Journal homepage: https://jtresda.ub.ac.id/
*Penulis korespendensi: [email protected]
Analisis Sistem Drainase Jalan Raya Porong Berbasis Zero Run-Off Di Kabupaten
Sidoarjo
Aulia Sultonulazkar1*, Ussy Andawayanti1, Sumiadi1
1 Departemen Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya, Jalan MT. Haryono No. 167, Malang, 65145, INDONESIA
*Korespondensi Email: [email protected]
Abstract: Floods occur annually at the Sidoarjo Mud Area and the surroundings, especially at the Porong Highway, Sidoarjo Regency, East Java. The mudflow could cause several problems on the drainage system.
Therefore, the inundation needs to be handled with an alternative drainage system which is environmentally friendly, such as Zero Run-Off. The analysis of hydrological data was performed at the Porong Rain Station to identify the discharge design of the drainage channel. From the results of hydrological analysis using a 5-year return period at the West Ketapang Drainage Subsystem design, it was shown that the lowest value of the flood discharge was 0.527 m3/s and the largest value was 3.199 m3/s. The results of the evaluation showed that 6 of the 9 existing channels required an inundation. The selected interventions were to build the infiltration channels, channel rehabilitation and rehabilitation of pump. The inundation discharge was reduced by 33.15% after conducting the intervention.
Therefore, further intervention such as channel rehabilitation and pump system rehabilitation was maintained until the total inundation discharge was reduced by 100%. Furthermore, the total cost budget plan for each project was IDR 13,018,111,886.
Keywords: Floods, Infiltration Channels, Road Drainage, Zero Run-Off.
Abstrak: Kawasan Lumpur Sidoarjo kerap terjadi banjir tahunan pada daerah sekitarnya, khususnya Jalan Raya Porong, Kabupaten Sidoarjo.
Semburan lumpur yang masih terjadi menyebabkan permasalahan pada sistem drainase, sehingga genangan perlu ditangani dengan alternatif drainase berwawasan lingkungan berbasis Zero Run-Off. Data Stasiun Hujan Porong digunakan untuk pengolahan data hidrologi guna mengetahui debit rancangan pada saluran drainase. Dari hasil analisa hidrologi memakai kala ulang 5 tahun, didapatkan nilai debit banjir rancangan Subsistem Drainase Ketapang Barat dengan nilai terkecil 0,527 m3/dt dan terbesar 3,199 m3/dt. Hasil evaluasi didapatkan 6 dari 9 saluran
41 yang ada perlu dilakukan penanganan genangan. Upaya penanganan yang dipilih yaitu dengan membuat saluran resapan, rehabilitasi saluran dan rehabilitasi sistem pompa kolam detensi. Setelah dilakukan upaya penanganan dengan alternatif saluran resapan, debit genangan yang tereduksi sebesar 33,15%. Maka dari itu dilanjutkan penanganan lanjutan dengan rehabilitasi saluran dan rehabilitasi sistem pompa, total debit genangan yang tereduksi 100%. Selanjutnya dilakukan perhitungan rencana anggaran biaya total pada masing – masing pengerjaan, didapatkan total anggaran sebesar Rp. 13.018.111.886.
Kata kunci: Banjir, Drainase Jalan, Saluran Resapan, Zero Run-Off.
1. Pendahuluan
Drainase merupakan salah satu komponen terpenting dalam suatu perencanaan infrastruktur bagi suatu wilayah. Permasalahan genangan yang terjadi didaerah perkotaan mengekspersikan tidak terakomodirnya dengan baik kapasitas saluran drainase dan ketersediaan daerah resapan [1]. Genangan menjadi permasalahan tahunan yang kerap terjadi saat musim hujan tiba pada daerah perkotaan. Demikian halnya dengan kondisi Daerah Lumpur Sidoarjo, tepatnya pada Jalan Raya Porong. Genangan yang terjadi pada Jalan Raya Porong dianggap sangat mengganggu aktivitas dikarenakan jalan raya nasional dan rel kereta api jadi tergenang.
