• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tampilan Pandangan Masyarakat Pacitan Pada Fenomena Pernikahan Dini

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Tampilan Pandangan Masyarakat Pacitan Pada Fenomena Pernikahan Dini"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

PANDANGAN MASYARAKAT PACITAN PADA FENOMENA PERNIKAHAN DINI

M. Fashihullisan 1 [email protected] Chennora Putri Elva Sevriana2

[email protected]

Abstrak

Pernikahan dini merupakan salah satu masalah dalam kehidupan masyarakat sehingga diperlukan pemecahannya. Masyarakat yang beranggapan bahwa pernikahan dini bukan suatu masalah maka berdampak pada terus terjadinya pernikahan dini. Remaja yang berupakan salah satu kelompok dalam masyarakat penting juga untuk diketahui pandangannya mengenai pernikahan dini, karena pelaku pernikahan dini adalah remaja. Oleh karena itulah dalam penelitian ini penting untuk mengetahui pandangan remaja dan masyarakat di Pacitan mengenai pernikahan dini.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik studi kasus pada suatu pernikahan dini yang terjadi di Pacitan. Penelitian dilakukan dengan observasi dan wawancara mendalam pada pelaku pernikahan dini. Penelitian dilakukan pada bulan Januari sampai Mei 2023.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) masyarakat saat berpandangan bahwa pernikahan dini merupakan solusi bagi masalah dalam kehidupan remaja di masa sekarang 2) remaja berpandangan bahwa pernikahan dini lebih sebagai pilihan hidup dan upaya yang lebih serius untuk masa depan

Kata Kunci: pernikahan dini, pandangan, masyarakat

Pendahuluan

1 Dosen Jurusan Pendidikan Sejarah, STKIP PGRI Pacitan

2 Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah, STKIP PGRI Pacitan

(2)

2

Pernikahan dini merupakan salah satu masalah penting yang harus menjadi perhatian semua pihak. Pernikahan dini ini membawa konsekuensi pada rendahnya tingkat pendidikan, kurang matangnya usia pernikahan, tingkat perceraian yang tinggi hingga pada masalah gizi buruk pada anak hasil pernikahan dini. Oleh karena itulah penting untuk menumbuhkan kesadaran dan memperluas pandangan masyarakat bahwa pernikahan dini harus dihindari sehingga tidak menimbulkan dampak yang lebih besar setelahnya.

Data pernikahan dini di Indonesia cukup menghawatirkan sebagaimana data yang disampaikan oleh UNICEF pada akhir tahun 2022. Indonesia merupakan negara urutan ke 8 di seluruh dunia dan urutan ke 2 di ASEAN terbanyak terjadinya kasus pernikahan dini.

Kasus pernikahn dini di Indonesia mencapai angka total mencapai 1,5 juta kasus.

(Kumparan.com, 2023)3

Meskipun banyak fakta yang memperlihatkan bahwa pernikahan dini memiliki banyak dampak negatif, tetapi banyak kalangan masyarakat yang tetap memiliki pandangan positif pada pernikahan dini. Pernikahan dini seringkali dilihat sebagai upaya untuk menghindari terjadinya seks bebas pada kalangan remaja. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Vionita dan Adi (2020) menunjukkan bahwa masyarakat melihat pernikahan dini sebagai upaya untuk menyelesaikan masalah hamil di luar nikah pada remaja dan upaya untuk menghindari seks bebas pada remaja, sekaligus dianggap sudah sesuai dengan ajaran agama. 4

Fakta tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat masih banyak yang mengabaikan dampak negatif dari pernikahan dini. Pernikahan dini belum dilihat sebagai suatu masalah yang penting, tetapi justru dianggap sebagai suatu solusi bagi masalah hamil di luar nikah dan masalah seks bebas pada remaja. Pernikahan dini juga masih dianggap sebagai solusi yang selaras dengan nilai-nilai moral dan keagamaan di masyarakat.

