• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEKNIK PENDEDERAN IKAN GURAMI

N/A
N/A
Ulfilia Julisa 2104111101

Academic year: 2024

Membagikan "TEKNIK PENDEDERAN IKAN GURAMI"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KERJA PRAKTIK

TEKNIK PENDEDERAN IKAN GURAMI BIMA (Osphronemus gouramy) DI BALAI RISET PEMULIAAN IKAN (BRPI) SUKAMANDI,

SUBANG, JAWA BARAT

OLEH ULFILIA JULISA

JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN

UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU

2024

(2)

LAPORAN KERJA PRAKTIK

TEKNIK PENDEDERAN IKAN GURAMI BIMA (Osphronemus gouramy) DI BALAI RISET PEMULIAAN IKAN (BRPI) SUKAMANDI,

SUBANG, JAWA BARAT

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mengikuti Ujian Seminar Kerja Praktik Pada Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau

OLEH ULFILIA JULISA

2104111101

JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN

UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU

2024

(3)

RINGKASAN

ULFILIA JULISA (2104111101). TEKNIK PENDEDERAN IKAN GURAMI BIMA (Osphronemus gouramy) DI BALAI RISET PEMULIAAN IKAN (BRPI) SUKAMANDI, SUBANG, JAWA BARAT. di bawah Bimbingan Dr.

Muhammad Fauzi, S.Pi., M.Si.

Ikan Gurami Bima adalah hasil penelitian dari Balai Riset Pemuliaan Ikan Gurami dari tahun 2014 hingga 2019. Penelitian yang dilakukan tersebut juga menghasilkan jenis ikan strain unggulan dari persilangan ikan gurami populasi Jambi dan Majalengka. Uji multi lokasi yang dilakukan diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa ikan gurami hibrida memiliki keunggulan dibandingkan ikan gurami lokal lainya. Dinamakan Gurami Bima karena ikan ini tumbuh cepat menjadi besar layaknya tokoh Bima dalam cerita pewayangan. Oleh karena itu dapat memberikan peluang usaha dan diperlukan manajemen produksi usaha sebagai penunjang dalam menjalankan suatu usaha.

Kerja praktik ini dilaksanakan pada 8 Januari sampai 2 Februari 2024 di Balai Riset Pemulihan Ikan (BRPI),Sukamandi, Subang, Jawa Barat. Tujuan dari praktik kerja praktik ini adalah mengetahui teknik pendederan benih ikan gurami dengan praktik langsung di lapangan, mengetahui permasalahan yang timbul dari pendederan serta mencari alternatif penyelesaiannya. Adapun metode yang digunakan pada kerja praktik ini adalah praktik secara langsung dengan memperhatikan aspek-aspek yang berkaitan dengan pendederan ikan gurami serta wawancara langsung dengan pegawai Balai Riset Pemulihan Ikan (BRPI) Sukamandi, Subang, Jawa Barat yang berkaitan dengan pendederan ikan gurami.

Pendederan ikan gurami diawali dengan mempersiapkan kolam berukuran 10 x20 m2 serta ketinggian air 1 meter dari dasar kolam yang meliputi kegiatan pengeringan air kolam, pengisian air kembali, dan penebaran benih. Benih yang ditebar disampling terlebih dahulu dan didapatkan padat tebar sebesar 75 ekor/m2. Sampling dilakukan setiap 1 minggu sekali dan didapatkan panjang mutlak (Lm) 18.070 mm, bobot mutlak (Wm) 0,2223 g. Frekuensi pemberian pakan dilakukan sebanyak 2 kali sehari dengan menggunakan tepung ikan dengan kadar protein 40- 42% untuk menunjang pertumbuhannya. Selama masa pemeliharaan dilakukan pengecekan kualitas air dan didapatkan hasil berupa suhu 26-30°C, pH 6,3-7,6, Oksigen terlarut 3,25 mg/l. Diketahui selama masa pemeliharaan ikan gurami

(4)

dinyatakan sehat pada awal pemeliharaan, namun terjangkit penyakit yang disebabkan parasit, yaitu Oodinium sp dan Tricodina sp saat akhir pengamatan.

Oleh karena itu, dilakukan penanganan berupa pengurangan air, menjaga kestabilan suhu air, serta penambahan vitamin C dalam pakan ikan tersebut.

Sehingga didapatkan kemampuan soft skill berupa dapat berkomunikasi dengan baik kepada teknisi dan penanggung jawab lapangan , baik itu dalam menyampaikan instruksi, memecahkan masalah, atau berkolaborasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Mengatur jadwal pemberian pakan, pembersihan kolam, dan tindakan lainnya memerlukan kemampuan manajemen waktu yang baik untuk memastikan kesehatan dan pertumbuhan yang optimal bagi ikan gurami bima.

Kemampuan hard skill yang didapatkan berupa memahami kebutuhan spesifik dari ikan gurami bima, termasuk makanan, kondisi air, dan faktor-faktor lain yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan ikan gurami, pemberian pakan yang tepat, dan pembersihan atau persiapan kolam secara teratur terutama dalam kolam pendederan dan mengetahui kegiatan-kegiatan lain pada budidaya ikan gurami bima.

(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta karunia-Nya sehingga saya selaku penulis dapat menyelesaikan laporan kerja praktik dengan judul “Teknik Pendederan Ikan Gurami Bima (Osphronemus Gouramy) Di Balai Riset Pemulihan Ikan (BRPI) Sukamandi, Subang, Jawa Barat” tepat pada waktunya.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada dosen pembimbing Bapak Dr. Muhammad Fuzi, S.Pi., M.Si. yang telah memberikan bimbingannya kepada penulis untuk menyelesaikan laporan kerja praktik ini. Selanjutnya, ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada bapak Ahmad Ali Akbar S.Pi. selaku pembimbing lapangan dari BRPI, ibu Maya selaku humas BRPI dan para teknisi cluster komoditas ikan gurami bima yang telah memberikan arahan langsung pada saat dilapangan, serta keluarga, teman-teman, hingga seluruh pihak yang telah banyak membantu penulis dalam penyusunan laporan kerja praktik ini.

Penulis berharap laporan kerja pratik ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan serta pengetahuan baru bagi pembaca nantinya. Kritik dan saran yang membangun dari pembaca juga akan membantu penulis dalam penyempurnaan laporan kerja praktik.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pekanbaru, Maret 2024

Ulfilia Julisa

(6)

DAFTAR ISI

Isi Halaman

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI... ii

DAFTAR GAMBAR... iv

DAFTAR TABEL... v

DAFTAR LAMPIRAN... vi

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang... 1

1.2. Tujuan Kerja Praktik... 2

1.3. Manfaat Kerja Praktik... 2

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)... 3

2.1.1. Klasifikasi dan Morfologi Ikan Gurami... 4

2.2. Habitat dan Tingkah Laku Hidup Ikan Gurami... 5

2.3. Pakan dan Kebiasaan Makan... 6

2.4. Pendederan Ikan Gurami... 6

2.4.1. Persiapan Kolam Pendederan... 7

2.4.2. Penebaran Benih... 7

2.4.3. Pemberian Pakan... 7

2.4.4. Pemanenan... 8

2.5. Pengelolaan Kualitas Air... 9

2.6. Hama dan Penyakit... 9

III. METODE KERJA PRAKTIK 3.1. Waktu dan Tempat... 11

3.2. Metode Kerja Praktik... 11

3.3. Kegiatan Kerja Praktik... 11

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Lokasi Kerja Praktik... 13

4.1.1. Lokasi BRPI Sukamandi... 13

4.1.2. Sejarah Singkat Berdirinya BRPI Sukamandi... 14

4.1.3. Tugas Pokok dan Fungsi BRPI Sukamandi... 14

4.1.4. Visi dan Misi BRPI Sukamandi... 15

4.1.5. Struktur Organisasi BRPI Sukamandi... 15

4.1.6. Sarana dan Prasarana... 16

4.2. Teknik Pendederan Ikan Gurami... 21

4.2.1. Alat dan Bahan... 21

4.2.2. Persiapan Kolam Pendederan... 22

4.2.3. Penebaran Benih Ikan Gurami... 22

4.2.4. Pemberian Pakan pada Benih Ikan Gurami... 23

(7)

4.2.5. Sampling Pertumbuhan Benih Ikan Gurami... 24

5.2.6. Pengecekan Hama dan Penyakit... 26

5.2.7. Pengukuran Kualitas Air... 27

V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan... 28

5.2. Saran... 28

DAFTAR PUSTAKA... 29

LAMPIRAN... 31

(8)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)... 3

2. Kantor Balai Riset Pemuliaan Ikan Sukamandi... 13

3. Struktur Organisasi BRPI... 16

4. Sarana dan Prasarana BRPI Sukamandi. (a) Gedung utama; (b) Pos satpam; (c) Kolam beton; (d) Kolam tanah; (e) Hatchery; (f) Tempat Ibadah (Masjid An-Nur); (g) Laboratorium; (h) Mess 21

5. Kegiatan Pengeringan Kolam Pendederan... 22

6. (a) Aklimatisasi; (b) Penebaran benih ikan gurami... 23

7. Pemberian pakan Tubifex sp pada ikan gurami... 23

8. Pakan yang diberikan pada ikan gurami... 24

9. Benih ikan gurami yang disampling... 25

10. (a) Cara menghitung pertumbuhan bobot ikan gurami; (b) Perhitungan panjang ikan gurami... 26

11. (a) sampel ikan gurami yang diamati (b) pengambilan insang, lendir, dan sirip benih ikan gurami (c) Oodinium pada benih ikan gurami (d) Trichodina sp pada benih ikan gurami... 27

(9)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Kegiatan Selama Kerja Praktik... 12

