PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Identifikasi Masalah
Tujuan Khusus
Urgensi Penelitian
Landasan Filosofis, Sosiologis, dan Yuridis
- Landasan Filosofis
- Landasan Sosiologis
- Landasan Yuridis
Tujuan dan Kegunaan Penyusunan Naskah Akademik
Metode
Sistematika
TINJAUAN PUSTAKA
Studi Terdahulu
Namun terdapat beberapa penelitian terdahulu mengenai radikalisme agama dan konflik rumah ibadah, khususnya di Indonesia, yang dapat dijadikan sampel untuk menunjukkan state of the art dari penelitian ini. Kajian yang dilakukan dalam perspektif politik lokal dengan melihat data peristiwa (informasi peristiwa) di Sampang, Bekasi, dan Kupang menemukan penggunaan identitas agama dalam politik lokal sebagai pemicu tindakan radikalisme agama. Dalam upaya menangkal aksi radikalisme agama dan jalan membangun perdamaian di Banyumas, peran negara melalui FKUB sangat diperlukan.
Setiawan dan Khoir (2016) melakukan kajian mengenai upaya penanggulangan radikalisme agama di Aceh Singkil dengan pendekatan multikultural. Untuk itu, hasil penelitian menyimpulkan bahwa penting untuk mengembangkan cara membangun perdamaian melalui pendekatan multikulturalisme dalam melawan radikalisme agama. Ketiga kajian di atas berhasil menemukan makna radikalisme agama dalam bidang politik-sosial-budaya di Indonesia.
Namun penelitian yang pernah dilakukan di Indonesia mengenai radikalisme agama seperti diuraikan di atas tidak menemukan adanya pembahasan kontestasi intra-agama dalam gerakan penolakan pembangunan masjid di Aceh.
Perspektif Teoritik
Kedua, radikalisme aksi massa terjadi di Kabupaten Bireun yang merupakan pusat ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah dan juga berkembangnya organisasi Muhammadiyah di Aceh. Namun kondisi yang terjadi adalah seringnya kelompok muhammadiyah dikategorikan sebagai penganut salafi-wahhabi sehingga menimbulkan pergulatan teologis antara ahlussunnah wal jama'ah dengan muhammadiyah. Tantangan ini jauh lebih serius dibandingkan permasalahan di daerah lain karena kekhususan Aceh yang meresmikan aliran Ahlussunnah Wal Jama'ah sebagai aliran resmi di Aceh.
Penelitian ini secara khusus menggunakan pendekatan etnografi dalam menyelidiki permasalahan pembakaran Masjid Muhammaditah yang disebabkan oleh radikalisme aksi massa keagamaan dalam perlawanan terhadap ideologi Ahlussunnah Wal Jamaah dan Salafi-Wahabi di Gampoeng Sangso, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh. . Dapat juga diartikan sebagai paham politik yang memerlukan perubahan ekstrim, sesuai dengan perwujudan ideologi yang dianut (Agus SB, 2016: 47). Guna menunjukkan sikap umat Islam yang menolak tatanan sosial yang ada dan berusaha menerapkan model tatanan tersendiri berdasarkan nilai-nilai agama (Zen, 2012: 3).
Sedangkan menurut Amien Rais, secara sosiologis dapat dijelaskan bahwa radikalisme sering muncul ketika banyak kontradiksi dalam tatanan masyarakat yang ada. Radikalisme juga terkadang diartikan sebagai Islamisme, yaitu paham yang mengatakan bahwa agama sebenarnya mencakup seluruh dimensi masyarakat modern. Namun integrasi sosial yang tertanam dalam materi ajaran agama, berlaku berbeda pada tataran empiris dalam ranah politik.
Sebaliknya, sejarah menunjukkan kaitan yang rapat antara agama dan politik, baik di kalangan Kristian mahupun di kalangan orang yang menganut agama lain. Malah, pelbagai ideologi politik berdasarkan rasional agama kini muncul di berbagai belahan dunia. Kita juga telah melihat lahirnya gerakan fundamentalisme agama yang mempunyai matlamat politik tertentu yang merangkum gerakan itu melalui amalan agama yang ideal, ini biasanya dilakukan melalui tingkah laku dan dakwah.
Dominasi terjadi ketika suatu kelompok berusaha mengatur dan menguasai kelompok lain, sehingga akan mendorong terjadinya konflik antara kelompok yang ingin diatur dengan kelompok yang ingin menguasainya. Perbedaan sistem nilai yang diterima tidak selaras antara apa yang dianggap benar dan salah oleh kelompok yang satu dengan yang lain sehingga memicu konflik dengan kelompok lain.
