1. Apa pendapat kalian sebagai seorang dokter mengenai SDG untuk pencapaian tahun 2030?
Sustainable development goals (SDGs) merupakan kesepakatan universal untuk menuntaskan kemiskinan, menciptakan planet ini menjadi layak huni, dan memastikan semua orang menikmati kedamaian dan kemakmuran.1 Dalam mencapai tujuan tersebut, SDGs membentuk 17 tujuan dan 169 target yang diharapkan tercapai pada tahun 2030. Tujuh belas tujuan tersebut meliputi (1) Penghapusan kemiskinan; (2) Pengakhiran kelaparan; (3) Kesehatan yang baik dan kesejahteraan; (4) Pendidikan yang bermutu; (5) Kesetaraan gender; (6) Akses air bersih dan sanitasi; (7) Energi bersih dan terjangkau; (8) Pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonom; (9) Infrastruktur, industri dan inovasi; (10) Mengurangi ketimpangan; (11) Kota dan komunitas yang berkelanjutan; (12) Konsumsi dan produksi yang bertanggungjawab; (13) Penanganan perubahan iklim; (14) Menjaga ekosistem laut; (15) Menjaga ekosistem darat; (16) Perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang kuat; (17) Kemitraan untuk mencapai tujuan.2 SDGs diadopsi oleh semua negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi pada September 2015, untuk periode 2016- 2030 dengan prinsip terintegrasi dan tak terpisahkan, bersifat global dan dapat diterapkan secara universal oleh seluruh negara, baik itu berkembang maupun maju.2
Agenda SDGs adalah mewujudkan agar seluruh negara didunia dapat membangun suatu kerangka kerja yang holistic dan komprehensif meliputi segala aspek. Salah satunya adalah aspek kesehatan. Hampir seluruh tujuan SDGs mencakup aspek kesehatan karena idealnya, semua agenda SGDs harus berusaha dipenuhi oleh tiap negara untuk mencapai kesejahteraan secara umum, tetapi tujuan ke-3 SGDs secara spesifik membahas mengenai kesehatan dan kesejahteraan.2 Dalam hal ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa membawahi badan yang khusus mengkoordinasi kesehatan internasional secara umu, yaitu Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. Konstitusi WHO menyatakan bahwa
tujuan didirikannya WHO "adalah agar semua orang mencapai tingkat kesehatan tertinggi yang paling memungkinkan".3 Dalam melaksanakan fungsinya, WHO memerlukan kerjasama dengan tiap kementerian kesehatan pada negara anggota PBB. Hal ini tentu berkaitan dengan peran dokter-dokter di tiap negara. Dokter sebagai ujung tombak pelaksana praktik kedokteran dan kesehatan membantu pelaksanaan pencapaian SGDs dengan meningkatkan pelayanan kesehatan dari segi kualitas dan kuantitas. Sehingga, peningkatan kualitas kesehatan dan kesejahteraan yang berusaha dicapai di agenda SGDs pada 2030 merupakan tanggungjawab dokter dan pelayanan kesehatan.
2. Mengapa pengelolaan sampah di TPA Sukrawinatan masih belum sukses diolah. Bagiamana Health Risk Assesment yang bisa dilakukan dan apa tindakan yang harus dilakukan menurut pendapat anda.
Pengelolaan sampah tetap menjadi masalah yang mendesak di kota-kota besar, termasuk Palembang. Sampah tersebut banyak berasal dari penggunaan sehari-hari dari rumah tangga atau domestic waste. TPA (tempat pembuangan akhir) kota Palembang beroperasi sejak tahun 1994 selama ini menggunakan sistem Open Dumping (sistem tumpuk). TPA Sukawinatan juga direncanakan untuk menerapkan controled landfill namun selama ini pelaksanaannya masih belum efektif.4 Berat timbulan sampah pada TPA sukawinatan rata-rata 1,071 kg/KK/hari.5 Kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pengelolaan sampah menyebabkan tanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan sangat rendah terbukti dengan banyaknya timbulan TPS ilegal di Kota Palembang.6
Suksesnya pengelolaan sampah, bukan hanya didasarkan pada aspek teknis saja, tetapi juga mencakup aspek-aspek nonteknis. Untuk menjalankan sistem pengelolaan yang baik, perlu melibatkan berbagai disiplin ilmu, seperti teknik sipil, perencanaan kota, ekonomi, kesehatan masyarakat, sosiologi, komunikasi, konservasi, dan lain-lain. Salah satu penyebab belum efektifnya pengelolaan sampah di TPA Sukawinatan adalah penggunaan sistem Open Dumping yaitu sampah dibuang begitu saja di TPA sehingga sampahnya
menggunung.7 Penggunaan sistem ini selain tidak efektif juga berpotensi menyebabkan beberapa masalah kesehatan dan bencana bagi penduduk sekitarnya. Selain itu di TPA Sukawinatan belum ada pengolahan lecheate dan IPLT. Luas TPA Sukawinatan juga hanya sekitar 25 Ha, dianggap tidak sebanding dengan produksi sampah masyakrat palembang. Mengganti sistem pengolahan sampah TPA dari Open dumping menjadi sanitary landfill seharusnya dapat memperbaiki kualitas pengolahan sampah di TPA. Selain itu, pembebasan lahan pemukiman disekitar TPA untuk menambah luas TPA dapat berguna untuk menambah fasilitas pengolahan sampah berserta limbah leachate nya, dan sekaligus menjauhkan penduduk dari TPA.
Health Risk Assesment 1. Anticipation
a. Potensi domestic waste yang mengandung Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) seperti pestisida, baterai, lampu listrik, pemutih pakaian, pembersih lantai, dan sisa obat yang tak terpakai dapat mengancam kesehatan, baik manusia maupun lingkungan.
b. Tercampurnya sampah-sampah organic dan anorganik
c. Sistem open dumping yang berpotensi mencemari lingkungan tanah, air, dan udara.
d. Sistem open dumping berpotensi terjadinya bencana longsong e. Belum adanya sistem pengelolaan lechaete dan IPLT
f. Pemukiman penduduk yang bersebelahan langsung dengan TPA.8 2. Recognition
a. Chemical Hazard
• Penumpukan sampah, khususnya di TPA menghasilkan gas metana (CH4) dan gas hydrogen sulfida (H2S) yang dapat terkumpul diudara sebagai efek rumah kaca.8
• Penumpukan sampah akan mencemari air tanah di lingkungan sekitar TPA
b. Biological Hazard
• Air lindi (leachate) yang langsung dibuang ke lingkungan menyebabkan pencemaran lingkungan dengan adanya mikroorgansime yang berpotensi menyebabkan penyakit
c. Psychosocial Hazard
• Penumpukan sampah menyebabkan ketidaknyamanan penduduk sekitar
3. Evaluation
• Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2017 Tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan Dan Persyaratan Kesehatan Air Untuk Keperluan Higiene Sanitasi, Kolam Renang, Solus Per Aqua, Dan Pemandian Umum
• Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI No.
P.59/Menlhk/Setjen/Kum.1/7/2016 tentang Baku Mutu Lindi Bagi Usaha dan/Atau Kegiatan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
• Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor 03/Prt/M/2013
• KepMen LH No.50 Tahun 1996 Tentang Baku Tingkat Kebauan
4. Control
• Eliminasi
Mengeliminasi seluruh potensi hazard sulit dilakukan
• Substitusi
Mengganti sistem open dumping menjadi sistem yang lebih ramah lingkungan seperti sanitary landfill.
• Isolasi
Membuat perbatasan yang baik antara pemukiman penduduk dan TPA
• Engineering control atau design
Beberapa hal dapat dilakukan, seperti meningkatkan kualitas dumping truck dengan muatan sampah yang lebih besar, serta pengelolaan air leachate yang harus diolah terlebih dahulu..
• Administrative control
• Penjadwalan dumping truck dibuat lebih teratur dengan tujuan tidak ada lagi penumpukan dan pengangkutan sampah yang baru dilakukan per sekian hari.
• Personal protective equipment
Pekerja yang bekerja dan lama berada di area TPS dan TPA wajib menggunakan masker agar terlindungi dari bau gas busuk dari sampah, menggunakan sepatu boot, sarung tangan, lengan panjang, serta topi agar cairan sampah maupun hazard dari sampah lainnya tidak mengenai pekerja.
Referensi
1. Morton S, Pencheon D, Squires N. Sustainable Development Goals (SDGs), and their implementation. British Medical Bulletin. 2017.
2. United Nations. The Sustainable Development Goals Report. United Nations Publ. 2017;
3. World Health Organization. Constitution Of The World Health Organization. 2006. 1–18 p.
4. Badan Lingkungan Hidup Kota Palembang ,2013. Profil Pengelolahan
Persampahan Kota Palembang. Palembang
5. Hendrik J. Evaluasi sistem pengelolaan sampah padat domestik di kota palembang tahun 2017. Demography Journal of Sriwijaya Volume 2.
2018;p 2355-4738
6. Zulkifli H. Kualitas Lingkungan Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Sukajaya Kota Palembang. Pascarjana Pengelolaan Lingkungan.
Universitas Sriwijaya. Palembang. 2008
7. Yulia H. Perbandingan Sistem Pengelolaan Sampah Di Indonesia Dan Korea Selatan: Kajian 5 Aspek Pengelolaan Sampah. Direktorat Pengembangan PLP. 2016
8. Sudarman. Meminimalkan Daya Dukung Sampah Terhadap Pemanasan Global. Profesional. 2010;8(1):51–9.