2. Alat yang digunakan dalam Pendederan Ikan Gurami... 21

3. Bahan yang digunakan dalam Pendederan Ikan Gurami... 22

4. Kandungan Nutrisi Pakan Benih ... 24

5. Rata-rata Pertumbuhan Panjang Benih Ikan Gurami Selama Pemeliharaan di BRPI Sukamandi... 25

6. Rata-rata Pertumbuhan Bobot Benih Ikan Selama Pemeliharaan di BRPI Sukamandi... 25

7. Parameter Kualitas Air Pada Pendederan Benih Ikan Gurami... 27

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Peta Lokasi Tempat Kerja Praktik... 32

2. Jadwal Kegiatan Harian Kerja Praktik... 33

3. Alat dan Bahan yang Digunakan Selama Kerja Praktik... 36

4. Kegiatan Selama Kerja Praktik... 37

5. Hasil Pengukuran Pertumbuhan Benih Ikan Gurami ... 38

6. Perhitungan Lm, Wm, LPS, LPPS Benih Ikan Gurami... 40

7. Bukti Surat Keterangan Kerja Praktik... 42

(11)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi merupakan unit kerja yang berada di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia yang bertanggung jawab dalam melakukan penelitian dan pengembangan dalam bidang pemuliaan ikan. Balai ini melakukan penelitian untuk menghasilkan strain ikan dengan karakteristik yang unggul, sehingga dapat meningkatkan produksi perikanan di Indonesia. BRPI Sukamandi sendiri merupakan salah satu balai budidaya air tawar terbesar. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) tetapkan Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi sebagai percontohan Smart Fisheries Village (SFV) berbasis Unit Pelaksana Teknis (UPT) dalam pemanfaatan benih-benih unggul perikanan.

BRPI ditetapkan untuk perbanyakan calon induk unggul dan benih bermutu ikan air tawar. Benih dan induk unggul komoditas ekonomis penting ikan air tawar yang akan diproduksi meliputi ikan gurami bima, ikan lele mutiara, ikan nila srikandi, ikan patin perkasa, dan ikan mas mustika. Produk tersebut mempunyai keunggulan baik di aspek pertumbuhan maupun ketahanan terhadap penyakit apabila dibandingkan dengan ikan-ikan budidaya pada umumnya, dan juga telah dirilis dan disebarluaskan ke masyarakat.

Subang merupakan penyalur dua per tiga benih ikan air tawar di Jawa Barat.

Hal tersebut menjadikan pembudidayaan ikan air tawar mendapat perhatian lebih agar kebutuhan benih dapat selalu terpenuhi. Hal ini dibuktikan dengan adanya data volume produksi ikan gurami senilai 1.601.552 kg. Namun, menurut data tersebut komoditas ikan gurami termasuk peringkat dua terbawah dengan jenis ikan air tawar lainnya yang dibudidayakan di Subang.

Gurami bima adalah hasil dari persilangan sejumlah gurami lokal, Jambi dan Majalengka. Sesuai namanya bima, yang bermakna hebat atau dahsyat, ikan ini berdasarkan uji lapangan terbukti lebih unggul dari ikan gurami lokal lainnya dalam

(12)

sejumlah hal. Dinamakan Gurami Bima karena ikan ini tumbuh cepat menjadi besar layaknya tokoh Bima dalam cerita pewayangan (BPPI, 2019).

Gurami bima salah satu varietas unggul yang ada di BRPI Sukamandi dengan keunggulannya yaitu tumbuh lebih cepat dari gurami lainnya. Produksi optimal akan di dapatkan jika benih yang dipelihara merupakan benih yang unggul.

Salah satu cara untuk mendapatkan benih yang unggul yaitu dengan melakukan pendederan pada ikan gurami. Pendederan dilakukan setelah tahap penetasan telur.

Pendederan merupakan suatu kegiatan pemeliharaan benih gurami setelah periode larva sampai dihasilkan ukuran benih tertentu yang siap untuk didederkan.

Pendederan juga merupakan tahapan yang tepat untuk menyeleksi benih-benih unggul .Pendederan benih ikan gurami dapat dilakukan secara berulang kali. Pada masalah tersebut dapat disebutkan bahwa pendederan benih ikan gurami bisa dijadikan kegiatan yang dilakukan sebagai suatu bisnis.Berdasarkan hal di atas maka penulis tertarik untuk mengambil judul “Teknik Pendederan pada Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) di Balai Riset Pemulihan Ikan (BRPI) Sukamandi, Subang, Jawa Barat”.

1.2. Tujuan Kerja Praktik

Tujuan dari kerja praktik ini adalah untuk mengetahui atau memahami teknik pendederan ikan gurami (Osphronemus gouramy) secara langsung di Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI), Sukamandi, Subang Jawa Barat. Dan kerja praktik ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan baik soft skill maupun hard skill untuk mempersiapkan diri di dunia kerja.

1.3. Manfaat Kerja Praktik

Adapun manfaat yang diperoleh dari dilaksanakannya kerja praktik:

 Bagi mahasiswa kerja praktik bermanfaat guna menambah ilmu, pengalaman dan wawasan pengetahuan tentang teknik pengelolaan kualitas air dikolam pemijahan ikan gurami (Osphronemus gouramy). Di Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI), Sukamandi, Subang Jawa Barat.

 Mahasiswa juga dapat melihat secara langsung ataupun ikut bekerja pada tempat kerja praktik tersebut untuk menambah softskill dan hard skill dalam hal pendederan ikan gurami.

(13)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)

Ikan gurami (Oshpronemus gouramy) merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, bentuk badan pipih lebar, memiliki daging yang padat, bagian punggung berwarna merah sawo dan bagian perut berwarna kekuning-kuningan/keperak- perakan, durinya besar-besar dan mempuyai rasa yang gurih dan Ikan gurami merupakan ikan yang dibudidayakan di tebat (Gambar 1). Ikan gurami bima merupakan hasil pemijahan dari induk betina Majalengka dan Jantan Jambi.

Gambar 1.Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) Sumber : Sulastro,2020

Ikan gurami adalah ikan yang termasuk dalam ordo Labyrinthici yaitu kelompok ikan yang mampu menghirup oksigen langsung dari udara dengan bantuan Labirin. Sub ordo Anabantoidei yang berarti pada rongga di atas rongga insang terdapat labirin. Famili Anabantidae memiliki ciri tubuh gepeng, agak panjang, hidung pendek, mulut kecil, memiliki sirip punggung yang berbeda dengan sirip dubur dan sirip dubur lebih panjang. Genus Osphronemus yakni bercirikan garis rusuk lengkap dan tidak putus, memiliki sirip perut dengan satu jari keras dan lima jari lemah, permulaan sirip punggung berada di belakang sirip dada dan sirip punggung lebih pendek daripada sirip dubur (Hardaningsih et al., 2012).

(14)

2.1.1. Klasifikasi dan Morfologi Ikan Gurami

Daftar klasifikasi, gurami Bima termasuk dalam bangsa Labirinthici dan suku Anabantidae. Klasifikasi ikan gurami Bima secara lengkap adalah sebagai berikut (Sari et al, 2014).

Filum : Chordata Class : Pisces Ordo : Perciformes Subordo : Anabantoidei Familia : Osphronemidae Genus : Osphronemus

Spesies: Osphronemus gouramy

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh windi(2020) secara morfologi, ikan gurami memiliki garis lateral tunggal, lengkap dan tidak terputus, bersisik stenoid serta memiliki gigi pada rahang bawah. Sirip ekor membulat. Jari-jari lemah pertama sirip perut merupakan benang panjang yang berfungsi sebagai alat peraba.

Tinggi badan 2,0 s/d 2,1 kali dari panjang standar. Pada ikan muda terdapat garis- garis tegak berwarna hitam berjumlah 8 sampai 10 buah dan pada daerah pangkal ekor terdapat titik hitam bulat.

Menurut Sitanggang dan Sarwono (2001) juga menambahkan ikan gurami memiliki bentuk yang khas juga bentuk tubuhnya yang agak panjang, pipih, dan lebar. Badan ikan gurami ditutupi dengan sisik yang kuat dengan tepi yang kasar.

Memiliki ukuran mulut yang kecil letaknya miring dan tidak tepat di bawah ujung moncong. Bibir bawah terlihat lebih maju dibandingkan bibir atas dan dapat disembulkan. Warna badan umum ikan gurami biru kehitam-hitaman, di bagian perut berwarna putih, dan dibagian punggung berwarna kecoklatan.

Penampilan gurami dewasa berbeda dengan yang masih muda. Perbedaan itu dapat diamati berdasarkan ukuran tubuh, warna, bentuk kepala dan dahi. Warna dan perilaku gurami muda jauh lebih menarik dibandingkan gurami dewasa.

Sedangkan pada ikan muda terdapat delapan buah garis tegak. Bintik gelap dengan pinggiran berwarna kuning atau keperakan terdapat pada bagian tubuh diatas sirip dubur dan pada dasar sirip dada terdapat bintik hitam (Rachmatika, 2010).

Arfah et al. (2006) juga menambahkan secara visual, induk gurami jantan yang telah matang gonad dicirikan oleh bentuk tumpul pada kedua rusuk bagian perut, sedangkan ciri induk betina yang telah matang gonad bagian perut di

(15)

belakang sirip dada menggembung dan susunan sisik terutama bagian perut dekat sirip dada akan sedikit merenggang. Dari penjelasan-penjelasan beberapa ahli tersebut diketahui bahwa ikan gurami jantan dan betina memiliki perbedaan yang mendasar dan tidak jauh berbeda dengan ikan-ikan lainnya.

2.2. Habitat dan Tingkah Laku Ikan Gurami

Habitat asli gurami yaitu terdapat pada rawa dataran rendah yang berair dalam. Ikan ini bersifat sangat peka terhadap suhu rendah dan memiliki organ pernapasan tambahan sehingga dapat mengambil oksigen dari luar air. Menurut Kristina dan Sulantiwi (2015) kebiasaan hidup di alam, gurami mendiami perairan yang tenang dan tergenang seperti rawa, situ, dan danau. Di sungai yang berarus deras, jarang dijumpai ikan gurami. Kehidupannya yang menyukai perairan bebas arus itu terbukti ketika gurami sangat mudah dipelihara di kolam-kolam tergenang.

