TABUNGAN DAN TALANGAN HAJI
Pendahuluan
Maraknya tren talangan haji di kalangan Bank Syariah menjadi daya tarik tersendiri pada masyarakat yang berminat untuk melaksanakan ibadah haji. Indonesia merupakan salah satu negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam kurang lebih sebanyak 237.641.326 jiwa.
Oleh karena itu, banyak penduduk muslim Indonesia yang ingin menunaikan ibadah haji untuk menyempurnakan rukun Islam yang ke-5. Ibadah haji termasuk ibadah yang membutuhkan biaya relatif tinggi, setidaknya untuk muslim Indonesia. Kurang lebih untuk saat ini harta senilai tiga puluh juta harus dipersiapkan untuk pembiayaan ibadah haji. Dana yang sebesar itu tentu bukanlah jumlah yang sedikit, sehingga tidak semua orang bisa melaksanakannya, hanya orang-orang tertentu yang sudah dikatakan berkemampuan (sanggup) dapat melaksanakan ibadah haji.
Sanggup mengadakan perjalanan berarti menyangkut kesanggupan fisik, materi, maupun rohani. Ketiganya merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh seorang muslim yang hendak melaksanakan ibadah haji. Bila syarat tersebut belum terpenuhi, maka gugurlah kewajiban untuk menunaikannya. Sanggup juga bisa diartikan orang yang sanggup mendapatkan pembekalan dan alat-alat pengangkutan serta sehat jasmani dan perjalanan yang aman.
Abdul Aziz dan Kustini (2007: 12) mengemukakan, bahwa menunaikan ibadah haji merupakan kewajiban dan harus dilakukan oleh setiap muslim yang mampu (istitha’ah) mengerjakan sekali seumur hidup. Berdasarkan hal tersebut Islam tidak mewajibkan seluruh umatnya untuk menunaikan ibadah haji. Islam hannya menyerukan kepada umat Islam yang mampu dan sanggup menunaikannya baik secara materi maupun bekal kemantapan haji.
Pada kenyataannya yang terjadi sekarang ini, masyarakat dapat berangkat menunaikan ibadah haji dengan dana yang terbatas. Adanya kebiasaan masyarakat ini maka bank syariah mengambil inisiatif dengan mengeluarkan produk penyaluran dana talangan haji. Dalam produk dana talangan haji ini, Kementrian Agama bekerjasama dengan Pihak Bank. Program dana talangan haji ini akan menimbulkan banyaknya “jamaah fiktif” karena mereka sudah memperoleh nomor porsi sebelum benar-benar memiliki tabungan Rp 23 juta. Akibatnya,
pemerintah kesulitan mem prediksi secara riil jumlah jamaah yang benar-benar akan berangkat ke Tanah Suci.
Pihak bank dimungkinkan memanfaatkan kesempatan ini untuk memperoleh “fee” sebanyak- banyaknya dari Kementrian Agama. Kini Kementrian Agama telah memotong “permainan”
bank yang membuka peluang adanya dana talangan haji tersebut, dengan cara semua calon haji yang telah memperoleh porsi kuota biayanya harus langsung disetor ke rekening Kementrian Agama (Suara Merdeka, 29/3).
Pembiayaan talangan haji merupakan pinjaman dari bank syariah kepada nasabah untuk menutupi kekurangan dana guna memperoleh kursi (seat) haji pada saat pelunasan BPIH (Biaya Perjalanan Ibadah haji). Dana talangan ini dijamin dengan deposit yang dimiliki oleh nasabah. Nasabah kemudian wajib mengembalikan sejumlah uang yang dipinjam itu dalam jangka waktu tertentu.
Produk pembiayaan ini menggunakan prinsip Qardh wal Ijarah. Dana talangan haji pernasabah dikenakan fee ujrah pertahun yang mana setiap paket jumlah nilai fee ujrah per tahun berbeda- beda. Dalam akad Qardh wa Ijarah, obyek akadnya adalah jasa Qardh dengan mensyaratkan tambahan imbalan. Penggunaan Akad Qardh pada pembiayaan talangan haji oleh bank syariah pada dasarnya adalah pinjaman kebajikan atau lunak tanpa imbalan. Bank syariah tidak mengambil keuntungan dari akad ini, tetapi bank mengambil keuntungan dari penggunaan akad ijarah, dengan mengambil upah jasa (fee ujrah) dari biaya-biaya administrasi pengurusanhaji.
