• Tidak ada hasil yang ditemukan

studi perbandingan perjanjian perkawinan antara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "studi perbandingan perjanjian perkawinan antara"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

4 Tentang Perkawinan dan lain-lain, UU No. 16 Tahun 2019, perubahan UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, 2019, hal. Di Indonesia terdapat peraturan yang mengatur tentang akad nikah yaitu KUH Perdata dan UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Sedangkan dalam undang-undang no. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, peraturan yang mengatur tentang akad nikah, pada Pasal 29 BAB V.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis akan membahas mengenai “Studi Perbandingan Akad Perkawinan Antara KUH Perdata dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan”.

Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui akibat hukum terhadap harta perkawinan dari perjanjian perkawinan menurut hukum perdata dan undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan.

Manfaat Penelitian

Tinjauan Pustaka

Bahwa akad nikah di Indonesia dilaksanakan menurut hukum yang berlaku bagi setiap calon pengantin, berdasarkan KUH Perdata Undang-Undang Nomor. Dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tertulis Pasal 1 yang menyatakan bahwa perkawinan adalah suatu perbuatan yang bersifat ruhani. dan ikatan jasmani antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keabsahan perkawinan menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 diatur dalam Pasal 2 ayat (1) “Perkawinan sah apabila dilakukan menurut kaidah hukum setiap agama dan kepercayaan”.

Metode Penelitian

  • Jenis Penelitian
  • Tipe Penelitian
  • Pendekatan Masalah
  • Sumber Bahan Hukum
  • Prosedur Pengumpulan Bahan Hukum
  • Pengolahan dan Analisis Sumber Bahan Hukum

Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan normatif, sehingga pendekatan yang digunakan adalah pendekatan hukum. Pendekatan metode ini digunakan karena permasalahan yang diteliti menyangkut ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan akad nikah yang terdapat dalam buku-buku atau literatur yang digunakan untuk menyusunnya, khususnya yang berkaitan dengan akad nikah. Sumber penelitian hukum normatif yang terpenting adalah bahan hukum, bukan data atau fakta sosial, karena penelitian hukum normatif mempelajari bahan hukum yang memuat kaidah normatif.18.

Data penelitian adalah data sekunder, sumber penelitian hukum terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier (non hukum). Tata cara pengumpulan bahan hukum dalam penelitian ini dilakukan melalui penelitian kepustakaan, termasuk penelitian kepustakaan yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Studi literatur diperoleh dari penelitian kepustakaan yang bertujuan untuk memperoleh konsep atau teori dan informasi, serta pemikiran konseptual berupa peraturan hukum dan karya ilmiah lainnya.

Untuk memudahkan pembahasan, informasi dikumpulkan melalui proses bertahap yang bertolak dari sumber tertulis dari ketentuan hukum dan pemahaman hukum terkait aturan hukum akad nikah. Bahan-bahan hukum yang terkumpul dianalisis berdasarkan metode kualitatif, yaitu metode penelitian yang menghasilkan penelitian berupa informasi deskriptif analitis, dan dikumpulkan untuk kemudian diuraikan fakta-fakta yang ada dengan memanfaatkan pemikiran deduktif, yaitu penarikan kesimpulan berdasarkan pada sesuatu hal. . kondisi umum ke kondisi khusus.

Sistematika Penulisan

  • Ruang Lingkup Perjanjian Perkawinan
  • Tujuan Perjanjian Perkawinan
  • Perbandingan Perjanjian Perkawinan Menurut Kitab Undang-Undang
  • Perbedaan dan Persamaan Perjanjian Perkawinan Menurut KUH

Biasanya perjanjian perkawinan ini dibuat untuk kepentingan perlindungan hukum terhadap harta warisan masing-masing suami atau istri. Mengadakan perjanjian perkawinan diperbolehkan sepanjang tidak bertentangan dengan hukum, agama, moral, nilai kesusilaan, dan adat istiadat. Dalam arti formal, akad nikah adalah suatu perjanjian yang dibuat menurut ketentuan hukum antara calon suami dan isteri mengenai perkawinannya, apapun isinya.

Jika dibandingkan, KUH Perdata membatasi dan menekankan perjanjian perkawinan hanya pada kesatuan harta, sedangkan pada UU No. 1 Tahun 1974 tentang. Perjanjian perkawinan adalah suatu perjanjian yang dilakukan sebelum perkawinan, hal ini diatur dalam Pasal 29 UU No. Sedangkan perjanjian perkawinan mulai berlaku sejak saat perkawinan.Perjanjian perkawinan diatur dalam Pasal 29 UU No.

Akad perkawinan mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan akad pada umumnya sebagaimana diatur dalam Buku III KUHPerdata. Keabsahan suatu akad nikah juga tunduk pada ketentuan syarat-syarat sahnya akad pada umumnya berdasarkan Pasal 1320 KUH Perdata. Perjanjian perkawinan ini pada prinsipnya merupakan sumber berbagai harta dalam perkawinan.