Hal yang serupa juga dikatakan oleh Pratama et al. (2018) bahwa ikan gurami mempunya kehidupan yang menyukai perairan bebas arus itu terbukti ketika ikan gurami mudah dipelihara di kolam kolam. Perairan tawar yang tenang dan tergenang seperti rawa dan sungai memiliki kadar oksigen yang cukup dan mutu air yang baik merupakan habitat asli ikan gurami. Ikan gurami dapat berkembangbiak dengan baik di daerah dataran rendah.

Walau gurami dapat dibudidayakan di dataran rendah dekat pantai, perairan yang paling optimal untuk budidaya adalah yang terletak pada ketinggian 50 - 400 m diatas permukaan laut seperti di Bogor, Jawa Barat. Ikan ini masih bertoleransi sampai pada ketinggian 600 m diatas permukaan laut seperti di Banjarnegara, Jawa Tengah. Suhu ideal untuk ikan gurami adalah 24 – 280C (Sitanggang dan Sarwono, 2001).

Ikan gurami sanggup berkembang biak pada tempat yang tidak memungkinkan bagi ikan lain, seperti ikan mas dan tawes. Ikan gurami akan sulit hidup apabila seluruh permukaan air kolam tertutup oleh tanaman air yang mengapung seperti eceng gondok. Hal ini erat kaitannya dengan adanya alat pernapasan tambahan yang memungkinkannya mampu menghirup oksigen dari udara bebas. Alat yang merupakan selaput yang berkelok-kelok dan merupakan penonjolan dari tepi insang yang pertama itu akan menyembulkan diri ke

(16)

permukaan air, sedangkan labirin mampu menolong ikan gurami karena terdiri dari pembuluh darah kapiler yang memungkinkan menyerap zat asam dari udara yang ada di ruangan labirin (Mokoginta et al., 2017).

Nugroho (2012) menyatakan dilihat dari persyaratan hidupnya, ikan gurami relatif tahan hidup pada kondisi air stagnan yang miskin oksigen. Walaupun persyaratan lingkungan hidupnya tidak membutuhkan kekhususan, akan tetapi pada kenyataannya petani yang tertarik untuk mengembangkan ikan ini sangat kurang bila dibandingkan dengan ikan lele, mas, nila dan ikan ekonomis penting lainnya.

2.3. Pakan dan Kebiasaan Makan

Menurut Shalihin et al. (2017), ikan gurami pada stadia larva dan benih bersifat karnivora dan mengalami perubahan kebiasan makan yang cenderung menjadi omnivora ketika mencapai ukuran induk. Larva ikan gurami menyukai pakan alami berupa rotifer, infusaria, dan Artemia sp, setelah berumur beberapa hari benih-benih ikan gurami makan larva insect, crustacean dan zooplankton setelah beberapa bulan baru memilih makanan berupa tumbuhan air yang lunak.

Selanjutnya saat dewasa gurami biasa memakan tumbuhan air dan dapat pula memakan dedauan seperti daun lamtoro, daun talas, kangkung, daun singkong, dan daun indigofera.

Larva ikan gurami memerlukan pakan yang sesuai dengan bukaan mulutnya, seperti pakan alami Artemia yang sangat cocok untuk pakan ikan gurami pada saat fase larva. Selama masa pertumbuhan, ikan gurami mengalami perubahan tingkah laku makan (feeding habit) yang sangat signifikan. Larva bersifat pemakan daging (karnivora) dengan memakan rotifera dan infusaria sampai dengan ukuran ikan umur tertentu, sedangkan benih bersifat pemakan segala (omnivora) dan setelah dewasa menjadi pemakan daun (herbivora) seperti daun talas, daun lamtoro, daun s ingkong, daun pepaya dan kangkung (Khairuman dan Amri, 2008).

2.4. Pendederan Ikan Gurami

Menurut Budiana dan Rahardja (2018) mengatakan bahwa pendederan adalah pemeliharaan benih ikan yang bertujuan untuk mendapatkan benih ukuran tertentu.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pendederan ikan gurami antara lain:

persiapan kolam pendederan, penebaran benih, pemberian pakan, pengelolaan kualitas air, manajemen kesehatan ikan, dan teknik pemanenan benih.

(17)

2.4.1. Persiapan Kolam Pendederan

Dalam suatu kegiatan budidaya (pendederan) ikan, aspek persiapan kolam sebelum penebaran benih ikan merupakan hal yang harus diperhatikan, karena dapat berpengaruh terhadap hasil yang akan diperoleh pada saat panen. Persiapan- persiapan tersebut mencakup beberapa aspek di antaranya: sumber air bebas bahan pencemar; tersedianya saluran air masuk dan keluar, pengangkatan lumpur kolam, pengeringan, pengapuran, pengisian air, pemberian saponin, serta pemupukan menggunakan pupuk kompos , dan pupuk anorganik (Andriyanto et al., 2012) hal ini bertujuan agar kolam yang menampung sudah bersih dari patogen pembawa penyakit sehingga benih dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal.

2.4.2. Penebaran Benih

Metode yang digunakan untuk penebaran benih di antaranya pengecekan kondisi benih yang baru datang, pengangkutan benih, dan aklimatisasi yaitu memberi kesempatan kepada ikan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, dengan tujuan menghindari terjadinya stres pada benih yang akan ditebar di kolam pendederan. Penanganan benih yang akan ditebar dalam kolam pemeliharaan terutama yang baru saja tiba dari perjalanan jauh harus hati-hati. Sesuai dengan pernyataan Andriyanto et al. (2012) salah aspek penting dari usaha budidaya ikan adalah transportasi ikan hidup tanpa mengakibatkan kematian ikan yang cukup tinggi dan secara ekonomis menguntungkan. Penanganan benih yang akan ditebar ke kolam pendederan meliputi beberapa aspek, yaitu dilakukan secara hati-hati, ukuran benih yang ditebar harus seragam dan cukup kuat, memastikan kondisi kolam sudah siap (ketinggian air stabil, plankton sudah tumbuh) hal ini bertujuan agar benih dapat tumbuh dengan optimal dan mencapai target. Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari saat suhu masih rendah untuk menghindari terjadinya stres pada ikan.

2.4.3. Pemberian Pakan

Salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan pendederan ikan gurami adalah pemberian pakan yang sesuai (kualitas dan kuantitas) dengan kebutuhan tumbuh ikan. kepadatan ikan berpengaruh terhadap kondisi lingkungan

(18)

pemeliharaan. Semakin padat ikan yang dipelihara, pakan yang diberikan juga semakin banyak. Metode dan waktu pemberian pakan harus disesuaikan dengan kebiasaan ikan makan. Persediaan pakan harus tersimpan di tempat dan wadah khusus yang bersih. Sifat fisik pakan harus sesuai dengan kebiasaan makan ikan, pakan tidak mudah hancur dalam air, mempunyai aroma yang dapat menarik dan merangsang nafsu makan. Pakan sebaiknya tidak disimpan terlalu lama, hendaknya tidak lebih dari satu bulan. Pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari yaitu pada pagi, siang, dan sore hari. Jumlah pakan yang diberikan dihitung berdasarkan bobot total ikan dari setiap wadah pemeliharaan yang disesuaikan.

Kolifah (2015) juga menambahkan kebiasaan makan ikan gurami pada saat larva bersifat karnivora karena larva ikan gurami menyukai jasad renik seperti kutu air, rotifer, dan Artemia. Ikan gurami stadia benih menyukai dan memakan cacing sutera (Tubifex sp) dan dilanjutkan tumbuh-tumbuhan seperti daun talas/sente, ketela pohon, kangkung, dan daun pepaya. Sedangkan ikan gurami yang telah dewasa berubah menjadi ikan pemakan segala (omnivora) yang cenderung pemakan tumbuhan. Pada pemeliharaan ikan gurami secara intensif maka keberadaan pakan buatan (pelet) mutlak diberikan.

2.4.4. Pemanenan

Pemanenan sebaiknya dilakukan saat pagi ataupun sore hari saat cuaca tidak terlalu panas agar ikan tidak stress. Benih melalui tahap grading untuk memisahkan antara benih yang hidup dan mati serta untuk mendapatkan ukuran benih yang seragam. Hal ini akan memudahkan untuk penjualan sesuai permintaan konsumen nantinya.

Ikan peliharaan yang mencapai bobot sesuai dengan permintaan pasar dipanen. Kolam yang akan dipanen airnya dikurangi terlebih dahulu secara perlahan dan bertahap. Menurut Budiana dan Raharja (2018), Pemanenan dilakukan dengan cara pengurangan volume air yang bertujuan untuk mempermudah pemanenan ikan. Ikan-ikan diambil dengan cara diseser ketika air surut dengan menggunakan jaring yang di pegang oleh minimal 2 orang. Jaring dibentangkan dan menyentuh dasar kolam. Jaring kemudian digerakkan ke sisi lain sehingga ikan dapat terkumpul di jaring tersebut. Ikan yang sudah terambil dimasukkan ke dalam bak

(19)

penampung. Tujuan ikan dimasukkan ke dalam bak penampung adalah untuk menjaga ikan tetap segar hingga saat packing.

2.5. Pengelolaan Kualitas Air

Menurut Pratama et al. (2018) bahwa Kehidupan organisme akuatik termasuk ikan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti: suhu, oksigen terlarut, karbondioksida bebas, derajat keasaman (pH), dan salinitas. Oleh karena itu, faktor-faktor tersebut harus dikendalikan dalam budidaya ikan.

