PENDAHULUAN
Batasan Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Agar tidak keluar dari pembahasan, peneliti memberikan definisi permasalahan yaitu berkenaan dengan pemikiran Tasawuf Harun Nasution serta peranan dan perkembangan tasawuf pada masanya.
Kegunaan Penelitian
22 Saude, Pemikiran Harun Nasution tentang Mistisisme dalam Islam, (Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 2011), h. Reformasi yang dilakukan Harun Nasution tidak terlepas dari kondisi sosial politik saat itu. Ada dua reformasi yang sangat penting dalam pemikiran Harun Nasution, yaitu pendidikan Islam dan filsafat Islam.
Harun Nasution melihat pendidikan Islam di Indonesia masih didominasi oleh persoalan fiqh. Amalan tasawuf yang dilakukan Harun Nasution merupakan pelaksanaan ibadah secara terpadu sehingga hakikat keimanan,
Kajian Penelitian Terdahulu
Metode Penelitian
- Jenis dan Pendekatan Penelitian
- Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisa Data
Penulis menggunakan pendekatan penelitian kualitatif yaitu penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain. secara holistik dan melalui uraian dalam bentuk kata-kata dan bahasa, dalam konteks alam tertentu dan menggunakan metode ilmiah yang berbeda 26 Penelitian kualitatif bertujuan untuk memperoleh data yang lebih lengkap, mendalam, terpercaya dan bermakna, guna mencapai tujuan penelitian. 27. Sumber data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian sebagai sumber informasi yang diperlukan. 28 Data ini disebut juga data primer atau data yang berhubungan langsung dengan objek penelitian. Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh melalui pihak lain, yang diperoleh peneliti secara tidak langsung dari subjek penelitiannya.
Dalam hal ini sumber data sekunder berupa tulisan-tulisan yang membahas tentang tasawuf dari sudut pandang Harun Nasution dan literatur-literatur yang relevan dengan penelitian ini. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, peneliti tidak akan memperoleh data yang memenuhi standar data yang telah ditetapkan.29 Dalam penelitian ini, data yang dikumpulkan adalah data primer tasawuf perspektif Harun Nasution, serta data sekunder berupa Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, mendeskripsikannya ke dalam satuan-satuan, mensintesis, merangkum ke dalam pola, memilih apa yang penting dan apa yang dipelajari, serta menarik kesimpulan yang dapat dibagikan kepada orang lain.30 Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan metode induktif. kerangka berpikir, yaitu berpikir secara langsung dengan menarik kesimpulan dari data-data yang sifatnya spesifik yang mempunyai unsur-unsur kesamaan untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum.
Sistematika Penulisan
KONSEP TASAWUF
Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Tasawuf
Mengenai sejarah tasawuf, penulis berpendapat bahwa tasawuf sebenarnya tumbuh dan berkembang seiring dengan tumbuh dan berkembangnya Agama Islam sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Di Khorasan berdiri sekolah tasawuf yang dipimpin oleh Shyeh Ibrahim bin Adam dan lain-lain. Pada abad-abad berikutnya, tasawuf tumbuh seiring dengan berkembangnya Islam di berbagai belahan dunia.
Kerana dibawa oleh golongan sufi, maka ajaran tasawuf tersebar dan berkembang pesat seiring dengan pesatnya perkembangan Islam itu sendiri. Jika pada abad ke-2 Hijriah ajaran utama kaum sufi adalah zuhud, maka memasuki abad ke-3 Hijriah, manusia naik ke doktrin yang lebih tinggi, iaitu kesatuan dengan Tuhan (tasawuf). Pada abad ke-4, kitab risalah umum yang tertua muncul dan terus bertahan hingga ke hari ini, iaitu kitab al-Luma', karya Abu Nashr al-Sarraj (w. 377 H/ 988 M). 46.
Pada masa ini terjadi persaingan antara tasawuf yang berbau filsafat dengan model tasawuf kaum sunni awal. Tasawuf Sunni memenangkan pertempuran tersebut, sedangkan lawannya tenggelam dan kemudian muncul kembali pada abad ke-6 H, dengan wujud yang sedikit berbeda. Di antara berbagai aliran tasawuf, tasawuf Sunni merupakan tasawuf yang bersifat dinamis, karena selalu mengutamakan orang lain.
Tasawuf Sunni mengambil jalan tengah antara kecenderungan tasawuf yang dikembangkan oleh kelompok Batiniyyah di satu sisi dan tasawuf filosofis di sisi lain. Sedangkan era pemurnian tradisi tasawuf yang disebut dengan Era Neo-Sufisme (Pemurnian II) terjadi pada awal abad ke-6 hingga ke-9 H. Oleh karena itu, tasawuf yang berbau filsafat tidak cukup disebut tasawuf, tetapi juga tidak bisa. dikatakan sebagai filsafat.
Dalam sejarah peradaban Islam pada abad ke-9 hingga ke-12 dikenal sebagai era keheningan di berbagai bidang, termasuk dalam bidang pemikiran Islam dan perkembangan tasawuf.
Tujuan Tasawuf
Matlamat akhir tasawuf adalah untuk membawa kebahagiaan kepada manusia baik di dunia dan akhirat, yang memuncak dengan bertemu dan melihat Tuhan. Sedangkan dalam tasawuf, fana ialah penggabungan seseorang di hadapan Tuhan, di mana hilangnya rasa kemanusiaan, diselubungi rasa ketuhanan, dalam keadaan di mana segala rahsia yang tersembunyi daripada Tuhan terbongkar dengan mata kasar.
Maqamat dan Ahwal
Maqamat dalam ilmu tasawuf merupakan suatu konsep yang digunakan al-Mutasawwif untuk mengukur keberadaan tingkat spiritualnya dari satu maqam ke maqam tingkat yang lebih tinggi. Istilah maqamat dan ahwal tidak pernah ditemukan dalam kegiatan tasawuf pada masa salaf sufi, namun hakikat ajarannya diamalkan oleh para sahabat sufi sejak zaman Rasulullah. Al-Sarraj al-Tusi mengatakan yang dikutip oleh Amin, ketika kita ditanya orang lain tentang arti maqamat, maka jawabannya adalah kedudukan seorang hamba di hadapan Tuhannya ketika ia melakukan ibadah, mujahadah, riyadhah dan merenung.
Ini berdasarkan kehendak al-Quran, surah Ibrahim ayat 14 dan surah al-Saffat ayat 164.54. Sebagai contoh, Imam al-Ghazali mengatakan bahawa terdapat sembilan kedudukan iaitu taubat, sabar, kemiskinan, zuhud, taqwa, amanah, mahabbah, ma'rifat dan redha. Nasr al-Sarraj al-Tusi menyebut bahawa tertib jawatan ialah taubat, wara-zuhud, sabar, tawakal dan bersedia.
Menurut para sufi, al-ahwal jamak al-hal dalam bahasa Inggris keadaan adalah keadaan psikologis yang dicapai oleh seorang sufi sebagai anugerah dari Allah, bukan sebagai hasil usahanya.56 Merupakan keadaan mental yang dicapai oleh seorang sufi dari Tuhannya seperti seperti perasaan senang, sedih dan takut. Segala sesuatunya tidak tercapai atas usaha manusia melainkan atas karunia Tuhan, hanya bersifat sementara dan selalu datang silih berganti. Meski merupakan anugerah dari Tuhan, namun kedatangannya tergantung pada persiapan (kesiapan) yang berusaha dilakukan oleh hamba tersebut.
Jika kita perhatikan isi yang disebut dengan al-hal, sebenarnya itu adalah wujud dari stasiun yang mereka lalui. Artinya, keadaan pikiran yang digambarkan oleh segala sesuatu adalah hasil dari latihan dan latihan yang dilakukannya. Sebab pada kesempatan lain dikatakan bahwa meskipun keadaan batin diperoleh sebagai anugerah dari Tuhan, namun manusia yang ingin memperolehnya harus berusaha meningkatkan kualitasnya dengan melatih dan meningkatkan ibadahnya.
Artinya, orang yang pantas menerima anugerah segala sesuatu hanyalah orang yang berusaha ke arah itu.
Macam-Macam Tasawuf
Para sufi aliran ini sangat mengenal filsafat-filsafat Yunani dan berbagai alirannya, seperti Socrates, Plato, Aristoteles, aliran Stoic, aliran Neo-Platonisme dengan filsafat-filsafatnya mengenai emanasi, bahkan mereka lebih mengenal filsafat yang disebut Hermeneutika. , yang karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan filsafat Timur kuno, baik dari Persia maupun India, serta filsafat Islam seperti filsafat al-Farabi dan Ibnu Sina. Bentuk tasawuf ini berkonsentrasi pada upaya menghindari akhlak tercela (madhmumah) sekaligus mewujudkan akhlak terpuji (mahmudah) dalam diri para sufi. Dengan dikuasainya hawa nafsu tersebut dalam diri seseorang maka timbullah berbagai penyakit dalam dirinya, seperti: sombong, sombong, riya, berprasangka buruk, serakah dan lain sebagainya.
Kebebasan syahwat dalam diri seseorang, munculnya berbagai maksiat lahir dan batin, kecintaan terhadap kehidupan duniawi, dalam pandangan para sufi merupakan penghambat seseorang untuk dekat dengan Tuhannya. Semua penganut sufi meyakini bahwa satu-satunya cara seseorang dapat menuju ke hadirat Tuhan hanya melalui kesucian jiwa. Sesuai dengan tujuan hidup tasawuf, para sufi meyakini bahwa kebahagiaan yang sempurna dan abadi bersifat spiritual.
Justeru, dalam kerangka pendidikan mental-rohani, kaedah yang digunakan oleh golongan sufi adalah untuk menimbulkan kebencian terhadap kehidupan duniawi. Golongan sufi berpendapat untuk memulihkan sikap mental yang buruk memerlukan terapi yang bukan hanya datang dari aspek kelahiran. Maksiat ini perlu disucikan kerana, menurut ahli sufi, kesemuanya adalah najis makna yang menghalang seseorang daripada dekat dengan Tuhan, sebagaimana najis alam yang menghalang seseorang daripada beribadat kepada-Nya.
Kalangan sufi ada yang berpandangan bahwa syahwat harus dibunuh karena menjadi puncak amarah, penghalang mendekatkan diri pada Tuhan. Sedangkan kelompok lain seperti Al-Ghazali berpendapat bahwa syahwat juga diperlukan dalam kehidupan ini, pembelaan keluarga dan sebagainya, akibatnya syahwat harus tetap ada dalam diri. Tingkat kesempurnaan kesucian jiwa dalam pandangan para sufi hanya dapat dicapai melalui perasaan cinta kepada Allah.
Jalan menuju Allah menurut kaum sufi boleh dilakukan dengan dua usaha, pertama mulamazah iaitu sentiasa berzikir kepada Allah.
BIOGRAFI DAN KARYA HARUN NASUTION
Karya Harun Nasution
Sedangkan pada bagian tasawuf Islam, Harun Nasution memaparkan kedudukan tasawuf dalam Islam sebagai upaya mendekatkan diri kepada Tuhan. Buku ini merupakan kumpulan ceramah dan ceramah Harun Nasution di berbagai tempat di Jakarta tentang tren Islam modern. Melalui peran kedua menteri tersebut, reformasi yang dilakukan Harun Nasution berjalan sesuai rencana, meski banyak kekurangan di dalamnya.
Bersama Menteri Agama, Harun Nasution mencoba merekonstruksi pendidikan Islam di Indonesia karena dinilai masih berpikiran sempit. Hal ini merupakan salah satu langkah reformasi perguruan tinggi Islam yang digagas oleh Harun Nasution dan Mukti Ali. Reformasi yang dilakukan Harun Nasution mencakup beberapa aspek pembelajaran Islam, sebagaimana akan dijelaskan pada bab berikutnya.
Berdasarkan pengalamannya selama belajar di luar negeri, Harun Nasution mencoba menerapkan ilmunya untuk mereformasi pendidikan di Indonesia. Situasi seperti ini membuat Harun Nasution kembali membahas pemikiran mu'tazilah di Indonesia. Oleh karena itu, peranan Harun Nasution dalam perkembangan tasawuf di Indonesia cukup besar, setidaknya dalam hal-hal berikut: 110.
Karya Harun Nasution dalam bidang ilmu tasawuf Islam yang tertuang dalam bukunya “Filsafat dan Mistisisme dalam Islam dan Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya”, memetakan pemikiran. Di sinilah perbedaan karya Harun Nasution dengan penulis lain, misalnya Hamka, dalam bidang tasawuf atau tasawuf Islam. Setelah melewati al-fanā dan al-baqā, menurut Harun Nasution, seseorang sampai pada al-ittiād terlebih dahulu.
Misalnya, Harun Nasution yang dikenal sebagai pengagum Muktazilah, aliran teologi Islam yang sangat rasional. Menurut Harun Nasution, hakikat ajaran tasawuf adalah perpaduan antara keimanan, ibadah, amal shaleh, dan akhlak mulia. Sketsa sosio-intelektual Harun Nasution dalam teologi rasional: apresiasi terhadap wacana dan praktik Harun Nasution.
Pengakuan dari Kawan dan Muris atas Pemikiran