Akibat hukum mengadakan perjanjian pranikah berdasarkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 mempunyai dua implikasi, yaitu pemisahan harta bersama atau penyatuan harta warisan suami istri. Perjanjian perkawinan mempunyai ciri yang berbeda dengan perjanjian pada umumnya, sebagaimana diatur dalam Buku III KUH Perdata. Namun asas dalam Buku III KUH Perdata juga berlaku dalam akad nikah. Keabsahan akad nikah juga ada syaratnya

AKIBAT HUKUM TERHADAP HARTA PERKAWINAN DARI

Ketentuan Hukum Perjanjian Perkawinan

Perjanjian perkawinan dalam UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan diatur dalam pasal 29, sehingga perjanjian perkawinan diperbolehkan dalam undang-undang ini. Mengenai perjanjian perkawinan mengenai harta benda, terdapat perbedaan asas antara yang diatur dalam KUH Perdata dengan UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Menurut ketentuan Pasal 147 KUHPerdata, perjanjian perkawinan harus dibuat dengan akta notaris dan tidak sah apabila tidak dibuat dengan baik.

Apabila dalam perjanjian perkawinan antara kedua suami-istri dan calon suami-istri disepakati hanya bahwa dalam perkawinan itu akan ada keuntungan dan kerugian, maka perjanjian demikian itu sama sekali tidak berlaku terhadap kesatuan harta benda secara keseluruhan menurut undang-undang, setelah putusnya perkawinan suami dan isteri, segala keuntungan yang diperoleh selama perkawinan harus dibagi di antara mereka, begitu pula segala kerugian harus ditanggung bersama oleh keduanya. Ketentuan dalam perjanjian perkawinan mengatur bahwa antara suami dan istri hanya ada keuntungan dan penghasilan bersama, artinya tidak ada harta bersama atau total menurut hukum dan juga tidak ada keuntungan dan kerugian bersama. Dari pasal tersebut terlihat bahwa KUH Perdata menempatkan suami mempunyai peranan yang lebih besar dalam keluarga, sehingga kerugian yang timbul dari praktek perjanjian perkawinan berupa penghasilan dan penghasilan bersama ditanggung oleh suami.

Bentuk perjanjian ini mensyaratkan pemisahan harta benda calon suami dan istri secara menyeluruh selama perkawinan. Oleh karena itu, akad nikah yang dibuat harus menyatakan bahwa tidak akan ada percampuran harta antara suami dan istri dan harus dinyatakan secara tegas bahwa tidak ada hubungan antara keuntungan dan kerugian. Masyarakat di Indonesia menganggap pengaturan pernikahan ini tidak biasa; mereka yang melangsungkan akad nikah umumnya memiliki latar belakang profesi sebagai wirausaha atau mereka yang memilih menikah dengan orang asing. Sardjono bahwa sepanjang tidak diatur dalam undang-undang dan tidak ditafsirkan lain, sebaiknya dimaknai bahwa akad nikah hanya boleh memuat hak-hak yang berkaitan dengan hak dan kewajiban di bidang hukum harta benda.

Menurut Nurnazly Soetarno, perjanjian pranikah hanya dapat disepakati dalam kaitannya dengan hak dan kewajiban dalam bidang hak milik, dan menyangkut harta benda, yaitu harta pribadi suami istri yang dibawa ke dalam perkawinan.34 .

Akibat Hukum Terhadap Harta Perkawinan Dari Perjanjian

Perjanjian pranikah merupakan suatu peristiwa hukum yang mempunyai akibat yang diatur oleh undang-undang atau undang-undang yang berlaku. Perjanjian pranikah yang disahkan oleh pencatat perkawinan atau pencatat perkawinan bersifat mengikat dan berlaku menurut hukum bagi calon pasangan dan pihak ketiga sepanjang menyangkut para pihak. Jika perjanjian pranikah yang dibuat oleh suami-istri tidak dilaksanakan, atau terjadi wanprestasi terhadap perjanjian yang dibuat, maka dengan sendirinya hal ini memberikan hak kepada istri untuk meminta pembatalan perkawinan atau dijadikan dasar untuk proses perceraian.

Suatu akad nikah yang memenuhi syarat-syarat sahnya akad menurut Pasal 1320 KUH Perdata dan syarat-syarat khusus menurut Pasal 29 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (setelah disahkan oleh pencatat perkawinan) harus dianggap sah menurut hukum bagi pihak yang berjanji. Akibat lain dari mengadakan perjanjian perkawinan dapat mengubah hubungan suami istri; masalah hubungan antara orang tua dan anak dan masalah yang paling menonjol adalah harta benda masing-masing pihak yang mengadakan perjanjian. Apabila terjadi pelanggaran terhadap perjanjian perkawinan, maka pelanggaran terhadap perjanjian perkawinan tersebut dapat dijadikan alasan untuk mengajukan perkara perceraian ke pengadilan.