3 https://kumparan.com/beritaanaksurabaya/unicef-indonesia-peringkat-8-dunia-banyaknya- kasus-pernikahan-dini-20eMLxG2FyL/full, dipublikasikan pada tanggal 22 Juni 2023 dengan judul:

UNICEF: Indonesia Peringkat 8 dunia banyaknya kasus pernikahan dini.

4 Vionita, Yolanda.O dan Adi, Agus S. 2020. Pandangan Masyarakat Tentang Pernikahan Dini sebagai Implementasi Undang-Undang Perkawinan di Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan, Jurnal Kajian Moral dan Kewarganegaraan, Vol. 08. No. 02 , 2020. Hal: 764-778

(3)

3 Pernikahan Dini

Menurut Kemenkes RI (2022), pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan pada usia di bawah kesesuian dengan aturan yang berlaku. Undang-undang No. 16 tahun 2019 menyampaikan bahwa seseorang yang melakukan perkawinan harus sudah mencapai usia 19 tahun. Oleh karena itulah dapat dikatakan bahwa pernikahan dini adalah usia pernikahan yang dilakukan sebelum usia 19 tahun, baik pada laki-laki maupun perempuan.5

Pernikahan dini di masyarakat telah menjadi kebiasaan atau tradisi yang sulit untuk dihilangkan. Dalam rangka mengatasi pernikahan dini Pemerintah Indonesia membuat kebijakan untuk pendewasaan usia pernikahan6. di Pacitan, berbagai macam faktor dapat mempengaruhi pola pokir remaja, baik itu faktor pendidikan, ekonomi, keluarga, dan lingkungan, sehingga remaja terjerumus ke dalam pergaulan bebas.

Anak-anak di wilayah pedesaan yang mulai menginjak usia remaja dididik oleh orang tuanya untuk mulai memahami pekerjaan dan cara menghasilkan uang untuk menopang kehidupan dan meningkatkan taraf ekonomi keluarga di samping menjalankan pendidikan formalnya di sekolah, tanpa disadari kondisi ini secara terus-menerus terpatri dalam diri remaja. Pendidikan seolah-olah bukanlah hal utama bagi anak-anak terutama remaja putri, kondisi ekonomi yang tidak terlalu tinggi menjadikan para remaja ini ingin segera bekerja atau bahkan putus sekolah.

Fashihullisan, dkk (2018) menyampaikan bahwa pernikahan dini di Pacitan seringkali merupakan akibat dari pergaulan bebas dan seks di luar nikah pada remaja.

Perilaku pergaulan bebas dan seks di luar nikah pada remaja tersebut seringkali berdampak terjadinya hamil di luar nikah. Pernikahan dini merupakan salah satu solusi untuk menyelesaikan masalah hamil di luar nikah pada remaja di Pacitan. 7

5 Kemenkes RI (2022), Kenali Dampak Pernikahan Dini, didowload dari : https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1001/kenali-dampak-pernikahan-dini, pada tanggal 16 Januari 2024. 19.29 WIB

6 Kemenkes, 2015 Hal. 7

7 Fashihullisan, dkk (2008) hal 21.

(4)

4 Metode Penelitian

Tahapan-tahapan dalam penelitian ini yang dilakukan adalah meliputi: 1) Tahap observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi, 2) Tahap analisis data yaitu tahap yang dilakukan dengan melakukan trianggulasi data dan analisis data.

Penelitian dilakukan di suatu daerah di wilayah Pacitan dalam lingkung kecamatan.

Pengambilan data dilakukan dengan wawancara mendalam dengan pelaku pernikahan dini, orang-orang di sekitar pelaku pernikahan dini, pejaat KUA (Kantor Urusan Agama) dan tokoh masyarakat. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif yang dilakukan dengan teknik studi kasus yaitu studi kasus pernikahan dini. Penelitian dilakukan pada Januari – Mei 2023.

Hasil Penelitian

Pandangan Masyarakat Pacitan pada Pernikahan Dini

Kelompok masyarakat di Pacitan yang dilakukan penelitian menunjukkan pandangan bahwa pernikahan dini bukan merupakan suatu masalah bagi mereka. Pernikahan dini dianggap sebagai fenomena yang biasa dan sudah lama berjalan dari generasi ke generasi. Pandangan tersebut dilandasi oleh beberapa faktor sebagai berikut:

1) Fenomena yang Wajar

Pernikahan dini tentu saja sangat berkaitan dengan berlangsungnya pendidikan pada remaja.

Oleh karena itulah masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan yang cukup rendah dan tidak memiliki kepedulian pendidikan maka melihat pernikahan dini sebagai suatu fenomena yang wajar-wajar saja. Kondisi tersebut didukung oleh fenomena bahwa masyarakat tidak terlalu menganggap penting pendidikan yang lebih tinggi, karena pendidikan hanya cukup untuk menciptakan kemampuan membaca, menulis dan berhitung saja.

Pendidikan pada perempuan juga dipandang tidak terlalu berguna karena dianggap perempuan pada saatnya hanya menjadi ibu rumah tangga. Oleh karena itulah pendidikan yang terlalu tinggi tidak terlalu memberikan manfaat pada perempuan, karena pada dasarnya akan lebih banyak beraktivitas di dalam rumah. Oleh karena itulah pernikahan dini pada perempuan dianggap tidak akan menimbulkan masalah apapun, karena perempuan saat

(5)

5

melakukan pernikahan dini tidak akan terganggu pendidikannya. Pernikahan dini tersebut tidak akan mengganggu pendidikan yang cukup SD atau SMP saja bagi perempuan.

2) Solusi Pergaulan Bebas dan Seks Bebas

Pergaulan bebas dan seks bebas merupakan masalah yang menjadi perhatian penting masyarakat. Pergaulan bebas dan seks bebas dirasakan oleh masyarakat merusak sendi-sendi kehidupan, merusak nilai-nilai moralitas dan keagamaan. Oleh karena itulah masyarakat memandang perlunya upaya untuk mengurasi pergaulan bebas dan seks bebas terutama pada remaja. Masyarakat melihat pernikahan merupakan salah satu solusi utama untuk mengurangi terjadinya pergaulan bebas dan seks bebas. Masyarakat tidak terlalu peduli pada usia berapa dilakukan pernikahan, karena pernikahan masih dianggap sebagai langkah tepat untuk hubungan dan seks yang bertanggung jawab.

Pandangan masyarakat tentang manfaat pernikahan sebagai solusi masalah pergaulan bebas dan seks bebas menjadikan masyarakat memiliki pandangan untuk tidak peduli pernikahan dini. Pernikahan dini seringkali dianggap sebagai upaya dini untuk menangkal pergaulan bebas dan seks bebas. Remaja yang segera melakukan pernikahan dini dianggap merupakan remaja yang bertanggung jawab karena segera melakukan kehidupan yang lebih serius dalam ikatan pernikahan. Remaja yang segeral melakukan pernikahan dini dapat dianggap sebagai remaja yang terhindar dari perilakuk pergaulan bebas dan seks bebas.

Pandangan pernikahan dini sebagai langkah praktis dalam membentengi pergaulan bebas dan seks bebas seringkali mendapatkan dukungan dari orang tua, tokoh masyarakat maupun masyarakat luas. Hal inilah yang seringkali dilakukan upaya untuk mendorong terjadinya pernikahan dini saat terdapat pasangan yang sudah terlihat intim baik oleh orang tua maupun lingkungan sekitarnya. Seringkali masyarakat menyampaikan pandangan untuk lebih baik segera melakukan pernikahan dan tidak usah menunggu apapun, daripada beresiko terjadi kehamilan di luar nikah. Inilah yang kemudian menjadi dorongan bagi orang tua untuk segera menyelenggarakan pernikahan meskipun pasangan ini masih di usia dini.

3. Solusi Hamil di Luar Nikah

(6)

6

Hamil di luar nikah dianggap sebagai suatu aib dalam kehidupan masyarakat Pacitan. Oleh karena itulah pernikahan bagi remaja yang mengalami hamil di luar nikah dianggap sebagai solusi untuk menutup aib tersebut. Hanya saja hamil di luar nikah yang terjadi pada usia yang belia menjadikan terpaksa dilakukan pernikahan dini. Pernikahan dini menjadi solusi untuk menutup aib bagi anak yang hamil di luar nikah, orang tua, maupun keluarga dan kerabatnya.

Pernikahan dini bagi anak yang hamil di luar nikah dipandang oleh masyarakat sebagai solusi yang sesuai dengan norma yang dianut. Berbeda dengna menggugurkan kandungan, justru dianggap sebagai suatu pelanggaran norma yang ada di masyarakat, bahkan bisa jadi melanggar norma hukum. Oleh karena itulah tidak ada cara lain yang dipandang lebih tepat saat terjadi hamil di luar nikah pada anak-anak maupun remaja selain dilakukan pernikahan meskipun karena usia yang belum cukup justru menjadi pernikahan dini.

Pandangan Remaja Pacitan pada Pernikahan Dini

Temuan pandangan remaja dalam pernikahan dini adalah sebagai berikut:

1) Pernikahan Dini Sebagai Pilihan Hidup

Remaja di Pacitan banyak melihat pernikahan dini lebih sebagai pilihan hidup dan bukan merupakan aib yang memalukan. Hal tersebut dikarenakan pernikahan dini dianggap sebagai sesuatu yang biasa terjadi di lingkungan mereka. Bahkan pernikahan dini dilakukan oleh orang tua mereka atau para sesepuh di desa mereka.

Remaja laki-laki yang sudah tidak lagi sekolah atau sudah memiliki penghasilan untuk mencukupi keluarga maka dianggap lebih baik melakukan pernikahan. Begitu juga pada remaja perempuan yang sudah tidak lagi bersekolah dan sudah memiliki calon pasangan hidup yang sudah cocok dan sesuai harapan maka pernikahan merupakan langkah yang dianggap tepat untuk segera membangun rumah tangga. Oleh karena itulah umur yang masih belia dan dini tidaklah merupakan landasan utama untuk menunda pernikahan.

Mayoritas teman-teman sekolah SD dan SMP yang mereka kenal bahkan sudah terikat dalam pernikahan, utamanya teman perempuan. Hal ini menjadi alasan pembenar pandangan remaja bahwa menikah merupakan salah satu pilihan hidup yang baik bagi remaja

(7)

7

selain pilihan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Oleh karena itulah pernikahan dini tidak dianggap sebagai suatu penyebab dari kegagalan berumah tangga, karena setiap pernikahan yang dilangsungkan pada usia berapapun tetap memiliki resiko kegagalan.

2) Pernikahan Dini Bukan Akhir dari Masa Depan

Pernikahan dini yang dilakukan remaja di Pacitan dianggap bukan merupakan akhir dari masa depan. Banyak remaja di Pacitan yang tetap sukses memperjuangkan masa depannya meskipun melakukan pernikahan dini. Pendidikan, pekerjaan dan karier tetap dapat diperjuangkan meskipun sudah melakukan pernikahan dini. Bahkan banyak yang menganggap bahwa pernikahan dini yang dilakukan menjadikan mereka lebih fokus untuk memperjuangkan masa depan bersama pasangan.

Remaja banyak yang memiliki pandangan seseorang yang menunda pernikahan justru tidak terlalu serius mempertanggung jawabkan masa depan mereka. Remaja yang lajang cenderung mudah berfoya-foya, keluyuran dan menjalankan hidup dengan santai karena tidak adanya tanggung jawab. Oleh karena itulah pernikahan dini banayak dianggap sebagai langkah serius untuk memperjuangkan masa depan bersama pasangan.

