OLEH : KELOMPOK I
UMI AZIZAH TAHIR 4523035021
FACHRI AFDAL HIDAYAT 4520035002
IBNU HAJAR 4523035006
DIAN WAHYUNINGRUM 4523035015
IKRIMA QUBAILAL FAJRI 4523035011
PROGRAM STUDI PETERNAKAN FUKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BOSOWA
MAKASSAR
2024
DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN...i
PRAKATA...ii
DAFTAR GAMBAR...iii
DAFTAR TABEL... iv
DAFTAR LAMPIRAN...v
I. PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang...1
B. Tujuan...2
C. Manfaat...3
1. Bagi Mahasiswa...3
2. Bagi Universitas Bosowa...3
3. Bagi Instansi/ Perusahaan...4
II. TINJAUAN PUSTAKA...5
A. Penetasan...5
B. Prosees Pemetasan... 1. Seleksi Telur (Grading)...5
2. Fumigasi...6
3. Penyimpanan Telur...8
4. Pre Warming... 5. Setter... 6. Transfer Telur Tetas Candling 7. Hatcher...8
8. Pull chick... 12
III.METODE PELAKSANAAN...15
A. Waktu dan Tempat...15
B. Metode Pelaksanaan Kunjungan...15
1) Pengumpulan Data...15
2) Dokumentasi Kegiatan...15
3) Analisis Data...15
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...17
A. Gambaran Umum PT. JAPFA COMFEED INDONESIA Tbk...17
1) Profil dan Perusahaan...17
2) Fungsi, Visi dan Misi...19
3) Struktur Organisasi... 4) Jaringan Usaha... B. Pelaksaan Kegiatan Kunjungan...22
C. Kendala dan pemecahan Masalah...32
V. REFLEKSI... 33
A. Kesimpulan...33
B. Saran... 34
DAFTAR PUSTAKA...35
BIODATA KELOMPOK KUNJUNGAN...40
HALAMAN PENGESAHAN
Judul : Tatalaksana Penetasan Telur Tetas Hari/Tanggal : Sabtu, 11 Mei 2024
Lokasi : Desa Lebang, Kec. Cendanan, Kab. Enrekang Nama : Umi Azizah Tahir (4523035021)
Fachri Afdal Hidayat (4520035002)
Ibnu Hajar (4523035006)
Dian Wahyuningrum (4523035015) Ikrima Qubailal Fajri (4523035011)
Jurusan : Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bosowa Laporan ini sebagai salah satu tugas yang wajib terpenuhi pada mata kuliah Pembibitan dan Penetasan.
Makassar, 28 Mei 2024
Telah diperiksa dan disetujui oleh:
Dosen Pengampu Mata Kuliah
Ir. Muh. Idrus, MP NIDN: 199102 1 001
Asisten Praktek Lapangan
Muh. Yushar Baharuddin NIM: 4522035015
PRAKATA
Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan yang berjudul “Tatalaksana Penetasan Telur Tetas”. Laporan ini dapat disusun karena bantuan dari semua pihak, baik berupa saran maupun bantuan yang sifatnya berwujud ataupun tidak.
Kami mengucapkan terimakasih kepada Bapak Ir. Muh. Idrus, MP., selaku dosen pengampu Mata Kuliah Pembibitan dan Penetasan, Bapak Masnar Soetry Selaku Manager Hatchery PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk dan Muh. Yushar Baharuddin selaku Asisten Praktek Lapangan yang telah membimbing dan memberikan saran selama praktek berlangsung.
Terlepas dari semua itu, penulis menyadari bahwa Laporan ini masih ada kekurangan, baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasa. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun demi penyempurnaannya. Akhir kata semoga dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca. Sekian dan terima kasih.
Makassar, 28 Mei 2024
Kelompok 1
DAFTAR LAMPIRAN
No Halaman
Teks
1 Surat Jalan 37
2 Proses Seleksi Telur (Grading) 37
3 Ruang Fumigasi 37
4 Ruang Penyimpanan Telur 38
5 Proses Candling 38
6 Ruang Penetasan Telur 38
7 Proses Pull Chick 39
8 Biodata Kelompok Kunjungan 40
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Industri perunggasan di Indonesia berkembang sesuai dengan kemajuan perunggasan global yang mengarah kepada sasaran mencapai tingkat efisiensi usaha yang optimal, sehingga mampu bersaing dengan produk dari produk-produk unggas luar negeri. Produk unggas, yakni daging ayam dan telur, dapat menjadi lebih murah sehingga dapat menjangkau lebih luas masyarakat di Indonesia. Pembangunan industri perunggasan menghadapi tantangan yang cukup berat baik secara global maupun lokal karena dinamika lingkungan strategis di dalam negeri. Tantangan global ini mencakup kesiapan daya saing produk perunggasan, utamanya bila dikaitkan dengan lemahnya kinerja penyediaan bahan baku pakan, yang merupakan 60-70 % dari biaya produksi karena sebagian besar masih sangat tergantung dari impor (Subakti dkk, 2022).
Telur merupakan makanan yang disediakan unggas untuk pertumbuhan embrionya, dari embrio awal ssampai terbentuk anak ayam yang siap menetas.
Pada perkembangan akhir isi telur akan semakin habis, yang tersisa hanya sedikit kuning telur yang akan dimanfaatkan oleh anak ayam selama sekitar 2 hari. Itulah sebabnya telur pada mamalia berbeda dengan telur pada unggs (Karmila, 2016).
Penetasan adalah usaha untuk menetaskan telur unggas dengan bantuan mesin tetas yang sistem atau cara kerjanya mengadopsi tingkah laku induk ayam selama mengeram yang bertujuan untuk menghasilkan DOC yang berkualitas. Ada dua cara penetasan telur, yaitu secara alami (dengan induknya sendiri) dan secara buatan (dengan alat penetas telur). Kapasitas produksi unggas sekali pengeraman hanya beberapa butir saja, akan tetapi untuk mesin tetas sangat bervariasi tergantung kapasitas mesinnya (Pujianto, 2021).
Manajemen penetasan baik dapat menghasilkan bibit DOC yang baik pula sehingga para peternak dalam memelihara ayam broiler dapat merasakan manfaat dari bibit tersebut, selain itu dari bibit yang baik juga diharapkan dapat membantu terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan daging sebagai sumber protein hewani. Tersedianya bibit ayam komersil tidak lepas dari hasil produksi industri pembibitan dalam menghasilkan telur tetas yang bersih dengan daya tetas yang tinggi. Manajemen penetasan perlu diperhatikan dengan sebaik – baiknya agar dapat tercapainya suatu keberhasilan industri pembibitan dalam memproduksi telur tetas yang berkualitas. Kajian tentang manajemen penetasan merupakan salah satu hal yang penting untuk melihat tingkat keberhasilan suatu industri peternakan (Zamrudi dkk, 2016). Maka dari itu perlu adanya kunjungan di penetasan PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk.
Hatchery-Tanralili mengenai tatalaksana penetasan agar mahasiswa
mengetahui tatalaksana yang diterapkan sehingga dapat menghasilkan telur tetas yang berkualitas.
B. Tujuan
Tujuan dilakukan kunjungan lapangan yaitu agar mahasiswa mengetahui bagaimana tatalaksana penetasan telur yang diterapkan di PT.
Japfa Comfeed Indonesia Tbk. Hatchery-Tanralili.
C. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
a. Memperoleh pengetahuan praktis tentang teknik pembibitan dan penetasan.
b. Meningkatkan keterampilan teknis dalam mengelola proses reproduksi dan penetasan.
c. Mendapatkan pengalaman langsung yang mengaplikasikan teori yang dipelajari di kelas ke situasi nyata.
2. Bagi Universitas Bosowa
a. Meningkatkan kualitas kurikulum dengan menyertakan praktikum yang relevan dan terkini.
b. Memberikan pengalaman belajar yang holistik kepada mahasiswa, menggabungkan teori dan praktik.
c. Meningkatkan reputasi universitas sebagai lembaga pendidikan yang menyediakan fasilitas dan program pendidikan yang lengkap.
d. Meningkatkan peluang kerjasama dengan industri dan instansi penelitian melalui proyek-proyek praktikum.
3. Bagi Instansi/ Perusahaan
a. Meningkatkan kerjasama dengan universitas untuk mengakses sumber daya manusia dan fasilitas penelitian.
b. Mengembangkan kolaborasi dengan industri untuk menerapkan hasil penelitian di lapangan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Penetasan
Penetasan merupakan proses perkembangan embrio di dalam telur sampai menetas. Penetasan telur ayam dapat dilakukan secara alami maupun buatan. Penetasan buatan lebih praktis dan efisien dibandingkan penetasan alami karena memiliki kapasitas yang lebih besar. Penetasan dengan mesin tetas atau penetasan buatan dapat meningkatkan skala produksi dengan tingkat mortalitas telur yang rendah. Hal ini sesuai pendapat (Rodhi dkk, 2018), mesin penetas telur terbukti mampu mempercepat proses penetasan telur pada usaha budidaya unggas, dikarenakan proses penetasan telur menggunakan mesin bisa dilakukan dengan kapasitas besar secara bersamaan.
Keberhasilan penetasan telur ayam dengan mesin tetas dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal (Quanta dkk, 2016). Faktor internal yang memengaruhi yaitu tingkat daya tunas (fertilitas) telur, sedangkan faktor eksternalnya yaitu dipengaruhi oleh temperatur dan kelembapan (Nasruddin dkk, 2014). Namun, keberhasilan penetasan dengan mesin tetas tidak lepas dari manajemen penetasan yang baik dan benar. Manajemen penetasan yang dilakukan meliputi koleksi telur tetas, fumigasi, penyimpanan, inkubasi di mesin setter, inkubasi di mesin hatcher, dan pull chick (panen) (Rahmawati, 2021).
Selama proses penetasan, temperatur dan kelembapan dalam mesin tetas harus stabil dan sesuai untuk mempertahankan kondisi telur agar tetap baik. Menurut (Nasruddin dkk, 2014), suhu dan kelembapan penetasan berkisar antara 36oC sampai 39oC, sedangkan kelembapan relatif antara 55%
sampai 70%. Letak telur merupakan penempatan posisi telur pada mesin tetas pada bagian atas, tengah dan bawah. Letak telur pada mesin tetas akan menghasilkan suhu dan kelembapan yang berbeda. Suhu dan kelembapan yang optimal akan akan memengaruhi tingkat keberhasilan penetasan.
Keberhasilan penetasan dapat dilihat berdasarkan persentase fertilitas, kematian embrio dan dead in shell. Letak telur pada mesin tetas dengan posisi pengeraman atas, tengah dan bawah diduga memiliki suhu dan kelembapan yang berbeda sehingga akan menghasilkan persentase fertilitas, kematian embrio dan dead in shell yang berbeda.
B. Proses Penetasan 1. Seleksi Telur (Grading)
Tahap awal dari proses penetasan dimulai dari penyeleksian telur (grading). Grading adalah proses seleksi telur menjadi dua bagian yaitu telur yang layak ditetaskan atau disebut Heaching Egg (HE) dan telur yang yang tidak layak ditetaskan (Grade Out) (Andri dkk, 2020).
Penerimaan dan penyeleksian telur tetas atau HE dilakuan di ruang penerimaan dan seleksi. Ruangan ini berfungsi untuk menerima dan menyeleksi ulang HE dari breeding farm. Area penerimaan telur harus dalam
keadaan bersih. Tujuan seleksi telur tetas adalah untuk memperoleh relur tetas yang settable, seperti pengarh berat telur terhadap berat awal anak ayam umur schari yang ditetaskan dalam kondisi yang baik. Kualitas telur tetas yang baik adalah kerabang telur tidak kotor, tekstur halus, tidak retak. wara telur seragam, bentuk telur proposional dan berat telur 47,2 g - 61,4 g (Jakaria dan Sarengat, 2016).
Tujuan seleksi telur tetas adalah untuk mendapatkan anak ayam yang sesuai dengan yang diharapkan. Kriteria telur yang baik untuk ditetaskan (Hatching Egg) adalah telur utuh dan bersih, bobot telur 55-70 gram, bentuk telur normal dengan indeks 74%, ketebalan kerabang 0,33 mm diharapkan dengan kualitas tersebut dapat menghasilkan kualitas DOC yang baik yaitu berat minimal 37 gram (Standar Nasional Indonesia) dan sehat. Untuk mendapatkan telur-telur yang bagus untuk ditetaskan harus yakin bahwa telur - telur tersebut berasal dari induk - induk ayam yang baik. Dalam proses grading ini terdapat beberapa kendala dalam 5 menentukan telur yang layak dan tidak layak ditetaskan. Diantaranya, pada saat proses grading masih banyak telur yang seharusnya tidak layak tetas (Grade Out) masih banyak yang masuk kedalam telur yang layak tetas (HE) (Andri dkk, 2020).
2. Fumigasi
Fumigasi pada telur tetas adalah suatu pencegahan supaya telur terhindar dari kontaminasi hama, jamur, dan bakteri yag nantinya dapat mengganggu perkembangan embrio didalam telur pada saat proses
penetasan. Fumigasi pada telur tetas juga langkah yang penting agar telur terhindar dari bakteri yang dapat mengganggu perkembangan embrio pada saat proses penetasan. Fumigasi telur sangat penting karena kerabang telur mengandung banyak bakteri maupun parasit sebab pada proses penetasan, baik temperatur maupun kelembaban sangat sesuai dengan kebutuhan bakteri dan kapang, sehingga bakteri dan kapang yang hidup pada saat proses penetasan akan berkembangbiak begitu cepat. Salah satu langkah untuk menanggulangi pencemaran bakteri pada telur tetas dan mempertahankan kualias telur dilakukan sanitasi telur menggunakan metode fumigasi. Telur tetas yang telah diseleksi sebaiknya dilakukan fumigasi untuk mencegah atau terhindar dari kontaminasi hama, jamur serta bakteri dengan menggunakan formalin dan KM, 0, dengan waktu berkisar 20 menit. Metode fumigasi pada telur tetas dilakukan dengan menggunakan gas formaldehyde basil campuran formalin dengan kalium permangat (Priyatmo, 2017).
