• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tanggapan kebijakan perubahan iklim di Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Tanggapan kebijakan perubahan iklim di Indonesia"

Copied!
124
0
0

Teks penuh

Respons Kebijakan Perubahan Iklim di Indonesia: Mekanisme Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD) sebagai Sebuah Kasus, Kertas Kerja Epistema No.10/2010, Jakarta: Epistema Institute. Isi Perjanjian Marrakesh mencakup upaya untuk memasukkan hutan ke dalam strategi mitigasi perubahan iklim. Penelitian ini ingin mengidentifikasi respon kebijakan yang dilakukan Indonesia dalam menanggapi isu perubahan iklim/REDD.

Sejauh mana kebijakan dan undang-undang terkait perubahan iklim dan REDD menjamin pengakuan, pemenuhan dan perlindungan hak-hak masyarakat adat? Lembaga apa dan bagaimana yang dibentuk oleh pemerintah pusat untuk menanggapi isu perubahan iklim dan REDD? Hanya program/kegiatan yang berkaitan langsung dengan perubahan iklim yang dimasukkan dalam “respon pemerintah terhadap perubahan iklim” yang diupayakan dalam studi ini.

Perubahan iklim terjadi karena adanya perubahan kandungan gas di atmosfer bumi yang disebabkan oleh meningkatnya gas rumah kaca. RESPON KEBIJAKAN PEMERINTAH INDONESIA TERHADAP PERUBAHAN IKLIM Keterlibatan Indonesia dalam perundingan perubahan iklim di bawah payung.

TANGGAPAN KEBIJAKAN PEMERINTAH INDONESIA TERKAIT PERUBAHAN IKLIM  Keterlibatan  Indonesia  dalam  perundingan  perubahan  iklim  di  bawah  payung

Hal ini lebih merupakan bentuk kebijakan lingkungan dalam negeri yang “tidak terpengaruh” oleh komitmen antisipasi perubahan iklim di tingkat internasional. Tidak ada target (dan program-program) terkait perubahan iklim di sektor kehutanan dan kelautan atau pertambangan dan sumber daya mineral. Dengan demikian, tidak banyak program terkait mitigasi perubahan iklim dalam RPJM ini.

Perubahan iklim memperluas dimensi lingkungan hidup karena kemungkinan terjadinya kerusakan berupa bencana alam dan juga menurunkan produktivitas sumber daya alam. Perubahan iklim hadir dalam pendahuluan Bab 31 tentang peningkatan pengelolaan sumber daya alam dan pemeliharaan fungsi lingkungan hidup, yaitu dalam pembahasan lingkungan hidup dan perkembangan meteorologi dan geofisika. Dalam RKP 2009, perundingan perubahan iklim (masalah lingkungan hidup dalam cakupan yang lebih luas) di tingkat internasional mulai diterapkan pada MFA.

Perubahan iklim belum pernah mendapat keistimewaan pada bab yang membahas sumber daya alam dan lingkungan hidup seperti pada RKP tahun-tahun sebelumnya. Perubahan iklim disebutkan dalam isu sumber daya alam dan lingkungan hidup yang dapat mengancam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang merupakan pilar pembangunan berkelanjutan. Lalu apa saja program dan kegiatan utama yang akan dilakukan pemerintah terkait perubahan iklim?

Dalam rangka peningkatan kapasitas adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, akan dilaksanakan 16 item kegiatan.

TANGGAPAN KEBIJAKAN PEMERINTAH INDONESIA TERKAIT REDD

Tidak ada satu pun kebijakan dalam renstra kementerian/lembaga Departemen Kehutanan akhir tahun) yang menyebutkan REDD atau bahkan perubahan iklim. Faktanya, dalam Rencana Kementerian Kehutanan tahun 2008 tidak ada kegiatan yang secara khusus berkaitan dengan isu mitigasi perubahan iklim dalam bentuk REDD. Sementara itu, hilangnya REDD pada tahun 2010 telah diperkirakan melalui perumusan salah satu tujuan kegiatan. adaptasi/mitigasi perubahan iklim dari sektor kehutanan.

Pertanian adalah sektor lain yang sebenarnya memainkan peran penting dalam pengelolaan perubahan iklim dalam konteks LULUCF. Sebelum CDM, kebijakan Indonesia mengenai perubahan iklim masih samar-samar dan tidak berhubungan dengan apa yang dilakukan secara internal. Keputusan ini menyebutkan dua lembaga yakni IFCA dan Kelompok Kerja Perubahan Iklim di lingkungan Kementerian Kehutanan.