Adanya akad nikah dalam kehidupan rumah tangga menjadi lebih jelas sehingga tidak ada pihak yang perlu khawatir. Tujuan dari perjanjian pranikah bukan untuk bercerai di kemudian hari, namun cenderung untuk melindungi suami atau istri jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam pernikahan. Ketentuan hukum akad nikah diatur dalam pasal 139 sampai 154 KUHPerdata dan UU no. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Pasal 29.

Perjanjian perkawinan memenuhi syarat sahnya perjanjian menurut Pasal 1320 KUH Perdata dan syarat khusus menurut Pasal 29 UUP.

PENUTUP

KESIMPULAN

Perjanjian pranikah harus diaktakan dan dibuat sebelum perkawinan.Bentuk perjanjian pranikah ini antara lain perjanjian pranikah saling untung dan rugi, perjanjian pranikah untung bersama, dan penghapusan harta bersama atau pemisahan harta. . Ketentuan akad nikah dalam KUH Perdata lebih banyak merujuk pada harta benda, sedangkan UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tidak secara tegas menyebutkan apa tujuannya, sehingga dapat disimpulkan bahwa akad dapat berkaitan dengan berbagai hal, sepanjang tidak bertentangan dengan batasan hukum atau agama serta kesusilaan. Akad itu sah sejak diadakannya perkawinan, selama perkawinan itu masih berlangsung, maka akad itu tidak dapat diubah, kecuali kedua belah pihak menyetujui perubahan itu dan perubahan itu tidak merugikan pihak ketiga.

Akibat hukum terhadap harta perkawinan suatu perjanjian perkawinan adalah perjanjian itu mengikat suami-istri, perjanjian itu mengikat pihak-pihak ketiga yang berkepentingan, dan perjanjian itu hanya dapat diubah dengan persetujuan suami-istri dan tidak merugikan kepentingan pihak ketiga. , dan disahkan oleh pencatat nikah.

SARAN

Andasasmita, Komar, Hukum Harta Perkawinan dan Warisan, Menurut KUHPerdata (Teori dan Praktek) (Komisioner Daerah Jawa Barat: Ikatan Notaris Indonesia, 1987). Budiono, Herlien, Doktrin Umum Hukum Kontrak dan Penerapannya Dalam Bidang Kenotariatan (Bandung: Citra Aditya Bhakti, 2014). Asas Keseimbangan Hukum Kontrak Indonesia, Hukum Kontrak Berdasarkan Asas Wigati Indonesia (Bandung: Citra Aditya Bhakti, 2006).

Darmabrata, Wahyono & Syajarif, Surini Ahlan, Hukum Pernikahan dan Keluarga di Indonesia (Jakarta: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2004). Perkawinan yang bersangkutan, atas karunia Tuhan Yang Maha Esa dan Presiden Republik Indonesia, Undang-undang No. 16 Tahun 2019, perubahan UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, 2019, hal. Salim H.S., Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW) (Jakarta: Sinar Grafa, 2003) Sri Soesilowati Mahdi, Hukum Perdata Perorangan dan Keluarga Baru.

Referensi

Dokumen terkait

Irma Febriani Nasution : Perjanjian Perkawinan Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Dan…, 2005 USU Repository © 2008... Irma Febriani Nasution : Perjanjian

Selanjutnya, mengenai isi perjanjian perkawinan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UU Perkawinan) tidak memuat aturan mengenai isi

Pengertian perjanjian telah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) Pasal 1313, yaitu bahwa perjanjian atau persetujuan adalah suatu perbuatan dengan mana

Perjanjian Perkawinan Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Bahwa mulai saat perkawinan dilangsungkan demi hukum berlaku persatuan bulat antara harta kekayaan suami

Setelah melihat ketentuan-ketentuan mengenai perjanjian perkawinan yang diatur dalam KUH Perdata maupun dalam Undang-Undang Perkawinan, dapat dilihat bahwa pada intinya

Penulisan tesis yang berjudul “ PERJANJIAN PERKAWINAN YANG DIBUAT SETELAH PERKAWINAN DAN AKIBAT HUKUMNYA DITINJAU DARI KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA” ini merupakan salah

Selanjutnya, mengenai isi perjanjian perkawinan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UU Perkawinan) tidak memuat aturan mengenai isi

Penulisan tesis yang berjudul “PERJANJIAN PERKAWINAN YANG DIBUAT SETELAH PERKAWINAN DAN AKIBAT HUKUMNYA DITINJAU DARI KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA” ini merupakan salah