• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Kasus Ketinggian 1500 mdpl

N/A
N/A
Amelia Istimara

Academic year: 2024

Membagikan " Studi Kasus Ketinggian 1500 mdpl"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIK LAPANG KEHUTANAN

“Analisis Vegetasi Hutan Alam Gunung Ciremai (Studi Kasus: Ketinggian 1500 Meter Diatas Permukaan Laut)”

Disusun oleh:

KELOMPOK 2

Dicky Agung Ferdiasnyah E1401221057 Tiara Andini E1401221031 Amelia Istimara Khaira E1401221134 Muhamad Syauqi Arrazy E2401221021 Femmy Khoerunnisa E2401221075 Dimas Cahyaning Tyas E3401221021 Hanafis Nabilla Nursyawal E3401221054 Muhamad Fadlan Arifin E3401221131 Aulya Zahra Salsabila H E4401221019 Amanah Hidayatul Khasanah E4401221042

Asisten Praktikum:

Azriel Muhammad E2401201015 Syarifah Raihan E4401201029

Dosen Pembimbing Lapang:

Qori Pebrial Ilham, S.Hut

FAKULTAS KEHUTANAN DAN LINGKUNGAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2024

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan laporan praktikum lapang kehutanan ini dengan baik. Laporan ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas praktik lapang kehutanan yang bertujuan untuk memberikan pemahaman praktis mengenai ekosistem hutan, pengelolaan hutan, serta teknik- teknik konservasi.

Pelaksanaan praktikum ini memberikan kami kesempatan untuk

mengaplikasikan teori yang telah dipelajari di dalam kelas ke dalam situasi nyata di lapangan. Kami berharap laporan ini dapat memberikan gambaran yang jelas dan mendalam mengenai kegiatan yang telah dilakukan selama praktikum serta hasil-hasil yang diperoleh.

Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing, asisten praktikum, dan semua pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan praktikum ini. Tidak lupa, kami juga mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan

praktikan yang telah bekerja sama dengan baik dalam melaksanakan setiap

kegiatan di lapangan. Semoga laporan ini dapat memberikan manfaat dan menjadi referensi bagi kegiatan praktikum selanjutnya. Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa mendatang.

Majalengka, Juli 2024

Penyusun

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

DAFTAR TABEL iv

DAFTAR GAMBAR iv

DAFTAR LAMPIRAN v

I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Tujuan 2

II KONDISI UMUM LOKASI PRAKTIK 3

2.1 Lokasi dan Luas Wilayah 3

2.2 Kondisi Fisik 3

2.3 Kondisi Vegetasi dan Satwa 3

2.4 Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat 4

III MATERI DAN METODE PRAKTIK 5

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum 5

3.2 Alat dan Objek Praktikum 5

3.3 Prosedur Praktikum 5

3.3.1 Metode Pengumpulan Data 5

3. 3. 2 Analisis Data 5

IV HASIL DAN PEMBAHASAN 7

4.1 Hutan alam dan Karakteristiknya 7

4.2 Faktor Lingkungan Fisik Hutan Alam 7

4.3 Struktur dan Komposisi 9

4.4 Indeks Nilai Penting dan Indeks Keanekaragaman Vegetasi 11

4.4.1 Indeks Nilai Penting 11

4.4.2 Indeks Keanekaragama Jenis 15

4.5 Pendugaan Biomassa Karbon 16

V KESIMPULAN DAN SARAN 19

5.1 Kesimpulan 19

5.2 Saran 19

(4)

VI DAFTAR PUSTAKA 20

LAMPIRAN 23

Pembagian Jobdesk 23

Dokumentasi 24

(5)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Data klimatis hutan tanaman Taman Nasional Gunung Ciremai 8 Tabel 2 Data edafis hutan alam Taman Nasional Gunung Ciremai 8 Tabel 3 Indeks Nilai Penting tingkat tumbuhan bawah 11

Tabel 4 Indeks Nilai Penting tingkat semai 12

Tabel 5 Indeks Nilai Penting tingkat pancang 13

Tabel 6 Indeks Nilai Penting tingkat Tiang 13

Tabel 7 Indeks Nilai Penting tingkat pohon 14

Tabel 8 Data indeks keanekaragaman, kekayaan dan kemerataan jenis tingkat tiang dan pohon 115

Tabel 9 Nilai simpanan biomassa dan serapan karbon 16

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Struktur Horizontal Hutan Alam 9

Gambar 2 Struktur Vertikal Hutan Tanaman 10

Gambar 3 Pohon Masa Depan, Masa Lampau, Masa Kini 11 Gambar 4 Hubungan Antara Kerapatan dan Biomassa 17 Gambar 5 Hubungan Antara Kerapatan dan Simpanan Biomassa 17

Gambar 6 Dokumentasi tim 24 Gambar 7 Salah satu jenis pohon yang ditemukan 24

Gambar 8 Identifkasi pohon 24

(6)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 23

Pembagian Jobdesk 23

Dokumentasi 24

(7)

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Didefinisikan sebagai suatu ekosistem yang ada di alam dengan isi berbagai komponen biotik dan abiotik dengan dominansi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungan yang satu dan lainnya saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan, hutan menjadi salah satu komponen penting dalam kehidupan di bumi (Febriarta dan Oktama 2020). Menurut komposisi tegakan, hutan dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu hutan alam dan hutan tanaman dimana hutan alam didefinisikan sebagai hutan yang komposisi tegakannya bervariasi dan tumbuh secara alami.

Analisis vegetasi merupakan cara mempelajari susunan dan bentuk vegetasi yang ada. Data-data spesies, diameter, dan tinggi untuk analisis vegetasi diperlukan dalam analisis ini sehingga diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi komunitas tumbuhan. Indeks nilai penting merupakan salah satu informasi yang dihasilkan dari analisis vegetasi (Greig-Smith 1983). Sistem analisis dilakukan dengan menggunakan metode kuadrat yaitu kerapatan ditentukan berdasarkan jumlah individu suatu populasi jenis tumbuhan di dalam area tersebut, kerimbunan ditentukan berdasarkan penutupan daerah cuplikan oleh populasi jenis tumbuhan, dan frekuensi ditentukan berdasarkan kekerapan dari jenis tumbuhan yang dijumpai dalam sejumlah area sampel (n) dibandingkan dengan seluruh total area sampel yang dibuat (N). Hasil perhitungan kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi biasanya dinyatakan dalam bentuk persen (%) (Farhan et al. 2020).

Struktur tegakan hutan dapat digunakan dalam penentuan stratifikasi vertikal dan horizontal serta menjadi sadar dalam melihat jenis yang dominan, kodominan, dan tertekan (Richard 1966). Faktor klimatis dan edafis merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi persebaran vegetasi yang ada di hutan (Manuaba et al. 2018).

Faktor klimatis dapat berupa intensitas cahaya, kelembaban udara, suhu dan kecepatan angin, sedangkan faktor edafis berupa tekstur tanah, komposisi kimia, pH tanah, kemiringan tanah dan juga organisme yang ada di dalamnya. Keberadaan faktor edafis dan klimatis dan campur tangan manusia dalam pengelolaan akan

(8)

mempengaruhi seluruh aspek terkait tanaman di dalam hutan. Teori tersebut menjadi dasar untuk dilaksanakannya Praktik Lapang Kehutanan (PLK) 2024.

Kawasan Gunung Ciremai memiliki luas 15.500 hektare, ditetapkan sebagai taman nasional pada 19 Oktober 2004 berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 424/Menhut-II/2004. Penetapan ini didasarkan pada fakta bahwa Gunung Ciremai adalah ekosistem hutan alam yang terbagi menjadi tiga zona: zona bawah (di bawah 1.400 meter di atas permukaan laut), zona tengah (1.400-2.400 meter di atas permukaan laut), dan zona puncak (di atas 2.400 meter di atas permukaan laut).

Selain itu, kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan berfungsi sebagai daerah resapan air untuk wilayah di sekitarnya. Sebelum menjadi taman nasional, kawasan Gunung Ciremai merupakan hutan lindung dan hutan produksi yang dikelola oleh Perum Perhutani. (Hermawan et al. 2005 dalam Yuniarsih et al.

2014) 1.2 Tujuan

Praktik Lapang Kehutanan 2024 bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai ekosistem hutan dan berbagai faktor yang mempengaruhinya, serta mempelajari kegiatan pengelolaan hutan berkelanjutan yang dilakukan di lapangan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat mengamati dan mempelajari secara langsung untuk mengenalisis vegetasi yang terdapat di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) sehingga komposisi jenis serta bentuk maupun struktur vegetasi dapat ditentukan.

(9)

II KONDISI UMUM LOKASI PRAKTIK

2.1 Lokasi dan Luas Wilayah

Letak geografis Taman Nasional Gunung Ciremai atau (TNGC) berada di 108 derajat 19 menit 18 detik - 108 derajat 29 menit 30 detik BT dan 6 derajat 46 menit 57 detik sampai dengan 6 derajat 58 menit 57 detik LS. Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai dapat diakses di beberapa lokasi yaitu Cirebon Kuningan dan juga Majalengka. Gunung Ciremai memiliki ketinggian 3078 mdpl pada puncak gunungnya. Luasnya sekitar 15.500 hektar. Taman Nasional Gunung Ciremai terbagi menjadi beberapa kawasan diantaranya yaitu zona inti, zona rimba, zona rehabilitasi, zona pemanfaatan, wisata alam, zona pemanfaatan air, serta zona religi budaya dan sejarah sisanya juga terdapat fasilitas umum.

2.2 Kondisi Fisik

Kondisi kondisi fisik atau topografi pada TNGC cukup terjal dan curam dengan ketinggian puncak 3.078 mdpl. Kawasan TNGC rata-rata memiliki batuan vulkanik hasil endapan dari gunung Ciremai yang meletus pada masa lampau. Jenis tanah di TNGC didominasi oleh tanah jenis litosol dan regasol dengan curah hujan 2000 sampai 3000 mm per tahun ( Yuniarsih et. al 2014). Suhu dan juga kelembaban bisa sekitar 20 sampai 24 derajat celcius dan 70 sampai 90.

2.3 Kondisi Vegetasi dan Satwa

Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) menjadi habitat satwa yang sangat beragam dan juga banyak satwa yang hampir atau terancam punah seperti macan tutul (Panthera pardus), Surili (Presbytis comata) dan juga elang jawa (Nisaetus bartelsi) hewan-hewan tersebut dapat ditemukan di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Jenis vegetasi yang ada di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yaitu vegetasi hutan pinus, semak, lahan terbuka, hutan tanaman dan juga hutan klimaks.

(10)

2.4 Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat

Kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) memiliki beberapa karakteristik antara lain: mata pencaharian sebagian besar masyarakat mengandalkan pertandingan perkebunan dan peternakan beberapa masyarakat juga bergantung pada sumber daya alam di dalam Taman Nasional seperti kayu bakar, selanjutnya sebagian kecil ada yang menjadi pegawai dan berwirausaha. Keadaan sosial masyarakat di sekitar Taman Nasional Gunung Ciremai umumnya memiliki sosial ikatan yang kuat dengan tradisi dan budaya yang masih terjaga terdapat Kelompok Tani Hutan (KTH) dan kelompok masyarakat adat lain yang masih mempertahankan pengelolaan sumber daya alam secara tradisional. Namun potensi konflik tentunya pasti ada antara masyarakat dengan pengelola Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) terkait pemanfaatan sumber daya alam di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).

(11)

III MATERI DAN METODE PRAKTIK

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum

Kegiatan praktikkan dilakukan pada tanggal 18 Juli 2024 pukul 08.00-14.00 WIB di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yaitu pada Hutan Alam Buper Panten Argalingga. Ketinggian kegiatan praktikkan pada 1.635 mdpl.

3.2 Alat dan Objek Praktikum

Alat dan bahan yang digunakan yaitu patok, tali tambang, kompas, alat tulis, golok, plastik, botol aqua 600 ml, handphone, lux meter, meteran jahit, aplikasi Avenza map, papan jalan, thermohygrometer. Objek yang diamati dan diteliti adalah tumbuhan bawah, semai, pancang,tiang, dan pohon.

3.3 Prosedur Praktikum

3.3.1 Metode Pengumpulan Data

Metode yang dilakukan untuk pengumpulan data diawali dengan pembuatan plot dengan metode kombinasi antara metode jalur berpetak dengan petak contoh 20 m x 100 m tersebut dibagi menjadi petak-petak ukur sesuai tingkat pertumbuhan vegetasi yaitu:

a. Ukuran 2x2m pengamatan tingkat semai dan tumbuhan bawah. Data yang dikumpulkan berupa nama jenis dan jumlah individu.

b. 5x5m untuk pengamatan tingkat pancang dengan data yang dikumpulkan berupa jenis individu.

c. 10x10m untuk pengamatan tingkat tiang dengan data yang dikumpulkan berupa nama jenis, jumlah individu,diameter, tinggi total,tinggi bebas cabang, proyeksi tajuk.

d. 20x20m untuk pengamatan tingkat pohon dengan data yang dikumpulkan berupa jenis, jumlah individu, diameter, tinggi total.

tinggi bebas cabang, proyeksi tajuk.

3. 3. 2 Analisis Data

Pengambilan data pada analisis vegetasi hutan alam dapat dengan mencari dan menghitung kerapatan, kerapatan relatif, frekuensi, frekuensi relatif,

(12)

dominansi, dominansi relatif, indeks nilai penting, indeks keanekaragaman, perhitungan biomassa dan karbon.

Indeks Nilai Penting (INP)

INP = KR +FR (Tumbuhan bawah, semai, pancang) KR + FR+ DR (Tiang dan pohon)

Biomassa dan Karbon

B = 42,69 - 12,8 (D) + 1,24 (D²) Karbon = Biomassa x 0,47

(13)

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hutan alam dan Karakteristiknya

Hutan merupakan komunitas vegetasi yang tersusun atas berbagai jenis pohon sehingga membentuk physiognomy yang khas akibat dari adaptasi terhadap lingkungan habitat pada waktu yang lama Rawana et al. (2022). Hutan alam merupakan hutan yang tumbuh secara alami tanpa adanya campur tangan manusia.

Hutan alam biasanya memiliki struktur yang kompleks dengan berbagai lapisan vegetasi, mulai dari kanopi pohon tinggi, lapisan semak, hingga tumbuhan bawah.

Kehadiran vegetasi akan memberikan dampak positif bagi keseimbangan ekosistem dalam skala yang lebih luas. Sebagai contoh secara umum vegetasi akan mengurangi suatu laju erosi tanah, mengatur keseimbangan karbondioksida dan oksigen di udara, pengaturan tata air tanah, perbaikan sifat fisik, kimia dan biologis tanah. Pengaruhnya bervariasi tergantung pada struktur dan komposisi tumbuhan yang menyusun formasi vegetasi daerah tersebut Cahyanto et al. (2014).

Hutan alam memiliki keragaman hayati yang tinggi, dengan berbagai spesies tumbuhan dan hewan yang hidup berdampingan. Hutan alam Gunung Ciremai saat kegiatan praktikan yang terdapat pada ketinggian 1.635 mdpl tanaman yang mendominasi adalah Saninten (Castanopsis argentea) dan Ki Jagong ( Santiria tomentosa). Hutan alam yang ada di Gunung Ciremai saat pengambilan data dan praktikan ditemukan tingkat pertumbuhan yang mendominasi adalah tumbuhan bawah dan tiang. Menurut Putri et al. (2019) hal tersebut menunjukkan bahwa pohon berukuran kecil yang menyusun ekosistem tersebut cenderung lebih rapat dibandingkan dengan pohon berukuran besar. Ekosistem di sekitar lokasi praktikum lebih didominasi oleh tanaman yang memiliki diameter lebih kecil.

4.2 Faktor Lingkungan Fisik Hutan Alam

Pengamatan suhu pada kawasan hutan alam Taman Nasional Gunung Ciremai menunjukkan hasil antara 20,8°C hingga 23°C dengan rata-rata suhu 21,58°C pada lima plot yang diamati. Hal ini diakibatkan oleh ketinggian tempat yang sudah mencapai lebih dari 1600 mdpl dan kondisi tajuk yang sangat rapat.

Suhu di Taman Nasional Gunung Ciremai berkisar antara 15°C hingga 30°C,

(14)

variasi suhu ini dipengaruhi oleh kerapatan vegetasi dan ketinggian tempat (Mirwanda et al. 2021).

