Teori belajar baru yang disebut dengan ‘teori belajar al-bayān’ merupakan teori yang telah digali dan diteliti dari ratusan ayat Al-Qur’an. Struktur isi buku 'Teori Pengajaran Al-Bayān Berbasis Al-Qur'an' memuat 10 bab, namun secara keseluruhan terdapat tiga permasalahan besar.
- Latar Belakang
- Rumusan Masalah
- Tujuan Penelitian
- Metodologi (Pemecahan Masalah)
1 Lihat Snelbecker, Glenn E., Teori Pembelajaran, Teori Instruksional, dan Desain Psikoedukasi, New York: 1974, hal. 2 Lihat Dahar, Ratna Wilis, Teori Belajar dan Belajar, Jakarta: Erlangga, 2013, hal. sehingga menambah pengetahuan dan pemahaman. Beberapa tujuan penulisan teori belajar al-Bayān berdasarkan Al-Qur'an dan pendidikan kontemporer adalah sebagai berikut:
Istilah al-Bayān dalam Berbagai Perspektif
Setidaknya ada tiga nama kitab tafsir yang menggunakan nama al-bayān. a) Kitab Tafsir Jami' al-Bayan Fi Tafsir al-Qur'an yang ditulis oleh Imam Jarir al-Tabari, dari akhir abad ke-9 sampai pertengahan abad ke-10 Masehi. Sekolah ini berbasis pada Al-Qur'an.17 Nama al-bayan pada lembaga pendidikan menengah adalah SMA al-Bayan yang terletak di Cibadak Sukabumi, Jawa Barat.
Latar Belakang Lahirnya Teori Belajar al-Bayān dalam
Dalam ilmu tafsir, kedua ayat sebelum dan sesudah ayat allāmāhu al-bayān mengandung pālaḥ (kesesuaian) sekaligus mendukung makna allāmāhu al-bayān dalam konteks teori pembelajaran visualisasi. Profesor Ahsin Sakho Muhammad menyikapi positif penafsiran makna al-bayān dalam konteks pengajaran yang berarti sesuatu yang berwujud dalam bentuk alat peraga dengan mengatakan bahwa makna al-bayān adalah.
- Pengertian Teori Belajar al-Bayān
- Ruang Lingkup Teori Belajar al-Bayān
- Tujuan Mempelajari Teori Belajar al-Bayān
- Manfaat Mempelajari Teori Belajar al-Bayān
Memahami ilmu yang disampaikan guru/dosen secara lisan, dan siswa/siswa memahaminya dengan pendengaran (َعۡم َّسلئ). Membuktikan realitas ilmu yang ditunjukkan guru/dosen kepada siswa/siswa dengan bantuan basyar atau melihat (َ َص َبْ .لع).
Hakikat Belajar Menurut Surat an-Nahl Ayat 78 dan
Sesuai dengan proses perolehan ilmu tahap kedua dalam surat al-Nahl ayat 78, segala ilmu yang diterima melalui pendengaran harus diverifikasi oleh empat indera manusia, yaitu mata, hidung, lidah, dan kulit. Atau setidaknya salah satu dari keempat indera tersebut dapat dibuktikan secara ilmu pengetahuan yang berasal dari fungsi pendengaran.
Tahapan Belajar Menurut Surat An-Nahl ayat 78 dan Ilmu
Setelah ilmu diterima melalui pendengaran, selanjutnya dilakukan tahap pembuktian dengan menggunakan empat indera manusia yaitu mata, hidung, lidah, dan kulit. Atau setidaknya salah satu dari keempat indera tersebut dapat dibuktikan secara ilmu pengetahuan, diperoleh dari fungsi pendengaran. Perhatikan empat organ kepala dan kulit manusia yang menjadi bukti kebenaran informasi dan pengetahuan yang diterima melalui organ pendengaran.
Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa di dalam kepala manusia terdapat tiga organ tersendiri yang membuktikan kebenaran informasi dan ilmu pengetahuan serta kulit yang tersebar di seluruh tubuh manusia sebagai organ yang saling melengkapi. Organ telinga yang merupakan organ yang menjalankan fungsi pendengaran adalah koklea yang menerima informasi dan pengetahuan kemudian mengirimkannya ke lobus temporal.
Hakikat Belajar Menurut Surat Ar-Rahman (al-bayān)
Kemudian pada ayat 3 sampai ayat 5 terdapat dua ayat yang mempertegas penggunaan kata al-bayān yang berarti sesuatu yang nyata (tampak) dalam proses pembelajaran, yaitu pertama, Allah (ar-Rahmān) menciptakan manusia secara jasmani yang dapat bersama dengan alam. dilihat mata (bukti fisik) jelas dan nyata. Baik ayat sebelum maupun sesudah ayat allamu al-bayān menunjukkan adanya kesepakatan (al-munasabah) yang mendukung makna al-bayān selain memberikan penjelasan disertai bukti fisik yang nyata. Peneliti menafsirkan al-bayān sebagai sesuatu yang nyata karena ayat sebelum allahu al-bayān, ar-Rahman menjelaskan bahwa manusia adalah sesuatu yang nyata dan begitu pula ayat setelah ar-Rahman menjelaskan bahwa asy-syamsu wa al-qamar adalah sesuatu yang nyata.
Profesor Ahsin Sakho Muhammad menyikapi positif penafsiran makna al-bayān dalam konteks pembelajaran, makna sesuatu yang nyata ditinjau dari alat peraga, dengan mengatakan bahwa makna al-bayān adalah ‘nyata’ jika dilekatkan pada paula ayat sebelum Allamu al-Bayān dan setelah ayat Allamu al-Bayān menguatkan makna makna al-bayan. Kedua ayat ini menjadi landasan utama lahirnya teori belajar al-bayān dalam Al-Qur’an, dan kedua ayat ini saling melengkapi sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh dan kuat sehingga memunculkan teori belajar yang baru. yang muncul murni dari sudut pandang al-Qur’an.
Konsep Dasar Teori Belajar al-Bayān dalam al-Qur‟an
Namun pada konsep dasar teori belajar al-bayān dalam Al-Qur'an, materi magis dan abstrak masih dapat dijelaskan dengan bantuan alat peraga. Untuk konsep teori belajar al-bayān dalam Al-Qur'an, bahwa cara menjelaskan materi gaib dan abstrak itu nyata dan kasat mata, maka wajib menggunakan perumpamaan. Ilustrasi merupakan salah satu metode yang penting untuk menjelaskan apakah suatu materi magis atau abstrak menjadi nyata dan jelas dalam proses pembelajaran di kelas atau tidak.
Dengan demikian, konsep dasar teori belajar al-bayan dalam Al-Qur’an adalah masyarakat memahami bahwa bahan ajar harus dijelaskan dengan alat peraga agar materi yang dipelajari dapat jelas dan kasat mata sehingga dapat dibuktikan melalui kacamata siswa. . atau pelajar dan dapat dibuktikan secara skin jika pelajar dan pelajar diberi kesempatan untuk menjaganya. Rekonstruksi teori pengajaran al-Bayan dalam Al-Qur'an Untuk merekonstruksi teori pengajaran al-Bayan dalam Al-Qur'an.
Rekonstruksi Teori Belajar al-Bayān dalam al-Qur‟an
- Data Proses Pembelajaran dalam Al-Qur‟an
- Data Ayat-Ayat Perumpamaan Masalah Gaib dan
- Data Struktur Kalimat Menggunakan Kata Allama dan
Dalam Surah al-Baqarah (2) ayat 31, Allah mengajar Nabi Adam tentang mengenal pasti nama-nama benda, serta jenis-jenis benda secara nyata (langsung). Penjelasan bagi masalah ini terdapat dalam Surah al-'Araf ayat 4-5. 7) Perumpamaan orang yang memperolok-olokkan utusan Allah sama seperti orang yang berdosa. Penjelasan terperinci boleh didapati dalam Surah Fatir ayat 4. 8) Contoh orang musyrik berdusta kepada Nabi, seperti berdusta kepada Allah.
Konklusi Teori Belajar al-Bayān dalam al-Qur‟an
Memperhatikan berbagai uraian terkait rekonstruksi teori belajar al-bayān dalam Al-Qur’an menunjukkan bahwa teori ini direkonstruksi dari 979 ayat, diambil dari tiga kelompok teori yang lebih kecil satu, dua dan tiga. Klaster teori minor pertama berhasil mengumpulkan data empiris delapan proses pembelajaran yang berasal dari 86 ayat, disusul kluster teori minor kedua berisi 322 jenis perumpamaan dalam Al-Qur’an, dan kluster teori minor ketiga berisi enam jenis struktur kalimat yang memuat kata allamah dan ta' lem selalu diikuti benda nyata. Ketiga klaster teori yang lebih kecil tersebut kemudian disimpulkan menjadi teori yang lebih besar, yang merupakan level tertinggi dalam rekonstruksi teori pembelajaran al-bayān.
- Hasil Eksperimen Materi Sejarah Islam Modern
- Hasil Eksperimen Materi MKPAI
- Hasil Eksperimen Materi Belajar dan Pembelajaran
- Hasil Eksperimen Materi Fisafat Ilmu
- Hasil Ekperimen Materi Pembelajaran Aqidah Akhlak
1 Untuk membuktikan bahwa RPS mempunyai kolom alat bantu belajar tambahan, silakan membaca RPS penulis pada lampiran. Terakhir, penulis memberikan kejelasan bahwa keempat jenis alat peraga tersebut mencerminkan makna mata kuliah Metode Khusus Pendidikan Agama Islam. Evaluasi pembelajaran menggunakan teori belajar al-bayān adalah dengan menampilkan alat peraga yang dibahas.
Mengacu pada proses pembelajaran pada mata kuliah Pengkajian dan Pembelajaran Semester V, tahun ajaran 2019/2020 diperoleh hasil percobaan di kelas sebagai berikut: (a) Penyusunan rencana pembelajaran semester (RPS) ditambah alat peraga kolom. 7 Untuk membuktikan bahwa RPS mempunyai kolom alat bantu belajar tambahan, silakan membaca RPS penulis pada Lampiran 1.
Teori Direct Performance
Teori Media
Oleh karena itu, konsep pembelajaran berbasis media simbolik telah diterapkan dalam dunia pendidikan, namun para guru agama belum mampu menerapkannya dalam berbagai materi karena tidak berani melakukan ijtihad untuk secara kreatif menggunakan media simbolik untuk dijadikan penentu eskatologis. dan materi teologis. Dan kita harus menyadari bahwa keyakinan dan agama manusia bersifat klasik, bahwa pemahaman tentang keberadaan Tuhan dalam agama bersifat simbolis. Menurut Clifford Geertz dan kawan-kawan, agama dipahami sebagai seperangkat sistem simbol.9 Demikian pula Islam mengandung banyak simbol, termasuk alam, dan isinya adalah simbol keberadaan Tuhan, karena seluruh ajaran Islam terkandung dalam Al-Qur'an. tertulis, menjadi tanda (ayat). atau simbol keberadaan Tuhan.
Menurut Whitehead, masyarakat diajarkan tidak hanya untuk mempunyai ide, tetapi juga untuk memahami penerapannya dalam situasi kehidupan nyata.10 Temuan penelitian Syukri berpendapat bahwa pembelajaran agama Islam, khususnya Fikh, didasarkan pada media konkrit yang diterapkan oleh para guru agama.
Teori Pemrosesan Informasi
Siffrin menyebutkan bahwa dalam teori pemrosesan informasi berbasis memori terdapat tiga lokasi penyimpanan (wadah), yaitu wadah pencatatan sementara (register sensorik), penyimpanan jangka pendek, dan penyimpanan jangka panjang. Kedua, penyimpanan jangka pendek atau short-term memory atau memori kerja, yaitu penyimpanan informasi dalam jangka waktu yang lebih lama, dan tidak selalu dalam bentuk aslinya. Atau contoh lain, seseorang sedang mengerjakan soal matematika dan ia sudah cukup lama mengingat suatu bilangan sehingga mampu menggantinya dengan bilangan lain, namun ketika ia mendapat hasil perkaliannya, ia mulai melupakannya, dan contoh ini menunjukkan cara kerja. Penyimpanan. 16 Ketiga, penyimpanan jangka panjang. penyimpanan) yaitu penyimpanan yang mempunyai kapasitas tidak terbatas dan tidak ada yang dapat hilang darinya.
Artinya, ingatan yang baik bergantung pada hubungan antara cara item diberi label ketika item tersebut memasuki penyimpanan jangka panjang dan cara item tersebut diambil ketika tiba waktunya untuk mengingatnya. Semakin sering suatu barang diulangi dalam penyimpanan jangka pendek, semakin besar kemungkinannya untuk dipindahkan ke penyimpanan jangka panjang.
Asas-Asas Pembelajaran dalam Teori Belajar al-Bayān
Menurut Nasution, prinsip demonstrasi adalah guru mendemonstrasikan tugas disertai gerakan untuk menjelaskan materi. 4 Dalam Al-Qur'an ada enam ayat yang memerlukan prinsip demonstrasi dalam proses pembelajaran, karena di dalam ayat tersebut. Dengan demikian, pengulangan kata atau kalimat dalam Al-Qur'an merupakan hal yang wajar, sehingga proses belajar atau menghafal Al-Qur'an terkadang terasa mudah karena sering terjadi pengulangan. Bahkan dalam surat al-Qamar, Allah memberikan jaminan kepada orang-orang beriman bahwa siapa pun yang ingin memahami Al-Qur'an atau menghafal Al-Qur'an, Allah memberikan jaminan bahwa segala sesuatunya akan dimudahkan.
Sebagaimana jaminan Allah kepada mereka dalam surat al-Qamar ayat 17 dan diulang empat kali. Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka ada orang yang mengambil pelajaran itu.
Kelebihan Teori Belajar al-Bayān
Keempat, teori belajar al-bayān memfasilitasi pemahaman materi supranatural atau eskatologis melalui metode perumpamaan dalam bentuk media atau benda nyata. Dalam hal ini, teori pengajaran materi gaib atau eskatologis al-bayān dapat dipahami secara nyata melalui media atau alat peraga berdasarkan persyaratan metode perumpamaan, metode simbol, dan metode bermain peran. Kelima, teori belajar al-bayān memfasilitasi pemahaman materi yang abstrak melalui metode perumpamaan dalam bentuk media atau benda nyata.
Keenam, teori belajar al-bayān menganjurkan untuk menjelaskan materi secara akurat atau materi nyata dengan benda nyata atau pembelajaran langsung. Teori belajar al-bayān memberikan jaminan bahwa ilmu yang diperoleh manusia dapat dipahami dan dikuasai dengan penuh keyakinan, bahkan dalam materi magis dan abstrak.
Penerapan Teori Belajar al-Bayān dalam Materi Pendidikan
Namun guru dan tutor tetap menjelaskannya melalui ceramah tanpa menggunakan alat peraga untuk membantu dan memperjelas materi sebagai wujud ilmu yang disampaikannya. Pertanyaan yang selalu muncul adalah bagaimana menjelaskan materi supranatural dengan menggunakan alat pengajaran yang nyata, karena makhluk itu bersifat supranatural, seperti Allah, malaikat, hantu, setan, surga dan neraka, siksa kubur, dan sebagainya. Pertanyaan yang sama juga ditanyakan pada materi abstrak: bagaimana materi abstrak dapat dijelaskan dengan menggunakan alat bantu visual yang konkrit, karena materi yang dibicarakan bersifat intangible, seperti kesabaran, kerendahan hati, tutur kata yang santun, bersedekah, kemunafikan, riya, ingkar janji, dan sebagainya. .
Uraian ini berfokus pada bagaimana penerapan teori belajar al-Bayān dijelaskan dengan sumber ajar pada materi pendidikan Islam kontemporer. Untuk bab thaharah khususnya materi tentang tiga jenis najis dapat dijelaskan dengan bantuan alat peraga, najis muhaffah menggunakan alat peraga boneka bayi dan air seninya, najis mutawashitah menggunakan air seni orang dewasa, najis mughaladah alat peraga kotoran anjing yang hinggap di kaki seorang remaja.
Sistem Evaluasi dalam Teori Belajar al-Bayān
- Evaluasi Tulis dan Aplikasinya
- Evaluasi Praktek dan Aplikasinya
- Evaluasi Demonstrasi dan Aplikasinya
- Evaluasi Pengamatan dan Aplikasinya
- Evaluasi Laporan dan Aplikasinya
- Evaluasi Hafalan dan Aplikasinya
- Evaluasi Lisan dan Aplikasinya
Simpulan
Penutup