BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG
Supervisi merupakan bagian keempat dari empat kegiatan proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh tim supervisor baik oleh kepala sekolah dan/atau pengawas pengawas. Keempat proses pembelajaran itu antara lain;
diawali dengan perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan pengawasan. Hal itu ditegaskan oleh PP 13/2015 perubahan atas PP 19/2005, pasal 19, ayat (3), “Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien”
Perencanaan proses pembelajaran dilakukan oleh kepala sekolah bersama dengan pendidik. Perencanaan itu berbentuk silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Pada pasal 20, PP 19/2005 ditegaskan,“Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar”.
Pelaksanaan proses pembelajaran dilakukan oleh pendidik berdasarkan perencanaan proses pembelajaran. Wujudnya nyatanya adalah peristiwa di ruangan belajar dan pemberian tugas terstruktur dan tugas mandiri kepada peserta didik. Peristiwa di kelas meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Penilaian proses dan hasil belajar di SMP “Al-Islam” Krian dilakukan oleh guru dan sekolah. Wujud nyata penilaian itu adalah ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan semester, dan ulangan kenaikan kelas. Pengawasan dilakukan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah. Wujud dari pengawasan itu adalah pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjut.
Keempat kegiatan proses pembelajaran itu merupakan satu kesatuan dengan penanggung jawab yang jelas. Perencanaan merupakan dasar utama dari
semua kegiatan. Perencanaan yang benar diasumsikan bermuara kepada pelaksanaan yang benar. Perencanaan dilakukan oleh kepala sekolah dan pendidik. Silabus mata pelajaran dan silabus muatan lokal disusun oleh guru bersama timnya yang diketuai oleh kepala sekolah. Jika silabus belum memenuhi standar yang diharuskan, penanggung jawabnya adalah kepala sekolah. Selain itu, silabus merupakan perangkat kurikulum yang kategori tanggung jawabnya berada di tangan kepala sekolah. Lagi pula, di dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), silabus merupakan dokumen dua kurikulum, sedangkan penanggung jawab penyusunan kurikulum di sekolah adalah kepala sekolah.
Recana pelaksanaan pembelajaran (RPP) disusun oleh guru berdasarkan karakteristik peserta didik yang berada di kelasnya. Penyusunan RPP pada dasarnya dilakukan secara individu, meskipun tidak dilarang secara berkelompok.
Jika RPP yang bermasalah berarti yang beratanggung jawab adalah guru. Jadi di dalam perencanaan proses pembelajaran sudah terlihat dikotomus (pemisah) tanggung jawab antara kepala sekolah dengan guru. Silabus tanggung jawab kepala sekolah dan RPP tanggung jawab guru.
Pelaksanaan proses pembelajaran oleh guru, bertumpu kepada perencanaan yang disusun oleh sekolah dan guru. Kegiatan ini berangkat dari keberadaan silabus dan RPP. Pelaksanaannya akan terlihat nyata di ruang kelas, dalam bentuk interaksi dengan peserta didik, dan dalam suasana yang menyenangkan. Seperti yang ditegaskan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, pasal 19, ayat (1) tentang Standar Nasional Pendidikan seperti berikut ini. “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”.
Penilaian proses dan hasil belajar pada tataran satuan pendidikan dilakukan oleh guru, sekolah, dan pemerintah. Pada tataran sekolah hal itu dilakukan oleh guru dan sekolah. Penegasan itu termaktub pada PP 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 63, ayat (1) sepeti berikut ini. “ Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: (a)
penilaian hasil belajar oleh pendidik; (b) penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan; dan (c) penilaian hasil belajar oleh Pemerintah.” Lebih lanjut rincian dari pasal 63 ayat (1) ini diuraikan secara rinci di dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan.
Perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian dalam proses pembelajaran perlu diawasi. Hal itulah yang keempat, yakni pengawasan proses pembelajaran.
Bahan sajian sederhana ini berbicara tentang pengawasan proses pembelajaran.
Pembahasan akan dilakukan dengan sistematika berpikir seperti berikut ini. (1) ruang lingkup kerja kepengawasan; (2) program atau perencanaan pengawasan;
(3) pelaksanaan, pelaporan, dan tindaklanjut kegiatan kepengawasan. Dengan tiga sistematika berpikir itu, diharapkan bahan ini dapat dijadikan sebagai landasan berpikir untuk melaksanakan kegiatan kepengawasan pada sekolah baik oleh pengawas sekolah maupun oleh kepala sekolah.
