Insinyur itu sendiri tidak dapat menyangkal bahwa Al-Quran adalah kitab suci pertama yang mengangkat status perempuan sedemikian rupa, di saat perempuan dianiaya oleh peradaban besar seperti Byzantium dan Sassanid. Jadi hak-hak perempuan berada di bawah hak laki-laki. Misalnya, Insinyur merasa perlu melakukan penafsiran ulang terhadap Al-Quran agar nilai-nilai kesetaraan dan keadilan yang menjadi prinsip dasar Al-Quran dapat diutamakan dibandingkan hal-hal yang bersifat hukum-formal. Contoh prinsip ini adalah ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang kesetaraan, persamaan dan keadilan.
Aspek kontekstual dalam Al-Qur’an berkaitan dengan ayat-ayat yang diturunkan dalam menyikapi permasalahan sosial tertentu pada masa itu. Dari sudut pandang normatif, jelas bahwa Al-Qur'an mendukung prinsip kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Namun jika dilihat dari konteksnya, Al-Qur'an terkadang menempatkan laki-laki satu tingkat di atas perempuan.
Hal ini mungkin terjadi karena Al-Qur'an menggunakan bahasa simbolik atau metaforis yang mempunyai makna ambigu. Insinyur dalam hal ini mengajak untuk menafsirkan bahasa simbolik dalam Al-Quran dari sudut pandang situasi sejarah dan pengalaman orang yang ingin menafsirkan Al-Quran itu sendiri. Dengan adanya pembedaan tersebut maka masyarakat akan dapat membedakan antara nilai-nilai dasar yang menjadi ruh dasar Al-Qur’an dengan nilai-nilai kontekstual yang dibatasi oleh ruang dan waktu, sehingga tidak dapat diterapkan secara universal.7.
Mendialektisasi fenomena sosial dengan Al-Qur'an, Asghar memfokuskan perhatiannya pada ketidakadilan yang berkembang di masyarakat.
Konsep Teologi Pembebasan Asghar Ali Engineer
Seperti yang telah disebutkan, ia sangat tidak berkuasa di dunia Arab khususnya dan di seluruh dunia amnya. Namun, Rasulullah SAW dengan ketetapan Q.S. Wanita yang diceraikan hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'22. Mereka tidak dapat menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Jika demikian, dia yang diceraikan suaminya dalam keadaan bergaul dengannya dan dalam masa yang sama masih belum putus haid, tidak boleh berkahwin dengan lelaki lain selepas diceraikan, kecuali selepas tiga kali haid.
Berbeda dengan mazhab Malik dan Syafi’i yang mengartikan tiga waktu suci. Yang dimaksud suci adalah masa antara dua masa. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Harmoni Al-Qur'an, Jakarta: Lentera Hati, 2002, vol. 23 Derajat yang dimaksud adalah derajat kepemimpinan, namun kepemimpinan didasarkan pada keterbukaan suami untuk meringankan sebagiannya.
2 No.2 Juli – Desember 2020 Ketika diturunkannya Al-Qur'an untuk pertama kalinya keberadaan individu perempuan sebagai makhluk hidup diterima tanpa syarat apapun, Perempuan boleh menikah, boleh menceraikan suaminya tanpa syarat yang membeda-bedakan, dapat mewarisi harta milik ayah, ibu, dan saudara kandungnya yang lain, dapat memiliki harta milik sendiri dengan penuh hak, dapat mengasuh anak-anaknya hingga dewasa.24 Di Eropa, perempuan tidak mempunyai hak untuk memiliki harta benda sampai akhir masa pemerintahan. Abad ke-19, padahal di AS perempuan baru mempunyai hak pilih sekitar tahun 1920. Kalau perempuan dikatakan menderita karena suaminya bisa menikahi lebih dari satu perempuan, itu hanya stigma belaka. Tidak dapat dipungkiri bahwa stigma ini justru menurunkan status perempuan yang sebenarnya setara dengan laki-laki, namun laki-laki Arab mempunyai kebiasaan menikahi banyak istri dan Islam membatasinya hanya empat. Mengenai hak, peran dan kedudukan perempuan, Asghar Ali berpegang pada surat al-Ahzab ayat 35 sebagaimana disebutkan di atas, menyatakan bahwa ayat ini berulang kali menyatakan bahwa perempuan mempunyai peluang.
Meskipun secara normatif Al-Qur'an mendukung persamaan kedudukan antara laki-laki dan perempuan, namun dalam konteks Al-Qur'an disebutkan bahwa ada kelebihan-kelebihan tertentu antara laki-laki dibandingkan perempuan. Menurut Asghar Ali Engineer, kelebihan dan kekurangan laki-laki dibandingkan perempuan bukan karena gender, melainkan karena konteks sosial. Insinyur Asghar Ali mengkritik keras metode para penafsir yang memahami ayat-ayat tersebut hanya secara teologis murni dan mengabaikan pendekatan sosiologis.
Namun, Al-Qur'an berbicara tentang laki-laki yang memiliki kelebihan dan superioritas sosial dibandingkan perempuan. 2 No. 2 Juli – Desember 2020 secara tepat mengakui kesetaraan laki-laki dan perempuan. Orang tidak bisa hanya mengambil pandangan teologis mengenai hal-hal seperti ini. Masyarakat harus mengadopsi visi teologis sosial. Bahkan Al-Qur'an terdiri dari ajaran kontekstual dan normatif. Kedua, menafsirkan kembali ayat-ayat Al-Qur'an, hal ini dilakukan dengan menguasai bahasa Al-Qur'an dan bukan menjadikan teks tersebut sebagai teks hujjah.28 Namun dengan menempatkannya pada konteks yang benar.
Asghar Ali Engineer dan Wacana Ketidaksetaraan Gender a. Konsep Pewarisan
Mengenai persoalan kesaksian, Insinyur Asghar Ali menyampaikan bahwa hal ini merupakan persoalan yang diperdebatkan dalam teologi Islam, khususnya yang tertuang dalam Q.S. 2 tidak. 2 Juli - Desember 2020 282. Fuqaha membahas aturan umum bahwa satu saksi laki-laki sama nilainya dengan dua saksi perempuan. Karena laki-laki mempunyai pengalaman yang cukup, maka pengingat seperti itu tidak diperlukan lagi bagi mereka.
Jika melihat konteks sosial, maka ayat tentang poligami bukanlah suatu kebolehan umum bagi laki-laki untuk menikah lebih dari satu, namun hanya diperbolehkan untuk menjamin keadilan bagi anak yatim atau perempuan (janda). Meskipun Insinyur Asghar Ali mengakui bahwa Al-Qur'an secara eksplisit mengakui kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, namun Asghar juga tidak menampik superioritas laki-laki atas perempuan dalam beberapa persoalan normatif.36. Hal ini ditegaskan pada baris ke-71 surat at-Taubah yang menyatakan bahwa di mata Allah, perempuan dan laki-laki mempunyai kedudukan yang setara.
Asghar Ali Engineer menyatakan bahawa wanita bukan sahaja berhak mendapat pendapatan tetapi juga apa. Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita kerana Allah telah melebihkan sebahagian mereka (lelaki) atas sebahagian yang lain (wanita) dan kerana mereka (lelaki) telah menggunakan sebahagian dari harta mereka. Oleh itu, wanita yang bertaqwa ialah mereka yang taat kepada Allah dan menerima memelihara diri ketika suaminya tiada kerana Allah telah memelihara (mereka). 2 No. 2 Julai - Disember 2020 memerlukan, perhatian, pemeliharaan, pertahanan dan pembinaan.37 Demikian pula Hamka memberi pengertian Qawwam dengan pemimpin, kerana lelaki yang memimpin wanita, bukan wanita yang memimpin lelaki, dan kedudukannya tidak sama .38.
Nabi dengan jelas memahami bahwa penolakan mereka terhadap nasehatnya dipengaruhi oleh struktur sosial yang didominasi laki-laki. Menurut Engineer, superioritas yang diberikan kepada laki-laki sebenarnya tidak melambangkan kelemahan gender perempuan, namun menunjukkan laki-laki sebagai pencari nafkah.40 Melihat kondisi sosial pada saat itu, dalam masyarakat Arab, perempuan tidak diharapkan atau diwajibkan untuk mendapatkan penghasilan. hidup dan mengurus keluarga. Karena laki-laki wajib menjaga kelangsungan keluarga, maka mereka juga mempunyai satu derajat superioritas atas perempuan.
Sedangkan Insinyur Asghar Ali sendiri memahami kavam sebagai kewajiban laki-laki untuk menjaga perempuan.41 Selain itu juga dibicarakan kata qanit dan nusyuz, kata qanit diartikan ketaatan laki-laki kepada Tuhan dan kepada manusia, sedangkan nusyuz berarti berjuang. . terhadap laki-laki dengan niat berdosa. Selain itu, Insinyur Asghar Ali mengutip pendapat Parvez (komentator dari Pakistan), bahwa makna nusyuz harus dipahami baik bagi perempuan maupun laki-laki. 2 No. 2 Juli - Desember 2020 Merupakan pandangan non-Quran menurut Asghar Ali Engineer yang membatasi perempuan dalam urusan rumah tangga. Secara umum Al-Qur’an pada hakikatnya mengakui kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam kehidupan berkeluarga, sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Baqarah ayat 23 yang berbunyi “Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya, dan seorang ayah karena anaknya. "43.
Pada akhirnya, Asghar berpendapat bahwa meskipun Al-Qur'an mengagungkan perempuan setara dengan laki-laki, namun semangat tersebut diredam oleh patriarki yang sudah mendarah daging dalam kehidupan berbagai masyarakat, termasuk umat Islam. Dengan persamaan status antara dua jenis kelamin, Al-Qur'an secara kontekstual mengakui superioritas laki-laki dalam bidang tertentu dibandingkan perempuan. Oleh karena itu, penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an sangat bergantung pada sudut pandang dan posisi apriori yang diambil penafsir.
Kesimpulan
2 No. 2 Juli – Desember 2020 tergantung pada persepsi, pandangan dunia, pengalaman dan latar belakang sosial budaya dimana mufasiri hidup dan makna ayat-ayat Al-Qur’an meluas seiring berjalannya waktu. Dari pemaparan pemikiran Asghar serta contoh penafsirannya, terlihat ia berupaya melakukan penafsiran ulang terhadap Al-Qur'an dengan mengontekstualisasikan teologi dalam wacana kontemporer yang cenderung bernuansa induktif-historis. Hubungan laki-laki dan perempuan dalam Islam lebih bersifat saling melengkapi dan tidak dominan, baik bagi laki-laki maupun perempuan.
Efendi, Djohan, “Memikirkan Kembali Asumsi Berpikir Kita”, lihat di bawah Insinyur Asghar Ali, Islam. Ibnu 'Ashur, Muhammad al-Tahir, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, t.t.: Dar al-Tunisiyyah li al-Nashr, t.th.