Menurut (Hariani dkk, 2017), telur yang difumigasi dan tanpa fumigasi adalah sama, walaupun secara numerik persentase daya tetas telur parent stock ayam broiler yang difumigasi lebih tinggi jika dibandingkan dengan telur tetas tanpa fumigasi. Hal tersebut disebabkan semua telur yang ditetaskan sebelum dimasukan kedalam ruang pendingin (colling room), ruang inkubator (setter), dan ruang penetasan (hatcher) dibershkan dari kotoran-kotora yang melekat pada kulit telur, walaupun demikian telur yang tidak difumigasi tidak menjamin pada kerabang telurnya tidak terdapat mikroorganisme.
Mikroorganisme yang terdapat pada kerabang telur yang difumigasi akan mati karena pengaruh dari penguapan bahan fumigasi yaitu kalium permanganate (KMnO4) atau biasa disebut dengan Pottassium carbonat dan CH,O/Formalin sehingga telur yang difumigasi akan terbebas dari mikroorganisme.
3. Penyimpanan Telur
Telur yang telah difumigasi disimpan di cooling room. Cooling room merupakan ruangan khusus untuk menyimpan telur tetas sebelum dimasukkan ke setter. Suhu dan kelembaban ruangan penyimpanan diatur sehingga embrio tidak berkembang. Lama penyimpanan telur tetas berkisar 3-4 hari pada suhu 20oC dan kelembaban 70%-80%. Penyimpanan telur tetas sebelum diinkubasi merupakan hal yang biasa dilakukan dengan tujuan untuk memaksimalkan kapasitas tampung mesin tetas. Penyimpanan telur tetas yang lebih dari 7 hari dapat menyebabkan penuruna daya tetas (Suryadi dan Budi, 2018).
Penyimpanan telur tetas yang terlalu lama dapat mempengaruhi daya tetas telur. Tujuan telur dimasukkan ke ruang pendingin (cooling room) adalah menunggu sampai jumlah telur yang ingin ditetaskan tercapai. Penyimpan telur tetas selama proses kegiatan memperhatikan hal-hal meliputi temperatur dan kelembapan lokasi penyimpanan, suhu, posisi, dan lama penyimpanan telur tetas (Suryadi dan Budi, 2018).
4. Pre Warming
Pra Warming adalah suatu perlakuan pengenalan/ pengadaptasian telur (embrio) kepada suhu inkubasi (Wirapartha dan Dewi, 2017). Setelah jumlah
telur yang akan ditetaskan terpenuhi, maka telur tetas dikeluarkan dari cooling room menuju setter. Akibat jauhnya perbedaan suhu antara cooling room dengan setter, maka perlu adanya penyesuaian suhu agar embrio yang ada di dalam telur tidak mengalami cekaman. Proses penyesuaian suhu tersebut disebut pre warming. Lamanya proses pre warming didasarkan pada ketebalan kerabang telur.
Temperatur pre warming:
a. James way = 27˚-28˚C b. Chick Master = 27˚-30˚C
Keuntungan pre warming yaitu telur tetas (HE) cepat menetas dalam udara hangat, mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan suhu setter, mampu meningkatkan hatchability, Menghemat pemakaian energi listrik dan Mampu menaikkan daya tetas telur utk telur yg disimpan lebih dari 4 hari (Wirapartha dan Dewi, 2017).
5. Setter
Setting telur tetas adalah satu pekerjaan memasukkan telur tetas ke setter sesuai waktu, mesin dan posisi yang telah ditentukan setelahmelalui proses pre warming (Wirapartha dan Dewi, 2017). Telur dari pre warming dimasukkan ke dalam ruang setter (ruang inkubator). Telur disetting berdasarkan kandang, kualitas telur, dan umur induk ayam. Suhu ruang setter 37,5oC dan kelembaban 55%. Pemutaran telur tetas di dalam setter dilakukan selama 18 hari dengan frekuensi pemutaran satu jam sekali. Sudut pemutaran
telur 90oC dan kemiringan 45oC, bila telur tidak diputar, maka kuning telur akan melekat pada satu sisi kerabang telur dan berakibat pada kematian embrio.
Telur berada dalam mesin setter selama 425 jam (18 hari) dengan sistem pembalikan (turning) satu kali perjam dengan suhu 45oC dengan sistem otomatis yang bertujuan menghomogenkan ekspos panas terhadap telur tetas, agar embrio dapat memanfaatkan protein yang tersedia dan mencegah menempelnya embrio pada sel membran. Ruang setter dapat dikatakan sebagai inkubator, karena itu kondisinya harus sama atau mendekati dengan kebutuhan setter (Wirapartha dan Dewi, 2017). Bagian-bagian mesin setter : a.
Temperatur (sesuai sett point) b. Humidity (susuai sett point) c. Damper (inlet dan outlet) d. Oksigen (O₂)
e. Karbondioksida (CO₂) f. Egg temperature
g. Spray h. Nozzle i. Heater j. Blower k. Cooling
l. Adanya proses turning
6. Transfer Telur Tetas Candling
Tranfer merupakan suatu kegiatan memindahkan telur tetas dari mesin setter ke mesin hatcher yang sekaligus melakukan seleksi pemisahan telur infertil dengan telur fertile (Wirapartha dan Dewi, 2017). Transfer dilakaukan pada hari ke 19. Candling dilakukan sebelum masuk ke mesin hatcher, berfungsi untuk memisahkan telur yang fertil, infertil dan explode. Telur explode disebabkan telur terkontaminasi bakteri, kotor, pencucian telur kurang baik dan mesin tetas kotor. Transfer telur tetas dan candling dilakukan dengan cepat, maksimal 30 menit karena embrio dapat mati akibat perubahan suhu telur yang drastis. Telur yang sudah diteropong dipindahkan ke kereta buggy hatcher yang berbentuk keranjang.
Sebelum telur masuk ke dalam mesin hatcher dilakukan pemisahan antara telur yang memiliki embrio (telur yang dibuahi) dengan telur yang tidak memiliki embrio (telur yang tidak dibuahi), proses tersebut dinamakan candling.
