Alhamdulillah investigasi individu ini dapat diselesaikan dengan baik dan lancar, semoga investigasi ini dapat bermanfaat bagi Gereja dan kita semua. Penelitian ini menggambarkan keberadaan Kota Driyorejo yang terletak di bagian barat Kabupaten Gresik dan hampir dekat dengan Kota Surabaya.
Latar Belakang Masalah
- Klaim kebenaran (Absolute Truth Claims)
- Ketaatan buta terhadap pemimpin agama (Blind Obedience)
- Upaya-upaya membangun zaman ideal (Establishing the Ideal Times)
- Tujuan menghalalkan segala cara (The End Justifies Any Means)
- Perang Suci (Declaring Holy War)
Salah satu hambatan serius terhadap kebebasan beragama di Indonesia adalah meningkatnya aksi kekerasan bernuansa agama. Dari kasus-kasus yang dilaporkan pada tahun 2014, dapat disimpulkan ada tiga kategori pengaduan mengenai kebebasan beragama/beragama: Pertama, tindakan penyegelan, perusakan, atau penghalangan pendirian 30 tempat ibadah.
Identifikasi Masalah
Karena kita sadar bahwa isu pendirian rumah ibadah merupakan salah satu pemicu konflik, maka penelitian ini akan menyoroti isu pendirian rumah ibadah dari sudut pandang sosiologi, khususnya dalam kaitannya dengan komunitas lintas agama yang semakin banyak. individualistis. Hal ini wajar mengingat setiap tatanan ibadah selalu mempunyai aspek motivasi atau simbolik.
Rumusan Masalah
Penelitian ini akan fokus pada aspek signifikansi pendirian Gereja di Perumahan Non-Angkatan Laut Driyorejo Gresik. Fokus ini menarik untuk dikaji karena akan memaparkan permasalahan pendirian rumah ibadah (gejera), baik dari segi tindakan eksternal maupun pemahaman internal masing-masing jemaah dalam menyikapi pendirian rumah ibadah.
Tujuan Penelitian
Secara operasional, fokus ini akan menanyakan: apa sebenarnya gunanya mendirikan gereja bagi umat Islam dan Kristen? Mengetahui dan memahami pentingnya mendirikan gereja bagi pemeluk agama baik Kristen maupun Islam di Driyorejo Gresik;
Kegunaan Penelitian
Kegunaan Teoretis
Kegunaan Praktis
Penelitian ini bersifat kualitatif dan akan fokus pada pendalaman pentingnya hubungan sosial antar umat beragama, khususnya terkait pentingnya umat beragama (Muslim dan Kristen) di Gresik mengenai pendirian gereja di Driyorejo Gresik TNI AL non-kompleks. apartemen layanan. Sebagaimana kita pahami, relasi sosial atau relasi antar umat beriman mengandaikan adanya pluralitas pranata sosial keagamaan.
Pluralisme Dan Hubungan Antar Umat Beragama
Pluralisme
Kajian dan penelitian mengenai pluralisme agama yang dilakukan oleh para ilmuwan tersebut tentu mempunyai tujuan dan capaian yang sesuai dengan latar belakang keilmuan yang bersangkutan. Dijelaskan pula bahwa dalil utama pluralisme agama dalam Al-Qur'an didasarkan pada hubungan antara keyakinan privat (pribadi) dengan proyeksi publiknya dalam masyarakat Islam.
Perspektif Pluralisme Terhadap Hubungan Antar Umat Beragama
Peran negara tersebut dapat dicapai dengan beberapa cara sebagai berikut: pertama, negara harus menciptakan adanya ruang publik yang bebas. Tugas negara semacam ini dalam konteks Indonesia jelas tertuang dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika, dan tercermin dalam UUD 1945 sebagai landasan konstitusi negara.
Teori Interaksionisme Simbolik
Simbol-simbol keagamaan tersebut mengandung makna yang berbeda-beda yang dijadikan sebagai landasan dalam berinteraksi sosial, baik dengan sesama penganut agama yang satu maupun dengan penganut agama yang lain. Oleh karena itu, pentingnya rumah ibadah sebagai simbol keagamaan dalam konteks sosial kerukunan antar umat beragama harus dipahami oleh umat lintas agama dengan menggunakan prinsip “agree to” yaitu menyepakati perbedaan.
Teori Fenomenologi Sosiologis
Salah satu ilmuwan sosial yang berkompeten memperhatikan perkembangan fenomenologi adalah Alfred Schutz. Di sisi lain, pemikiran ilmu sosial erat kaitannya dengan berbagai bentuk interaksi dalam masyarakat, yang menyebar sebagai gejala dalam dunia sosial.
Lokasi Penelitian
Metode dan Pendekatan Penelitian
Karena hasil teoritis yang ingin dikembangkan dalam penelitian ini lebih mementingkan sudut pandang subjek dan signifikansi fenomena sosial dan keberadaan gereja dalam masyarakat sebagai subjek penelitian, maka jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan teori. pluralisme agama, interaksionisme simbolik, dan metode fenomenologis sebagai landasan penulisan dan analisis pembahasan. Pluralisme agama digunakan sebagai metode untuk membaca sejauh mana relasi antar umat beragama di Gresik. Sedangkan untuk memahami bagaimana umat Islam dan Kristen memaknai pendirian gereja di perumahan fasilitas umum, perumahan non dinas TNI Angkatan Laut di Driyorejo, digunakan metode interaksionisme simbolik dan fenomenologi.
Tahapan Penelitian
- Memasuki Lapangan Penelitian
- Pengumpulan Data: Observasi, Wawancara dan Dokumentasi
Subyek dan sumber data penelitian ini adalah “individu” dari kalangan masyarakat Islam dan Kristen Gresik (Katolik dan Kristen) yang terdiri dari kalangan pemerintahan, umat beragama (Islam dan Kristen) di kalangan generasi muda, masyarakat akar rumput dan calon pengguna gereja. Penentuan jumlah subjek penelitian disesuaikan dengan jumlah kebutuhan data dan tujuan judul penelitian yaitu pentingnya mendirikan gereja bagi pemeluk agama (khususnya Islam dan Kristen) di Kabupaten Gresik yang meliputi keterwakilan subjek dan variasinya. pada elemen masyarakat yang terlibat langsung dalam fokus penelitian ini. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi.
Pengolahan dan Analisis Data
Alasan perlunya dokumen-dokumen ini adalah: 1) dokumen-dokumen ini merupakan sumber daya yang stabil, kaya dan merangsang, 2) berguna sebagai bukti uji, 3) berguna dan cocok untuk penelitian kualitatif karena kandungannya yang alami dan kontekstual. sifatnya, 4) dokumen-dokumen tersebut harus dicari dan ditemukan, dan 5) hasil telaah isi akan membuka peluang untuk lebih memperluas pengetahuan tentang sesuatu yang diteliti.64. Dokumen-dokumen tersebut antara lain Keputusan Panglima TNI Angkatan Laut, pengangkatan panitia, surat Bupati Gresik, surat tentang peraturan pendirian tempat ibadah, termasuk Penpes nomor 1 tahun 1965, peraturan bersama Menteri. Agama dan Menteri Dalam Negeri no. 9 dan 8 Tahun 2006 serta peraturan daerah lainnya tentang pedoman pendirian tempat ibadah. Reduksi data yaitu proses seleksi, fokus pada penyederhanaan, transformasi data mentah yang diperoleh dari catatan lapangan pada saat penelitian.
Keabsahan: Validasi dan Reliabilitas Data
Oleh karena itu, dalam proses pengumpulan, analisis, dan pengujian data yang terus dilakukan selama penelitian lapangan, wajar jika dikatakan bahwa penelitian kualitatif lebih unggul dalam hal keabsahan data. Proses ini sendiri sebenarnya menjaga konsistensi validitas internal, yaitu keabsahan data dan temuan dalam konteks penelitian yang bersangkutan. Selain itu reliabilitas penelitian kualitatif ditentukan oleh kualitas peneliti itu sendiri, terutama dalam hubungan pribadinya dengan orang yang ditelitinya.66.
Latar Belakang Kabupaten Gresik
Raffles dalam beberapa tulisannya mengatakan bahwa Gresik berasal dari kata Giri-Gisik yang berarti littoral (pantai), yang kemudian berubah menjadi Girisik, kemudian Gresik. Solihin Salam mempunyai pendapat yang sama dengan Serat Centini yang mengatakan bahwa Gresik berasal dari kata Giri Isa atau Giri Nata yang berarti raja bukit atau penguasa Giri. Thomas Stamford Raffless mengungkapkan dalam bukunya The History of Java bahwa nama Gresik berasal dari kata 'giri-gisik' yang berarti “gunung di tepi pantai”, dan mengacu pada topografi kota yang terletak di tepi pantai. Gresik pada zaman Belanda dikenal dengan nama 'Grissee', istilah yang diciptakan oleh Dr.
Demografi dan Penduduk Kabupaten Gresik
Citra Gresik sebagai Kota Santri
Begitu pula Sunan Giri yang tak kalah pentingnya dengan Ali Murtadho berhasil mengelaborasi aspek asrama Islam menjadi aspek kehidupan yang plural. Sunan Giri lebih dikenal dunia luar, dibandingkan dengan pamannya Ali Murtadho karena kepiawaiannya dalam manajemen dan pola komunikasi, Sunan Giri mempunyai pola manajemen dan komunikasi yang lebih sistematis. Di usianya yang masih muda, ia sudah disiplin mencari nafkah dan dari sinilah ia berinteraksi dengan banyak klien dari luar pulau seperti Banjarmasin dan Halmahera. 80 Sunan Giri dalam dunia bisnis sangat terkenal sebagai sosok yang tabah dalam menjaga dan melestarikan serta menanamkan prinsip-prinsip sekolah Islam akomodasi dan kedermawanan, yang pada saat itu sangat jarang ada orang-orang di dunia bisnis yang bermurah hati.
Gresik sebagai Kota Bandar / Dagang
Dikatakan bahwa banyak orang pergi ke Grissee untuk berdagang dan banyak pula yang menjual emas dan permata.84 Tomé Pires, seorang pengelana Portugis yang mengunjungi pelabuhan Gresik, juga menyebut Gresik sebagai pelabuhan kerja teraman dan kota perdagangan. Peran Gresik sebagai kota perdagangan mulai berkembang sejak pertengahan abad ke-14, seiring dengan dinamisme kota tersebut. Setelah pemerintahan Majapahit, ketika terjadi bencana pada tahun 1478 M, Gresik sebagai kota perdagangan memisahkan diri dan menjadi pusat keagamaan, disini terdapat pusat pendidikan agama yang dikenal dengan Pondok Pesantren di Giri.
Gresik Kota Wisata Religi/Wali
Dengan jatuhnya Grissee, pusat perdagangan berpindah ke Bandar Surabaya. Hingga saat ini pelabuhan besar di pesisir pantai Jawa berpusat di Tanjung Perak, Surabaya, sedangkan Gresik lebih merupakan bagian dari pelabuhan Tanjung Perak.
Gresik Kota Modern
Gresik sebagai kota modern juga ditandai dengan perkembangan perekonomian Gresik yang menunjukkan bahwa struktur perekonomian Kabupaten Gresik pada tahun 2012 berdasarkan produk domestik bruto atas dasar harga konstan pada tahun 2000 didominasi oleh industri pengolahan dengan kontribusi sebesar 49,52%, perdagangan, Sektor Hotel dan Restoran sebesar 22,82%, dan sektor Pertanian sebesar 7,83%. Begitu pula berdasarkan produk domestik bruto atas dasar harga berlaku yang didominasi oleh industri pengolahan dengan kontribusi sebesar 49,31%, sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 24,44% dan sektor pertanian sebesar 8,61%. Perencanaan fisik yang detail bisa saja bagus, namun pelaksanaan di lapangan tidak harus sejalan, oleh karena itu Gresik dengan menjadi kota modern akan menghadapi tantangan seperti kota modern lainnya.
Driyorejo dalam Konteks Pengembangan Wilayah Kabupaten Gresik
- Pengembangan Wilayah Kota
- Driyorejo Sebagai Kota Mandiri
- Kondisi Sosial dan Budaya
- Kondisi Keberagamaan
Mengingat hal tersebut, pada tahun 1992, Pemerintah Kabupaten Gresik mengeluarkan Peraturan Daerah (PERDA) Nomor 23, tentang Rencana Detail Tata Ruang Kota Driyorejo, Kabupaten Daerah Gresik Tingkat II.98. Sebagai pusat pengembangan wilayah Gresik bagian selatan, Kota Driyorejo berfungsi sebagai pusat pemukiman, pusat perkantoran, pusat perbelanjaan dan pusat pendidikan. Kota Baru Driyorejo, Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik, dalam: Hubungan Keagamaan: Studi Kasus Penutupan/Sengketa Rumah Ibadah.
Relasi Antarumat Beragama Di Gresik
Hal ini terlihat dari hubungan antar umat beragama, masyarakat Gresik pada umumnya dan Driyorejo pada khususnya menjaga sikap toleransi dalam kehidupan beragama. Berdasarkan data tersebut, hubungan antar umat beragama di Gresik dapat dikatakan relatif harmonis dan harmonis. Keseluruhan pesan dasar ajaran agama (Islam) juga mempengaruhi sikap koheren masyarakat Yunani terhadap keberadaan pemeluk agama yang berbeda.
Pendirian Gereja dan Problematikanya
Pembangunan gereja-gereja tersebut tidak memenuhi persyaratan Pasal 14 Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri nomor: 9 dan 8 Tahun 2006 (PBM 2006); Dirjen sepakat untuk menyerahkan tanah tersebut untuk dijadikan tempat ibadah umat Kristiani dan Katolik, dengan ketentuan peruntukan dan penggunaan tanah tersebut untuk pembangunan gereja dilakukan atas persetujuan kepala daerah. Kabupaten Gresik 125. Dalam upaya mengetahui apakah benar panitia pembangunan gereja sengaja melanggar pembangunan gereja di lokasi tersebut, masyarakat setempat merasa hal itu menyulitkan mereka.
Makna Pendirian Gereja Bagi umat Islam dan Nasrani (Katolik-Kristen)
- Makna Pendirian Gereja Bagi Umat Islam
- Makna Sosial Keagamaan
- Makna Sosial Kemasyarakatan
- Makna Pendirian Gereja Bagi Umat Nasrani (Katolik dan Kristen)
Bagi umat Islam, pendirian gereja di Perumahan Non Dinas TNI Angkatan Laut di Driyorejo merupakan wujud misi umat Kristiani. Fasilitas Perumahan Non Dinas TNI AL tempat dibangunnya gereja tersebut berada di wilayah hukum Kepala Desa Mulung, Kecamatan Driyorejo. Karena dikaitkan dengan pendirian gereja dan berbagai permasalahan yang muncul di masyarakat, umat Islam Yunani menilainya dari berbagai sudut pandang.
Temuan Makna Pendirian Rumah Ibadat (Gereja) dalam konteks Relasi Antarumat Beragama
Warga Driyorejo menilai campur tangan oknum tersebut sebagai representasi kekuasaan yang mencoba memaksakan kehendaknya untuk membangun rumah ibadah tersebut. Dari kenyataan tersebut dapat dipahami bahwa pendirian rumah ibadah, meskipun ditopang atau didukung oleh simbol-simbol kekuasaan negara, tetap tidak dapat mengalahkan keyakinan agama dan simbol teologis suatu agama tertentu, dalam hal ini Islam. Kehadiran rumah ibadah atau gereja yang didukung aparat (baca: anggota TNI Angkatan Laut) dinilai sebagai upaya mencoreng atau merusak simbol jati diri Kabupaten Gresik sebagai kota santri.
Kesimpulan
Sebagai simbol persaingan, keberadaan dan pendirian gereja-gereja tersebut dimaknai oleh masyarakat Yunani sebagai perpanjangan tangan Perang Salib yang keberadaannya harus dilawan. Selain itu, keberadaan gereja-gereja tersebut dimaknai sebagai misi kristenisasi yang diduga mempengaruhi keyakinan umat Islam di Driyorejo Gresik. Sedangkan bagi umat Islam, pendirian gereja di kawasan tersebut merupakan simbol ekspansionisme misionaris Kristen yang akan menjalankan misi Kristenisasi di lingkungan umat Islam.
Implikasi Teoretik
Kedua, terkait dengan pendirian gereja di Perumahan Non Dinas TNI AL Driyorejo Gresik, berdasarkan analisis teori interaksi simbolik dapat dikemukakan bahwa masyarakat Driyorejo Gresik secara simbolis terhadap keberadaan dan pendirian gereja tersebut menyikapi dua hal. . pengertian yaitu simbol rivalitas dan simbol tandingan. Ketiga, secara subyektif, keadaan hubungan antar umat beragama dan sikap masyarakat Gresik terhadap pendirian gereja sangat dipengaruhi oleh makna-makna apriori dari penganut agamanya masing-masing. Dalam pendekatan sosiologi fenomenologis disebutkan bahwa kerangka teori didasarkan pada kenyataan bahwa umat beragama dalam hal ini Kristen dan Islam mempunyai makna tersendiri terkait pendirian gereja di Perumahan Non Dinas TNI AL Driyorejo Gresik. .
Keterbatasan Penelitian
Sedangkan pendekatan sosiologi fenomenologis memberikan gambaran tentang kemampuan subjektif dan intersubjektif dalam memahami makna realitas tertentu. Oleh karena itu, analisis sosiologi fenomenologis cenderung melihat bagaimana aktor menafsirkan dan memberi makna pada pesan-pesan simbolik dalam proses interaksi. Dalam konteks hubungan antarumat beragama, analisis sosiologi fenomenologis ini dapat mengungkap makna di balik pemahaman atau tindakan yang dilakukan setiap umat beragama.
Rekomendasi
Ilmu Perbandingan Agama: Dialog, Dakwah dan Misi”, dalam Burhanuddin Daja dan Herman Leonard Beck (ed.), Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia dan Belanda. 9 dan 8 Tahun 2006 di Kota Bekasi, Haidlor Ali Ahmad (ed.) (Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan dan Pelatihan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehidupan Beragama, Kementerian Agama Republik Indonesia, 2012. Kabupaten Gresik” dalam Haidlor Ali Ahmad (ed.), Hubungan Keagamaan: Studi Kasus Penutupan Rumah Ibadah / Sengketa.