TEMUAN KAJIAN
- Geografi Sosial Paham Ahlussunnah Wal Jamaah dan Muhamadiyah di Samalanga
- Kontestasi Otoritas Islam Aswaja dan Muhammadiyah
- Mesjid dan Inkubasi Konflik Islam Aswaja dan Muhammadiyah
- Peminggiran dan Resistensi Muhammadiyah
- Aksi Massa Terhadap Muhammadiyah
- Resolusi Konflik Tanpa Solusi
Tradisi Islam Aswaja dilakukan secara turun temurun seiring dengan berkembangnya hunian Islam di Aceh. Keyakinan inilah yang sebenarnya mendasari otoritas agama di Aceh yaitu Islam Aswaja yang sepenuhnya diberikan oleh masyarakat kepada para ulama Islam. Meski tidak jarang masyarakat Muslim Aswaja menggunakan kekuasaan tengku dayah untuk mengontrol dan mengarahkan otoritas keagamaan dalam segala kepentingan.
Sejak saat itu, kewibawaan Islam Aswaja mulai tergerus dengan hadirnya kaum Muhammadi yang dianggap oleh masyarakat Islam Aswaja sebagai kelompok agama Islam asing. Persaingan yang terjadi antara kelompok Islam Aswaja dengan kelompok Samalanga Muhammadiyah pasca perebutan masjid tersebut membawa dampak yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat. Kelompok Islam Aswaja dan Kelompok Muhammadiyah kerap terlibat diskusi mengenai isu-isu yang menjadi perhatian bersama.
Dengan demikian dapat dipahami mengapa perselisihan kekuasaan agama Islam Aswaja dan Muhammadiyah terjadi di Samalanga. Pada mulanya kekuasaan ulama di Samalanga terpusat pada para ulama Aswaja yang berada di lembaga pendidikan Islam Aswaja (ahlusunnah wal jamaah). Aswaja Islam di Gampong Sangso merupakan komunitas yang mengikuti pengajian di aula dan meunasah yang dipimpin oleh Teugku Dayah.
Islam Aswaja menilai perbedaan tersebut bertentangan dengan praktik mazhab Syafi'i yang selama ini berkembang di Aceh. Kelompok Islam Aswaja dan kelompok Muhammadiyah mulai terlihat jelas setelah adanya perubahan struktur masjid Baiturrahaman Keude Samalanga yang dikuasai penuh oleh Muhammadiyah. Proses inkubasi yang terjadi antara kelompok Islam Aswaja dengan muhammadiyah menyebabkan kelompok muhammadiyah tidak mengikuti seluruh aktivitas di masjid.
Perubahan yang terjadi pada masjid tentunya tidak lepas dari peran para pengurus masjid yang lebih didominasi oleh kelompok Islam Aswaja. Maka tidak heran jika pemahaman Islam Aswaja dan masyarakat Samalanga sangat kuat dengan mazhab Syafi'i dan Ahlussunnah Waljamaah. Komunitas Muhammadiyah mengalami proses marginalisasi bahkan pemindahan paksa jemaah masjid oleh komunitas Islam di Aswaja.
Hal ini dianggap sebagai "pengkhianatan" sehingga menimbulkan kemarahan dan kebencian di kalangan elit Muslim Aswaja, pengelola Masjid Raya Samalanga.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Kesimpulan
Masjid Agung Kota Samalanga yang terletak di Gampoeng (Desa) Keude Samalanga merupakan masjid yang menjadi pusat kegiatan wacana keislaman di Samalanga. Sebagai pusat wacana keislaman, penguasaan Masjid Agung Samalanga terhadap konsep ideologi Islam lokal khususnya Ahlusunnah Waljamaah (Aswaja) dan Muhammadiyah sangatlah penting dan strategis. Normanya jelas, siapa pun yang memimpin masjid, kemungkinan besar dialah yang memimpin wacana keislaman di masyarakat setempat.
Dalam sejarahnya, Masjid Raya Samalanga didirikan atas prakarsa tokoh Muhammadiyah setempat, Teungku Burhanuddin Amien. Sepeninggal Teungku Burhanuddin Amien, tongkat estafet kepemimpinan Masjid Agung Samalanga dilanjutkan oleh tokoh dan ketua PP Muhammadiyah Samalanga yaitu Teungku H. Keberadaan pimpinan Masjid Raya Samalanga berada di bawah kendali elite Muhammadiyah. , yang selama hampir 4 (empat) dekade (37 tahun) menjadi topik yang menyesakkan bagi elite Islam Ahlusunnah waljamah, betapa sulitnya mendorong wacana Islam tradisional ke publik karena keputusan formal wacana Islam dikendalikan oleh imam. dari Masjid Agung Syiek. yang tak lain adalah tokoh sentral Muhammadiyah Samalanga.