7. Hatcher
Telur yang lolos pada saat candling kemudian dimasukkan ke dalam mesin hatcher selama tiga hari, selama berada di hatcher tidak dilakukan pemutaran telur karena pada periode ini akan terjadi pipping (anak ayam berusaha memecah kerabang dengan paruhnya). Telur berada dalam mesin hatcher selama 72 jam (3 hari), saat telur tetas masuk dalam mesin hatcher diberikan evaporative formalin dengan dosis 0,1 cc perbutir pada hari ke 19 s.d
20, setting temperature mesin hatcher disesuaikan oleh masing-masing jenis mesin dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Bagian-bagian mesin hatcher sama dengan bagianbagian pada mesin setter. Temperatur mesin hatcher umumnya lebih rendah 1oF dibanding temperatur di setter. Untuk ruang hathcer ciptakan temperatur dengan kisaran 35 sampai 37oC (Wirapartha dan Dewi, 2017). Pengaturan suhu dan kelembaban dilakukan berdasarkan keadaan telur. Suhu dalam hatcher sekitar 37-38oC. Kelembaban hatcher sebelum pipping sekitar 55% dan saat pipping kelembaban dinaikkan menjadi 70%-75%. Kelembaban yang tinggi dapat membantu proses pipping. Saat telur menetas (setelah pipping) kelembaban diturunkan kembali menjadi 52%- 55%
dan suhu dalam keadaan lebih rendah dari 37oC untuk membantu proses pengeringan bulu DOC.
8. Pull Chick
Pull chick adalah kegiatan menurunkan DOC dari mesin hatcher, termasuk sexing DOC (pemisahan DOC jantan dan betina), seleksi sambil memasukkan DOC ke dalam box. Sexing dilakukan berdasarkan warna bulu.
DOC jantan memiliki warna bulu kuning dan garis punggung berjumlah ganjil, sedangkan DOC betina memiliki warna bulu coklat dengan garis punggung kuning berjumlah genap. DOC jantan langsung dimasukkan ke box tanpa perlakuan apapun. DOC betina diseleksi lagi dengan kriteria bobot badan, warna bulu, kondisi fisik (mata, kaki, perut) dan kesehatan. DOC betina
langsung dipotong paruhnya sepanjang 1/3 bagian dari panjang paruh, menggunakan alat debeaker.
Telur yang sudah menetas tidak langsung dilakukan pemisahan DOC dengan cangkang telurnya. Telur yang sudah menetas harus melewati masa inkubasi sampai bulu anak ayam sudah 95% kering. DOC yang sudah dipisahkan dari cangkang telurnya kemudian diseleksi untuk memilih DOC yang berkualitas dan siap didistribusikan berdasarkan grade yang telah ditetapkan (Nurul, 2018).
Telur mengalami masa inkubasi dalam mesin setter selama 432 jam (18 hari) dan dalam hatcher selama 72 jam (3 hari). Proses selanjutnnya adalah pull chick yang merupakan proses pengambilan atau dikeluarkannya anak ayam yang sudah menetas (Pambudi, 2021). Waktu pull chick :
a. Masa inkubasi normal untuk telur broiler 504 jam.
b. Kontrol secara berkala kondisi DOC khususnya pada 4-6 jam menjelang waktu panen normal.
c. Anak ayam yang baru menetas memerlukan waktu istirahat 2-4 jam.
d. Proses selanjutnya yaitu penentuan grade, yang terdiri dari grade A (DOC yang berkualitas) dan grade B (DOC yang diafkir) Pendistribusian yang baik, packing atau pengemasan DOC dilengkapi data-data yang sesuai dengan yang tertera di box DOC.
Data tersebut meliputi strain, jumlah, tanggal menetas. Box DOC harus sesuai standar kebutuhan seperti ventilasi, kepadatan dan keselamatannya,
selain itu alat transportasi pengiriman DOC dilengkapi dengan peralatan ventilasi untuk menjaga kenyamanan anak ayam selama dalam pengiriman DOC segera setelah packing selesai.
III. METODE PELAKSANAAN
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Pembibitan dan Penetasan mengenai Manajemen Penetasan Telur dilaksanakan di PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk Hatchery Tanralili yang berlokasi di Desa Toddopulia, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan pada hari Rabu 11 Mei 2024 pukul 07.00 – 12.00 WITA.
B. Metode Pelaksanaan Kunjungan 1. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dengan cara berdiskusi langsung kepada supervisor produksi. Selain itu pengumpulan data juga dilaksanakan dengan cara mencari referensi-referensi melalui jurnal, buku maupun artikel dari internet yang berkaitan dengan pokok pembahasan.
2. Dokumentasi Kegiatan
Kegiatan dokumentasi dilakukan pada setiap proses tatalaksana seleksi telur. Dokumentasi bertujuan untuk melengkapi informasi dan validasi kegiatan kunjungan lapangan penetasan di PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk.
3. Analisis Data
Data yang diperoleh saat pengamatan di lapangan di rangkum serta dipilih sesuai dengan permasalahan dan akan dipergunakan dalam pembuatan laporan kunjungan lapangan penetasan di PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum PT. JAPFA COMFEED INDONESIA Tbk.
1. Profil dan Perusahaan
PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk adalah salah satu perusahaan agri- food terbesar dan terkemuka di Indonesia. PT. Japfa Comfeed Indonesia penghasil protein hewani berkualitas terpercaya dengan setia melayani kebutuhan sejak tahun 1975. PT. Japfa Comfeed Indonesia memiliki unit bisnis utama yaitu pakan ternak, pembibitan ayam, pengolahan unggan serta pembudidayaan pertanian. Keunggulan dari perusahaan ini meliputri integrasi vertical dan skala ekonomi. Hal ini dimaksud bahwa perusahaan menjalin hubungan baik antara operasional yang dilakukan di hulu dengan hilir. Dengan dijaganya hubungan tersebut maka akan terjamin kualitas produk yang unggul.
Gambar 1. Logo PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk.
Japfa Comfeed Indonesia didirikan tanggal 18 Januari 1971 dengan nama PT. Java Pelletizing Factory, Ltd dan memulai usaha komersialnya pada tahun 1971. Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Japfa Comfeed Indonesia yaitu :Japfa Holding Pte Ltd (dahulu Malvolia Pte. Ltd.)
(induk usaha 54,87%), perusahaan yang berkedudukan di Singapura dan KKR jade Investments Pte. Ltd. (11,98%). Berdasarkan anggaran tersebut, ruang lingkup PT. Japfa Comfeed Indonesia meliputi pengolahan segala macam bahan untuk pembuatan atau produksi bahan makanan hewan yang mengandung minyak nabati, pembibitan, peternakan ayam, perunggasan, perikanan dan menjalankan perdagangan dalam dan luar negeri. Merk utama dari PT. Japfa Comfeed Indonesia pakan ternak (Comfeed and Benefeed), produk daging ayam segar (Best Chicken), daging (Tokusen Wagyu Beef) dan produk vaksin (Vaqsimune).
Japfa terus melakukan pengembangan perusahaan dengan melakukan kerja sama kemitraan dengan beberapa perusahaan lainnya. Pada era tahun 1990-an, Japfa melakukan akuisis strategis dengan empat perusahaan yang bergerak dalam bidang pakan ternak. Perusahaan tersebut antara lain PT.
Comfeed Indonesia, PT. Ometraco Satwafeed, PT. Indopell Raya dan PT. Suri Tani Pemuka. Di samping itu, Japfa juga melakukan akuisis tahap kedua pada tahun 1992 dengan mengambil alih PT. Multibreeder Adirama Indonesia dengan bisnis utama pembibitan ayam. Pada tahun yang sama Japfa juga ambil alih terhadap PT. Ciomas Adisatwa yang bergerak dalam pengelolahaan ungags dan Suri Tani Permuka dengan budidaya udang.
