TENAGA KERJA DAN INFLASI
• PASAR TENAGA KERJA
• Bila harga dari tenaga kerja (upah) cukup fleksibel. maka permintaan akan tenaga kerja akan selalu seimbang dengan penawaran akan tenaga kerja, atau perdefinisi tidak ada
kemungkinan timbulnya pengangguran sukarela.
W1 DANW2 = TINGKATUPAH F = JUMLAHANGKATANKERJA NF = FULL EMPLOYMENT
(NF -NU) =ORANG YANGMENGANGGURSUKARELA
Menurut kaum klasik ada tiga macam pengangguran :
1. Frictional unemployment = pengangguran karena pergeseran tingkat output
2. Seasional unemployment = pengangguran musiman (datang dan hilang menurut musim) 3. Institutional unemployment =
pengangguran
yang dibuat orang melalui serikat buruh
Menurut kaum klasik harga-harga sangat fleksibel, sehingga berreaksi cepat dan rasional terhadap
perubahan harga. Dalam keadaan
seperti ini semua penyimpangan dari
posisi full employment hanya bersifat
sementara.
GAMBAR:TERJADINYAPROSESKESEIMBANGANBARUMENURUTKAUMKLASIK
Z KEZ1,,, EGESERKEG (TINGKATUPAHTURUN) S KES1 ,BERARTIMENURUNNYAMCUNTUK MENGHASILKANOUTPUT,KESEIMBANGANBARUDI F :
-TERCAPAINYAFULL EMPLOYMENT
-TINGKATHARGA-HARGADANTINGKATUPAHYANGLEBIHRENDAH P
E
G Z0
F
S0 Z1
S1
0 Q1 QF
PENDAPATKAUMKLASIKTENTANGFULL EMPLOYMENTTIDAK BERJALAN,TEORIKEYNESMENGANJURKAN
UNTUKMENGARAHKEPOSISIFULL EMPLOYMENT,PEMERINTAH HARUSAKTIF MELAKUKAN SESUATUMISALMENGGESERKEMBALI Z1KE Z0 DENGANCARA MENINGKATKAN G (PENGELUARAN
PEMERINTAH),MELALUIPROSES MULTIPLIER.ATAUDENGANCARA TIDAKLANGSUNGYAITUMENINGKATKAN CDANI DENGANCARA MENURUNKANTDANR.
Menurut Keynes pergeseran dari G ke F mungkin cukup lama karena adanya
hambatan-hambatan (ketegaran tingkat upah nominal), jadi S tidak turun ke S1, meskipun pada masa depresi.
2. Pada kasus inflasi (Z meningkat
terlalu cepat), tindakan yang diambil adalah kebalikan saat mengatasi
depresi dan pengangguran, yaitu G ditekan untuk turun yang diperkuat dengan menaikkan pajak dan tingkat bunga, serta tindakan-tindakan
pengendalian moneter (pengendalian
jumlah uang beredar)
INFLASI
Definisi Inflasi adalah kecenderungan harga- harga untuk naik secara umum dan terus-
menerus.
Tidak berlaku untuk satu atau dua macam barang saja, kecuali bila kenaikan tersebut meluas atau mengakibatkan kenaikan sebagian besar harga barang-barang lain
Kenaikan harga musiman dan tidak mempunyai pengaruh lanjutan tidak disebut inflasi.
Dalam kasus inflasi barang2 yang dalam
penentuan harganya ada intervensi pemerintah tidak meunjukkan kenaikan, karena harga
barang2 tersebut akan tercatat di Biro Pusat Statistik. Sehingga jika ada inflasi harga barang tersebut tidak diijikan untuk menamakkan
kenaikan, walaupun sebetulnya ada pengaruh inflasi, keadaan ini disebut suppressed inflation atau inflasi yang ditutupi. Jika harga2 resmi
makin tidak relevan maka inflasi pd harga
barang2 tersebut akan menampakkan dirinya
MACAM INFLASI
1. DIDASARKAN ATAS PARAH TIDAKNYA / LAJU INFLASI TERSEBUT :
Inflasi ringan (di bawah 10% setahun) Inflasi sedang (antara 10-30% setahun) Inflasi berat (antara 30-100% setahun) Hiperinflasi (di atas 100% setahun)
Penentuan parah tidaknya inflasi tentu saja sangat relatif,
tergantung kepada siapa-siapayang menanggung beban atau memperoleh keuntungan dari inflasi tersebut.
2. BERDASARKAN SEBAB MUSABAB AWAL INFLASI :
Inflasi yang timbul karena permintaan
masyarakat akan berbagai barang terlalu kuat, disebut demand inflation .
Inflasi yang timbul karena kenaikan ongkos
produksi , disebut cost inflation .
Harga
S
P2 P1
Z2 Z1
Q1 Q2 Output
Gambardemand inflation
Harga
S2
S1 P4
P3
Z
Q3 Q4 Output
Gambarcost inflation
Demand inflation , karena
permintaan masyarakat akan barang2 ( agregat demand ) bertamabah
(misalnya, karena bertambahnya pengeluaran pemerintah yang
dibiayai dengan pencetakan uang,
atau kenaikan permintaan luar negeri akan barang-barang ekspor, atau
bertambahnya pengeluaran investasi
swasta karena kredit yang murah).
Akibat dari kedua macam inflasi tersebut, dari segi kenaikan harga output tidak
berbeda, tetapi dari segi volume output (GDP riil) ada perbedaan.
Dalam kasus cost inflation biasanya kenaikan harga diberengi dengan
penurunan omzet penjualan barang
(kelesuan usaha), tetapi sebaliknya pada
kasus demand inflation .
Perbedaan lain, terletak pada urutan kenaikan harga. Dalam demand
inflation kenaikan harga barang akhir (output) mendahului kenaikan
barang-barang input dan harga-harga factor produksi (upah dan
sebagainya). Sebaliknya, dalam cost inflation , kenaikan harga barang-
barang akhir (output), mengikuti kanaikan harga barang-barang
input/factor produksi.
Pada umumnya, inflasi yang
terjadi di berbagai Negara di
dunia adalah kombinasi dari
kedua macam inflasi tersebut,
dan seringkali keduanya saling
memperkuat satu sama lain.
3. BERDASARKAN ASAL DARI INFLASI :
Inflasiyang berasal dari dalam negeri (domestic inflation)
Inflasiyang berasal dari luar negeri (imported inflation)
Domestic inflation, timbul misalnyakarena defisit anggaranbelanja yang dibiayai dengan pencetakan uang baru, panen yang gagal dan lain sebagainya.
Imported inflation,timbul karena kenaikan harga- harga (inflasi) di luar negeri atau di Negara-negara langgananberdagang kita.
Kenaikan harga barang-barang yang kita impor mengakibatkan:
Secaralangsungkenaikanindeksbiayahidupkarenasebagiandari barang-barangyangtercakupdidalamnyaberasaldariimpor
Secaratidaklangsungmenaikkanindekshargamelaluikenaikan ongkosproduksi(cost inflation)untukbarang-barangyang
diproduksidengankomponenimpor
Secaratidaklangsungmenimbulkankenaikanhargadi dalam negeri,karenaada kemungkinan(tetapitidakharus demikian) kenaikanbarang-barangimpormengakibatkankenaikan
pengeluaranpemerintah/swastayangberusahamengimbangi kenaikanhargaimportersebut, missaldengansubstitusiimpor (demand inflation).
“Penularan” inflasi dari luar negeri ke dalam negeri bisa pula lewat kenaikan harga barang-barang ekspor.
Bila harga barang-barang ekspor (seperti, kopi,
teh) naik, maka indeks biaya hidup akan naik pula sebab barang-barang ini langsung masuk dalam daftar barang-barang yang tercakup dalam indeks harga.
Bila harga barang- barang ekspor (seperti kayu, karet, timah dan
sebagainya) naik, maka ongkos
produksi dari barang-barang yang
menggunakan barang-barang tersebut
dalam produksinya (perumahan, sepatu,
kaleng, dan lain sebagainya) akan naik,
dan kemudian harga jualnya akan naik
pula (cost inflation ).
Kenaikan harga barang-barang ekspor
berarti kenaikan penghasilan para eksportir (dan juga para produsen barang-barang
tersebut). Kenaikan penghasilan ini
kemungkinan akan dibelanjakan untuk membeli barang-barang (baik dari dalam maupun dari luar negeri), bila jumlah
barang yang tersedia di pasar tidak
bertambah, maka harga-harga barang lain
akan naik pula ( demand inflation ).
Masalah inflasi dalam arti yang lebih luas bukan semata-mata
masalah ekonomi, tetapi masalah
social-ekonomi-politis.
Kalau ingin menentukan
kebijaksanaan yang tepat untuk menanggulangi masalah inflasi di suatu Negara, maka kita harus bisa mencapai akar permasalahan
tersebut, yang belum tentu bersifat ekonmi objektif. Namun teori-teori ekonomi mengenai inflasi berguna sebagai titik tolak dari setiap
analisis mengenai inflasi.
TEORI KUANTITAS
Mengatakan bahwa penyebab utama dari inflasi adalah pertambahan jumlah uang beredar dan “psikologi”
masyarakat mengenaikenaikanharga-harga di masa
mendatang. Tambahanjumlah uang beredar sebesar X%
bisa menumbuhkaninflasi kurang dari X%, sama dengan X% atau lebih besar dari X%, tergantung kepada apakah masyarakat tidak mengharapkanharga naik lagi, akan naik tetapitidak lebih buruk dari pada sekarang atau masa-masalampau, atau akan naik lebih cepat dari sekarang, atau masa-masalampau.
TEORI KEYNES
Mengatakan bahwa inflasi terjadi karena masyarakat hidup diluar batas kemamuan
ekonomisnya. Teori ini menyoroti bagaimana perebutan rizki antara golongan-golongan
masyarakat bisa menimbulkan permintaan
agregat yang lebih besar dari pada jumlah barang yang tersedia (yaitu apabila timbul “inflationary gap”). Selama inflationary gap tetap ada, maka proses inflasi berkelanjutan.
Teori ini menarik karena :
1. Menyoroti peran system distribusi pendapatan dalam proses inflasi
2. Menyarankan hubungan antara inflasi dan faktor-faktor non
ekonomi
TEORI STRUKTURALIS
Adalah teori inflasi “jangka panjang” karena
menyoroti sebab-sebab inflasi yang berasal dari kekuatan struktur ekonomi, khususnya;
ketegaran suplai bahan makanan dan barang- barang ekspor. Karena sebab-sebab “struktural”
pertambahan produksi barang-barang ini terlalu lambat dibanding dengan pertumbuhan
kebutuhannya, sehingga menaikkan harga bahan makanan dan kelangkaan devisa.
Akibat selanjutnya, adalah kenaikan harga-harga lain, sehingga terjadi
inflasi. Inflasi semacam ini tidak bisa diobati hanya dengan misalnya,
mengurangi jumlah uang beredar, tetapi harus diobati dengan
pembangunan sector bahan makanan
dan ekspor.
Masing-masing teori sebagian saja dari seluruh proses inflasi. Dalam praktek inflasi sering mengandung aspek-aspek yang diutarakan oleh ketiga teori tersebut. Sikap ilmiah yang pragmatis adalah melihat
masalah inflasi kasus demi kasus dan
mencoba melihat mana dari aspek-
asapek ketiga teori tersebut berlaku
dalam kenyataan.