Selama hampir 4 (empat) dekade, kelompok Islam Ahlusunnah Waljamaah memupuk rasa pengambilalihan kepemimpinan Masjidil Haram. Namun keinginan untuk mendominasi wacana Islam melalui kepemimpinan di Masjid Raya Samalanga akhirnya mendapat momentum, dengan dukungan mayoritas termasuk beberapa mantan aktivis Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Kelompok Muhammadiyah mengklaim kepemimpinan Aswaja di Masjid Raya Samalanga diperoleh secara tidak wajar karena ada campur tangan kelompok tertentu.
Selain itu, praktik ibadah yang beragam membuat warga Muhammadiyah tidak nyaman dengan proses ibadah di masjid ini, khususnya ibadah madzah seperti salat berjamaah dan salat Jumat yang sebelumnya mereka selenggarakan. Untuk salat berjamaah 5 (waktu) memilih salat di Meunasah (Langgar) Gampoeng (desa) Sangso sedangkan untuk salat Jumat dilakukan di Masjid Teungku Chiek Di Rheum yang letaknya di Gampoeng bersebelahan dengan Sangso yakni Rheum. Pemisahan warga Muhammadiyah dari Masjidil Haram dipandang oleh para elite pengelola Masjid Agung Samalanga sebagai tindakan penolakan untuk menaati otoritas Islam mereka.
Saat itu Muhammadiyah yang dipimpinnya masih ikut salat berjamaah di Masjid Agung Samalanga, namun saat tiba giliran memimpin jamaah Muhammadiyah, mereka berpisah dan pergi salat di masjid lain. Kalangan elite agama Islam tradisional setempat khawatir kehadiran Masjid At-Taqwa Muhammadiyah di Sangso akan mengurangi jumlah jamaah di Masjid Agung Samalanga dan juga menjadi landmark berkumpulnya massa jamaah Ahmadiyah di Sangso dan Samalanga secara masif. umum di masa depan.
Rekomendasi Jangka Pendek
Mendorong para pimpinan Aswaja dan Muhammadiyah Kabupaten Bireuen untuk berdialog secara intensif guna mencari titik temu penyelesaian permasalahan pendirian Masjid Et-Taqwa Muhammadiyah. Mendorong para pihak untuk mencari titik temu dengan menggunakan kerangka Islam rahmetan lil alamin dan ukhuwah Islamiyah. Mendorong kedua belah pihak untuk bersama-sama menjadi pengurus Masjid Raya Samalanga dan menjadikannya sebagai pusat kegiatan keagamaan.
Mendorong Muhammadiyah untuk menjadikan tempat dibangunnya Masjid At-Taqwa sebagai tempat pendidikan yang didalamnya dibangun Mushalla sebagai pusat kegiatan keislaman yang mengajarkan nilai-nilai yang sejalan dengan konsep dan keyakinan Muhammadiyah. Mendorong Aswaja untuk menerima didirikannya pusat pendidikan dan Mushalla Muhammadiyah di lokasi pembangunan Masjid At-Taqwa serta membuka ruang toleransi bagi masyarakat Muhammadiyah untuk menjalankan amalan Islam sesuai pemahamannya.
Rekomendasi Jangka Panjang
Perlu diambil kebijakan untuk memasukkan kurikulum pendidikan perdamaian di seluruh sekolah dan pesantren di Kabupaten Bireuen. Memasukkan materi toleransi terhadap perbedaan paham keagamaan, khususnya pemahaman intra agama Islam, ke dalam kurikulum pendidikan agama pada lembaga pendidikan, baik pendidikan umum (SD/SDS, SMP/SMPS dan SMA/SMAS) maupun lembaga pendidikan Islam (MIN/ SALAH). , MTSN/MTS, MA/MAS dan dayah baik salafi maupun terpadu). Apabila diperlukan diperlukan adanya buku, buku paket, modul dan LKS yang sesuai dengan standar isi pendidikan toleransi antaragama.
Perlu adanya sosialisasi mengenai toleransi antar umat beragama dan pemahaman lintas agama kepada seluruh pemangku kepentingan. Perlu dikembangkan sistem monitoring dan evaluasi toleransi antar agama dan pemahaman antaragama di Kabupaten Bireuen. Perlu adanya dukungan qanun dan surat edaran di tingkat provinsi dan kabupaten/kota yang mendukung terselenggaranya pendidikan toleransi antaragama di tingkat dasar dan menengah.
Discourse on the search for a renewed identity of Muhammadiyah for its post-millennial era. Malang: International Research Conference on Muhammadiyah. Reintegration and Socio-Economic Transformation for Former Combatants of the Free Aceh Movement (GAM) Post-Conflict Era in North Aceh Indonesia.