• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI LITERATUR MENGENAL DESAIN DAN ARSITEK DARI BANGUNAN

N/A
N/A
Ardi Alfatih

Academic year: 2023

Membagikan "STUDI LITERATUR MENGENAL DESAIN DAN ARSITEK DARI BANGUNAN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI LITERATUR

MENGENAL DESAIN DAN ARSITEK DARI BANGUNAN

“TEATRO CARLO FELICE” DAN “PORTLAND BUILDING”

Disusun Oleh :

Jurusan Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan

Institut Teknologi Medan 2015 / 2016

Mata Kuliah : Perkembangan Arsitektur Barat dan Asia Dosen Pengasuh : Saufa Yardha M., ST., MT.

Nama : M. Fachri B.Z.

NIM : 14.104.072

(2)

i KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur saya panjatkan terhadap ke-hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan karunia nyalah, makalah ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya. Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Perkembangan Arsitektur Barat &

Asia dengan dosen pengasuh Saufa Yardha M., ST., MT. Merujuk kepada kesesuaian materi perkuliahan dan penunjukan objek pembahasan maka penyusun mengangkat karya tulis ini dengan judul “Studi Literatur Mengenal Desain dan Arsitek dari Bangunan „Teatro Carlo Felice‟ dan „Portland Building”

Dengan adanya makalah ini, Mahasiswa arsitektur diharapkan mampu mengenal berbagai macam karya arsitektur baik di dalam maupun luar negeri.

Dimana mengenal karya disini bukan hanya mengetahui bentuk, namun juga harus mengetaui landasan-landasan yang mempengaruhi arsitek dalam mendesain bangunan tersebut sehingga dapat menjadi bahan literasi bagi mahasiswa nantinya dalam merancang sebuah karya.

Sebagai seorang Mahasiswa yang masih dalam proses pembelajaran, penulisan makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat membangun, guna penulisan makalah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Harapan saya, semoga makalah ini dapat membangun rasa keingin tahuan mahasiswa dalam mengeksplorasi karya-karya arsitektur yang ada di Dunia ini.

Penyusun M. Fachri B.Z.

(3)

ii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

I. TEATRO CARLO FELICE A. Data Umum Bangunan ... 1

B. Konsep Bangunan ... 4

C. Biografi Arsitek ... 6

II. PORTLAND BUILDING A. Data Umum ... 8

B. Konsep Bangunan ... 10

C. Biografi Arsitek ... 13

DAFTAR PUSTAKA ... 14

(4)

1 I. TEATRO CARLO FELICE

A. Data Umum Bangunan

Nama Bangunan : Teatro Carlo Felice (ITA) Carlo Felice Theatre (EN) Teater Carlo Felice (INA)

Lokasi Bangunan : Passo Eugenio Montale, 4, 16100 Genova, Province Of Genoa, Italy

Arsitek Perancang : Aldo Rossi

Fungsi Bangunan : Gedung Opera, Balai Pertemuan, dan Ruang Pertunjukan

Teatro Carlo Felice dibangun pada masa awal abad ke 19 untuk penguasa daerah Genoa pada waktu itu yang bernama Duke Carlo Felice.

Didesain oleh Carlo Barabino dimana bangunan ini memang ditujukan untuk sebuah gedung opera yang akan dibangun berdampingan dengan Situs Gereja San Dominico. Pada tanggal 24 Desember 1824 tepat pada hari peresmian operasional Most Excellence Deparment Of Theatre daerah Genoa, Carlo Barabino mendapatkan Ide untuk pembangunan Hall for Carlo Felice ini. Dan tepat pada tanggal 31 Januari 2015 ia menyampaikan presentasi desainnya dihadapan Duke Carlo Felice.

Dan pada tanggal 19 Maret 1826, peletakan batu pertama pembangunan Teatro Carlo Felice pun dilaksanakan. Pembangunan ini juga menjadi gelombang pemindahan pusat kegiatan Biarawati San Dominico yang berangsur bertahap hingga akhirnya wilayah Piazza De Ferrari seutuhnya menjadi wilayah Pagelaran Opera. Kemudian bangunan ini diresmikan pada tanggal 7 April 1828 dengan kondisi tidak sepenuhnya selesai, karena dekorasi – dekorasi pada ornamen struktural masih terbengkalai.

Walaupun dengan kondisi seperti itu, bangunan ini sudah memiliki ruang pertunjukan yang mampu menampung hingga 2.500 tamu dalam 5 tingkatan kursi. Hal ini menjadikan bangunan Teatro Carlo Felice menjadi

(5)

2 salah satu Opera House yang sangat prestisius waktu itu. Selain ruang pagelaran, pada peresmian awalnya bangunan ini sudah memiliki ruang galeri seni yang berada dilantai atas dan sebuah Ruangan Khusus untuk latihan bagi para pemain orchestra. Untuk kenyamanan pagelaran opera pada masa itu, sistem akustik yang diterapkan oleh bangunan ini sudah terbilang modern karena mampu mengendapkan suara didalam ruangan dan tidak menimbulkan efek gema.

Empat puluh tahun kemudian, gedung ini digunakan untuk sebuah kegiatan yang cukup prestige yaitu peringatan 400 tahun penemuan benua Amerika Oleh Colombus yang diselenggarakan oleh Gubernur Genoa pada masa Itu. Untuk menyukseskan acara tersebut, bangunan ini mendapatkan bayaran senilai 420.000 lira atau sekitar 17.000 euro. Dana ini digunakan oleh Barabino untuk merenovasi bagian interior bangunan dan menyelesaikan struktur-struktur bangunan yang belum selesai.

Bertahun-tahun berlalu Gedung pagelaran ini tetap digunakan dan bahkan terjadi renovasi berkala pada setiap masa pemerintahan di Provinsi Genoa. Dalam rentang waktu tahun 1859 hingga 1934 sudah terjadi lebih dari 10 kali renovasi yang pada masa itu menyesuaikan dengan trend dan gaya bangunan yang sedang berkembang. Hal ini ditujukan agar bangunan kebanggaan provinsi Genoa ini dapat menjadi ikonik yang tidak ketinggalan Jaman.

Saat Perang Dunia ke – I terjadi, bangunan ini juga mendapatkan imbas daripada tragedi tersebut. Pada tanggal 9 februari 1941, pasukan Angkatan Laut Inggris menempati bangunan ini untuk dijadikan markas saat bertempur. Dan Hasilnya langit-langit bangunan yang memiliki ciri khas Arsitektur Roccoco abad pertengahan ludes dimakan oleh mesiu yang ditinggalkan mereka. Hal yang paling parah adalah saat bom yang ditinggalkan di belakang panggung pagelaran meledak. Dengan daya ledak yang cukup tinggi, bom tersebut menghancurkan hampir 60 persen konstruksi bangunan ini.

(6)

3 Tidak cukup hanya dengan ledakan Bom tersebut, kemudian saat perang terjadi lagi beberapa pesawat tempur menembaki bangunan ini karena disinyalir menjadi tempat persembunyian para tentara angkatan laut Inggris. Serangan udara ini menghancurkan hampir keseluruhan Fasad bangunan ini, hanya tersisa bagian-bagian pelantai bangunan saat perang telah usai.

Bertahun-tahun berlalu, bangunan ini terbengkalai begitu saja hingga akhirnya pemerintah Italia tertarik untuk membangun kembali Teatro Carlo Fellice ini. Paolo Antonio Chessa menjadi orang yang beruntung ditunjuk untuk merekonstruksi bangunan ini kembali pada tahun 1951. Namun desain Paolo Antonio Chessa ternyata tidak menarik hati pemerintah Itali pada masa tersebut, sehingga desain yang diajukan Paolo untuk rekonstruksi bangunan ini ditolak mentah-mentah oleh pemerintah Provinsi Genoa waktu itu.