Apakah jenis pembiayaan yang dijalankan bank syariah ini sesuai dengan prinsip kedua akad tersebut, padahal bank merupakan salah satu lembaga profit yang senantiasa mengambil keuntungan pada setiap transaksi yang dijalankan.
Di sisi lain, masyarakat memandang adanya pembiayaan dana talangan haji sebagai alternatif yang cukup menarik untuk mengatasi masalah sulitnya berhaji, baik karena faktor pendanaan yang belum mencukupi maupun karena terbatasnya kuota haji yang tersedia untuk calon jamaah haji di Indonesia. Namun di sisi lain, diduga ada unsur riba dalam praktek pengambilan fee ujroh pada dana talangan haji. Hal ini karena praktek dana talangan haji mengharuskan calon jamaah haji membayar sejumlah uang lebih daripada yang dipinjamnya.
Berdasarkan penjabaran singkat di atas, maka dalam penelitian ini dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
(1) Bagaimana pandangan hukum Islam terhadap pembiayaan dana talangan haji yang marak di kalangan masyarakat;
(2) Apakah fee ujrah pada akad dana talangan haji pada bank syariah tersebut diperbolehkan dalam pandangan hukum Islam.
Pelaksanaan Pembiayaan Dana Talangan Haji
Pembiayaan dana talangan haji merupakan pinjaman dari bank syariah yang diberikan pada nasabah yang bermanfaat untuk menutup kekurangan dana guna memperoleh kursi (seat)pada saat pembayaran BPIH (Biaya Perjalanan Ibadah Haji). Dalam pengajuan permohonan untuk mendapatkan dana talangan haji biasanya diberikan kepada nasabah yang sudah memiliki tabungan mabrur. Nasabah kemudian berkuajiban mengembalikan sejumlah uang yang dipinjam tersebut dengan cara mengangsur dalam waktu tertentu.
Beberapa tahap harus dilakukan untuk mendapatkan dana talangan haji. Pertama, nasabah mengisi form pembiayaan untuk mengajukan permohonan layanan pembiayaan dana talangan haji. Selanjutnya melengkapi beberapa berkas (Susana & Kartika, 2013). Selanjutnya membuka tabungan mabrur yang harus dibuat oleh nasabah sebelum mengajukan pembiayaan dana talangan haji. Setelah nasabah membuat tabungan mabrur, lalu dana talangan haji masuk ke rekening nasabah. Selanjutnya dapat digunakan untuk membayar biaya haji ke departemen agama. Ketiga, dalam pembiayaan dana talangan haji menggunakan akad al-qardhdan akad al-ijarah.
Akad Dalam Dana Talangan Haji
Akad mempunyai arti janji yang dibuat antara sesama manusia dalam kehidupan sehari –hari (Susana & Kartika, 2013). Akad adalah perjanjian nasabah dan bank. Adapun akad yang digunakan oleh bank syariah atas peminjaman dana talangan ini adalah al-qarddan al-ijarahsebagaimana yang tertuang dalm fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional) MUI nomor 29/DSN-MUI/IV/2002 tanggal 26 juni 2002.
Akad Al –Qardh,secara etimologis didefinisikan sebagai harta yang diberikan seseorang pemberi hutang kepada orang yang dihutangi utuk kemudian dia memberikan yang semisal/sepadan setelah mampu. Akad Al-qard merupakan jenis muammalah dalam bentuk hutang piutang/pinjam meminjam dengan landasan murni karena saling tolong -
menolong (ta’wun), dengan tujuan agar membantu memenuhi kebutuhan orang lain yang kekurangan.
Dalam akad al-qard tidak boleh mensyaratkan ada imbalan tertentu.Akadal-qarddigunakan olehbank syariah untuk perjanjian dengan nasabahyang menginginkan dana talangan haji untuk menutupi kekurangan dana saat membayar BPIH (Biaya Perjalanan Ibadah Haji). Akad ini berarti dana talangan yang dipinjam oleh nasabah yang harus dikembalikan pada bank sesuai dengan jumlah yang dipinjam dalam waktu yang telah ditentukan tanpa adanya tambahan apapun.
Al-Qardhini memberikan hal positif kepada nasabah karena tidak memberatkan nasabah dalam mengembalikan uang yang dipinjam. Selain itu juga membantu nasabah untuk membayar biaya haji sehingga mendapatkan kursi untuk menuaikan ibadah haji.
Dalam akad ini tidak ada keuntungan atau biaya tambahan yang didapatkan.
Akad Al-Ijarah menurut istilah berarti akad pengambilan manfaat dengan mengganti. Al- Ijarah sebagaiamana yang telah umum diketahui terbagi menjadi dua, yaitu ;
al-ijarah al-maal (sewa barang) dan al-ijarah al-‘amal(sewa jasa). Adapun akad al-ijarahpada pembiayaan dana talangan haji ini masuk dalam katagori akad al-ijarah al ‘amal(sewa jasa).
Dalam hal ini bank syariah menerapkan biaya administrasi/ujrahyang ditanggungkanpada nasabah dengan alasan jasa pengurusan untuk mendapatkan kursi/seathaji.
Dari uraian diatas secara garis besar disimpulkan bahwa akad al-qarddan dan akad al-ijarah adalah akad yang boleh dalam Syari’at Islam. Permasalahan yang muncul berikutnya adalah ketika dua akad tersebut digabungkan menjadi satu yakni akad (al-qard wal-Ijarah) sebagaimana yang digunakan oleh Lembaga Keuangan Syariah (LKS) saat melakukan akad dalam pembiayaan dana talangan haji.
Dua akad yang digabung didalam dana talangan haji ini lebih cenderung masuk pada wilayah pelarangan. Pertama, kedua jenis akad ini memiliki orientasi yang berbeda, dimana akad al-qard bertujuan untuk tabbarru’at merupakan akad sosial/kebajikan, tidak bertujuan untuk mencari keuntungan. Sedangkan akad al-ijarah bertujuan muawwadat merupakan akad komersial, untuk mendapatkan keuntungan. Sehingga jika digabungkan maka berpotensi menjadi riba karena merusak masing-masing tujuan dari akad tersebut.
Kedua, penggabungan akad al-qarddan al-ijarah berpotensi masuk pada pelarangan hadis Nabi saw,
ِ هاللَّ ُلوُس َر َلاَق :َلاَق ِهِ دَج ْنَع ِهيِبَأ ْنَع ٍبْيَعُش ِنْب ِو ِرْمَع ْنَع َو –
َلَ َو ٌعْيَب َو ٌفَلَس ُّل ِحَي َلَ« :ملسو هيلع الله ىلص
ِ تلا ُهَحهحَص َو ُةَسْمَخْلا ُها َو َر .»َكَدْنِع َسْيَل اَم ُعْيَب َلَ َو ، ْنَمْضُي ْمَل اَم ُحْب ِر َلَ َو ،ٍعْيَب يِف ِناَط ْرَش َةَمْي َزُخ ُنْبا َو ُّيِذِم ْر
ُمِكاَحْلا َو.
ٍعْيَب ْنَع ىَهَن« :ِظْفَلِب ِروُكْذَمْلا و ٍرْمَع ْنَع ،َةَفيِنَح يِبَأ ِةَيا َو ِر ْنِم »ِثيِدَحْلا ِموُلُع« يِف ُهَج َرْخَأ َو اَذَه ْنِم َو »ٍط ْرَش َو
ٌبي ِرَغ َوُه َو »ِطَس ْوَ ْلْا« يِف ُّيِنا َرَبهطلا ُهَج َرْخَأ ِهْج َوْلا
Sebagaimana yang telah diuraiakan oleh Ibnu Taimiyah dalam kitabnya (Ibnu Taimiyah, 1987:39), yang artinya :
Kesimpulan.dari hadis ini menegaskan bahwa: tidak dibenarkan.menggabungkan antara akad komersial dengan akad sosial. Yang demikian itu karena keduanya (orang yang berakad).menjalin akad sosial karena adanya akad komersial.antara mereka.
Dengan.demikian akad.sosial itu tidak sepenuhnya sosial.bahkan akad sosial secara tidak.langsung menjadi bagian dari nilai transaksi.dalam akad.komersial.”
Ketiga, pengambilan biaya upah jasa (fee ujrah) dari biaya-biaya administrasi pengurusan haji yang besarannya dituntukan seberapa besar yang dikeluarkan oleh bank syariah pada nasabah yang mengajukan pembiayaan dana talangan haji, hal ini juga sangat berpotensi melanggar kaidah yang sudah sepakati oleh para ulama, yang artinya: Setiap pinjaman yang menghasilkan manfaat adalah riba (Majmu’ Fatwa Ibnu Taimiyyah). Menteri Agama (PMA) Nomor 24 Tahun 2016.
Hal ini didasari dari banyaknya mudarat yang timbul baik dari aspeksosial maupun syari’ah.Jika dilihat dari aspek sosial, dana talangan haji ini menyebabkan membengkaknya daftar tunggu peserta calon jamaah haji, sehingga banyak orang yang yang hakekatnya sudah mampu akan tetapi malah “diserobot” antriannya oleh mereka yang sebenarnya belum mampu kemudian memanfaatkan dana talangan haji tersebut.
Meskipun dana talangan haji ini mengandung manfaat bagi sebagian umat Islam akan tetapi mengandung mudharat yang tidak sedikit, maka dalam keadaan seperti ini dalam usul fikih ada sebuah kaidah “Menolak Kemudaratan Lebih Didahulukan Daripada Mencari Kemaslahatan”.Sedangkan dari aspek syariah, orang yang menggunakan dana talangan haji jika dilihat dari konsep istitha’ah yang merupakan syarat kewajiban haji, sebenarnya belum bisa dikatakan memenuhi syarat tersebut, sehingga belum terkena kewajiban haji.
Belum lagi apabila dilihat dari keabsahan akadnya yang sangat berisiko kepada riba yang terselubung, karena adanya penggabungan antara akad al-qarddan al-ijarahdengan mensyaratkanadanya tambahan imbalan jasa (fee ujrah) yang sering kali besarannya ditentukan dari jumlah dana yang dipinjam dan jangka waktu pinjaman.
Salah satu solusi yang bisa dilakukan oleh muslim untuk memenuhi perintah Allah SWT yaitu melaksanakan.haji yaitu dengan cara menabung yang khusus diperuntukkan haji.
Dengan cara.seperti itu, hati akan lebih tentram, dan ketika tiba saatnya melaksanakan ibadah haji berarti memang telah termasuk hamba Allah yang mampu dan berkewajiban untuk haji.
Tabungan Haji
Tabungan haji adalah bentuk simpanan yang dilakukan oleh calon jamaah haji di lembaga keuangan, seperti bank syariah, yang digunakan untuk menabung sejumlah dana guna membayar Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH). Tabungan ini bertujuan agar seseorang dapat melaksanakan ibadah haji di masa depan tanpa terhambat oleh masalah dana. Tabungan haji ini umumnya memiliki ketentuan dan syarat yang mengatur cara penyetoran, waktu pencairan, serta bunga (jika ada) sesuai dengan prinsip syariah.
Tabungan Haji Menurut Fiqih Muamalat
Tabungan haji dalam perspektif fiqih muamalat adalah suatu bentuk simpanan yang disediakan oleh lembaga keuangan (bank atau lembaga lainnya) yang bertujuan untuk membantu calon jamaah haji dalam mempersiapkan dana yang diperlukan untuk melaksanakan ibadah haji.
Tabungan haji ini biasanya bersifat terpisah dari tabungan lainnya, dengan tujuan agar dana yang terkumpul dapat digunakan khusus untuk membiayai perjalanan ibadah haji di masa yang akan datang.
Dalam fiqih muamalat, tabungan haji termasuk dalam kategori transaksi muamalah, yaitu hubungan keuangan yang diatur dalam Islam. Keberadaannya harus mematuhi prinsip-prinsip syariah agar tidak melanggar hukum Islam, seperti larangan riba, gharar (ketidakpastian), dan maisir (perjudian).
Prinsip Prinsip Dalam Tabungan Haji
Menurut fiqih muamalat, tabungan haji harus memenuhi beberapa prinsip syariah berikut:
1. Tidak Ada Unsur Riba
Tabungan haji dalam konteks fiqih muamalat harus bebas dari riba (bunga). Dalam hal ini, bank syariah atau lembaga keuangan yang menyediakan tabungan haji tidak boleh memberikan bunga pada saldo tabungan. Sebaliknya, bank syariah dapat memberikan keuntungan melalui
sistem bagi hasil, di mana keuntungan dari pengelolaan dana tabungan dibagikan antara nasabah dan bank sesuai dengan kesepakatan dalam akad.
2. Transparansi dan Kepastian
Tabungan haji harus dilakukan dengan kejelasan akad dan transparansi antara pihak nasabah dan lembaga keuangan. Artinya, nasabah harus tahu dengan jelas bagaimana dana mereka akan dikelola, berapa lama jangka waktu tabungan tersebut, dan ketentuan yang berlaku. Hal ini bertujuan untuk menghindari gharar (ketidakpastian), yaitu ketidakjelasan yang bisa merugikan salah satu pihak.
3. Keamanan Dana
Tabungan haji harus menjamin keamanan dana nasabah. Prinsip keamanan ini berarti bahwa dana yang disetorkan oleh calon jamaah haji harus disimpan dengan aman dan tidak boleh disalahgunakan oleh lembaga keuangan.
4. Sifat Sukarela dan Religius
Tabungan haji adalah bentuk sukarela dari nasabah yang bertujuan untuk memenuhi kewajiban agama, yaitu menunaikan ibadah haji. Oleh karena itu, transaksi ini harus dilakukan dengan niat yang baik dan tanpa ada unsur pemaksaan.
5. Tidak Ada Unsur Ketidakadilan
Tabungan haji harus memastikan tidak ada penipuan atau ketidakadilan dalam transaksi.
Misalnya, lembaga keuangan tidak boleh mengenakan biaya tersembunyi atau syarat yang memberatkan calon jamaah haji.
Jenis Akad Dalam Tabungan Haji
Dalam prakteknya, tabungan haji biasanya dilakukan dengan menggunakan akad wakalah atau mudharabah dalam bank syariah:
• Akad Wakalah: Dalam akad ini, nasabah memberikan kuasa kepada bank untuk mengelola dananya dengan tujuan investasi yang sah, dan bank bertindak sebagai wakil nasabah dalam pengelolaan dana tersebut.
• Akad Mudharabah: Pada akad mudharabah, nasabah menyerahkan dananya kepada bank untuk dikelola dalam usaha yang halal. Bank bertindak sebagai pengelola dana (mudharib), dan keuntungan yang diperoleh dibagi antara bank dan nasabah berdasarkan kesepakatan sebelumnya.
Keuntungan Tabungan Haji
• Membantu Persiapan Dana Haji: Tabungan haji memberi kemudahan bagi calon jamaah haji untuk mempersiapkan dana yang cukup tanpa perlu membayar seluruhnya dalam waktu yang singkat.
• Bebas dari Riba: Dengan menggunakan bank syariah, nasabah tidak akan dikenakan bunga yang bertentangan dengan prinsip Islam.
• Pembagian Keuntungan: Nasabah bisa mendapatkan bagi hasil dari dana yang dikelola oleh bank, yang sesuai dengan prinsip syariah.
Secara keseluruhan, tabungan haji menurut fiqih muamalat merupakan bentuk simpanan yang dilakukan oleh calon jamaah haji di lembaga keuangan syariah dengan tujuan khusus untuk membiayai ibadah haji di masa depan. Akad yang digunakan dalam tabungan haji harus sesuai dengan prinsip syariah, yakni bebas dari riba, transparan, dan adil bagi kedua pihak.