TENTANG KEPADATAN POPULASI LARVA AEDES AEGYPTI SEBAGAI VEKTOR UTAMA DEMAM BERDARAH DENGUE DI DESA KEDUNG COWEK (DAERAH UHT. Demam Berdarah Dengue atau lebih dikenal dengan singkatan DBD merupakan penyakit menular yang ditularkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui virus dengue. nyamuk Aedes khususnya Ae.aegypti Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara faktor musiman dengan kepadatan populasi jentik Ae.aegypti (p < 0,05).
Penyakit DBD atau yang lebih dikenal dengan akronim DBD merupakan penyakit menular virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes, terutama Ae.aegypti. Demam berdarah di Asia Tenggara pertama kali terdeteksi di Manila pada tahun 1954 dan Bangkok pada tahun 1958 (Soegijanto, 2004). Suhu udara yang lebih tinggi kemungkinan besar akan memperpendek masa inkubasi eksternal, yang berarti peran nyamuk Ae.aegypti dalam penularan virus Dengue semakin meningkat.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan pengaruh perilaku masyarakat di Kelurahan Kedung Cowek (pesisir) dan Kelurahan Mojo (non pesisir) di Surabaya terhadap kepadatan populasi jentik Aedes aegypti. Hal ini dapat dijadikan dasar dalam memberikan informasi kepada masyarakat setempat dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit demam berdarah. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah mengenai populasi jentik Ae.aegypti dan faktor iklim serta perilaku masyarakat yang mempengaruhi kepadatan populasi jentik Ae.aegypti di daerah endemis DBD di Surabaya sehingga dapat memberikan masukan bagi pengambil kebijakan untuk menciptakan pencegahan. . dan program pemberantasan DBD yang sesuai dengan kondisi lingkungan di tahun-tahun mendatang.
DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes, khususnya Aedes aegypti.
Gejala Klinis DBD
Diagnosis DBD
Pengobatan DBD
Pencegahan penyakit DBD
Vektor Penyakit DBD .1 Jenis vektor
Morfologi A.aegypti .1 Telur
- Larva
- Pupa
- Dewasa
Telur-telur ini berukuran kecil (+50 mikron), memiliki permukaan poligonal (Brown, 1983), memiliki dinding bergaris dan membentuk struktur mirip jaring (Gandahusada et al, 2000), tidak memiliki mekanisme mengambang dan diletakkan dalam satu tempat ditempatkan. satu per satu pada suatu benda, benda terapung, atau pada dinding bagian dalam Tempat Penampungan Air (TPA) yang berbatasan langsung dengan permukaan air. Di ujung perut terdapat ruas dubur dan siphon pendek dan tebal, dengan hanya sepasang bulu siphon atau jumbai rambut. Pada ruas kedelapan perut bagian samping terdapat gigi sisir, berjumlah 8-16 gigi, tersusun dalam satu baris.
Pupa A.aegypti mempunyai bentuk tubuh melengkung dengan bagian cephalothorax lebih besar dibandingkan bagian perut. Antena nyamuk betina disebut pilose dengan bulu yang lebih sedikit, sedangkan nyamuk jantan mempunyai banyak bulu yang disebut plumose, dan mempunyai sepasang mata majemuk, ocelli (mata tunggal). Pada bagian dorsal dada terdapat titik kuat berupa dua garis sejajar di tengah dan dua garis lengkung di ujungnya.
Dalam siklus hidupnya nyamuk A.aegypti mengalami metamorfosis sempurna dengan 4 tahap yaitu: Telur – Larva – Pupa – Dewasa, 3 tahap pertama hidup di air dan tahap dewasa aktif terbang. Bila dirangsang, larva langsung menyelam selama beberapa detik lalu kembali ke permukaan air. Ketika larva mengambil oksigen dari udara, larva menempatkan siphonnya di atas permukaan air sehingga perutnya tampak menggantung di atas permukaan air.
Nyamuk betina dewasa siap menghisap darah manusia dan kawin satu atau dua hari setelah menjadi kepompong. Waktu yang dibutuhkan sel telur untuk berkembang sempurna, mulai dari saat nyamuk menghisap darah hingga keluarnya sel telur, biasanya memakan waktu 3-4 hari. Nyamuk betina lebih menyukai darah manusia (antropofilik), sedangkan nyamuk jantan hanya memakan buah-buahan dan cairan bunga.
Nyamuk betina membutuhkan darah untuk mematangkan telurnya sehingga jika dibuahi oleh sperma nyamuk jantan dapat menetas (Gubler, 1998). Habitat seluruh kehidupan dewasa telur, larva dan pupa hidup di air walaupun kondisi perairan sangat terbatas. Keturunan nyamuk yang menetas dari telur nyamuk yang terinfeksi virus Dengue otomatis menjadi nyamuk tertular yang dapat menularkan virus Dengue ke inangnya yaitu manusia.
Penjelasan Kerangka Konseptual Penelitian
Sementara itu, pada musim hujan, jumlah kasus demam berdarah diperkirakan akan meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah wadah berisi air, terutama di luar ruangan, yang juga akan meningkatkan populasi nyamuk (Bangs, 2006).
Jenis dan Rancangan penelitian
Besar sampel ditambah 10% untuk memastikan anggota sampel tidak putus sekolah, sehingga jumlah responden per kecamatan sebanyak 106 orang, sehingga total sampel sebanyak 212 sampel.
Variabel Penelitian .1 Klasifikasi Variabel
Alat dan Bahan Penelitian
House Index (HI) dan Container Index (CI) jika lebih dari 5% maka berisiko tinggi terkena demam berdarah, serta Breteau Index (BI) di atas 5. Daerah dengan Indeks Kepadatan di atas 5 (Breteau Index di atas 50) maka kemungkinan penularan DBD sangat tinggi, sedangkan pada daerah yang angka kepadatannya 1 (indeks Breteau dibawah 5) kemungkinan penularan DBD sangat kecil.
Lokasi dan Waktu Penelitian .1 Lokasi penelitian
Prosedur Pengambilan atau Pengumpulan data 1. Pengambilan data tentang faktor musim
Analisis Data
Situasi daerah lokasi penelitian dan penduduk sebagai responden penelitian
Analisis dan Hasil Penelitian
Perbedaan Faktor Musim di Kelurahan Kedung Cowek , Surabaya
Analisis dan Hasil Penelitian
Mengetahui perbedaan kepadatan populasi larva Ae.aegypti pada mus im hujan dan musim kemarau didaerah endemis DBD di Kelurahan Kedung
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kepadatan populasi jentik Ae.aegypti pada musim hujan dan musim kemarau di Kecamatan Kedung Cowek Surabaya. Secara deskriptif dari tabel 5.3 diatas terdapat perbedaan yang signifikan HI, Container Index, BI dan LDI pada musim hujan dan musim kemarau di Kecamatan Kedung Cowek Surabaya. Pada musim hujan HI, CI, BI ditemukan lebih kecil dibandingkan pada musim kemarau namun LDI pada musim hujan justru lebih besar dibandingkan LDI pada musim kemarau.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun jumlah wadah yang berisi jentik Ae.aegypti pada musim hujan lebih sedikit, namun jumlah jentik Ae.aegypti pada musim hujan lebih banyak dibandingkan pada musim kemarau. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor musiman yang berbeda terhadap kepadatan populasi jentik Ae.aegypti di daerah endemis DBD di Kelurahan Kedung Cowek Surabaya dengan data dapat dilihat pada Tabel 5.5. Secara deskriptif data yang diperoleh pada Tabel 5.5 menunjukkan bahwa jumlah jentik Ae.aegypti pada musim hujan dan musim kemarau mempunyai banyak perbedaan, dengan jumlah jentik pada musim hujan lebih banyak yaitu 9592 jentik Ae.aegypti dibandingkan pada musim kemarau. itu saat musim hujan. musim kemarau yaitu 5305 larva Ae.. aegypti.
Dari analisa statistik, untuk melihat pengaruh faktor musiman terhadap kepadatan populasi larva Ae.aegypti, dapat digunakan uji statistik yang bertujuan untuk melihat perbedaan kepadatan populasi larva Ae.aegypti pada musim hujan dan kemarau. H0 : Tidak terdapat perbedaan populasi larva A.aegypti pada musim kemarau dan hujan H1 : Terdapat perbedaan populasi larva A.aegypti pada musim kemarau dan hujan (H0 diterima jika < signifikansi , Jika =5% digunakan.
PEMBAHASAN
Perbedaan faktor musim di Kelurahan Kedung Cowek , Surabaya
- Kesimpulan
- Saran
Kelembapan udara lebih tinggi pada musim hujan yaitu 80%, sedangkan pada musim hujan lebih rendah yaitu 67%. Curah hujan sangat bervariasi yaitu pada musim hujan sebesar 20 mm, sedangkan pada musim kemarau sebesar 0 mm. Terdapat perbedaan kepadatan populasi jentik Ae.aegypti pada musim hujan dan kemarau yang diperoleh di Desa Kedung Cowek, dimana kepadatan populasi jentik Ae.aegypti pada musim hujan lebih tinggi, padahal data Ae menunjukkan .aegypti Larva Indeks tingkat kepadatan jentik Ae.aegypti sama berada pada rentang yang sama yaitu 8-9, dimana daerah dengan tingkat kepadatan jentik Ae.aegypti 8-9 mempunyai peluang penularan DBD yang tinggi.
Terdapat hubungan antara faktor musiman dengan kepadatan populasi larva Ae.aegypti di Desa Kedung Cowek. Hasil penelitian ini perlu disosialisasikan kepada pemegang program penanggulangan DBD agar lebih mengetahui prevalensi DBD di Kel. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui pengaruh pengetahuan masyarakat tentang penyakit DBD dan vektor DBD terhadap kepadatan populasi jentik A aegypti.
Precipitation and Temperature Effects on Populations of Aedes albopictus (Diptera: Culicidae): Implications for Range Expansion. Pengendalian Terpadu Vector Virus Demam Berdarah Dengue, Aedes aegypti (Linn.) and Aedes albopictus (Skuse)(Diptera: . Culicidae). A laboratory investigation of oviposition responses of Aedes aegypti to some common household substances and water of conspecific larvae.
Perkembangbiakan vektor demam berdarah Aedes aegypti (Linnaeus) di pedesaan Gurun Thar, barat laut Rajasthan, India. Hubungan kondisi lingkungan, wadah dan perilaku masyarakat dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di daerah endemis demam berdarah dengue di Surabaya.