Japfa didukung oleh Divisi Aquaculture dan Divisi Unggas sebagai salah satu produsen unggas secara global memproduksi pakan unggas, DOC (Day Old Chicken) pembibitan, dan pengolahan ayam. Tiap tahunnya divisi ini
memberikan kontribusi pendapatan penghasilan sebesar 83% dari penjualan bersih perusahaan. Dalam pembibitan, perawatan serta pengolahan sapi potong. Divisi ini beroperasi dengan merk “Santori” yang merupakan peternakan terbesar di Asia. Sedangkan untuk divisi Aquaculture, Japfa berkembang dengan budidaya udang lokal yang tumbuh untuk komoditas ekspor.
2. Fungsi, Visi dan Misi a. Fungsi
PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk didirikan dengan tujuan utama untuk memenuhi kebutuhan pangan protein hewani masyarakat Indonesia melalui produksi dan distribusi pakan ternak berkualitas tinggi serta pengembangan industri peternakan. Selain itu, perusahaan ini berkomitmen untuk mengembangkan sektor agribisnis di Indonesia dengan melakukan penelitian dan pengembangan serta memberikan pelatihan kepada peternak lokal.
Dengan operasionalnya, PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk juga memberikan dampak positif dalam penciptaan lapangan kerja dan peningkatan ekspor produk agribisnis Indonesia, yang secara keseluruhan mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
b. Visi
Menjadi penyedia terkemuka dan terpercaya di bidang produk pangan berprotein terjangkau di Indonesia, berlandaskan kerja sama dan pengalaman teruji, dalam upaya memberikan manfaat bagi seluruh pihak terkait.
c. Misi
1) Terkemuka
a) Menjadi yang utama dan selalu diingat b) Menjadi panutan bagi industry sejenis
c) Berkembang melalui proses berkesinambungan d) Selangkah lebih maju dalam persaingan
2) Terpercaya
a) Dapat diandalkan oleh segenap pemasok, pelanggan dan karyawan b) Konsisten, dapat dipercaya, aman, berkualitas baik, produk higienis c) Bertanggung jawab kepada masyarakat dan lingkungan sekitar 3) Produk pangan berprotein
a) Mengembangkan usaha dibidang protein dari hewan ternak termasuk ayam dan hewan laut
b) Termasuk usaha utama dibidang pakan, pembiakan dan pemeliharaan ternak vaksin, dan lain-lain
c) Berujung pada produksi makanan olahan untuk konsumsi manusia 4) Terjangkau
a) Mengutamakan masyarakat luar b) Kualitas baik dengan harga terjangkau
c) Berperan aktif dalam menanggulangi keterbatasan pangan
d) Penyedia protein yang efisien, mengarah pada tingkat keuntungan jangka Panjang yang mendukung kelangsungan usaha
5) Kerja sama
a) Bekerja sama dan saling membantu satu sama lain tanpa diminta b) Koordinasi yang sempurna
c) Beroperasi sebagai satu kesatuan
d) Berbeda pendapat tetapi tetap bergerak sebagai satu tim 6) Pengalaman teruji
Memiliki pengalaman teruji di bidang peternakan dan di Kawasan berkembang Asia.
7) Pihak terkait, meliputi:
a) Karyawan b) Pelanggan c) Pemasok d) Peternak mitra e) Pemegang saham f) Masyarakat
3. Struktur Organisasi
4. Jaringan Usaha
PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk. mengumpulkan telur-telur dari setiap mitra, yang nantinya akan ditetaskan. Dan setelah melalui proses yang panjang, anak ayam akan didistribusikan ke mitra-mitra yang terletak di Maros, Sidrap, dan Malang. Atau langsung dirawat kembali ke anak perusahaannya, PT. Ciomas Adisatwa.
B. Pelaksaan Kegiatan Kunjungan
Setelah melaksanakan kegiatan kunjungan di PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk Hatchery-Tanralili, sehingga diperoleh data mengenai tatalaksana penetasan, yaitu sebagai berikut:
1. Penerimaan Telur Tetas
Penerimaan dan penyeleksian telur tetas atau HE dilakuan di ruang penerimaan dan seleksi. Ruangan ini berfungsi untuk menerima dan menyeleksi ulang HE dari breeding farm. Area penerimaan telur harus dalam keadaan bersih. Tujuan seleksi telur tetas adalah untuk memperoleh relur tetas yang settable, seperti pengaruh berat telur terhadap berat awal anak ayam
umur sehari yang ditetaskan dalam kondisi yang baik. Kualitas telur tetas yang baik adalah kerabang telur tidak kotor, tekstur halus, tidak retak. wara telur seragam, bentuk telur proposional dan berat telur 47,2 g - 61,4 g (Jakaria dan Sarengat, 2016).
PT. Japfa Comfeed Indonedia melakukan proses penerimaan telur dari farm dilakukan diloket penerimaan oleh operator terminal dan driver egg van.
Sebelum melakukan penurunan telur, terlebih dahulu dilakukan pengecekan surat jalan/ data android untuk memastikan jumlah dan asal farmnya. Box telur yang diturunkan langsung diberi tanda/ kode kandang dengan menempelkan kartu Id telur. Gunakan kereta telur untuk memudahkan proses penyusunan box telur diterminal. Setelah telur sudah diturunkan, lakukan pengecekan lagi dan apabila sudah sesuai, surat jalan/ STBT-A langsung dilakukan serah terima dengan driver egg van. Proses penerimaan telur harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari telur retak/ pecah. Surat jalan dapat dilihat pada lampiran gambar 1.
2. Seleksi Telur (Grading)
Tahap awal dari proses penetasan dimulai dari penyeleksian telur (grading). Grading adalah proses seleksi telur menjadi dua bagian yaitu telur yang layak ditetaskan atau disebut Heaching Egg (HE) dan telur yang yang tidak layak ditetaskan (Grade Out). Adapun ciri/kriteria telur yang layak tetas dan tidak layak tetas, untuk telur yang layak tetas ciri-cirinya bentuk telur
normal yaitu berbentuk oval, warna kulit telur berwarna coklat gelap, kerabang telur tidak tipis berukuran 0,3 mm dan kulit telur tidak kasar dan bintik-bintik.
Untuk telur yang tidak layak tetas ciri-cirinya telur kotor (dirty), cacat (benjol, lonjong), besar (jumbo), kerabang tipis, warna tidak seragam, kerabang bintik- bintik kasar dan telur retak (Iksan dkk, 2020).
Proses seleksi telur (Grading) di PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk dilakukan oleh 2 operator hatchery dengan pencucian tangan menggunakan desinfektan sebelum melakukan grading telur. Selain itu para operator diharuskan memakai alat pelindung diri seperti masker, topi, alas kaki karet dan lain-lain. Selanjutnya siapkan peralatan kerja (meja grading, egg tray, cutter, tissue, tong sampah, polybag dan lain-lain). Suhu ruangan diatur pada temperatur 20 -24oC. Seleksi telur sesuai dengan asal farm/ kandang.