Penutup

Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pandangan masyarakat pada pernikahan dini adalah 1) Pernikahan dini merupakan fenomena yang wajar, 2) Solusi pergaulan bebas dan seks Bebas, 3) Solusi hamil di luar nikah. Pandangan Remaja pada fenomena pernikahan dini adalah 1) Pernikahan dini sebagai pilihan hidup dan 2) Pernikahan dini bukan akhir dari masa depan.

Daftar Pustaka

Dai, N. F. 2021. Anemia Pada Ibu Hamil. Pekalongan: NEM.

(8)

8

Fashihullisan, M. Mukodi. Sugiyono. 2018. “Pacitan Dalam Badai Perubahan, Analisis Dampak Pembangunan Jalan Lintas Selatan”. Pacitan: LPPM Press STKIP PGRI PACITAN.

Febrianti. 2021. Pernikahan Dini dan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Studi Kasus di Lombok Timur NTB. Cet: 1. Malang: Ahlimedia Press.

Fitriani H. S. “Efektivitas Penerapan Undang-Undang Perlindungan Anak Terhadap Perkara Dispensasi Nikah Di Pengadilan Agama Maros Kelas 1 B Studi Kasus Tahun 2016-2018.” (Skripsi, Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 2019)

Gunarsa, S.D. 2004. Dari Anak Sampai Usia Lanjut. Cet: 1. Yogyakarta: BPK Gunung Mulia.

Kemenkes RI (2022), Kenali Dampak Pernikahan Dini, didowload dari : https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1001/kenali-dampak-pernikahan-dini, Kumparan.com. 2023. UNICEF: Indonesia Peringkat 8 Dunia Banyaknya Kasus

Pernikahan Dini, didownload dari https://kumparan.com/beritaanaksurabaya/unicef- indonesia-peringkat-8-dunia-banyaknya-kasus-pernikahan-dini-20eMLxG2FyL/full, Rahmawati,M. Widhiyanti, H.N. dan Sumitro, W “Efektivitas Pembatasan Usia Perkawinan

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.” Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3:1 (Juni 2018): 101.

Tampubolon, E. P L., 2021. “Permasalahan Perkawinan Dini di Indonesia”. Jurnal Indonesia Sosial Sains”. Vol. 2. No. 5.

Vionita, Yolanda.O dan Adi, Agus S. 2020. Pandangan Masyarakat Tentang Pernikahan Dini sebagai Implementasi Undang-Undang Perkawinan di Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan, Jurnal Kajian Moral dan Kewarganegaraan, Vol. 08. No.

02 , 2020.

Referensi

Dokumen terkait

Analisis Hukum Islam Terhadap Konsep Berkeluarga Menurut Pelaku Pernikahan Dini Karena Hamil di Luar Nikah di Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo. Berdasarkah

masalah, sehingga memudahkan untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi peserta dalam upaya pencegahan pernikahan usia dini. 2) Solusi untuk pencegahan

Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan Adanya peran penting pemerintah dalam melihat fenomena pernikahan dini, nikah siri, dan perceraian sehingga pemerintah

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dalam pelaksaan pernikahan dini akibat hamil diluar nikah yang dilakukan oleh pelaku mendapat tanggapan sinis dari pihak masyarakat,

ada tidaknya perbedaan antara pernikahan wanita hamil dengan pernikahan wanita yang tidak hamil dan problematika yang terjadi di KUA. Masalah “Hamil di Luar Nikah” yang

Hasil penelitian ditemukan bahwa faktor penyebab remaja melakukan pernikahan usia dini di Desa Suhada sebagian besar adalah dari rendahnya ekonomi keluarga, serta rendahnya

Psikoedukasi online untuk menurunkan sikap permisif perilaku seksual pra-nikah pada remaja sebagai upaya preventif resiko pernikahan usia dini di masa pandemi Covid-19 Online

Kesimpulan: Edukasi tentang pernikahan dini meningkatkan pengetahuan dan sikap positif remaja karang taruna sehingga dapat sebagai upaya untuk mencegah pernikahan dini di Desa