Suhu memiliki peranan penting untuk menentukan pertumbuhan ikan yang dibudidaya. Hal ini didukung oleh Putra et al. (2016) menyatakan bahwa ikan tropis dan subtropis tidak bisa tumbuh dengan baik saat suhu <26 – 30ºC. Selain itu kadar pH, oksigen terlarut maupun amoniak selama masa pemeliharaan juga harus diperhatikan agar ikan dapat tumbuh optimal.

Menurut Nugroho (2012) konsentrasi amoniak yang baik bagi kehidupan ikan berkadar kurang dari 1,0 mg/L. Wahyuningsih dan Gitarama (2020), menyatakan bahwa konsentrasi amoniak yang tinggi pada perairan akan mengakibatkan kematian pada ikan. Toksisitas amonia dipengaruhi oleh pH yang ditunjukkan dengan kondisi pH rendah akan bersifat racun jika jumlah amonia banyak, sedangkan dengan kondisi pH tinggi hanya dengan jumlah amonia yang sedikit juga akan bersifat racun. Oleh karena itu parameter-parameter kualitas air selama masa pemeliharaan harus dijaga agar pertumbuhan dan perkembangan ikan tetap optimal serta terhindar dari stres maupun penyakit.

2.6. Hama dan Penyakit

Hama dan penyakit hama dan penyakit pada budidaya ikan gurami sering menimbulkan kegagalan serta kerugian besar. Adapun beberapa hal yang menyebabkan timbulnya penyakit berupa kesuburan kolam dampak dari pemupukan, makanan, kepadatan ikan yang tinggi serta kualitas air yang buruk (Kristina dan Sulantini, 2015)

Hama adalah hewan yang berukuran lebih besar dan mampu menimbulkan gangguan pada ikan. Beberapa pemangsa utama ikan gurami dari jenis hama yang sering ditemukan pada usaha budidaya ikan gurami adalah ular, belut, katak, dan burung pemakan ikan. Dilihat dari jenis pemangsa air menurut Hartono (2015),

(20)

musuh utama ikan gurami terbagi atas ikan liar pemangsa dan beberapa jenis ikan pemelihara.

Jenis penyakit yang sering mengganggu dalam budidaya ikan gurami adalah penyakit bintik putih (White spot) yang disebabkan jenis protozoa Ichthyopthirius multifilis yang menyerang benih dan induk ikan gurami. Protozoa ini menjadi parasit yang sulit diberantas karena kehadirannya sering kali diliputi oleh lendir yang sulit ditembus oleh larutan obat. Mereka menyerang ikan dibawah selaput lendir ikan yang merupakan benteng pertahanan utama bagi ikan (Nurcahyo, 2018).

Selain itu, jenis penyakit yang juga sering menyerang induk ikan gurami adalah Argulus indicus. Parasit ini tergolong Crustacea tingkat rendah yang hidup sebagai ektoparasit. Argulus indicus menempel pada sirip atau sisik pada induk ikan gurami .

(21)

III. METODE KERJA PRAKTIK

3.1. Waktu dan Tempat

Kerja praktik dilaksanakan di Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi, Subang, Jawa Barat. Pelaksanaan kerja praktik tersebut dilaksanakan dari tanggal 8 Januari – 2 Februari 2024.

3.2. Metode Kerja Praktik

Kerja Praktik yang dilaksanakan di Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi, Subang, Jawa Barat mengikuti beberapa metode. Pada tahap awal kerja praktik, dosen pembimbing lapangan atau instruktur memberikan arahan atau mentorial kepada mahasiswa. Kegiatan dilaksanakan dengan mengumpulkan peserta kerja praktik pada ruang kelas. Pada peserta diajarkan tentang topik-topik yang dilakukan selama kegiatan kerja praktik. Arahan dan mentorial dilaksanakan selama satu hari dan akhir sesi dilakukan evaluasi atau test untuk menilai pemahaman bagi peserta kerja praktik.

Setelah melalui tahap mentorial tersebut, metode kerja praktik yang dilaksanakan yaitu praktik langsung terhadap objek kegiatan yang menjadi tujuan pelaksanaan kerja praktik mahasiswa. Pada tahap ini mahasiswa didampingi oleh pembimbing atau mentor. Metode praktik langsung tersebut, mentor atau pembimbing lapangan mengenalkan dan menangani objek kerja praktik. Untuk meningkatkan pemahaman dan ketrampilan mentor atau pembimbing lapangan melatih mahasiswa untuk melakukan kegiatan tertentu pada objek serta memberikan tanggung jawab dalam melaksanakan kegiatan terhadap objek kerja praktik.

3.3. Kegiatan Kerja Praktik

Kerja praktik ini dilakukan pada tanggal 8 Januari- 2 Februari 2024 di Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi, Subang, Jawa Barat dapat tersaji pada Tabel 1.

(22)

Tabel 1. Kegiatan Selama Kerja Praktik

No Jenis Kegiatan Minggu ke Keterangan

1 2 3 4

1. Pengenalan lokasi kerja praktik

X Kegiatan berupa penjelasan, pengarahan dan orientasi oleh Kepala Pelayanan Teknis BRPI Sukamandi 2. Persiapan kolam

pendederan ikan gurami

X Dilakukan di lapangan,

dibimbing oleh Bapak Sugiyo

3. Penebaran benih ikan gurami

X Dilakukan di lapangan dibimbing oleh Bapak Sugiyo

4. Pemberian pakan X X Dilakukan di lapangan

dibimbing oleh Bapak Sugiyo

5. Monitoring kualitas air X X Dilakukan di lapangan dan di hatchery dibimbing oleh Bapak Sugi dan Bapak Manto

6. Pengamatan dan pengambilan data parameter yang diamati

X X Dilakukan di lapangan, dan Laboratorium

7. Pembuatan laporan X X Dilakukan di hatchery dan lapangan

8. Seminar hasil kerja praktik X X X Dilakukan di Auditorium BRPI Sukamandi dilakukan oleh Ibu Maya, Bapak Ali, dan setiap pembimbing komoditas yang ada.

(23)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskripsi Lokasi Kerja Praktik 4.1.1. Lokasi BRPI Sukamandi

Secara geografis, Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi, Subang, berada pada 601’6042’BT dan 107037-107054’LS, Berlokasi di Jl. Raya Sukamandi KM 99 Pantura, Desa Rancamulya, Kecamatan Patokbesi, Kabupaten Subang, Jawa Barat. BRPI Sukamandi memiliki luas area sekitar = 55 ha yang terdiri dari 33,4 ha area perkolaman termasuk reservoir dan saluran air masuk. 1.87 ha area perkantoran dan 19,73 ha lainnya digunakan untuk hatchery. perumahan karyawan dan sarana penunjang lainnya. Keadaan tanah relatif datar dengan ketinggian 16 mdpl dan kemiringan lahan 0,03%. Daerah sekitarnya merupakan area pertanian tanaman padi dengan jenis tanah liat. Sebelah utara BRPI Subang berbatasan dengan jalur pantura, sebelah timur berbatasan dengan Balai Penelitian Tanaman Padi (BPTP), sebelah selatan berbatasan dengan Sungai Citempura dan di sebelah barat berbatasan dengan perkampungan masyarakat Patokbesi.

Penampakan kantor dapat di lihat pada (Gambar 2).

(24)

Gambar 2. Kantor Balai Riset Pemuliaan Ikan Sukamandi Sumber : http://bppisukumandi.kkp.go.id

4.1.2. Sejarah Singkat Berdirinya BRPI Sukamandi

Balai Penelitian Pemulihan Ikan (BPPI) Sukamandi berdiri pada tahun 26 Juni 1927, yang diawali dengan didirikan Labotarium Voor de Binnen Visserij oleh Pemerintah Belanda di Cibalangun, Bogor, Jawa Barat. Pada September 1951 Menteri Pertanian mendirikan Labolatorium Penyelidikan Perikanan Darat (LPPD) di Cibalangun, Bogor. Pada tahun 1953 LPPD berubah nama menjadi Balai Penyelidikan Perikanan Darat (LPPD) yang berkedudukan di Pasar Minggu, Jakarta tahun 1857 berpindah tembat ke Sempur Bogor. Kemudian pada tahun 1994 berpindah lokasi ke Sukamandi Subang, Jawa Barat dan berganti nama Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (BALITKANWAR) Republik Indonesia.

Perubahan selanjutnya pada tahun 2004, yaitu menjadi Loka Riset Pemulihan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar (LRPTBPAT) yang dibentuk berdasarkan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia KEP.07/MEN/2003. LRPTBPAT mempunyai tugas melaksanakan riset pemulihan dan teknologi budidaya ikan air tawar, perairan umum, waduk dan daerah aliran sungai dengan komoditas ikan patin, ikan nila, ikan gurami, ikan mas, ikan lele dan udang galah. Pada September 2011, LRPTBAP resmi menjadi sebuah balai dengan

(25)

nama. Balai Penelitian Pemulihan Ikan (BPPI) Sukamandi dibentuk berdasarkan keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan KEP.33/MEN/2011 pada 26 September 2011. Namun pada tahun 2017 berubah nama menjadi Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi hingga sekarang.

4.1.3. Tugas Pokok dan Fungsi BRPI Sukamandi

BRPI Sukamandi merupakan Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) Kementerian Kelautan dan Perikanan di Bidang Penelitian dan Pemulihan Ikan yang berada dibawah dan bertanggung jawab Kepala Pusat Penelitian yang memiliki tugas melaksanakan penelitian pemulihan ikan budidaya, dengan fungsi sebagai berikut:

1. Pelaksanakan penelitian pemulihan ikan budidaya meliputi pembenihan, genetika, biologi, reproduksi, filosofi, dan bioteknologi untuk menghasilkan ikan yang unggul.

2. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.