Dua puluh tahun berlalu, pemerintah kembali menginginkan bangunan tersebut direkonstruksi. Oleh karena itu tepat pada tahun 1977 Carlo Scarpa ditunjuk menjadi arsitek bagi pembangunan rekonstruksi teatro Carlo Fellice ini. Desain awal dalam pemilihan bentuk dan ruang Carlo Scarpa diterima oleh pemerintah provinsi Genoa, namun sayangnya setahun kemudian Carlo Scarpa meninggal karena menderita penyakit.

Dengan kematian Carlo Scarpa ini, maka gambar pra Desainnya tidak dapat dilanjutkan lagi.

Pada akhir tahun 80-an, Aldo Rossi lah yang menjadi arsitek beruntung karena ditunjuk untuk proses rekonstruksi bangunan ini. Desain Rossi diterima dengan lancar oleh pemerintah Genoa, Rossi mempertahankan bentuk Fasade asli bangunan namun merubah secara keseluruhan Interior bangunan menjadi lebih modern dengan kapasitas ruang pagelaran dapat menampung 2.000 kursi. Dan pada bulan juni 1991, Teatro Carlo Fellice kembali dibuka untuk umum dengan desain yang tetap mempertahankan Fasad bergaya Roccoco namun memiliki desain modern pada interior bangunan.

(7)

4 B. Konsep Bangunan

Gambar I.1. Fasade Teatro Carlo Felice (Sumber : carlofelicegenova.it)

Berdasarkan gubahan bentuk dan massa yang ada, konsep bangunan Teatro Carlo Fellice mewujudkan sebuah konsep bangunan bergaya Renaissance namun dicampur dengan gaya Arsitektur Roccoco.

Ini dapat dilihat dari bentuk bangunan yang cenderung persegi, selain itu bentukan-bentukan simetris menambah kesan Renaissance pada bangunan ini.

Namun jikalau kita melihat akan banyaknya patung yang menjadi penghubung antar ruang luar dan ruang dalam bangunan, maka ini menjadi ciri khas dari gaya arsitektur roccoco. Secara garis besar, dikarenakan bangunan ini awalnya dibangun pada abad 18 awal maka dominasi gaya arsitektur klasik. Hal ini diperjelas dengan pilar-pilar bergaya ionik yang menjadi ikon fasade bangunan, ditambah dengan adanya beberapa ukiran pada bagian leher bangunan menjadikan bangunan ini semakin terlihat bergaya arsitektur klasik.

Gambar I.2. Frogview Perspektif Teatro Carlo Felice (Sumber : carlofelicegenova.it)

(8)

5 Gambar I.3. Opera Hall Teatro Carlo Felice

(Sumber : carlofelicegenova.it)

Untuk desain interior pada bangunan ini terlihat jelas memunculkan kesan modern, namun pada sisi kiri dan kanan bangunan masih terlihat elemen- elemen klasik yang muncul melalui jendel dan balkon berukir. Ukiran- ukiran ini mengesankan bahwa bangunan ini tidak sesungguhnya ingin meninggalkan gaya Renaissance, walaupun didesain menjadi lebih modern. Penyusunan kursi pada Ampiteater menjadi ikon bahwasanya bangunan ini mengambil perpaduan konsep modern dan klasik.

Gambar I.4. Audiens Chairs in Opera Hall Teatro Carlo Felice (Sumber : lafovablu.it)

Gambar I.5. Susunan Ampiteater pada Opera Hall Teatro Carlo Felice (Sumber : carlofelicegenova.it)

(9)

6 C. Biografi Arsitek

Gambar I.6. Aldo Rossi “Arsitek Penyair”

(Sumber : en.wikipedia.org)

Lahir pada tanggal 3 mei 1932, Aldo Rossi merupakan arsitek yang berpengaruh di masa arsitektur post-modern. Berawal dari kota kelahirannya yaitu Milan, ia mencoba untuk mengenalkan dirinya dari berbagai macam tulisan mengenai arsitektur melalui majalah arsitektur Casabella Contuinita sejak awal tahun 1955. Ketertarikannya akan Dunia Arsitektur semakin diperjelas saat ia menempuh pendidikan arsitektur di Polytechnic University Of Milan dan lulus pada tahun 1959.

Bertahan hampir Sembilan tahun sebagai Editor di majalah Casabella, akhirnya Rossi Muda mundur dikarenakan pimpinan majalah yang bergabung dengan grup Bernasconi dimana grup ini dikenal akan mengekang banyak Hak dalam kebebasan penyiaran. Akhirnya Rossi bergabung dengan majalah Societa dan Contemporaneo secara bersamaan, tulisan rossi semakin diakui saat salah satu karya Tulisnya yang berjudul Scritti scelti sull'architettura e la città terpilih pada ajang penghargaan desain Perancangan Kota Italia.

Untuk karir sebagai profesional Arsitek, Aldo Rossi sudah memulainya sejak ia duduk di bangku perkuliahan. Saat itu rossi bergabung dengan Studio Ignazio Gardella pada pertengahan tahun 1956, namun tidak bertahan lama ia pindah ke studio Marco Zanuso dengan

(10)

7 alasan ingin mencari pengalaman yang lebih menantang. Pada Awal tahun 1963 Aldo Rossi sudah mengajar sebagai Asisten Dosen di Sekolah Perancangan Kota di Arezzo, kemudian ia diangkat menjadi salah satu dosen arsitektur di Polytechnic University of Milan pada tahun 1965.

Karirnya sebagai dosen semakin dijelaskannya saat ia mengeluarkan buku The Architecture City yang kemudian menjadi salah satu literatur penting dalam dunia arsitektur maupun perancangan kota.

Untuk karir profesionalnya mulai meloncat saat ia mendapat projek tunggal awal yaitu perancangan salah satu baguan dari komplek Monte Amiata di Gallaratese, Milan pada tahun 1968. Awal tahun 1971, Rossi memenangkan sayembara desain untuk perpanjangan komplek Pemakaman San Cataldo di Modena yang mengangkat namanya di panggung Arsitektur Internasional.

Saat terjadi krisis politik di Italia pada akhir tahun 1971, Rossi memutuskan untuk pindah ke Zurich, Swiss tempat kelahiran Istrinya. Di Swiss sendiri Rossi berkarir di salah satu Konsultan Arsitektur yang bernama ETH Zurich dan ia menempati posisi Direktur bagian Desain Arsitektur sampai dengan tahun 1975. Setelah krisis Politik di Italia mereda, Rossi kemudian memutuskan untuk kembali ke Italia dan mulai mengajar kembali di Institut Arsitektur Venice.

Tahun 1979 Rossi diangkat menjadi anggota Academy Of Saint Luke, hal ini membuka peluang Rossi untuk terjun ke kancah dunia Internasional dimulai dengan menjadi Dosen di beberapa Universitas di Amerika Serikat. Pada tahun 1981, Aldo Rossi menerbitkan buku Otobiografinya yang berjudul “"in discrete disorder’, brings back memories, objects, places, forms, literature notes, quotes, and insights and tries to ". Pada tahun 1990 Rossi memenangkan penghargaan bergengsi Pritzker Prize for architecture, melalui penghargaan ini Rossi mendapatkan julukan “Penyair yang kebetulan menjadi seorang Arsitek”.

(11)

8 II. PORTLAND BUILDING

A. Data Umum Bangunan

Nama Bangunan : Portland Building

Lokasi Bangunan : Downtown Portland, Portland City, USA Arsitek Perancang : Michael Graves

Fungsi Bangunan : Gedung Pelayanan Pemerintahan

Gambar II.1. Portland Building Perspektif (Sumber : archdaily.com)

Gedung yang dibangun diatas lahan seluas 40.000 kaki persegi ini merupakan sebuah bangunan yang difungsikan untuk pelayanan pemerintahan. Dibangun pada awal tahun 1979, dimana pada masa itu bangunan bergaya post-modern menjadi idola maka Graves memberikan elemen-elemen post-mo pada bangunan ini. Desain bangunan ini sendiri merupakan hasil dari sebuah sayembara yang dimenangkan oleh Michael Graves, saat itu Graves memenangkan kompetisi ini karena menawarkan konsep bangunan yang tidak menggunakan kaca secara keseluruhan di bagian kulit kedua.

Bangunan ini sendiri menuai banyak kritik arsitektural dari mulai bentukan yang tidak sesuai fungsi hingga dianggap sebagai bangunan kuno

(12)

9 karena tidak sepenuhnya mengikuti gaya post-mo yang saat itu sedang tenar.

Menurut tren arsitektur pada masa itu, bentuk bangunan ini lebih cenderung cocok dijadikan Hotel atau tempat rekreasi daripada sebuah gedung pemerintahan. Hal ini tak langsung menjatuhkan Graves, dengan ambisi yang tidak mau dikurangi ia terus mendesain bangunan ini dan pada akhirnya bangunan ini selesai dibangun.

Gambar II.2. Portland Building Perspektif (Sumber : archdaily.com)

Namun Pada akhirnya Portland Building diakui sebagai penggerak gaya bangunan baru untuk tren post-modern. Hal ini dilihat dengan dibangunnya beberapa bangunan yang mengadopsi gaya vertikal tanpa banyak menggunakan elemen hiasan . Meskipun bagi beberapa pengamat bangunan ini sebagai bentuk kesalahan atas penafsiran gaya bangunan post-modern, namun Graves tetap meyakini bahwa gaya yang ia sematkan ini akan mampu menjadi tren daripada hanya sekedar membentuk kaca melingkar pada fasade bangunan. Untuk menegaskan bahwa Portland di Desain dengan sesungguh hatinya Graves meninggalkan pesan untuk kritikus yang terus menghantamnya yaitu “Saya berpikir, Kenapa mereka begitu Marah? Gaya Modern telah memberikan kita pilihan antara vertikal atau horizontal, abu-abu atau hitam. Ayolah rasional.”

(13)

10 B. Konsep Bangunan

Gambar II.3. Sketsa Ide Awal Bentukan Portland Building (Sumber : archdaily.com)

Graves mendesain gedung ini pada sebuah sayembara, oleh karena itu ia berpikir bukan hanya mengenai ketertarikan yang ia punya namun ia juga harus berpikir mengenai kondisi pasar dan perekonomian karena Graves mengetahui bahwa bangunan ini pasti dan harus dibangun. Oleh sebab itu paling utama Graves menjauhi penggunaan kaca berlebihan dimana pada masa itu konsep tersebut sedang diagungkan, karena ia tahu bahwa harga material kaca cukup mahal sehingga dapat menimbulkan masalah anggaran nantinya.

Gambar II.4. Sketsa Fasade Portland Building (Sumber : greatbuildings.com)

(14)

11 Inti dari perancangan yang dikerjakan oleh Graves ini adalah nyata dan mungkin untuk dikerjakan. Oleh karena itu graves tidak memberikan bentukan-bentukan yang sulit seperti banyak bangunan artdeco yang juga menjadi primadona gaya arsitektur pada masa itu. Namun jikalau ia hanya mendistribusikan bentuk kotak secara vertikal saja pasti ia akan menjadi bahan lelucon nantinya, oleh karena itu Graves memberikan aksen tekstur pada setiap tampak bangunan yaitu list Panel yang memiliki warna cerah.

Gambar II.5. Sketsa Tampak Depan Portland Building (Sumber : greatbuildings.com)

Graves menginginkan bangunan ini menjadi sebuah gaya tren arsitektur baru, maka saat ditanya apakah bangunan ini bergaya post-mo atau artdeco ia menjawab bahwa ini bergaya Neo-Viennase yaitu sebuah gaya baru yang mengadopsi gaya eropa kuno khususnya gaya austria dengan gaya modern yang lebih mengedepankan simplycity.

Ia sendiri juga mengungkapkan bahwa konsep yang akan dibawakannya pada bangunan ini bukanlah sebuah konsep yang menawarkan kehidupan masa depan, melainkan sebuah konsep yang menghidupkan tradisi terdahulu dalam relevansi kehidupan saat ini. Dan saat ia memenangkan sayembara desain gedung ini, salah satu juri yang juga merupakan walikota Portland berkata bahwa Graves telah membawa konsep baru untuk arsitektur yaitu konsep Portland.

(15)

12 Gambar II.6. Denah Lantai Dasar Portland Building

(Sumber : greatbuildings.com)

Gambar II.7. Potongan Portland Building (Sumber : greatbuildings.com)

Gambar II.8. Site Portland Building (Sumber : greatbuildings.com)

(16)

13 C. Biografi Arsitek

Gambar II.9. Michael Graves “The Contemporary Architects”

(Sumber : en.wikipedia.org)

Michael Graves adalah seorang arsitek amerika yang dikenal dengan sebutan The New York Five, lahir di Indianapolis pada tahun1934 ia kemudian hijrah ke Ohio untuk menempuh pendidikan sarjana arsitektur di University of Cincinnati. Menjadi ikon Arsitek Kontemporer membawa graves mendapatkan banyak proyek yang menginginkan gaya kontemporer pada bangunan tersebut.

Namun pada era awal tahun 70an Graves dikenal sebagai arsitek yang masih sering menggunakan gaya Modern ada beberapa desainnya seperti Snyderman House di Fort Wayne Indiana. Hal ini pasti sangat berbeda dengan desain-desainnya yang terbaru, karena pada desain desain tersebut Graves menyatakan menolak bentukan Modern dan akan mengembangkan gaya psot-modern kearah yang lebih baik lagi.

Puluhan tahun Graves berkarir melalui kantornya di Princenton, New Jersey, Amerika Serikat dengan nama praktik Michael Graves &

Associates. Begitu lelah Graves menghabiskan karirnya sehingga ia harus mengalami kelumpuhan pada kakinya sejak tahun 2003, namun ini tidak menyulutkan semangat graves untuk tetap mendesain. Walaupun mengalami kelumpuhan Graves tetap bekerja sebagai arsitek hingga akhir hayatnya yaitu saat ia berpulang pada tanggal 12 Maret 2015.

(17)

14 DAFTAR PUSTAKA

http://www.carlofelicegenova.it/index.php/auditorium_ita_CPT10.html Diakses pada tanggal 18 Juni 2016 Pukul 01.10

https://en.wikipedia.org/wiki/Aldo_Rossi Diakses pada tanggal 18 juni 2016 Pukul 01.35

http://www.dezeen.com/2015/07/30/san-cataldo-cemetery-modena-italy-aldo- rossi-postmodernism/

diakses pada tanggal 18 juni 2016 Pukul 01.45

http://www.archdaily.com/407522/ad-classics-the-portland-building-michael- graves

diakses pada tanggal 18 Juni 2016 Pukul 02.20

http://www.architectural-review.com/archive/viewpoints/1983-november- michael-graves-portland-building/8657727.fullarticle

diakses pada tanggal 18 Juni Pukul 02.50

https://en.wikipedia.org/wiki/Michael_Graves diakses pada tanggal 18 juni Pukul 03.15

Referensi

Dokumen terkait

Mengetahui gaya arsitektur pada bangunan ruko (Rumah Toko) di Citra Land Bagya City dan mengetahui pengaruh prinsip International Style pada bangunan ruko

Permasalahan lingkungan sekitar lokasi site yang beriklim tropis dapat ditanggulangi dengan penerapan gaya arsitektur tropis pada desain bangunan dan landscapenya sehingga resort bisa