Kemudian pisahkan telur abnormal, retak dan pecah pada egg tray tersendiri.
Untuk kriteria telur yang dapat ditetaskan memiliki ciri-ciri bentuk telur oval (indeks 74-75%), standard (52-85 gram), bersih dan telah melalui desifeksi difarm, bentuk dan warna kerabang normal, relatif seragam (uniformity 80- 90%), dan tidak cacat (retak, pecah, bentuk tidak normal, tipis dan lain-lain).
Untuk telur tidak layak ditetaskan memiliki ciri-ciri kotor, kotor karena darah, retak, lonjong, bulat, retak karena dipatuk indukya, berkerut, kecil daan kuning telur ganda. Hal ini sesuai dengan pedapat (Hasanah dkk, 2019) ukuran telur berhubungan dengan daya tetas. Telur tetas yang terlalu besar atau kecil tidak dapat menetas dengan baik. Telur yang terlalu besar memungkinkan
terdapatnya kuning telur ganda (double yolks), sedangkan terlalu kecil tidak dapat disimpan dalam rak mesin tetas dan dapat menghasilkan anak yang kecil. Telur yang berukuran terlalu besar atau kecil dalam kelompoknya, daya tetasnya kurang baik.
Telur normal ditempatkan pada egg buggy dan diberi kode sesuai kandang dan farm. Egg buggy yang sudah penuh langsung dimasukkan ke ruang fumigasi. Setelah proses fumigasi, egg buggy didorong ke ruang pre colling. Proses seleksi telur (grading) dapat dilihat pada lampiran gambar 2.
3. Fumigasi
Fumigasi pada telur tetas juga langkah yang penting agar telur terhindar dari bakteri yang dapat mengganggu perkembangan embrio pada saat proses penetasan. Salah satu langkah untuk menanggulangi pencemaran bakteri pada telur tetas dan mempertahankan kualias telur dilakukan sanitasi telur menggunakan metode fumigasi. Telur tetas yang telah diseleksi sebaiknya dilakukan fumigasi untuk mencegah atau terhindar dari kontaminasi hama, jamur serta bakteri dengan menggunakan formalin dan KM, 0, dengan waktu berkisar 20 menit. Metode fumigasi pada telur tetas dilakukan dengan menggunakan gas formaldehyde basil campuran formalin dengan kalium permangat (Priyatmo, 2017).
Proses fumigasi yang dilakukan di PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk, di Hatchery Tanralili yaitu fumigasi dilakukan selama 20 menit dengan volume ruang fumigas 20 m3 dan dibantu dengan kipas. Adapun bahan kimia yang
digunakan yaitu gomalin 40 CC dicampur dengan reaktor 15 gram untuk voume 1 m3 dengan waktu 20 menit dan melakukan pembuangan selama 10 menit. Ruang fumigasi dapat dilihat pada lampiran gambar 3.
4. Penyimpanan Telur
Penyimpanan telur tetas dilakukan setelah penerimaan hatching egg (HE), semua HE disimpan di ruang penyimpanan atau yang biasa disebut dengan holding room yang bertujuan untuk menyimpan stok HE serta menghambat pertumbuhan embrio. Temperatur ruang penyimpanan HE yang kurang dari 7 hari adalah 18-20°C dengan kelembaban 65-68%, sedangkan untuk HE yg berumur lebih dari 7 hari temperatur ruang penyimpanannya adalah 15-17°C dengan kelembaban 75-80%. Dibawah batas tersebut embrio bisa mati dan di atas kisaran suhu tersebut embrio bisa berkembang dan menyebabkan penetasan yang lebih cepat (Palaka, 2019).
Penyimpanan telur pada PT. Japfa Comfeed Indonedia Tbk di Hatchery Tanralili yaitu telur tatas dari ruang pre cooling dimasukkan ke ruang cooling room untuk menunggu waktu setting. Telur tetas disusun berdasarkan kode setting dan jenis mesin yang akan dipakai untuk setting. Telur tetas berada dicooling room selama 2 – 14 hari, jika sudah waktunya telur tetas akan disetting dimesin pearl-22 kemudian didorong ke dalam mesin yang akan digunakan (prewarming dalam mesin). Untuk temperatur cooling room yaitu 16 – 20 oC dengan kelembaban relatif (RH) 70-85 %, tergantung lama koleksi telur
tetas. Temperatur dan kelembaban ini perlu diperhatikan sesuai dengan pendapat Wirapartha dan Dewi (2017) yang menyatakan bahwa pengatuan temperatur dan kelembaban di cooling room sangat penting bagi Hatchery untuk mencapai hatchability (daya tetas) yang optimal. Kesalahan pengaturan temperatur dan kelembaban selama penyimpanan dapat menurunkan daya tetas sampai 20%. Nomalnya koleksi/penyimpanan telur tetas dilakukan 1-4 hari, jika lebih akan terdampak negatif terhadap daya tetas. Ruang penyimpanan telur dapat dilihat pada lampiran gambar 4.
5. Pre Warming
Setelah telur tetas dipindahkan dari ruangan penyimpanan telur (holding), tahap selanjutnya yaitu prewarm. Telur tetas diangin-anginkan terlebih dahulu agar embrio yang berada di dalam telur tidak shock dari suhu rendah yang berada di dalam ruangan penyimpanan telur (holding), langsung menuju ke ruangan yang bersuhu tinggi yaitu di dalam mesin setter. Prewarm dilakukan minimal selama 6 jam agar suhu telur telah stabil dan siap masuk dalam masa inkubasi (Perdana, 2022).
Pada PT Japfa Comfeed Indonesia di Hatchery-Tanralili menyimpan telur tetas pada ruang bertemperature 24-25oC dengan humidity 60-63%
selama 8-16 jam sesuai dengan lama penyimpanan di cooling room. Tujuan dari prewarming adalah mengoptimalkan hatchability, menghindari konsasi pada telur, dan mempercepat kerja setter ke temperature normal. Menurut Irsan (2021), prewarming dilakukan selama 12 jam dan setting selama 18 hari
pada suhu 98,5–99,1 ˚F (36,9–37,3 ˚C) serta kelembaban 84,2–85,6% di mana seharusnya kelembaban yang ideal untuk penetasan adalah 55–70%.
6. Setter
Setting adalah proses menata atau penempatan telur kedalam mesin inkubator/setter. Pada PT Japfa Comfeed Indonesia di Hatchery Tanralili proses setting ini dihitung sebagai start awal dari mas inkubasi telur yang ditetaskan. Faktor-faktor yang sangat berperan pada priode inkubasi ini adalah temperature, humidity, turning, ventilasi dan sanitasi atau kebersihan mesin.
Pada tahap ini pastikan temperatur ruang setter sekitaran 22,0-26,0oC dengan kelembaban relatif (RH) ruang setter sekitar 50-75%. Pengawasan harus dilakukan sehingga operator teknik melakukan control mesin setiap 3 jam sekali dan mengisi form check list mesin. untuk derajat kemiringan turning berkisar 38-45.
7. Transfer Telur Tetas Candling
Candling adalah suatu istilah yang biasa digunakan untuk meneropong telur dalam penetasan. Candling artinya kegiatan pemeriksaan embrio didalam telur yang akan ditetaskan menggunakan bantuan cahaya. Peneropongan dimulai dengan menyalakan lampu listrik, Peneropongan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keberadaun atau perkembangan embrio yang terdapat didalam telur tetas. Telur Infertil yang terkena cahaya lampu akan
tampak terang kemerahan saat dicandling. Selain mengetahui keberadaan embrio. candling juga berfungsi untuk mengetahui telur fertil dan infertil, serta telur fertil tetapi embrio mati (Wakhid, 2016).
Pada PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk di Hacthrey Tanralili, proses transfer telur berembrio dilakukan mulai usia 18,5 hari dan selesai sebelum usia 19 hari inkubasi. Telur berembrio disetter diambil oleh operator transfer atau operator mesin yang telah menggunakan perlengkapan lengkap seperti masker, pelindung mata, sepatu/sandal, handsprayer alcohol, tissue dan counter. Lama waktu pengambilan telur dari setter ≤15 menit (MS) dan ≤5 menit (SS) pertrolly. Pelaksanaan transfer per mesin maksimum 40-45 menit (MS) dan ±3 jam (SS). Untuk temperatur ruangan saat proses transfer yaitu 26 – 29oC dan kondisi agak gelap dengan sirkulasi udara baik. Selanjutnya lakukan candling telur tetas dengan teliti dan tidak kasar agar tidak ada telur yang retak dan pecah. Ambil telur infertil (clear egg) dan tempatkan pada egg tray karton. Kemudian lakukan penimbangan EWL pada deret troli yang sudah diberi identitas sejak pra setting. Target EWL yaitu 20,5 – 12,0 %. Telur tetas yang mengalami explode harus dibuang ke tong yang berisi larutan desinfektan dan tidak lupa untuk memisahkan eggtray yang terkena explode ke dalam rendaman tong yang berisi desinfektan. Catat jumlah telur clear, explode dan loss dengan akurat per farm per kandang dan per mesin dan imput diprogram hatchery recording yang dilakukan secara digital. Pada saat proses candling,
telur infertil akan berwarna orange terang yang dapat dilihat pada lampiran gambar 5.
8. Hatcher
Hatcher atau proses penetasan berlangsung dimesin hatcher. Dalam penetasan hal yang perlu diperhatikan yaitu temperature, humidity, ventilasi dan sanitasi. Pada PT. Japfa Comfeed Indonesia di Hatchery Tanralili yaitu setelah proses transfer selesai, operator mesin wajib memeriksa semua mesin untuk memastikan semua control mesin berfungsi dengan baik. Selanjutnya lakukan desinfeksi mesin hatcher dengan cara fumigasi serta koridor ruangan dispray dengan clinafarm dengan dosis 10 CC/liter. Operator teknik wajib melakukan control terhadap mesin hatcher dan mencatat di check list control setiap 1 jam. Setelah 21 hari doc ditarik dari dalam mesin dan didorong ke ruang panen/ pullchcik. Hal ini sesuai dengan pendapat (Pambudi, 2012) bahwa telur ditetaskan di mesin hatcher selama 3 hari yaitu mulai umur 19-21 hari. Selama berada di dalam mesin hatcher tidak dilakukan pemutaran telur sebab anak ayam akan melakukan pipping yaitu anak ayam berusaha memecah kerabang dengan paruh. Hari ke- 20 diletakkan dua buah nampan berisi formalin masing - masing 100 ml di bawah keranjang yang bertujuan untuk membuat warna bulu ayam semakin terang. Ruang penetasan telur dapat dilihat pada lampiran gambar 6.
9. Pull Chick
Pull chick merupakan proses terakhir dalam hatchery. Proses pull chick diawali dengan membongkar rak DOC, grading DOC, potong paruh, vaksinasi, hitung ulang dan pengeluaran DOC. DOC yang dibongkar dari keranjang akan diseleksi berdasarkan bobot badan dan penampilan normal. Kriteria DOC normal yaitu bobot DOC minimal 33 g/ekor untuk layer dan 37 g/ekor untuk broiler, lincah, mata cerah dan aktif, memiliki pusar tertutup, kaki, paruh dan perut (kantung kuning telur) normal, bulu cerah, tidak kusam dan penuh, bebas dari penyakit pullorum, omphalitis dan jamur. Pengiriman DOC merupakan tahap akhir dari proses penetasan. Jumlah pengiriman disesuaikan dengan permintaan pasar. Pengiriman DOC dilakukan dengan menggunakan mobil box yang dilengkapi dengan ventilasi sebagai sirkulasi udara selama perjalanan (Prayogo, 2021).
Masa inkubasi yang ideal adalah 504-506 jam dengan temperatur ruangan ideal pada saat pull chick yaitu 26-27oC dengan Rh 70%. Pada PT Japfa Comfeed Indonesia di HatcheryTanralili Chick yang ideal adalah 67-68%
dari berat awal telur tatas ketika mau di setting atau saat setting. 50% dari DOC tetap harus basah dibagian belakang leher. Proses pull chick dapat dilihat pada lempiran gambar 7.
C. Kendala dan pemecahan Masalah 1. Kendala
Kendala yang diperoleh pada saat kunjungan penetasan di PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk. Hatchry-Tanralili yaitu ditemukan banyaknya telur yang rekat hal ini dipengaruhi oleh faktor pemindahan telur tetas yang baru tiba di farm ke dalam ruangan terminal.
2. Pemecahan Masalah
Memberikan edukasi kepada operator atau petugas yang bertanggung jawab agar dapat melakukan kegiatan pemindahan telur dangan hati-hari dan sesuai dengan SOP yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
V. REFLEKSI
A. Kesimpulan
Penetasan adalah usaha untuk menetaskan telur unggas dengan bantuan mesin tetas. Tatalaksana penetasan perlu diperhatikan dengan sebaik-baiknya agar dapat tercapainya suatu keberhasilan industri pembibitan dalam memproduksi DOC yang berkualitas. PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk.
Hatchery-Tanralili yang merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang pembbitan melakukan proses penetasan dengan berbagai tahan, seperti proses penerimaan telur, seleksi telur (grading), fumigasi, penyimpanan telur, pre warming, setter, transfer telur tetas dan candling, hatcher dan pull chick yang tentunya dilakukan sesuai dengan aturan atau SOP yang berlaku sehingga dapat menghasilkan bibit yang baik.
B. Saran
Tatalaksana penetasan yang dilakukan oleh PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk. Hatchery-Tanralili sudah berjalan dengan baik, namun disarankan untuk memberikan edukasi kepada operator atau tenaga kerja yang bertugas agar sekirannya dapat melakukan tugasnya sesuai dengan SOP yang berlaku, selain itu kebersihan dan sanitasi harus terus ditingkatkan, terutama dalam mesin hatcher, untuk mencegah kontaminasi dan penyakit pada DOC.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul, H. B., Wire, B., dan Juliyantika, A. P. 2022. Pengembangan Rangkaian Mesin Penetas Telur Unggas. Jambura Journal of Electrical and Electronics Engineering. Vol. 4 No. 2 Juli 2022. ISSN : 2654-7813.
