jutaan tahun silam. Sifat-sifat mineral zeolit sangat bervariasi tergantung dari jenis dan kadar mineral zeolit. Mineral zeolit ditemukan pada batuan sedimen piroklatik. Karakter dan Sifat Zeolite antara lain:
a. Sifat Dehidrasi
b. Sifat Jebakan
c. Sifat Pertukaran Ion
d. Penyaringan, sifat pengayakan
e. Sifat Katalis
Air Baku
Air baku merupakan air yang berasal dari sumber air permukaan, cekungan air tanah dan air hujan yang memenuhi syaraf standar baku mutu. Berikut parameter fisik dalam standar baku mutu kesehatan lingkungan sesuai dengan Permenkes 32 Tahun 2017.
No Parameter Wajib Unit Standar Baku Mutu
(kadar maksimum)
1 Kekeruhan NTU 25
2 Warna TCU 50
3 Zat padat terlarut
(Total Dissolved Solid) mg/l 1000
4 Suhu °C suhu udara ±3
5 Rasa tidak berasa
6 Bau tidak berbau
Penjernihan Air
Tujuan penjernihan air adalah menghilangkan pencemar (polutan) yang ada didalam air atau mengurangi kadarnya agar air dapat menjadi layak untuk digunakan untuk masyarakat pada akhir dari proses penjernihan. Terdapat berbagai teknik penjernihan air yang bisa dilakukan.
Teknik-teknik tersebut di antaranya adalah:
1. Penyaringan
2. Perebusan
3. Disinfeksi kimia
4. Bubuk Pemutih
5. Tablet Klorin
6. Filter
7. Desalinasi
Filtrasi
Menurut Joko (2010), Filtrasi adalah proses penyaringan partikel secara fisik, kimia dan biologi untuk memisahkan atau menyaring partikel yang tidak terendapkan disedimentasi melalui media berpori. Selama proses filtrasi zat zat pengotor dalam media penyaring akan menyebabkan terjadinya penyumbatan pada pori pori media sehingga kehilangan tekanan akan meningkat. Kemudian jenis filtrasi terbagi menjadi 2 yakni : Slow Sand Filter & Rapid Sand Filter. Dan berdasarkan arah alirannya, filtrasi dibagi menjadi:
a. Down Flow Filtration (Filter Aliran Kebawah)
b. Up Flow Filtration (Filter Aliran Keatas)
c. Up Flow – Down Flow Filtration
d. Horizontal Flow Filtration
Media filter
Effective Size (ES) atau ukuran efektif media filter adalah ukuran media filter bagian atas yang dianggap paling efektif dalam memisahkan kotoran yang besarnya 10 % dari total kedalaman lapisan media filter atau 10 % dari fraksi berat, ini sering dinyatakan sebagai d10 (diameter pada persentil 10).
Uniformity Coefficient (UC) atau koefisien keseragaman adalah angka keseragaman media filter yang dinyatakan dengan perbandingan antara ukuran diameter pada 60 % fraksi berat terhadap ukuran efektif atau dapat ditulis: UC = d60/d10. d60 adalah diameter butiran pada persentil.
Berdasarkan jenis dan jumlah media yang digunakan dalam penyaringan, media filter dikategorikan menjadi:
a. Single media.
b. Dual media.
c. Multimedia.
Ukuran Bak Filter
Luas permukaan bak filter tergantung pada jumlah bak, debit pengolahan dan kecepatan (rate) filtrasi. Bak penyaring dapat berupa bak persegi atau berbentuk bulat. Jumlah bak ditentukan berdasarkan debit pengolahan dengan rumus pendekatan n = 12.
METODE PENELITIAN
Alat dan Bahan Penelitian:
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah satu unit alat filtrasi dari bahan acrylic tebal 1 mm, Dengan dimensi panjang 25 cm, lebar 25 cm dan tinggi 150 cm, alat uji kekeruhan, alat pengukur waktu, elbow pvc, floksok, kran, meteran. Untuk uji kekeruhan digunakan satu unit alat Turbidity Meter TU2016, selain itu digunakan juga gelas ukur, pompa air, bak penampung air, dan ember.
