• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelebihan Teori Belajar al-Bayān

Dalam dokumen Teori Belajar al-Bayān Berbasis Al-Qur'an (Halaman 191-196)

satu cuplikan ayat tentang bukti keaktifan peserta belajar seperti contoh nabi Musa yang selalu bertanya setiap ada tindakan pembelajaran dilakukan gurunya nabi Khidir. Dalam surat al-Kahfi ayat 71-72, Allah berfirman sebagai berikut:

َ ف ي ِ ف إ َب ِكَر إ َ ٱ

ذ ِؤ َٰٓ ََّب َح إ َقَل َطن ٱ

إ َه َ ل ۡ

ه َ أ َ

قِر ۡ غ ُ

ت ِل إ َهَتۡقَر َخ َ أ َلإ َ

ق ۡۖ

إ َه َ ق َر َ

خ ِة َ ني ِف َّسل

ۡي َ ش ت َ ۡ

ئ ِج ۡ دَة َ

ق َ ل إ ر ۡم ِؤ إ

إ ۡىَ َص َ ع َم َعي ِط ي ِ ت ۡس َ َ ٨٣ ش ن َ

ل ك َ َّ

ن ِؤ ۡ ُق َ أ ۡم َ

ل َ أ َلإ َ

ق ٨٣

Artinya; “Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?" Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar. Dia (Khidhr) berkata: "Bukankah aku telah berkata: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku" (QS. al-Kahfi/18”71-72).14

adanya nabi Adam sampai nabi Muhammad. Hampir semua para nabi dan rasul umumnya memiliki pengalaman spiritual dengan Allah baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Keempat, teori belajar al-bayān mempermudah pemahaman materi gaib atau eskatalogis melalui metode perumpamaan berupa media atau benda nyata. Dalam hal ini, teori belajar al-bayān materi gaib atau eskatalogis bisa dipahami secara nyata melalui media atau alat peraga pembelajaran berdasarkan tuntutan metode perumpamaan, metode simbol, dan metode bermain peran.

Kelima, teori belajar al-bayān mempermudah pemahaman materi abstrak melalui metode perumpamaan berupa media atau benda nyata. Dalam hal ini, terkait materi abstrak, teori belajar al- bayān dapat dijelaskan dengan pendekatan alegoris, pendekatan langsung yang secara nyata melalui media atau alat peraga pembelajaran berdasarkan tuntutan metode perumpamaan, simbolis, demonstrasi, dan praktek.

Keenam, teori belajar al-bayān merekomendasikan penjelasan materi eksakta atau materi bersifat nyata dengan benda nyata atau pembelajaran langsung. Yang dimaksud materi eksakta di sini adalah materi Biologi, Kimia, Fisika, Teknologi, Kedokteran, Pertanian, Peternakan dan sejenisnya, semua dijelaskan secara langsung berupa benda-benda asli dan nyata atau peragaan langsung (direct instruction).

Ketujuh, teori belajar al-bayān mengutamakan pentingnya pemanfaatan tiga fungsi organ kepala manusia yaitu fungsi pendengaran, fungsi pembuktian, dan fungsi keyakinan. Pertama, fungsi pendengaran (as-sama’). Fungsi pendengaran dilakukan oleh telinga untuk mendengar dan menangkap semua ilmu pengetahuan.

Kedua, fungsi pembutktian (al-abṢar). Fungsi pembutktian diperagakan oleh catur indera yaitu mata, hidung, lidah, dan kulit.

Keempat catur inderan tersebut memiliki fungsi pembuktian yang

berbeda-beda sesuai tugas dan kewajiban kerja masing-masing organ dalam membuktikan kebenaran ilmu pengetahuan yang diterima dari organ telinga. Tegasnya, keempat catur indera berfungsi sebagai penjelas dan pembuktian kebenaran ilmu pengetahuan yang sudah didengar. Misalnya, mata membuktikan informasi yang diperoleh oleh telinga dengan cara melihat lagsung bentuk dan rupa kambing di depan matanya sendiri, baik dengan faktual maupun gambar, yang akhirnya mata memiliki ilmu pengetauan bahwa kambing memiliki empat kaki, ekornya pendek, tingginya sekitar 70 cm, dan sebagainya. Ketiga, fungsi keyakinan (al-afidah). Fungsi keyakinan dilaksanakan oleh otak dan jaringannya, tepatnya otak besar yaitu celebrum yang terdiri dari empat bagian, yaitu lobus frontal, lobus berupa lokus sebagai penguat keyakinan kebenaran ilmu yang diperoleh dari mata sekaligus merasa berterima kasih kepada Ilahi Rabbi yang telah mempermudah kita memahami dan menambah ilmu pengetahuan kepada otak dan pikiran kita masing-masing manusia.

Kedelapan, teori belajar al-bayān lebih mengutamakan fungsi pembuktian secara faktual. Ada empat alat indera manusia yang membukitkan kebenaran suatu yaitu mata, hidung, lidah, dan kulit.

Pertama, mata. Mata fungsinya untuk melihat, mengamati, memperhatikan, dan membuktikan kebenaran ilmu yang sudah diperoleh dari organ telinga. Misalnya seorang guru menyampaikan materi binatang ternak, seperti kambing. Guru mengatakan bahwa kambing binatang yang biasa diternak dan dipelihara oleh manusia dan salah satu cirinya memiliki empat kaki. Guru tersebut menyampaikan materi tetntang kambing hanya berceramah. Tentu saja, siswa menerima informasi atau pengetahuan tentang kambing sebatas informasi bahwa kambing binatang bisa diternakkan dan memiliki kaki empat buah. mata membuktikan informasi yang diperoleh oleh telinga dengan cara dia melihat lagsung bentuk dan rupa kambing di depan matanya sendiri, baik dengan faktual

maupun gambar, yang akhirnya mata memiliki ilmu pengetauan bahwa kambing memiliki empat kaki, ekornya pendek, tingginya sekitar 70 cm, dan sebagainya.

pada fungsi telinga dan fungsi hati, sebab inti teori belajar al- bayān bahwa manusia belajar dijelaskan dengan penampakan, maka fungsi catur indera menjadi sangat penting dan relevan karena hanya mata yang bisa melihat secara langsung, mengamati, memperhatikan, dan membuktikan sesuatu yang nampak.

Kesembilan, teori belajar al-bayān memiliki tingkat keyakinan yang tinggi. Teori belajar al-bayān memberikan jaminan bahwa ilmu pengetahuan yang diperoleh oleh manusia dapat dipahami dan dikuasai dengan yakin, sekalipun daam materi gaib dan abstrak.

Logikanya, materi gaib dan abstrak saja bisa dipahami dan dikuasai dengan yakin, apalagi materi-materi yang sudah faktual dan disajikan faktual pula. Sudah barang tentu, tingkat keyakinan pemahaman sangat tinggi. Misalnya, ilmu kedokteran, seorang dokter muda sudah berani memotong usus manusia, karena dengan ilmu yang dipahami dan dikuasainya dengan pembuktian kebenaran yang berulang kali dan hasilnya valid, jelas, dan matang, maka usus yang sudah dipotong-potongnya dia yakin manusia tidak akan mati.

Nah, munculnya keyakinan adanya kebenaran ilmu pengetahuan didasarkan pada pembuktian. Sayangnya pembukitan kebenaran suatu ilmu pengetahuan saat ini hanya ada dalam ilmu pengetahuan yang memiliki materi faktual yang bisa melakukan berbagai eksperimen berulang kali, seperti; ilmu kedokteran, ilmu pertanian, ilmu kelautan, dan sejeniasnya.

Kesepuluh, teori belajar al-bayān wajib dihadirkan alat peraga pembelajaran karena teori belajar al-bayān mengutamakan pembuktian faktual dari materi yang sedang disajikan oleh guru dan dosen. Termasuk didalamnya materi gaib dan abstrak dengan cara menggunakan metode perumpamaan dan simbolis. Bahkan alat peraga pembelajaran wajib disajikan pada setiap materi yang

disajikan guru dan dosen. Jika guru dan dosen tidak menyajikan alat peraga pembelajaran pada setiap pertemuan dengan siswa dan mahasiswa, maka sudah pasti siswa dan mahasiswa hanya memperoleh ilmu dari hasil mendengar dan para siswa dan mahasiswa tidak pernah memiliki keyakinan bahwa ilmu pengetahuan yang disajikan dan dijelaskan guru dan dosen dengan cara berceramah, diskusi atau tanya jawab adalah ilmu pengetahuan yang tidak pernah bisa dibuktikan kebenarannya secara valid, jelas, dan logis.

Kesebelas, teori belajar al-bayān cocok dengan untuk semua materi pembelajaran baik materi bersifat eskatalogis, abstrak maupun bersifat faktual. Pada dasarnya semua ilmu pengetahuan dapat dijelaskan dengan teori belajar al-bayān. Pertama, materi eskatalogis (gaib). Beberapa contoh yang masuk katagori materi eskatalogis (gaib), seperti; materi aqidah (Allah, malaikat, surga, neraka, alam kubur, dan sejeniasnya). Kedua, materi abstrak.

Adapun contoh materi abstrak, seperti ilmu Akhlak, ilmu Fikh, ilmu Sejarah, ilmu Bahasa, ilmu Sosiologi, Ilmu Kalam, ilmu Tasawuf, ilmu Filsafat, ilmu Pendidikan dan Pembelajaran, dan sejeniasnya Ketiga, materi faktual. Materi ini sangat banyak dan sudah umum dimaklumi semua guru dan dosen serta siswa dan mahasiswa. Berbagai contoh materi faktual, seperti; materi ilmu Biologi, ilmu Kimia, ilmu Fisika, ilmu Seni, ilmu Teknologi, ilmu Komputer, ilmu Botani, ilmu Kedokteran, ilmu Pertanian, Peternakan, ilmu Kelautan, dan sejenisnya.

Dalam dokumen Teori Belajar al-Bayān Berbasis Al-Qur'an (Halaman 191-196)