Aini, Lia, N., Aslimah., Putra, Dwi, P., MH, Achmad, Nurkhozin. 2019.
Pelaksanaan Biosecurity Pada Hatchery Pada Perusahaan Penetasan Telur Di Kabupaten Jombang.
Andri, M. I., Rudi, H., dan Anang, A. W. 2020. Klasifikasi Kelayakan Telur Ayam Ras (Broiler) Menggunakan Metode Naïve Bayes Classifier. Jurnal Terapan Sains & Teknologi. Vol. 2, No. 3, 2020.
Hariani, F., Pagala, M. P., & Aka, R. (2017). Karakteristik Telur Tetas Parent Stock Ayam Broiler yang di Fumigasi dan Tanpa di Fumigasi. J. Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis, 4(1), 6-12.
Iksan, Andri, M. Hariyanto, R. dan Widodo, Anang, Aris. 2020. Klasifikasi Kelayakan Telur Ayam Ras (Broiler) Menggunakan Metode Naïve Bayes Classifier. Jurnal Terapan Sains dan Teknologi. Malang
Irsan, R. 2021. Manajemen Penanganan Telur Tetas (Hatching Egg) Di Pt.
Karya Indah Pertiwi Tasikmalaya Jawa Barat. Program Studi Paramedik Veteriner Sekolah Vokasi, Institut Pertanian Bogor, Bogor, Jawa Barat JAKARIA, A., dan SARENGAT, W. (2016). Tatalaksana Penanganan Telur
Tetas di Hatchery PT. Setia Terang Bersinar, Semarang. (Pembimbing:
WARSONO SARENGAT) (Doctoral dissertation, Fakultas Peternakan Dan Pertanian Undip).
Karmila, Putri. 2016. Teknologi Penetasan Dan Pemuliaan Ternak Unggas.
Universitas Andalas. Padang.
Monica, P. I., Kartika Y. T., Ali, S., Body S. P., dan Istiadi. 2018. Aplikasi Pemantau Suhu Mesin Penetas Telur Berbasis Iot Android. Seminar Nasional Hasil Riset. Plication of Science and Technology (CIASTECH 2018) Universitas Widyagama Malang. ISSN : 2622- 1276.
Nasruddin & Z. Arif. (2014). Analisis perubahan temperatur dan kelembapan relatif pada inkubator penetas telur yang menggunakan fan dan tidak menggunakan fan. Jurnal Ilmiah Jurutera, Vol. 01. No. 01 (031-035).
Palaka, K. M. (2019). ASSESSING HATCHERY PRACTICES (Doctoral dissertation, School of the Environment, Duke University). Durham Pambudi, R. I. (2012). Manajemen Penetasan Ayam Broiler Di PT. Super
Unggas Jaya, Pasuruan.
Pambudi, Raditya. I. 2021. Manajemen Penetasan Ayam Broiler di PT. Sumber Unggas Jaya. Pasuruan. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Perdana, R. A. (2022). TA: TATALAKSANA PULL CHICK DI PT KERTA MULYA SEJAHTERA HATCHERY DESA KERTA JAYA KECAMATAN RUMPIN KABUPATEN BOGOR JAWA BARAT (Doctoral dissertation, Politeknik Negeri Lampung).
Priyatmo, R. (2017). Fumigasi Arsip Standar Dan Prosedur Pelaksanaan Fumigasi Arsip. Jurnal Kearsipan, 12(2), 203-220.
Pujianto, Eko. 2021. Manajemen Telur Tetas. Peternakan. Politeknik Negri Lampung.
Quanta, R., T. Kurtini., & Riyanti. (2016). Pengaruh larutan jeruk nipis dan gula pada dosis berbeda sebagai bahan penyemprot terhadap daya tetas telur itik tegal. Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu. Vol. 4(2): 143-148.
Rahmawati, Dwi, Fitri., Arifin, Mukh dan Sihite, Mikael. 2021. Pengaruh Letak Telur Pada Mesin Tetas Terhadap Presentase Fertilitas, Kematian Embrio dan Dead in Shell. Prosiding Seminar Nasional Pembangunan dan Pendidikan Vokasi Pertanian. Politeknik Pembangunan Pertanian Monokowari
Rodhi, M.Z., D. Syauqy, G.E. Setyawan. (2018). Sistem penentu suhu dan kelembaban incubator telur unggas berdasarkan berat dan warna telur menggunakan metode fuzzy. Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi Dan Ilmu Komputer. Vol.2, No. 12: 7320-7311.
Subakti, Edi, Permana., Putra, Andika dan Hakim, Tharmizi. 2022. Analisa Pengaruh Iklim Daratan Tinggi Dan Rendah Terhadap Performa Ayam Broiler. Jurnal Ilmu Teknologi Ternak Unggul. Universitas Pembangunan Panca Budi.
Swacita, I. Bagus, 2017. Bahan Ajar Kesehatan Masyarakat Veteriner.
Biosekuriti. Bali : Universitas Udayana.
Wakhid, A. (2016). Membuat Sendiri Mesin Tetas Praktis. AgroMedia. Jakarta Wirapartha, M., dan Dewi, G. A. M. K. 2017. Manajemen Penetasan [Bahan
Ajar]. Fakultas Peternakan, Universitas Udayana. Denpasar.
ZAMRUDI, Muhammad Ulfi and MAHFUDZ, Luthfi Djauhari (2016) Manajemen Penanganan Telur Tetas Ayam Pembibit Broiler Di PT. Japfa Comfeed Unit Kalisaleh, Pemalang. Undergraduate thesis, Fakultas Peternakan Dan Pertanian Undip
LAMPIRAN
Gambar 1. Surat Jalan
Gambar 2. Proses Seleksi Telur (Grading)
Gambar 3. Ruang Fumigasi
Gambar 4. Ruang Penyimpanan Telur
Gambar 5. Proses Candling
Gambar 6. Ruang Penetasan Telur
Gambar 7. Proses Pull Chick
BIODATA KELOMPOK KUNJUNGAN
Nama : Umi Azizah Tahir
Nama Panggilan : Chico
Tempat Tanggal Lahir : Baroko, 18 Mei 2002
Alamat : Enrekang
Nama : Ikrima Qubailal Fajri
Nama Panggilan : Ikrima
Tempat Tanggal Lahir : Baebunta, 11 Agustus 2001
Alamat : Masamba
Nama : Dian wahyuningrum
Nama Panggilan : Dian
Tempat Tanggal Lahir : Soppeng, 23 Agustus 2002
Alamat : Soppeng
Nama : Ibnu Hajar
Nama Panggilan : Ibnu
Tempat Tanggal Lahir : Jeneponto, 10 September
Alamat : Jeneponto
Nama : Fachri Afdal Hidayat
Nama Panggilan : Fachri
Tempat Tanggal Lahir : 24 November 2000
Alamat : Makassar