Semburan lumpur yang terjadi pada tanggal 29 Mei 2006 sampai saat ini masih menunjukkan fluktuatif semburan yang besar, sedang maupun kecil. Walaupun fluktuatif semburan relatif tidak besar, namun luapan lumpurnya berpotensi untuk menimbulkan dampak – dampak buruk. Dampak kawasan Lumpur Sidoarjo yang dirasakan saat ini adalah saluran drainase yang ada pada daerah tersebut mengalami pendangkalan sehingga kapasitasnya tidak dapat menampung kelebihan air. Faktor utama yang menyebabkan rusaknya saluran drainase tersebut adalah permasalahan deformasi geologi berupa penurunan muka tanah (land subsidence), pengangkatan (uplift), retakan (crack), dan pergerakan tanah lateral (lateral movement). Selain itu, dampak lain yang timbul adalah pencemaran air tanah pada sekitar lokasi Lumpur Sidoarjo. Setiap musim penghujan bisa dipastikan akan terjadi genangan di Desa Ketapang, Desa Siring, dan Desa Gempolsari.
Namun permasalahan utama terjadi pada Jalan Raya Porong dikarenakan genangan sangat menghambat mobilitas dari masyarakat yang menggunakan akses jalan dan juga Rel kereta api yang berada di sebelah barat tanggul lumpur tersebut. Tinggi genangan yang terjadi berkisar antara 50 – 100 cm, dan lama genangan terjadi selama ± 3 hari. Besarnya genangan yang terjadi belum mampu ditangani secara optimal dengan sistem drainase konvensional yang sudah ada. Beberapa tahun terakhir sudah banyak digagas konsep drainase yang ramah lingkungan, seperti konsep konservasi air [2]. Sehingga perlu adanya penanganan dengan cara meresapkan atau menampung sementara genangan sebelum dibuang ke badan sungai yang merupakan konsep dari sistem drainase berwawasan lingkungan [3][4].
Berdasarkan permasalahan di atas, perlu adanya perbaikan pada saluran drainase untuk mengatasi genangan yang terjadi. Perlu dilakukan evaluasi kapasitas saluran drainase agar didapatkan solusi yang tepat untuk menangani genangan tersebut. Studi ini bertujuan untuk mengetahui besar debit banjir rancangan pada lokasi studi, mengetahui kondisi saluran
42
drainase eksisting, kemudian merencanakan upaya penanganan genangan dengan alternatif drainase berwawasan lingkungan berbasis zero run-off, serta menghitung rencana anggaran biaya pada upaya penanganan yang dilakukan. Adanya Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014/ Tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan (mengharuskan perencanaan drainase berbasis ramah lingkungan), maka dari itu perlu dipertahankan kesetimbangan proses pengambilan dan pengisian air hujan (presipitasi dan infiltrasi) dengan meresapkan kelebihan air ke dalam pori-pori/rongga tanah, serta dilakukan upaya konservasi air [4].
2. Bahan dan Metode 2.1 Bahan
Lokasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pada Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, tepatnya pada Jalan Raya Porong. Kabupaten Sidoarjo secara geografis terletak pada 112,5° - 112,9° Bujur Timur dan 7,3° - 7,5° Lintang Selatan. Kabupaten Sidoarjo dengan luas wilayahnya 714,24 km2 terbagi atas 18 kecamatan, 353 desa dan 31 kelurahan.
Kabupaten Sidoarjo berbatasan dengan Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik di sebelah utara, Selat Madura di sebelah timur, Kabupaten Pasuruan di sebelah selatan, dan Kabupaten Mojokerto di sebelah barat [5]. Berikut ditunjukkan peta lokasi studi pada Gambar 1.