3. Penyusun rencana program dan anggaran, pemantauan dan evaluasi, serta laporan.

4. Pelayanan teknis jasa, informasi komunikasi dan kerja sama penelitian pemulihan ikan budidaya.

5. Pengolahan prasarana dan sarana penelitian pemulihan ikan budidaya 4.1.4. Visi dan Misi BRPI Sukamandi

Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi memiliki misi, menjadi lembaga penelitian terkemuka dibidang pemulihan ikan budidaya dengan misinya adalah menghasilkan verietas ikan budidaya unggul, menyebarkan informasi dan IPTEK perikanan budidaya.

4.1.5. Struktur Organisasi BRPI Sukamandi

Pembentukan struktur organisasi pada suatu perusahaan bertujuan untuk pembagian jobdesk setiap anggota dan bagaimana aktivitas dalam perusahaan yang berbeda mampu saling terkoordinasi. Tipe struktur organisasi yang digunakan oleh BRPI adalah organisasi lini dan staf. Menurut Ihsanudin dan Rudini (2021), bahwa organisasi Lini dan Staf adalah suatu bentuk organisasi di mana pelimpahan wewenang berlangsung secara vertikal dan sepenuhnya dari pucuk pimpinan ke kepala bagian di bawahnya serta masing-masing pejabat. Manajer ditempatkan satu

(26)

atau lebih pejabat staf yang tidak mempunyai wewenang memerintah tetapi sebagai pemberi masukan, bantuan pikiran, saran-saran, serta data informasi yang dibutuhkan. Berdasarkan organisasi yang di bentuk oleh BRPI, unit kerja fungsional mencakup Kepala Balai, Sub koordinat Pelaksanaan Teknis (PT), Manajer dan Sekretaris sarpras, sedangkan untuk unit divisional mencakup semua penanggung jawab dari masing-masing komoditas yang ada di BRPI (Gambar 3).

Gambar 3. Struktur Organisasi BRPI

Berdasarkan keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia KEP.07/MEN/2003 Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi berada dibawah langsung Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) dan bertanggung jawab langsung kepada Pusat Riset Perikanan Budidaya (PRPB). Saat ini Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi dikepalai oleh Agus Cahyadi, S.Pi., MP. yang bertanggung jawab atas keseluruhan aspek pada BRPI Sukamandi.

Kepala BRPI dalam menjalankan tanggung jawabnya dibantu oleh kepala bagian umum oleh Hary Kurniawan, M.Si., dan koordinator pelaksana fungsi pelayanan fungsional, yaitu bidang Pelayanan Teknis (PT) oleh Asep Sopian, S.Pi., M.Si.

4.1.6 Sarana dan Prasarana

Fasilitas adalah segala sesuatu yang ditempati dan dinikmati oleh karyawan dan sengaja disediakan untuk dipakai dan dipergunakan serta dinikmati oleh tamu,

(27)

dan untuk penggunanya. Adapun Fasilitas yang terdapat di Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi, Subang antara lain sebagai berikut:

a) Gedung Utama

Gedung Utama BRPI merupakan gedung yang digunakan oleh kepala BRPI serta karyawan atau pegawai BRPI dalam melakukan kegiatan pengawasan dan menjalankan tugasnya. Gedung ini juga digunakan untuk penerimaan mahasiswa magang dan PKL serta melakukan apel pagi di setiap seninnya, kecuali senin minggu pertama di setiap bulannya. Fasilitas yang terdapat di gedung tersebut diantaranya ruang rapat, aula, ruang khusus kepala balai, ruangan untuk karyawan, perpustakaan, toilet, mushola, auditorium, dan lain-lain. Gedung ini diperuntukan untuk pertemuan antara kepala balai dan karyawannya dengan para tamu terlihat pada (Gambar 4a).

b) Pos Satpam

Pos satpam merupakan sebuah bangunan yang dijadikan satpam sebagai tempat pengawasan dan penjagaan aset di area lingkungan kerja. Fungsi dari pos satpam biasanya adalah melindungi dan mengayomi lingkungan/tempat kerjanya dari setiap gangguan keamanan, serta menegakkan peraturan dan tata tertib yang berlaku di lingkungan kerjanya. Ukuran pos satpam tersebut bisa menampung setidaknya 2-4 orang dan di lengkapi beberapa fasilitas pendukung untuk para penjaga. Pos keamanan merupakan bagian penting, sebagai sarana keamanan terutama untuk para petugas penjaga saat istirahat dan berkumpul, baik sebelum maupun setelah keliling melaksanakan tugas dalam menjaga dan memelihara keamanan dan ketertiban lingkungan sekitar BRPI menggunakan CCTV (Gambar 4(b)).

c) Kolam Budidaya (Kolam Beton, Kolam Tanah, Kolam Jaring Apung) Kolam merupakan salah satu sarana budidaya ikan yang penting untuk menunjang keberhasilan budidaya ikan khususnya perikanan air tawar. Kolam adalah media atau wadah air yang digunakan untuk ikan hidup, sehingga diusahakan semirip mungkin dengan kondisi alami lingkungan ikan di alam bebas, sehingga dengan kata lain diharapkan kita dapat memanipulasi lingkungan kolam sehingga ikan betah dan mampu berkembang biak dengan baik di kolam. Pada Balai

(28)

Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) terdapat fasilitas dalam penunjang kegiatan pembenihan dan pembesaran ikan yakni kolam budidaya. Kolam budidaya yang terdapat pada BRPI terdapat 2 (dua) jenis kolam, yaitu kolam beton dan kolam tanah

1) Kolam Beton

Kolam beton adalah kolam yang bagian dasar kolam dan pematangnya di beton sehingga tidak mudah rusak/permanen. Kolam beton ini merupakan salah satu kolam yang diperuntukkan untuk kegiatan dalam jangka waktu panjang. Kolam beton di BRPI tersebar di beberapa cluster komoditas ikan air tawar, yaitu cluster k omoditas ikan patin, lele, gurami, mas, dan nila. Pada cluster komoditas ikan patin terdapat kolam beton sebanyak 76 kolam yang terdiri dari 48 kolam indukan dan 28 kolam pembesaran. Pada cluster komoditas ikan lele terdapat kolam beton sebanyak 64 kolam yang terdiri dari 30 kolam indukan, 10 kolam calon indukan, dan 24 kolam pendederan. Pada cluster komoditas ikan gurami terdapat kolam beton sebanyak 20 kolam yang terdiri dari 10 kolam pemijahan dan 10 kolam pendederan.

Pada cluster komoditas ikan mas terdapat kolam beton sebanyak 39 kolam yang terdiri dari 19 kolam pemijahan dan 20 kolam pendederan. Pada cluster komoditas ikan nila terdapat kolam beton sebanyak 30 kolam (Gambar 4(c)).

2) Kolam Tanah

Kolam tanah adalah kolam yang seluruhnya terbuat dari tanah. Kolam ini merupakan lahan yang dibajak dan kemudian dilakukan proses pengapuran sampai dimasukkannya air, sehingga kolam ini siap untuk digunakan dalam kegiatan budidaya. Kolam tanah di BRPI tersebar di beberapa cluster komoditas ikan air tawar, yaitu cluster komoditas ikan patin, lele, gurami, mas, dan nila. Pada cluster komoditas ikan patin terdapat kolam tanah sebanyak 1 kolam yang dengan luas 2.000 m2. Pada cluster komoditas ikan lele terdapat kolam tanah sebanyak 10 kolam yang terdiri dari 2 kolam ikan koleksi dan 8 kolam pembesaran. Pada cluster komoditas ikan gurami terdapat kolam tanah sebanyak 28 kolam yang terdiri dari 16 kolam pemijahan dan 12 kolam pendederan. Pada cluster komoditas ikan mas terdapat kolam tanah sebanyak 10 kolam yang terdiri dari 5 kolam indukan dan 5 kolam pembesaran. Pada cluster komoditas ikan nila terdapat kolam tanah ukuran 200 m sebanyak 64 kolam dan kolam tanah ukuran 2000 m sebanyak 12 kolam (Gambar 4 (d)).

(29)

d) Hatchery

Hatchery merupakan bangunan yang digunakan sebagai tempat pembenihan ikan, dari pemijahan sampai menghasilkan larva. Bangunan hatchery bisa dibuat secara permanen untuk proses pemeliharaan larva ikan. Hatchery sangat menentukan berhasil tidaknya pemijahan. Proses pemijahan yang dilakukan di tempat tersebut sudah berjalan dengan baik karena sudah memenuhi kriteria lokasi hatchery, yaitu dekat dengan sumber air, volume air yang selalu mencukupi, kondisi air yang jernih, bebas dari pencemaran bahan-bahan berbahaya, ber-pH netral, dan kandungan oksigennya yang cukup tinggi, serta lokasi yang tidak terlalu jauh dan mudah dijangkau karena dalam tahapan ini perlu pengontrolan yang sangat intensif. Hatchery memiliki beberapa fasilitas untuk mendukung proses pemeliharaan larva yaitu kolam fiber, akuarium, aerator, dan ruangan untuk penelitian lebih lanjut mengenai larva ikan. Hatchery ini ada di setiap cluster komoditas ikan air tawar (ikan patin, lele, gurami, mas, dan nila) dan kriteria yang diterapkan juga sama serta fasilitasnya juga sama antara cluster satu dengan yang lainnya (Gambar 4 (e)).

e) Tempat Ibadah (Masjid An-Nur)

Masjid adalah tempat ibadah masyarakat yang beragama muslim. Masjid juga dapat dijadikan tempat untuk pendidikan tingkat TPA atau tingkat TK - SD.