Diagram Alir Penelitian
Hasil dan Pembahasan
Karakteristik Media Filter
Dalam penelitian ini sebagai media filter digunakan pasir Malimpung dan Zeolit.
Berdasarkan ketentuan SNI 03-3981-2008 media filter pasir harus memenuhi kriteria tertentu yaitu diameter efektif (Efektif Size ES) butiran 0,2 mm – 0,4 mm, koefisien keseragaman (Uniform Coefisien. UC) butiran 2-3, berat jenis 2,55 gr/cm³ sampai dengan 2,65 gr/cm³. Pengujian karakteristik pasir Malimpung Pinrang memenuhi ke tiga pengujian yang disyaratkan oleh SNI 03:3981:2008 dibandingkan dengan 3 pasir lainnya, yaitu nilai ES 0,23 nilai UC 2,19. Berat jenis pasir 2,59 gram/cm3, dan kandungan SiO2 (silika) 97,07%.
Analisa Saringan
Grafik Hasil Analisa Saringan Pasir Malimpung
Grafik disamping menggambarkan persentase lolos (%) dari partikel pasir pada sumbu vertikal (0-100%) dan ukuran
filter diameter pada sumbu horizontal (dari 10 mm hingga 0,23 mm). Melalui grafik ini, kita dapat memahami sejauh
mana partikel-partikel pasir tertentu berhasil melewati saringan-saringan yang
berbeda. Hasil ini memberikan wawasan tentang distribusi ukuran partikel dalam sampel pasir, yang dapat digunakan untuk
berbagai aplikasi teknik sipil, seperti desain pondasi atau pemilihan media
filtrasi dalam pengolahan air.
Analisa Saringan
Grafik disamping
memvisualisasikan persentase lolos (%) partikel zeolit pada sumbu vertikal (dalam rentang
0,00% hingga 110,00%) dan ukuran filter diameter atau
nomor filter pada sumbu
horizontal. Dengan melihat grafik ini, kita dapat memahami sejauh
mana partikel-partikel zeolit tertentu dapat melewati
berbagai ukuran saringan dan
filter.
Grafik Hasil Analisa Saringan ZeolitKarakteristik Pengujian Debit
Pada penelitian ini pengujian debit masuk dan keluar (Qin dan Qout) dilakukan secara manual yang didapatkan dari pembagian volume air masuk dengan lamanya waktu masuk.
Ketebalan
Filtrasi Waktu Volume Debit
Pasir Zeolit Menit Liter l/m
15
cm 10 cm 360 186,31 0,518
10
cm 10 cm 210 388,06 1,847
5 cm 10 cm 360 230,20 0,639
Tabel diatas menyajikan hasil pengujian terhadap waktu dengan variasi ketebalan filtrasi untuk pasir
dan penggunaan zeolit dengan ketebalan filtrasi yang tetap
sebesar 10 cm sebagai
pembanding. Terdapat tiga kondisi ketebalan filtrasi pasir yang diuji,
yaitu 15 cm, 10 cm, dan 5 cm.
Hasil pengujian mencakup waktu yang diperlukan untuk mencapai
hasil filtrasi, volume air yang berhasil diolah selama pengujian, dan debit air yang dihasilkan dalam
liter per menit (l/m).
Pengaruh Ketebalan Media Terhadap Debit dan Kecepatan
Penelitian dilakukan dengan menguji varisai ketebalan media terhadap debit dan kecepatan filtrasi.
Sistem filtrasi menggunakan sistem downflow dan media filtrasi yang digukan yaitu pasir Malimpung dan zeolit. Debit yang masuk yaitu sama dengan debit yang keluar. Setiap selang waktu 2 menit dilakukan pengukuran debit yang keluar, penelitian ini berlangsung maksimal 6 jam dengan kapasitas air 500 liter.