Gambar 1: Peta Administrasi Kabupaten Sidoarjo
Jaringan Subsistem Drainase Ketapang Barat pada studi mencakup Jalan Raya Porong, Desa Ketapang, Kecamatan Tanggulangin dengan luas Daerah Tangkapan Air (DTA) sebesar 261 ha. Terdapat total 9 saluran drainase, 7 saluran drainase sekunder dan 2 saluran drainase tersier. Persebaran lokasi saluran ditunjukkan pada Gambar 2. dan skema jaringan ditunjukkan pada Gambar 3. Berikut:
43 Gambar 2. Peta Jaringan Sistem Drainase Eksisting Subsistem Drainase Ketapang Barat
Gambar 3. Skema Jaringan Sistem Drainase Eksisting Subsistem Drainase Ketapang Barat Data yang dibutuhkan untuk penyelesaian penelitian ini menggunakan data sekunder.
Data – data yang digunakan sebagai berikut:
1. Data curah hujan harian tahunan di Stasiun Hujan Porong tahun 2010 – 2019 untuk analisa debit banjir rancangan.
2. Peta DTA Subsistem Drainase Ketapang Barat yang akan diolah menggunakan Software ArcGIS.
3. Data peta tata guna lahan untuk menganalisa koefisien limpasan tata guna lahan yang akan diolah menggunakan Software ArcGIS.
44
4. Peta topografi yang akan diolah menggunakan Software ArcGIS dengan pembangkitan data topografi dari data DEMNAS.
5. Peta karakteristik banjir untuk mengetahui historis genangan banjir untuk analisa genangan historis dalam memprediksi kala ulang.
6. Peta jaringan Subsistem Drainase Ketapang Barat.
7. Data dimensi saluran untuk memperoleh kapasitas saluran eksisting.
2.2 Metode
Analisa pada penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahapan agar didapatkan pengerjaan dan hasil yang tepat. Tahapan yang dilakukan dalam studi ini yaitu sebagai berikut:
1. Pengumpulan data – data sekunder yang dibutuhkan.
2. Penentuan lokasi pos hujan yang digunakan dengan bantuan Software ArcGIS untuk kebutuhan analisa hidtologi.
3. Analisa Hidrologi berupa:
a. Uji konsistensi Data dengan Metode RAPS.
b. Uji Kualitas Data yang meliputi, Uji Stasioner, Uji Persistensi, dan Uji Outliers.
c. Analisa frekuensi menggunakan distribusi metode Log Pearson III dan Uji Kesesuaian Distribusi dengan metode Chi Square dan Smirnov Kolmogorov.
4. Menghitung debit rancangan menggunakan Metode Rasional.
5. Menghitung debit total untuk mengetahui kapasitas rencana saluran.
6. Analisa hidrolika untuk menghitung kapasitas saluran drainase eksisting menggunakan persamaan kontinuitas dengan nilai v menggunakan pendekatan Manning.
7. Evaluasi kapasitas saluran drainase dengan membandingkan debit total dengan debit pada saluran eksisting.
8. Menentukan solusi penanganan genangan berwawasan lingkungan berdasarkan hasil analisis kesesuaian di lapangan dengan mempertimbangkan faktor teknis pada lokasi penelitian.
3. Hasil dan Pembahasan 3.1 Analisa Kualitas Data
Analisa kualitas data bertujuan untuk mengetahui kualitas data hidrologi secara statistik. Pada proses pengambilan data di lapangan sering ditemui berbagai gangguan, baik dari faktor lingkungan ataupun faktor alat pengambilan data, yang mempengaruhi kualitas data yang diambil. Maka dari itu perlu dilakukan pengujian kualitas data untuk mengetahui kualitas data yang baik, sehingga dapat digunakan untuk analisis hidrologi lanjutan.
Analisa kualitas data yang dilakukan untuk pengujian kualitas data pada penelitian ini ada tiga, yaitu uji konsistensi, uji stasioner, dan uji persistensi. Uji konsistensi dilakukan untuk mengetahui apakah ada perbedaan kondisi saat pengambilan data, dilihat dari faktor perubahan lingkungan dan faktor alat. Metode yang digunakan untuk uji konsistensi yaitu metode RAPS (Rescaled Adjusted Partial Sums) [6][7]. Uji stasioner dilakukan untuk menguji kestabilan varian dan rata – rata. Untuk menguji kestabilan varian dilakukan dengan menggunakan Uji F, sedangkan untuk menguji kestabilan rata – rata dilakukan
45 dengan menggunakan Uji T [8]. Uji persistensi dilakukan untuk mengetahui apakah data yang ada tidak memiliki ketergantungan dalam nilai deret berkala. Untuk perhitungan, perlu dilakukan terhadap besarnya koefisien korelasi serial menggunakan Metode Spearman [8].
Tabel 1: Hasil Analisa Kualitas Data Hujan
No. Jenis Data Uji Konsistensi Uji-F Uji-T Uji Persistensi
1 CH Harian Maks. Tahunan Sta.
Porong 2010 - 2019 Konsisten Nilai varian stabil
Nilai rerata
stabil Independen
Berdasarkan Tabel 1, data pada stasiun hujan yang digunakan pada penelitian ini memiliki kualitas data yang baik, sehingga bisa dilanjutkan untuk analisa berikutnya.
3.2 Hujan Rancangan 3.2.1 Analisa Frekuensi
Analisa frekuensi digunakan untuk menentukan besarnya hujan rancangan pada kala ulang tertentu [9]. Pada penelitian ini, dilakukan analisa frekuensi menggunakan distribusi Log Pearson III. Hasil perhitungan curah hujan rancangan dengan periode kala ulang disajikan pada Tabel 2:
Tabel 2: Curah Hujan Rancangan dengan Periode Kala Ulang Metode Log Pearson III Kala Ulang
(Tahun) Pr (%) K K . Sd Log X R rancangan
Mm
2 50 0,021 0,002 1,937 86,504
5 20 0,84 0,076 2,011 102,58
10 10 1,267 0,115 2,05 112,117
25 4 1,739 0,157 2,092 123,701
50 2 1,985 0,18 2,115 130,207
3.2.2 Uji Kesesuaian Distribusi
Distribusi yang dipilih pada analisa frekuensi belum tentu sesuai dengan data hidrologi untuk merencanakan hujan rancangan. Karena itu, perlu dilakukan uji kesesuaian distribusi. Metode yang digunakan yaitu Uji Chi Square dan Uji Smirnov Kolmogorov.
Hasil uji kesesuaian distribusi dengan kedua metode disajikan pada Tabel 3:
Tabel 3: Uji Kesesuaian Distribusi dengan Metode Chi Square dan Smirnov Kolmogorov
No, Metode ɑ X2cr X2hitung Keterangan
1 Chi Square 5% 3,841 0,4 Distribusi Sesuai
Metode ɑ Δcr Δmaks Keterangan
2 Smirnov
Kolmogorov 5% 0,409 0,081 Distribusi Sesuai
46
3.3 Intensitas Hujan Rancangan
Intensitas hujan merupakan tinggi air hujan per satuan waktu. Untuk mendapatkan nilai intensitas hujan pada penelitian ini, digunakan Metode Mononobe dengan distribusi sepanjang 6 jam. Untuk durasi hujan (T) yang digunakan yaitu durasi hujan rata – rata yang terjadi di Indonesia yaitu 6 jam [10]. Nilai intensitas hujan berdasarkan kala ulangnya disajikan pada Tabel 4:
Tabel 4: Nilai Intensitas Hujan Pada Beberapa Kala Ulang Kala Ulang (Tahun) Curah Hujan Rancangan Intensitas Hujan
(mm) (mm/jam)
2 1,937 86,504
5 2,011 102,58
10 2,05 112,117
25 2,092 123,701
50 2,115 130,207
3.4 Penentuan Kala Ulang
Kala ulang dalam perencanaan debit rancangan pada saluran drainase dapat ditentukan berlandaskan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014 Tentang penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan. Pemilihan tahun desain kala ulang didasarkan pada luas Daerah Tangkapan Air (DTA) dan tipologi kota wilayah studi.
Berdasarkan hasil DTA yang didapatkan dengan luas sebesar 261 ha, serta wilayah Kabupaten Sidoarjo termasuk dalam Kota Metropolitan, maka kala ulang yang digunakan adalah 5 tahun. Berikut untuk ketentuan penentuan kala ulang berdasarkan luas Daerah Tangkapan Air disajikan pada Tabel 5:
Tabel 5: Penentuan Kala Berdasarkan Tipologi Kota dan Luas DTA Tipologi Kota Daerah Tangkapan Air (Ha)
<10 10 - 100 101 - 500 >500 Kota Metropolitan 2 Th 2 - 5 Th 5 - 10 Th 10 - 25 Th
Kota Besar 2 Th 2 - 5 Th 2 - 5 Th 5 - 20 Th
Kota Sedang 2 Th 2 - 5 Th 2 - 5 Th 5 - 10 Th
Kota Kecil 2 Th 2 Th 2 Th 2 - 5 Th
3.5 Debit Rencana Saluran
Debit rencana saluran merupakan total limpasan air yang akan dibuang melalui saluran drainase. Untuk menghitung debit air hujan atau debit rancangan, akan digunakan Metode Rasional. Metode ini digunakan pada daerah perkotaan dengan luas pengalirannya kurang dari 300 Ha [10]. Untuk perhitungan metode rasional, diperlukan parameter berupa waktu konsentrasi (Tc), intensitas hujan (I), koefisien limpasan (C), dan luas daerah pengaliran (A).
3.6 Debit Saluran Drainase Eksisting
Saluran drainase eksisting merupakan saluran drainase yang sudah terpasang pada lokasi penelitian, yang nantinya debit saluran eksisting akan dievaluasi dengan debit banjir rancangan terbaru.
47 3.7 Evaluasi Kapasitas Saluran Drainase
Setelah mendapatkan besaran debit saluran eksisting dan debit rencana, dilakukan evaluasi kapasitas saluran dengan membandingkan besar kedua jenis debit tersebut. Hasil evaluasi kapasitas saluran disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6: Hasil Evaluasi Kapasitas Saluran Drainase
No. Nama Saluran
Q Rancangan
Q eksisting
Q
genangan Keterangan m3/dt m3/dt m3/dt
Subsistem Drainase Ketapang Barat
1 Saluran Raya Porong 1 0,803 0,068 1,43 Meluap
2 Saluran Wr. Supratman 1 0,189 1,549 - Aman
3 Saluran Bringin Asri 1 0,391 0,322 0,421 Meluap
4 Saluran Flamboyan 1 0,151 1,75 - Aman
5 Saluran Tol Gempol 1 0,662 0,476 2,001 Meluap
6 Saluran Tol Gempol 2 0,266 5,217 - Aman
7 Saluran Desa Ketapang 1 0,159 0,034 0,493 Meluap 8 Saluran Langgar Wakaf 1 0,592 0,512 2,687 Meluap 9 Saluran Raya Porong 2 0,403 0,072 1,094 Meluap
Berdasarkan hasil evaluasi, terdapat 3 saluran yang kapasitasnya masih mencukupi untuk menampung debit rancangan saluran, sehingga tidak perlu diadakan rehabilitasi/perbaikan. Untuk 6 saluran yang kapasitas eksistingnya tidak mencukupi, perlu diadakan rehabilitasi/perbaikan. Perbaikan saluran dapat diarahkan pada penerapan saluran drainase berwawasan lingkungan supaya air yang dilimpaskan tidak hanya langsung dibuang ke badan sungai, melainkan dapat ditampugnatau diresapkan ke dalam tanah terlebih dahulu.
3.8 Penanganan Genangan Berwawasan Lingkungan
Upaya penanganan yang dipilih pada penelitian ini berupa rehabilitasi saluran (pelebaran dan pendalaman saluran) beserta penambahan lubang resapan, dan rehabilitasi pompa eksisting untuk mengoptimalkan kapasitas tampungan kolam detensi yang ada.
Pemilihan upaya penanganan genangan di setiap saluran disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7: Pemilihan Upaya Penanganan Genangan
No. Nama Saluran Q genangan
Upaya Penanganan Rehabilitasi
Saluran dan Lubang Resapan
Rehabilitasi Pompa m3/dt
Subsistem Drainase Ketapang Barat
1 Saluran Raya Porong 1 1,430 ✓
2 Saluran Bringin Asri 1 0,421 ✓
3 Saluran Tol Gempol 1 2,001 ✓
4 Saluran Desa Ketapang 1 0,493 ✓
5 Saluran Langgar Wakaf 1 2,687 ✓
6 Saluran Raya Porong 2 1,094 ✓
48
3.8.1 Perencanaan Lubang Resapan
Lubang resapan merupakan pori di dalam tanah yang berbentuk lubang silinder vertikal, yang dibuat di tanah dengan permukaan air tanah dangkal, tidak sampai permukaan air tanah. Struktur lubang resapan biasanya berupa pipa pvc atau buis beton dengan diameter 10 – 60 cm dengan beberapa lubang atau inlet air yang ditempatkan di dasar saluran. Lubang – lubang resapan ditempatkan dengan interval jarak 100 – 150 cm antara satu bidang lubang resapan dengan bidang lubang resapan lainnya [11]. Desain perencanaan lubang resapan ditunjukkan pada Gambar 4.
Gambar 4: Desain Rencana Lubang Resapan
Tahapan perencanaan lubang resapan dimulai dengan analisa tanah, untuk mendapatkan nilai koefisien permeabilitas tanah pada lokasi penelitian. Didapatkan nilai koefisien permeabilitas tanah sebesar k = 0,00464 cm/dtk, nilai tersebut menunjukkan bahwa level permeabilitas tanah pada lokasi penelitian berada pada level Medium Permeability. Lalu untuk selanjutnya menghitung jumlah lubang resapan yang dibutuhkan, dan mendapatkan nilai debit yang terserap ke dalam tanah. Hasil analisa lubang resapan akan disajikan pada tabel 8.
Tabel 8: Hasil Analisa Drainase dengan Lubang Resapan
No. Nama Saluran
Jumlah Lubang Resapan
Q Rancangan
Q Serap
Q
Limpasan % Reduksi Genangan (buah) (m3/dt) (m3/dt) (m3/dt)
Subsistem Drainase Ketapang Barat
1 Saluran Bringin Asri 1 1524 0,743 0,177 0,566 23,82%
2 Saluran Langgar Wakaf 1 207 3,199 0,024 3,175 0,75%
3 Saluran Raya Porong 2 602 1,166 0,100 1,066 8,58%
3.8.2 Rehabilitasi Saluran
Rehabilitasi saluran dilakukan dengan mengubah dimensi saluran agar bisa menampung dan mengalirkan debit rencana saluran. Pada penelitian ini, dilakukan rehabilitasi berupa pelebaran dan pendalaman saluran eksisting. Terdapat tiga (3) saluran yang akan dilakukan rehabilitasi. Berikut untuk hasil dari perencanaan dimensi rehabilitasi saluran disajikan pada tabel 9.
49 Tabel 9: Hasil Rehabilitasi Dimensi Saluran
No. Nama Saluran b B h w H
m m m m m m
Subsistem Drainase Ketapang Barat
1 Saluran Bringin Asri 1 0,95 0,95 1,40 0,50 1,90 0,00 2 Saluran Langgar Wakaf 1 0,90 0,90 1,10 0,60 1,70 0,00 3 Saluran Raya Porong 2 1,20 1,20 1,10 0,50 1,60 0,00
Gambar 5: Rehabilitasi Saluran Bringin Asri 1
Pada gambar 5 dapat dilihat perbandingan antara dimensi saluran Bringin Asri 1 eksisting dengan dimensi setelah direhabilitasi.
3.8.3 Rehabilitasi Pompa
Rehabilitasi pompa yang dilakukan yaitu melakukan pembaharuan unit pompa baru, agar mengoptimalkan kinerja sistem drainase dan Kolam Detensi Exit Toll eksisting.
Analisa pompa yang dilakukan yaitu perhitungan kapasitas pompa dan perhitungan daya pompa yang baru [12]. Pada tabel 10 berikut disajikan untuk hasil analisa kapasitas pompa Kolam Exit Toll yang baru.
Tabel 10: Analisa Kapasitas Pompa Kolam Exit Toll
Nama Kolam
Kapasitas Unit Pompa
Volume Drain
Lama Pemompaan
Tambahan Unit Mobile Pump
Lama Pemompaan
Debit (L/dt) Jumlah m3 Jam Buah Jam
Kolam Exit Toll 400 2 23.527 8,17 2 4,08
Dari hasil perhitungan kapasitas pompa dan perhitungan daya pompa yang baru, didapatkan spesifikasi pompa yang baru, dengan daya nominal motor penggerak 250 Kw, kapasitas pemompaan sebesar 400 liter/detik, dan unit yang disediakan berjumlah dua (2).
Untuk tipe pompa yang diambil adalah tipe pompa Submersible Pump. Dengan kapasitas pompa yang baru, diharapkan dapat membuang volume genangan yang ada di Jalan Raya Porong dengan total Volume Drain sebesar 23.527 m3.
50
3.8.4 Reduksi Genangan
Genangan dapat dikatakan berhasil ditangani apabila dapat tereduksi dengan baik.
Kemampuan solusi yang disarankan untuk mereduksi genangan dilihat dengan membandingkan antara debit genangan dan debit rencana dengan debit yang mampu dialirkan oleh saluran yang telah direhabilitasi dan dipompakan ke kolam detensi yang tersedia. Hasil perbandingan tersebut disajikan dalam tabel 11 dan dapat dilihat bahwa upaya penanganan yang disarankan dapat mereduksi genangan sebesar 100%.
Tabel 11: Hasil Reduksi Genangan
No. Nama Saluran
Q Rencana
Q Genangan
Upaya Penanganan
Persentase
Tereduksi Keterangan Rehabilitasi
Sal.
Rehabilitasi Pompa m3/dt m3/dt m3/dt l/dt Subsistem Drainase Ketapang Barat
1 Saluran Raya Porong 1 1,498 1,430 400 100% Mencukupi 2 Saluran Bringin Asri 1 0,743 0,566 0,909 100% Mencukupi
3 Saluran Tol Gempol 1 2,476 2,001 400 100% Mencukupi
4 Saluran Desa Ketapang 1 0,527 0,493 400 100% Mencukupi 5 Saluran Langgar Wakaf 1 3,199 3,175 3,904 100% Mencukupi 6 Saluran Raya Porong 2 1,166 1,066 1,338 100% Mencukupi
3.9 Perhitungan Rencana Anggaran Biaya
Perhitungan rancangan anggaran meliputi perhitungan kebutuhan volume bahan atau volume galian, dan perhitungan harga satuan bahan sesuai dengan standar perhitungannya, dan rekapitulasi total biaya kebutuhan. Perhitungan rencana anggaran biaya mengacu pada Analisa Harga Satuan Pekerjaan Kab. Sidoarjo Tahun 2019 Versi Permen PU. Perhitungan dilakukan pada masing – masing alternatif penanganan.
Tabel 12: Total Keseluruhan Rencana Anggaran Biaya Upaya Penanganan
NO JENIS PEKERJAAN TOTAL BIAYA PEKERJAAN
1 Pembuatan Lubang Resapan Rp 110.175.338 2 Rehabilitasi Saluran Rp 12.667.676.548 3 Pengadaan Pompa Baru Rp 240.260.000
TOTAL BIAYA KESELURUHAN Rp 13.018.111.886
Tabel 12 menunjukkan bahwa total anggaran biaya dari keseluruhan proyek upaya penanganan genangan, berdasarkan analisa yang dilakukan sebesar Tiga Belas Milyar Delapan Belas Juta Seratus Sebelas Ribu Delapan Ratus Delapan Puluh Enam Rupiah.
4. Kesimpulan
Dari hasil pengolahan data hujan Pos Stasiun Hujan Porong dengan menggunakan kala ulang 5 tahun pada Subsistem Drainase Ketapang Barat dengan nilai debit banjir rancangan terkecil 0,527 m3/dt dan terbesar 3,199 m3/dt.
51 Kondisi saluran drainase eksisting Jalan Raya Porong dinilai kurang baik. Dari hasil evaluasi kapasitas 9 saluran yang ada, didapatkan 6 saluran tidak dapat membuang kelebihan air sehingga diperlukan upaya penanganan genangan.
Upaya penanganan genangan yang dipilih untuk menangani genangan berupa rehabilitasi saluran beserta pembuatan lubang resapan dan pengoptimalan kolam detensi eksisting dengan merehabilitasi pompa air. Rehabilitasi saluran dan penambahan lubang resapan dilakukan pada 3 saluran drainase dengan melebarkan dan mendalamkan saluran.
Untuk rehabilitasi pompa eksisting, dilakukan perencanaan kapasitas pompa yang baru, dengan peruntukkan 3 saluran yang berdekatan dengan kolam detensi tidak mengalami kelebihan beban tampungan dan genangan yang meluap bisa segera dipompakan ke Kolam Detensi Exit Toll. Upaya penanganan genangan dengan ketiga cara tersebut dapat mereduksi genangan sebesar 100%.
Perencanaan sistem pompa yang baru, dilakukan upaya berupa pembaharuan dan penambahan unit baru yang dilokasikan di rumah pompa Kolam Exit Toll. Kapasitas unit pompa yang baru sebesar 400 liter/detik dan unit pompa berjumlah 2.
Perhitungan rencana anggaran biaya dilakukan pada masing – masing pengerjaan.
Hasil dari anggaran biaya upaya penanganan pertama yaitu pembuatan lubang resapan, sebesar Rp 110.175.338, lalu anggaran biaya dari upaya penanganan rehabilitasi saluran sebesar Rp 12.667.676.548, dan yang terakhir anggaran biaya dari upaya penanganan rehabilitasi pompa sebesar Rp 240.260.000. Total rencana anggaran biaya dari keseluruhan proyek sebesar Rp 13.018.111.886
Daftar Pustaka
[1] Suhardjono, Drainase Perkotaan. Malang: UB Press, 2015.
[2] F. Furqani, U. Andawayanti, and M. Janu Ismoyo, "Upaya Pengendalian Genangan Berbasis Konservasi di Kecamatan Blimbing Kota Malang," J. Teknik Pengairan., vol.1, no.2, pp. 417 - 428, 2021, doi: 10.21776/ub.jtresda.2021.001.02.07
[3] Menteri Pekerjaan Umum, "Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014 Tentang Penyelenggaran Sistem Drainase Perkotaan". Jakarta:
Sekretariat Negara, 2014.
[4] D.R. Tri A., M. Bisri, and U. Andawayanti, "Analisis Konservasi Air Berbasis Zero Run-Off (Studi Kasus Kawasan Block Office Balai Kota Among Tani Kota Batu,"
J. Teknik Pengairan., vol. 10, no. 2, pp. 145 - 150, 2019, doi:
10.21776/ub.pengairan.2019.010.02.08.
[5] I. Purwaningsih, Kabupaten Sidoarjo Dalam Angka. Badan Pusat Statistik Kabupaten Sidoarjo, 2021.
[6] S. Harto, Analisis Hidrologi. Gramedia Pustaka Utama, 1993.
[7] Soewarno, Hidrologi Aplikasi Metode Statistik untuk Analisa Data Jilid 1.
Bandung: NOVA,1995
[8] Soewarno, Hidrologi Aplikasi Metode Statistik untuk Analisa Data Jilid 2.
Bandung: NOVA,1995
52
[9] L. M. Limantara, Rekayasa Hidrologi, Revisi. ANDI OFFSET, 2018.
[10] B. Triatmodjo, Hidrologi Terapan. Beta Offset, 2015.
[11] Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup, "Nomor 12 Tentang Pemanfaatan Air Hujan", pp. 1 - 14, 2019.
[12] Menteri Pekerjaan Umum, "Tata Cara perencanaan, Pelaksanaan, Operasi dan Pemeliharaan Sistem Pompa". Jakarta: Direktorat Jenderal Cipta Karya, 2013.