Selain itu, masjid juga dijadikan sarana mencari ilmu masyarakat dengan adanya kajian dan pengajian rutin di setiap malam jumat. Masjid juga sebagai sarana mempererat silaturahmi antar masyarakat dengan adanya berbagai acara yang diselenggarakan di masjid. Fasilitas yang terdapat di masjid yaitu toilet, tempat wudhu, tempat beribadah, dan fasilitas penunjang untuk beribadah lainnya seperti Al Quran, sajadah, dan mukena (Gambar 4 (f)).

f) Laboratorium

Laboratorium adalah sebuah ruangan atau tempat yang didesain khusus untuk melakukan percobaan, penelitian, atau pengujian terhadap berbagai benda atau materi dengan tujuan memperoleh informasi atau data yang berguna dalam bidang tertentu. Di laboratorium ini dilengkapi dengan peralatan khusus, instrumen pengukuran, dan bahan kimia atau bahan-bahan lain yang digunakan dalam

(30)

kegiatan penelitian atau pengujian terutama dalam hal perikanan. Kegiatan di laboratorium sangat penting untuk membantu pemahaman kita terhadap berbagai fenomena alam atau kehidupan serta untuk pengembangan teknologi baru yang bermanfaat bagi manusia (Gambar 4(g)).

g) Mess

Mess adalah penginapan yang disediakan oleh sebuah instansi untuk para pegawai ataupun para mahasiswa dan taruna yang melakukan kerja praktik atau PKL di instansi terkait. Mess memiliki beberapa fasilitas diantaranya yaitu kamar tidur, kamar mandi, tempat untuk menjemur pakaian, dan tempat untuk parkir kendaraan. Mess dijadikan tempat untuk istirahat taruna dan mahasiswa setelah melakukan kegiatan di BRPI. Selain itu, mess juga dijadikan tempat untuk berkumpulnya taruna dan mahasiswa dalam melakukan diskusi terkait kegiatan yang akan dilakukan di BRPI seperti (Gambar 4(h)).

h). Tempat Parkir

Tempat parkir merupakan tempat yang digunakan para karyawan BRPI dalam memarkir kendaraan mereka. Fungsi area parkir adalah untuk meletakkan kendaraan baik mobil, motor, maupun sepeda milik karyawan. Selain itu tempat parkir dapat memudahkan penggunanya dalam memarkirkan kendaraan mereka agar lebih rapi. Tempat parkir membuat penggunanya tidak perlu khawatir akan terjadi kehilangan atau dipindahkan dari tempat semula. Umumnya tempat parkir memiliki atap agar kendaraan yang parkir tetap berteduh dari panas dan hujan.

(a) (b)

(31)

(c) (d)

(e) (f)

(g) (h)

Gambar 4. Sarana dan Prasarana BRPI Sukamandi. (a) Gedung utama; (b) Pos satpam; (c) Kolam beton; (d) Kolam tanah; (e) Hatchery; (f) Tempat Ibadah (Masjid An-Nur); (g) Laboratorium; (h) Mess

4.2. Teknik Pendederan Ikan Gurami 4.2.1. Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam pendederan ikan gurami di Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi, Subang, Jawa Barat disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Alat yang digunakan dalam pendederan ikan gurami N

o

Alat Fungsi

1 Kolam pemeliharaan benih

Tempat pemeliharaan benih 2 Water quality checker Pengukur kualitas air

(32)

(WQC)

3 Serokan/seser Alat pengambil benih 4 Smarthphone Mengambil dokumentasi 5 Aerator Alat penyuplai oksigen 8

9 10 11 12

Alat tulis Petridish Baskom

Timbangan analitik Penggaris

Mencatat data

Tempat peletakan ikan saat sampling

Wadah sampel benih yang diamati Pengukur bobot benih

Mengukur pt, ps dan bobot ikan Bahan-bahan yang digunakan dalam melakukan pendederan ikan gurami seperti tersaji pada di Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi, Subang, Jawa Barat dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Bahan yang digunakan dalam Pendederan Ikan Gurami

Bahan Kegunaan

Benih Ikan Gurami Sebagai benih yang akan dipelihara

Air tawar Sebagai media hidup ikan

Pelet komersil Sebagai makanan untuk benih ikan Gurami 4.2.2. Persiapan Kolam Pendederan

Kolam yang digunakan pada kegiatan pendederan di Balai Riset Pemuliaan Ikan Sukamandi adalah kolam semen berukuran 3x4 m2 dengan jumlah 3 kolam.

Kolam sebelumnya dikeringkan terlebih dahulu dari air, kotoran dan sisa pakan alami yang terdapat didalam kolam. Kolam dikeringkan dengan cara membuka saluran outlet yang pada saluran outlet diletakkan saringan untuk memfilter sisa pakan alami yang terdapat di dalam kolam. Setelah air kolam habis, pakan alami ataupun kotoran yang terdapat di dalam kolam diserok menggunakan serokan yang diarahkan ke saluran outlet.

(33)

Gambar 5. Kegiatan pengeringan kolam pendederan

4.2.3. Penebaran Benih Ikan Gurami

Benih yang ditebar yaitu larva berumur satu minggu yang sudah habis kuning telurnya lalu dibesarkan di kolam pendederan. Sebelum ditebar dilakukan sampling terlebih dahulu untuk mengetahui bobot rata-rata menggunakan timbangan analitik dengan ketelitian 0,001 dan panjang rata-rata benih dengan menggunakan aplikasi pengukur panjang. Benih ini memiliki bobot tubuh rata-rata 0,001 g dengan panjang total rata-rata 7,65 mm. Proses ini berlangsung selama 10-15 menit lalu ikan akan keluar satu persatu dari kantong benih (Gambar 6).

(a) (b)

Gambar 6. (a) Aklimatisasi; (b) penebaran benih ikan gurami

4.2.4. Pemberian Pakan pada Benih Ikan Gurami

Untuk pemberian pakan tidak ada perlakuan khusus karena pakan yang diberikan berupa pakan alami yang telah dipersiapkan sebelumnya pada proses persiapan kolam. Kemudian diberikan beberapa pakan tambahan berupa cacing sutera (Tubifex sp.) agar pertumbuhan ikan gurami semakin optimal. Pemberian cacing sutera (Tubifex sp.) pada benih ikan gurami terlebih dahulu diberikan perlakuan dengan merendam dalam air yang bersalinitas 5 ppt, perlakuan tersebut ditujukan agar pakan cacing sutera yang diberikan pada ikan terbebas dari penyakit dan tidak menjadi agen penyebab penyakit pada ikan karena cacing sutera (Tubifex sp.) hidup di dasar perairan yang mengandung limbah-limbah organik dan non- organik atau perairan yang kotor, sehingga secara tidak langsung dapat sebagai pembawa bibit-bibit penyakit.

(34)

Gambar 7. Pemberian pakan Tubifex sp pada ikan gurami

Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari yaitu saat pagi pukul 08.00 WIB, dan sore hari pukul 17.00 WIB. Pakan komersil yang diberikan harus sesuai dengan bukaan mulut ikan oleh karena itu digunakan pelet ikan dalam bentuk tepung dengan ukuran 0,4 mm sebagai pakan untuk benih ikan.

Pakan berupa tepung yang diberikan dengan cara ditebar secara merata ke sekeliling kolam serta memperhatikan arah angin saat penebarannya dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Kandungan Nutrisi Pakan Benih

No Kandungan Nutrisi Kadar (%) SNI (%)

1 Protein 40-42 Min. 38

2 Lemak 6 Maks. 7

3 Serat kasar 3 Maks. 5

4 Abu 12 Maks. 12

5 Kandungan air 10 Maks.12

Keterangan: Kemasan Pakan; SNI 7473 – 2009: Pakan Buatan untuk Ikan Gurami

Gambar 8. Pakan yang diberikan pada Ikan Gurami 4.2.5. Sampling Pertumbuhan Benih Ikan Gurami

(35)

Sampling dilakukan setiap 5 hari sekali dan seminggu sekali pengambilan sampel dimulai saat larva yang berumur satu minggu dimana sudah habis kuning telurnya dan siap untuk ditebar pada kolam pendederan, hingga benih berumur 20 hari. Adapun banyaknya benih yang digunakan sebagai sampel yakni sebanyak 30 ekor (Gambar 9).

Gambar 9. Benih ikan gurami yang akan disampling

Adapun data pertumbuhan panjang total rata-rata benih gurami yang diamati selama 20 hari yang dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Rata-rata Pertumbuhan Panjang Benih Ikan Gurami Bima (Osphronemous gouramy) Selama Pemeliharaan di BRPI Sukamandi

No Umur (hari) Panjang Total (mm)

1 10 8.830

2 3

17

21 1.220

1.780

4 28 2.690

Berdasarkan hasil pengamatan pengukuran pertumbuhan panjang ikan gurami dari awal hingga akhir pengamatan didapatkan hasil panjang mutlak yakni panjang benih diakhir pemeliharaan (Lt) yaitu 2.690 mm dikurangkan dengan panjang benih diawal pemeliharaan (Lo) yaitu 8.830mm maka didapatkan hasil Panjang mutlak (Lm) sepanjang 18.070 mm. Adapun pertumbuhan panjang benih ikan gurami dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Rata-rata Pertumbuhan Bobot Benih Ikan Gurami Bima (Osphronemous gouramy) Selama Pemeliharaan di BRPI Sukamandi

No Umur (hari) Bobot Total (gr)

1 10 0.0095

2

3 17

21 0.0342

0.0252

4 28 0.2318

(36)

Berdasarkan hasil pengamatan pengukuran pertumbuhan bobot ikan gurami dari awal hingga akhir pengamatan didapatkan hasil bobot mutlak yakni sepanjang 0.2223 g. Hasil tersebut didapatkan dengan cara bobot benih diakhir pemeliharaan (Wt) dikurangi dengan bobot benih diawal pemeliharaan (Wo) untuk mendapatkan hasil bobot mutlak (Wm).

Pertumbuhan panjang mutlak (Lm) dan bobot mutlak (Wm) ikan gurami terus mengalami pertumbuhan. Hal in disebabkan adanya faktor penunjang pertumbuhan benih tersebut seperti pakan yang cukup tersedia ataupun kondisi lingkungan yang sesuai bagi ikan tersebut.

Pengukuran pertumbuhan benih ikan gurami ini dilakukan di laboratorium BRPI Sukamandi, dimana pada pengukuran bobot benih ikan gurami dilakukan dengan menggunakan timbangan analitik terlihat pada Gambar 10 (a). Sedangkan untuk pengukuran panjang benih ikan gurami ini dilakukan menggunakan penggaris yang memiliki panjang 30cm seperti pada Gambar 10 (b).

Dapat diketahui bahwa laju pertumbuhan spesifik benih ikan gurami (Osphronemus gouramy) dengan bobot awal pemeliharaan (Wo) adalah 0,0095 dan bobot akhir pemeliharaan (Wt) adalah 0,2318 dengan periode pemeliharaan selama 26 hari diperoleh hasil Laju Pertumbuhan Spesifik (LPS) adalah 0.80 %.

Dapat diketahui bahwa laju pertumbuhan panjang spesifik benih ikan gurami dengan panjang awal pemeliharaan (Lo) adalah 0,883 dan bobot akhir pemeliharaan (Lt) adalah 2,69 dengan periode pemeliharaan selama 28 hari diperoleh hasil laju pertumbuhan panjang spesifik (LPPS) adalah 6,453%.

(a) (b)

Gambar 10. (a) Cara menghitung pertumbuhan bobot ikan gurami; (b) Perhitngan panjang ikan gurami

4.2.6. Pemeriksaan Hama dan Penyakit

(37)

Pemeriksaan hama dan penyakit dilakukan pada awal pemeliharaan yaitu satu minggu setelah benih ditebar pada kolam. Untuk mengetahui kesehatannya dilakukan pengamatan dengan melihat pergerakannya benih tersebut responsif terhadap pakan yang diberikan ataupun dengan melihat tingkah laku ikan yang berada pada pinggir kolam. Karena pada dasarnya ikan yang sakit akan menunjukkan gejala tidak nafsu makan ataupun memisahkan diri dengan berada pada pinggir-pinggir kolam. Setelah itu, dilakukan pengecekan lebih lanjut dengan bantuan mikroskop untuk melihat apakah benih tersebut terserang hama dan penyakit.

Benih yang sudah diambil samplingnya kemudiaan diambil insang, lendir dan siripnya lalu diamati di mikroskop untuk melihat parasit ataupun hama yang menyerangnya. Dari hasil pengamatan awal saat benih berumur 5 hari benih dinyatakan sehat dan tidak terkontaminasi penyakit apapun. Namun saat akhir masa pemeliharaan benih terjangkit Thricodina sp dan Oodinium sp.

(a)

(b) (c)

Gambar 11. (a) sampel ikan gurami yang diamati (b) Oodinium pada benih ikan gurami (c) Trichodina sp pada benih ikan gurami

4.2.7. Pengukuran Kualitas Air

Air yang digunakan pada kolam pendederan benih ikan gurami yaitu air tanah atau air bor yang dialirkan pada masing-masing kolam. Pengukuran kualitas air ini dilakukan dengan menggunakan alat yaitu Water Quality Checker (WQC) dimana alat tersebut dimasukan kedalam kolam dan ditunggu kurang lebih 2-3 menit kemudia didapatkan hasil pengukuran dari parameter tersebut.

(38)

Beberapa parameter yang diukur yaitu suhu, pH, dan DO. Adapun hasil pengukuran kualitas air kolam pendederan dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Parameter Kualitas Air Pada Pendederan Benih Ikan Gurami

Parameter Hasil

pengukuran

Pengukuran optimum

Daftar Pustaka

Suhu (oC) 26-30 25-30 SNI : 01 - 6485.3 – 2000

pH 5,8-7,6 5-9 Fitriadi et al. (2014)

DO (mg/L) 3,25 >3 Susanto, 2001

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan kerja praktik yang dilakukan di Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi, Subang, Jawa Barat didapatkan beberapa kesimpulan mengenai pendederan secara soft skill dan hard skill sebagai berikut ini.

1. Kemampuan soft skill dalam proses pendederan, penting untuk berkomunikasi dengan teknisi dan penanggung jawab lapangan , baik itu dalam menyampaikan instruksi, memecahkan masalah, atau berkolaborasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Mengatur jadwal pemberian pakan, pembersihan kolam, dan tindakan lainnya memerlukan kemampuan manajemen waktu yang baik untuk memastikan kesehatan dan pertumbuhan yang optimal bagi ikan gurami bima.

2. Kemampuan hard skill yang didapatkan berupa memahami kebutuhan spesifik dari ikan gurami bima, termasuk makanan, kondisi air, dan faktor- faktor lain yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan ikan gurami, pemberian pakan yang tepat, dan pembersihan atau persiapan kolam secara teratur terutama dalam kolam pendederan dan mengetahui kegiatan-kegiatan lain pada budidaya ikan gurami bima.

5.2. Saran

Berdasarkan hasil kerja praktik ini, penulis memberikan saran yang bersifat membangun untuk usaha pembenihan ikan Gurami Bima di Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi, Subang, Jawa Barat. Saran ditujukan kepada pegawai dan teknisi yang bekerja di Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi sebagai berikut:

(39)

1. Perlu adanya kebijakan mengenai pemberian pakan alami supaya tidak terlalu bergantung kepada pakan buatan

2. Perlu adanya perbaikan dalam sistem manajemen mengenai jadwal pemanenan telur hingga panen benih.

3. Perlu dilakukan pemeriksaan kualitas air pada tiap-tiap kolam yang digunakan untuk budidaya.

DAFTAR PUSTAKA

Andriyanto, S., E. Tahapari, & I. Insan. (2012). Pendederan Ikan Patin di Kolam Outdoor untuk Menghasilkan Benih Siap Tebar di Waduk Malahayu , Brebes , Jawa Tengah. Media Akuakultur 7(1): 20–25.

Arfah, H., Maftucha, L., & Carman, O. (2007). Induced Spawning of Giant Gouramy Osphronemus Gouramy Lac. By Ovaprim. Jurnal Akuakultur Indonesia 5(2): 103-112.

Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI). (2019). BRPI Kembali Meluncurkan Ikan Unggulan Baru Gurame Bima. Retrieved April 14, 2023, from BRPI Sukamandi: http://bppisukamandi.kkp.go.id/brpi-kembali- meluncurkan-ikan-unggulan-baru-gurame-bima/

Budiana, B., & Rahardja, B.S. (2019). Teknik pembenihan ikan gurame (Osphronemus gouramy) di Balai Benih Ikan Ngoro, Jombang. Journal of Aquaculture and Fish Health 7(3), 90-95.

Effendie, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta.

162 hal.

Farisi, S. (2020). Bakteri dalam meningkatkan kelangsungan hidup ikan gurame (Osphronemus Gouramy) yang Diinfeksi Aeromonas hydrophila. Skripsi Sarjana. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Muhammadiyah Pontianak.

Fitriadi, M.W., Basuki, F, & Nugroho R.A. (2014). Pengaruh pemberian recombinant growth hormonne (Rgh) melalui metode oral dengan interval waktu yang berbeda terhadap kelulushidupan dan pertumbuhan larva ikan gurami (Osphronemus gouramy. Journal of Aquaculture Management and Technology 3(2): 77-85

Hardaningsih, I., Murwantoko & S. Helmiati. (2012). 7 rejeki budidaya gurami entaskan kemiskinan dengan teknologi segmentasi pada budidaya gurami.

Kanisius. Yogyakarta.

Hartono, R. S. (2015). Efisiensi Biaya dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usahatani Ikan Gurami di Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember. Skripsi Sarjana. Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Jember.

(40)

Hidayat & Widianti. (2015). Sistem informasi geografis untuk menentukan wilayah budidaya ikan air tawar di Dinas Kelautan dan Perikabppinan Kabupaten Subang. Jurnal Ilmiah Komputer dan Informatika, 45-53.

Ihsanudin, & Rudini. (2021). Pengertian organisasi lini dan staf menurut teori dan praktek. Jurnal Manajemen Organisasi, 5(2), 45-58.

Khairuman, S. P., Amri, K. (2008). Buku Pintar Budi Daya 15 Ikan Konsumsi.

Jakarta: AgroMedia.sapr

Kholifah, T. (2015). Potensi Budidaya Ikan Gurame di Kecamatan Dukupuntang Kabupaten Cirebon. Skripsi Sarjana. Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Kristina, M., & Sulantiwi, S. (2015). Sistem pendukung keputusan menentukan kualitas bibit ikan gurame di Pekon Sukosari menggunakan aplikasi visual basic 6.0. Jurnal Technology Acceptance Model) 4: 26–33.

Mokoginta, I., Suprayudi, M., & Setiawati, M. (2017). Kebutuhan optimum protein dan energi pakan benih ikan gurame (Osphronemus gouramy Lac). Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia 1(3), 82-88.

Nugroho, E. (2012). ‘Endang Pamularsih’ Gurame yang Jempolan. Media Akuakultur 7(2): 99-102.

Nurcahyo, W. (2018). Parasit pada ikan. Yogyakarta: UGM PRESS.

Pratama, A. Bangkit, Susilowati, T., & Yuniarti, T. (2018). Pengaruh perbedaan suhu terhadap lama penetasan telur, daya tetas telur, kelulushiduan dan pertumbuhan benih ikan gurame (Osphronemus Gouramy) Strain Bastar.

Urnal Sains Akuakultur Tropis(2): 59–65.

Putra, A. W., Basuki, F., & Yuniarti, T. (2016). Pengaruh penambahan recombinant growth hormone (rgh) pada pakan dengan kadar protein tinggi terhadap pertumbuhan dan tingkat kelulushidupan benih ikan gurame (Osphronemus Gouramy). Journal of Aquaculture Management and Technology 5(1): 17–

25.

Rachmatika, I. (2010). Taksonomi dan habitat ikan gurame sungai, (Osphronemus Septemfasciatus Roberts). Jurnal Iktiologi Indonesia 10(2): 145–151.

Sari N. (2014). Karakterisasi beberapa strain gurame Osphronemus gouramy Lac.

menggunakan marka RAPD. Scripta Biologica, 109-112.

Sitanggang, M. & Sarwono, B. 2001. Budidaya Gurami (Edisi Revisi). Penebar Swadaya. Jakarta. 80 hal.

Shalihin, A., Rini, R. K., & Murjani, A. (2017) Variasi frekuensi pemberian pakan alami artemia yang berbeda terhadap mortalitas dan pertumbuhan larva ikan gurame. Basah Jurnal Akuakultur 1(1): 1-15

Wahyuningsih, S., & Gitarama, A. M. (2020). Amonia pada sistem budidaya ikan. Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia 5(2): 112-125.

(41)

Windi & Istiqamah. (2021). Identifikasi potensi perikanan air tawar di Desa Perigi Landu Kecamatan Sejangkung Kabupaten Sambas. Jurnal Perikanan dan Ilmu Kelautan, 36-43.

LAMPIRAN

(42)

Lampiran 1. Peta Lokasi Tempat Kerja Praktik

(43)

Lampiran 2. Jadwal Kegiatan Harian Kerja Praktik No. Hari/ Tanggal Kegiatan

1. Senin/08 Januari 2024  Apel pagi

 Pengenalan dengan pegawai dan staff di Balai Riset Pemulihan Ikan ( BRPI ) Sukamandi.

 Pembahasan Judul

 Pengenalan Lokasi-lokasi di Balai 2. Selasa/09 Januari

2024

 Apel pagi

 Memberi Pakan Ikan Gurami

 Membuat Tempat Sarang Telur Ikan Gurami

 Mengabil telur ikan gurami di kolam pemijahan

 Menghitung Telur dan Larva ikan gurami 3. Rabu/10 Januari 2024  Apel pagi

 Memberikan pakan ikan gurami

 Melakukan Shiphon

 Menghitung Telur dan Larva ikan gurami 4. Kamis/11 Januari

2024

 Apel pagi

 Memberikan Pakan Ikan Gurami

 Sampling larva ikan gurami

 Memberikan probiotik 5. Jumat/12 Januari 2024  Apel pagi

 Memberi pakan ikan gurami

 Mengontrol bak-bak di hatchery

 Melakukan Pemeriksaan kualitas air 6. Sabtu/13 Januari 2024  Memberikan pakan ikan gurami

 Mengontrol Kolam-kolam gurami

 Mengontrol keadaan di hatchery 7. Minggu/14 Januari

2024

 Memberikan pakan ikan gurami

 Mengontrol Kolam-kolam gurami

 Mengontrol keadaan di hatchery

(44)

8. Senin/15 Januari 2023  Apel Pagi

 Melakukan Pengukuran kualitas air

 Memberi pakan ikan gurami

 Penebaran larva ikan ke kolam pendederan 9. Selasa/16 Januari 2024  Apel Pagi

 Pemisahan telur ikan yang mati dan hidup

 Memberi pakan ikan gurami

 Pembuatan sarang untuk pemijahan ikan gurami

 Piket 10. Rabu/17 Januari 2024  Apel Pagi

 Sampling benih ikan gurami

 Memberi pakan ikan gurami

 Menghitung telur ikan gurami 11. Kamis/18 Januari 2024  Apel Pagi

 Persiapan Kolam pendederan

 Melakukan sampling larva ikan gurami

 Memberi pakan ikan gurami

 Menebar sarang telur ikan gurami 12. Jumat /19 Januari 2024  Apel Pagi

 Penyiponan pada telur ikan gurami

 Memberi pakan ikan gurami

 Piket

13. Sabtu/20 Januari 2024  Memberikan pakan ikan gurami

 Mengontrol Kolam-kolam gurami

 Mengontrol keadaan di hatchery 14. Minggu/21 Januari

2024

 Memberikan pakan ikan gurami

 Mengontrol Kolam-kolam gurami

 Mengontrol keadaan di hatchery 15. Senin/22 Januari 2024  Apel Pagi

 Penebaran benih ikan gurami

 Sampling larva ikan gurami

 Distribusi Ikan gurami

 Memberi pakan ikan gurami

 Mengambil Telur Ikan Gurami 16. Selasa/23 Januari 2024  Apel Pagi

 Memberi pakan ikan gurami

 Menghitung Telur ikan dan larva ikan gurami

 Piket 17. Rabu/24 Januari 2024  Apel Pagi

 Sampling benih ikan gurami

 Memberi pakan ikan gurami

(45)

 Membuat sarang telur ikan gurami 18. Kamis/25 Januari 2024  Apel Pagi

 Pemindahan indukan ikan gurami

 Memberi pakan ikan gurami

 Melakukan Shiphon 19. Jumat/26 Januari 2024  Apel Pagi

 Pemeriksaan hama dan penyakit

 Memberi pakan ikan gurami

 Senam

20. Sabtu/27 Januari 2024  Memberikan pakan ikan gurami

 Mengontrol Kolam-kolam gurami

 Mengontrol keadaan di hatchery 21. Minggu/28 Januari

2024

 Memberikan pakan ikan gurami

 Mengontrol Kolam-kolam gurami

 Mengontrol keadaan di hatchery 22. Senin/29 Januari 2024  Apel Pagi

 Sampling larva ikan gurami

 Memberi pakan ikan gurami

 Melakukan sortir indukan gurami 23. Selasa/30 Januari 2024  Apel Pagi

 Melakukan pemisahan telur ikan gurami

 Memberi pakan ikan gurami 24. Rabu/31 Januari 2024  Apel Pagi

 Sampling benih ikan gurami

 Memberi pakan ikan gurami

 Menghitung telur ikan gurami

 Menebar sarang telur ikan gurami 25. Kamis/1 Februari 2024  Apel Pagi

 Persiapan presentasi hasil kerja praktik

 Perpisahan 26. Jumat/2 Februari 2024  Apel Pagi

 Menyambut kunjungan di BRPI

(46)

Lampiran 3. Alat dan Bahan yang digunakan Selama Kerja Praktik

Benih Ikan Tubifex sp. Tepung ikan

Pelet komersil Water Quality Checker Sipon

Timbangan analitik Seser benih Kolam pendederan

(47)

Petridish Baskom Centong Lampiran 4. Kegiatan Selama Kerja Praktik

Penebaran Benih Pengukuran kualitas air

Pemberian pakan Tubifex sp.

Pengukuran bobot benih Pengukuran panjang benih

Persiapan kolam

Sampling larva ikan Penyiponan Pemindahan Indukan

(48)

Pemanenan benih Pembuatan sarang

telur Sampling telur ikan gurami

Lampiran 5. Hasil Pengukuran Pertumbuhan Benih Ikan Gurami 1. Pengukuran panjang benih (cm)

No. Sampel Hari ke 10 Hari ke 17 Hari ke 21 Hari ke 28

1 0.8 1.4 2.3 2.9

2 1 1.3 2.1 2.6

3 0.9 1.3 1.7 2.6

4 0.9 1.4 2.1 2.5

5 0.9 1.1 2 3

6 0.9 1.1 1.7 3.1

7 0.8 1.1 2.3 2.6

8 0.9 1 2.3 2.7

9 0.9 1.3 2 3

10 0.9 1.1 2.1 2.3

11 0.9 1.4 2.4 2.8

12 0.9 1.1 2.3 2.9

13 0.9 1.3 1.8 2.6

14 0.9 1.4 2 3

15 0.8 1.3 2.3 2.4

16 0.9 1.1 2 2.9

17 0.9 1.1 1.8 2.4

18 0.9 1.1 1.8 2.4

19 0.9 1.4 2 2.9

20 0.9 1.1 2.2 3

21 0.9 1.3 1.3 2.4

22 0.9 1.4 1.4 2.9

23 0.9 1.3 1.3 2.4

24 0.9 1.4 1.4 2.4

25 0.9 1.1 1.1 2.4

26 0.9 1.1 1.1 2.9

27 0.9 1.1 1.1 2.4

28 0.8 1.3 1.3 2.9

(49)

29 0.9 1.1 1.1 2.4

30 0.8 1.1 1.1 2.4

Total

Rata- rata 26.5 cm

0.8833 cm 36.6 cm

1.22 cm 53.4 cm

1.78 cm 80.6 cm 2.69 cm

2. Pengukuran bobot benih No.

Sampel Hari ke 10 Hari ke 17 Hari ke 21 Hari ke 28 1

0.007 0.041 0.024 0.024

2

0.008 0.039 0.018 0.052

3

0.007 0.024 0.013 0.211

4

0.008 0.036 0.012 0.373

5

0.01 0.026 0.019 0.433

6

0.011 0.026 0.013 0.288

7

0.011 0.021 0.019 0.321

8

0.01 0.015 0.021 0.344

9

0.009 0.029 0.01 0.171

10

0.01 0.022 0.013 0.292

11

0.01 0.034 0.017 0.022

12

0.01 0.026 0.018 0.343

13

0.007 0.029 0.01 0.213

14

0.01 0.041 0.011 0.372

Referensi

Dokumen terkait

KATA PENGANTAR Bismillahirahmanirrahim,saya panjatkan segala puji syukur atas kehadirat Allah SWT,yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya dalam memberikan kesempatan dan

vii KATA PENGANTAR Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat, rahmat, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

vii KATA PENGANTAR Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat, karunia dan kasih-Nya sehingga Penulis dapat

ii Institut Teknologi Nasional KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim, Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya, sehingga

vii KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya serta melimpahkan berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

KATA PENGANTAR Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

i KATA PENGANTAR Alhamdulillahirrobil’alamin, segala puji serta syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan Rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat

xi KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadiran Allah SWT, Yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul