• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tempat Sampah Khas Jepang untuk Istana Maimun Satu Upaya Pembiasaan Perilaku Bersih dengan Pengklasifikasian Jenis Sampah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Tempat Sampah Khas Jepang untuk Istana Maimun Satu Upaya Pembiasaan Perilaku Bersih dengan Pengklasifikasian Jenis Sampah"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Tempat Sampah Khas Jepang untuk Istana Maimun Satu Upaya Pembiasaan Perilaku Bersih dengan

Pengklasifikasian Jenis Sampah

Taulia 1, Abdul Gapur 2*, Muhammad Yusuf 3, Ayumi Warneliza 4, Nabilah Chairani Lubis 5

1,2,3,4,5 Fakultas Bahasa dan Komunikasi, Universitas Harapan, Medan, Indonesia Jl. Imam Bonjol No.35, Kota Medan, Sumatera Utara, Indonesia 20152

Email: 1[email protected], 2*[email protected], 3[email protected],

4[email protected], 5[email protected] (*: corresponding author)

Abstrak

Pengelolaan sampah adalah persoalan yang masih perlu diperhatikan di Indonesia. Belum banyak masyarakat yang memahami bahwa pengklasifikasian sampah adalah hal yang penting untuk pengelolaan sampah lebih lanjut. Hal ini dibutuhkan kesadaran melalui kebiasaan dan sarana fasilitas yang benar, salah satunya tempat sampah. Tempat sampah di ruang publik, seperti tempat wisata di Indonesia kebanyakan belum menerapkan tempat sampah yang mendukung pengklasifikasian sampah yang baik. Oleh sebab itu, kegiatan pengabdian pada masyarakat ini bertujuan mengedukasi pengelola dan pemandu wisata Istana Maimun di medan, Sumatera Utara dalam pengklasifikasian sampah yang baik. Selain itu, melalui kegiatan ini juga telah diberikan bantuan tempat sampah dengan pengklasifikasian yang tepat dengan mencontoh model klasifikasi sampah khas Jepang. Dalam proses edukasi dilakukan sosialisasi kepada pengelola dan pemandu wisata Istana Maimun selama dua hari mengenai model pengelolaan sampah di Jepang dengan metode pendekatan ceramah dan diskusi. Hasilnya melalui evaluasi pemahaman peserta sosialisasi, terjadi peningkatan pemahaman para peserta dalam hal pengelolaan dan pengklasifikasian sampah yang baik, dan peserta berkomitmen untuk menerapkan pemahaman tersebut dalam lingkungan tempat wisata Istana Maimun dan turut menghimbau para wisatawan untuk juga peduli terhadap kebersihan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah.

Kata Kunci: Kebersihan Lingkungan, Pengklasifikasian Sampah, Tempat sampah khas Jepang, Istana Maiumn, Tempat Wisata

Abstract

Waste/Garbage management is an issue that still needs attention in Indonesia. Not many people understand that waste classification is vital for further waste management. This requires awareness through proper habits and facilities, one of which is a trash can. Most of the trash cans in public spaces, such as tourist attractions in Indonesia, have not implemented trash bins that support good waste classification. Therefore, this community service activity aims to educate the managers and tour guides of the Maimun palace in Medan, North Sumatra, on good waste classification. Apart from that, through this activity, assistance was also provided with the proper classification of trash bins by following the typical Japanese waste classification model. In the education process, socialization was carried out with the managers and tour guides of the Maimun palace for two days regarding the model of waste management in Japan using the lecture and discussion approach method. As a result, through evaluating the participant's understanding of the outreach, there was an increase in the participants' understanding in terms of good waste management and classification, and the participants committed to applying this understanding in the Maimun Palace tourist area and also encouraged tourists to also care about environmental cleanliness, especially waste management.

Keywords: Environmental Cleanliness, Garbage Classification, Japanese Trash Bins, Istana Maiumn, Tourist Spot

1. PENDAHULUAN

Medan merupakan kota terbesar di luar pulau Jawa Indonesia. Hasil Sensus Penduduk 2020 menunjukkan, jumlah penduduk Kota Medan mencapai 2,44 juta jiwa (Kusnandar, 2021). Jumlah penduduk yang banyak tersebut berpengaruh pada jumlah sampah yang dihasilkan. Semakin tinggi jumlah penduduk, belum lagi medan sebagai pusat kota juga memiliki beberapa objek wisata bersejarah yang menjadi destinasi wisata bagi orang-orang di luar kota medan. semakin banyak jumlah sampah yang dihasilkan, dan problem sampah dalam berbagai aspeknya masih sangat beragam, salah satunya dalam hal pengelolaan sampah.

Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang menyeluruh, sistematis dan berkesinambungan, yakni meliputi penanganan dan pengurangan sampah. Penyaluran sampah di Medan banyak ditemui terdiri dari proses pengumpulan sampah, pengangkutan sampah untuk dibuang di TPS (Tempat Penampungan Sementara), serta proses terakhir, yakni pembuangan di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir). Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang pengolahan sampah menjelaskan bahwa sampah merupakan permasalahan nasional sehingga pengolahannya perlu dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir (Dobiki, 2018).

Permasalahan pengelolaan sampah yang ada di Indonesia dapat dilihat dari berbagai faktor salah satunya pengetahuan dan kesadaran masyarakatnya. Kesadaran masyarakat akan sampah dan pentingnya

(2)

menjaga lingkungan juga masih rendah, konsep 5M yang mendasar untuk diterapkan, yaitu mengurangi sampah, memilah sampah, memanfaatkan sampah, mendaur ulang sampah dan menabung sampah juga tidak maksimal terimplementasi (Febriani, Yusni Ikhwan Siregar, & Ridwan Manda Putra, 2021).

Oleh karena itu, edukasi terkait komponen 5 M ini harus terus diupayakan. Dalam kegiatan pengabdian ini difokuskan pada edukasi pemilahan dan pengklasifikasian sampah Pengklasifikasian sampah di ruang publik, yaitu tempat wisata Istana Maimun.

Istana Maimun adalah destinasi wisata utama di kota medan, yakni peninggalan Istana Kesultanan Deli yang keberadaannya sudah ada sejak tahun 1612 (Khairi, Brsinamo, Berliani, Bintang, & Vrichillya, 2021). Istana Maimun ramai dikunjungi masyarakat lokal dari medan sendiri, maupun wisatawan dari kota- kota lain di Indonesia maupun mancanegara. Meskipun di masa pandemi Covid-19 Istana Maimun tetap beroperasi dengan waktu terbatas dan penerapan protokol kesehatan. Kawasan Istana Maimun menjadi ruang terbuka publik yang kerap dijadikan masyarakat untuk berjalan-jalan dan bersantai. Keadaan ini di satu sisi berdampak negatif karena banyaknya aktivitas yang dilakukan orang-orang di Istana Maimun menjadikan meningkatnya jumlah sampah, namun disisi lain ini berpotensi untuk menjadi contoh implementasi pengklasifikasian sampah yang baik, sehingga membentuk kebiasaan masyarakat untuk mengklasifikasikan sampah.

Namun hasil pengamatan tim menemukan di Istana Maimun tidak menyediakan tempat sampah yang mendukung kebiasaan masyarakat untuk pengklasifikasian sampah yang baik. Tempat sampah yang disediakan menampung semua jenis sampah tanpa adanya pemisahan.

Gambar 1. Tempat sampah di Istana Maimun yang belum mendukung pengklasifikasian sampah.

Penyediaan fasilitas tempat sampah yang mendukung Pengklasifikasian sampah sangat baik sebagai sarana edukasi masyarakat dan wisatawan lokal. Namun untuk menerapkannya selayaknya dimulai lebih dahulu dengan pemahaman akan Pengklasifikasian sampah yang baik kepada pengelola dan pemandu wisata di Istana Maimun. Pemahaman pentingnya Pengklasifikasian sampah yang dimiliki oleh pengelola tempat wisata diharapkan menjadi modal dasar bagi pengembangan pengelolaan tempat wisata yang senantiasa mempertimbangkan pengolahan sampah.

Banyak model atau contoh tempat sampah yang mendukung pengklasifikasian sampah yang diterapkan negara-negara maju, salah satunya Jepang. Jepang adalah negara yang mampu mengatasi masalah sampah melalui pemilahan sampah yang baik (Nurrahma, 2015). Tempat sampah di Jepang biasanya disediakan berdasarkan 3 hingga lebih jenis sampah, seperti sampah organik, sampah plastik, sampah kaca, botol, kaleng dan sebagainya. Belum lagi aspek design dan warna tempat sampah juga menjadi poin yang diperhatikan di Jepang.

Keberhasilan jepang ini dapat kita jadikan model untuk juga diterapkan di tempat wisata Istana Maimun. Melalui edukasi tempat sampah khas Jepang kepada para pengelola Istana Maimun ditargetkan adanya perubahan penyediaan fasilitas tempat sampah, berupa tempan sampah yang memenuhi pengklasifikasian jenis sampah.

Pengabdian kepada masyarakat ini telah melaksanakan sosialisasi kepada pada pengelola tempat wisata dan pemandu wisata Istana Maimun dalam menerapkan pengklasifikasian sampah yang baik dengan mencontoh model pengklasifikasian tempat sampah khas Jepang. Selain itu, tim juga telah memberikan bantuan tempat sampah sebagai contoh yang dapat menstimulasi penyediaan fasilitas tempat sampah yang memandang pentingnya pengklasifikasian jenis-jenis sampah.

(3)

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Jenis-jenis sampah

Secara umum sampah (gomi) di Jepang sebagian besar dipisahkan menjadi 3 jenis (Fatmi, 2018;

Nurrahma, 2015). Antara lain sebagai berikut:

1. Sampah yang dapat dibakar (moeru gomi)

Ini adalah sampah-sampah rumah tangga seperti makanan, sisa kertas, produk plastik kotor, pakaian bekas, bahan karet, kulit, dll.

2. Sampah yang tidak dapat dibakar (moenai gomi)

Ini adalah sampah dalam bentuk bahan logam, kaca, keramik, kaleng semprot, bola lampu pecah, dll.

Sampah yang dapat dipisahkan sebagai plastik memiliki tanda “プラ” (huruf penanda untuk plastik dalam bahasa Jepang) pada label produk. Untuk botol, tutup botol dan lengan plastiknya harus dilepas dan dibuang bersama sampah plastik. Namun sampah plastik seperti wadah makanan plastik harus dibilas dan dikeringkan sebelum dibuang.

3. Sampah yang dapat didaur ulang

Jenis sampah ini seperti botol kaca, kaleng aluminium, botol pelastik, kardus, kertas bekas, karton susu, majalah dan buku, dll. Di beberapa perfektur, Botol PET dan wadah plastik terkadang dipisahkan dari sampah daur ulang dan akan dikumpulkan pada hari yang berbeda.

4. Barang ukuran besar/kebesaran

Sampah ini adalah sampah besar seperti sepeda, kasur (futon), furnitur, dll. Untuk barang berukuran besar, kita harus menelepon dan meminta sebelumnya untuk mengatur penjemputan. Umumnya pada pamflet pemilahan sampah atau panduan pembuangan sampah kita dapan menemukan nomor telepon untuk pengambilan sampah besar. Setelah mengatur waktu penjemputan yang biasanya satu hari sebelumnya, ada stiker “sampah besar” yang harus kita beli dan meletakkannya di tempat pembuangan sampah besar. Peralatan rumah tangga seperti perangkat TV, AC, komputer, lemari es, dan mesin cuci/pengering tidak dapat dikumpulkan sebagai sampah berukuran besar. Jika Anda mengganti peralatan lama tersebut dengan yang baru, kita harus memberi tahu toko barang bekas untuk mengumpulkan barang tersebut.

Untuk pembuangan sampah rumah tangga, kita harus mengumpulkan sampah sesuai jadwal hari pengambilan sampah di lingkungan. Cek sampah mana yang akan diambil pagi itu apakah yang bisa dibakar, tidak bisa dibakar, bisa didaur ulang, dll. Biasanya waktu pengambilan paling lambat pukul 08.00. Sampah umumnya dimasukkan ke dalam kantong plastik bening transparan agar terlihat isinya.

2.2 Pengolahan sampah di Jepang

Saat ini pengelolaan sampah di Jepang tidak hanya menitikberatkan pada pengumpulan sampah yang efisien dan bersih, tetapi juga pengurangan sampah yang dihasilkan dan daur ulang sampah jika memungkinkan. Hal ini dipengaruhi oleh perjalanan historis Jepang, khususnya periode ekspansi ekonomi yang signifikan, serta geografinya sebagai negara pegunungan dengan ruang terbatas untuk tempat pembuangan sampah. Bentuk penting dari pembuangan limbah termasuk pembakaran, daur ulang dan, pada tingkat yang lebih kecil, tempat pembuangan sampah dan reklamasi lahan. Meskipun Jepang telah membuat kemajuan sejak tahun 1990-an dalam mengurangi limbah yang dihasilkan dan mendorong daur ulang, masih ada kemajuan lebih lanjut yang harus dilakukan dalam mengurangi ketergantungan pada insinerator dan sampah yang dikirim ke tempat pembuangan sampah. Tantangan juga ada dalam pengolahan limbah elektronik dan puing-puing yang tersisa setelah bencana alam (Ministry of the Environment Japan, 2014; Rovani, 2020).

3. METODE PELAKSANAAN

Kegiatan pengabdian ini berupa penyuluhan pentingnya pengklasifikasian sampah dalam mewujudkan budaya bersih di tempat wisata di Indonesia. Selanjutnya kegiatan berupa pemberian bantuan tempat sampah dengan pengklasifikasian sampah mencontoh tempat sampah Jepang.

Dalam penyuluhan terdapat 20 orang peserta yang merupakan pengelola dan pemandu wisata di Istana Maimun Medan. Penyuluhan dilaksanakan selama dua pekan dalam dua kali pertemuan (3 dan 10 Juli 2021). Metode yang digunakan dalam penyuluhan antara lain metode ceramah dan tanya-jawab.

Metode ceramah adalah teknik penyampaian pesan pengajaran yang sudah lazim disampaikan oleh para guru di sekolah. Ceramah diartikan sebagai suatu cara penyampaian bahan secara lisan oleh guru bilamana diperlukan. Penyampaian materi terkait pentingnya kebersihan lingkungan menjadi pengantar, dan selanjutnya dijelaskan pentingnya pengklasifikasian sampah dalam mendukung kebiasaan dan budaya bersih yang mencontoh masyarakat Jepang (Tambak, 2014). Dalam ceramah juga dibarengi dengan model

(4)

penyajian picture to picture yang menunjukkan berbagai ilustrasi dan kondisi yang mendukung (Adha, Pujiono, & Erwani, 2021).

Setelah metode ceramah dilakukan selama 20 menit selanjutnya dilakukan tanya-jawab selama 40 menit. Metode tanya-jawab adalah suatu metode di mana pengajar menggunakan/memberi pernyataan kepada para peserta penyuluhan dan peserta menjawab, atau sebaliknya peserta bertanya pada pengajar dan pengajar menjawab pertanyaan peserta (Pujiono, Br. Barus, Nelvita, Nasution, & Erwani, 2021; Pujiono, Nelvita, & Br. Barus, 2022). Dalam hal ini pengajar adalah ketua tim pengabdian kepada masyarakat dan peserta adalah para pengelola dan pemandu wisata Istana Maimun.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Penyuluhan Pentingnya Pengklasifikasian Sampah

Tim pengabdian kepada masyarakat melakukan sosialisasi pertama pada 3 Juli 2021, kegiatan dilaksanakan melalui protokol Kesehatan yang ketat, yakni para peserta dan tim menggunakan masker dan handsanitizer sebelum dilaksanakannya kegiatan.

Ketua tim pengabdian menjadi pembicara utama dalam kegiatan ini. Kegiatan berlangsung interaktif, para peserta mendapatkan berbagai wawasan terkait pengklasifikasian sampah di Jepang, dan membandingkannya dengan di Indonesia. Oleh karenanya, banyak dari peserta yang betanya terkait pengelolaan sampah di Jepang.

Gambar 2. Penyampaian sosialisasi pengklasifikasian sampah Adapun gambaran umum materi yang disampaikan adalah sebagai berikut:

1. Pengertian dan Karakteristik Sampah

Sampah (dalam bahasa Jepang gomi

ゴミ)

merupakan bahan sisa hasil dari aktivitas kehidupan manusia. Terdapat dua pengklasifikasian sampah, yakni sampah organik (moeru gomi) dan anorganik (non-moenaigomi). Beberapa contoh sampah yang termasuk organik adalah tumbuhan, hewan, sisa makanan, kertas, kompos dan sebagainya. Sedangkan sampah anorganik termasuk di dalamnya adalah logam, dan plastik yang tidak dapat diolah secara langsung. Temuan para ilmuwan dalam Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) beberapa waktu lalu menjelaskan bahwa terdapat dua senyawa kimia terbesar yang berkontribusi terhadap pemanasan global dunia ialah karbon dioksida (CO₂) dan methane (CH₄). Selain itu, akumulasi sampah juga memberi berdampak faktor peningkatan jumlah emisi gas rumah kaca di atmosfer, selain kegiatan manusia lainnya yang berhubungan dengan energi, pertanian, kehutanan dan peternakan. Dikatakan bahwa Limbah buangan, termasuk di dalamnya sampah, menyumbang 11% dari total emisi. Sedangkan, apabila dihitung menurut Reducing Emissions from Deforestation and Degradation (REDD) menyumbang 6% dari total emisi”. (Saojoao, 2010) 2. Aturan Pembuangan dan Pengolahan Sampah

Peraturan pemerintah telah dibuat sehubungan dengan permasalahan sampah di Indonesia, misalnya seperti pada UU No. 23 tahun 1997 tentang “Pengelolaan Lingkungan Hidup dan UU No. 18 tahun 2008 tentang “Pengelolaan Sampah.” Namun dalam fakta di lapangan, sepertinya aturan ini belum mampu memberikan penyelesaian yang efektif. Aturan dan teknik pengolahan sampah yang terpadu juga dapat ditemukan terealisasi dengan baik di Jepang. Pengetahuan tentang bagaimana cara membuang sampah dengan cara pengklasifikasian sampah sesuai jenisnya tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat Jepang saja, melainkan juga bagi para pendatang yang bermukim atau para wisatawan yang sekedar berkunjung ke Jepang. Umumnya di beberapa ruang publik (public space) di Jepang tersedia tempat sampah yang terdiri atas berbagai macam kategori jenis sampah. Pengklasifikasian jenis sampah yang ada di Jepang salah satunya ditunjukkan dengan gambar berikut ini:

(5)

Gambar 3. Contoh pengklasifikasian jenis sampah di Jepang (City.kitakyushu.lg.jp, 2022)

Masing-masing sampah di Jepang sudah diatur jadwal pembuangannya dan cara membuangnya sedemikian rupa. Jika tidak sesuai dengan ketentuan, petugas sampah tidak akan mengangkut sampah dan umumnya pelanggar akan diberikan peringatan tertulis yang ditempelkan pada bak sampah mereka. Dalam beberapa kasus tertentu, jika pelanggaran dilakukan terus dan berulang-ulang, maka akan diberikan hukuman berupa denda. Berdasarkan ulasan ini, maka cara pengolahan sampah yang maksimal dapat terjadi jika disertai dengan pemahaman dan pengetahuan mengenai karakteristik sampah dengan cara melibatkan partisipasi dari masyarakat dan dijalankan secara tepat.

3. Pewarnaan Tempah Sampah

Warna dalam pendekatan kognitif dan persuasif berdampak terhadap psikologis masyarakat. oleh karena itu, pewarnaan tempat sampah diperlukan untuk mendukung upaya pengelolaan dan kebersihan lingkungan. Implementasi tersebut berbentuk pembedaan warna pada tempat sampah sebagai petunjuk pembeda bagi tiap material dan jenis sampah.

Gambar 4. Penerapan warna pada tempat sampah di Jepang (Nexus-kizuna.com, 2020) Namun di Jepang penggunaan warna pada tempat sampah tidak selalu bisa ditemui. Pada beberapa kawasan, tempat sampah memiliki satu warna yang seragam, namun digunakan ikon dan gambar untuk menandai pengklasifikasian sampah

Gambar 5. Tempat sampah dengan satu warna di Jepang (Tenki.jp, 2016)

Penerapan berbagai warna pada tempat sampah ataupun hanya dengan satu warna yang ditambahi informasi gambar, ikon atau tulisan sebagai penandanya, memiliki tujuan yang sama, yaitu sebagai petunjuk aturan dalam hal pembuangan sampah untuk memberikan informasi sebagai sign system tempat sampah karena warnanya yang terlihat mencolok di ruang publik; tanda pemisahan sampah

(6)

sesuai dengan klasifikasi sampah seperti sampah bisa dibakar (moeru gomi), sampah tidak bisa dibakar(moenai gomi), sampah botol – kaleng (bin-kan), dan sampah kategori lain.

4.2 Pemberian Bantuan Tempat Sampah

Selain memberikan sosialisasi pentingnya pengklasifikasian sampah kepada para pemandu wisata Istana Maimun, tim pengabdian juga memberikan bantuan tempat sampah yang khas pengklasifikasiannya dengan Jepang. Tempat sampah yang diberikan memiliki desain warna yang menarik sehingga menjadi sign system yang memancing minat masyarakat untuk membuang sampah sesuai dengan klasifikasi sampah yang ditentukan. Serah terima bantuan tempat sampah ini dilaksanakan pada 10 Juli 2021.

5. KESIMPULAN

Pengabdian kepada masyarakat ini telah terlaksana dengan menghasilkan peningkatan pemahaman dan menstimulasi anggota pengelola dan pemandu wisata Istana Maimun untuk menjaga kebersihan lingkungan khususnya dalam mengaplikasikan pengklasifikasian sampah dengan mencontoh tempat sampah khas Jepang. Tim juga memberikan sumbangan tempat sampah yang dapat dijadikan contoh untuk diletakkan di Kawasan wisata Istana Maimun Medan. Dari kegiatan ini dapat disimpulkan bahwa upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan, khususnya lingkungan wisata dapat dilakukan salah satunya dengan memulainya dari para pengelola dan pemandu wisata yang mencontohkan dan mempromosikannya. Selain itu dukungan fasilitas yang tepat untuk mendukung kebiasaan pengklasifikasian sampah juga diperlukan untuk mendukung setiap upaya menciptakan lingkungan yang bersih.

6. ACKNOWLEDGEMENTS

Kegiatan ini adalah pengabdian masyarakat mandiri dosen dan mahasiswa. Kami mengucapkan terima kasih kepada pengelola tempat wisata Istana Maimun medan yang memberi izin pada kami untuk berkegiatan. Selanjutnya kami juga berterima kasih pada dekan Fakultas Bahasa dan Komunikasi Universitas Harapan Medan dan rektor Universitas Harapan Medan yang telah memberikan dukungan moril.

Daftar Pustaka

Adha, T. K. R., Pujiono, M., & Erwani, I. (2021). Improving Basic Level Mandarin Conversation Skills Through The Picture and Picture Method for Students - Private High School Students Dharma Pancasila Medan. Abdi Dosen : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 5(2), 315. https://doi.org/10.32832/abdidos.v5i2.872

City.kitakyushu.lg.jp. (2022). 家庭から出る「資源」と「ごみ」の分け方・出し方についてしらべる. Retrieved from 北九州市 website: https://www.city.kitakyushu.lg.jp/kankyou/file_0004.html

Dobiki, J. (2018). Analisis Ketersedian Prasarana Persampahan di Pulau Kumo dan Pulau Kakara di Kabupaten Halmahera Utara. Spasial : Perencanaan Wilayah Dan Kota, 5(2). Retrieved from https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/spasial/article/view/20803

Febriani, L., Yusni Ikhwan Siregar, & Ridwan Manda Putra. (2021). Analisis Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis Masyarakat Di Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru. Photon: Jurnal Sain Dan Kesehatan, 11(1), 16–26. https://doi.org/10.37859/jp.v11i1.2089

Khairi, N., Brsinamo, P. A., Berliani, I., Bintang, B., & Vrichillya, N. (2021). Strategi Pengembangan Pariwisata Berbasis Chse di Istana Maimun. Habitus: Jurnal Pendidikan Sosiologi Dan Antropologi, 5(2).

https://doi.org/https://dx.doi.org/10.20961/habitus.v5i2.59703

Kusnandar, V. B. (2021). Sensus Penduduk 2020: Jumlah Penduduk Kota Medan Sebanyak 2,44 Juta Jiwa. Retrieved from databoks website: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/10/13/sensus-penduduk-2020-jumlah- penduduk-kota-medan-sebanyak-244-juta-jiwa#:~:text=Jumlah Penduduk Kota Medan Menurut Kecamatan (2020)&text=Hasil Sensus Penduduk 2020 menunjukkan,22 juta jiwa adalah perem

Nexus-kizuna.com. (2020). ゴミ箱どうしてる?設置場所の工夫でおしゃれなキッチンに. Retrieved from

https://nexus-kizuna.com/column/column/1449/

Nurrahma, Arinal H. I. (2015). Pengelolaan Sampah yang Ramah Lingkungan Jepang vs Indonesia. Retrieved from - ramah - yang - sampah - DEPT. AGH IPB website: https://forsca.lk.ipb.ac.id/2015/02/03/pengelolaan

FORSCA

indonesia/

- vs - jepang - lingkungan

Pujiono, M., Br. Barus, M., Nelvita, N., Nasution, V. A., & Erwani, I. (2021). Haji Bunka: A Cultural Approach To Support Social and Physical Distancing Policies Against The Covid-19 Pandemic For Students At The Faculty Of Language And Communication Universitas Harapan Medan. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (Indonesian Journal of Community Engagement), 7(4), 273. https://doi.org/10.22146/jpkm.61935

Pujiono, M., Nelvita, & Br. Barus, M. (2022). Improving Work Quality Through Explanation of Community Work Culture Values In Humbahas Food Estate. Dinamisia : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 6(2), 551–558.

https://doi.org/10.31849/dinamisia.v6i2.9663

(7)

Saojoao, J. De. (2010). Sampah, si Pemicu Perubahan Iklim. Retrieved from POKJA AMPL website:

http://www.ampl.or.id/digilib/read/sampah-si-pemicu-perubahan-iklim/26229

Tambak, S. (2014). Metode Ceramah: Konsep dan Aplikasi dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jurnal Tarbiyah, 21(2). https://doi.org/http://dx.doi.org/10.30829/tar.v21i2.16

Tenki.jp. (2016). ゴミの日(5/30)に知りたい「ごみゼロの町」「ゴミ処理の原則・4R」. Retrieved from tenki.jp website: https://dot.asahi.com/tenkijp/suppl/2016053000187.html?page=1

Referensi

Dokumen terkait

Methodology of this research uses quantitative and to find the results of the development research presented in this discussion are, describing the process of developing a scientific

Rubberwood impregnated with low molecular weight phenol formaldehyde LmwPF resin reinforced with nano zinc oxide ZnO showed higher resistance against white rot fungi, Pycnoporus