2. DASAR HUKUM
a. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
b. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 13 tahun 2015 perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
c. Permendiknas RI Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah.
d. Permendiknas RI Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Komptensi Guru.
e. Permendikbud RI No. 28 tahun 2016 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan.
f. Permendikbudristek RI No. 21 Tahun 2022 Tentang Standar Penilaian pada PAUD, Jenjang Dikdas, dan Jenjang Dikmen
g. Permendikbudristek RI No. 16 Tahun 2022 Tentang Standar Proses pada PAUD, Jenjang Dikdas, dan Jenjang Dikmen
h. Permendikbudristek RI No. 7 Tahun 2022 Tentang Standar Isi pada PAUD, Jenjang Dikdas, dan Jenjang Dikmen
i. Permendikbudristek RI No. 5 Tahun 2022 Tentang SKL pada PAUD, Jenjang Dikdas, dan Jenjang Dikmen
3. TUJUAN
a. Untuk mengetahui kompetensi guru dalam membuat persiapan atau perencanaan pembelajaran di dalam kelas.
b. Untuk mengetahui kemahiran dan ketepatan dalam memilih pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran sesuai dengan bahan ajar yang akan disampaikan kepada peserta didik.
c. Untuk mengetahui kompetensi guru sebagai tenaga profesional dalam melaksanakan proses pembelajaran di dalam kelas, misalnya dalam membuka proses pembelajaran, apersepsi, penguasaan kelas, kegiatan inti yang meliputi eksplorasi,elaborasi, dan konfirmasi, teknik bertanya dan sebagainya sampai pada kegiatan akhir atau evaluasi.
d. Untuk mengetahui kompetensi guru dalam mengembangkan intrumen penilaian dalam melaksanakan evaluasi, baik evaluasi selama proses pembelajaran atau evaluasi hasil belajar.
e. Untuk mengetahui kemampuan guru dalam memberikan tindak lanjut pembelajaran kepada peserta didik.
f. Untuk mengetahui kelengkapan administrasi pembelajaran yang diperlukan dalam rangka melaksanakan tugasnya sebagai seorang tenaga profesional di bidang pendidikan.
4. MANFAAT
a. Guru yang disupervisi akan mengetahui kelemahan dan kekurangan dalam rangka membuat perencanaan pembelajaran.
b. Guru yang bersangkutan dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan yang ia miliki dalam rangka melaksanakan proses pembelajaran di dalam kelas.
c. Guru yang bersangkutan akan mengetahui kelemahan dan kekurangannya dalam merencanakan dan mengembangkan instrumen penilaian pembelajaran.
d. Sebagai bahan introspeksi pada diri pribadi seorang guru, bahwa tugas profesional sebagai pendidik itu sangat pelik dan kompleks sehingga akan menjadi motivasi untuk selalu menambah dan meningkatkan wawasan serta pengetahuan.
BAB II
RUANG LINGKUP SUPERVISI KELAS
Ada lima lingkup kerja kepengawasan proses pembelajaran. Kelima lingkup itu adalah pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjut.
Hal itu tertuang di dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan kebudayaan Nomor 22/2016 tentang Standar Proses seperti berikut ini.
Pertama, Pemantauan proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran. Pemantauan dilakukan dengan cara diskusi kelompok terfokus, pengamatan, pencatatan, perekaman, wawancara, dan dokumentasi. Kegiatan pemantauan dilaksanakan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah.
Kedua, Supervisi proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran. Supervisi pembelajaran diselenggarakan dengan cara pemberian contoh, diskusi, pelatihan, dan konsultasi. Kegiatan supervisi dilakukan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah.
Ketiga, Evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan, mencakup tahap perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran. Evaluasi proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara: a) membandingkan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan standar proses; b) mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan kompetensi guru; dan c) Evaluasi proses pembelajaran memusatkan pada keseluruhan kinerja guru dalam proses pembelajaran.
Keempat, Hasil kegiatan pemantauan, supervisi, dan evaluasi proses pembelajaran disusun dalam bentuk laporan dan untuk kepentingan tindak lanjut pengembangan keprofesionalan guru secara berkelanjutan.
Kelima, Tindak lanjut hasil pengawasan dilakukan dalam bentuk : a) Penguatan dan penghargaan diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar dan b) pemberian kesempatan kepada Guru untuk mengikuti pelatihan/penataran lebih lanjut.
Kelima lingkup (pematauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjut) kepengawasan merupakan kegiatan yang berentetan. Ada hubungan hierarkis dari lima kegiatan itu. Kegiatan diawali dengan pemantauan. Hal yang dipantau adalah perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran.
Hasil pemantauan itu tampil dalam wujud data berupa kondisi riil, kenyataan yang sebenarnya, dan fakta autentik. Hasil pematauan itu bisa berupa catatan, rekaman, dan dokumentasi. Untuk mendapatkannya dilakukan dengan berbagai cara atau teknik. Tentu saja cara dan teknik itu memerlukan instrument pemantauan.
Instrumen itu pada hakikatnya adalah instrumen pengumpulan data, informasi, dan fakta tentang kondisi riil dari perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran.
Data atau informasi yang diperoleh melalui pemanantauan diolah dan ditafsirkan agar bermakna. Hasil penafsiran terhadap data atau informasi tersebutlah memerlukan tindakan selanjutnya. Jika data mengatakan bahwa perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran telah memenuhi standar, tentu pengawas (kepala sekolah dan pengawas sekolah) berupaya untuk mengembangkan ke tingkat yang lebih tinggi di atas standar. Kalau data menyatakan belum memenuhi standar, upaya yang dilakukan adalah meningkatkannya menjadi standar. Kegiatan-kegiatan itulah yang dilakukan di dalam supervisi. Jadi, supervisi hanya dapat dilakukan jika ada data dan informasi bermakna dari hasil pemantauan.
Supervisi pendidikan (akademik dan menejerial) menurut Depdiknas (2009) adalah kegiatan yang berurusan dengan perbaikan dan peningkatan proses dan hasil belajar serta pengelolaan sekolah (satuan pendidikan). Inti dari kegiatan supervisi adalah perbaikan dan peningkatan. Data yang diperoleh dari kegiatan pemantauan dijadikan landasan untuk melakukan supervisi (memperbaiki dan meningkatkan). Jika data menginformasikan hal yang kurang baik, kegiatan
supervisinya adalah memperbaiki. Kalau data menginformasikan hal yang telah baik, kegiatan supervisinya adalah meningkatkan.
Supervisi pembelajaran diselenggarakan dengan cara pemberian contoh, diskusi, pelatihan, dan konsultasi (Permendikbud No. 22/2016). Kegiatan supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah adalah kegiatan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan. Hal yang diperbaiki atau ditingkatkan adalah perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran.
Cara yang digunakan adalah dengan pemberian contoh, disksusi, pelatihan, dan konsultasi. Pemilihan cara ini tentu sangat ditentukan oleh keadaan dan kebutuhan guru. Bisa jadi seorang guru hanya membutuhkan contoh untuk meningkatkan kemampuan merencanakan, sedangkan guru yang lain membutuhkan diskusi, konsultasi, dan pelatihan. Selain itu, kiat kepala sekolah dan pengawas sekolah dalam mengemban tugasnya juga sangat berpengaruh terhadap pemilihan cara yang tepat.
Hal yang esensial dalam pemantauan adalah instrumen, pengumpulan data, pengolahan data, dan penafsiran data. Sedangkan di dalam supervisi hal esensialnya adalah penguasaan pengawas sekolah terhadap substansi perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran serta teknik (kiat) melakukan supervisi. Secara standar, perencanaan proses pembelajaran hanya dua, yakni silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Akan tetapi, sesuai dengan paradigma kurikulum, sekolah berhak menyusun dan melaksanakan kurikulum sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya.
Kepala sekolah sebagai supervisor akademik harus menguasai teknik atau cara melakukan supervisi. Cara melakukan supervisi terhadap guru A bisa berbeda dengan guru B, C, dan D. Hal itu sangat dipengaruhi oleh keadaan dan kebutuhan masing-masing guru. Hal yang tidak boleh diabaikan adalah karakteristik guru serta kultur atau budaya di kelas yang akan disupervisi. Jadi, seorang kepala sekolah selain mengenali bentuk dan jenis perencanaan proses pembelajaran juga sangat perlu memahami kultur yang berkaitan dengan proses pembelajaran.
Hal yang sama juga berlaku untuk pelaksanaan proses pembelajaran dan penilian porses serta hasil belajar. Setiap guru dan kelas memiliki
kekhasannya masaing-masing. Pengenalan dan pemahaman terhadap kondisi- kondisi ini akan dapat memperlancar tugas kepala sekolah dalam melakukan supervisi tehadap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran.
Menurut PP 13/2015 perubahan atas PP 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, “Evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan”. Permendiknas 22/2016 tentang Standar Proses menyatakan, “Evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan, mencakup tahap perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran”
Evaluasi dilakukan terhadap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran. Kegiatan evaluasi berlangsung setelah pelaksanaan supervisi. Jika pemantauan merupakan gambaran kondisi awal, supervisi adalah memperbaiki atau meningkatkan, dan evaluasi adalah menentukan kualitas.
Artinya untuk melihat apakah perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran telah memenuhi standar kualitas atau belum. Dengan demikian evaluasi berada pada tataran untuk melihat hasil supervisi.
Evaluasi proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara: (a) membandingkan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan standar proses; (b) mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan kompetensi guru (Permendiknas No.41/2007). Proses pembelajaran diatur dengan standar proses. Ketika evaluasi dilakukan, kegiatannya adalah membandingkan hal yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran dengan yang diamanatkan oleh standar proses. Jika memenuhi harapan standar proses berarti kinerja guru telah memenuhi standar. Selain itu juga dibandingkan dengan kompetensi guru seperti yang diamanatkan oleh Permendiknas No. 16/2007 tentang Kualifikasi dan Kompetensi Guru. Intinya adalah apakah guru telah memenuhi empat kompetensi (kepribadian, pedagogis, profesional, dan sosial) dalam melaksanakan proses pembelajaran. Jika sudah memenuhi itu berarti kompetensi sudah memadai, jika belum berarti perlu tindak lanjut.
Produk akhir dari evaluasi adalah gambaran keseluruhan kinerja guru dalam proses pembelajaran (merencanakan, melaksanakan, dan menilai). Dari produk itu akan terlihat guru yang telah memenuhi standar proses dan kompetensi dan guru yang belum memenuhi standar proses dan kompetensi. Dengan demikian kepala sekolah, pengawas sekolah, dan pemangku pendidikan memiliki peta yang jelas tentang kompetensi guru di sekolah itu.
Pelaporan hasil pengawasan merupakan bagian yang amat penting dari kegiatan pengawasan. Terlaksana tidaknya pengawasan sekolah teraktulisasi dalam laporan. Kegiatan kepengawasan dilaksanakan tetapi tidak ada laporan, dari kaca administrasi sama dengan tidak ada kegiatan. Selain itu, laporan adalah bentuk pertanggungjawaban pengelola pendidikan tehadap pemangku kepentingan. Hal yang tidak dapat diabaikan adalah, menyusun dan menyampaikan laporan adalah kewajiban bagi setiap orang yang diberi kepercayaan untuk melakukan kegiatan. Oleh karena itu, pelaporan adalah bagian yang amat penting dari kegiatan kepengawasan.
Substansi laporan kepengawasan adalah hasil pemantauan, hasil supervisi, dan hasil evaluasi. Seperi dijelaskan sebelumnya, antara pemantauan, supervisi, dan evaluasi proses pembelajaran memiliki hubungan hierarkis, hubungan atas bawah. Selain itu, di dalamnya ada data atau informasi yang bermakna. Hal yang dilaporkan adalah data atau informasi yang telah diberi makna oleh kepala sekolah. Data dan informasi itu diharapkan dapat dijadikan landasan untuk mengambil keputuan bagi pengampu pendidikan atau yang berkepentingan dengan pendidikan. Tentu saja, laporan ditata dalam bentuk sistematika yang sesuai dengan kaidah-kaidah laporan formal.
Bagian akhir dari kegiatan kepengawasan adalah tindak lanjut. Tindak lanjut yang dilakukan meliputi dua hal yakni: (a) penguatan dan penghargaan diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar dan (b) guru diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan/penataran lebih lanjut. Pada hakikatnya, tindak lanjut adalah kesinambungan dari kegiatan evaluasi. Hasil evaluasi menginformasikan guru yang memenuhi standard pendidikan dan yang belum memenuhi standar. Jadi, kegiatan pengawasan proses pembelajaran tergambar pada kegiatan akhir ini yakni tindak lanjut.
BAB III
KONSEP DASAR SUPERVISI PEMBELAJARAN
A. PRINSIP-PRINSIP SUPERVISI PEMBELAJARAN
Kepala sekolah sebagai supervisor dalam melaksanakan supervisi pembelajaran di sekolah harus menciptakan situasi dan relasi dimana guru-guru merasa aman dan merasa diterima sebagai subjek yang dapat berkembang sendiri.
Untuk itu supervisi pembelajaran yang dilaksanakan di SMP “Al-islam “ Krian berdasarkan data, fakta yang obyektif. Maka dalam melaksanakan supervisi pembelajaran harus bertumpu pada prinsip-prinsip berikut ini:
1. Prinsip Ilmiah (scientific) dimana kegiatan dilaksanakan berdasarkan data obyektif yang diperoleh dalam kenyataan pelaksanaan proses belajar mengajar menggunakan alat bantu seperti angket, observasi, dan percakapan pribadi. Dan kegiatan ini dilakukan secara sistematis, berencana dan kontinyu
2. Prinsip Demokratis yaitu menjunjung tinggi harga diri dan martabat guru bukan berdasarkan atasan dan bawahan tapi berdasarkan rasa kesejawatan;
3. Prinsip Kerja sama yaitu memberi support, mendorong, menstimulasi guru sehingga mereka merasa tumbuh bersama
4. Prinsip Konstruktif dan Kreatif yaitu menciptakan suasana kerja yang menyenangkan, bukan melalui cara-cara menakutkan.
B. MODEL SUPERVISI PEMBELAJARAN
Model atau pola supervisi pembelajaran yang diterapkan di SMP “Al- islam “ Krian adalah model supervisi yang bersifat ilmiah. Model supervisi ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut: a) dilaksanakan secara berencana dan kontinyu;
b) sistematis dan menggunakan prosedur serta teknik tertentu; c) menggunakan instrumen pengumpulan data; dan d) ada data yang obyektif yang diperoleh dari keadaan yang riil.
Dengan menggunakan check list lalu peserta didik menilai proses pembelajaran di kelas. Hasil penelitian diberikan kepada guru-guru sebagai umpan balik terhadap penampilan mengajar guru pada semester yang lalu, dan guru mengadakan perbaikan.
C. PENDEKATAN SUPERVISI PEMBELAJARAN
Supervisor semestinya membantu menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan profesi guru. Iklim atau suasana yang diciptakan harus bebas dari rasa takut, ancaman atau paksaan. Agar guru terhindar dari rasa takut, terancam atau paksaan maka supervisor perlu menggunakan pola pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik guru, dimana masing-masing guru memiliki kebutuhan dan karakteristik yang tidak sama.
Berikut ini tiga pendekatan supervisi pembelajaran yang dilakukan di SMP “Al-islam “ Krian :
1) pendekatan supervisi direktif, dimana supervisor berperan aktif sedangkan guru berperan pasif. Perilaku guru dinilai, dikritik berdasarkan standar kompetensi profesional yang telah ditetapkan.
Pendekatan ini sesuai jika diterapkan pada supervisi pembelajaran terhadap guru baru supaya mereka merasakan manfaatnya untuk memperbaiki perilaku mengajarnya
2) Pendekatan supervisi kolaboratif, posisi supervisor adalah sebagai pendengar yang baik dimana ia mendengarkan segala keluhan dan memberikan pujian kepada guru bilamana perlu. Jika supervisor memahami kebutuhan guru maka kemudian supervisor mendorong guru untuk memecahkan masalahnya sendiri, mendorong kegiatan kreatif dan eksperimen yang dilakukan guru. Dan guru bebas menerapkan
idenya karena mendapat dukungan dari sekolah. Supaya supervisi berjalan efektif maka supervisor dan guru harus bekerjasama dengan baik, guru senantiasa bersedia meminta bantuan supervisor untuk bersama-sama dalam melihat pekerjaan mereka di kelas
3) Pendekatan supervisi non direktif, supervisor membiarkan guru melakukan penemuan, menentukan langkah-langkah, mendorong inisiatif guru, melibatkan diri pada waktu dan jika diperlukan saja.
Pendekatan ini sesuai diterapkan terhadap guru yang sudah berpengalaman. Jika mereka diberi kebebasan maka lebih mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan supervisi pengajaran.
Perbaikan pengajaran mempunyai arti yang benar apabila guru melihat sendiri kebutuhan untuk merubah dan kemudian berusaha melaksanakannya, supervisor memberikan pengarahan sedikit mungkin.
D. TEKNIK SUPERVISI PEMBELAJARAN
Untuk mencapai tujuan supervisi yang telah ditentukan, maka seorang supervisor dapat menggunakan berbagai macam teknik. Berikut ini beberapa teknik supervisi yang diterapkan di SMP “Al-islam “ Krian:
1) Kunjungan kelas
Tujuannya adalah untuk mengamati atau mengetahui secara langsung guru dalam melaksanakan tugas utamanya mengajar, menggunakan alat peraga, metode dan teknik mengajar, untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar serta untuk memperoleh data yang diperlukan supervisor dalam menentukan cara- cara yang tepat untuk memperbaiki dan meningkatkan kondisi belajar mengajar serta merangsang guru agar mereka mau meningkatkan kemampuannya
2) Percakapan pribadi
Percakapan antara supervisor dengan seorang guru. Tujuannya adalah untuk saling mengenal lebih jauh antara supervisor dan guru baik secara pribadi maupun profesional, membantu guru mengenal kemampuan dirinya, membantu guru menyadari kelebihan dan kekurangannya
memupuk dan mengembangkan mengajar yang lebih baik, serta menghilangkan dan menghindari prasangka buruk antara supervisor dan guru.
E. PROSEDUR PELAKSANAAN SUPERVISI PEMBELAJARAN
Berikut ini prosedur pelaksanaan supervisi pembelajaran di SMP “Al- islam “ Krian :
1) Melaksanakan tugas berdasarkan program dan menggunakan instrumen;
2) Membangun hubungan kerja prasupervisi 3) Merencanakan supervisi bersama
4) merencanakan observasi 5) Mengobservasi pembelajaran 6) Menganalisis data hasil observasi
7) Merumuskan kesimpulan dan rekomendasi 8) Melaksanakan pertemuan evaluasi dan refleksi
9) Melaksanakan tindak lanjut perbaikan untuk siklus berikutnya 10) Menyusun laporan kepengawasan.
DIAGRAM ALUR SUPERVISI PEMBELAJARAN
merencanakan supervisi bersama
menganalisis data hasil observasi merencanakan observasi
mengobservasi pembelajaran
merumuskan kesimpulan dan rekomendasi
melaksanakan pertemuan evaluasi dan refleksi
melaksanakan tindak lanjut
perbaikan untuk siklus berikutnya Memberikan Reward bagi guru
menyusun laporan kepengawasan.
membangun hubungan kerja prasupervisi
Yes No
F. INDIKATOR PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF
Salah satu permasalahan mendasar yang dihadapi pendidikan di Indonesia saat ini adalah berkenaan dengan penyelenggaraan proses pembelajaran yang dipandang masih belum efektif. Indikasi ke arah sana tampak dengan adanya guru yang masih banyak terjebak dalam praktek pembelajaran yang cenderung membosankan bahkan membuat siswa menjadi tertekan.
Dalam berinteraksi dengan siswa, posisi guru terasa masih sangat dominan, sementara siswa cenderung berada dalam posisi yang tidak berdaya. Pendekatan dan metode pembelajaran yang digunakan tampak kurang bervariasi, biasanya hanya mengandalkan dalam bentuk ceramah yang membuat siswa menjadi malah terkantuk-kantuk.
Konsep pembelajaran seperti itu tampaknya tidak relevan lagi dengan tuntutan dan tantangan pendidikan saat ini. Oleh karena itu Departemen Pendidikan Nasional menawarkan konsep pembelajaran yang efektif, dengan ciri- ciri sebagai berikut:
1. Pembalikan Makna Belajar, diartikan sebagai proses membangun makna/pemahaman terhadap informasi dan pengalaman siswa. proses membangun makna dapat dilakukan sendiri oleh siswa atau bersama orang lain. Mengajar merupakan partisipasi guru dalam membangun pemahaman siswa. partisipasi tersebut dengan bertanya secara kritis, meminta kejelasan, atau menyajikan situasi yang bertentangan dengan pemahaman siswa, sehingga mereka terdorong untuk memperbaiki pemahamannya. Partisipasi guru harus selalu menempatkan pembangunan pemahaman itu adalah tanggung jawab siswa itu sendiri. misalnya bila siswa bertanya tentang
menyusun laporan kepengawasan.
sesuatu, maka pertanyaan itu harus selalu dikembalikan dulu kepada siswa lain sebelum guru menjawabnya.
2. Berpusat pada Siswa
Siswa memiliki perbedaan satu sama lain. siswa berbeda dalam minat, kemampuan, kesenangan, pengalaman, dan cara belajar. siswa tertentu lebih mudah belajar dengan mendengar, siswa lain lebih mudah dengan melihat, siswa lain lagi dengan cara kinestetika ( gerak), kegiatan pembelajaran, organisasi kelas, materi pembelajaran, waktu, ciri KBM yang menunjang pencapaian kompetensi individual, alat belajar, dan cara penilaian perlu beragam sesuai dengan karakteristik siswa. KBM perlu menempatkan siswa sebagai subjek belajar, artinya kbm memperhatikan bakat, minat, kemampuan, cara dan strategi belajar, motivasi belajar, dan latar belakang sosial siswa. KBM perlu mendorong siswa mengembangkan potensinya secara optimal.
3. Belajar dengan Mengalami
KBM perlu menyediakan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari dan atau dunia kerja yang terkaiat dengan penerapan konsep, kaidah dan prinsip ilmu yang dipelajari. karena itu semua siswa siswa diharapkan memperoleh pengalaman lansung melalui pengalaman indrawi yang memungkinkan mereka memperoleh informasi dari melihat, mendengar, meraba, mencicipi, dan mencium. Topik yang tidak mungkin disediakan pengalaman nyata, guru dapat menggantikannya dengan model atau situasi buatan dalam wujud simulasi. jika hal ini tidak mungkin juga maka guru dapat menggantikannya dengan alat audio-visual (dengar pandang) ini adalah pilihan terakhir.
4. Mengembangkan Keterampilan Sosial, Kognitif, dan Emosional.
Siswa lebih mudah membangun pemahaman apabila dapat mengkomunikasikan gagasannya kepada siswa lain, guru/
instruktur. Dengan kata lain membangun pemahaman lebih mudah melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. Interaksi memungkinkan terjadinya perbaikan terhadap pemahaman siswa melalui diskusi, saling bertanya, dan saling menjelaskan. interaksi dapat ditingkatkan dengan belajar kelompok.
Penyampaian gagasan oleh siswa dapat mempertajam, memperdalam, memantapkan, atau menyempurnakan gagasan itu karena memperoleh tanggapan dari siswa lain atau guru. KBM perlu mendorong siswa untuk mengkomunikasikan gagasan hasil kreasi dan temuannya kepada siswa alain, guru, atau pihak-pihak lain terkait. Dengan demikian KBM memungkinkan siswa bersosialisasi dengan menghargai perbedaan (pendapat, sikap, kemampuan, prestasi) dan berlatih untuk bekerjasama.
Artinya KBM perlu mendorong siswa untuk empatinya sehingga dapat terjalin saling pengertian dengan menyelaraskan pengetahuan dan tindakannya.
5. Mengembangkan Keingintahuan, Imajinasi, dan Fitrah Ber-Tuhan.
Siswa dilahirkan dengan memiliki rasa ingin tahu, imajinasi, dan fitrah ber- tuhan. Rasa ingin tahu dan imajinasi merupakan modal dasar untuk bersikap peka, kritis, mandiri, dan kreatif. Rasa fitrah ber-tuhan merupakan embrio atau cikal bakal bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. KBM perlu mempertimbangkan rasa ingin tahu, imajinasi, dan fitrah ber-tuhan agar setiap sesi kegiatan pembelajaran menjadi wahana untuk memberdayakan ketiga jenis potensi ini.
6. Belajar Sepanjang Hayat. Siswa memerlukan kemampuan belajar sepanjang hayat untuk bisa bertahan (survive) dan berhasil (sukses) dalam menghadapi setiap masalah sambil menjalani kehidupan sehari-hari karena itu siswa memerlukan fisik dan mental yang kokoh. KBM perlu mendorong siswa untuk dapat melijhat dirinya secara positif, mengenali dirinya baik kelebihan maupun kekurtangannya untuk kemudian dapat mensyukuri apa yang telah dianugrahkan Tuhan Yang maha Esa kepadanya. Karena itu KBM perlu membekali siswa dengan keterampilan belajar yang meliputi pengembangan rasa percaya diri, keingintahuan, kemaampuan memahami orang lain, kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama supaya mendorong dirinya untuk senantiasa belajar baik secara formal di sekolah maupun secara informal di luar kelas.
7. Perpaduan Kemandirian dan Kerjasama. Siswa perlu berkompetisi, bekerjasama, dan mengembangkan solidaritasnya. KBM perlu memberikan
kesempatan kepada siswa ciri kbm yang menunjang pencapaian kompetensin individual mengembangkan semangat berkompetensi sehat untuk memperoleh penghargaan bekerjasama dan solidaritas. KBM perlu menyediakan tugas-tugas yang memungkinkan siswa bekerja secara mandiri.
G. TINDAK LANJUT HASIL SUPERVISI PEMBELAJARAN
Tindak lanjut adalah bagian terakhir dari kegiatan pengawasan proses pembelajaran. Tindak lanjut merupakan justifikasi, rekomendasi, dan eksekusi yang disampaikan oleh supervisor kepada guru yang menjadi sasaran kepengawasannya. Seperti diuraikan sebelumnya, ada dua alternatif tindak lanjut yang diberikan terhadap guru. Kedua tindak lanjut itu adalah:
1. Penguatan dan penghargaan diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar.
Penghargaan bagi guru yang telah memenuhi standar perlu diberikan. Hal itu akan membedakan antara guru yang berkompetensi standar dengan yang belum standar. Bentuk penghargaan yang diberikan disesuaikan dengan kondisi sekolah dan
2. Guru diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan/penataran lebih lanjut.
Setelah melaksanakan kegiatan supervisi pembelajaran maka supervisor mempelajari catatan-catatan yang telah ditulisnya dan mengkomunikasikan catatan-catatan tersebut dengan guru yang bersangkutan melalui percakapan pribadi. Melalui komunikasi dua arah maka supervisor bisa memahami kelebihan dan kekurangan guru dalam proses belajar mengajar serta masalah yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran, sehingga supervisor bisa membantu memberikan solusi dalam pemecahan masalah yang dihadapi guru. Guru juga bisa menyampaikan masalah yang dihadapi kepada supervisor serta meminta bantuan dalam menyelesaikan masalahnya dalam proses belajar mengajar sehingga guru dapat melakukan perbaikan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Setelah mengkomunikasikan catatan-catatan selama pelaksanaan supervisi pembelajaran kepada guru, maka supervisor melakukan analisa terhadap hasil supervisi guru tersebut. Hal-hal yang ditemui di dalam kelas dibandingkan
dengan acuan indikator-indikator Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang efektif.
Jika hasil analisa menunjukkan bahwa kemampuan mengajar guru tersebut mencapai prosentase lebih besar dari 80% maka guru tersebut dinyatakan memiliki kompetensi mengajar yang bagus/layak dan sebaliknya jika prosentasenya di bawah 80% maka guru tersebut harus diberi kesempatan memperbaiki kualitas pembelajarannya.
Perbaikan kualitas pembelajaran dapat dilakukan melalui beberapa cara berikut ini:
1) Melaksanakan Focus Group discussion (FGD) dengan rekan-rekan guru di sekolah maupun luar sekolah (MGMP) untuk membantu guru dalam meningkatkan mutu pembelajarannya
2) Mengajak guru untuk brainstorming dan pemodelan dalam FGD serta meminta guru senior untuk membantu memperbaiki RPP yang bermasalah, kemudian kepala sekolah juga menghadirkan narasumber dari pengawas atau pakar pendidikan untuk membantu guru memecahkan persoalannya, di samping kepala sekolah dan guru-guru menjadi model pembelajaran secara langsung agar guru lebih mengerti cara pembuatan serta aplikasi RPP di lapangan
3) Melaksanakan kegiatan supervisi akademik dengan kunjungan kelas lanjutan bagi guru yang melaksanakan proses belajar mengajar sesuai jadwal yang telah disusun dan disepakati bersama.
BAB IV
JADWAL SUPERVISI PEMBELAJARAN
Jadwal supervisi akademik tahun ajaran 2023/2024 disajikan seperti pada tabel berikut ini: