TASAWUF DAN PERUPAAN PADA WAYANG KULIT PURWA CIREBON DAN SURAKARTA
Moh. Isa Pramana-NIM 27005011 PROGRAM STUDI SENI RUPA
Wayang Kulit Purwa yang mengacu pada epik India dan mitos asli Jawa adalah media penghubung antara kesenian tradisional Indonesia masa Hindu-Buddha (Kabudan) dengan masa Islam (Kewalen), yang tentunya bisa ditelaah bagaimana ia bisa menjembatani kedua kepercayaan tersebut. Penjembatanan ini hanya dimungkinkan oleh konsep ajaran Tasawuf yang dianut para Wali yang banyak berkontribusi pada penggubahan Wayang Kulit Purwa.
Seiring perjalanannya yang paralel dengan bergulirnya pusat-pusat kekuasaan di Pulau Jawa seperti Majapahit, Demak, Cirebon, Pajang, Mataram, Surakarta dan Yogyakarta, wayang kulit kemudian berkembang menjadi berbagai macam gagrak, sesuai dengan daerah tempat di mana ia berada.
Penulis mengkaji dua gagrak wayang kulit sebagai sampel yang ternyata pada perupaannya didasari banyak perbedaan dalam berbagai aspek, yaitu perbedaan historis, perbedaan geografis, perbedaan kultur dan terutama perbedaan dalam memahami dan menerapkan ajaran Islam dan Tasawuf ke dalamnya, yakni wayang kulit gagrak Cirebon dan gagrak Surakarta.
Dalam kajian ini digunakan pendekatan Kritik Seni dengan metode analisis komparatif- deskriptif yang bersifat kualitatif yang memperbandingkan aspek visual pada kedua gagrak wayang tersebut. Pendekatan Kritik Seni terdiri dari beberapa tahapan, yaitu tahapan deskripsi dan analisis formal yang menganalisis perupaan pada postur, bentuk, ukuran, detail anatomi, pewarnaan, ragam hias dan sebagainya. Kemudian pada tahapan berikutnya dilakukan interpretasi dan tahapan terakhir dilakukan penilaian yang merujuk pada studi kebudayaan Jawa dan ilmu Tasawuf.
Memang jelas terdapat makna Tasawuf pada perupaan figur Wayang Kulit Purwa, dengan dimensi dan intensitas manifestasi yang berbeda-beda pula, baik antara detail perupaan pada beberapa figur yang berbeda dari satu tokoh tertentu yang sama yang disebut wanda, antara figur-figur tokoh-tokoh tertentu yang berbeda, ataupun lebih jelas lagi yaitu antara wayang kulit gagrak Cirebon dengan gagrak Surakarta. Analisis ini dilakukan pada figur wayang tokoh Bima, Mintaraga, Semar, Buto Cakil, Rahwana, Duryudhana dan Dursasana dari kedua gagrak wayang kulit.
Secara keseluruhan bisa disimpulkan bahwa pada sampel figur wayang dari populasi gagrak Cirebon terlihat kesan visual yang lebih sederhana, lugas, ekspresif dan kuna, dibandingkan dengan kesan visual sampel yang didapat dari populasi gagrak Surakarta yang lebih mewah, halus, mendetail dan tersofistikasi. Gagrak Cirebon memperlihatkan suatu pemahaman Tasawuf yang tak mempermasalahkan media, sangat lugas dan