Pengaruh terhadap Debit untuk Ketebalan Pasir 15 cm dengan ketebalan zeolite 10 cm
Ketebalan pasir Malimpung 15 cm dengan ketebalan zeolite 10 cm kemudian didapatkan hasil seperti pada grafik dibawah:
Grafik hubungan antara debit ketebalan pasir 15 cm dengan ketebalan zeolite 10 cm
Grafik di samping
menggambarkan hasil pengujian waktu, volume air dan debit air pada
penggunaan pasir dengan ketebalan 15 cm dan zeolit dengan ketebalan 10 cm dalam proses filtrasi.
Pengaruh terhadap Debit untuk Ketebalan Pasir 15 cm dengan ketebalan zeolite 10 cm
Waktu Pasir 15 cm, Zeolite 10 cm
Volume Debit
menit liter liter/menit
30 53,69 1,79
60 30,77 1,03
90 20,02 0,67
120 15,07 0,50
150 11,82 0,39
180 10,30 0,34
210 9,24 0,31
240 8,29 0,28
270 7,48 0,25
300 7,08 0,24
330 6,65 0,22
360 5,9 0,20
Dari hasil pengujian filtrasi untuk hasil yang didapatkan dari ketebalan pasir 15 cm dengan
ketebalan zeolite 10 cm dilakukan selama 360 menit dengan hasil total debit keluaran sebanyak
172,20 liter.
Pengaruh terhadap Debit untuk Ketebalan Pasir 10 cm dengan ketebalan zeolite 10 cm
Ketebalan pasir Malimpung 10 cm dengan ketebalan zeolite 10 cm kemudian didapatkan hasil seperti pada grafik dibawah:
Grafik hubungan antara debit ketebalan pasir 10 cm dengan ketebalan zeolite 10 cm
Pengaruh terhadap Debit untuk Ketebalan Pasir 10 cm dengan ketebalan zeolite 10 cm
Waktu Pasir 10 cm, Zeolit 10 cm
Volume Debit
menit liter liter/menit
30 160,49 5,35
60 77,71 2,59
90 46,60 1,55
120 35,80 1,19
150 27,95 0,93
180 21,22 0,71
210 18,28 0,61
240
270
300 330 360
Tabel di atas mencerminkan hasil pengujian waktu, volume air, dan debit air dalam proses filtrasi
menggunakan pasir dengan ketebalan 10 cm dan zeolit
dengan ketebalan 10 cm. Selama periode pengujian dari 30 hingga 360 menit, kedua media filtrasi ini memperlihatkan sejumlah perubahan dalam kinerjanya.
Pada awalnya, dalam 30 menit pertama, pasir dan zeolit mampu mengolah sekitar 160,49 liter air dengan debit sekitar 5,35
liter/menit, menunjukkan tingkat filtrasi yang sangat baik. Namun, seiring berjalannya waktu,
volume air yang berhasil diolah secara bertahap menurun, dan data untuk periode waktu lebih lama dari 240 menit tidak
tersedia
Pengaruh terhadap Debit untuk Ketebalan Pasir 5 cm dengan ketebalan zeolite 10 cm
Ketebalan pasir Malimpung 5 cm dengan ketebalan zeolite 10 cm kemudian didapatkan hasil seperti pada grafik dibawah:
Grafik hubungan antara debit ketebalan pasir 5 cm dengan ketebalan zeolite 10 cm
Dari grafik Gambar 7 hasil yang didapatkan dari ketebalan pasir 5 cm dengan ketebalan zeolit 10 cm didapatkan total debit keluar
230,20 liter dalam waktu 360 menit.
Pengaruh terhadap Debit untuk Ketebalan Pasir 5 cm dengan ketebalan zeolite 10 cm
Waktu Pasir 5 cm, Zeolit 10 cm
Volume Debit
menit liter liter/menit
30 62,01 2,07
60 35,98 1,20
90 24,80 0,83
120 19,21 0,64
150 15,80 0,53
180 13,48 0,45
210 12,11 0,40
240 11,35 0,38
270 10,32 0,34
300 9,27 0,31
330 8,30 0,28
360 7,57 0,25
Tabel di atas memberikan hasil pengujian waktu dan debit air
dalam proses filtrasi menggunakan pasir dengan ketebalan 5 cm dan zeolit dengan ketebalan 10 cm.
Selama periode pengujian dari 30 hingga 360 menit, kedua media filtrasi ini menunjukkan perubahan dalam kinerjanya. Pada awalnya, dalam 30 menit pertama, pasir dan zeolit mampu menghasilkan
sekitar 62,01 liter air dengan debit sekitar 2,07 liter/menit,
menunjukkan tingkat filtrasi yang efisien. Namun, seiring berjalannya waktu, volume air yang berhasil diolah secara bertahap menurun, mencapai sekitar 7,57 liter pada menit ke-360 dengan debit air sekitar 0,25 liter/menit.
Analisa Pengaruh Ketebalan Filter Terhadap Penurunan Kekeruhan dan TSS
Ketebalan pasir 15 cm dengan ketebalan zeolite 10 cm
30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360
0 5 10 15 20 25 30
Hubungan antara waktu dan NTU Variasi Ketebalan 15cm
Zeolite 10 cm Batas Maksimum Waktu (menit)
Kekeruhan (NTU)
Grafik hubungan antara waktu dan kekeruhan pada ketebalan pasir 15 cm
Dari gambar grafik diatas dihasilkan kekeruhan terendah dalam jangka waktu 360 menit dengan ketebalan pasir 15 cm, zeolit 10 cm adalah 2 NTU. Dapat dilihat pada tabel dibawah penurunan nilai kekeruhan dalam selang waktu 30 menit selama 360 menit.
Grafik penurunan TSS pasir 15 cm
30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360
0 5 10 15 20 25 30 35
Zeolite 10 cm Batas Maksimum Waktu (Menit)
TSS (mg/L)
Dilihat dari hasil penurunan TSS dari ketebalan pasir Malimpung 15 cm dengan zeolite 10 cm menghasilkan kekeruhan di bawah dari nilai spesifikasi TSS yaitu 30 mg/l
selama selang waktu 360 menit dengan nilai tertinggi 12 mg/l.
Hasil pengujian nilai kekeruhan ketebalan pasir 15 cm
Waktu Zeolite 10 cm
Kekeruhan TSS
Menit NTU mg/L
30 14 12
60 14 12
90 14 12
120 12 10
150 9 8
180 4 3
210 4 3
240 4 3
270 3 3
300 3 3
330 2 2
360 2 2
Tabel di atas mencerminkan hasil pengujian waktu terhadap kualitas air dalam proses filtrasi menggunakan zeolit dengan ketebalan 10 cm. Selama periode pengujian dari 30 hingga 360 menit, terlihat perubahan yang signifikan dalam parameter kekeruhan dan TSS.
Ketebalan pasir 10 cm dengan ketebalan zeolite 10 cm
30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360
0 5 10 15 20 25 30
Hubungan Antara Waktu dan NTU Variasi Ketebalan 10 cm
Zeolite 10 cm Batas Maksimum Waktu (menit)
Kekeruhan (NTU)
Dari gambar grafik diatas dihasilkan kekeruhan terendah dalam jangka waktu 360 menit menghasilkan nilai kekeruhan terendah adalah 3 NTU, sedangkan pada ketebalan pasir 10 cm. Dapat dilihat pada tabel dibawah penurunan nilai kekeruhan dalam selang waktu 30 menit selama 360 menit.
Grafik penurunan TSS pasir 10 cm
30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360
0 5 10 15 20 25 30 35
Zeolite 10 cm Batas Maksimum Waktu (Menit)
TSS (mg/L)
Dari gambar diatas penurunan TSS dari ketebalan pasir Malimpung 15 cm dengan zeolite 10 cm menghasilkan kekeruhan di bawah dari nilai spesifikasi TSS yaitu 30 mg/l selama selang waktu 360 menit.
Hasil pengujian nilai kekeruhan ketebalan pasir 10 cm
Waktu Zeolite 10 cm
Kekeruhan TSS
Menit NTU mg/L
30 11 10
60 8 7
90 6 5
120 6 5
150 5 4
180 5 4
210 3 3
240
270
300
330
360
Dari hasil pengujian filtrasi ketebalan pasir 10 cm diperoleh penurunan kekeruhan yang sangat rendah mencapai hingga 3 NTU.
Ketebalan pasir 5 cm dengan Ketebalan zeolit 10 cm
30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360
0 5 10 15 20 25 30 35
Hubungan Antara Waktu dan NTU Variasi Ketebalan 5 cm
Zeolite 10 cm Batas Maksimum Waktu (menit)
Kekeruhan (NTU)
Dari gambar grafik diatas dihasilkan kekeruhan terendah dalam jangka waktu 360 menit dengan ketebalan pasir 5 cm, zeolit 10 cm menghasilkan nilai kekeruhan terendah adalah 13 NTU.
Grafik penurunan TSS pasir 10 cm
30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360
0 5 10 15 20 25 30 35
Zeolite 10 cm Batas Maksimum Waktu (menit)
Kekeruhan (NTU)
Dari gambar diatas penurunan TSS dari ketebalan pasir Malimpung 5 cm dengan zeolite 10 cm, mengalami kekeruhan dibawah nilai spesifikasi dari awal hingga waktu maksimal 360 menit.
Hasil pengujian nilai kekeruhan ketebalan pasir 5 cm
Waktu Zeolit 10 cm
Kekeruhan TSS
Menit NTU mg/L
30 20 17
60 18 15
90 16 14
120 14 12
150 13 11
180 13 11
210 13 11
240 18 15
270 19 16
300 19 16
330 18 15
360 18 15
Dari hasil pengujian filtrasi ketebalan pasir 5 cm diperoleh penurunan kekeruhan yang sangat rendah mencapai hingga 3 NTU.
Dari beberapa pengujian filtrasi dengan variasi ketebalan pasir antara 5 cm, 10 cm, 15 cm terhadap zeolit 10 cm, dapat disimpulkan bahwa semakin besar NTU (Nephelometric Turbidity Unit) maka semakin tinggi kekeruhan air, dan dari berbagai data diatas disebutkan bahwa nilai NTU terendah berada pada pasir Malimpung dengan ketebalan 15 cm dimana angka penurunan kekeruhan berada pada angka 2 NTU. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa semakin besar ketebalan filternya (Pasir Malimpung) maka akan berpengaruh terhadap penurunan kekeruhannya
Analisa Waktu Jenuh dan Efektifitas Kombinasi Ketebalan
15 cm 10 cm 5 cm
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450
186.31
388.06
230.2
Ketebalan Pasir 15 cm, 10 cm & 5 cm terhadap Zeolite 10 cm
Jenis Filter
Volume (Liter)
Berdasarkan hasil analisa, didapatkan kombinasi ketebalan media yang efektif digunakan yaitu pada ketebalan pasir 10 cm dan zeolit 10 cm dikarenakan hanya membutuhkan waktu selama 210 menit untuk menghasilkan volume sebanyak 388,06 liter sedangkan untuk ketebalan pasir 15 cm dan 5 cm masing-masing membutuhkan waktu selama 360 menit untuk menghasilkan volume sebanyak 186,31 liter dan 230,20 liter.
Waktu yang diperlukan untuk tiap jenis filter untuk mencapai waktu jenuh.
15 cm 10 cm 5 cm
0 50 100 150 200 250 300 350 400
360
210 210
Jenis Filter
Jenis Filter
Waktu (Menit)
Berdasarkan pembahasan sebelumnya dan gambar diatas, diketahui bahwa untuk ketebalan pasir 15 cm terhadap zeolite 10 cm membutuhkan waktu selama 360 menit untuk mencapai angka NTU terendah yaitu 2 NTU, kemudian untuk ketebalan pasir 10 terhadap zeolite 10 cm membutuhkan waktu selama 210 menit untuk mencapai angka NTU terendah yaitu 3 NTU dan untuk ketebalan pasir 5 cm membutuhkan waktu selama 210 menit untuk mencapi angka NTU terendahnya yaitu 11 NTU.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa ketebalan pasir 15 cm terhadap zeolit 10 cm memiliki tingkat NTU yang rendah yakni 2 NTU, lalu ketebalan pasir 10 cm terhadap zeolit 10 cm memiliki tingkat NTU sebesar 3 NTU dan untuk ketebalan pasir 5 cm terhadap zeolit 10 cm memiliki tingkat NTU yang tinggi dibandingkan jenis filter yang lain yakni sebesar 13 NTU. Ini menujukkan bahwa semakin tebal filter yang digunakan maka semakin efektif penurunan kekeruhan yang terjadi. Hal ini dapat dijelaskan oleh fakta bahwa ketebalan filter memberikan lebih banyak permukaan untuk partikel-partikel kekeruhan menempel dan terperangkap, sehingga menghasilkan air yang lebih jernih. Dengan demikian, ketebalan filter merupakan faktor kunci dalam proses filtrasi air. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa ada batasan pada ketebalan filter yang digunakan. Ketebalan filter yang terlalu besar dapat menghambat aliran air secara signifikan, menyebabkan penurunan laju filtrasi dan memerlukan waktu lebih lama untuk menghasilkan air yang jernih. Oleh karena itu, pemilihan ketebalan filter yang tepat perlu mempertimbangkan keseimbangan antara efektivitas penurunan kekeruhan dan laju filtrasi yang dapat diterima
Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi filter pasir dan zeolit yang paling efektif adalah dengan ketebalan pasir 10 cm dan zeolit 10 cm. Hal ini terlihat dari hasil debit yang dihasilkan, yaitu sekitar 388,06 liter air dalam waktu hanya 210 menit. Kombinasi ini memberikan keseimbangan yang baik antara efisiensi penurunan kekeruhan dan laju filtrasi yang cukup tinggi. Oleh karena itu, dalam konteks penelitian ini, kombinasi ketebalan pasir 10 cm dan zeolit 10 cm merupakan pilihan yang optimal untuk menghasilkan air yang jernih dalam waktu yang relatif singkat.
Saran
1. Sebaiknya sebelum melakukan pengujian terdapat jenis air yang memiliki kekeruhan tetap, atau adanya penelitian lanjutan mengenai cara perlakuaan pengkeruhan air yang baik dan tepat.
2. Perlu dilakukan variasi media filter dengan media yang lain untuk meningkatkan kemampuan dan efiktifitas reaktor filter.
3. Sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan menggunakan metode Up Flow agar dijadikan perbandingan hasil dari penelitian ini.
REFERENSI
Adrianti, Yolly, 2021 “Model Pengolahan Air Baku dengan Sistem Kombinasi Filter Down Flow – Up Flow” Departemen Teknik Sipil Universitas Hasanuddin Makassar.
Andi, Syahputra, 2015 “Rancang Bangun Alat Penjernih Air Yang Tercemar Logam Berat Fe, Cu, Zn Dalam Skala Laboratorium” Jurusan MIPA Universita Riau JOM FMIPA Volume 2 No. 1.
Andryani, Bherta Eka, 2013 “Pengaruh Kombinasi Ketebalan Filter Pasir Dan Arang Tempurung Kelapa Terhadap Penurunan Kadar Mangan (Mn) Air Sumur” Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Khakim, Abdul Rochman Al Dan Alfan Purnomo, 2014 “Kajian Efisiensi Proses Dan Operasi Unit Filter Pada Instalasi Ipa Paket Kedunguling Pdam Kabupaten Sidoarjo” Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (Its). Vol. 3, No.1.