Kelompok Kerja Pengendalian Perubahan Iklim di Lingkungan Kementerian Kehutanan merupakan lembaga yang disebutkan dalam Permenhut P 68/2008 yang bertugas membantu Menteri Kehutanan dalam menilai kelayakan permohonan Kegiatan Demonstrasi (DA) REDD yang diajukan oleh pemohon. Keberadaan Pokja Perubahan Iklim di bawah Kementerian Kehutanan mengalami perubahan dan menunjukkan dinamika pembentukan kelembagaan terkait REDD di Kementerian Kehutanan. Membantu Menteri Kehutanan dalam melaksanakan kegiatan terkait perubahan iklim yang meliputi kegiatan adaptasi, mitigasi, dan transfer teknologi di lingkungan Kementerian Kehutanan.

Kebijakan dan rencana strategis kehutanan, serta program dan kegiatan terkait perubahan iklim di lingkup Kementerian Kehutanan. Membantu Menteri Kehutanan dalam melaksanakan kegiatan terkait perubahan iklim yang meliputi kegiatan adaptasi, mitigasi, dan alih teknologi di lingkup Departemen Kehutanan. Dalam persoalan perubahan iklim/REDD, ada beberapa persoalan yang perlu dibenahi terlebih dahulu sebelum mengkaji alokasi anggaran dalam APBN.

Sedangkan 4 fokus kegiatan lainnya sebenarnya bisa terkait dengan peningkatan kapasitas adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. 900 miliar (angka ini tidak terdapat dalam APBN 2010) dalam bentuk PPN adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. DNPI merupakan wujud strategi pemerintah dalam menghadapi perubahan iklim dalam bentuk pembentukan kelembagaan.

Tabel Kegiatan Dephut di tahun 2010 terkait dengan efektivitas perumusan pendanaan terkait adaptasi dan mitigasi  perubahan iklim 
Tabel Kegiatan Dephut di tahun 2010 terkait dengan efektivitas perumusan pendanaan terkait adaptasi dan mitigasi  perubahan iklim 

KEBIJAKAN  TERKAIT  REDD  DAN  PERLINDUNGAN  HAK‐HAK  MASYARAKAT  ADAT/LOKAL

Dalam usulan DA REDD yang disampaikan pemrakarsa, tidak ada persyaratan yang secara jelas dan kuat memaksa pengelola untuk menghormati hak/kepentingan masyarakat adat/lokal. Rentannya posisi masyarakat dalam penyusunan DA REDD dapat digambarkan dalam rencana pembagian pendapatan. Partisipasi masyarakat lokal/adat dalam proses penyusunan proposal dan persetujuan proyek REDD yang dilakukan oleh pihak ketiga tidak disebutkan sama sekali dalam peraturan ini.

Hingga saat ini, pemerintah belum mengakui masyarakat adat dengan segala haknya. Padahal, pengakuan masyarakat menjadi syarat utama bagi masyarakat adat untuk mengakses hak pengelolaan hutan adat. Dalam kaitannya dengan masyarakat adat, jelas bahwa peraturan Menteri Kehutanan ini mengatur hal-hal yang tidak mungkin terjadi tanpa adanya perubahan pada kebijakan lain dalam kebijakan pengakuan masyarakat adat.

Keterlibatan pengelola hutan adat hanya sekedar inklusi yang tidak mempunyai konsekuensi apapun terhadap perbaikan kedudukan masyarakat adat; bahkan terancam terlalu sulit untuk diterapkan di lapangan. Sementara itu, masalah klasik yaitu hanya diberikannya hak pengelolaan dan bukan hak dengan status lebih tinggi seperti hak milik membuat posisi masyarakat adat/lokal yang bergantung pada hutan masih lemah. Kedudukan masyarakat lokal dalam pelaksanaan ini memang diberikan jalan untuk terlibat, namun keterlibatan tersebut masih jauh dari harapan karena belum diberikan dukungan yang lebih mendasar, termasuk dalam hal pengakuan masyarakat adat.

Sementara itu, bagi masyarakat adat/lokal yang tidak mempunyai (atau sengaja tidak mempunyai) hak mengelola kawasan hutan, kabar tersebut kurang menggembirakan. Dalam hal pemenuhan/pelindungan hak atau kepentingan masyarakat adat/lokal, Peraturan Menteri Kehutanan ini tidak jauh berbeda dengan dua peraturan kehutanan sebelumnya. Pemrakarsa IUP PAN/RAN Karbon tidak diwajibkan terlebih dahulu berkonsultasi atau meminta persetujuan masyarakat adat/lokal yang tinggal di sekitar wilayah proyek.

Perlindungan negara atas hak hutan dan tanah milik masyarakat adat/lokal semakin memburuk. Padahal, pengakuan negara terhadap masyarakat adat merupakan syarat penting untuk memperoleh hak pengelolaan hutan secara tradisional. Dalam keadaan seperti ini, masyarakat adat/lokal tidak berdaya ketika kepemilikan/pengelolaan hutan berpindah ke tangan negara atau swasta.

KESIMPULAN

Undang-undang Nomor 6 Tahun 1994 tentang ratifikasi UNFCCC atau Undang-undang Nomor 17 Tahun 2004 tentang ratifikasi Protokol Kyoto belum cukup kuat untuk mengimplementasikan peraturan terkait perubahan iklim/REDD karena posisinya masih lemah dibandingkan undang-undang nasional. Di sisi lain, Departemen Kehutanan nampaknya berlomba-lomba membentuk lembaga pembahasan perubahan iklim di sektor kehutanan dan REDD. Dukungan pemerintah terhadap pengendalian perubahan iklim sudah jelas, meski baru diumumkan dua tahun terakhir, namun tidak untuk dukungan REDD.

Permasalahan kesenjangan kebijakan, ego sektoral, lemahnya koordinasi, minimnya dana, tidak jelasnya penggunaan dana utang, dapat menjadi hambatan besar terhadap tanggung jawab negara untuk memenuhi dan melindungi hak-hak masyarakat adat/lokal yang merupakan penerima manfaat terbesar. dampak dalam skema REDD. Pengakuan terhadap komunitas adat masih minim, sementara komunitas itu sendiri dikelilingi oleh kebijakan dan sistem hukum yang tidak berpihak pada mereka. Persoalan kebijakan fiskal terkait perubahan iklim/REDD merupakan isu yang sangat penting untuk dijelaskan guna melihat sejauh mana pemerintah Indonesia benar-benar sejalan dengan keinginan masyarakat internasional sebagai pihak yang belum berkomitmen untuk mengurangi dampak perubahan iklim. memiliki emisi domestik dan malah dibantu oleh negara-negara maju di negara yang mengendalikan perubahan iklim.

Apakah utang luar negeri dapat digunakan untuk membiayai program pencegahan bencana terkait program adaptasi/mitigasi perubahan iklim? Namun penelitian ini masih belum mampu menangkap bagaimana hubungan lembaga-lembaga tersebut dengan lembaga serupa atau pihak yang berwenang terkait perubahan iklim/REDD di wilayah tersebut. Kertas Kerja Nomor 05/2010: Kekuasaan dan Hukum: Realitas Pengakuan Hukum Hak Masyarakat Adat atas Sumber Daya Alam di Indonesia, Herlambang Perdana Wiratraman, dkk.

Kertas Kerja Nomor 06/2010: Kesiapsiagaan Tanpa Rencana: Meninjau Respons Kebijakan Pemerintah Terhadap Perubahan Iklim/REDD di Kalimantan Tengah, Mumu Muhajir. Kertas Kerja Nomor 07/2010: Satu Dekade Perundang-undangan Masyarakat Adat: Tren Perundang-undangan Nasional Mengenai Eksistensi dan Hak Masyarakat Adat atas Sumber Daya Alam di Indonesia Yance Arizona. Kertas Kerja Nomor 08/2010: Kesiapsiagaan dan Kerentanan Sosial dalam Skema Kebijakan Perubahan Iklim/REDD di Indonesia, Semiarto Aji Purwanto, Iwi Sartika dan Rano Rahman.

Learning Circles for Social and Environmental Justice atau Lingkaran Pembelajaran untuk Keadilan Sosial dan Lingkungan (LeSSON-JUSTICE). Penelitian Interdisipliner tentang Hak Masyarakat atas Penghidupan Lebih Baik, Tradisi Sosial yang Berkeadilan dan Lingkungan Berkelanjutan atau Penelitian Interdisipliner tentang Hak Masyarakat atas Penghidupan Lebih Baik, Tradisi Sosial yang Berkeadilan dan Lingkungan Berkelanjutan (IN-CREASE). Pusat Data dan Sumber Daya Keadilan Sosial dan Lingkungan atau Resource Center for Social and Environmental Justice (RE-SOURCE).

Gambar

Tabel Kegiatan Dephut di tahun 2010 terkait dengan efektivitas perumusan pendanaan terkait adaptasi dan mitigasi  perubahan iklim 
Tabel  di  bawah  mencoba  untuk  menjabarkan  perbedaan  antara  tiga  lembaga  yang  sebenarnya  bertugas  sama  namun  perbedaan  kebijakan  di  atasnya  telah  membuatnya bisa dibedakan. Ada beberapa isu yang layak untuk dicatat. 

Referensi

Dokumen terkait

December-2015 I MBBS Result Sheet AKSHAY BALACHANDRA