Tabel 1 Data klimatis hutan tanaman Taman Nasional Gunung Ciremai

No Keterangan Ulangan

Rata-rata

1 2 3 4 5

1 Suhu 23°C 21,7°C 20,8°C 21,2°C 21,2°C 21,58°C

2 Kelembaban udara 35% 46% 49% 40% 41% 42%

3 Intensitas cahaya 150 581 412 660 536 467,6 Pengukuran kelembaban udara dari tiga plot di Taman Nasional Gunung Ciremai menunjukkan rentang kelembaban antara 35-49% dengan rata-rata 42%.

Berdasarkan studi oleh Rosianty et al. (2018), terdapat hubungan berbanding terbalik antara suhu dan kelembaban udara, semakin tinggi suhu udara maka kelembaban udara cenderung menurun. Hasil pengamatan di lapang mendukung pernyataan tersebut karena tutupan tajuk yang sangat rapat.

Intensitas cahaya dari hasil pengamatan berkisar antara 150 lux hingga 660 lux. Intensitas cahaya yang tinggi dan tutupan tajuk yang rapat memungkinkan lebih banyak cahaya matahari masuk sehingga menaikkan kelembaban. Kondisi ini sejalan dengan pengamatan di lokasi penelitian, jumlah pohon relatif banyak sehingga membentuk tutupan tajuk yang padat dan berpengaruh terhadap kelembaban dan suhu.

Tabel 2 Data edafis hutan alam Taman Nasional Gunung Ciremai

pH Warna Struktur KTK Tekstur

6 2.5 YR 2.5/1 (black) Granular Sedang Loamy sand

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa kondisi tanah di kawasan tersebut mendukung tanaman untuk tumbuh secara optimal. Penelitian Karyaningsih et al. (2021), pH tanah untuk hutan tanaman pinus bernilai 6 agar

(15)

kandungan organik yang tinggi, warna tanah yang gelap mengandung organik tanah atau belum mengalami pencucian hara secara intensif sehingga relatif subur (Liana et al. 2022).

4.3 Struktur dan Komposisi

Struktur hutan merupakan suatu distribusi jenis dan ukuran pohon dalam tegakkan atau hutan yang memiliki karakteristik yang kompleks dapat digunakan dalam penentuan stratifikasi (Ghufrona et al. 2015). Struktur tegakan mencerminkan dinamika ekosistem hutan, termasuk proses generasi suksesi dan interaksi antar spesies. Berdasarkan hasil perhitungan INP tingkat semai pancang tiang dan pohon yang telah dilakukan, INP tertinggi terdapat pada jenis Macaranga tanarius pada tingkat semai dengan nilai 116,67%, INP tertinggi terdapat pada jenis Bischofia javanica dengan nilai 54,34% pada tingkat tumbuhan bawah, INP tertinggi terdapat pada jenis Macaranga tanarius dengan nilai 200% pada tingkat pancang, INP tertinggi terdapat pada jenis Mamecylon lilacinum dengan nilai 150%

pada tingkat tiang, dan INP tertinggi terdapat pada jenis Castanopsis argentea dengan nilai 105.23% pada tingkat pohon. Nilai INP (Indeks Nilai Penting) menunjukkan dominansi suatu jenis dalam suatu komunitas. Semakin besar nilai INP, semakin besar penguasaan atau dominasi jenis tersebut dalam komunitas (Nuraina 2018).

Gambar 1 Struktur Horizontal Hutan Alam

(16)

Gambar 2 Struktur Vertikal Hutan Tanaman

Struktur tegakan dapat dilihat dari dua arah, yakni struktur horizontal dan struktur vertikal. Struktur horizontal menunjukkan penyebaran individu dalam suatu habitat sedangkan struktur vertikal menunjukkan penyebaran jumlah pohon dalam berbagai lapisan tajuk (Zulkarnain et al. 2015). Berdasarkan gambar 1, sebaran diameter pohon-pohon di kawasan Hutan alam Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) ditemukan pada sebaran diameter antara 20-80,9 cm. Struktur horizontal tegakan hutan didominasi kelas diameter 30-40,9. Variasi pada sebaran kelas diameter menunjukan adanya perbedaan kemampuan setiap pohon dalam memanfaatkan energi matahari dan unsur hara. Berdasarkan Gambar 2, sebaran tinggi pohon-pohon di kawasan tanaman Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) ditemukan pada sebaran tinggi antara 5-29,9 m. Struktur vertikal tegakan

(17)

Gambar 3 Pohon Masa Depan, Masa Lampau, Masa Kini

Pohon dapat dikelompokkan berdasarkan perbedaan waktu, yaitu pohon masa lampau, masa kini dan masa depan. Pohon masa depan adalah pohon muda yang akan tumbuh menjadi pohon dewasa, pohon masa kini adalah pohon dewasa yang masih hidup, dan pohon masa lampau adalah pohon tua yang sudah mati atau telah ditebang. Berdasarkan gambar 3 hutan alam Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) terdapat 2 pohon masa kini, 9 pohon masa depan dan 1 pohon masa lampau. Hal tersebut menandakan bahwa ekosistem hutan alam telah mengalami perubahan dan gangguan.

4.4 Indeks Nilai Penting dan Indeks Keanekaragaman Vegetasi

4.4.1 Indeks Nilai Penting

Indeks Nilai Penting (INP) menggambarkan nilai ekologi dari suatu jenis tumbuhan dalam sebuah komunitas tumbuhan. Indeks Nilai Penting (INP) diperoleh dari penjumlahan nilai relatif kerapatan, frekuensi, dan dominansi suatu jenis. Semakin tinggi nilai INP suatu tumbuhan, semakin besar perannya dalam ekosistem tempat tumbuhan tersebut berada (Andesmora et al. 2021).

Tabel 3 Indeks Nilai Penting tingkat tumbuhan bawah No Jenis Jumlah

individu

Plot

Ditemu K (ind/Ha) KR

(%) F FR

(%) INP

(18)

kan

1 Bubukuan 1 45 2 45000 26.95 0.20 10.00 36.95

2 Oplismenus

hirtellus 5 1 5000 2.99 0.10 5.00 7.99

3 Bischofia

javanica 49 5 49000 29.34 0.50 25.00 54.34

4 Curcoligo

capitulata 4 2 4000 2.40 0.20 10.00 12.40

5 Lempoyanga

n 5 1 5000 2.99 0.10 5.00 7.99

6 Elatostema

integrifolium 5 1 5000 2.99 0.10 5.00 7.99

7 Paku gunung 10 4 10000 5.99 0.40 20.00 25.99

8 Celtis

africana 44 4 44000 26.35 0.40 20.00 46.35

Total 167 167000 100 2 100 200

Berdasarkan tabel 3 Nilai INP pada tumbuhan bawah adalah yang tertinggi dibandingkan dengan tingkat lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa tumbuhan bawah memiliki ruang tumbuh yang luas sehingga memungkinkan mereka untuk memperoleh cahaya langsung (Rendra et al. 2018). Nilai INP tertinggi pada tingkat tumbuhan bawah terdapat pada jenis Bischofia javanica dengan nilai sebesar 54.34% dan nilai INP terendah yaitu jenis Oplismenus hirtellus, Zingiber zerumbet, dan Elatostema integrifolium dengan nilai sebesar 7.99%.

Tabel 4 Indeks Nilai Penting tingkat semai No Jenis

Jumla h indivi

du

Plot Ditem

ukan

K (ind/H

a)

KR

(%) F FR

(%) INP

1 Mara 1 1 1000 33.33 0.10 50.00 83.33

2 E 2 1 2000 66.67 0.10 50.00 116.67

Total 3 3000 100 0.2 100 200

Tingkat semai didominasi oleh Kurai (Trema orientalis) , dengan nilai INP

(19)

INP terendah pada tingkat ini adalah Mara (Macaranga tanarius) dengan nilai INP sebesar 83.33%.

Tabel 5 Indeks Nilai Penting tingkat pancang

No Jenis Jumlah

individu

Plot Dite mukan

K (ind/

Ha)

KR

(%) F FR

(%) INP

1 Mara 15 4 1500

0

100.0

0 0.40 100.00 200.00

Total 15 1500

0 100 0.4 100 200

Berdasarkan tabel 5 Indeks Nilai Penting pada tingkat pancang hanya dimiliki oleh satu jenis tegakan yaitu Mara (Macaranga tanarius) dengan nilai INP sebesar 200%. Jenis ini biasanya dimanfaatkan untuk membuat papan, kayu bakar, dan juga bahan obat-obatan tradisional (Amirta et al.2017).

Tabel 6 Indeks Nilai Penting tingkat Tiang No Jenis Juml

ah

Plot Ditm ukan

K KR F FR LBDS D DR INP

1

Mara (Macaranga

tanarius)

6 2 200.0

0 20 0.67 20

0.01

0.39 9.92 49.92

2

Saninten (Castanopsis

argentea)

2 1 66.67 6.67 0.33 10 0.02 0.67 17.10 33.76

3 Kurai (Trema

orientalis) 5 1 166.6

7 16.67 0.33 10 0.02 0.54 13.75 40.42 4

Ki Pare (Memecylon

lilacinum)

2 1 66.67 6.67 0.33 10 0.01 0.36 9.24 25.90

5

Ki Jagong (Santiria tomentosa)

4 1 500 50 1.67 50 0.02 1.97 50.00 150 Total 19 6 1000 100 3.33 100 0.08 3.93 100 300

Berdasarkan tabel 6 ditemukan sebanyak 5 jenis tumbuhan pada tingkat tiang dengan jumlah tumbuhan yang ditemukan sebanyak 19 individu. Nilai INP tertinggi pada tingkat tiang dimiliki oleh jenis tumbuhan Ki Jagong (Santiria

(20)

tomentosa) dengan nilai sebesar 49.92%. Sementara itu, nilai INP terendah pada tingkat tiang yaitu Ki Pare (Memecylon lilacinum) dengan nilai sebesar 25.90%.

Tabel 7 Indeks Nilai Penting tingkat pohon

Nama Jenis Ind K (Ind/

ha)

Kr

(%) F

Fr (%)

LB DS

D (m2/

ha) DR(%) INP Ki Jagong (Santiria

tomentosa) 3 25.00 21.43 0.40 22.22 0.05 1.26 11.32 54.97 Mara (Macaranga

tanarius) 2 16.67 14.29 0.40 22.22 0.04 0.89 8.02 44.53 Saninten (Castanopsis

argentea) 5 41.67 35.71 0.40 22.22 0.19

4.82 43.27 101.21 Kurai (Trema

orientalis) 2 16.67 14.29 0.20 11.11 0.09

2.32 20.87 46.27 pohon totol-totol 1 8.33 7.14 0.20 11.11 0.04 0.89 8.02 26.28 Ki Pare (Memecylon

lilacinum) 1 8.33 7.14 0.20 11.11 0.04 0.94 8.49 26.74

Jumlah 14

116.6 7

100.0

0 1.80

100.0 0 0.45

11.1

3 100.00 300.00 Tabel 7 menunjukkan nilai INP dari tingkat pohon. Nilai INP tertinggi pada tingkat pohon yaitu jenis Saninten (Castanopsis argentea) dengan nilai sebesar 105.23%, sedangkan nilai INP terendah pada tingkat pohon yaitu jenis "pohon totol-totol" dengan nilai INP sebesar 27.02%. Hal ini sesuai dengan pernyataan menurut Wibowo (2006) dalam Hilwan dan Irfani 2018 bahwa Saninten (Castanopsis argentea) ditemukan di hutan primer atau sekunder tua yang umumnya tumbuh pada tanah yang kering dan subur.

Berdasarkan pembahasan tersebut jenis yang mendominasi pada keseluruhan plot yang ditemukan merupakan Mara (Macaranga tanarius) sebanyak 15 individu di tingkat pancang dan 6 individu di tingkat tiang kemudian pada tingkat pohon tegakan Saninten (Castanopsis argentea) lebih mendominasi sebanyak 5 individu. Sementara itu, Ki Pare (Memecylon lilacinum) dan 'pohon totol-totol' merupakan tegakan yang paling sedikit dengan jumlah satu individu.

Dengan demikian jenis yang mendominasi pada keseluruhan plot yaitu pada tingkat

(21)

dikatakan oleh Amirta et al (2017), bahwa M. tanarius adalah salah satu spesies yang membentuk pohon di hutan sekunder. Habitatnya tersebar di Kepulauan Andaman, Malaya, Sumatera, Jawa, Kalimantan (Kalimantan Timur), Thailand, Indochina, Taiwan, Australia Utara, dan Melanesia. Tanaman ini dapat tumbuh mulai dari dataran rendah hingga ketinggian 2.440 mdpl.

4.4.2 Indeks Keanekaragama Jenis

Tabel 8 Data indeks keanekaragaman, kekayaan dan kemerataan jenis tingkat tiang dan pohon

Tingkatan Jenis H' R' E'

Tiang Mara (Macaranga

tanarius)

0.22 0.75 0.16

Saninten (Castanopsis argentea) Kurai (Trema

orientalis) Ki Pare (Memecylon

lilacinum) Ki Jagong (Santiria

tomentosa)

Pohon Ki Jagong (Santiria tomentosa)

1,44 0,69 5,62

Mara (Macaranga tanarius)

Saninten (Castanopsis argentea)

(22)

Kurai (Trema orientalis)

pohon totol-totol Ki Pare (Memecylon lilacinum)

Berdasarkan hasil perhitungan nilai indeks keanekaragaman jenis dari tingkat tiang diperoleh nilai 0,22% maka dapat dikategorikan keanekaragaman jenis tiang pada kondisi rendah dengan indeks keanekaragaman jenis menurut Hannon Winner (1954), jika nilai H’ <1,0 dikatakan rendah, jika nilainya 1,0<H’>3,322 maka keanekaragaman jenisnya tinggi. Pada tingkat tiang, nilai H’ seluruhnya dalam kategori rendah. Hal tersebut menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman jenis tiang dalam komunitas disusun oleh sedikit spesies (Wahyuningsih et al.2019).

4.5 Pendugaan Biomassa Karbon

Hutan alam memiliki fungsi ekologis yang sangat vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Salah satu di antaranya adalah fungsi hutan alam dalam menjaga iklim di dalam kawasan hutan maupun di luar hutan. Hal ini terkait dengan kemampuan tegakan hutan untuk menyerap karbondioksida dan melepaskan oksigen dalam proses fotosintesis. Semakin banyak karbondioksida yang diserap oleh tanaman dalam bentuk biomasa karbon maka semakin besar pengaruh buruk efek gas rumah kaca dapat ditekan.

Tabel 9 Nilai simpanan biomassa dan serapan karbon No petak Total Biomassa (ton/Ha)

Total Karbon (ton/ha)

Kerapatan (Individu/Ha)

1 30592.487 14378.469 1100.00

2 123034.991 57826.446 600.00

3 11083.961 5209.462 600.00

4 13256.452 6230.532 600.00

(23)

5 2985.140 1403.016 300.00

Berdasarkan tabel 9, total biomassa plot 2 lebih besar daripada plot lainnya dan rata-rata terendah terdapat pada plot 5. Besaran rata-rata biomassa dipengaruhi oleh kerapatan yang tersaji pada gambar 4.

Gambar 4 Hubungan Antara Kerapatan dan Biomassa

Nilai korelasi hubungan antara kedua variabel bernilai 51216,015 dimana hal tersebut menunjukkan hubungan yang kuat dan positif. Selain dipengaruhi oleh kerapatan, diameter pohon yang terdapat dalam plot juga mempengaruhi besaran biomassa melalui karbon tersimpan dan kecepatan fotosintesis (Oktaviana et al.

2017).

Gambar 5 Hubungan Antara Kerapatan dan Simpanan Biomassa

(24)

Nilai korelasi hubungan antara kedua variabel bernilai 108970,245 dimana hal tersebut menunjukkan hubungan yang kuat dan positif. Semakin tinggi kerapatan pohon, semakin besar potensi simpanan biomassa (Drupadi et al. 2021).

(25)

V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Komposisi dan struktur tegakan di hutan dipengaruhi oleh variasi spesies tumbuhan serta faktor lingkungan seperti iklim dan jenis tanah. Persaingan antar individu tanaman, baik yang sejenis maupun berbeda jenis, mengakibatkan seleksi alam yang mengurangi jumlah individu yang dapat bertahan hidup. Hasil analisis di area TNGC menunjukkan dominasi spesies tingkat tumbuhan bawah dan tingkat semai tumbuhan yaitu Bubukuan (Strobilanthes cernua). Pada tingkat pancang, tumbuhan yang mendominasi adalah Walen (Ficus ribesa). Sementara pada tingkat pohon dapat dilihat bahwa tumbuhan yang mendominasi adalah pohon Ki Pare (Memecylon lilacinum)

5.2 Saran

Saran yang dapat diberikan untuk pelaksanaan dan pembuatan laporan praktikum ini mencakup pentingnya melakukan analisis vegetasi dengan serius dan mendetail untuk menghindari kesalahan dan ketidaksesuaian antara catatan data dan kondisi sebenarnya di lapangan. Validasi kepada warga masyarakat sekitar hutan, petugas penjaga, dan pihak Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dibutuhkan untuk meratakan suhu dan menggali lebih dalam persepsi masyarakat terkait hutan dan pengelolaannya serta keterlibatan masyarakat di dalamnya. Analisis vegetasi harus dilakukan secara sistematis sesuai dengan prosedur dan metode pengambilan data yang diinginkan agar data yang diperoleh dapat mewakili ekosistem yang diamati. Praktikan perlu memiliki pemahaman dan pengetahuan yang baik tentang identifikasi vegetasi untuk mempermudah proses analisis serta persiapan fisik, kesiapan alat dan bahan.

.

(26)

VI DAFTAR PUSTAKA

Amirta R, Angi EM, Ramadhan R, KusumaIW, Wiati CB, Haqiqi MT. 2017.

Potensi Pemanfaatan Macaranga. Samarinda : Mulawarman University Press.

Andesmora EV, Muhadiono M, Hilwan I. 2021. Analisis keanekaragaman jenis tumbuhan di Hutan Adat Nenek Limo Hiang Tinggi Nenek Empat Betung Kuning Muara Air Dua, Kabupaten Kerinci, Jambi.

Jurnal Hutan Dan Masyarakat. 13(2):74–91.

Farhan MR, Lestari S, Hasriaty H, Adawiyah MKR, Nasrullah M, Asiyah N, Triastuti A. 2020. Analisis Vegetasi Tumbuhan di Resort

Pattunuang-Karaenta Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.

Febriarta E, Oktama R. 2020. Pemetaan daya dukung lingkungan berbasis jasa ekosistem penyedia pangan dan air bersih di Kota Pekalongan.

Jurnal Ilmu Lingkungan, 18(2) 283-289.

Greigh-Smith, P. 1983. Quantitative Plant Ecology. Blackwell Scientific Publications, Oxford.

Cahyanto T, Chairunnisa D, Sudjarwo T. 2014. Analisis vegetasi pohon hutan alam Gunung Manglayang Kabupaten Bandung. Jurnal Hutan Lestari. 8(2): 237-256.

Kawung IA, Untu SD, Hariyadi H, Lengkey YK. 2020. Analisis vegetasi hutan Kota Irang di Kelurahan Kayawu Kecamatan Tomohon Utara berbasis SIG. Majalah INFO Sains. 1(1):24-33.

Karyaningsih I, Hendrayana Y, Kustiawan I. 2021. Keanekaragaman makrofauna tanah di zona rehabilitasi Taman Nasional Gunung Ciremai Blok Pasirbatang Desa Karangsari Kabupaten Kuningan.

Jurnal Pendidikan dan Biologi. 13(1): 60-67.

Luturyali E, Langi MA, Sumakud MY. 2019. Struktur dan komposisi vegetasi pohon di hutan lindung Gunung Mahawu dan hutan lindung

(27)

Liana E, Idris MH, Aji IML. 2022. Karakteristik sifat fisika dan kimia berdasarkan tipe pengelolaan lahan pada hutan produksi di Desa Banyu Urip Lombok Tengah. Jurnal Hutan Tropika. 17(1): 51-60.

Melinda V, Andini R, Yanti LA. 2022. Analisis morfologi pinus (Pinus Merkusii Jungh. Et De Vriese) Studi Kasus: Lut Tawar dan Linge, Aceh Tengah. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian. 7(2):796-804.

Mirwanda S, Salsabiila F, Pramesti R, Zakiyyah AR, Tuelzar MR. 2021.

Pemetaan suhu permukaan anomali panas bumi daerah Gunung Ciremai menggunakan data inframerah termal landsat 8. Jurnal Geosains dan Remote Sensing. 2(2): 92-99.

Nuraina I, Prayogo H. 2018. Analisa komposisi dan keanekaragaman jenis tegakan penyusun hutan Tembawang Jelomuk di Desa Meta Bersatu kecamatan Sayan Kabupaten Melawi. Jurnal Hutan Lestari.

6(1):120-130

Pamoengkas P, Maharani PL. 2018. Manajemen tempat tumbuh pada tanaman Eucalyptus pellita di PT. Perawang Sukses Perkasa Industri, Distrik Lipat Kain, Riau Site Management Eucalyptus pellita at PT. Perawang Sukses Perkasa Industri, Riau.

Journal of Tropical Silviculture. 9(2):79-84.

Putri SM, Indriyanto ,Riniarti M. 2019. Komposisi jenis dan struktur vegetasi Hutan Lindung Bengkunat di Resort III Unit 1 Pesisir Barat. Jurnal Sylva Tropika. 3(1): 118-131.

Prastomo RH, Herawatiningsih R, Latifah S. 2017. Keanekaragaman vegetasi di kawasan mangrove Desa Nusapati Kabupaten Mapawah. Jurnal Hutan Lestari. 5(2):556-562.

Rawana, Wijayani S, Masrur MA. 2022. Indeks nilai penting dan keanekaragaman komunitas vegetasi penyusun hutan di Alas Burno SUBKPH Lumajang. Jurnal Wana Tropika. 12(2): 80-89.

Rosianty Y, Lensari D, Handayani P. 2018. Pengaruh sebaran vegetasi terhadap suhu dan kelembaban pada Taman Wisata Alam (TWA) Punti Kayu Kota Palembang. Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Kehutanan. 7(2): 68-77.

Rusdiana O, Amalia RF. 2012. Kesesuaian lahan Pinus merkusii Jungh et de Vriese pada areal bekas tegakan Tectona grandis Linn. Jurnal Silvikultur Tropika. 3(3):174-181.

Sundarapandian SM, Swamy PS. 2000. Forest ecosystem structure and composition along an altitudinal gradient in the Western Ghats, South India. Journal Of Tropical Forest Science. 4(1):104-123.

Oktaviana S, Amin B, Ghalib M. 2017. Estimasi stok karbon tersimpan pada tegakan mangrove di Kawasan Ekowisata Mangrove Desa Mojo, Kabupaten Pemalang. Jurnal Litbang. 1(3):112-118.

(28)

Wahyuingsih E, Faridah E, Budiadi, Syahbudin A. 2019. Komposisi dan eanekaragaman tumbuhan pada habitat ketak (Lygodium circinatum (Burm.sw.) di Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat. Jurnal Hutan Tropis. 7(1):92-103.

Yuniarsih A, Marsono D. Pudyatmoko S, Sadono R. 2014. Zona Taman Nasional Gunung Ciremai berdasarkan sensitivitas kawasan dan aktivitas masyarakat. Jurnal Penelitian Hutan dan konservasi Alam.

11(1):239-259.

(29)

LAMPIRAN

Pembagian Jobdesk

1. Dicky Agung Ferdiansyah (E1401221057)

Pembagian : Cover, kondisi umum, pembahasan biomassa dan karbon, pengukuran tiang dan pohon (DBH, TT,TBC, Proyeksi tajuk), pembuatan plot

2. Tiara Andini (E1401221031)

Pembagian : Pengukuran (DBH, TT, TBC) tiang dan pohon, metode praktik, pembahasan pengertian hutan alam dan karakteristik, lampiran, notulensi tiang dan pohon

3. Amelia Istimara Khaira (E1401221134)

Pembagian : Pengukuran tiang dan pohon (DBH, TT, TBC), identifikasi jenis tiang dan pohon, pengolahan data, pembahasan pohon poin 4.4, notulensi tiang dan pohon

4. Muhammad Syauqi Arrazy (E2401221021)

Pembagian : Merintis pembuatan plot, pengukuran tiang dan pohon (DBH, TT, TBC, proyeksi tajuk), pembuatan profil tajuk dan kalkir

5. Femmy Khoerunnisa (E2401221075)

Pembagian : Notulensi, pengukuran tiang dan pohon (DBH, TT,TBC, proyeksi tajuk), pengolahan data, pembahasan poin 4.3 dan 4.5

6. Dimas Cahyaning Tyas (E3401221021)

Pembagian : Notulensi, identifikasi dan pengukuran pada edafis dan klimatis, daftar pustaka

7. Hanafis Nabilla Nursyawal (E3401221054)

Pembagian : Pengukuran dan identifikasi jenis semai, pancang, tumbuhan bawah, pembahasan poin 4.2

8. Muhammad Fadlan Arifin (E3401221131)

Pembagian : Merintis dan pembuatan plot, kesimpulan dan saran 9. Aulya Zahra Salsabila H (E4401221019)

Pembagian : Pengukuran tiang dan pohon (DBH, TT, TBC, proyeksi tajuk), pengolahan data, pendahuluan

10. Amanah Hidayatul Khasanah (E4401221042)

Pembagian : Notulensi semai, tumbuhan bawah, pancang dan identifikasi jenis, pembahasan poin 4.4

(30)

Dokumentasi

Gambar 6 Dokumentasi tim Gambar 7 Salah satu jenis pohon yangnditemukan

Gambar 8 Identifkasi pohon

Gambar

Gambar 1 Struktur Horizontal Hutan Alam
Gambar 2 Struktur Vertikal Hutan Tanaman
Gambar 3 Pohon Masa Depan, Masa Lampau, Masa Kini
Tabel  4 Indeks Nilai Penting tingkat semai   No Jenis
+7

Referensi

Dokumen terkait

Daerah yang dilewati jalan tersebut merupakan daerah yang bergunung-gunung terutama daerah Sulawesi Tengah (sekitar 42,8% berada di atas ketinggian 500 meter diatas permukaan

Berapa ketinggian gunung atau tempat pendakian yang paling tinggi dari pendakian yang pernah Anda lakukan.. (dalam satuan meter di atas permukaan laut

Taman Kupu-kupu Gita Persada yang berada di kaki Gunung Betung seluas 4,8 Ha dengan ketinggian 460 meter di atas permukaan laut, letaknya di Kelurahan Kedaung

Kawasan tanah pamah, kaki bukit dan cerun-cerun gunung yang mempunyai ketinggian kurang daripada 1 200 meter dari aras laut ditumbuhi Hutan Hujan Tropika. Tumbuhan

Pada tahun 2003, para ilmuwan menemukan sebuah pohon apel unik di tengah hutan dengan ketinggian 3.797 meter dari permukaan laut yang terletak di pegunungan alpen Swiss bagian

m dpl meter diatas permukaan laut ketinggian tempat. mm/tahun Millimeter per tahun

Taman Kupu-kupu Gita Persada yang berada di kaki Gunung Betung seluas 4,8 Ha dengan ketinggian 460 meter di atas permukaan laut, letaknya di Kelurahan Kedaung

Bahan tanaman rumput raja ada dua macam yaitu dengan stek dan robekan rumpun yang dapat tumbuh pada tempat sampai ketinggian 1500 meter dari permukaan air